Chapter 5
"Kesendirian" yang demikian itu adalah kesendirian orang yang sempit budi.
"Kesendirian" yang demikian itu adalah seperti kesendiriannya katak di b a w a h tempurung ! "Kesendirian" yang demikian itu adalah juga kesendiriannya orang yang tiada benul samasekali tentang radicale taktiek, tiada begug samasekali tentang radicale bevrij dingspolitiek!
Sebab radicale bevrijdingspolitiek adalah justru menyuruh kita mencari perhubungan dengan dunia luaran. Imperialisme yang merajalela di Indonesia hanyalah bisa kita kalahkan dengan selekas-lekasnya, kalau kita berjabatan tangan dengan bangsa-bangsa Azia di luar pagar, mengadakan eenheidsfront, barisan persatuan, dengan bangsa-bangsa Azia di luar pagar. Imperialisme yang kini ada di Indonesia bukan lagi imperialisme Belanda sahaja seperti sediakala, imperialisme yang kini ada di sini sudahlah menjadi imperialisme i n t e r n a s i o n a l jang bermacam-macam warna. Di dalam bagian 2 dari risalah ini sudah saya terangkan: Raksasa modern-imperialisme yang ada di sini, kini bukan lagi raksasa biasa, tetapi sudah mendjelma jadi raksasa Rahwana Dasamuka yang sepuluh kepala dan mulutnya, – badannya imperialisme Belanda, tapi badan ini memikul kepala imperialisme Inggeris, kepala imperialisme Amerika, kepala imperialisme Jepang, Perancis, Jerman, Italia dan lain-lain: di Sumatera Timur sahaja jumlahnya modal cultures yang bukan modal Belanda adalah f 281.497.000, di tanah Jawa f 214.325.000, di Sumatera Selatan f 33.144.000, diperusahaan minyak nama Shell dan Koninklijke adalah nama yang bukan Belanda lagi. Raksasa Rahwana Dasamuka yang demikian ini tak dapat dikalahkan dengan "kesendirian" yang seperti katak di bawah tempurung. Lenyapkanlah semangat katak itu, lenyapkanlah kedirian itu, tetapi lihatlah betapa Rakyat India kini bergulat mati-matian dengan imperialisme Inggeris, lihatlah betapa Rakyat Philipina habis-habisan tenaga melawan imperialisme Amerika, betapa Mesir menghantam imperialisme Inggeris, betapa Indo-China memukul imperialisme Perancis, betapa Tiongkok berkeluh kesah melawan imperialisme internasional dan imperialisme Jepang. Lihatlah, betapa imperialisme-imperialisme yang diusahakan gugurnya oleh bangsa-bangsa tetangga itu, satu per-satunya j u g a duduk di atas masyarakat kits, menjadi kepala-kepalanya Rahwana Dasamuka yang kita musuhi itu! Lemparkanlah semangat katak itu jauh-jauh, dan insyafkanlah betapa faedahnya kita berjabatan tangan dengan bangsa-bangsa tetangga itu, yang sebenarnya satu musuh dengan kita, satu lawan dengan kita, satu seteru, satu tandingan! Lemparkanlah jauh-jauh tempurungmu, dan carilah perhubungan dengan semua musuh-musuhnya Rahwana Dasamuka yang kita musuhi!
Inilah "kesendirian" yang berbedaan bumi-langit dengan kedirian yang sempit-budi. Kesendirian tidak melarang perhubungan dengan lain-lain bangsa, tidak melarang pekerjaan-bersama dengan lain-lain bangsa,- kesendirian hanyalah suatu r a s a-kemampuan, suatu rasa-kebisaan, suatu rasa-ketenagaan, suatu rasa-keperibadian, yang menyuruh sebanyak-banyak dan seboleh-boleh berusaha sendiri, tetapi tidak mengharamkan pekerjaan-bersama dengan luar pagar bilamana b e r f a e d a h dan perlu. Imperialismelah, dan bondoroyotnya imperialismelah yang harus kita ingkari, tetapi musuh-musuh imperialisme adalah kawan kita! Lemparkanlah "kesendirian" yang sempit-budi itu dan ambillah kesendirian yang lebar-budi ini, lemparkanlah k e d i r i a n itu dan ambillah keperibadian ini!
