Vie de Franklin

Chapter 1

Chapter 13,277 wordsPublic domain

Pengantar

Saudara-saudara dan sidang yang terhormat,

Kini sudah tiga hari kita berkongres saya sudah agak merasa lelah dan suara tak begitu kuat lagi. Jadi saya minta saudara-saudara agak dekat sedikit. Kepada saudara stenografis saya minta kadang-kadang memakai perkataan sendiri, sebab mungkin juga saya nanti memakai ilustrasi. Jadi Ilustrasi itu penjelasan / penerangan diisi dengan perkataan sendiri saja.

Karena ini bukan pidato semata-mata, bukan kursus semata-mata melainkan suatu uraian yang saya rasa penting buat wakil yang kelak akan kembali ke daerah masing-masing, buat mencapai usaha-usaha supaya kita tidak saja satu dalam partai, tetapi juga satu dalam agitasi dan propaganda kelak di cabang dan ranting. Dengan bulatkan jiwa kita dan Murba kita dan membulatkan kekuatan melemparkan imperialis mana saja yang menginjak bumi Indonesia ini.

Dengan tiada kebulatan keyakinan tidak bisa kita mendapat kebulatan perbuatan. Dengan tidak kebulatan agitasi dan propaganda kita tidak akan mendapat kebulatan keyakinan. Jadi agitasi dan propaganda ialah senjata yang tajam. Di Tiongkok ada satu pepatah yang mengatakan “Agitasi lebih kuat dari pada pelor”.

Soal yang akan saya uraikan dan coba menjawabnya saya bagi tiga:

1) Soal (boleh diringkas) Internasional.

2) Soal Nasional.

3) Soal Partai.

Satu-satunya saya akan coba membicarakan dengan ringkas dan jelas. Tetapi karena saya tidak mempunyai bahan cukup, terutama buat soal Internasional, karena susahnya perhubungan dan sedikitnya kesusasteraan atau literatur, buat politik dan ekonomi, tetapi saya harap sesudahnya ini saudara-saudara yang mempunyai bukti yang lebih banyak seperti saudara dari “Antara”, saudara Rustam Effendi dll. akan menambah bukti-bukti itu kalau perlu membikin koreksi.

Sebab tinjauan kita adakan, putusan yang kita ambil atas tinjauan itu, sikap dan perbuatan yang kita lakukan semuanya penting sekali. Salah kita mengadakan pemandangan itu, tentu salah dalam mengambil sikap perbuatan dan tindakan. Karena saya akui tidak mempunyai bukti penuh tentang hal Internasional dan percobaan saya mendapat bukti yang nyata berupa statistik, terutama tentang keadaan ekonomi sampai sekarang belum dapat, maka terpaksa saya cuma bisa memberi pedoman sekedarnya saja, yang bisa dipakai oleh saudara-saudara sendiri, sehingga kalau saudara mendapat suatu keterangan dari luar negeri saudara sendiri bisa menyelidiki dan mengambil putusan sendiri. Seolah-olah saudara sekalian mengetahui tanda-tanda dalam segala hal seperti seorang prajurit mengenal apa tanda kapal terbang yang ada di sini. Apa tanda kapal yang dimiliki oleh Amerika, apa tanda kapal terbang yang dimiliki oleh Inggris, apa tanda kapal terbang yang dimiliki Republik sendiri. Kalau rupanya seperti capung maka Republiklah yang memilikinya, jadi kalau mendapatkan statistik supaya saudara, bisa mengutarakan sikap sendiri terhadap statistik itu.

SAYA MULAI DENGAN KEADAAN INTERNASIONAL

Daerahnya terlampau luas dan tempo tidak cukup buat itu. Terpaksa saya mengambil bukti yang mencolok mata saja. Kita ketahui pertentangan yang tajam di dunia sekarang ini. Kita akan menjelaskan dengan beberapa kata saja, apakah sifat, apa kemungkinan buat pertentangan itu. Pertama, apa dan siapa yang bertentangan?

