Vallanperillinen: Historiallinen 5-näytöksinen murhenäytelmä

Chapter 1

Chapter 11,028 wordsPublic domain

Matius 5:1-12 Ucapan bahagia 5:1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: 5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. 5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. 5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. 5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Sumber: http://alkitab.sabda.org/passage.php?passage=mat 5:1-12 Copyright © 2005-2023 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)

MAKNA UCAPAN BAHAGIA DALAM INJIL MATIUS 5:1-12 Ruwi Hastuti1 Abstraksi Makna kata ucapan “Berbahagialah” dalam Injil Matius 5 : 1- 12 adalah berbahagia dalam situasi apapun, baik itu miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar, haus, murah hati, suci hati, membawa damai, dianiaya oleh karena kebenaran. Orang percaya yang sanggup melakukan hal-hal yang dikehendaki Allah, akan disebut orang-orang yang berbahagia dan mereka akan memiliki Kerajaan Allah. The Meaning of“Blessed” Saying in Matthew 5:1-12 Abstract The meaning of “Blessed” saying in Matthew 5:1-12 is being blessed at any situation, such poverty, mourn, meek, hunger, thirsty, merciful, pure in heart, peacemakers, persecuted because of righteousness. Believers, who are capable to do God’s will, are going to be called blessed people, and they will have the kingdom of heaven. Kata kunci: berbahagialah PENDAHULUAN Pada peristiwa dalam Matius 5 : 1-12 ini terjadi di sebuah bukit dimana Yesus sering mengajar dan berkhotbah kepada orang banyak yaitu di sebuah bukit dekat Kapernaum. Ketika Yesus sudah mulai duduk, datanglah murid-murid- Nya untuk mendengarkan ajaran-Nya. Bagi seorang rabi atau guru, pada waktu ia duduk, biasanya murid- murid-Nya tahu bahwa sang guru atau rabi itu akan mulai berbicara dan mengajar mereka. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Yesus dalam Matius 13 : 2, 23: 2, 24: 3, 26: 55). Ajaran Yesus dalam peristiwa ini adalah berbicara tentang ucapan bahagia. Kata “Berbahagialah” yang terdapat dalam ucapan-ucapan Yesus inimerupakan sebuah kata yang khusus. Kata “Berbahagialah” dalam bahasa Yunani Maka,rioiMaka,rioiMaka,rioiMaka,rioi dalam bentukadjective, nominative, masculine, plural no degree frommaka,maka,maka,maka,riojriojriojrioj,maka,riojmaka,riojmaka,riojmaka,rioj, i,ai,ai,ai,a, ionionionion blessed, fortunate, happy yang berarti diberkati, beruntung, berbahagia, biasanya berada dalam .Jadi kata “Berbahagia” di sini adalah berbahagia yang tidak dipengaruhi keadaan atau kondisi apapun.William Barclay menyatakan: Di dalam bahasa Yunaninya kata tersebut adalah makarios. Makarios adalah kata yang secara khusus menerangkan tentang para dewa. Jadi di dalam kekristenan terdapatlah kesukacitaan ilahi...orang-orang Yunani selalu menyebut nama Siprus dengan sebutan He makaria, yang berarti pulau Bahagia. Mereka melakukan itu karena mereka percaya bahwa pulau Siprus sangat indah, kaya dan subur, sehingga setiap orang yang hidup di sana tidak perlu pergi jauh untuk menemukan kehidupan yang berharga dan sempurna.2 Jadi, kata Makarios mengungkapkan kesukacitaan yang mengandung rahasia di dalam dirinya sendiri: kebahagiaan yang begitu 2William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Matius Fs. 1-10, (Jakarta: Gunung Mulia, 1983), 147. mendalam dan tidak tersentuh. Ucapan “Berbahagialah” di dalam khotbah di bukit itu berbicara tentang kesukacitaan yang datang kepada kita melalui penderitaan kita: kesukacitaan yang tidak bisa disentuh ataupun dihilangkan oleh kesedihan, kehilangan, kesakitan, kedukaan dan kuasa-kuasa yang lain. Sukacita yang diberikan Yesus itu bersinar melewati tangisan dan tidak akan dapat diambil atau dibinasakan oleh kuasa apapun di dalam kehidupan maupun kematian. Barclay juga menyatakan bahwa: Kebesaran dari ucapan “Berbahagialah” di dalam Khotbah di Bukit adalah, bahwa ucapan-ucapan itu bukan merupakan sesuatu yang kosong mengenai masa depan yang indah. Ucapan-ucapan itupun bukanlah janji-janji yang muluk-muluk tentang masa depan yang masih menjelang. Tetapi ucapan-ucapan itu merupakan teriakan kemenangan, karena adanya kesukacitaan tetap yang tidak akan pernah bisa diambil atau dibinasakan oleh apapun yang ada di dunia ini.3 Dalam tulisan ini akan diuraikan delapan ucapan bahagia yang disampaikan Yesus kepada para pendengar-Nya

5: 1-2; Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: Dalam Matius 5 : 1-2 menyatakan bahwa Yesus mengajar kepada orang banyak di atas bukit, sehingga khotbah Yesus ini disebut Khotbah di Bukit. Pada waktu itu dijelaskan bahwa banyak orang yang mengikuti- Nya untuk mendengarkan ceramah Yesus. Rick Warren menyatakan: ”Satu ciri khas yang mengesankan dari pelayanan Yesus adalah bahwa cara itu menarik perhatian orang banyak. Orang banyak dalam jumlah yang besar.”4 Pengajaran Yesus pada waktu di Bukit kepada orang banyak, Ia memakai metode ceramah. Leroy Ford mengatakan: ”Metode ceramah adalah suatu pidato yang disampaikan oleh seorang pembicara di hadapan sekelompok pendengar.”5 Tuhan Yesus, pada waktu menyampaikan khotbah di Bukit di hadapan banyak orang, sehingga Ia memakai metode ceramah ini. Metode ceramah 4Rick Warren, The Purpose Driven Church (Malang: Gandum Mas, 2004), 213. 5Leroy Ford, A Primer for Teaching and Leader (Bandung: Lembaga Literatur Baptis), 56. digunakan Yesus dengan tujuan untuk menyampaikan pengetahuan kepada pendengar-Nya atau menafsirkan pengetahuan tersebut. Dengan metode ceramah ini, Yesus mengharapkan supaya pendengar-Nya mengerti ajaran Yesus yang mendalam. Setelah mengerti, tujuan Yesus adalah supaya para pendengar-Nya mengalami perubahan dalam tingkah laku. Dr. Daniel Nuhamara mengatakan: Dengan metode ini Tuhan Yesus berusaha menyampaikan pengetahuan kepada murid- murid-Nya atau menafsirkan pengetahuan tersebut. Melalui pendekatan ini Ia mengharapkan dua tanggapan dari para pendengar-Nya; pengertian mendalam dan perilaku baru (Band. Khotbah di Bukit, Mat 5- 7). Melalui ceramah, Yesus juga mengajarkan serta memberikan bimbingan kepada murid-murid- Nya.6 Matius Pasal 5- 7 dalam peristiwa Khotbah di Bukit menunjukkan bahwa Yesus memakai ceramah. Pasal 5: 1-2 dikatakan: ”Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada- Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka.”