0, insyaf, insyaflah bahwa "penjaga" yang menjaga "orde en rust" Indonesia bukanlah lagi "penjaga" Belanda sahaja! Penjaga "orde en rust" itu, sejak adanya opendeur-politiek yang memasukkan macam-macam imperialisme melalui pintu-gerbang perekonomian Indonesia, adalah penjaga internasional, yang terdiri dari penjaga Belanda, penjaga Inggeris, penjaga Amerika, penjaga Perancis, dan lain-lain. Memang justru buat itulah di sini diadakan opendeur-politiek, justru buat tegulinya penjagaan itulah di sini diadakan politik "pintu-terbuka". 1) Internasional-imperialisme itu, yang masing-masing kini di Indonesia mempunyai kepentingan yang harus "selamat", internasional-imperialisme itu kini m a s i n g-m a s i n g menjaga dengan seawas-awasnya jangan sampai "keselamatan" kepentingannya itu terganggu. Internasional imperialisme itu masing-masing berkata:
"di Indonesia saya ada menyimpan raja-berana, marilah saya ikut menjaga, jangan sampai raja-berana itu hancur." Oleh karena itu, tidakkah suatu kebaikan, tidakkah suatu kefaedahan, tidakkah suatu keharusan, yang di muka persekutuan imperialisme-internasional itu kita hadapkan pula persekutuan bangsa-bangsa yang masing-masing juga melawan imperialisme-internasional itu? Tidakkah dus di dalam hakekatnya suatu pengkhianatan kepada kita punya Grote Zaak, jikalau kita di mukanya persekutuan imperialisme ini mau berpolitik politiknya katak di bawah tempurung?
Duabelas tahun yang lalu benggol-benggolnya internasional-imperialisme telah berkonferensi bersama-sama di kota Washington guna membicarakan "keadaan-keadaan di benua Azia".
Duabelas bulan yang lalu, lebih sedikit, Albert Sarraut di muka
suatu imperialistisch congress di kota Parijs memperkuat lagi "pembicaraan" ini: "Negeri-negeri yang berkoloni harus rukun satu sama lain … Mereka kini tak boleh bermusuh-musuhan lagi, tetapi harus bekerja bersama-sama." Dan duabelas bulan yang lalu pula, Colijn mengeluarkan nyanyian yang sama lagunya. Maka oleh karena itu, jikalau raksasa-raksasa-imperialisme bekerja bersama-sama, marilah kita, korban-korbannya raksasa-raksasa-imperialisme itu, juga bekerja bersama-sama. Marilah kita juga mengadakan eenheidsfront daripada prajurit-prajurit kemerdekaan Azia. Jikalau Banteng Indonesia sudah bekerja bersama-sama dengan Sphinx dari negeri Mesir, dengan Lembu Nandi dari negeri India, dengan Liong Barongsai dari negeri Tiongkok, dengan kampiun-kampiun kemerdekaan
1) Pertimbangan lain buat mengadakan opendeur-politiek itu ialah buat mengadakan politiek "evenwicht", yaitu supaya Indonesia jangan "diambil" oleh sesuatu imperialisme lain
dari negeri lain, – jikalau Banteng Indonesia bisa bekerja bersama-sama dengan semua musuh kapitalisme dan internasional imperialisme di seluruh dunia -, wahai, tentu hari-harinya internasional-imperialisme itu segera terbilang!
Nah, inilah kesendirian yang sejati, keperibadian yang sejati: percaya pada kekuatan sendiri, percaya pada kemampuan sendiri, seboleh-boleh dan sebanyak-banyak bekerja sendiri,- tetapi mata melihat keluar pagar, tangan dilancarkan keluar pagar itu jikalau berfaedah dan perlu. Keperibadian inilah yang harus mengganti kedirian yang bersemangat katak!
