The Tragedy of St. Helena

Chapter 2

Chapter 23,306 wordsPublic domain

Hasil-hasil minyak tanah total f 149.916.000

Arachides 4.335.000

Korot 417.055.000

Damar 9.911.000

Kopra 73.083.000

Gambir 1.194.000

Getah-Perca 1.895.000

Jelutung 2.073.000

Topi 2.405.000

Kaju 9.106.000

Kulit 16.067.000

1) Angka-angka buat tahun 1937.

Babakan kina 5.454.000

Pil kina 1.821.000

Kopi 74.376.000

Jagung 4.033.000

Kain-kain 5.425.000

Minyak-minyak (dari tanaman) total 14.766.000

Pinang 7.307.000

Rotan 8.521.000

Beras 2.373.000

Rempah-rempah total 33.409.000

Spiritus 3.125.000

Arang-batu 5.019.000

Gula total 365.310.000

Tembakau total 113.926.000

Tepung ketela 21.423.000

Teh 90.220.000

Timah total 93.864.000

Bungkil 4.132.000

Kapuk, serat nanas, dll. 38.250.000

Lain-lain hal 42.484.000

Total-jenderal

f 1.622.278.000

Inilah daftar daripada "makan jalan" di dalam pesta untu merayakan "beschaving-en-orde-en-rust" yang jadi cangkingannya imperialisme modern di Indonesia! Perhatikanlah nama-nama dan angka-angka yang dicetak dengan huruf tebal: Kecuali minyak-tanah dan timah, maka nama-nama itu adalah semuanya nama-nama hasil "onderneming land‑bouw", dan semuanyapun angka-angka yang paling gemuk. Karet sekian milyun, kopra sekian milyun, kopi sekian milyun, minyak-minyak-tanaman sekian milyun, gula sekian milyun, … tembakau, teh, kapuk, serat nanas sekian milliun, – dari delapan macam hasil onderneming landbouw ini sahaja jumlah ekspor sudah f 1.186.986.000, atau kurang lebih 75% dari semua jumlah ekspor yang f 1.622.278.000 itu! Konklusi? Konklusi ialah, bahwa imperialisme-modern yang mengaut-aut di padang perekonomian Indonesia itu ialah terutama sekali imperialisme-pertanian, atau lebih tegas: landbouw-industrieel imperialisme. Konklusi ialah, bahwa bagi perjoangan kita adalah sangat sekali pentingnya kita antara lain-lain mengadakan sarekat sarekat-tani, sebagai nanti akan kita terangkan dibagian 8 dari ini risalah.

"Makan yalan" ekspor setahun-tahunnya rata-rata f 1.500.000.000 rupiah! Tetapi berapakah besarnya untung yang didapatnya dari penjualan barang yang sekian milyun itu? Ondernemersraad, yakni serikatnya kaum modal sendiri, memberi jawab sendiri yang terus terang di atas pertanyaan ini: setahun-tahunnya mereka mendapat untung sebesar 9% a 10% dari modal-induknya, – di dalam tahun 1924 sejumlah f 490.000.000, di dalam tahun 1925 sejumlah f 540.000.000, di dalam setahun-tahunnya dus rata-rata f 515.000.000. Untung bersih lima ratus limabelas milyun rupiah setahun, dan ini adalah 9% a 10% dari mereka punya modal-induk! Men­jadi dus mereka punya modal-induk, yakni jumlahnya semua modal yang ditanam di Indonesia, adalah: 100/9 x f 515.000.000 = f 5.722.000.000, atau hampir f 6.000.000.000 ! Amboi, semua angka-angka hanya milyunan sahaja, tidak ada yang ribuan, ya, tidak ada yang ketian atau laksaan! Jumlah modal: enam ribu milyun, jumlah harganya barang yang saban tahun diangkuti ke luar ke pasar dunia: seribu lima ratus milyun, jumlah untung bersih saban tahun: lima ratus limabelas milliun!

Sedang bagi Marhaen, yang membanting tulang dan berkeluh-kesah mandi keringat bekerja membikinkan untung sebesar itu, rata-rata di dalam zaman "normal" tak lebih dari delapan sen seorang sehari.

