Chapter 1
__NOTOC__ __NOEDITSECTION__
Yang Mulia Saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat!
Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya!
Saudara-saudara!
Saya mengucap banyak-banyak terima kasih atas pidato Ketua Dewan Perwakilan Rakyat yang bijaksana dan bersemangat itu. Kata-kata yang diucapkan oleh beliau itu memberi keteguhan-hati kepada kita, – memberi keyakinan kepada kita, bahwa perjuangan kita yang berat ini akhirnya, Insya Allah, pasti akan berhasilkan apa yang kita cita-citakan.
Ya, saudara-saudara, – "perjuangan kita yang berat"! Apakah yang tidak kita alami dalam lima tahun ini? Malam-malam yang gelap kita alami, hujan-batu kita alami, lapar dan dahaga kita alami, api dan halilintar kita alami! Hanya Tuhan Rabbulalamin selalu beserta kita, dan moga-moga Ia seterusnya selalu beserta kita, dan kepada-Nya lah kita pada saat sekarang ini mengarahkan rasa terima kasih kita kepada-Nya, yang membuat rakyat ini tetap berteguh-hati meski penderitaan yang bagaimana juga, tetap berjuang meski kadang-kadang cakrawala gelap-gulita, tetap berjiwa merdeka meski bujukan perbudakan menyanggupi madu, – kepada-Nya, yang akhirnya, membuat perjuangan kita itu berbuah kedaulatan Negara, yang malahan makin hari makin sempurna.
Ya, saudara-saudara! Alangkah banyaknya pengalaman-pengalaman kita dalam lima tahun ini! Alangkah bedanya keadaan, tatkala daerah Republik diserbu, tatkala bendera merah-putih diusir ke hutan-hutan, tatkala bendera si tiga-warna berkibar di istana ini dengan megahnya, dengan keadaan sekarang, yang Sang Merah Putih itu kini melambai-lambai di atas kita, seolah-olah terus-menerus berseru: merdeka, merdeka, sekali merdeka tetap merdeka! Berganti-gantinya pengalaman itu kini meliwati khayal kita laksana satu film yang maha-dahsyat, yang akan tetap terguris dalam ingatan kita. Allahu Akbar! Alangkah dahsyatnya pergantian kejadian-kejadian itu: Proklamasi dengan gegap-gempitanya sambutan di seluruh Indonesia – pertempuran-pertempuran dengan Inggeris – diserbunya pulau-pulau luar Jawa dan Sumatera oleh Belanda – Malino dan Malinosasi – Linggajati – penyerbuan beberapa daerah di Jawa dan Sumatera – aksi militer yang pertama – Renville – serbuan Jogya dan aksi militer yang kedua – gerilya total yang sengit dan seram Berastagi-Prapat-Bangka-kembali ke Jogya – Konperensi Antar Indonesia – Konperensi Meja Bundar – Penyerahan Kedaulatan ke tangan Indonesia – digulung-nya negara-negara dan daerah-daerah-bagian-tercapainya kembali Negara Kesatuan sekali lagi: Allahu Akbar, sedikit sekali bangsa-bangsa di dunia ini yang mengalami sekian banyaknya perubahan-perubahan keadaan yang demikian maha-dahsyatnya dalam waktu yang demikian pendeknya, seperti bangsa kita ini!
Jiwa Proklamasi tetap kokoh!
"Perubahan keadaan yang maha-dahsyat". Ya, kejadian-kejadianlah yang berubah-rubah. Tetapi jiwa kita tidak berubah, jiwa kita tidak berganti bintang-cita-citanya. Jiwa kita tetap beridam-idamkan hal yang-satu itu, yaitu hal yang kita maksudkan pada waktu Proklamasi di Pegangsaan Timur lima tahun yang lalu!
