Histoire d'une jeune fille sauvage trouvée dans les bois à l'âge de dix ans

Chapter 2

Chapter 22,612 wordsPublic domain

Dari seluruh penduduk Tiongkok itu 3/4nya orang tani; yang diam di kota-kota hanya seperempatnya. Kota-kota itu padat-padat penduduknya dan kebanyakan kota yang besar-besar terletak terutama di Tiongkok Tengah dan Selatan, tempat perniagaan yang ramai. Revolusi di Tiongkok yang paling belakang dapat sokongan besar dari kaum tani yang miskin di luar kota-kota. Pegunungan dan padang pasir

Lima-perenam bagian Tiongkok itu adalah tanah pegunungan dan bukit-bukit. Selebihnya ialah lembah-lembah dan dataran-rendah yang subur. Propinsi Shantung di sebelah Timur laut, bergunung banyak dan kaya akan pelikan. Di seluruh Tiongkok Tengah dan Selatan kita berjumpa dengan barisan gunung dan bukit yang tidak banyak lagi hutannya. Di barat daya terdapat dataran-tinggi Tibet yang terpencil letaknya. Di sebelah barat (propinsi Sinkiang) ada pegunungan Tienshan yang tinggi dan menjadi batas antara Tiongkok dan Sowyet Russia. Di sebelah Utara terdapat stepa-stepa Mongolia yang luas dengan gurun Gobi.

Seolah-olah kain panjang yang koyak-koyak, demikianlah sambung-bersambung lima buah gurun pasir dengan bukit-bukitnya mleintang seluruh benua Asia dan Afrika, dari jurusan timur laut sampai ke barat daya, yang diibaratkan orang juga sebagai palung sungai yang maha besar: Gobi, Taklamakan, padang pasir Thar, padang pasir Belutsyistan, Arab dan Sahara.

Di antara padang pasir yang banyak itu adalah Taklamakan yang paling jahat dan paling kejam, menurut cerita Sven Hedin, yang menempuh daerah itu di tahun 1895. Dia bercerita sbb.:

"Pada tempat ini lekat ingatan saya yang paling mengerikan di antara segala pengalaman saya dalam 14 tahun lamanya hidup sebagai pengembara. Pada bulan April saya tinggalkan desa Merket akan menempuh Taklamakan. Pengiring saya adalah seorang pandu yang berpengalaman, empat orang bujang dan kami membawa 8 ekor unta dan perbekalan untuk dua bulan. Pada mulanya semuanya baik saja.

"Pada 23 April kami lalui sebuah danau. Di sini saya suruh orang saya mengisi tempat air untuk sepuluh hari dan setelah siap semuanya kami pun masuk lautan pasir itu, turun naik bukit pasir yang kadang-kadang sampai 60 meter tingginya. Tidak lama datanglah taufan yan gmenghembus pasir halus itu ke mana-mana dengan kuat dan terpaksalah kami menutup mulut, hidung dan telinga dengan kain, supaya jangan penuh pasir.

"Pada pagi hari saya periksa keadaan air dan saya terkejut ketika saya ketahui bahwa penunjuk jalan yang saya suruh menyimpan air untuk sepuluh hari, tidak menjalankan kewajibannya, melainkan hanya membawa perbekalan air untuk dua hari saja, sebab katanya dalam dua tiga hari lagi, kita akan sampai pada sebuah danau atau sungai. Akan tetapi setelah dua tiga hari itu lewat, ternyata tidaklah ada harapan sedikit juga akan dapat air.

"Oleh sebab itu air minuman kami bagilah seteguk-seteguk seorang sekali minum. Pada 27 April dua ekor unta terpaksa saya tinggalkan dengan banyak barang yang sayaa rasa tidak begitu perlu.

"Keesokan harinya datang pula taufan yang sangat dahsyat, sehingga siang hari itu menjadi gelap, lantaran udara penuh pasir halus dan kami terkubur dalam pasir beserta unta semuanya; untunglah sesudah itu kami dapat mengeluarkan diri dari timbunan pasir itu. Akan tetapi air minum tinggal sepertiga liter lagi. pada waktu air yang penghabisan itu dibagi-bagi, ternyata bahwa rasa haus itu tidak dapat dipuaskan.

"Tidak lama sesudah itu kami minum minyak yang telah apik dan berbau busuk. Sudah dua hari kami tidak minum air dan pikiran kami sudah kabur. Badan saya makin kering rasanya. Ada kami bawa sebotol air keras untuk minyak pembakar. Saya minum juga segelas minyak itu, selebihnya saya tumpahkan ke atas pasir sebab sama rasanya dengan racun.