3. INDONESIA, TANAH YANG MULYA

"INDONESIA, TANAH YANG MULYA,

TANAH KITA YANG RAYA;

DI SANALAH KITA BERADA,

UNTUK SELAMA-LAMANYA , "

Ya, di dalam zaman "normal", sebelum meleset, tak lebih dari delapan sen seorang sehari. Dan inipun bukan hisapan-jempol kaum pembohong, bukan hasutannya kaum penghasut, bukan agitasinya pemimpin-agitator. Ini ialah suatu kenyataan yang nyata dan yang telah dibuktikan oleh ahli ­pengetahuan bangsa Belanda sendiri. Memang siapa yang bertulus hati dan bukan orang munafik dan durhaka haruslah mengakui keadaan itu. Memang hanya orang munafik dan durhaka sahajalah yang tak berhenti­henti berkemak-kemik: "Indonesia sejahtera, Rakyatnya kenyang-senang."

Tetapi angka-angka tak dapat dibantah lagi. Dr. Huender telah mengumpulkan angka-angka itu. Ia membikin perhitungan dari semua inkomsten dan uitgaven-nya Kang Marhaen, dari semua masuknya-rezeki dan keluarnya-rezeki Kang Marhaen. Ia mengumpulkan angka-angka­ perhitungan itu tidak dari "kabar-kabar-bikinan", tetapi dari verslag­verslag resmi sendiri. Ia berdiri seobyektif-obyektifnya, ia sama tengah, tidak menyebelah kesana, tidak menyebelah ke sini. Ia oleh karenanya, harus dipercaya oleh tiap-tiap orang yang mau bertulus hati.

Ia membagi pendapatan Kang Marhaen itu dalam tiga bagian: pendapatan dari padinya, pendapatan dari palawijanya, pendapatan dari perkuliannya bilamana Marhaen tengah "vrij". Dan bagaimanakah menurut Dr. Huender rupanya Kang Marhaen punya "makan-jalan"? Bagaimanakah pendapatan-pendapatannya itu masing-masingnya? Lihatlah "daftar" di bawah ini: Ia mendapat padi seharga f 103.‑ Ia mendapat palawija seharga f 30.‑ Ia mendapat hatsil-perkulian sejumlah f 25.—

Ia dus mendapat hatsiltotal jenderal f 158. – zegge: seratus limapuluh delapan rupiah Hindia-Belanda, – di dalam zaman sebelum meleset! 1) Dan inipun pendapatan kotor. Sebab dari "kekayaan" f 158 itu Kang Marhaen masih harus membayar ia punya pengeluaran: membayar iapunya landrente, membayar ia punya pajak-kepala, membayar ia punya Inlandse Verponding, membayar ia punya pajak lain-lain. Dari "kekayaan" f 158 itu Kang Marhaen menurut Dr. Huender masih harus mengeluarkan lagi total-jenderal f 22.50. 2) Dua puluh dua setengah rupiah dari seratus limapuluh delapan rupiah, pendapatan bersih adalah dus total-jenderal: f 158 — f 22.50 = f 135.50!

f 135.50 buat duabelas bulan, dan buat makan seanak-bini! Belum sampai f 12.- sebulan-bulannya! Belum sampai f 0.40 sehari-harinya! Belum sampai delapan sen seorang sehari! 3)

Sehingga juga di dalam hal ini Indonesia pegang rekor ; di seluruh muka-bumi dari Barat sampai Timur sampai Utara sampai Selatan tidak ada angka yang begitu rendahnya; di negeri Bulgaria, negeri yang terkenal paling melarat, orang masih hidup dengan tigabelas sen sehari. Kita tidak hairan, kalau Dr. Huender berkata, bahwa Marhaen adalah Rakyat "minimum-lijdster", yaitu Rakyat yang sudah begitu keliwat melaratnya, sehingga kalau umpamanya dikurangi lagi sedikit sahaja bekal-hidupnya, niscaya ia jatuh samasekali, maut samasekali, binasa samasekali!

Dan Dr. Huender-pun tidak berdiri sendiri; puluhan orang bangsa Belanda lain yang juga berpendapat demikian; puluhan orang bangsa Ini pendapatan Marhaen tani. Kalau diambil semua Marhaen, rata-rata f 161.‑ "Kerja-desa", – desa-diensten, mitsalnya ronda, bikin betul jalan-desa, mem­bikin jembatan-desa dll. – oleh Dr. Huender di-"rupakan uang", lalu dimasukkan di sini. Marhaen, bininya dan anaknya yang rata-rata 3 orang.

