Tidak Ada Kontra Revolusi Bisa Bertahan
Part 2
Dasar kita keempat: Kedaulatan Rakyat. Ya memang kita ini, saudara-saudara, ingin menjalankan demokrasi, dan memang dasar kita ini ialah demokrasi. Sebagai dikatakan oleh Ibu Rasuna Said tadi, kita ini bangsa menjalankan demokrasi. Sudah mempunyai DPR hasil pemilihan umum, sudah mempunyai Konstituante dengan pemilihan umum. Kalau sesuatu golongan daripada bangsa Indonesia, tegasnya kalau Sjafruddin tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, kalau Achmad Husein tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, kalau Simbolon tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, kalau Sumitro tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, kalau Dahlan Dj ambek tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, gerakkanlah DPR, Parlemen itu, supaya mengadakan mosi tidak percaya kepada Pemerintah sekarang ini, supaya menjatuhkan Pemerintah sekarang ini. Ini jalan yang demokratis, saudara-saudara, melalui Parlemen. Tetapi mereka tidak melalui Parlemen. Mereka mengadakan ultimatum, mereka mengadakan proklamasi PRRI. Ini adalah peng-khianatan! Pengkhianatan daripada Proklamasi! Bahkan aku berkata, pengkhianatan kepada jiwa Indonesia yang demokratis! Pengkhianatan kepada Marhaen, kepada rakyat jelata, kepada pemuda yang telah bertempur mati-matian unluk mengadakan negara demokratis ini, saudara-saudara. Ibu Rasuna Said berkata: PRRI bukan pemerintah revolusioner Republik Indonesia, tetapi pemerintah reaksioner Republik Indonesia. Sebenarnya lebih daripada reaksioner. Ini bukan reaksioner saja, ini adalah kontra-revolusioner!
Yah, di dalam tiap-tiap revolusi ada kontra-revolusi. Kita mengalami kontra-revolusi beberapa kali. revolusi Sovyet mengalami kontra-revolusi beberapa kali. revolusi RRT meng-alami kontra-revolusi. revolusi Perancis mengalami kontra-revolusi. Revolusi Mesir mengalami kontra-revolusi, saudara-saudara. Tiap-tiap revolusi mengalami kontra-revolusi. Tetapi jikalau rcvolusi itu benar-benar revolusi, artinya benar-benar tindakan daripada rakyat jelata yang ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan-jutaan. Jikalau revolusi itu benar-benar massal, saudarasaudara. Tidak ada satu kontra-revolusi bisa bertahan. Tidak ada. Maka oleh karena itu saya berkata, jikalau rakyat Indonesia ini seluruhnya, rakyat jelata setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945, kontra-revolusi akan lenyap dari muka bumi ini. Dan kita akan menghadapi zaman yang gilang-gemilang. Kita, saudarasaudara, bangsa di dalam revolusi yang berjalan terus, yang sebagai kukatakan, for a fighting nation there is no journey's end, buat bangsa yang berjuang tidak ada yang dinamakan berhenti. Tidak! Kita berjalan terus.
Yah, kita sekarang mengalami kontra-revolusi. Kita berjalan terus. Dan Insya'allah s.w.t., dengan semangat rakyat jelata sebagai yang saya lihat di Bandung sekarang ini, Insya'allah kita akan mencapai apa yang hendak kita capai. Kita hendak capai satu Negara Republik Indonesia dengan di dalamnya satu masyarakat yang adil dan makmur yang memberi kebahagiaan kepada seluruh rakyat Indonesia yang 82.000.000 ini. Kita menjalankan politik bebas.
Aku di luar negeri, 40 hari lamanya, melihat dengan mata kepala sendiri, saudara-saudara, Sumual c.s. itu sakunya penuh dengan uang. Nah inilah katanya barter, barter katanya. Dijual kopra dari Minahasa itu untuk rakyat Minahasa. Omong kosong! Uang dari hasil penjualan kopra ini masuk dalam kantongnya petualang-petualang itu, saudara-saudara. Dan saya membaca sendiri di dalam surat kabar, petualang-petualang itu tiap-tiap sore pergi. per`gi ke tempat-tempat kesenangan, nightclubs, traktir mereka, bclikan mobil mereka. Kantong mereka penuh dengan uang saudara-saudara. Dan aku melihat sendiri, saudara-saudara. bahwa ada petualang-petualang asing menunggangi mereka itu. Malah ketika aku menjalankan perjalanan ke India, ke Mesir, ke Yugoslavia, ke Ceylon, ke Pakistan, ke Burma, ke tempat-tempat lain, aku mendapat pengertian, diberi mengerti oleh beberapa kawan-kawan, bahwa ada petualang-petualang asing yang sudah tidak senang lagi dengan apa yang dinamakan oleh mereka netralisme kita, -saya tadi berkata, politik kita dinamakan politik netral – kita ini dikatakan menjalankan politik netralisme, policy of neutralism – dikatakan oleh mereka itu, saudara-saudara, yaitu kawan-kawan kita itu, sekarang ini sudah ada golongan petualangpetualang asing yang tidak senang lagi dengan politik netral kita. Dulu mereka itu senang, cukup senang, kalau Indonesia netral. Cukup senang kalau India netral. Cukup senang kalau Burma netral. Cukup senang kalau Mesir netral. Cukup senang kalau Siria netral. Cukup senang kalau Langka netral. Asal tidak ikut blok itu. tetapi sekarang timbul petualang-petualang yang sudah tidak senang lagi kepada netralisme kita. Mereka hendak menyeret kita, memasukkan kita, atau sebagian daripada kita ke dalam salah satu blok.