8. MACHTSVORMING. RADIKALISME. MASSA-AKSI
Sana mau ke sana, sini mau ke sini, – begitulah gambarnya pertentangan di sesuatu koloni. Pertentangan inilah yang tahadi membawa kita ke atas padangnya politik selfhelp dan non-cooperation. Tetapi pertentangan itu membawa kita juga ke dalam kawah candradimukanya politikmachtsvorming, radikalisme dan massa-aksi.
Apa artinya machtsvorming itu? Machtsvorming adalah berarti vormingnya macht, pembikinan tenaga, pembikinan kuasa. Machtsvorming adalah jalan satu-satunya untuk memaksa kaum sana tunduk kepada kita. Paksaan ini adalah perlu, oleh karena "sana mau ke sana, sini mau ke sini". Dengarkanlah apa yang tempohari saya katakan dalam saya punya pleidooi:
"Machtsvorming, pembikinan kuasa,- oleh karena soal kolonial adalah soal k u a s a, soal m a c h t. Machtsvorming,
oleh karena seluruh riwayat dunia menunjukkan, bahwa perobahan-perobahan besar hanyalah diadakan oleh kaum yang menang, kalau pertimbangan akan untung rugi menyuruhnya, atau kalau sesuatu macht menuntutkannya.
"Tak pernahlah sesuatu kelas suka melepaskan hakhaknya dengan ridlanya kemauan sendiri," – "nooit heeft een klasse vrijwillig van haar bevoorrechte positie afstand gedaan", begitulah Karl Marx berkata … Selama Rakyat Indonesia belum mengadakan suatu macht yang maha sentausa, selama Rakyat itu masih sahaja tercerai berai dengan tiada kerukunan satu sama lain, selama Rakyat itu belum bisa mendorongkan semua kemauannya dengan suatu kekuasaan yang teratur dan tersusun, – selama itu maka kaum imperialisme yang mencahari untung sendiri itu akan tetaplah memandang kepadanya sebagai seekor kambing yang menurut, dan akan terus mengabaikan segala tuntutan-tuntutannya. Sebab, tiap-tiap tuntutan Rakyat Indonesia adalah
m e r u g i k a n kepada imperialisme; tiap-tiap tuntutan Rakyat Indonesia tidaklah akan diturutinya, kalau kaum imperialisme tidak terpaksa menurutinya. Tiap-tiap kemenangan Rakyat Indonesia adalah buahnya desakan yang Rakyat itu jalankan, – tiap-tiap kemenangan Rakyat Indonesia itu adalah suatu afgedwongen concessie ! 1 )"
Menjadi dus: machtsvorming adalah perlu oleh karena, berhubung dengan adanya antitese antara sana dan sini, kaum sana tidak mau dengan keridlaannya kemauan sendiri tunduk kepada kita, jika tidak kita p a k s a dengan desakan yang ia tak dapat menahannya.
Dan oleh karena desakan itu hanya bisa kita jalankan bilamana
kita mempunyai tenaga, yakni bilamana kita mempunyai kekuatan, mempunyai kekuasaan, mempunyai m a c h t , maka kita harus menyusun macht itu, – mengerjakan m a c h t s v o r m i n g itu
dengan segiat-giatnya dan serajin-rajinnya!
Kita harus jauh dari politiknya kaum lunak, yang selamanya mengira, bahwa sudah cukuplah dengan meyakinkan kaum sana itu tentang keadilannya kita punya tuntutan-tuntutan: mereka mengira, bahwa kaum sana itu, asal sahaja sudah "berbalik fikiran", tentu akan menuruti segala kita punya kemauan. Amboi, jikalau benar sana begitu, barangkali Indonesia sudah lama merdeka! Jikalau benar kaum sana begitu, maka kita semua boleh tidur, dan hanya satu dua orang sahaja daripada kita boleh "bicara" dengan kaum sana itu, "membalikkan fikirannya"! Tetapi keadaan yang senyatanya tidak begitu.
Keadaan yang senyatanya ialah, bahwa kaum sana di sini itu tidak buat mendengarkan keadilannya kitapunya tuntutan, tidakpun buat menurut kitapunya tuntutan itu bilamana "sudah ternyata adilnya", tetapi ialah tak lain tak bukan buat urusan sendiri, buat kepentingan sendiri, buat keuntungan sendiri, – adil atau tidak adil. Keadaan yang senyatanya ialah, bahwa "sana mau kesana, sini mau ke sini".
