Chapter 1
Pendahuluan
Selatan dari Bandung adalah satu tempat-pegunungan yang bernama Pangalengan. Di tempat itu saya, sekembali saya dari saya punya tournee tempo hari ke Jawa Tengah yang membangkitkan Rakyat sejumlah 89.000 orang, bervakansi beberapa hari melepaskan kelelahan badan. Di dalam vakansi itu saya menulis ini risalah, ini vlugschrift.
Isinya buat kaum ahli-politik tidak baru, tapi buat orang yang baru menjejakkan kaki di gelanggang perjoangan ada faedahnya juga.
Untuk menjaga jangan sampai risalah ini menjadi terlalu tebal, – dus juga jangan sampai terlalu mahal harganya – , maka hanya garis-garis besar sahaja yang bisa saya guratkan. Mitsalnya fatsal "Di seberang Jembatan-emas" kurang jelas. Tetapi Insya Allah , akan saya bicarakan nanti spesial di dalam risalah lain, yang juga akan bernama
"Di seberang Jembatan-emas".
Moga-moga risalah ini banyak dibaca oleh Marhaen.
SUKARNO
Maret 1933
1. SEBAB-SEBABNYA INDONESIA TIDAK MERDEKA
Professor Veth pernah berkata, bahwa sebenarnya Indonesia tidak pernah merdeka. Dari zaman purbakala sampai sekarang, dari zaman ribuan tahun sampai sekarang, – dari zaman Hindu sampai sekarang, maka menurut professor itu Indonesia senantiasa menjadi negeri jajahan: mula-mula jajahan Hindu, kemudian jajahan Belanda.
Dengan persetujuan yang sepenuh-penuhnya, maka di dalam salah satu bukunya ia mencantumkan syairnya seorang penyair yang berbunyi
"Aan Java's strand verdrongen zich de volken;
Steeds daagden nieuwe meesters over ‘t meer:
Zij volgden op elkaar, gelijk aan ‘t zwerk de wolken
De telg des lands alleen was nooit zijn heer."
syair mana berarti:
"Di pantainya tanah Jawa rakyat berdesak-desakan;
Datang selalu tuan-tuannya setiap masa:
Mereka beruntun-runtun sebagai runtunan aware;
Tapi anak-pribumi sendiri tak pernah kuasa."
Pendapat kita tentang pendirian ini? Pendapat kita ialah, bahwa professor yang pandai itu, yang memang menjadi salah satu "datuk"nya penyelidikan riwayat kita, ini kali salah raba. Ia lupa, bahwa adalah perbedaan yang dalam sekali antara hakekatnya zaman Hindu dan hakekatnya zaman sekarang. Ia lupa, bahwa zaman Hindu itu tidak terutama sekali berarti suatu pengungkungan oleh kekuasaan Hindu, yakni tidak terutama sekali berarti suatu machtsusurpatie dari fihak Hindu di atas pundaknya fihak Indonesia. Ia lupa, bahwa di dalam zaman Hindu itu Indonesia sebenarnya adalah merdeka terhadap pada Hindustan, sedang di dalam zaman sekarang Indonesia adalah tidak merdeka terhadap pada negeri Belanda.