"Minuman yang berbahaya itu menghabiskan tenaga saya. Waktu kafilah unta saya itu berangkat, tak dapat saya ikut lagi dengan berjalan lurus, melainkan saya merangkak. Saya dengan genta unta-unta itu nyaring bunyinya di udara, makin lama makin jauh dan kemudian hilang lenyap. Di keliling saya pasir, semuanya diam, hening, pasir, pasir, pasir, tidak lain dari pasir dan tidak ada habisnya.

"Setelah saya terbangun dan sedar lagi, saya ikutilah jejak unta-unta saya sampai ke puncak bukit dan jauh di seberang laut pasir itu, tampaklah oleh saya kafilah unta itu. Unta-unta itu meniarap di pasir. Pengiring saya yang bernama Kasim duduk di tanah, tangannya menutup mukanya, barangkali dia sudah gila. Sebentar ia menangis, sebentar lagi ia tertawa. Pengiring saya yang lain berlutut di tanah dan membaca doa, minta kepada Tuhan supaya diberi pertolongan.

"Habis akal kami maka kami sembelihlah ayam dan minum darahnya, kemudian kami potong domba dan minum darahnya, tapi rasanya pahit sekali dan busuk. anjing pun tidak mau meminumnya. Pengiring saya menampung kencing unta dan diminumnya.

"Penunjuk jalan sudah menjadi gila dan memasukkan pasir ke dalam mulutnya, katanya itu air. Dia dan Muhamad Syah meninggal di tempat itu. Malamnya Islam Bai tidak kuat lagi jalan dan tinggal sehingga saya dengan Kasim saja lagi yang dapat meneruskan perjalanan mencari air. Kerongkongan saya sangat kering, sehingga coklat yang ada dalam saku saya tidak dapat saya makan lagi.

"Pukul dua belas. Di tengah-tengah padang pasir yang luas itu kami karam seperti di laut. Kami tinggalkan unta-unta dan anjing dan jalan berdua."

Pertanian

75% dari rakyat Tiongkok bertani. Tiap-tiap telempap tanah di Tiongkok yang mencukupi syarat untuk ditanami, diusahakannya. Telah berabad-abad lamanya orang Tionghoa mengadakan pengairan secara besar-besaran dan menyelenggarakan sawah mereka dengan hemat dan teliti. Malangnya kebanyakan dari pertanian ini kecil sekali. Luasnya milik seseorang biasanya kurang dari 1½ ha dan seluruh keluarga mesti bekerja pukul rata dua belas jam sehari untuk dapat hidup.

Kebanyakan keluarga petani itu, rata-rata 5 orang jumlahnya, hanya berpendapatan dua ratus rupiah setahun. Seorang tani yang mempunyai tanah 6 hectare sudah terhitung kaya. Kebanyakan dari tanah yang luasnya beratus hectare adalah kepunyaan tuan-tuan tanah yang mempersewakan tanahnya kepada tani miskin dengan cara lintah-darat. Di zaman sebelum ada Republik Rakyat Tiongkok yang dipimpin oleh Mao Tse Tung, penjualan hasil-bumi di pasar biasanya di tangan kaum tengkulak yang kejam. Kalau tani penyewa dan berhak mempunyai bagian panen, maka penjualan itu berlaku dengan perantaraan tuan-tanah atau paduka tuan bangsawan yang empunya tanah itu. Jumlah luas tanah yang diusahakan tidaklah begitu besar kalau dibandingkan dengan penduduk yang banyak itu. Pukul rata 390 orang harus hidup dari hasil satu km² tanah yang diusahakan.

Hasil per ha 25% kurangnya dari di Amerika. Perhubungan lalu-lintas di negeri ini masih jelek, tani masih memakai cara-cara dan alat-alat yang terkebelakang. Lagipula benih dan pupuk umumnya buruk kwaliteitnya. Oleh karena serba kurang itu, kaum tani Tionghoa miskin. Kalau hujan terlampau banyak turun, dan air bah datang, maka datanglah bahaya kelaparan.

Di zaman sebelum ada Republik Rakyat pajak dan sewa-tanah sangat tinggi dan tuan-tuan tanah bengis dan kejam sekali tabiatnya terhadap orang miskin, lelaki dan perempuan. Banyak sekali penyewa tanah yang menjadi korban lintah darat yang meminta bunga amat tinggi.

