The Tragedy of St. Helena

Chapter 6

Chapter 62,963 wordsPublic domain

Apakah massale a c t i e? Massale actie adalah "pergerakan" Rak­yat, yang benar orangnya ribuan atau ketian atau jutaan, yang benar jumlah orangnya besar sekali, tetapi yang tidak radikal, tidak sociaal-revolutionair, tidak bermaksud membongkar akar-akarnya masyarakat-tua, untuk mendirikan masyarakat baru dengan akar-akar yang baru. Massale actie bukan luluhan Rakyat-jelata

yang menyala-nyala api-massanya, bukan massa di dalam makna jeladren atau deeg yang satu jiwanya dan satu nyawanya, melainkan hanya gerombolan Rakyat belaka yang tidak bernyawa satu.

Massale actie tak bisa melahirkan masya­rakat baru, dan memang bukan parajinya masyarakat yang baru. Lihatlah mitsalnya pergerakan Rakyat Indonesia dulu, tatkala Sarekat Islam baru lahir di dunia. Lihatlah pula pergerakan Rakyat di Ngayodya se­karang, yakni di Mataram. Ribuan, ketian, laksaan, ya milyunan Rakyat sama bergerak, milyunan Rakyat sama "beraksi", – tetapi aksinya itu hanyalah suatu massale actie belaka. Aksinya bukan suatu

massa­ aksi, oleh karena tidak bersifat luluhan tapi bersifat gerombolan, tidak sociaal-radicaal tapi sociaal-behoudend, tidak bermaksud membuang segenap masyarakat tua tapi hanya

bermaksud menambal amohnya masyarakat itu.

Massa-aksi dan massale actie, – hendaklah pemimpin-pemimpinnya kaum Marhaen senantiasa memperhatikan perbedaannya antara dua perka­taan itu. Hendaklah pemimpin-pemimpin itu jangan lekas tersilaukan mata, kalau melihat "banyak orang" sama "bergerak", dan lantas mengira: "ha, Indonesia kini lekas merdeka". Sebab "banyaknya orang", mitsalnya di zaman baru munculnya Sarekat Islam di dunia, tatkatla semua haluan ada bergerombolan menjadi satu, tatkala di situ ada kaum Marhaennya, ada kaum priyayinya, ada kaum saudagarnya, ada kaum burjuisnya, tatkala Sarekat Islam menjadi gado-gado haluan Islamisme, nasionalisme dan "sosialisme", tatkala dus pergerakan Sarekat Islam itu bukan pergerakan luluhan tapi hanya suatu pergerakan gerombolan, bukan massa-aksi tetapi massale aksi, –

adakah banyaknya orang dipergerakkan Sarekat Islam itu bisa memarajikan masyarakat baru, bahkan: adakah pergerakan Sarekat Islam itu bisa mendatangkan perobahan-perobahan yang agak besar? Adakah, begitulah saya malahan bertanya, Sarekat Islam itu bisa membangkitkan suatu massa-aksi? Tidak, pergerakan Sarekat Islam yang dulu itu tidak bisa membangkitkan massa-aksi, tidak bisa menjadi motornya massa-aksi, oleh karena ia tidak berdiri di atas pendirian yang r a d i k a l. Ia tidak berdiri di atas a n t i t e s e sana-sini, ia tidak ber­program Indonesia-Merdeka, ia tidak berprogram terang-terangan mau menjebol semua akar-akarnya

stelsel kapitalisme-imperialisme, ia tidak politiek-radicaal, tidak sociaal-radicaal.