Maka oleh karena itulah kaum Marhaen Indonesia, yang di dalam politiknya selamanya harus jauh sekali daripada pengalamunan jang bertentangan dengan keadaan yang nyata, yang selamanya harus berdiri di atas bumi yang nyata dan tidak boleh terapung-apung di atas awannya gagasan, harus menolak politik otak-angin daripada kaum lunak itu, dan menjalankan politik mentah sementah-mentahnya, yaitu: menyusun di muka machtnya imperialisme itu m a c h t n y a kaum Marhaen pula. Memang yang sebenar-benarnya disebutkan politik, itu bukanlah kepandaian putar lidah, bukan kepandaian menggerutu dengan hat dendam terhadap pada kaum sana, bukan kepandaian tawar-menawar, tetapi politik buat kaum Marhaen hanyalah menyusun machtsvorming dan memperusahakan machtsvorming itu,- machtsvorming yang terpikul oleh a z a s yang r a d i k a l. Jawaharlal Nehru, itu pemimpin Rakyat India, pernah berkata: "Dan jikalau kita bergerak, maka haruslah kita selamanya ingat, bahwa cita-cita kita tak dapat terkabul, selama kita belum mempunyai k e k u a s a a n yang perlu untuk mendesakkan terkabulnya cita-cita itu. Sebab kita berhadap-hadapan dengan musuh, yang tak sudi menuruti tuntutan-tuntutan kita, walaupun yang sekecil-kecilnya. Tiap-tiap kemenangan kita, dari yang besar-besar sampai yang kecil-kecil, adalah hatsilnya d e s a k a n dengan kita punya tenaga. Oleh karena itu dan prinsip sahaja buat saya belum cukup. Tiap-tiap orang bisa menutup dirinya di dalam kamar, dan menggerutu ini tidak menurut teori, itu tidak menurut prinsip. Saya tidak banyak menghargakan orang yang demikian itu. Tetapi yang paling sukar ialah, di muka musuh yang kuat dan membuta-tuli ini, menyusun suatu macht yang terpikul oleh suatu prinsip. Keprinsipiilan dan keradikalan zonder machtsvorming yang bisa menundukkan musuh di dalam perjoangan yang haibat, bolehlah kita buang ke dalam sungai Gangga. Keprinsipiilan dan keradikalan yang menjelmakan kekuasaan, itulah kemauan Ibu!"
1) Artinya concessie: Kalau si musuh, karena d e s a k a n kita, lantas m e n u r u t i sebagian atau semua tuntutan-tuntutan kita, maka si musuh itu adalah menjalankan concessie.
Perkataan Jawaharlal Nehru ini adalah perkataan yang cocok sekali buat perjoangan Marhaen di Indonesia melawan musuh yang juga kuat dan membuta-tuli itu. Juga kita kaum Marhaen Indonesia tak cukup dengan menggerutu sahaja. Juga kita harus menjelmakan azas atau prinsip kita ke dalam suatu machtsvorming yang maha kuasa. Juga kita harus insyaf seinsyaf-insyafnya, bahwa imperialisme tak dapat dialahkan dengan azas atau prinsip s a h a j a, melainkan dengan machtsvorming yang terpikul oleh azas atau prinsip itu!