Petani Tionghoa tidak cukup menghasilkan makanan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Bahan makanan harus banyak dimasukkan, terutama beras, dari Viet Nam, Siam dan Burma, gandum dari Amerika dan Kanada, dan ikan dari Daerah Selatan. Susunan pertanian Tionghoa, sampai ada pemrintah R.R.T., sifatnya masih feodal, sedang teknik dan caranya bertani masih primitif.

Dalam tahun-tahun yang baik, produksi padi adalah berjumlah kira-kira 58.000.000 ton, atau 30% dari produksi padi sedunia. Pun panen kapas besar sekali, kira-kira sama dengan India, dan kalau tahunnya baik kira-kira 20% dari produksi Amerika. Tanaman gandum banyak, hampir menyamai Amerika. Produksi jelai berjumlah kira-kira 33% dari panen gandum. Tanaman jagung (terutama untuk makanan hewan) dan tebu adalah 6% dan 1.9%, produksi kacang kedelai berjumlah 16% dari produksi sedunia. Bersama-sama dengan produksi di Mancuria, Tiongkok adalah produsen yang terbesar dari kacang kedelai ini (54%), yang penting sekali artinya bagi perlengkapan makanan, pupuk buatan dan bahan peledak. Produksi tembakau lebih dari penghasilan India. Hasil tanaman teh jauh lebih banyak dari hasil kebon teh di India dan Ceylon. Sebagian besar dari produksi teh dipakai dalam negeri. Teh adalah minuman rakyat seperti kopi di Indonesia.

Dahulu Tiongkok mempunyai monopoli dunia dalam penghasilan sutera. Pada waktu ini, meskipun pembuatan sutera itu masih penting juga, produksinya hanya 10% dari Jepang. Produksi bulu domba besar juga yaitu 60.000 ton, dan Tiongkok adalah produsen yang penting dari cemara (rambut manusia) . Pohon-pohon yang menghasilkan minyak banyak ditanam dan minyaknya dikirim ke luar negeri.

Yang penting di antara buah-buahan adalah jenis pruim yang dinamakan lici dan longan, jenis appel, nenas, kelapa, dan pisang. Tanaman jahe juga penting dan begitu pula kacang tanah.

Kalau kita melawat dari Kanton pergi ke arah utara melalui bukit-bukit dan pegunungan Tiongkok Selatan, maka kita akan tiba di lempah Yangtsekiang. Yangtsekiang berasal dari Tiongkok Barat yang bergunung-gunung. Mulai dari Tiongkok Tengah sampai ke pantai, kali ini menyebarkan tanah liat yang subur. Lereng-lereng bukit di daerah ini yang dulu ditumbuhi oleh hutan belantara, digundulkan oleh petani-petani Tiongkok. Akibatnya ialah kikis-tanah.

Agak jauh kita pergi ke utara sedikit, kita lewati pegunungan Tsinling, watas antara daerah perairan Yangtse dan Hwangho, maka terdapatlah dataran tinggi Tiongkok Utara. Di sepanjang Kali Kuning tampaklah dataran yang tidak berpohon, dataran-tinggi, yang ditimbuni oleh loess, yaitu seperti telah diceritakan terdahulu, dibawa oleh angin dari gurun Asiat Tengah. Kali-kali menghayutkan loess itu dan melahirkan dataran yang luas-luas. Yang dahulunya laut sekarang menjadi tanah daratan dan di sini petani-petani Tionghoa bekerja 14 jam sehari untuk mencari nafkahnya. Shantung yang dahulunya di zaman bahari-bumi adalah sebuah pulau, sekarang telah menjadi semenanjung.

Lebih ke utara lagi, kita melewati tembok Tiongkok yang 3000 km panjangnya, didirikan dalam abad ke-3 sebelum Masehi, mulai dari pantai sampai ia menghilang di gurun Monggoli-Dalam; sayup-sayup mata memandang ia melintasi sebelah barat pegunungan Richthofen.

Dari selatan ke utara dari timur ke barat kita jalani Tiongkok untuk mengetahui negeri dan rakyatnya, maka benarlah kira-kira 75% dari rakyat adalah petani: 375 miliun orang Tionghoa bersaungkutpaut dengan perusahaan tanah. 30% dari tani itu tanahnya kurang dari ½ ha dan yang selebihnya tidak mempunyai tanah, dan harus menyewanya dari tuan-tuan tanah.

Tiongkok adalah negeri padi yang pertama di dunia; untuk gandum, jelai, teh, dan tembakau negeri yang kedua, untuk jagung dan kapas negeri yang ketiga.