Oleh karena itu, make partai Marhaen yang bermaksud menjadi partai pelopornya massa-aksi, haruslah selamanya mempunyai azas-per­joangan dan program yang 100% radikal: antitese, perlawanan zonder damai, kemarhaenan, melenyapkan cara susunan masyarakat sekarang, mencapai cara susunan masyarakat baru, – itu semua harus tertulis dengan aksara yang berapi-apian di atas benderanya partai dan di atas panji-panjinya partai. Tetapi azas, azas-perjoangan dan program yang dituliskan di atas bendera dan panji itu akan tidak banyak berarti, akan seakan-akan omong kosong, akan tinggal aksara yang mati belaka, jikalau tidak kita kerjakan dengan habis-habisan kita punya energie, – membanting kitapunya tulang, memeras kita punya keringat, mengulur-ulur kita punya tenaga menjelmakan segala apa yang termaktub di dalam­nya dan segala apa yang dijanjikan kepada massa. Azar, azas-perjoang­an dan program itu akan tinggal aksara yang mati, jikalau kita tidak berjoang dengan segala keuletannya dan kegagahannya partai pahlawan yang lebih sanggup disuruh bekerja mati-matian daripada disuruh berhenti, berjoang mengerjakan sepia kewajibannya suatu partai pelopor, yakni berjoang membangkitkan massa-aksi dan mengomando massa-aksi itu ke arah sorganya keunggulan dan kemenangan.

Dan bagaimana partai-pelopor harus berjoang? Partai-pelopor pertama-tama harus menyempurnakan d i r i sendiri. Ia belum bisa menjadi partai-pelopor yang sempurna, sebelum ia sendiri sempurna di dalam keyakinannya, di dalam disiplinnya, di dalam organisasinya,

di dalam segenap rokhaninya dan jasmaninya. Oleh karena itu ia pertama­tama harus memperkokoh rokhani dan jasmani sendiri lebih dulu, membikin dan menjaga yang segenap sifat-hakekatnya, segenap wezennya, adalah teguh dan kokoh sebagai baja.

Rokhani dikokohkan dengan penyuluhan teori kepada anggauta­anggautanya, penyuluhan dengan kursus dan majalah dan lain sebagainya tentang segala seluk-beluknya nasib mereka, musuh mereka, perjoangan mereka, agar supaya semua anggauta partai menjadi satu keyakinan, satu semangat, satu kemauan-maha-haibat mau berjoang habis-habisan me­nundukkan musuh yang kini nyata-nyata angkara-murkanya, melalui jalan yang kini nyata-nyata terang dan manfaatnya. Hanya dengan penyuluhan teori yang demikian itu, – teori yang radikal -, maka partai-pelopor bisa mengeraskan rokhaninya menjadi rokhani baja, dan bisa menuntun massa ke dalam perjoangan yang radikal.

"Ohne radikale Theorie keine radikale Bewegung", "zonder teori-radikal mustahil ada pergerakan-radikal", ada­lah suatu ucapan Marx yang jitu dan berisi kebenaran yang senyata­-nyatanya. Segala seluk-beluk pergerakan, seluk-beluknya azas, azas perjoangan dan program, segala seluk-beluknya strategi dan taktik haruslah menjadi satu keyakinan yang terang-benderang bagi segenap partai, – satu zat perjoangan yang menyerapi darah dagingnya segenap anggauta partai, sehingga partai itu menjadi satu jiwa yang yakin dan tak kenal akan syak-wasangka. Tiap-tiap anggauta partai yang

nyeleweng ke arah reformisme, tiap-tiap fikiran yang nyeleweng ke arah reformisme, harus "dicuci" sebersih-bersihnya, dan kalau tidak bisa men­jadi "bersih", ditendang dari kalangan partai zonder pardon dan zonder ampun!

