Bell's Cathedrals: The Cathedral Church of Chichester (1901) A Short History & Description of Its Fabric with an Account of the Diocese and See

Chapter 3

Chapter 31,051 wordsPublic domain

Kita akan dengan mudah menerima gambaran tentang hidup itu bila kita tidak berada di posisi si peniti tali yang celaka. Orang ini sebenarnya jadi seorang pemain akrobat bukan karena ia telah “membuat bahaya jadi panggilan”. Ia tidak seheroik itu. Di pangkuan Zarathustra orang yang menjelang ajal itu justru berkata: “Saya tak lebih hanya seekor hewan yang diajar menari oleh pukulan dan rasa lapar”. Dan ia pun mati.

Sampai pasar usai, bahkan sampai saat sore jadi malam dan angin mulai bertiup, Zarathustra masih berada dekat mayat itu. Ada rasa masygul di hatinya: ternyata hidup masih tak punya makna; si peniti tali itu mati celaka karena seorang badut tiba-tiba datang mengacau pertunjukannya di tengah pasar. Tergerakkah Zarahustra oleh kenyataan bahwa hari itu ada seorang yang menari sampai akhir karena didera pukulan dan rasa lapar? Tidak, rasanya. Di depan mayat orang malang itu ia hanya memutuskan untuk mengajari manusia makna hidup, yakni Ubermensch.

Zarathustra tak menyiasati, bahwa tarian lahir bukan selamanya karena rasa bahagia dan ekstase, tetapi juga karena perhitungan akal yang instrumental: bagaimana memasarkan diri dan mendapatkan hasil. Zarathustra tak melihat bahwa si peniti tali yang miskin itu jadi bagian dari “orang kecil” karena ia praktis tak punya pilihan lain, Zarathustra juga tidak merenungkan bahwa di pasar itu ada orang-orang yang ingin menikmati akrobat, dan bersedia menukarkannya dengan roti. Tapi dengan itu yang tampil bukanlah hanya gobang, “tanda kawanan” itu. Yang juga tampil adalah pasar sebagai sebuali heterogenitas. Manusia datang, bermacam ragam, ramai. Tentu, masing-masing ingin memenuhi kepentingan sendiri, tetapi pasar (dan bukan suatu konsep abstrak tentang “pasar”) tak hanya terdiri dari lalat beracun dan aktor pembual.

Momentum pembebasan manusia bahkan bisa terjadi di sini. Seandainya Zarathustra datang ke Pasar Klewer raja, misalnya….

Pasar Klewer adalah sebuah pasar yang tak jauh dari Kraton Surakarta, Jawa, Indonesia. Di jaman para ningrat masih menentukan nasib seorang hamba, tenaga kerja praktis berada di luar perhitungan. Mengabdi untuk Sunan memberikan rasa bangga, dan itu cukup, dan para priyayi mengukuhkan serta menyebarkan keadaan itu. Uang tidak penting di sini, juga kalkulasi rugi laba. Kita ingat bahwa dalam Wulangreh, buku sajak yang mengajar para ningrat bagaimana bersikap dalam memerintah, ada cemooh terhadap wong ati sudagar (“orang yang berhati saudagar”), yang serba menghitung untung. Dalam keadaan itu, yang sering terlupakan ialah bahwa bukanya nilai tukar di sini tidak ada, melainkan diabaikan: para nayaka kraton praktis tak mendapatkan upah untuk keringat dan waktu yang mereka berikan kepada Raja dan para bangsawan, sementara di Pasar Klewer mereka tak dapat memperoleh apa pun secara gratis. Hubungan yang bisa dianggap sebagai “eksploitasi pra-kapitalis” ini akan berakhir ketika pengabdian mereka diterjemahkan ke dalam nilai tukar, jadi upah, dan upah itu—setidaknya secara teoritis—memberikan keleluasaan yang memungkinkan mereka bisa ikut serta dalam percaturan jual beli yang lumrah di luar Kraton. Proses inilah konon, di tempat lain, yang telah berhasil melahirkan buruh yang merdeka, tenaga kerja yang tidak dikungkung dan dihipnose dalam suatu hubungan yang tak pernah “jelas”—setidaknya menurut standar yang lahir dari penawaran dan permintaan—yakni hubungan antara sang pelindung (patron) dan sang pengabdi.