Seperti juga di Jepang, peternakan di Tiongkok tidaklah begitu penting. Petani Tionghoa jarang sekali memakan daging dan lemak hewan. Dibandingkan jumlah hewan dan penduduk, maka rata-rata 100 orang penduduk mempunyai 5 ekor sapi, 13 ekor babi dan 4 ekor domba. Hewan biasanya dipakai untuk mengangkut barang dan untuk mendapat pupuk.

Pertanian di Tiongkok itu menjadi mata-penghidupan penduduk sejak zaman purbakala. Orang yang bekerja di pertanian itu sangat banyak. Milik tanah itu terpecah-pecah hingga kadang-kadang menjadi bidang-bidang tanah sekecil-kecilnya. Pertanian di tanah-tanah yang hampir kehabisan zat-zat penghidupan tanaman-tanaman itu, memaksa mereka bertanam memakai pupuk.

Peternakan amat kurang, jika ada amatlah kurang penyelenggaraannya. Adapun sebabnya ialah: amat banyak tenaga yang dipergunakan untuk memelihara perhumaan sehingga tidak ada waktu lagi untuk mengerjakan peternakan yang sungguh-sungguh; orang yang turut makan hasil pertanian amat banyaknya; segala usaha harus dipusatkan pada usaha menghasilkan hasil padi, kacang, gandum, sayur dsb, sehingga tak [ada] kesempatan lagi untuk usaha memperoleh makanan daging. di daerah itu tidak cukup rumput; peternakan mereka hanya terbatas pada binatang-binatang yang mudah pemeliharaannya (kerbau, babi, ternak bersayap); karena kurangnya pupuk tahi binatang, mereka mempergunakan pupuk kotoran manusia. Binatang unta, kuda, kerbau, sapi gunanya untuk penarik pedati, bukan untuk dimakan.

Orang Tionghoa itu terkenal sebagai tani yang rajin dan hemat-cermat sekali, perkebonannya sangat terpelihara. Pekerjaan itu dilakukannya dengan tangan, tidak memakai mesin. Ia merasa sudah memadai, jika ia bekerja dengan perkakas-perkakas tani yang amat bersahaja; bibit ditanamnya, ditimbuninya dengan pupuk, bukan ditaburkan.

Ia tidak mengenal payah, mencurahkan segala tenaganya lebih dari mesin. Dalam segala pekerjaan itu diikutinya jejak nenek moyangnya, terutama yang mengenai perairan. Walaupun serajin dan sehemat itu si tani bekerja, hasilnya tidak juga mencukupi.

Meskipun petani itu amat rajin bekerja, meskipun sangat banyak pula pekerja yang tersedia untuk pertanian, hasilnya tidaklah seimbang dengan usaha yang dicurahkannya (19 kwintal se-ha, di Indonesia 20 kw, di Jepang 30 kw); adapun sebabnya ialah, karena tekniknya dan pupuknya kurang dan akhirnya karena mereka itu miskin (sewa tanah terlampau tinggi).

Inilah keadaan yang menyebabkan mudahnya berjalan pembrontakan kaum tani terhadap pemerintah Tsyiang Kai Syek. hasil pertanian mereka itu tidak dapat senantiasa memenuhi kebutuhan di dalam negeri, tak dapat pula dijadikan mata perniagaan, karena buruk jenisnya; lain daripada itu jumlah produksinya pun kurang. Kapasnya kasar, pemeliharaan sutera dan pemungutan daun teh tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan.

Sebab itu dari negeri Tiongkok yang sudah pula kebanyakan penduduk itu, apabila dilihat nasibnya, tidaklah mengherankan mengapa banyak orang yang merantau. Orang Tionghoa yang melarat itu mudah benar meninggalkan kampung halamannya untuk mencari uang dan pulang lagi kelak ke negerinya; apabila ia merantau ke Mancuria, di sana ia menetap menjadi orang tani (jumlah kaum perantau ke sana ada 30 juta orang), tetapi di Indonesia dan lain-lain tempat di dunia ia terutama berkuli atau menjadi saudagar dan di atntaranya banyak juga yang kaya-raya.

Kaum perantau itu tingkatan kehidupannya pada mulanya rendah, hingga mereka merasa puaslah dengan upah yang rendah-rendah. Berhubung dengan itu , di negeri-negeri Amerika Serikat, Canada, Australia diadakan oleh pemerintah negara-negara tersebut, undah-undang yang melarang pekerja Tionghoa menetap di negeri-negeri itu.