Pembaca membantah: kalau begitu tidak ada demokrasi di dalam kalbunya partai! Memang! Partai di dalam kalbu sendiri tidak boleh berdemokrasi di dalam makna "semua fikiran boleh merdeka", – tidak boleh berdemokrasi dalam makna segala "isme" boleh leluasa, – partai-hanyalah mengenal satu fikiran dan satu isme: fikiran dan isme radikal yang 100% tanggung mengalahkan musuh. Demokrasi yang boleh di dalam kalbunya partai-pelopor bukan demokrasi biasa, demokrasi partai-pelopor itu adalah demokrasi yang dengan bahasa asing dinamakan demo­cratisch-centralisme: suatu demokrasi, yang memberi kekuasaan pada pucuk-pimpinan buat menghukum tiap-tiap penyelewengan, menendang tiap-tiap anggauta atau bagian-partai yang membahayakan strijdposi­tienya massa. "Di dalam partai tak boleh ada kemerdekaan fikiran yang semau-maunya sahaja; kokohnya persatuan partai itu adalah terletak di da­lam persatuan keyakinan". Inilah ajaran salah seorang pemimpin besar tentang kepartaian yang sangat harus diperhatikan. Tiap-tiap penyelewengan tak boleh diampuni; tiap-tiap penyelewengan harus didenda dengan dam­pratan yang sepedas-pedasnya atau tendangan yang sesegera-segeranya. Sebab partai-pelopor yang di dalam kalbunya sendiri masih slewang-sleweng, partai-pelopor yang di dalam kalangan sendiri masih ragu-ragu, partai­ pelopor yang demikian itu mustahil bisa memelopori massa!

Dan bukan sahaja menghukum penyelewengan ke arah reformisme! Penyelewengan ke arah anarcho-syndicalisme-pun, penyelewengan ke arah amuk-amukan zonder fikiran, penyelewengan ke arah perbuatan-perbuatan atau fikiran-fikiran cap mata-gelap, harus juga segera dikoreksi dan mendapat dampratan. Penyelewengan inilah yang sering mengeluarkan tuduhan "pengkhianatan" alias "verraad", kalau partai menurut keyakin­annya katanya kurang "kiri". Penyelewengan inilah yang di dalam kegelapan matanya tak dapat tahu bedanya antara k e k i r i a n r a d i k a l dan k e k i r i a n d e s o s i a l, – antara kekirian yang mernikul dan terpikul natuur dan kekirian yang memikul dan terpikul hawa nafsu amarah yang tak terimbang. Partai yang sehat harus selamanya memerangi dua macam penyelewengan itu, – selamanya strijden naar twee fronten -, agar supaya ia bisa menjadi satu penunjuk jalan radikal yang t e g u h dan y a k i n bagi banjirnya massa-aksi yang bergelombang-gelombang menuju kelautan merdeka.

Oleh karena itulah maka salah satu syaratnya partai-pelopor adalah disiplin. Disiplin, disiplin yang kerasnya sebagai baja, disiplin yang zonder ampun dan zonder pardon menghukum tiap-tiap anggauta yang berani melanggarnya, adalah salah satu n y a w a dari. partai-pelopor itu ! Bukan sahaja disiplin terhadap pada i d e o l o g i n y a radikalisme; bukan sahaja disiplin terhadap pada "bagian teori" daripada radikalisme. Tetapi juga disiplin terhadap pada segala halnya partai: disiplin teori, disiplin organisasi, disiplin taktik, disiplin propaganda, – pendeknya partai di dalam segala urat-uratnya dan syaraf-syarafnya harus sebagai suatu mecha­nisme yang tiap-tiap sekrup dan tiap-tiap rodanya berdisiplin hingga saksama.

Dalam pada itu partai tidak boleh menjadi mesin yang tak bernyawa dan tak berobah. Partai yang demikian adalah partai yang tak hidup, dan tofan-zaman akan segeralah menyapunya dari muka bumi.