Belanda lain yang juga mengakui bahwa Marhaen adalah papa-sengsara. Tapi tidak ada gunanya menyebutkan nama-nama itu satu persatu di dalam risalah yang akan dibaca oleh katun Marhaen. Kaum Marhaen sendiri merasakan kepapaan dan kesengsaraan itu saban hari, saban jam, saban menit. Kaum Marhaen sendiri merasakan saban hari, bagaimana mereka kekurangan segala-galanya, – kekurangan bekal-hidup, kekurangan pa­kaian, kekurangan benda rumah-tangga, kekurangan bekal pendidikan anaknya, kekurangan tiap-tiap keperluan-manusia walau yang paling seder­hanapun jua adanya.

En toch, barangkali risalah ini dibaca oleh fihak "twijfelaars" alias fihak "ragu-ragu" di kalangan kitapunya intellectuelen yang karena ter­lampau kenyang "cekokan kolonial" tidak percaya bahwa Marhaen papa-sengsara? Buat kaum "twijfelaars" itu saya hanya tahu satu obat manjur yang akan melenyapkan segala keragu-raguannya; buat kaum "twijfelaars" itu saya punya resep hanyalah: "Pergilah ke kalangan kaum Marhaen sendiri, nyatakanlah hal itu di kalangan kaum Marhaen sendiri!" Maka kamu akan melihat dengan mats sendiri, mendengar dengan telinga sendiri, kebenarannya perkataan Professor Boeke yang berbunyi, bahwa hidupnya bapak tani adalah hidup "ellendig", hidup yang "sengsara keliwat sengsara", – atau kebenarannya perkataan Schmalhausen, bahwa masyara­kat kita adalah masyarakat "waar nagenoeg niemand iets bezit", yakni masyarakat "yang hampir tidak ada seorang juapun mempunyai milik apa-apa".

Dan barangkali ada juga faedahnya bagi kaum ini saya menyajikan lagi beberapa angka? Marilah, jikalau memang begitu, kita sajikan se­dikit angka-angka-statistik. Marilah kita mengambil angka-angka-statistik bikinan pemerintah sendiri." Maka kita di situ menjumpai angka-angka yang tidak banyak beda dari angka-angkanya Dr. Huender tahadi. Kita melihat di situ, bahwa di seluruh Indonesia jumlah Marhaen (semua angka-­angka adalah angka-angka zaman "normal") yang mempunyai perniagaan yang hatsilnya lebih dari f 120 setahun hanyalah 1.172.168 orang, dus belum 2 tiap-tiap 100; bahwa ternak Marhaen yang berupa lembu hanyalah 145 per seribu orang.

Kita melihat bahwa jikalau mitsalnya Kang Marhaen itu menjadi kuli di paberik gula, upahnya rata-rata hanyalah f 0.45 sehari, dan bahwa jikalau mBok Marhaen yang menjadi kuli, upah ini lantas menjadi rata-rata hanya f 0.37 sehari, artinya, jika dimakan seisi rumah: tak lebih dari f 0.08 a f 0.09 seorang sehari. Kita melihat bahwa lebarnya milik tanah tiap-tiap orang Marhaen rata-rata hanyalah kurang-lebih satu bahu, sedang beribu-ribu bahu diberikan erfpacht, sedang di negeri Belanda orang tani yang miliknya 5 bahu sudah disebutkan "keuterboer", "tani yang lebih kecil dari kecil". Kita melihat, bahwa tanah-pertanian yang ditanami oleh Marhaen hanyalah rata-rata 0.29 bahu, sehingga Marhaen bukanlah keuter­boer, tetap … tani-gurem. Kita melihat, – dan kini kita mengambil per­maklumannya volksraad bahwa di mana duapuluhlima tahun yang lalu 71% dari kaum Marhaen masih bisa tani-melulu, kini tinggal 52% saha­jalah yang bisa bertani-melulu. Kita melihat, … tetapi ah, marilah saya berhenti, marilah saya sudahi "daftar" ini sampai di sini sahaja, – ia menjadi menjemukan!