Apakah hal-yang-satu itu? Tak lain tak bukan ialah Negara Kesatuan, yang tidak terpecah-belah dalam organisasi dan dalam jiwanya. Tak lain tak bukan ialah satuNegara, yang meliputi segenap kepulauan Indonesia ini, "dari Sabang sampai ke Merauke". Tak lain tak bukan ialah satu bentuk ketatanegaraan yang tidak federalistis. Satu Negara Nasional, – satu Nationale Staat! Adakah satuorang Indonesia yang pada 17 Agustus 1945 itu mengenangkan federalisme, berfikirkan federalisme, menyebut-nyebut federalisme?
Dari pemimpin-pemimpin yang bertanggungjawab sampai kepada Marhaen di kampung-kampung, dari orang-orang yang dewasa sampai kepada anak-anak kecil yang sudah sedar, dari kaum-kaum yang paling ekstrim sampai kepada kaum-kaum yang paling lunak, – tidak satu orangpun yang pada waktu proklamasi itu meng-hendaki atau ingat kepada ketatanegaraan yang federal. Semua, semua, berfikir, bercita-citakan, bersemangat unitaristis! Tetapi, – jalan pertumbuhannya perjuangan untuk merealisirkan bentuk kesatuan itu, kita mengalami usaha-usaha untuk memecah-belah kesatuan Indonesia itu, usaha-usaha yang mempergunakan kekerasan senjata dan usaha-usaha yang mempergunakan kecerdikannya tipu-muslihat politik. Tetapi bahkan petir dan halilintarnya dua kali aksi-militerpun tidak dapat mematahkan semangat perjuangan-kesatuan, – bahkan semangat kesatuan itu makin mendalam, makin merasa, makin berjiwa!
Ya, sudah barang tentu, dalam jalan pertumbuhannya perjuangan itu, ada orang-orang yang kemudian terpikat oleh siulan federalisme, mungkin juga menjadi mati-matian berkeyakinan federalisme. Memang di dalam tiap-tiap perjuangan yang hebat dan dahsyat, selalu ada orang-orang yang berkisar, selalu ada orang yang menurut, selalu ada orang yang membelok, karena lemah karakter. Di dalam pidato saya memerintahkan cease fire pada tanggal 3 Agustus 1949 saya telah berkata, bahwa dewa-dewanya kekerasan selalu minta upeti-upeti dari fihak yang dikuasainya, dan upeti-upeti yang dimintanya itu ialah terutama sekali upeti karakter. Tetapi itu tidak berarti, bahwa jiwa-nasional ada berubah. ltu tidak berarti, bahwa jiwa-rakyat-umumnya ada berubah. Tidak! Jiwa-rakyat umum itu dan jiwa-nasional itu tetap sebagai sediakala, tetap jiwa-proklamasi, tetap berinti "sekali merdeka tetap merdeka" dalam kesatuan!
Coba seandainya tidak ada jiwa-nasional itu, kita sudah lama patah. Coba tidak ada jiwa-proklamasi yang tetap hidup itu, – biarpun kadang-kadang sebagai api di dalam sekam, tetapi hidup, dan tetap hidup, – kita sudah lama bukan saja patah, tetapi mungkin sudah hancur-binasa samasekali! Coba bayangkanlah dalam ingatanmu, saudara-saudara, betapa gelapnya keadaan sesudah: 19 Desember 1948, – bukan saja kita telah dipotong-potong dan telah dibagi-bagi dengan gobét malinosasi dan gobét balkanisasi, bukan saja kita telah berulang-ulang dipukul-dihantam-dilabrak dengan cambuknya kekerasan militer, bukan saja kita telah hampir-hampir tercekék samasekali oleh cekékannya blokade yang amat efektif, – bahkan Jogyakarta dan seluruh daerah Republik digempur dan diserbu. Negaramu dikatakan "sudah tidak ada samasekali", pemimpin-pemimpin-negaramu ditangkap dan dibuang ke pengasingan! Pada waktu itu kita pada zahirnya sudah "als kapot geslagen", pada waktu itu kita pada zahirnya sudah "ajur mumur tanpa ngaran".