Yang bertentangan ialah sistem dengan sistem, sistem Kapitalisme dengan sistem Sosialisme yang sudah lama bertentangan semenjak Manifesto Komunis diproklamasikan, diumumkan + 100 tahun yang lalu. Pertentangan lebih tegas terbukti sesudah Republik Rusia tahun 1917. Pertentangan yang sekarang lebih hancur, lebih genting lagi di masa ini.

Pertentangan sistem dan bukanlah semata-mata pertentangan terutama bangsa dengan bangsa atau kultur dengan kultur, melainkan pertentangan hidup, yang terutama berdasar atas pertentangan kepentingan ekonomi. Pertentangan sistem sosialisme yang tidak berdasar mencari keuntungan melainkan mengadakan produksi menurut kebutuhan negara itu, sistem kapitalis yang mengadakan produksi buat mencari keuntungan dan mencari pasar di mana-mana, inilah yang menjadi intisari pertentangan itu. Makin luas daerah yang memakai sistem sosialisme itu makin kecil pasar buat negara atau beberapa negara yang mengatur sistem kapitalisme.

Negara sosialisme sekarang – kalau saya tidak salah – menguasai kira-kira 1/5 bumi daratan – bukan lautan – dengan penduduk kira-kira 1/7 dari pada penduduk dunia (l.k 300 juta) langsung menguasai daerah sosialistis di samping sisa penduduk dunia ini juga kira-kira 6/7 ialah 1800 juta itu. Tetapi tidak bisa melihat pada pertentangan kuantitatif, jumlah itu saja, untuk perbandingan yang nyata, tentang luas daerah atau penduduk karena negara yang menganut sistem sosialisme juga mempunyai kawan di dalam daerah yang menganut sistem kapitalisme.

Tetapi nyata bahwa pertentangan dalam sistem ekonomi tadi menarik-narik, menyangkut-nyangkut pertentangan politik, kebudayaan dan lain-lain pula. Jadi yang menandai pokok pertentangan ialah karena kaum Kapitalis tidak leluasa menguasai seluruh dunia karena terhambat oleh sistem produksi di daerah sosialistis, tetapi juga terhambat di daerah-daerah yang bekas jajahan dulu yang kebanyakan sekarang ber-revousi dan terhambat di negara-negara yang imperialistis sendiri oleh pemogokan-pemogokan dan pemberontakan di daerah itu. Terhambat di negara-negara kapitalis tulen, negara kapitalis sendiri ialah Amerika dan lain-lain karena pemogokan-pemogokan.

Pertentangan itu kita globalkan, kita bulatkan dengan pertentangan sistem sosialisme dan kapitalisme karena memang tidak mudah dan tidak gampang. Tidak ada barang yang mudah, gampang, karena semuanya hidup tumbuh dan tumbang.

Memang dalam garis besarnya, kedua sistem yang saya sebut tadi itu bertentangan satu dengan lainnya karena masing-masing mempunyai pertentangan dalam dirinya sendiri pula. Di dalam dunia kapitalis atau barisan kapitalis dan pertentangan dalam diri sendiri. Ada pertentangan imperialis dengan imperialis, walaupun bisa terpendam, tetapi sewaktu-waktu bisa timbul, ada pertentangan antara imperialis dengan jajahan sendiri.

Ada pertentangan di antara kaum buruh sendiri pula, yang dinamakan proletar-rendahan dengan proletar tinggi, ningrat (labour aristocracy). Ada lagi pertentangan yang belum muncul, tetapi akan muncul dalam sistem ini ialah pertentangan antara kapitalis liberal dengan kapitalis fasis.

Susah mengadakan putusan begitu saja, sebab kita belum mempunyai bukti nyata. Dan kita yang percaya pada materialisme-dialektika tidak boleh main nujum-nujuman saja, tidak seperti Joyoboyo yang meramalkan semua itu dengan otak atau hati saja. Dan ramalan itu adalah seperti karet, boleh ditarik ke sana atau ke sini.