Orang Tionghoa tahan hidup di segala iklim sebab bagian yang terbesar dari Tiongkok terletak di daerah iklim-sedang di sebelah utara, dan sebagian kecil di sebelah selatan beriklim tropika, sedang penduduk di Tiongkok Utara biasa hidup di iklim dingin yang ganas. Di Tiongkok Utara turun hujan sedikit, istimewa dalam musim panas. Pada umumnya mereka tahan iklim yang bersamaan dengan iklim Amerika Serikat bagian utara, sebab menurut letak lintangnya sama letaknya dnegan daerah Lautan Tengah dan Amerika Serikat.

Di daerah yang gundul di padang-padang pasir tidak ada pohon-pohonan dan rerumput sedikit jua pun. Di sini sering terjadi topan pasir.

Ada empat daerah-pertanian, semuanya di dalam daerah pengaliran kali-kali besar itu. Di sebelah utara; lembah Kali Kuning; inilah bagian Tiongkok yang tua sekali dan tempat kelahiran peradaban Tiongkok. Lembah Yangtsekiang, daerah yang paling kaya dan subur dari seluruh Tiongkok; pusat penanaman kapas, sutera dan padi. Terutama yang menarik perhatian sekali ialah daerah di dekat nanking dan Syanghai, di dekat pantai; sebab penduduknya rapat sekali dan pusat yang terpenting dari ekrajinan dan perniagaan. Di sebelah selatan yang rapat pula penduduknya distrik kanton yang berbukit; kali-kali banyak di sini; di lembah-lembahnya ditanami orang tanam-tanaman sub-tropika seperti: teh, padi dan buah-buahan. 'Lembah Merah' di propinsi Szecwan; pusat penanaman sutera, kapas dan padi. Pemerintah pada waktu ini mendirikan kperasi untuk menyokong perkembangan industri dan pertanian. Szecwan tidak pernah diduduki oleh orang Jepang.

Daerah pertanian yang mepat ini adalah pusat hidup ekonomi rakyat Tiongkok, sedang daerah batas Mancukwo, di waktu belakangan ini pesat sekali majunya tentang industri.

Menurut dongeng lama dari bangsa Tionghoa beribu-ribu tahun yang lewat ada seorang raja Tionghoa bernama Syen-Nung yang pandai bercocoktanam dan raja itulah [yang] mengajarkan rakyatnya bagaimana mengusahakan, tanah, menyemai padi dan memungut hasil tanah. Akibat pelajaran itu besar sekali. Bangsa Tionghoa asli itu tidak lagi hidup bertualang, melainkan menetap di tepi-tepi sungai, berkampung berkorong, dan menjadi bangsa tani terutama di dataran sungai Hwangho.

Pada zaman itu tani Tionghoa telah mengetahui, bahwa tanam-tanman itu menghabiskan zat-zat tanah untuk menghasilkan buah-buahannya, dan oleh karena itu perlu tanah itu setiap tahun dipupuk. Pupuk itu diambil dari segala barng yang dibuang oleh hewan dan manusia, sampah-sampah yang membusuk dan bangkai-bangkai. Segala itu dihancurkannya dnegna api dan abunya disebarkannya di atas ladang. Syen-Nung mengajar rakyat mengadakan pengarian (irigasi) dengan membuat kincir-kincir air dan saluran-saluran. Berkat ajaran raja itu senang dan makmurlah rakyat, sehingga makin lama jumlahnya bertambah juga.

Mereka makin perlu akan tanah peladangan dan ada yang boyong ke selatan sampai ke tepi sungai Yangtsekiang. Oleh sebab rakyat makin lama makin besar jumlahnya dan tempat kediamannya makin jauh dari pusat, perlulah ada pemerintahan negeri yang teratur, perlu pegawai-pegawai dan undang-undang.

Pemimpin baru timbul sesudah Syen-Nung, yang bergelar Huang-Ti (Kaisar Kuning), dialah yang menyatukan bangsa Tionghoa, dan membuat jalan-jalna untuk memperhubungkan seluruh Tiongkok dan mengajar rakyat membuat kapal. Raja itulah yang termashur di zaman itu karena memajukan peradaban Tionghoa. 2700 tahun yang lewat.

Industri, Pelikan dan Lalu Lintas

Adat Istiadat Sebelum dan Sesudah Revolusi

Hal Pemerintah

Bahsa dan Pustaka

Falsafah dan Kesenian

Dinamika Penduduk Tionghoa

Sejarah Tiongkok

Bentuk Hidup Republik Rakyat

Kata Penutup

Category:Tiongkok