Tetapi jiwa-nasional kita tidak "kapot geslagen". Jiwa-nasional kita tetap utuh! Dan aku tahu akan hal itu! Pada waktu aku pada 22 Desember, bersama dengan beberapa kawan lain, diangkut dari Jogyakarta dalam sebuah bomber B-25 dengan tidak tahu hendak dibawa ke mana, dengan tidak tahu hendak dihidupi atau dimatikan, tidak tahu hendak dikurung dalam penjara atau hendak didrél, – pada waktu itu aku, kecuali satu tas kecil yang berisikan sedikit pakaian, tidak membawa apa-apapun melainkan: tawakal kepada Tuhan dan kepercayaan, keyakinan, bahwa jiwa-nasional tidak padam dan – tidak akan padam.
Dan keyakinanku itu ternyata tidak salah! Sejak di Prapat, saya telah mendapat bukti-bukti, bahwa jiwa-nasional itu malahan mulai bangkit dengan cara yang sehebat-hebatnya: Gerilja, sesuai dengan perintah-siasat yang memang telah diberi-kan lebih dahulu, mulai bangkit. Dan gerilya tidak mungkin bisa berjalan dengan tidak adanya jiwa-nasional. Gerilya tidak mungkin bisa berkobar dengan hanya angkatan perang saja. Gerilya tidak mungkin bisa berjalan dengan baik jikalau tidak si Amat dan si Minah, si Suta dan si Naya, si Dadap dan si Waru, ikut-serta mutlak dalam perjuangan itu. Dan si Amat, si Minah, si Suta, si Naya, si Dadap, si Waru itu, telah ikut-serta dalam perjuangan, oleh karena memang seluruh bangsa (juga yang di daerah-daerah luar Republik) berjiwa nasional, berjiwa merdeka dalam kesatuan, – berjiwa: "Jogya adalah Jogyaku", "Republik adalah Republikku", "Proklamasi adalah Proklamasiku". Satu badan, satu tubuh, yang seluruh badan merasa sakit kalau satu anggotanya sakit, seluruh tubuh ikut bergeletar kalau satu anggotanya bergeletar.
Saudara-saudara, alangkah besarnya jiwa orang-orang bangsa kita yang pada waktu itu menyabungkan nyawanya dalam perjuangan, di kota-kota dan di desa-desa, di hutan-hutan dan di gunung-gunung! Banyak di antara mereka telah gugur, banyak di antara mereka telah invalid, banyak di antara mereka menjadi janda atau yatim-piatu, banyak di antara mereka kehilangan harta, kehilangan benda, kehilangan kebahagiaan zahir. Marilah kita mengenangkan jasa mereka itu. Mereka mati, agar bangsa kita hidup. Mereka sengsara, agar bangsa kita bahagia. Ya Tuhan ya Rabbi, limpahkanlah berkat-rahmat-Mu atas mereka itu!
Saudara-saudara!
Mari kita meneruskan lagi tinjauan kita. Gerilya pada waktu itu telah bangkit, dan gerilya dapat berjalan. Bahkan ia berjalan pesat. Tanda bahwa bukan saja ada jiwa-nasional, bukan saja ada Nationale Geest, tetapi tanda pula bahwa jiwa-nasional itu telah menggetar dan menggumpal menjadi Kemauan-Nasional, – menjadi Nationale Wil.
Ahli sejarah yang termasyhur H. G. Wells pernah berkata bahwa "Anasir terpenting yang menentukan nasibnya sesuatu bangsa ialah kwalitasnya dan kwantitasnya ia punya Kemauan". – "The essential factor in the destiny of a nation lies in the quality and quantity of its will".
Nah, Wil kita itu telah menggumpal, dan tak dapat dipatahkan. Wil kita itu telah membaja, oleh karena Geest kita telah berkobar-kobar dan merata, dan Wil kita itulah pula yang melahirkan Amal-Nasional kita, yaitu Nationale Daad. Perjuangan kita selama lima tahun ini, berapa banyakpun bentuk dan rupanya, bagaimana hebatpun pergantian-pergantian tokoh dan zahirnya, adalah satu Amal-Nasional, satu Nationale Daad, yang menggempa karena Nationale Wil sudah menggelora, oleh karena Nationale Geest sudah berkobar merata membakar jiwa kita di mana-mana.