Marilah kita lebih baik membuka surat-surat-khabar, dan kita s a b a n hari bisa mengumpulkan beberapa "syair megatruh" yang "menarik hati", yang melagukan betapa hidupnya Kang Marhaen, yang di dalam zaman "normal" sudah "sekarang makan besok tidak" itu, di dalam zaman meleset sekarang ini menjadi lebih-lebih ngeri lagi, lebih-lebih memutuskan nyawa lagi, lebih-lebih me­gap-megap lagi.

"Darmokondo", 11 Juli 1932:

"Di kampung Pagelaran Sukabumi ada hidup satu suami isteri bernama Musa dan Unah, dengan ia punya anak lelaki yang kesatu berumur 5 tahun, yang kedua 3 tahun dan yang ketiga baru 1 tahun. Itu familie ada sangat melarat, dan sudah beberapa bulan ia cuma hidup saja dengan daun-daunan dalam hutan, yang ia makan buat gantinya nasi. Lama-kelamaan itu suami isteri merasa yang ia tidak bisa hidup selama-lamanya dengan cuma makan itu macam makanan saja.

Buat sambung ia punya jiwa serta anak-anaknya, itu suami isteri telah dapatkan satu fikiran, yaitu … jual saja anaknya pada siapa yang mau beli."

"Perca Selatan", 7 Mei 1932:

"Pegadaian penuh, sebab tidak ada yang menebus, semua menggadai. Sekarang gadaian kurang. Ini barang aneh! Sebab mustinya naik! Bagi saya tidak aneh. Ini tandanya barang-barang yang akan digadai sudah habis! Tandanya miskin dan habis-habisan!

Di desa orang-orang 2 hari sekali makan nasi, selainnya makan ubi, tales, singkong, jantung pisang. Sudah sebagai sapi."

"Aksi", 14 November 1931:

"Di desa Banaran dekat Tulung Agung kemarin-dulu orang sudah jadi ribut, lantaran ada orang gantung diri.

Duduknya perkara begini: Sudah lama ia seanak bininya merasa sengsara sekali, malahan anaknya yang masih kecil sekali sering diemiskan nasi pada orang sedesa situ. Saben hari ia cari kerja, berangkat pagi pulang sore, tapi sia-sia, tidak ada orang yang butuh kuli. Kemarin dulu ia tidak bepergian, cuma duduk termenung di rumah saja, rupa-rupanya sudah putus-asa dan bingung mendengarkan anaknya menangis minta makan. Tahu-tahu dia sudah ketemu mati (gantung diri)."

"Sian Po", 23 Januari 1933:

"Di dekat kota Krawang sudah kejadian barang yang sanget bikin ngenes ati. Ada orang janda namanya Upi, punya anak kecil. Dia punya laki barusan mati, sebab sakit keras yang cuma satu minggu lamanya. Upi memang dari sedari hidupnya dia punya laki, ada sanget melarat sekali, tapi sesudah ia jadi janda, kemelaratan rupanya tida ada bates lagi. Lama-lama Upi sudah jadi putus-asa, dan anaknya yang ia cintain itu sudah ia tawarkan sama tuan L.K.B. di Krawang.

Ditanya apa sebabnya ia mau jual anaknya, ia tida jawab apa-apa, cuma menjatuhkan air mata bercucuran. Tuan L.K.B. sanget kasian sama dia, en kasih uang sekedarnya pada itu janda yang malang."

"Pewarta Deli", 7 December 1932:

"Di kota sering ada orang yang menyamperi pintu bui, minta dirawat dibui saja, sebab merasa tidak kuat sengsara. Dibui misih kenyang makan, sedang di luar belum tentu sekali sehari" …

"Sin Po", 27 Maart 1933:

"Mencuri ayam sebab lapar. Dihukum juga 9 bulan.

Malaise heibat yang mengamuk di mana-mana telah bikin sengsara dan kelaparan penduduk desa Trogong Kebayuran.

Penduduk di situ rata-rata suda tida bisa dapatken uang dan banyak yang kelaparan kerna tida punya duit buat beli makanan.