Yang terpikul oleh a z a s atau prinsip! Sebab "machtsvorming" yang tidak terpikul oleh azas atau prinsip, sebenarnya bukan machtsvorming, b u k an pembikinan kuasa! "Machtsvorming" yang zonder azas atau prinsip, yaitu "machtsvorming" yang opportunistis alias tawar-menawar, yang sikapnya sebentar begini sebentar begitu menurut anginnya kaum sana, yang tidak perempuan tidak laki-laki, – "machtsvorming" yang demikian itu bukan suatu macht yang mau menundukkan kaum sana, tetapi suatu bola yang dipermainkan oleh kaum sana belaka. Tetapi machtsvorming kita haruslah machtsvorming yang terpikul oleh suatu azas: azas a n t i t e s e antara sana dan sini, azas perlawanan zonder-damai antara sana dan sini, azas kemerdekaan nasional, azas keMarhaenan, azas bukan tawar-menawar tapi mau menggugurkan stelsel kapitalisme-imperialisme samasekali, azas mau mendirikan suatu masyarakat-b a r u di atas runtuhan-runtuhannya kapitalisme-imperialisme itu, yang terpikul oleh kesama-rasa-sama-rataan. Azas inilah yang boleh dicakup dengan satu perkataan sahaja, yaitu perkataan radikalisme. Radikalisme, – terambil dari perkataan radix, yang artinya a k a r -, radikalisme haruslah azas machtsvorming Marhaen: berjoang tidak setengah-setengahan tawar-menawar tetapi terjun sampai ke akar-akarnya kesengitan antitese, tidak setengah-setengahan hanya mencari "untung ini hari" sahaja tapi mau menjebol stelsel kapitalisme-imperialisme sampai ke akar-akarnya, tidak setengah-setengahan mau mengadakan perobahan-perobahan yang kecil-kecil sahaja tapi mau mendirikan masyarakat baru samasekali di atas akar-akar yang baru, – berjoang habishabisan tenaga membongkar pergaulan hidup sekarang ini sampai keakar-akarnya untuk mendirikan pergaulan hidup baru di atas akar-akar yang baru. Radikalisme inilah harus menjadi nyawanya machtsvorming Marhaen. Marhaen harus menolak dengan kejijikan segala sikap setengah-setengahan yang tidak berjoang tetapi hanya tawar-menawar, Marhaen harus mengusir dari kalangan. Marhaen segala opportunisme, reformisme, dan possibilisme yang selamanya menghitung-hitung untung rugi sebagai juru kedai yang takut uangnya hilang sekepeng. Marhaen harus mengusir jauh-jauh segala politik yang mau menutupi atau menipiskan antitese antara sana dan sini, Marhaen malahan harus menajamkan antitese antara sana dan sini itu, – tidak mau berdamai tawar-menawar dengan kaum sana itu, tetapi berjoang habis-habisan dengan kaum sana walau ke muka pintu-gerbangnya nerakapun jua adanya. Marhaen harus dengan sekelebatan mata sahaja mengerti, bahwa perjoangannya, yang bermaksud membongkar kapitalisme-imperialisme sampai keakar-akarnya itu, tidak akan bisa berhatsil dengan politik reformisme yang mau "berniaga" dengan kaum kapitalisme itu, yang ismenya mau ia gugurkan itu. Marhaen harus mengambil perkataannya Karl Leibknecht, bahwa "perdamaian antara Rakyat-djelata dengan kaum atasan adalah berarti mengorbankan Rakyat-djelata itu",- membinasakan Rakyat-jelata itu.
Marhaen dus, untuk mengulangi lagi, harus berjoang zonder damai sampai keakar-akarnya kesengitan antitese, berjoang zonder damai menjebol akar-akarnya stelsel kapitalisme-imperialisme, berjoang zonder damai menanam akar-akarnya pergaulan hidup yang baru, – berjoang zonder damai dengan bersemangat r a d i k a l i s m e dan sepak-terjang radikalisme!