Merdeka terhadap pada Hindustan? Toch raja-raja zaman purbakala itu mula-mula bangsa Hindu? Tokh kaum ningrat zaman purbakala itu mula-mula bangsa Hindu? Toch kekuasaan zaman purbakala itu ada di tangannya orang-orang bangsa Hindu? Tokh dus, Rakyat jelata zaman purbakala itu diperintah oleh orang-orang bangsa Hindu? Ya! Merdeka terhadap pada Hindustan, oleh karena kaum yang kuasa di dalam zaman Hindu itu tidaklah terutama sekali kaum "usurpator", tidak terutama sekali kaum "perebut kekuasaan", tidak terutama sekali kaum penjajah. Mereka bukanlah kaum yang merebut kerajaan, tetapi mereka sendirilah yang mendirikan kerajaan di Indonesia! Mereka menyusun staat Indonesia, yang tahadinya tidak ada staat Indonesia,. Mereka "menemukan" masyarakat Indonesia tidak sebagai suatu masyarakat yang sudah berupa "negeri", tetapi suatu masyarakat yang belum ketinggian susunan. Mereka mendirikan di sini suatu keadaban, suatu cultuur, yang bukan suatu cultuur "dari atas", bukan suatu "imperialistische cultuur", – tetapi suatu cultuur yang hidup dan subur dengan masyarakat Indonesia. Mereka punya perhubungan dengan Hindustan bukanlah perhubungan kekuasaan, bukanlah perhubungan pemerintahan, bukan perhubungan macht, – tetapi ialah perhubungan peradaban, perhubungan cultuur. Raja-raja zaman purbakala itu hanya di dalam permulaannya sahaja orang-orang bangsa Hindu, – raja-raja itu kemudian adalah orang-orang Hindu-Indonesia, dan kemudian lagi orang-orang Indonesia-Hindu, yang adat-istiadatnya, cara-hidupnya, agamanya, cultuurnya, kebangsaan-nya, darahnya, rasnya berganda-ganda kali lebih Indonesia daripada Hindu, ya, akhirnya samase‑kali Indonesia dan hanya "berbau" sahaja Hindu. Pendek-kata, di dalam zaman purbakala itu negeri Indonesia bukanlah "koloni" dari negeri Hindu, bukan "kepunyaan" negeri Hindu, bukan jajahan negeri Hindu. Negeri Indonesia di zaman itu adalah merdeka terhadap pada negeri Hindu adanya!
Negeri Indonesia ketika itu merdeka, – tetapi penduduk Indonesia, Rakyat-jelata Indonesia, Marhaen Indonesia, adakah ia juga merdeka? Marhaen Indonesia tidak pernah merdeka. Marhaen Indonesia, sebagai Rakyat Marhaen di seluruh dunia, sampai kini belum pernah merdeka! Marhaen Indonesia itu di zaman "Hindu", tatkala negeri Indonesia bernama merdeka dari Hindustan, adalah diperintah oleh raja-rajanya secara feodalisme: Mereka hanyalah menjadi perkakas sahaja dari raja-raja itu dengan segala bala-keningratannya, mereka tidak mempunyai hak menentukan sendiri putih-hitam nasibnya, mereka senantiasa ditindas oleh "kaum atasan" daripada masyarakat Indonesia itu, sebagaimana kaum Marhaen di mana-mana negeri di muka bumi di zaman feodalisme juga menderita nasib tertindas dan terkungkung. Mereka haruslah hidup dengan selamanya ingat bahwa miliknya dan nyawanya "nek awan duweke sang nata, nek wengi duweke dursila", yakni dengan selamanya ingat akan nasibnya perkakas, yang banyak kewajibannya tetapi tiada hak-haknya samasekali. 0, Marhaen Indonesia, yang dulu celaka dalam zaman feodalismenya kerajaan dan keningratan bangsa sendiri, yang kini celaka dalam zaman modern kapitalisme dan imperialisme, – berjoanglah habis-habisan mendatangkan nasib yang sejati-jatinya merdeka!
Tetapi marilah kembali pada pokok pembicaraan: Negeri Indonesia, berlainan dengan pendapat professor Veth, dulu adalah negeri yang merdeka. Negeri Indonesia itu kemudian hilang kemerdekaannya, kemudian menjadi koloni, kemudian menjadi bezitting, kemudian menjadi negeri-jajahan. Dan bukan negeri Indonesia sahaja! Seluruh dunia Azia kini, – kecuali satu-dua bagian sahaja, – adalah tidak merdeka. Mesir tidak merdeka, Hindustan tidak merdeka, Indo-China tidak merdeka, Philippina tidak merdeka, Korea tidak merdeka, ya, Tiongkok tidak merdeka. Sebab-sebabnya?