Kita bukan nabi, kita bukan ahli nujum. Kita berlaku seperti dokter. Walaupun si-sakit merasa tidak enak, tetapi ditunggu sampai ada symtomen [gejala – Ed.], baru mengadakan diagnosa, baru memeriksa apa sakit yang sebenarnya. Kita sebagai dukun atau dokter masyarakat untuk berlaku seperti ahli nujum. Kita menunggu dulu, walaupun kita tahu pertentangan kelak bisa berubah-bertukar menjadi pertempuran atau perjuangan, tetapi kita jangan seperti ahli nujum mengatakan: ini mesti menang dan ini mesti kalah.

Sikap semata itu ialah sikap seperti Joyoboyo, sebab belum semua gejala itu keluar, kita memerlukan beberapa tempo buat mengadakan sikap yang pasti, terhadap kejadian Internasional. Saya harap ini dimengerti benar.

Kita yakin atas kemenangan sendiri, seperti Columbus yakin bahwa jika dia berlayar terus ke timur dia akan sampai ke Amerika. Tetapi kapan dia akan sampai dan di mana persis jalan yang dia lalui tidak bisa dia tentukan dengan pasti lebih dahulu. Itu tergantung kepada beberapa faktor di dalam dan di luar dia sendiri. Kita harus yakin, dan orang yang tidak mempunyai keyakinan tidak mempunyai pendirian. Dan keyakinan mesti berdasarkan filsafat serta perhitungan yang tinggi. Tetapi putusan yang pasti, kesimpulan atau sikap yang pasti harus diambil setelah cukup gejalanya.

Dalam menentukan sikap terhadap Internasional kita berhadapan dengan kemungkinan:

1) Ada perang atau tidak.

2) Siapa yang akan kalah dan siapa akan menang.

Pandanglah semua itu dengan mata terbuka, pikiran yang praktis dengan senjata yang kita akui tajam.

Memang revolusioner itu tidak berarti asal memberontak saja dengan tidak mengukur kekuatan sendiri serta tempat dan tempo seperti baru ini dibuktikan di Madiun. Akibatnya lihat saja! Kita mesti mengukur suasana yang ada di sekitar kita yang jauh, dan yang dekat. Mengukur organisasi kita! Saya sebut organisasi yang kuat itu bisa kita bentuk dalam proses kita berjuang. Seperti seorang Nahkoda, walaupun mempunyai ilmu yang dalam tentang karang yang ada di dalam air, tentang udara yang mungkin mendatangkan angin ribut, badai, taufan, walaupun mempunyai itu, tetapi sewaktu-waktu ia mesti awas, menyesuaikan diri dengan keadaan baru yang timbul. Saudara seharusnya pula bersikap begitu, itulah sikap seorang pemimpin di pusat, di ranting atau di cabang itu.

Buat menentukan, apakah kelak akan ada perang atau tidak, buat menentukan siapa kelak menang atau kalah, (sebab semua itu penting buat nasib kita, tidak saja buat organisasi dan diri kita sendiri, tetapi juga buat rakyat yang 70 juta ini, karena kita hendak membawa mereka kepada keselamatan, kemakmuran dan karena itu kita mempunyai tanggung jawab terhadap Murba dan kita sendiri) buat kita semua sikap dan tindakan mesti dilakukan dengan perhitungan.

Sekarang kembali kita bertanya, apakah kelak akan ada perang atau tidak.

Kita buka Joyoboyo atau Nabi, bukan Jeremiah, melainkan seorang dukun masyarakat yang menentukan sesuatu itu pada suatu tingkat.

Gejala yang menuju kepada perjuangan langsung, atau pertempuran antara Blok Sosialis dan Blok Kapitalis sudah kita kenal sekarang. Dimana ada perjuangan seperti di Yunani, di Persia, Korea, Tiongkok, dimana ada bisul peperangan, sewaktu-waktu bisa di sana bisul itu meletus menjadi perang dunia ketiga.