Oleh karena itu, di dalam amanat saya pada tanggal 21 Februari, tatkala saya menerima kembali jabatan Presiden dari tangannya Bapak Sartono, saya berkata: perbuatan Akhrnad Husein c.s. ini, adalah satu penyelewengan daripada Proklamasi dan bukan saja itu, tetapi adalah anasir-anasir asing, usaha-usaha asing mau memasukkan Indonesia atau sebagian daripada Indonesia itu ke dalarn salah satu blok. Dan ini aku lihat dengan mata kepala sendiri, saudara-saudara, tatkala aku di luar negeri, bagaimana Surnual, bagaimana Pantouw, bagaimana Walandouw dan konco-konconya itu ditunggangi sama sekali oleh petualang-petualang ini. Dibesar-besarkan hatinva. dihasut-hasut. bahkan diberi apa-apa, saudara-saudara. Tentang hal Sumual. ketika aku di Tokio. dia sudah ada di Tokio. Aku lihat dengan jelas dengan bukti, dia di Tokio itu bukan sekadar untuk mengadakan kampanye hasutan terhadap Republik, hasutan terhadap Pernerintah Pusat di Jakarta, hasutan terhadap Presiden Sukarno. Bukan saja itu, di Tokio ia mengadakan kontak dengan seorang petualang Jepang – jangan salah mengerti – petualang Jepang, – pada umumnya rakyat Jepang, saudara-saudara, ramah-tamah, cinta kepada Republik Indonesia, – tetapi di dalam tiap-tiap bangsa ada petualng-petualangnya, tiap-tiap bangsa. Lha ini petualang Jepang kontak dengan Sumual. Sumual dengan petualang Jepang ini mengadakan pembicaraan, perundingan. Sumual hendak membeli senjata, dibayarnya dengan kopra barter. Senjata ini untuk apa? Untuk menggempur Republik, saudara-saudara!
Apa terjadi? Bicara sudah matang, di dalam bahasa asing tempo hari saya katakan, pembicaraan ini sudah in kannen en kruiken. Tinggal lagi ditandatangani kontraknya ini, sekian ribu senjata, saya bayar dengan sekian ribu karung kopra. Sudah hampir ditandatangani, ada petualang dari bangsa lain berkata kepada Sumual "buat apa beli senjata dari Jepang, Jepang itu jauh dari Indonesia. Kamu bisa dapat senjata dari satu tempat yang lebih dekat dari Indonesia. Batalkan engkau punya perjanjian dengan .lepang ini. Ambillah senjata yang dari kami, dekat dari Indonesia". Sumual, saudara-saudara, lantas batalkan perundingannya dengan pihak petualang Jepang ini. Apa terjadi? Petualang Jepang ini menjadi marah, surat-suratnya diberikan kepada orang Jepang lain, dengan permintaan supaya diteruskan kepada Presiden Soekarno. Nah, kawan Jepang ini memberikan sernua surat Sumual itu kepada Presiden Soekarno, sehingga terbukti hitam di atas putih, saudara-saudara. Bukan saja satu surat, beberapa surat dengan fotokopi-fotokopinya sama sekali, bahwa Sumual di Tokio hendak membel i senjata untuk menggempur Republik. tetapi ganti dengan usaha mcndapat senjata dari tempat yang lebih dckat daripada Indonesia untuk menggempur Republik.
Coba, pengkhianatan atau tidak ini, saudara-saudara. Maka oleh karena itu saya tadi berkata: kita berjalan terus, berjalan terus. Asal rakyat Indonesia bersatu padu, asal rakyat jelata Indonesia bersatu padu, biar mereka mengadakan usaha yang demikian itu, saudara-saudara, akhirnya toh Insya'allah s.w.t. digiling mereka itu oleh rakyat jelata, oleh karena memang rakyat jelatalah tenaga daripada revolusi.