Sebab-sebabnya, sumber sebab-sebabnya, haruslah kita cari di dalam susunan dunia beberapa abad yang lalu. Tiga empat ratus tahun yang lalu, di dalam abad keenam-belas ketujuh-belas, maka di dunia Barat adalah selesai suatu perobahan-susunan-masyarakat: feodalisme Eropah mulai surut sedikit-persedikit, timbullah suatu kegiatan-pertukangan dan perdagangan, timbullah suatu klasse pertukangan dan perdagangan, yang giat sekali berniaga di seluruh benua Eropah-Barat. Dan tatkala klasse ini menjadi sekuat-kuatnya, tatkala mereka punya kedudukan menjadi kedudukan kecakrawartian, tatkala seluruh masyarakat Eropah-Barat bersifat mereka punya vroeg-kapitalisme, maka benua Eropah segeralah menjadi terlalu sempit bagi perniagaannya. Terlalu sempit benua Eropah itu bagi usahanya berjengkelitan membesar-besarkan tubuh dan anggautanya, terlalu sempit sebagai padang-permainannya vroeg-kapitalisme itu! Maka timbullah suatu nafsu, suatu stelsel, mencahari padang-padangpermainan di benua-benua lain, – terutama sekali di benua Timur, di benua Azia!
Masih kecillah imperialismel ) ini pada waktu itu, jauh lebih kecil daripada imperialisme-modern di zaman sekarang! En tokh dunia Timur waktu itu tiada kekuatan sedikitpun jua untuk menolak imperialisme yang masih kecil itu? Di manakah kekuatan Hindustan, di manakah kekuatan Philippina, di manakah kekuatan Indonesia, – di manakah kekuatan masyarakat Indonesia, yang dulu katanya mempunyai kerajaan-kerajaan gagah-sentausa seperti Sriwijaya, seperti Mataram kesatu, seperti Majapahit, seperti Pajajaran, seperti Bintara, seperti Mataram kedua?
Ah, masyarakat Indonesia khususnya, masyarakat Azia umumnya, pada waktu itu kebetulan sakit. Masyarakat Indonesia pada waktu itu adalah suatu masyarakat "in transformatie", yakni suatu masyarakat yang sedang asyik "berganti bulu": feodalisme-kuno yang terutama sekali feodalismenya Brahmanisme, yang tidak memberi jalan sedikitpun jua pada rasa-keperibadian, yang menginggap raja beserta bala-keningratannya sebagai titisan dewa dan menganggap Rakyat sebagai perkakas-melulu daripada "titisan dewa" itu, -feodalisme-kuno itu dengan pelahan-pelahan didesak oleh feodalisme-baru, feodalismenya ke-Islam-an, yang sedikit lebih demokratis dan sedikit lebih memberi jalan pada rasa keperibadian. Pertempuran antara feodalisme-kuno dan feodalisme-baru itu, yang pada lahirnya mitsalnya berupa pertempuran antara Demak dan Majapahit, atau Banten dan Pajajaran -, pertempuran antara feodalisme-kuno dan feodalisme-baru itulah seolah-olah membikin badan masyarakat menjadi "demam" dan menjadi "kurang-tenaga". Memang tiap-tiap masyarakat "in transformatie" adalah seolah-olah demam. Dan memang tiap-tiap masyarakat yang demikian itu adalah "abnormal", lembek, kurang-tenaga. Lihatlah mitsalnya "demamnya" dan lembeknya masyarakat Eropah di zaman abad-pertengahan tatkala masyarakat Eropah pada waktu itu "in transformatie" dari feodalisme ke-vroeg-kapitalisme, lihatlah "demam"-nya masyarakat Eropah itu juga satu-setengah-abad yang lalu tatkala "mlungsungi" dari vroeg-kapitalisme ke-modern-kapitalisme, lihatlah "demam"-nya masyarakat Tiongkok-sekarang yang juga sedang "berganti bulu" masuk ke tingkat kapitalisme. Tubuh masyarakat memang tak beda dari tubuh manusia, tak beda dari sesuatu tubuh yang hidup, yang juga tiap-tiap saat perobahannya membawa kesakitan dan kekurangan tenaga!