Salah satu orang nama Pungut juga alamken itu kasukeren yang heibat. Ia ada punya bini dan dua anak, sedeng penghasilan sama sekali telah kapempet berhubung dengen jaman susa. Sementara itu ia punya beras dan makanan suda abis.

Apa boleh buat, saking tida bisa tahan sengsara kerna suda 2 hari tida punya beras, pada satu malem ia bongkar kandang ayam dari tetangganya nama Jaya dan dari ia timpa 2 ekor ayam.

Itu binatang kamudian ia jual di pasar buat 3 picis dan dari itu uwang ia beli beras 15 cent.

Blakangan Pungut ditangkep dan dibui. Pada tanggal 25 Maart ia mesti mengadep pada landraad di Mr. Cornelis dan Pungut aku saja betul telah colong itu 2 ekor ayam sebab suda 2 hari ia tida makan.

Landraad anggep ia terang bersalah ambil ayamnya laen orang dan Pungut dihukum 9 bulan. Anak bininya menangis di luar ruangan landraad! (Rep.)"

Enz., enz., enz …………………

Aduhai, – dan di dalam zaman air-mata ini, di mana Marhaen terpaksa hidup dengan sebenggol seorang sehari, di mana beban-beban yang harus dipikul Marhaen semakin menjadi berat, di mana menurut verslag Voor­zitter Kleine Welvaartcommissie penghatsilan dari perusahaan-perusahaan­ kecil di desa-desa dan di kampung-kampung sudah turun dengan 40 sampai 70%, di mana kesengsaraan sering membikin Marhaen menjadi putus-asa dan gelap-mata, sebagai ternyata dari kabar-kabar di atas, – di dalam zaman air-mata ini Marhaen di tanah Jawa masih harus memelihara juga hidup­nya ribuan orang kuli-kontrakan, yang dipulangkan dari Deli dan lain sebagainya zonder tunjangan sepeserpun jua, yang seolah-olah untuk membuktikan isinya peribahasa: "habis manis sepah dibuang."

Ya, se­melarat-melaratnya Marhaen, maka Marhaen selamanya masih "ridla membahagi kemelaratannya itu dengan orang yang lebih melarat lagi daripadanya", – begitulah Schmalhausen menulis. Ya, imperialisme me­ngetahui ketinggian budi Marhaen itu: kuli-kuli yang ia lepas tidak usah diambil pusing, tokh nanti mereka dapat makan juga dari kawan-ka­wannya di desa-desa dan di kampung-kampung. Sedang kaum "werkloos" bangsa asing di sini mendapat tunjangan. Sedang kaum "werkloos" di hampir tiap-tiap negeri yang sopan mendapat penyambung nyawa. Se­dang kaum "werkloos" di negeri Belanda mendapat uitkering f 2. – sehari. Sedang … ya sedang Kang Marhaen, walaupun umpamanya ia tidak "werkloos", walaupun ia membanting-tulang dan mandi keringat di atas ladangnya dari syubuh sampai magrib, harus tahan nyawanya dengan sebenggol sehari …

Aduhai, kemanakah Marhaen harus menyimpankan nyawanya yang penuh dengan keteduhan itu? Yang penuh dengan ratap dan penuh dengan tangis, penuh dengan kemalangan dan penuh dengan kesedihan, penuh dengan sakit dan penuh dengan lapar? Di dalam zaman "normal", bilamana kaum imperialis berpesta dan bersuka-raya mengekspor barang kehatsilan­nya yang lebih dari f 1.500.000.000 setahunnya itu, ia hanyalah mendapat nafkah-hidup f 0.08 seorang sehari; di dalam permulaannya zaman meleset, menurut "Economisch Weekblad", ia hanyalah makan f 0.04 seorang sehari; dan di dalam tengah-tengahnya zaman meleset, tatkala menurut angka statistik ekspornya kaum imperialis setahunnya tokh masih sahaja tidak kurang dari f 1.159.000.000, ia terpaksa mempertahankan nyawanya dengan sebenggol seorang sehari! Garis-penghidupannya memang penuh dengan corek-corek kemalangan; garis-penghidupannya itu tidak pernah naik, garis-penghidupannya itu senantiasa menurun. Lebih dari seperempat abad yang lalu voorzitter "Mindere Welvaartcommissie" telah mengatakan, bahwa ia punya peri-kehidupan adalah di dalam "tuitelig evenwicht",. peri­kehidupan yang gampang terpelanting ; seperempat abad kemudian orang mengatakan bahwa ia adalah "minimum-lijder"; dan kini tiga-empat tahun kemudian lagi, Marhaen boleh hidup dengan sebenggol sehari dan … memberi juga makan pada ribuan lepasan kuli-kontrak. Di dalam tempo yang kurang dari tigapuluh tahun itu, modern-imperialisme, yang senantiasa mengagul-agulkan ia punya "kesopanan" dan "ketenteraman umum", telah melihat kans "memperbaiki" nasib Marhaen dari setengah hidup menjadi setengah megap-megap!