Walaupun begitu belum bisa, belum boleh berlaku seperti Joyoboyo atau Jeremiah, mengatakan pasti perang. Saya kasih nasehat kalau saudara mengadakan putusan, yakni harus mengambil sikap pasti, haruslah menunggu gejala yang lebih maju lagi. Kita bisa perlihatkan tendensi ialah satu kodrat yang berlaku tetapi bisa dihambat oleh kodrat lain menjadi tendensi – masih bisa terhalang dalam perjuangan dan tendensi itu mesti – mengadakan akibat – kalau tidak ada hambatan, tendensi bisa dihambat kodrat lain. Tendensi masyarakat dunia sekarang menjadi menuju perang dunia ke-3.

BERAPA GEJALA, APA TANDA-TANDANYA?

Soal Berlin, saudara-saudara sudah baca tiap hari, saudara mungkin lebih tahu dari pada saya tentangan hal itu, dan saya tahu dan mengikuti kejadian sehari-hari itu. Dari soal Berlin sewaktu-waktu bisa timbul perang dunia. Di Korea, Tiongkok, sewaktu-waktu bisa timbul perang dunia itu. Kita tidak tahu apa benar akan timbul atau tidak. Kita tidak tahu kapan pecahnya perang.

Kita tidak tahu berapa banyak manusia yang akan mengambil bagian dalam perang itu. Semuanya belum dapat kita tentukan, kita pastikan, karena yang merupakan Serikat Rusia besok bisa berbelok, yang sekarang musuh besok bisa menjadi kawan dalam proses sejarah yang tidak bisa kita tentukan lebih dahulu itu. Lihat dalam perang dunia kedua, kedua belah pihak dengan spinagedienstsnya mencari kawan.

Berapa besar kekuatan di masing-masing pihak belum kita tahu sebelum perang pecah dan kalau perang itu pecah belum bisa dipastikan apakah kekuatan masing-masing itu akan berlangsung terus. Itu artinya berpikir dialektis, bukan dogmatis seperti Joyoboyo, tetapi menentukan tempat dan waktunya lebih dahulu sebelum ada gejala yang nyata.

Inilah gejala di Berlin sudah nyata, gejala kedua, ialah tindakan yang diambil oeh negara agresif, karena membutuhkan pasar.

Kapitalisme tidak bisa hidup dengan tidak ada pasar. Dia akan terhambat. Karena produksi naik dengan naiknya penjualan. Dan produksi itu harus senantiasa naik. Kalau berhenti berarti mundur buat kapitalis. Mungkin saya bisa menguraikan lebih lanjut, tetapi berhubung dengan tempo, kalau nanti saya tidak sempat saya silahkan saja saudara membaca Risalah karangan saya Rencana Ekonomi.

Jadi kapitalisme membutuhkan pasar. Kalau pasar dalam negara tertutup maka terhambatlah produksi. Apakah pemogokan tidak menutup pasar? Kalau umpamanya 5 juta buruh tidak sanggup membeli makanan atau pakaian (karena menganggur mogok) apakah itu tidak mengurangi pasar? Kalau tiap-tiap 5 juta buruh tadi mempunyai seorang istri dan anak, jadi 15 juta orang tidak sanggup membeli, apakah tidak mengurangi pasar.

Jadi pemogokan baik di Perancis, Italia dan Amerika itu merugikan pasar. Pemberontakan yang ada di Malaysia, Burma dan Indonesia juga mendorong supaya Amerika memaksa pasar itu dibuka kembali. Dan semua pasar baik di Eropa, di Afrika atau di Asia tidak bisa dibuka dengan mulut manis, demokrasi, dan perikemanusiaan saja. Semua pasar perlu dibuka dengan paksaan. Dan paksaan itupun menjadi dua macam. Paksaan yang berupa kapal penggempur, meriam, tank, dan bomber. Amerika sendiri memaksa kedua-duanya itu.

Meminjamkan uang kepada siapa saja yang mau meminjam seperti Sir. Lock yang kikir, yang menabung dan menghitung-hitung bunga uangnya, terus menerus sampai ia lupa tidur. Amerika memaksakan uangnya ditanam di Turki, Yunani, dan ada 15 Negara di Eropa Barat.