Dengan bekal-bekal ini saja sememangnya, – dengan Nationale Geest saja, dengan Nationale Wil saja, dengan Nationale Daad saja yang memuncak kepada gerilya yang total itu -, sememangnya kita akan dapat dan pasti akan dapat mencapai apa yang kita kehendaki dan cita-citakan. Saya tidak pernah ragu-ragu tentang hal itu. Tatkala kami pemimpin-pemimpin disekam di Bangka, tatkala kami dengan macam-macam jalan rahasia dan tidak rahasia mengikuti berlangsungnya perjuangan kita yang total itu, tatkala itu kami tahu dan yakin, bahwa nanti, nanti akhirnya, tidak boleh tidak, toch pasti kemerdekaan akan diakui kembali; dan pada waktu itu kami, pemimpin-pemimpin yang laksana dibuang di atas buangan sampah itu, sebenarnya bisa berkata kepada fihak Belanda: "U hebt ons op de scrapheap gegooid, dop nu Uw eigen erwten!" Pada waktu itu saya dapat membenarkan anggapan setengah saudara-saudara, bahwa dengan terusnja perjuangan gerilya saja kita toch akhirnya dapat juga mencapai kemenangan.
Tetapi, saudara-saudara, juga di dalam perjuangan adalah apa yang dinamakan ekonomi-perjuangan. Apakah opgave sesuatu perjuangan? "Mencapai hasil sebanyak-banyaknya, dengan korbanan yang sesedikit-sedikitnya, dalam waktu yang sependek-pendeknya". Itulah tuntutan dari ekonomi-perjuangan. Dan memang tuntutan ekonomi-perjuangan inilah yang membuat memimpin perjuangan menjadi suatu hal yang tidak mudah. Lenin berkata bahwa perjuangan tidak lurus-licin seperti jalan-raya Nevsky Prospect; Jean Jaurès berkata bahwa perjuangan tidak semudah berjalan di Boulevard Champs Elysées.
Ya, juga perjuangan kita terpaksa berkelak-kelok. Yang penting ialah bukan lurusnya, tetapi: hasil sebanyak-banyaknya; korbanan sesedikit-sedikitnya; waktu sependek-pendeknya. Berhadapan dengan kenegatifan perbandingan Nevsky Prospectnya Lenin, dan kenegatifan perbandingan Boulevard Champs Elyséesnya Jaurès itu, saya pernah mengemukakan kepositifannya perbandingan dengan sungai Berantas: Perjalanannya dari sumbernya di lereng gunung Arjuna sampai ke laut adalah tidak lurus, perjalanannya adalah berkelak-kelok, tetapi ia terus dengan kemauan yang tak kunjung padam, mencapai apa yang ditujunya, yakni mencapai Lautan yang bebas, Lautan yang Merdeka!
Zaman Bangka! Zaman dalam mana kami harus mempertimbang-kan: Mana yang engkau pilih: duduk menonton dengan memeluk lutut di atas scraphead, sedang rakyat berjuang mati-matian dalam gerilya-total, benar dengan nantinya kemenangan yang pasti, tetapi dengan ratusan-ribuan jiwa yang melayang, ribuan rumah menjadi lautan api dan menjadi puing, ribuan-milyunan harta-kekayaan menjadi binasa, – ataukah aktif memberi pimpinan, mencarikan jalan lain bagi perjuangan, yang dapat memenuhi tuntutan ekonomi-perjuangan: "hasil sebanyak-banyaknya, korbanan sesedikit-sedikitnya, waktu sependek-pendeknya"?
Maka kami telah memilih.