Hairankah kita, kalau masyarakat Indonesia, yang pada waktu datangnya imperialisme dari Barat itu kebetulan ada di dalam keadaan transformatie, tak cukup kekuatan untuk menolaknya? Kalau imperialisme Barat itu segera mendapat kedudukan di dalam masyarakat yang sedang bersakit demam itu? Kalau imperialisme Barat itu segera bisa menjadi cakrawarti di dalam masyarakat yang lembek itu? Satu-per-satu negeri-negeri di Indonesia tunduk pada cakrawarti yang baru itu. Satu-per-satu negerinegeri itu lantas hilang kemerdekaannya. Satu-per-satu negeri-negeri itu lantas menjadi kepunyaannya Oost Indische Compagnie. Indonesia yang dahulunya, ondanks professor Veth, adalah Indonesia yang merdeka, pelahan-lahan menjadilah Indonesia yang semua daerahnya tidak merdeka. Rakyat Indonesia yang dahulunya berkeluh-kesah memikul feodalismenya kerajaan dan keningratan bangsa sendiri, kini akan lebih-lebih lagi berkeluh-kesah memikul "berkah-berkahnya" stelsel imperialisme dari dunia Barat. Rakyat Marhaen, sebagai disyairkan oleh sahabatnya prof. Veth, boleh terus menyanyi:
"Tapi anak-pribumi sendiri tak pernah kuasa" …
Inilah asal-muasalnya kesialan nasib negeri Indonesia! Inilah pokok sebabnya permulaan negeri Indonesia menjadi negeri yang tidak merdeka: suatu masyarakat sakit yang kedatangan utusan-utusannya masyarakat yang gagah-perkasa, – utusan-utusan yang membawa keuletannya masyarakat yang gagah-perkasa, alat-alatnya masyarakat yang gagah-perkasa„ ilmu kepandaiannya masyarakat yang gagah-perkasa. Masyarakat yang sakit itu tidaklah lagi mendapat kesempatan menjadi sembuh, – masyarakat yang sakit itu malahan makin lama makin menjadi lebih sakit, makin habis semua "kutu-kutunya", makin habis semua tenaga dan energienya. Tetapi imperialisme yang menghinggapinya itu sebaliknya makin lama makin bersulur dan berakar, melancar-lancarkan tangannya ke kanan dan kekiri dan ke belakang dan ke depan, melebar, mendalam, meliputi dan menyerapi tiap-tiap bagian daripada masyarakat yang sakit itu. Imperialisme yang tatkala baru datang adalah imperialisme yang masih kecil, makin lama makin menjadi haibat dan besar, menjadi raksasa maha-shakti yang seakan-akan tak berhingga kekuatan dan energienya. Imperialisme-raksasa itulah yang kini menggetarkan bumi Indonesia dengan jejaknya yang seberat gempa, menggetarkan udara Indonesia dengan guruh suaranya yang sebagai guntur, – mengaut-aut di padang-kerezekian negeri Indonesia dan Rakyat Indonesia.
Imperialisme-raksasa inilah yang harus kita lawan dengan keberaniannya ksatrya yang melindungi haknya!
2. DARI IMPERIALISME-TUA KE IMPERIALISME-MODERN
Tahukah pembaca bagaimana mekarnya imperialisme itu? Bagaimana ia dari imperialisme-kecil menjadi imperialisme-raksasa, dari imperialisme-zaman-dulu menjadi imperialisme-zaman-sekarang, dari imperialisme-tua menjadi imperialisme-modern? Bagaimana imperialisme-tua itu berganti bulu sama sekali menjadi imperialisme-modern, yakni bukan sahaja berganti besarnya, tetapi juga berganti wujudnya, berganti sifatnya, berganti caranya, berganti sepak-terjangnya, berganti wataknya, berganti stelselnya, berganti sistimnya, berganti segala-galanya, – dan hanya satu yang tidak berganti padanya, yakni kehausannya mencahari rezeki?
