Tidak Ada Kontra Revolusi Bisa Bertahan

Part 1

Chapter 13,224 wordsPublic domain (Wikisource)

__NOTOC__ __NOEDITSECTION__

TIDAK ADA KONTRA REVOLUSI BISA BERTAHAN Amanat Presiden Soekarno Pada Rapat Pancasila di Bandung Tanggal 16 Maret 1958

Saudara-saudara

Baru sekarang sesudah saya datang kembali dari luar negeri, saya berjumpa lagi dengan saudara-saudara Rakyat Bandung dan sekitarnya. Saya mengucap terima kasih kepada saudara-saudara sekalian bahwa saudara-saudara telah datang di sini berbondongbondong dengan jumlah lebih dari 1 juta manusia untuk bersamasama menyatakan isi hati saudara-saudara. Isi hati bersatu padu sebagai satu Bangsa yang cinta pada kemerdekaan. Isi hati bersatu padu setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945. Dan saya amat bergembira pula pada ini hari, datang di Bandung bersama-sama dengan Ibu Rasuna Said yang oleh pemimpin rapat dengan tepat telah dikatakan Srikandi Indonesia. Saudara-saudara, tahukah engkau sekalian bahwa Ibu Rasuna Said telah berpuluh-puluh tahun lamanya berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, berjuang untuk utuhnya negara, yang kita proklamirkan 17 Agustus 1945. Bahkan waktu beliau masih muda, beliau telah berjuang sekuatkuat tenaga untuk mernerdekakan tanah air kita. Beliau adalah pernimpin wanita Indonesia yang pertama yang dijebloskan oleh imperialis asing ke dalam penjara. Saya bergembira ini hari datang di Bandung bersama-sama dengan beliau. Bergembira oleh karena dengan adanya beliau di Bandung ini, ternyata sebagai tadi dinyatakan oleh beliau bahwa apa yang telah diperbuat oleh Achmad IIusein c.s., oleh Sjafruddin Prawiranegara c.s. sama sekali pada hakekatnya bukan kehendak daripada rakyat Minangkabau, tetapi hanyalah perbuatan petualang-petualang belaka.

Saudara-saudara, Ibu Rasuna Said tadi berkata bahwa beliau tiap-tiap kali beliau meninggalkan Tanjung Priuk untuk pergi ke luar negeri, beliau adalah dipandang oleh orang sebagai orang Indonesia. Benar ucapan Ibu Rasuna Said itu. Uemikian pula sava, saudara-saudara, yang berulang-ulang pula meninggalkan tanah air "menjajah desa hamilang kori", datang ke mana-mana, tiap-tiap kali saya di luar negeri, bukan saja orang luar negeri memandang kepada saya sebagai orang Indonesia, tetapi j ustru di luar negeri itulah saudara-saudara, saya merasa diri saya orang Indonesia yang benar-benar cinta kepada Indonesia, dan malahan saya bisa berkata kepada saudara-saudara, tiap-tiap kali saya melihat bendera Sang Merah Putih berkibar, bukan saja di Washington, tetapi juga di Moskow, di London, di Paris, di Cairo, di New Delhi, di Peking dan tempat-tempat yang lain-lain, hati saya lebih besar daripada gunung Malabar yang ada di Selatan kita ini, saudarasaudara.

Saya sudah melihat tiga-per-empat daripada dunia. Melihat Amerika Serikat, melihat Kanada, melihat Switserland, melihat Jermania, melihat Italia, melihat Austria, melihat Sovyet Unie, melihat Mongolia, melihat RRT., melihat Jepang, melihat Vietnam, melihat Philipina, melihat Thailand, melihat Burma, melihat India, melihat Selandia, melihat Pakistan, melihat Mesir, melihat Libanon, melihat Siria, melihat negara-negara lain, negeri-negeri lain, dan tanah air orang lain. Tetapi dengan bangga dan tegas saya bisa berkata: tidak ada satu negeri di dunia ini yang secantik, semolek, sekaya Indonesia. Oleh karena itu, maka tiap-tiap kali saya di luar negeri, makin cintalah saya kepada Indonesia. Apalagi jikalau saya duduk di kapal terbang, terbang di angkasa, menengok ke bawah, misalnya di daerah-daerah padang pasir, baik daripada Sentral Asia maupun di tempat yang lain-lain, rindu pada tanah air, melihat negeri orang lain: pasir, batu, pasir, batu, pasir, batu. Ingatlah saya kepada tanah air saya. Hijau, molek, cantik, kata orang Jawa: ijo royo-royo kadia penganten anyar. Cinta kepada tanah air. Maka oleh karena itu. saya vang juga sebagai Saudara Rasuna Said tadi katakan. juga orang Islam, sayapun merasa nasional di dalam arti saya sehebat-hebatnya.