Amerika meng-ekspor dia punya modal, sebab modal itu mesti hidup terus, anak-beranak, bunga-berbunga. Dan tidak anak-beranak, tidak bunga-berbunga itu artinya kalah dengan negara lain yang bunga-berbunga modalnya.

Kaum modal Tiongkok mendapat sumber modalnya di Wall Street, pusat kantor-kantor bank di Amerika, New York, yang dengan pembagian saluran menghamburkan uangnya melalui kedutaan dan konsul-konsul dengan I.S-nya menghambur-hamburkan uang buat dipinjamkan buta ditanam supaya kelak kembali dengan bunga (rente). Bukan saja Amerika mengeluarkan barang buat dijual, tetapi juga meng-ekspor uang buat berkembang. Amerika belum bisa dengan leluasa mengeluarkan uang karena masih kurang jaminan, lintah darat kita sendiri membutuhkan jaminan juga pasti kalau dia meminjamkan uang; kontrak, perjanjian yang pasti yang dijamin oleh tiap negara, oleh notaris, yang kelak kalau tidak dibayar akan dibela oleh ahli hukum atau pokrul bambu.

Juga negara tidak meminjamkan begitu saja, kalau tidak ada jaminan. Jaminan itu bukan main-main. Jaminan yang dibikin oleh negara yang dipinjami itu bukan jaminan di atas pasir, tetapi jaminan yang teguh di atas ubin, di atas beton. Kalau tidak dibayar, negara itu sendiri akan menjadi jaminan. Jaminan itu sudah terdapat di Filipina.

Sandiwara di Filipina itu dikatakan kemerdekaan. Saya pikir uang emas Filipina masih disimpan di Wall Street di Amerika. Emas Filipina sebagai jaminan uang kertas yang diperedarkan di Filipina, dulu waktu saya masih di sana disimpan di Wall Street dan sekarangpun saya kira masih begitu, karena Filipina masih banyak berhutang kepada Amerika.

Bagi Italia, Yunani atau Saudi Arabia dan lain-lain jaminan itupun mestinya kokoh-kuat, pasti. jaminan yang kokoh kuat itu biasanya dipasarkan atas pengeluaran pajak, kereta api, atau atas penjualan garam yang paling dibutuhkan rakyat (Tiongkok).

Sampai kita tadi pada percobaan kapitalis Amerika, usahanya juga merupakan penghidupan modalnya ialah meminjamkan uang kemana-mana juga di Meksiko, yang bukan negara merdeka lagi, seperti di Filipina yang diikat oleh rantai dari Wall Street. Jaminan yang teguh itulah yang dicarinya sekarang di Eropa Barat. Jaminan itu tidak bisa didapatnya selama Malaysia, Burma masih ada pemberontakan. Artinya daerah, dimana dapat ditanamnya kapital dengan aman, dimana didapatkan tanah yang aman, kaum buruh yang manut, yang “bekerja sama” yang bisa menjamin segala-galanya belum didapatnya di Asia Tenggara ini. Belum pula didapatnya lagi di Eropa Barat karena banyak pemogokan. Jika kita lihat dalam pertentangan, yang sudah memuncak baik di Berlin, Yunani, Korea dan Tiongkok, perjuangan semacam itu sekarang berlaku karena keuangan dan ekonomi.

Amerika mencoba menanamkan kapital di Eropa Barat, tetapi Blok Sosialis juga tidak diam dan mencoba menggagalkan semua itu. Dan banyak berhasil dalam usaha penggagalan itu. Karena tiap-tiap pemogokan yang timbul, baik di Eropa Barat atau di Amerika itu berarti penghalangan bagi majunya kapitalisme tadi jadi nyata sifatnya, rencana atau plan yang sudah kita kenal sebagai Marshall Plan: ialah mendapatkan daerah yang aman buat menanam kapital. Sekarang nyata dijalankan di Eropa Barat. Yang sudah diterima oleh 16 Negara – kalau saya tidak salah 16 negara itu mempunyai kern, teras pada Inggris, Perancis dan Benelux. Sekitar 3 Negara itu – kalau Benelux bisa disebutkan Negara karena ada beberapa Negara yang lain juga takluk pada Marshall Plan.