Partai yang memikul dan terpikul natuur haruslah hidup sebagai natuur sendiri, ber-evolusi sebagai natuur sendiri. Yang harus dicegah dan diperangi bukanlah hidupnya partai, bukanlah evolusinya partai, bukanlah levensprocesnya partai. Yang harus dicegah dan diperangi ialah p e n y a k i t n y a partai, penyakit penyelewengan

yang membahayakan sehatnya badan-radi­kalisme itu. Juga natuur sendiri tidak pernah slewang-sleweng, juga natuur sendiri

selamanya memerangi tiap-tiap penyakit! Tiap-tiap barang baru

yang menyuburkan dan menyehatkan badan-radikalisme itu haruslah diterima dengan gembira, tetapi tiap-tiap penyakit badan itu harus lekas diobati dengan "kejam" dan zonder ampun. Centralisme yang harus ada di dalam kalbunya partai bukanlah centralismenya seorang diktator, central­isme itu harus democratisch centralisme yang partai sendiri menjadi cakrawartinya. Tetapi sebaliknya demokrasi yang

harus di dalam kalbunya partai bukanlah pula demokrasi yang

memberi keleluasaan pada segala apa sahaja, demokrasi itu

haruslah centralistische democratie yang me­merangi segala penjakitnya radikalisme!

Democratisch-centralisme dan centralistische democratie, – itulah sifatnya partai-pelopor bagian ke dalam. Tapi bagaimana partai-pelopor itu memelopori massa? Bagaimana sikapnya keluar? Sikap partai keluar haruslah selamanya cocok dengan kemauan-yang-onbewust daripada massa, cocok dengan instinctnya massa. Tidak boleh ia sedikitpun juga menyimpang daripada instinct ini, tidak boleh sedikitpun jua ia meng­khianati instinct ini. Sebab instinctnya massa itulah yang dinamakan "kekuatan-rahasia" daripada masyarakat.

Siapa yang menyalahi kekuatan­ rahasia ini, mengkhianati kekuatan-rahasia ini, akan segeralah mengalami yang ia dilindas oleh rodanya masyarakat, hancur-lebur menjadi debu. Yang harus dikerjakan oleh partai-pelopor bukannya mengkhianati atau merobah kemauan-yang-onbewust daripada massa, yang harus dikerjakan olehnya ialah membikin kemauan-yang-onbewust itu men­jadi kemauan-yang-bewust, memberi "keinsyafan" kepada instinct itu hingga menjadi kemauan-bewust yang yakin dan terang. Ke­kuatan-kekuatan massa yang tahadinya tenang seolah-olah tidur, haruslah dibangunkan dengan Air-Kahuripannya Keinsyafan menjadi kekuatannya massa-wil yang bangkit dan tak dapat terhalang, ya, yang malahan bila sudah matang sematang-matangnya, menjadi massa-wil yang kehaibatan bang­kitnya bisa menggetarkan dunia.

Inilah pekerjaan partai-pelopor yang pertama: mengolah kemauan­ massa yang tahadinya onbewust itu hingga menjadi kemauan-massa yang bewust. Bentukan dan konstruksinya perjoangan harus ia ajarkan pada massa dengan jalan yang gampang dimengerti dan yang masuk sampai kehati-fikirannya dan akal-semangatnya. Ia harus membuka-buka mata massa, menggugah-gugah keyakinan massa, mengobar-ngobarkan semangat massa tentang segala seluk-beluknya nasib dan perjoangan massa. Ia harus memberi keinsyafan tentang apa sebabnya massa sengsara, apa sebabnya kapitalisme-imperialisme bisa merajalela, apa sebabnya harus menuju ke jembatan Indonesia-Merdeka, bagaimana jembatan itu harus dicapai, bagaimana membongkar akar-akarnya kapitalisme. Ia pendek-kata harus memberi pendidikan dan keinsyafan pada massa b u a t a p a ia berjoang, dan bagaimana ia harus berjoang. Dengan banyak propaganda, massa harus dibuka matanya, dirobek kudung keonbewustannya sehingga menjadi bewust melihat segala rahasianya dunia: rapat-rapat umum harus mendengung-dengungkan seruan partai sampai kepuncak angkasa, surat-surat-majalah dan selebaran harus terbang kian kemari sebagai daun jati yang tertiup angin di musim kemarau, demonstrasi-­demonstrasi harus beruntun-runtunan sebagai runtunannya ombak samodra. Dengan jalan yang demikian itu, – dengan bersikap cocok dengan in­stinctnya massa dan membewustkan instinctnya massa itu dengan jalan yang demikian itu, tidak boleh tidak, massa tentu lantas mengindahkan seruannya partai, tentu lantas memandang kepada partai itu sebagai suatu pelopor yang ia dengan penuh kepercayaan suka mengikuti. Di antara obor-obornya pelbagai partai yang masing-masing mengaku mau menyuluhi perjalanan Rakyat, massa lantas melihat hanya satu obor yang terbesar nyalanya dan terterang sinarnya, satu obor yang terdepan jalannya, yakni obornya kita punya partai, obornya kita punya radikalisme!