Maka lahirlah konsepsi pimpinan yang saudara-saudara semuanya telah mengenalinya dengan nama "tracée baru", yang pada waktu di Bangka itu kami telah yakin akan ketepatannya, dan yang pada saat sekarang ini, yang kita merayakan hari ulang-tahun kelima daripada kemerdekaan kita di Jakarta, kami makin yakin lagi akan kebenarannya. Lihat! Sang Merah Putih sejak 27 Desember 1949 berkibar di gedung-negara ini dengan megahnya, dan nantipun Insya Allah Bendera-Pusaka akan kita kibarkan di atas "Tiang 17 Agustus", – di atas tanah, yang sebelum 27 Desember 1949 itu adalah tanah-keramatnya si tiga-warna! Tracée Baru adalah bukti adanya satu pimpinan yang tegas dalam usaha mencapai kembali kemerdekaan yang tadinya seolah-olah telah habis musnah direbut musuh; dan kemudian iapun satu bukti ketepatan pimpinan dalam usaha pemulihan kembali kesatuan Indonesia, yang tadinya dipecah-belah dengan gobet federalisme, malinosasi dan balkanisasi. Artinya: Berkat berlakunya Tracée Baru itu, maka federalisme, malinosasi, balkanisasi menjadi batal!
Memang! Pada saat kedaulatan hendak diserahkan kembali kepada kita, – penyerahan kedaulatan karena berlakunya Tracée Baru -, maka pada upacara penobatannya, Presiden Republik Indonesia Serikat menganjurkan supaya garis Tracée Baru itu ditarik terus ke arah terbentuknya Negara Nasional. Sebab dengan diserahkannya kedaulatan ke tangan kita itu, garis itu memang mungkin ditarik terus dengan mudah, dengan sistematis, zonder korbanan-korbanan yang terlalu berat, zonder risiko-risiko yang terlalu besar. Dan memang sejak penyerahan kedaulatan itu, berkat berlakunya Tracée Baru, mulailah dengan pesatnya ofensif rakyat kepada federalisme. Gugurlah gedung-kertas federalisme itu di mana-mana, pecahlah, dadallah dam yang didirikan orang untuk membendung aliran kesatuan di kalangan rakyat! Satu per satu negara-negara atau daerah-daerah-bagian itu digempur oleh rakyat dengan mosi-mosi dan demonstrasi-demonstrasi, satu per satu negara-negara dan daerah-daerah bagian itu rontok laksana daun kering tertiup angin. Pasundan rontok, Jawa Timur rontok, Sumatera Selatan rontok, Madura, Jawa Tengah, daerah-daerah di Kalimantan, Padang, Sabang, … dan akhirnya Sumatera Timur dan Indonesia Timur-pun mewakilkan diri kepada Pemerintah R.I.S. dalam perundingan-perundingan memulihkan Kesatuan … 19 Mei 1950 tercapailah persetujuan R.I.S. – RI … 24 Juli 1950 selesailah usaha R.I.S. – RI. menyusun Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan … hari ini 17 Agustus 1950 berdirilah kita sudah atas bumi Negara Kesatuan itu, yang tidak mengenal negara-bagian dan tidak mengenal R.I.S., melainkan hanya mengenal satu Republik Indonesia saja, dengan satu daerahnya, satu Undang-undang Dasarnya, satu pemerintahnya, – saya menanya: dapatkah pertumbuhan ke arah pemulihan Kesatuan itu terlaksana dengan demikian pesatnya dan dengan demikian sedikitnya korbanan, kalau tidak karena berlakunya politik Tracée Baru, terpikul oleh jiwa-nasional yang terus menyala-nyala, – oleh Ide Kesatuan, yang tak pernah sekejap-matapun lenyap dari kita punya kalbu, meski rintangan apapun, meski hantaman musuh apapun? Ya, pernah daerah kekuasaan kita menjadi kecil, pernah daerah kekuasaan kita itu laksana tinggal selebar payung, tetapi tidak pernah Ide Kesatuan itu meliputi kurang daripada "dari Sabang sampai ke Merauke", dari Ulusiau sampai ke Kupang. Pernah lahirnya kekuasaan kita laksana lebur menjadi puing, pernah orang secara mengejek berkata kepada kami "wijs mij de plaats waar U gezaaid hebt", tetapi tidak pernah jiwa kita menjadi kecil, tidak pernah kita berukuran ukuran semut. Tidak, ukuran benua-benua, ukuran samudera-samudera, ukuran bintang-bintang di langitlah yang selalu menjangka di dalam apinya kita punya jiwa, – selalu, pada tanggal 17 Agustus 1945, pada saat-saat kita mengalami keadaan yang paling gelap, pada detik-detik kita bernafas sekarang ini!