Memang tidak semuanya jadi manis setelah itu. Tapi ada gambaran lain: di kancah pasar bisa ada tipu daya, persuasi, tekanan, pengisapan namun juga dialog, proses belajar dan kesempatan kreatif. Dari tengah pasar juga ada dorong mendorong yang bisa menggairahkan dan menciptakan dinamika, seraya menyisihkan mereka yang rudin dan tak untung dan memumbuhkan mereka yang menang. Pada saat yang sama, di pasar itu, di tengah kancah komoditi itu, (di antara obat bius dan telenovela) kita bisa juga menemukan sebentuk keramik yang cantik, atau sebuah edisi pertama Also Sprach Zarathustra.

Jakarta, Januari-Februari 1996.

Catatan Akhir:

1. Dalam tulisan ini, judul setiap karya Nietzsche saya sebut dalam bahasa aslinya, Jerman, meskipun saya hampir sepenuhnya menggunakan terjemahan Inggris atas karya-karya itu.

2. Dalam The Ideology of the Aesthetic, terbitan Basil Blackwell, 1990, hal. 234 dst. Menurut Eagleton, dengan menekankan perlunya perhatian akan tubuh, dengan meruntuhkan keyakinan bahwa pikiran manusia adalah otonom, dan dengan mempunyai sejenis teleologisme, Nietzsche punya kesejajaran dengan kaum Marxis. Sebuah pandangan yang mungkin membuat tercengang baik bagi kaum Marxis yang umum dan para penerus Nietzsche di zaman ini.

3. Dalam The End of Ideology, terbitan Harvard University Press, 1988, hal. 254. Buku ini pertama kali terbit di tahun 1960. Ajektif yang dipakai Bell untuk menggambarkan sikap pasif konsumen itu adalah uxorious.

4. Di sini saya memanfaatkan sepenuhnya pengantar dan kritik Douglas Kellner, Jean Baudrillard, From Marxism to Postmodernism and Beyond, terbitan Stanford University Press, 1989. Untuk topik ini, hal. 21-32.

5. Dihimpun dan diberi kata pengantar oleh David B. Allison, dengan subjudul: “Contemporary Styles of Interpretation”. Diterbitkan oleh The MIT Press. Kutipan saya dari Gilles Deleuze, Maurice Blanchot, Martin Heidegger, Alphonso Lingis, dan Michel Hart, berasal dari antologi yang sangat kaya ini.

6. Akan diterbitkan oleh LKIS, Yogyakarta, tahun ini (ketika naskah ini tayang di website goenawanmohamad.com, buku itu sudah terbit –ed.).

7. Kalau ada sedikit kritik untuk perumusan St. Sunardi adalah ketika ia mengatakan bahwa sebagai tujuan hidup diciptakan (huruf miring dari saya, G.M.) berdasarkan potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki setiap orang”. Kata “diciptakan” mengesankan adanya suatu usaha yang sengaja untuk mendorong manusia ke depan, sementara yang terjadi adalah dinamika dari “kehendak untuk berkuasa”.

8. Sunardi menterjemahkan kata itu menjadi “kehendak untuk berkuasa”, tetapi agaknya ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, bagi Nietzsche, “kehendak” itu bukanlah sekedar hasrat atau keinginan, melainkan lebih dekat ke pengertian “titah”—mungkin seperti dalam pengertian “kehendak Allah” ataupun “kehendakMu jadilah”. Yang kedua ialah bahwa Macht (dalam bahasa Jerman) atau power (dalam bahasa Inggris) juga berarti daya, kekuatan, tenaga, meskipun berbeda dari Kracht, yang lebih bersifat fisik; dengan kata lain, ia bukan hanya berarti “kekuasaan”, khususnya dalam arti dominasi atas orang atau hal lain. Soal ini tentu penting bila kita berbicara tentang emansipasi manusia: jika oleh Nietzsche dikatakan, bahwa der Will zur Macht itu adalah hidup, soalnya adakah “kehendak” itu mendorong ke arah pembebasan ataukah sebaliknya ke arah penaklukan. Pada hemat saya, ada ambiguitas di sini, yang menyebabkan terjemahan yang lebih kena agaknya ialah “kehendak untuk kuasa”, seraya mengingat bahwa “kuasa” bisa berarti “dominasi” tapi juga bisa berarti “daya”.

9. Lihat The Problems of Modernity; Adorno and Benjamin, (editor: Andrew Benjamin), terbitan Routledge, 1992, terutama hal. 8-21 dan hal. 52-53. Juga Late Marxism, Adorno, or The Persistence of the Dialectic, oleh Fredric Jameson, terbitan Verso, 1990, hal. 23.

Kategori:Esai GM Kategori:Esai