Tetapi bagaimanakah jalan-jalannya kaum Marhaen menjelmakan machtsvorming yang berazas radikalisme itu? Tidak ada jalan dua, tidak ada jalan tiga, melainkan ada satu jalan sahaja: jalannya massa- a k s i. Dengan massa-aksi kaum Marhaen bisa mengobar-ngobarkan semangatnya sampai ke puncaknya angkasa, dengan massa-aksi mereka bisa menghaibatkan kemauannya menjadi sehaibatnya gelombang samodra, dengan massa-aksi mereka bisa mengolah merekapunya tenaga menjadi tenaganya gempa. Dengan massa-aksi mereka bisa menyusun-nyusun mereka punya geest, mereka punya wil, mereka punya daden, – dengan massa-aksi mereka bisa menyusun mereka punya m a c h t s v o r m i n g sampai sekuasa-kuasanya. Machtsvorming bukanlah penyusunan tenaga wadag sahaja, machtsvorming adalah juga penyusunan tenaga semangat, tenaga kemauan, tenaga Rokh, tenaga Nyawa. Rokhani dan jasmaninya massa menjadilah seolah-olah disiram air Kahuripan di dalam massa-aksi itu. Apa yang Marhaen satu persatunya tidak bisa menciptakan, apa yang Marhaen satu persatunya tidak bisa "menyemangatkan" dan "memaukan", dapatlah diciptakan oleh luluhan Marhaen yang sudah menjadi massa itu. Semangatnya massa, kemauannya massa, keberaniannya massa, "apinya" massa, bukanlah sama dengan semangat atau kemauannya Marhaen satu per satu, bukanpun sama dengan jumlahnya semangat atau kemauan Marhaen-Marhaen itu semuanya, – tetapi massa seolah-olah mempunyai "semangat-massa" sendiri, "kemauan massa" sendiri, "keberanian massa" sendiri, "api massa" sendiri, yang lebih-lebih haibat daripada jumlah semangat-semangat atau kemauan-kemauan itu adanya. "Api massa" inilah melahirkan "perbuatan-perbuatan massa" yang haibatnya bisa sampai menggoyangkan sendi-sendinya masyarakat, ya, sampai menggugurkan masyarakat dengan segala sendi-sendi dan alas-alasnya.
Sebab, apakah arti massa itu? Massa bukanlah cuma "Rakyat-jelata yang berjuta-juta" sahaja, massa adalah Rakyat-jelata yang sudah terluluh mempunyai semangat satu, kemauan satu, rokh dan
nyawa satu. Massa adalah berarti deeg, jeladren, luluhan.
Ia dus bukan gundukan Rakyat-jelata sahaja yang berlain-lainan semangat dan kemauan, ia bukan mitsalnya gundukan Rakyat-jelata pada waktu hari Lebaran, – yang sebagian ingin pergi ke kuburan, yang sebagian ingin pergi berjalan-jalan pamer pakaiannya yang baru, yang sebagian lagi ingin pergi menemui pamili keluarganya untuk bersilaturrahmi ia adalah suatu luluhan yang satu semangatnya, s a t u kemauannya, satu tekadnya, s a t u rokhani dan jasmaninya. Ia didalam riwayat-dunia selamanya adalah gundukan Rakyat-jelata, yang karena sama-sama menderita tindasan daripada kaum atasan dan sama-sama menderita nasib sengsara yang seolah-olah tak dapat terpikul lagi, sama-sama pula timbul rasa kemarahannya, sama-sama timbul kehendaknya melawan keadaan yang menyengsarakan mereka itu, sama-sama berjoang membongkar keadaan itu, – sama-sama terluluh menjadi satu luluhan radikal yang gerak-bangkit bergelora sebagai ombak membanting di pantai.
Inilah yang dinamakan massa-aksi: aksinya Rakyat-jelata yang sudah terluluh menjadi jiwa baru, melawan sesuatu keadaan yang mereka tidak s u d i pikul l a g i. Memang massa-aksi adalah selamanya radikal. Memang massa-aksi adalah selamanya membuka dan menjebol a k a r – a k a r n y a sesuatu keadaan. Memang massa-aksi adalah selamanya mau menanam akar-akarnya keadaan yang baru. Perobahan-perobahan besar di dalam riwayat dunia selamanya diparajikan oleh massa-aksi,- begitulah saya di atas tahadi berkata. Memang massa aksi tidak bisa haibat kalau setengah-setengahan, massa-aksi tidak bisa haibat kalau hanya mau mengejar "keuntungan-keuntungan kecil-ini hari" sahaja. Massa-aksi barulah dengan sesungguh-sungguhnya berderus-derusan menjadi massa-aksi, jikalau Rakyat-jelata itu sudah berniat membongkar sama-sekali keadaan tua diganti sama-sekali dengan keadaan baru. "Een n i e u w levensideaal moet de massa aanvuren", "suatu cita-cita pergaulan hidup baru harus menyala di dalam dadanya massa", begitulah menurut seorang pemimpin besar syaratnya massa-aksi. Maka oleh karena itulah bagi kita kaum Marhaen satu kali akan datang saatnya, yang juga massa-aksi kita akan hidup dan bangkit sehaibat-haibatnya: Kita punya cita-cita, kita punya idealisme bukanlah suatu idealisme politik sahaja, kita punya idealisme bukanlah "Indonesia-Merdeka" sahaja, kitapunya idealisme adalah idealisme masyarakat-baru, suatu sociaal idealisme yang gilang-gemilang. Sociaal-idealisme inilah yang menjadi motor pertama dari kita punya massa-aksi!