Bahkan Crescendo! Terus naik! Terus menanjak! Terus maju ke arah Kesatuan di atas segala lapangan: Tanggal 12 Maret 1950 kita mengadakan peraturan penyehatan keuangan (geldsanering), – semua itu dengan pengaruh besar atas pertumbuhan ke arah tercapainya Kesatuan Ekonomi. Juga kunjungan Presiden ke India, Pakistan dan Burma; kunjungan Romulo ke Indonesia; kunjungan Pandit Nehru ke tanah-air kita; ikut-sertanya Indonesia di dalam berbagai-bagai organisasi internasional, – itupun sangat berpengaruh atas pandangan dunia-luar atas realiteit adanya Kesatuan Indonesia, dan tidak atas adanya perpecahan Indonesia atas daerah-daerah yang kecil!
Saudara-saudara! Manakala saya menggambarkan pertumbuhan-pertumbuhan yang cepat tadi, sebagai akibat politik Tracee Baru dan sebagai buah-hasil gilang-gemilang dari jiwa-nasional yang gilang-gemilang, maka terdengarnya seolah-olah segala sesuatu berjalan dengan licin dan gampang, zonder kesulitan-kesulitan sama sekali. Padahal tidak! Macam-macam kesulitan menghadang di tengah jalan kita di masa yang telah lalu. Tetapi manakah perjuangan-nasional yang tidak sulit? Di India saya pernah mendengar Nehru mengeluh, bahwa demikian sulitnyalah menangkap Bintang Kemerdekaan, yang ia menamakan "the dancing star of freedom".
Ya, memang benar: Bintang Kemerdekaan sulit tertangkap. Memang benar Bintang Kemerdekaan selalu menari berjingklak-jingklak. Kitapun mengalaminya, kitapun merasainya. Kitapun tidak seperti berjalan di Nevsky Prospect, kitapun tidak seperti melalui Boulevard Champs Elysees. Apalagi, tahun yang lalu ini memang tahun peralihan. Dan peralihan adalah selalu sulit; selalu banyak perbuatan-perbuatan yang kurang sabar, selalu banyak persengketaan, selalu banyak kerewelan. Tidakkah masa peralihan dalam hidupnya manusiapun membawa sakitnya tubuh dan pancaroba di dalam jiwa?
Marilah saya terangkan di sini apa yang saya maksudkan dengan kata "masa peralihan" itu: Sungguhpun kedaulatan atas Indonesia telah diserahkan oleh Kerajaan Belanda kepada kita dengan segala upacara pada tanggal 27 Desember 1949, maka likwidasidaripada kekuasaan yang dulu itu tidak selesai serentak di dalam satu-dua hari. Likwidasi itu meminta sekedar waktu. Sebagaimana biasanya, di mana-mana dan sepanjang masa, maka tiap-tiap masa peralihan adalah mengandung dalam pangkuannya: anasir-anasir dari masa yang lalu yang bakal lenyap berangsur-angsur, dan anasir-anasir baru yang sedang muncul, yang perkembangannya barulah selesai-sempurna dalam masa yang akan datang. Maka keadaan inilah yang sering dilupakan; keadaan inilah yang menimbulkan banyak salah sangka, sehingga timbul banyak kerewelan. Karena itu marilah kita insyafi benar keadaan dalam semua masa peralihan. Marilah misalnya kita insyafi benar-benar, bahwa pada hari ini, hari pulihnya Negara Kesatuan, masa peralihan itupun belum berakhir. Janganlah orang menyangka bahwa dengan pulihnya Negara Kesatuan itu, beresok segala sesuatu dengan sekaligus berubah samasekali. Kapan masa peralihan itu berakhir, itu saya tidak tahu, dan saudara-saudarapun tidak akan tahu. Saya hanya tahu bahwa ia tidak berakhir di hari sekarang, dan tidakpun