Tetapi, apakah memang benar, imperialisme samasekali tidak ada "berkah" sedikit juapun bagi kita bangsa Indonesia? Tidakkah ia mendatangkan beberapa kemajuan, mendatangkan pengetahuan, mendatangkan "beschaving"? Tidakkah dus modern-imperialisme itu "ada baiknya" juga? 0, memang, zaman modern-imperialisme mendatangkan "beschaving", zaman modern-imperialisme mendatangkan jalan-lorong yang indah dan jalan-jalan kereta api yang haibat, zaman modern-impe­rialisme mendatangkan perhubungan kapal yang sempurna, mendatangkan "ketenteraman", mendatangkan "perdamaian", mendatangkan telepon, mendatangkan telegrap, mendatangkan lampu listrik, mendatangkan radio, mendatangkan kedokteran, mendatangkan keteknikan, ya, mendatangkan kepandaian barang apa-sahaja sampai yang mendekati kepandaiannya jin­-peri-perayanganpun, – tetapi, adakah semua hal itu didatangkannya buat keperluan Kang Marhaen? Adakah semua hal itu, sekalipun umpamanya didatangkan buat keperluan Kang Marhaen, bisa ditimbangkan dengan bencana-hidup yang disebar-sebarkan oleh modern­imperialisme di kalangan Kang Marhaen? Adakah tidak lebih mirip kepada kebenaran, perkataannya Brailsford yang berbunyi bahwa: "anugerah­-anugerah pendidikan, kemajuan dan aturan-aturan bagus yang ia bawa itu hanyalah rontokan-rontokan sahaja dari ia punya keasyikan cari rezeki yang angkara-murka itu"?

Lagipula, adakah berhadapan dengan bencana-hidup yang disebar­-sebarkan oleh modern-imperialisme ini Marhaen mendapat cukup hak-hak dari pemerintah yang sekedar boleh dianggap sebagai "obat" bagi hatinya yang luka, fikirannya yang bingung, perutnya yang lapar? Onderwijs? Oh, di dalam "abad-kesopanan" ini, – begitulah raya tempohari menjawab—, di dalam "abad-kesopanan" ini, menurut angka-angka Kantor Statistik orang laki-laki yang bisa membaca dan menulis belum ada 7%, orang perempuan belum ada … 0,5%.

Pajak-pajak enteng? Menurut penyelidikannya Institute of Financial Investigation di negeri Tiongkok, Indonesia di dalam hal pajak … juga pegang rekor! Kesehatan Rakyat atau hygiene? Di seluruh Indonesia hanyalah ada 343 rumah sakit guper­men, kematian bangsa Bumiputera tak kurang dari 20/1000, di kota besar kadang-kadang sampai 50/1000. Perlindungan kepentingan kaum buruh? Peraturan sociale arbeidswetgeving yang melindungi kaum buruh terhadap pada kaum modal tak ada semasekali, arbeidsinspectie tinggal namanya sahaja, hak-mogok, yang di dalam negeri-negeri yang sopan bukan soal lagi, dengan adanya artikel 161 bis dari buku hukum siksa musnalah sama­sekali daripada realiteit, terkabutkan samasekali menjadi impian belaka! Kehakiman yang sempurna? Batcalah sahaja pendapatnya Mr. Sastro­mulyono tentang hal ini tatkala membela perkara saya, atau bandingkanlah cara-bekerjanya landraad dan Raad van Justitie. Kemerdekaan drukpers dan hak-berserikat-dan-bersidang? Amboi, adakah di sini hak kemerdekaan drukpers dan hak berserikat-dan-bersidang? Adakah di sini hak-hak itu, di mana buku hukum siksa masih mentereng dengan artikel-artikel sebagai 153 bis-ter, 154, 155, 156, 157, 161 bis d.l.s., di mana hak "pen-Digul-an" masih ada, di mana perkataan "berbahaya bagi keamanan umum" terdengar sehari-hari, di mana ada persbreidel-ordonnantie, di mana rapat tertutup "kalau perlu" juga boleh dihadliri oleh polisi, di mana stelsel-mata-mata boleh dikata sempurna samasekali, di mana di waktu yang akhir-akhir ini puluhan openbare vergadering dibubarkan?