Apakah maksud Marshall Plan? Ialah membangun kembali Eropa Barat yang kasarnya diduduki oleh 165 juta manusia, sedangkan blok Rusia oleh 300 juta lebih – kalau saya tidak salah – ada negara lain yang belum terikat kepada blok-blok. Kalau tidak salah blok Barat dan Rusia mempunyai jumlah penduduk 550 juta.

Masing-masing mencari bloknya sendiri. Amerika menyokong blok yang sesudah perang dunia kedua hidup tidak mati tidak.

Apakah maksudnya menyokong blok barat itu? Tentu saudara sudah maklum. Ialah menghancurkan, menghambat blok sosialis. Bukan saja menghambat tetapi juga mengancam hidupnya sosialisme dengan voorpost berupa blok barat yang diadakan oleh Amerika satu benteng untuk menghancurkan blok sosialisme.

Kalau benteng itu kelak bisa menghancurkan blok sosialisme, kapitalisme (katanya) akan bisa hidup terus. Tetapi buat saya, kapitalisme tidak bisa hidup terus. Belum tentu akan hancur Soviet Rusia dan gerakan sosialisme di dunia. Tetapi mungkin di Amerika sendiri akan timbul Soviet proletar atau Pemerintahan Sosialis. Kapitalis tidak berpikir panjang dan tidak bisa berpikir panjang asal terobat sakitnya, buat sementara waktu. Boleh dia dimisalkan seorang haus di lautan yang terus minum air laut, sampai gembung perut hingga mati.

Kapitalisme belum tentu bisa hidup terus. Baik ekonomi, politik, ataupun sosial kebudayaan sudah tidak bisa maju lagi. Bahwa kapitalisme Amerika itu akan aman kalau blok sosialis hancur itupun adalah salah satu impian. Itu berarti bahwa walaupun blok sosialis atau seandainya blok sosialis hancur, kapitalisme akan aman. Sosialisme tidak akan hancur selama ada kapitalisme. Jadi ini adalah memperkuat keyakinan kita bahwa sosialsime pasti datang, karena tidak ada alternatif, cuma mungkin dalam beberapa tempo kapitalisme bisa hidup, tetapi harus diberi injeksi saban jam sehingga mati karena injeksi sendiri saja. Kapitalis-imperialis tidak berfikir panjang dan tidak mempunyai pikiran panjang dia tiada mengadakan perhitungan. Pandangannya pendek, seperti orang kehausan di perahu tadi. Karena tidak ada air sejuk, dia terpaksa minum air laut asal hidup, walaupun 5 menit saja.

Jadi Marshall Plan mempersiapkan Eropa Barat dalam ekonomi buat menghancurkan blok sosialis. Persiapan itu disertai pula oleh persiapan militer. Persiapan militer itu tidak saja kelak perlu buat mengadakan kerja sama (militer) antara blok Barat buat menentang Rusia, tetapi juga buat jaminan buat kapitalisme Amerika sendiri. Siapa saja dipertanggungjawabkan oleh blok Barat, membayar kelak hutangnya. Jadi blok barat tidak saja tergantung kepada Amerika tetapi juga hilang kemerdekaannya dalam ekonomi dan dalam politik. Orang yang kehilangan kekuasaan ekonomi mesti juga kehilangan kekuasaan politik. Orang yang hidup meminjam mesti menjadi hamba peminjam. Begitu juga negara dengan negara. Tidak bisa meminjam ke Amerka dengan tidak ada jaminan.

Meliterverbond, kerja sama militer hanya kelanjutan dari kerja sama dalam ekonomi. Blok Barat sudah setengah atau ¾ atau 90 % koloni Amerika. Baik politik dalam negeri, baik sistem produksi, baik perhubungan luar negeri sudah terikat oleh Amerika. Cukup di sini ditegaskan, bahwa Eropa Barat sudah menjadi voorpost ekonomi dan militer Amerika.