Kamu belum mengetahui hal ini? Pembaca, imperialisme adalah dilahirkan oleh kapitalisme. Imperialisme adalah anaknya kapitalisme. Imperialisme-tua dilahiikan oleh kapitalisme-tua, imperialisme-modern dilahirkan oleh kapitalisme-modern. Wataknya kapitalisme-tua adalah berbeda besar dengan wataknya kapitalisme-modern. Sedang kapitalisme tua belum kenal akan tempat-tempat-pekerjaan sebagai sekarang, belum kenal paberik-paberik sebagai sekarang, belum kenal industri-industri sebagai sekarang, belum kenal bank-bank sebagai sekarang, belum kenal perburuhan sebagai sekarang, belum kenal cara-productie sebagai sekarang, – sedang kapitalisme-tua itu cara-productie-nya hanya kecil-kecilan sahaja dan di dalam segala-galanya berwatak kuno, maka kapitalisme modern adalah menunjukkan kemoderenan yang haibat sekali: tempat-tempat-perkerjaan yang ramainya menulikan telinga, paberik-paberik yang asapnya menggelapkan angkasa, bank-bank yang tingginya mencakar langit, perburuhan yang memakai ribuan-ketian kaum proletar, pembikinan barang yang tidak lagi menurut banyaknya pesanan, tetapi pembikinan barang yang hantam-kromo banyaknya sampai bergudang-gudang. Maka imperialisme tua yang dilahirkan oleh kapitalisme-tua itu, – imperialismenya Oost Indische Compagnie dan imperialismenya Cultuurstelsel, – imperialisme tua itu niscayalah satu watak dengan "ibunya", yakni watak-tua, watakkolot, watak-kuno. Tidaklah kenal imperialisme-tua itu akan cara-cara "modern", tidaklah kenal ia akan cara-cara "sopan". Ia menghantam ke kanan dan ke kiri, menanam dan menjaga stelsel monopoli dengan kekerasan dan kekejaman. Ia mengadakan sistim paksa di mana-mana, ia membinasakan ribuan jiwa manusia, menghancurkan kerajaan-kerajaan dengan kekerasan senjata, membasmi milliunan tanaman cengkeh dan pala yang membahayakan keuntungannya. Ia melahirkan aturan contingenten 1) dan leverantien 2) yang sangat sekali berat dipikulnya oleh Rakyat, ia dengan terang-terangan melahirkan aturan-aturan yang memadamkan perdagangan Indonesia, ia dengan terang-terangan menjalankan politiknya memecah-mecah. Ia menjalankan tindakan-tindakan kekerasan, yang menurut professor Snouck Hurgronje, "sukar sekali kita menahan kita punya rasa-jemu dan rasa-jijik". Ia di zaman akhir-akhirnya melahirkan suatu stelsel-kerja-paksa baru, yang lebih kejam lagi, lebih menguntungkan lagi, lebih memutuskan nafas lagi, yakni cultuurstelsel yang sebagai cambuk jatuh di atas pundak dan belakangnya Rakyat. Ya, pendek-kata, sangat sekali "kuno" di dalam sepak-terjang dan wataknya: paksaan dan perkosaan terang-terangan adalah iapunya nyawa!
Tetapi lambat-laun di Eropah modern-kapitalisme mengganti vroegkapitalisme yang sudah tua-bangka. Paberik-paberik, bingkil-bingkil, bank-bank, pelabuhan-pelabuhan, kota-kota-industri timbullah seakan-akan jamur di musim dingin, dan tatkala modern-kapitalisme ini sudah dewasa, maka modal-kelebihannya alias surplus kapitaalnya lalu ingin dimasukkan di Indonesia, – modern-imperialisme lalu menjelma di muka bumi, ingin menggantikan imperialisme-tua yang juga sudah tua-bangka.