"Tidak! Di sini tidak ada hak-hak itu!" Dengan macam-macam halangan dan macam-macam ranjau demikian itu, maka kemerdekaan itu tinggal namanya sahaja kemerdekaan, hak itu tinggal namanya sahaja hak; dengan macam-macam serimpatan yang demikian, maka kemer­dekaan-drukpers dan hak-berserikat-dan-bersidang itu menjadi suatu bayangan belaka, suatu impian!

Hampir tiap-tiap journalist sudah pernah merasakan tangannya hukum, hampir tiap-tiap pemimpin Indonesia sudah pernah merasakan bui, hampir tiap-tiap orang bangsa Indonesia yang mengadakan perlawanan-radikal lantas sahaja terpandang "berbahaya bagi keamanan umum".

0, Marhaen, hidupmu sehari-hari morat-marit dan kocar-kacir, beban-bebanmu semakin berat, hak-hakmu boleh dikatakan tidak ada samasekali!

Bahwasanya, kamu boleh menyanyi:

"Indonesia, tanah yang mulya, Tanah kita yang kaya;

Di sanalah kita berada,

Untuk selama-lamanya!" .

4. "DI TIMUR MATAHARI MULAI BERCAHYA,

BANGUN DAN BERDIRI, KAWAN SEMUA"

Tetapi hal-hal yang saya ceritakan di atas ini hanyalah kerusakan lahir sahaja. Kerusakan bathinpun ternyata di mana-mana. Stelsel imperialisme yang butuh pada kaum buruh itu, sudah memutarkan semangat kita menjadi semangat perburuhan samasekali, semangat perburuhan yang hanya senang jikalau bisa menghamba. Rakyat Indonesia yang sediakala terkenal sebagai Rakyat yang gagah-berani, yang tak gampang-gampang suka tunduk, yang perahu-perahunya melintasi lautan dan samodra sampai ke India, Tiongkok, Madagaskar dan Persia, – Rakyat Indonesia itu kini men­jadilah Rakyat yang terkenal sebagai "het zachtste yolk der aarde", "Rakyat yang paling lemah-budi di seluruh muka bumi". Rakyat Indonesia itu kini menjadi suatu Rakyat yang hilang kepercayaannya pada diri sen­diri, hilang keperibadiannya, hilang kegagahannya, hilang ketabahannya samasekali. "Semangat-harimau" yang menurut katanya professor Veth adalah semangat Rakyat Indonesia di zaman sediakala, semangat itu sudah menjadi semangat-kambing yang lunak dan pengecut.

Dan itupun belum bencana-bathin yang paling besar! Bencana-bathin yang paling besar ialah bahwa Rakyat Indonesia itu p e r c a y a, bahwa ia memang adalah "Rakyat-kambing" yang selamanya harus dipimpin dan dituntun. Sebagai juga tiap-tiap stelsel imperialisme di mana-mana, maka stelsel imperialisme yang ada di Indonesia-pun selamanya menggembar-­gemborkan ke dalam telinga kita, bahwa maksudnya bukanlah maksud mencari rezeki, tetapi ialah "maksud suci" mendidik kita dari kebodohan ke arah kemajuan dan kecerdasan. Sebagai juga tiap-tiap stelsel im­perialisme, ia tak jemu-jemu meneriakkan ia punya "mission-sacree" 1) . Di atas panji-panjinya imperialisme selamanya adalah tertulis semboyan­-semboyan dan anasir-anasir "beschaving" dan "orde en rust",—"kesopanan" dan "keamanan umum".