akan berakhir di hari beresok. Memang sejak mulanya kita mengambil sikap yang realistis, bahwa segala sesuatu sekarang ini bersifat sementara, sampai terbentuknya Konstituante di atas dasar kemauan rakyat yang dinyatakan pada pemilihan umum yang bebas dengan pemungutan suara yang rahasia. Undang-undang Dasar R.I.S. adalah Undang-undang Dasar Sementara; dan Undang-undang Dasar Negara Kesatuan sekarang inipun adalah Undang-undang Dasar yang sementara. Maka masa yang dengan resmi diakui sebagai masa sementara itu, adalah pada hakekatnya satu masa peralihan. Tetapi sifat bagaimananya masa peralihan itu, tidaklah dapat ditetapkan secara resmi; segala keadaan-keadaannya ditentukanlah oleh kejadian-kejadian, di dalam masyarakat sendiri, ditentukan oleh geraknya realita-realita di dalam masyarakat sendiri. Ia terletak di antara lama dan baru, di antara yang sedang silam dan yang sedang timbul, di antara hari-kemarin dan hari-besok. Dan, sebagai saya katakan tadi, ia mengandung anasir daripada kedua-duanya itu.
Ada dua hal yang memberikan corak dan bentuk kepada masa peralihan kita itu. Apakah dua hal itu?
Pertama, putusan K.M.B. yang menetapkan penyerahan kedaulatan atas Indonesia oleh Kerajaan Belanda kepada R.I.S. dengan tiada bersyarat, dengan segala akibat yang bersangkut-paut dengan itu.
Kedua, proses pembentukan ketatanegaraan Indonesia sendiri, dengan pergolakan politik yang timbul dari itu, yang buat sebagian tidak dapat dikatakan dari semulanya, dan memang tidak dapat diduga-duga atau diraba-raba pula lebih dahulu.
Apakah akibat dari hal yang pertama, yaitu penyerahan kedaulatan? Akibatnya ialah likwidasi daripada sendi-sendi kekuasaan yang dahulu, yang dasar-dasar likwidasi itu buat sebagian ditetapkan dalam K.M.B. Ini adalah satu usaha yang tidak mudah, yang mau tidak mau harus dikerjakan bersama oleh instalasi Belanda, yang menghandaki banyak sekali kebijaksanaan dari kedua belah fihak. Malah seringkali berbagai soal yang bersangkut-paut dengan likwidasi itu haruslah dirundingkan sampai ketingkat-tinggi dari kedua belah fihak!
Ambillah misalnya peristiwa Westerling, peristiwa Sultan Hamid, peristiwa Andi Azis, peristiwa Soumokil! Semuanya itu karena lambatnya usaha likwidasi di lapangan tentara Belanda dan Hindia-Belanda. Bahaya aksi-Westerling telah diketahui oleh kita lama sebelum penyerahan kedaulatan ke tangan kita, dan kitapun telah minta kepada Pemerintah Belanda supaya mengambil tindakan yang sepantasnya. Tetapi fihak Belanda mengabaikan desakan itu, dan selalu berkata: "apa buktinya". Maka terjadilah peristiwa yang menyedihkan pada tanggal 23 Januari di Bandung itu, yang jika sekiranya kita tidak mengambil tindakan seperlunya, niscaya menjalar ke mana-mana pula. Sekarangpun anasir-anasir pengacau di Bandung itu, yang terkenal sebagai "baret merah" dan "baret hijau", yang dipindahkan oleh pimpinan tentara Belanda ke Ambon, di sana menjadi pusat pemberontak dan pengacau di bawah pimpinan Mr. Soumokil. Bagian angkatan perang Belanda pula yang menolong larinya Soumokil itu dari Makasar ke Ambon, sehingga ia mendapat kesempatan menganjurkan pemberontakannya di Ambon itu.