Tak berhenti-henti, begitulah saya tempohari menulis dalam saya punya pleidooi tak berhenti-henti modern-imperialisme itu memukul-mukul di atas pintu-gerbang Indonesia yang kurang lekas dibukanya, tak berhentihenti kampiun-kampiunnya modern-imperialisme yang tak sabar lagi itu menghantam-hantam di atas pintu-gerbang itu, tak berhenti-henti penjaga-penjaga pintu-gerbang itu saban-saban sama gemetar mendengar dengungnya pekik "naar vrij arbeid!", "kearah kerja-merdeka!" daripada kaum-kaum modern-kapitalisme yang tak mau memakai lagi sistim kuno yang serba paksa itu, melainkan ingin mengadakan sistim baru yang memakai "kaum-buruh merdeka", "penyewaan tanah merdeka", "persaingan merdeka", d.l.s. Dan akhirnya, pada kira-kira tahun 1870, dibukalah pintu gerbang itu! Sebagai angin yang makin lama makin meniup, sebagai aliran sungai yang makin lama makin membanjir, sebagai gemuruhnya tentara menang yang masuk ke dalam kota yang kalah, maka sesudah Agrarische wet dan Suikerwet-de-Waal di dalam tahun 1870 diterima baik oleh StatenGeneraal di negeri Belanda, masuklah modal-partikelir di Indonesia, – mengadakan paberik-paberik gula di mana-mana, kebon-kebon teh di mana-mana, onderneming-onderneming tembakau di mana-mana, dan lain sebagainya; tambahan lagi modal-partikelir yang membuka macam-macam perusahaan tambang, macam-macam perusahaan kereta-api, tram, kapal, atau paberik-paberik yang lain-lain. Imperialisme-tua makin lama makin layu, makin lama makin mati, imperialisme-modern mengganti tempat-tempatnya: Tjara-pengambilan rezeki dengan jalan monopoli dan paksa makin lama makin diganti cara-pengambilan rezeki dengan jalan persaingan-merdeka dan buruh-merdeka, cara-pengambilan rezeki yang menggali untung bagi "negeri" Belanda makin lama makin mengerut, terdesak oleh pengambilan rezeki secara baru yang mengayakan modal partikelir. Contingent = Serupa pajak, dibayar dengan barang-barang hasil-bumi oleh Kepala-kepala. Leverantien = Kepala-kepala dipastikan setor barang-barang hasil-bumi yang dibeli oleh Compagnie. Tetapi banyaknya dan harganya barang itu Compagnie-lah yang menentukan!
Cara pengambilan berobah, sistimnya berobah, wataknya berobah, – tetapi banyakkah perobahan bagi Rakyat Indonesia? Banjir-harta yang keluar dari Indonesia bukan semakin surut, tetapi malahan makin besar, drainage Indonesia malahan makin makan! "Tak pernahlah untung-bersih itu mengalirnya begitu deras sebagai justru di bawah pimpinannya exploitant baru itu; aliran itu 7 hanyalah melalui jalan-jalan yang lebih tenang", begitulah seorang politikus pernah menulis.
Memang, bagi Rakyat Indonesia perobahan sejak tahun 1870 itu hanyalah perobahan caranya pengambilan rezeki; bagi Rakyat Indonesia, imperialisme-tua dan imperialisme-modern dua-dua tinggal imperialisme belaka, dua-dua tinggal pengangkutan rezeki Indonesia keluar pagar, dua-duanya tinggal drainage. Dan drainage inipun di dalam zaman modern-imperialisme makin membanjir! Raksasa-imperialisme-modern itu tidak tinggal raksasa sahaja, raksasa-imperialisme-modern itu di kemudian hari menjadilah raksasa yang bertambah kepala dan bertambah tangannya: Sejak adanya opendeur-politiek" di dalam tahun 1905, maka modal yang boleh masuk ke Indonesia dan mencari rezeki di Indonesia bukanlah lagi modal Belanda sahaja, tetapi juga modal Inggeris, juga modal Amerika, juga modal Jepang, juga modal Jerman, juga modal Perancis, juga modal Italia, juga modal lain-lain, sehingga imperialisme di Indonesia kini adalah imperialisme yang internasional karenanya. Raksasa-"biasa" yang dulu berjengkelitan di atas padang kerezekian Indonesia, kini sudah menjadi raksasa Rahwana Dasamuka yang bermulut sepuluh!
Dan bukan sahaja bermulut sepuluh! Juga jalannya mencari rezeki kini bukan satu jalan sahaja, tetapi jalan yang bercabangcabang tiga-empat. Bukan lagi Indonesia hanya menjadi tempat pengambilan barang-barang-biasa sebagai di zamannya imperialisme-tua, bukan lagi Indonesia hanya menjadi tempat pengambilan pala atau cengkeh atau merica atau kayu-manis atau nila, tetapi kini juga menjadi pasar penjualan barang-barang keluarannya kepaberikan negeri asing, juga menjadi tempat penanaman modal asing, yang di negeri asing sendiri sudah kehabisan tempat,pendek-kata: juga menjadi afzetgebied dan exploitatiegebied-nya surplus kapitaal.