Tetapi memberi keinsyafan sahaja belum cukup, memberi kebewust­an sahaja belum cukup. Keinsyafan adalah benar sangat menghaibatkan kemauan massa, keinsyafan adalah benar sangat mengobarkan semangat massa, keinsyafan adalah benar sangat membajakan keberanian massa, – mengusir tiap-tiap kemauan reformisme dari darah-daging massa tetapi keinsyafan sepanjang teori sahaja belum bisa cukup. Rakyat barulah menjadi radikal di dalam segala-galanya kalau keinsyafan itu sudah dibarengi dengan pengalaman-pengalaman sendiri, yakni dengan ervaringen sendiri. Pengalaman-pengalaman inilah yang sangat sekali membuka mata massa tentahg kekosongan dan kebohongan taktik reformisme, – meradikalkan semangat massa, meradikalkan ke­mauan massa, meradikalkan keberanian massa, meradikalkan ideologi dan activiteitnya massa. "Bukan sahaja Rakyat yang tak dapat menulis dan membaca, tetapi juga Rakyat yang terpelajar, haruslah mengalami di atas kulitnya sendiri, betapa kosong, bohong, munafik dan lemahnya politik tawar-menawar, dan sebaliknya betapa kaum burjuis saban-saban men­jadi gemetar bilamana dihadapi dengan suatu aksi yang radikal, yang hanya kenal satu hukum, – hukumnya perlawanan yang tak mau kenal damai". Inilah ajaran pemimpin besar yang tahadi juga sudah sekali saya pinjam perkataannya. Oleh karena itu, partai-pelopor tidak harus hanya membuka mata massa sahaja; – partai-pelopor harus juga membawa massa ke atas padangnya pengalaman, ke atas p a d a n g­ n y a p e r j o a n g a n. Di atas padangnya perjoangan inipun partai pelopor itu mengolah tenaganya massa, memelihara dan membesar-besarkan kekuatannya, mengukur-ukur dan menakar-nakar keuletannya massa, menggembleng kekerasan-hati dan energienya massa,­men-"train" segala kepandaian dan keberaniannya massa untuk berjoang. "Lebih menggugahkan keinsyafan daripada semua teori adalah perbuatan, perjoangan. Dengan kemenangan-kemenangan perjoangannya mela­wan si musuh, maka partai menunjukkan kepada massa betapa besar kekuatannya massa itu, dan oleh karenanya pula, membesarkan rasa-ke­kuatan massa dengan sebesar-besarnya. Tetapi sebaliknya juga, maka kemenangan-kemenangan ini hanyalah bisa terjadi karena suatu teori, yang memberi penyuluhan kepada massa, bagaimana caranya mengambil hatsil yang sebanyak-banyaknya daripada kekuatan-kekuatannya setiap waktu", – begitulah perkataan salah seorang pemimpin lain, dengan sedikit perobahan.

Hanya begitulah sikap yang pantas menjadi sikapnya suatu partai ­radikal yang dengan yakin mau menjadi partai-pelopornya massa: menyuluhi massa, dan berjoang habis-habisan dengan massa; menyuluhi massa sambil berjoang dengan massa, – berjoang dengan massa sambil menyuluhi massa. Di dalam perjoangan ini partai-pelopor harus selamanya mengarahkan mata massa dan perhatian massa kepada maksud yang satu-satunya harus menjadi idam-idaman massa: gugurnya stelsel kapitalisme-imperialisme via jembatan. Indonesia-Merdeka. Par­tai-pelopor haruslah selamanya tetap mengonsentrasikan semangat massa, kemauan massa, energie

massa kepada satu-satunya maksud itu, – dan tidak lain.