Kaum lunak di sini juga sering mengemak-kemikkan perkataan "massa-aksi". Kaum lunak di sini juga mau mengadakan
"massa-aksi". Amboi! Seolah-olah massa-aksi bisa dipisahkan daripada radikalisme. Seolah-olah Rakyat-jelata bisa menjadi massa karena cita-cita yang bukan cita-cita Rakyat-jelata, yakni cita-cita "bank-bank-an", "rumah-sakit-rumah-sakitan", "warung-warungan".
Seolah-olah apinya Rakyat-jelata bisa dipasang dan dijadikan api-massa dengan api melempemnya politik "pelan-pelanan" yang tidak bermaksud lenjapnya kapitalismeimperialisme sampai keakar-akarnya. Seolah-olah massa-aksi bisa "dibikin" dengan mereka punya politik yang sampai kiamat "berfikir" dan "menghitung-hitung". Seolah-olah riwayat-dunia tidak saban-saban menunjukkan, bahwa "nimmer kan de massa langs den weg der zuiver verstandelijke berekening tot heroische daden bezield worden", bahwa "massa tak pernah bisa disuruh melahirkan perbuatan-perbuatan besar dengan politik menghitung-hitung!" 1)
0, kini kita mengerti: mereka memang tidak tahu a p a k a h massa aksi itu! Mereka mengira, bahwa massa-aksi adalah vergadering-vergadering-openbaar yang berbarengan! Mereka mengira sudah "mengadakan massa-aksi", kalau sudah mengadakan rapat-rapat-umum di mana mana ! Haha, mereka mengira bahwa "massa-aksi" itu boleh mulai pukul sembilan pagi dan berhenti pukul satu siang!
Kalau begitu, gampang membikin massa-aksi, kalau begitu gampang massa-aksi boleh "diperintahkan" menurut "sakersa – sakersanya" juragan pemimpin, barangkali massa-aksi di Indonesia sehaibat-haibatnya, dan … Indonesia sudah merdeka! Tetapi tidak ! –
Massa-aksi bukan "vergadering-vergaderi
ngopenbaar yang berbarengan", massa-aksi bukanpun suatu kejadian yang boleh "diperintahkan" harus mulai pukul sembilan neng pagi-pagi! Massaaksi tidak bisa "diperintahkan" atau "dibikin" orang, tidak bisa dipaberikkan oleh pemimpin, tidak bisa "harus mulai pukul sembilan neng", massa-aksi adalah didalam hakekatnya bikinan m a s y a r a k a t yang mau melahirkan masyarakat baru, dan karenanya butuh akan "seorang paraji". Massa-aksi adalah aksinya Rakyat-jelata yang, karena kesengsaraan, telah terluluh menjadi satu jiwa baru yang radikal, dan bermaksud "memarajikan" terlahirnya masyarakat baru!
1) August Bebel.
Tidak! Kaum lunak dengan kelunakannya itu memang tidak bisa "mengadakan" massa-aksi, mereka memang tidak bisa menjadi motornya massa-aksi, mereka memang tidak terpanggil oleh riwayat untuk menjadi motornya massa-aksi, – w a l a u p u n mitsalnya perhimpunannya beranggauta ribuan, ketian, jutaan! Sebab – tahadi sudah saya terangkan massa-aksi adalah meminta radikalisme, berisi radikalisme, vooronderstellen radicalisme. Paling mujur kaum lunak itu dengan kelunakannya, kalau bisa menggerakkan beribu-ribu Rakyat-jelata, hanya melahirkan massa-aksi belaka.