Terutama "jalan" yang belakangan inilah, yakni "jalan" penanaman modal asing di sini, adalah yang paling haibat dan makin bertambah haibat: paberik-paberik-gula bukan puluhan lagi tapi ratusan, onderneming teh dibuka di mana-mana, onderneming karet tersebar ke semua jurusan, onderneming kopi, onderneming kina, onderneming tembakau, onderneming sereh, tempat-tambang timah, tempat-tambang emas, tempat pengeboran minyak, tempat-perusahaan-besi, bingkil-bingkil, kapal-kapal dan tram-tram, -semua itu adalah penjelmaannya penanaman modal asing di sini, semua itu adalah menggambarkan bagaimana haibatnya raksasa itu memperusahakan Indonesia menjadi exploitatiegebied-nya surplus kapitaal. Ribuan, tidak, milyunan kekayaan yang saban tahun meninggalkan Indonesia, mengayakan modern-kapitalisme di dunia Barat. Perhatikanlah angka-angka di bawah ini, perhatikanlah angka-angka daripada besarnya impor dan ekspor buat 1924-1930′ ) .
1924 impor f 678.268.000 ekspor f 1.530.606.000
1925 f 818.372.000 f 1.784.798.000
1926 f 865.394.000 f 1.568.393.000
1927 f 871.732.000 f 1.624.975.000
1928 f 969.988.000 f 1.580.043.000
1929 f 1.072.139.000 f 1.446.181.000
1930 f 855.527.000 f 1.159.601.000 2)
Apa yang ternyata dengan angka-angka ini? Dengan angka-angka ini ternyatalah apa yang saya katakan di atas: bahwa Indonesia adalah terutama sekali tempat penanaman modal asing, yang niscaya barang-hasilnya lalu dibawa keluar; bahwa Indonesia dus dihinggapi imperialisme yang terutama sekali mengekspor, imperialisme yang di dalam masa yang "normal" rata-rata dua kali jumlah harganya rezeki yang ia angkuti keluar daripada yang ia masukkan kedalam; bahwa Indonesia dus sangat sekali menderita drainage. Impor = barang yang dimasukkan (Indonesia afzetgebied). Ekspor = barang yang dibawa keluar (Indonesia exploitatiegebied). Malaise!
Amboi, rata-rata dua kali gandanya ekspor daripada impor!- begitulah saya tempohari menulis dalam "Suluh Indonesia Muda"–, rata-rata dua kali gandanya ekspor daripada impor, bahwasanya, memang suatu bandingan yang celaka sekali, suatu bandingan yang memang memegang rekor daripada semua drainage yang ada di seluruh muka bumi! Indonesia yang celaka! Sedang bandingannya ekspor/impor di negeri-negeri jajahan yang lain-lain ada "mendingan", sedang bandingan itu di dalam tahun 1924 buat Afrika Selatan adalah 118,7/100 buat Philippina 123,1/100 buat India 123,3/100 buat Mesir 129,9/100 buat Ceylon 132,8/100,
maka buat Indonesia ia menjadi yang paling celaka, yakni 220,4/100! Dua ratus dua puluh koma empat prosen besarnya ekspor dibandingkan dengan impor, – hairankah kita, kalau seorang ahli ekonomi sebagai Professor van Gelderen tersia-sia mencari angka yang lebih tinggi, dan berkata bahwa "kalau dibandingkan angka-angka di Hindia dengan angka-angka negeri lain, maka ternyatalah bahwa tidak ada satu negeri di muka bumi ini yang prosentasenya begitu tinggi seperti Hindia-Belanda"? Hairankah kita, kalau seorang komunis C. Santin, yang toch biasa melihat angka-angka yang "kejam", menyebutkan iniperialisme di Indonesia itu suatu imperialisme yang "mendirikan bulu"?
Dua ratus dua puluh koma empat prosen besarnya ekspor, – dan apakah yang diekspor keluar itu? Yang diekspor keluar ialah terutama sekali "hasil-onderneming" dan minyak. Yang diekspor ialah gula, karet, tembakau, teh, minyak-tanah, bensin, dan lain sebagainya, yang menurut angka-angka di atas tahadi total-jenderalnya di zaman "normal" paling "apes" f 1.500.000.000. – zegge: seribu lima ratus juta rupiah setahun-tahunnya, sebagaimana buat percontohan saya sajikan di bawah ini: 1)