Tiap-tiap penyelewengan harus ia buka kedoknya di muka massa, tiap-tiap pengkhianatan kepada radikalisme harus ia hukum di muka mahkamatnya massa, tiap-tiap keinginan akan "menggenuki" untung­-untung-kecil-hari-sekarang harus ia bakar di atas dapurnya massa, tiap-tiap aliran yang hanya mau menambal masyarakat-amoh ini harus ia musnakan dengan simumnya radikalisme massa.

Satu tujuan, satu arah perlawanan, satu tekad pergulatan, dan bukan dua-tiga, yakni tujuan radikal, – zonder banyak menolah-noleh melihat dan menggenuki hatsil-hatsil-kecil-ini-hari!

Dus massa tidak boleh beraksi buat hatsil-hatsil-kecil-ini-hari?

Tidak begitu, samasekali tidak begitu! Massa hanya tidak boleh menggenuki aksi buat hatsil-hatsil-kecil-ini-hari itu! Massa hanya tidak boleh tertarik oleh manisnya hatsil-hatsil-kecil itu, sehingga lantas 1 u p a akan maksud besar yang tahadi-tahadinya, atau menomorduakan maksud-besar yang tahadi-tahadinya itu.

Massa sambil berjalan harus tetap menuju dan mengarahkan matanya ke arah puncak gunung Indonesia-Merdeka, dan memandang hatsil-hatsil-kecil itu hanya sebagai bunga-bunga yang ia sambil

l a l u petik dipinggir jalan. Sebab, s e l a m a stelsel kapi­talisme-imperialisme belum gugur, maka massa tidak bisa mendapat perbaikan nasib yang 100% sempurnanya.

Tapi, asal tidak "digenuki", asal tidak dinomorsatukan, maka perjoangan untuk hatsil-sehari-hari itu malahan adalah balk juga untuk memelihara strijdvaardigheidnya massa. Perjoangan untuk hatsil-sehari-hari itu malahan harus dijalankan sebagai suatu tempat mengolah tenaga dan mengasah hati, – suatu scholing, suatu training, suatu gemblengan-tenaga di dalam perjoangan yang lebih besar. "Ohne den Kampf fiir Reformen gibt es keinen erfolgreichen Kampf filldie vollkommene Befreiung, ohne den Kampf filr die vollkorrunene keinen erfolgreichen Kampf fiir Refor­men": – "Zonder perjoangan buat perobahan sehari-hari, tiada kemenang­an bagi perjoangan buat kemerdekaan; zonder perjoangan buat kemerdekaan, tiada kemenangan bagi perjoangan buat perobahan sehari-hari."

Oleh karena itulah maka partai-pelopor harus membikin

pergerakan massa itu menjadi "nationale bevrijdingsbeweging en hervormingsbeweging tegelijk", pergerakan untuk kemerdekaan dan untuk perbaikan-perbaikan-ini­ hari. Ya, partai-pelopor harus mengerti pula bahwa "die Reform ist ein Nebenprodukt des radikalen Massenkampfes" yakni bahwa "Perbaik­an-kecil-kecil itu adalah rontokan daripada perjoangan massa secara radikal".