North Atlantic Defence Pact (Perjanjian Pertahanan Atlantic Utara) yang baru ini dikabarkan oleh “ANTARA” itu ialah satu kepastian, satu pengesahan dari pada kejayaan usaha Amerika buat menguasai blok Eropa Barat, tidak ekonomi saja, tetapi juga militer.

Jadi blok Barat kelak bisa dipakai buat menentang blok sosialis dan apabila seandainya Amerika menang, Eropa Barat sudah lebih terikat oleh Amerika. Sedang sekarang sudah terikat, apabila kalau perang sudah terjadi. Semua kebutuhan baik mesiu, meriam, kapal terbang, senjata lain-lain, makanan dan pakaian harus didatangkan dari Amerika sebagai hutang blok Barat. Makin lanjut proses peperangan makin tergantung blok Barat kepada Amerika.

Jadi nyata sekarang bahwa pertentangan antara dua blok ini, ialah antara blok kapitalis yang dipelopori oleh Amerika itu, sudah memuncak ke tingkat yang setajam-tajamnya.

Saya sudah membicarakan perkara tendensi, kemana perginya arah permusuhan pergulatan politik, ekonomi, dan militer sekarang.

Kapan meletus! Apakah akan meletus itu baik kita serahkan kepada sejarah saja. Tetapi tendensi dan gejala sudah nyata.

Sekarang kemungkinan, siapa kalah, siapa menang seperti pertandingan bola, beberapa ahli melihat saja, tetapi biasanya orang memperhatikan goalnya saja.

Di dalam perang ini kita juga memperhatikan siapa yang akan kalah dan siapa akan menang. Buat kita penting sekali artinya, meskipun kita percaya bahwa kemenangan terakhir berada di pihak sosialisme.

Ada 4 kemungkinan menurut logika.

1) Sosialisme menang dunia menjadi sosialistis.

2) Kapitalisme menang sementara waktu (kemungkinan kapitalisme akan hidup terus).

3) Kedua-duanya podo (sama capai seperti pertandingan boxer).

4) Dan kalau atom-atoman kita sama-sama habis di dunia. Kemungkinan itu ada tetapi mudah-mudahan tidak terjadi. Kata asing Mogelijk, maarniest waarschijnlijk. Possible but not probably, mungkin tetapi tidak boleh terjadi.

Empat kemungkinan itu sudah saya bentangkan lebih lanjut dalam risalah “Thesis”, saya persilahkan membaca lagi.

Bagaimana mengadakan perhitungan buat menentukan siapa kalah dan siapa menang itu secara agak panjang karena saya diminta saudara dari daerah Gerpolek, supaya agak panjang lebar dalam militaire beschouwing, pandangan militer, saya sarankan bacalah Gerpolek, supaya saya bisa pendek saja. Tetapi syarat menentukan kalah menangnya itu banyak.

1) Persenjataan. Banyak faktornya bagi kedua belah pihak. Ialah diukur berapa banyak senjata yang dimiliki. Berapa bedil Amerika, berapa kapal perangnya, berapa kapal terbangnya, diukur pula kualitasnya. Dibandingkan jumlah dan kualitast satu sama lainnya.

2) Kekayaan. Kalau tidak ada pabrik, bisa membeli, ialah kalau ada jalan. Dulu ketika perang dunia pertama Perancis beli dari musuhnya sendiri ialah dari Jerman. Tetapi kalau ada blokade, terserah kepada tukang selundup. Kita diblokir, Sumatera diblokir dan tidak bisa membeli senapan, tidak ada meterialisering. Tetapi dulu nyata Perancis bisa membeli di Amerika dalam Perang Dunia Pertama dan Kedua.

3) Industri. Siapa mempunyai pabrik yang banyak, hebat, berkualitas tinggi dan mempunyai bahan yang cukup (besi, timah, tembaga, alumunium, dan lain-lain) itulah menurut syarat ini yang menang. Ini secara logis, kedua-duanya podo (sama capai seperti dalam pertandingan boxer).