Kita ini, saudara-saudara, di dalam cobaan. Tetapi sebagai berulang-ulang saya katakan, yang sudah diulangi oleh Ibu Rasuna Said tadi, kalau kita, saudara-saudara, tetap kompak, tetap bersatu padu, kita Insya'allah kuat menghadapi segala cobaan. Dan memang cita-cita kita, saudara-saudara, belum tercapai. Bukan saja memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik, tetapi juga mengadakan pembangunan demikian rupa, sehingga terselenggaralah satu masyarakat yang adil dan makmur sebagai yang dicita-citakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Yah, kita mengetahui, kami daripada pihak Pemerintah mengetahui bahwa cita-cita sosial kita, masyarakat adil dan makmur itu belum tercapai. Tetapi janganlah kita lupa saudarasaudara, bahwa masyarakat adil dan makmur hanyalah bisa diselenggarakan oleh satu bangsa yang kompak dengan satu Pemerintah Pusat yang kuat. Jangan kira, saudara-saudara, bahwa masyarakat adil dan makmur itu bisa diselenggarakan, kalau kita selalu terpecah belah, kalau kita antara partai dengan partai selalu bertempur, jikalau kita di dalam masa merdeka yang 12 tahun ini, melalui 17 kali Kabinet, tiap kali ganti kabinet. Tak mungkin masyarakat adil dan makmur bisa diselenggarakan dengan keadaan yang demikian itu. Maka oleh karena itu saya, saudarasaudara, minta kepada semua partai-partai untuk bersatu padu. Kita menghadapi zaman yang sulit dan zaman vang sulit ini hanya bisa kita atasi kalau kita bcrsatu padu. kalau kita berdiri bulat di helakang Pemerintah yang sekarang ini. Kalau nanti, saudarasaudara, kita sudah mengatasi kesulitan-kesulitan ini, pembangunan bisa betjalan dengan sehebat-hebatnya, agar supaya cita-cita sosial kita tercapai, agar supaya engkau bisa hidup dalam suasana yang engkau cita-citakan: perumahan layak, makan cukup, sandang cukup, anak-anak bersekolah, pendek rakyat Indonesia, saudara-saudara, menjadi satu rakyat yang benar hidup di dalam kesejahteraan dan kemakmuran. Janganlah sampai kita mengalami sebagai yang sekarang ini, sebagai dikatakan oleh Ibu Rasunah Said. Malu kita, saudara-saudara, kalau di luar negeri digambarkan Indonesia terpecah-belah, Indonesia lemah, Indonesia cakarcakaran satu sama lain, bahkan di kalangan bangsa Indonesia ada pengkhianat-pengkhianat, petualang-petualang. Aku di luar negeri, saudara-saudara, merasa terharu benar-benar, dan sebagai kukatakan di dalam pidato 16 Februari yang lalu, tatkala aku baru turun dari kapal udara, aku telah berkata: Semua bangsa yang kukunjungi ikut-ikut mendoa agar supaya Indonesia lekas kuat, lekas kompak, lekas bersatu padu, lekas mempunyai Pemerintah Pusat yang tenaganya bisa menyeleng-garakan rakyat bekerja keras untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Tetapi tidak cukup dengan doanya kawan-kawan. Tidak cukup dengan doanya Nehru, tidak cukup dengan doanya Gamal Nasser. Tidak cukup dengan doanya Tito, dengan doanya Kuatly, dengan doanya Bandaranaike, dengan doanya U Nu, dengan doanya pemimpin-pemimpin di luar negeri. Tidak cukup! Kita sendiri, saudara-saudara, harus menyingsingkan lengan baju kita. Di sini saya selalu mensitir firman Allah s.w.t.: Tuhan Allah tidak merubah nasib sesuatu bangsa, kalau bangsa itu sendiri tidak merubah nasibnya. Seperti didoakan oleh Nehru seribu kali satu hari, seperti didoakan oleh Gamal Nasser seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh Soukrv el Kuatly dari Siria seribu kali satu hari, nieskipun didoakan oleh Marsekal Tito seribu kali sehari, meskipun didoakan olell Bandaranaike dari Kolombo seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh U Nu dari Rangoon seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh Presiden Eisenhower seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh Worosilov seribu kali satu hari, saudara-saudara, agar supaya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat, kalau bangsa Indonesia sendiri tidak menyelenggarakan, berikhtiar, mernbanting tulang, mengulurkan tenaganya, memeras keringatnya, agar menjadi bangsa yang kuat, bangsa Indonsia tidak bisa menjadi bangsa yang kuat.
Inilah amanat saya kepada saudara-saudara.
Mari, hai, rakyat Indonesia, mari hai rakyat Bandung, kita bekerja terus, berjalan terus, dengan dasar Proklamasi 17 Agustus 1945, Proklamasi keramat dan kita tidak mengakui proklamasi lain daripada proklamasi yang satu ini, Proklamasi 17 Agustus 1945.
Sekian.
(Diambil secara stenografis)