Banyak kaum yang menyebutkan diri kaum: "radikal 100%", yang emoh akan "perjoangan kecil" sehari-hari itu. Mereka dengan jijik mencibir kalau melihat partai mengajak massa berjoang buat turunnya belasting, buat lenyapnya herendienst, buat tambahnya upah-buruh, buat turunnya tarif-tarif, buat lenyapnya bea-bea, buat perbaikan kecil sehari­-hari, dan selamanya dengan angkuh berkata: "Seratus prosen kemerde­kaan, – dan hanya aksi buat seratus prosen kemerdekaan Akh, mereka tidak mengetahui, bahwa di dalam radicale politiek tidak adalah pertentangan antara perjoangan

buat perobahan-sehari-hari dan per­joangan buat kemerdekaan yang leluasa, tetapi justru suatu hubungan yang rapat sekali, suatu "perkawinan" yang rapat sekali, suatu "wissel­werking" yang rapat sekali. "Zonder perjoangan buat perobahan sehari-hari, tiada kemenangan bagi perjoangan buat kemerdekaan; zonder perjoangan buat kemerdekaan, tiada kemenangan bagi perjoangan buat perobahan sehari-hari"! Inilah a-b-c-nya radicale actie, inilah ha-na-ca-ra-­ka-nya perlawanan radikal: perlawanan-kecil sebagai "moment" daripada perlawanan yang besar, perlawanan-kecil sebagai schakel di dalam rantai perlawananyjang besar, – berbedaan samasekali setinggi langit dengan "perlawanannya" kaum reformis yang hingga buta

menggenuki perjoang­an sehari-hari untuk perjoangan sehari-hari. Semboyannya "kaum 100%" yang berbunyi: "Seratus prosen kemerdekaan, dan hanya aksi buat seratus prosen kemerdekaan", semboyan itu harus kita koreksi menjadi "seratus prosen kemerdekaan, dan aksi a p a sahaja yang mencepatkan seratus prosen kemerdekaan!", dan politik reformisme harus kita enyahkan ke dalam kabutnya ketiadaan, kita usir ke dalam liang-kuburnya kematian, – melalui kumidi bodor ketawaannya Rakyat.

Demikian, dan hanya demikian partai-pelopor harus bekerja!

Tetapi tokh masih ada satu hal lagi dari "kaum 100 %" itu yang harus kita kasih koreksi: mereka biasa sekali mendo'akan Rakyat menjadi lebih sengsara, katanya supaya Rakyat lantas suka bergerak habis-habisan! Mereka suka-syukur, kalau belasting dinaikkan, kalau upah-buruh diturun­kan, kalau bea-bea diberatkan, kalau tarif-tarif ditinggikan, kalau Marhaen disengsarakan, – semua "supaya Marhaen lebih rajin suka bergerak". 0, suatu pendirian yang jahat sekali, suatu pendirian yang durhaka sekali. Orang yang mempunyai pendirian yang demikian itu pantas ditutup di dalam penjara seumur hidup! Kaum "pemimpin-pemimpin" yang demikian inilah yang selamanya saya namakan pemimpin-bejat yang kepalanya penuh dengan kebutekannya orang yang putus-asa, pemimpin-bejat yang pikiran­nya keblinger dan penuh dengan " wanhoops t h e o r i e". Wanhoops­theorie, keputusasaan, oleh karena mereka dengan kesengsaraan Rakyat yang sekarang ini tidak bisa membewustkan Rakyat, dan lantas mengharap supaya Rakyat menjadi lebih sengsara, lebih melarat. Wanhoopstheorie, oleh karena mereka lekas putus-asa kalau mengalami bahwa Rakyat tak gampang dapat dibewustkan dengan satu-dua-tiga, dan lantas mengharap supaya Rakyat lebih lagi mendekati maut, katanya agar Rakyat lantas gampang sedar dan sukar bergerak secara radikal! 0, pemimpin bejat! Pemimpin kejam! Bergerak tidak buat meringankan nasib Rakyat, tapi bergerak buat … bergerak! "Pemimpin" yang demikian itu boleh merasakan sendiri apa

artinya makan hanya satu kali satu hari! Mengharap tambahnya kesengsaraan Rakyat! Apakah Rakyat kini belum cukup sengsara? Belum cukup megap-megap? Belum cukup dekat dengan maut? Belum cukup menjatuhkan air-mata sehari-hari?