Tentang perjalanan ke tanah-tanah orang lain. belakangan ini saya mengadakan perjalanan ke negeri Asia dan Afrika. Dulu saya mengadakan perjalanan ke Amerika, dan dunia yang dinamakan dunia barat. Saya hendak ceritera kepada saudara-saudara, bahwa pada satu hari saya diminta untuk memberi jawaban atas beberapa pertanyaan yang diajukan kepada saya oleh pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi Amerika. Diadakan satu rapat kecil, wakil-wakil pemuda dan wakil-wakil pemudi berkumpul di situ. Saya diundang di dalam rapat itu dan mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan pertanyaan-pertanyaan itu harus saya jawab di dalam rapat yang saya hadiri. Dipotret, difilm, disiarkan dengan radio dan diadakan televisi pula. Rapat yang demikian ini, tanya jawab dengan pemuda dan pemudi adalah satu bagian daripada siaran televisi yang bernama "Youth want to know" – pemuda dan pemudi ingin tahu. Saya diundang untuk hadir di dalam rapat "Youth want to know" itu, dan saya datang.

Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada saya adalah sebagai berikut: -baik sekali saudara-saudara ketahui -ditanyakan kepada saya: "Presiden Soekarno, kenapa Presiden Soekarno mengadakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945?" Sekali lagi: "Kenapa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu Excellentie adakan pada tanggal 17 Agustus 1945?" Yaitu beberapa hari sesudah Jepang menekuk lutut di dalam peperangan dunia yang kedua. Artinya pertanyaan ini, saudarasaudara, ialah apa sebab Proklamasi Kemerdekaan itu tidak diucapkan oleh Bung Karno, Bung Hatta, pada tahun 1940, atau tahun 19′ )0 atau tahun 1929, kenapa 17 Agustus 1945. Saya merasa, ini adalah satu pertanyaan untuk memancing satu pengakuan. Sebab katanya, Kemerdekaan Indonesia ini pemberian dari Jepang. Bahwa tatkala Jepang telah menekuk lutut, kemerdekaan ini diberikan kepada bangsa Indonesia.

Saya kira inilah maksud daripada pertanyaan itu. Dan saya beri pcnjelasan yang tegas: kami, kataku, mengadakan Proklamasi Kernerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, oleh karena pada waktu itu imperialisme sedang lemah. retak, hancur lebur. Inilah sebabnya kami mengadakan Proklamasi itu tidak pada tahun 1940, pada waktu imperialisme sedang kuat sentosa, pun tidak pada tahun 1930 pada waktu imperialisme sedang kuat. Maka itu kita mengadakan proklarnasi pada saat imperialisme lemah, pada saat imperial-isme tiada bertenaga. Nah, sesudah peperangan dunia yang kedua Belanda berantakan, imperialisme Belanda hancur lebur, Jepang lemah pula, oleh karena telah mendapat pukulan. Saat itulah saat yang terbaik untuk mengadakan proklamasi.

Ini adalah siasat politik yang hebat sekali, saudara-saudara, dan memang kita bicarakan terlebih dahulu dengan pemimpinpemimpin, bahkan di dalam tahun 1929 telah saya katakan, tahun 1929 tatkala saya masih menjadi penduduk Bandung, pada waktu itu, di dalam tahun 1929 saya berkata: Awas, imperialisme! Awas, jikalau nanti pecah perang pasifik, jikalau nanti pecah perang dunia yang kedua, jikalau nanti Lautan Teduh merah dengan darah manusia, jikalau nanti tanah-tanah di sekeliling Lautan Teduh menyala-nyala dengan api peperangan, pada saat itulah Indonesia menjadi merdeka. Ini saya ucapkan dalam tahun 1929. Dan kawankawan saya dari Bandung mengetahui bahwa justru karena ucapan inilah, saya ditangkap, dimasukkan ke dalam kandang.

Saudara-saudara, memang siasat politik harus dernikian. Jikalau hendak mengadakan proklamasi kemerdekaan, carilah saat yang imperialisme itu lemah berantakan. Ini terjadi dalam tahun 1945. Tegasnya, bulan Agustus 1945. Tetapi kecuali daripada itu, saudara-saudara, lama sebelum itu telah menjadi pemikiran kami, pemimpin-pemimpin. bahwa jikalau kami hendak memproklamirkan satu negara merdeka, lebih dahulu harus dipcnuhi beberapa syarat wntuk negara. 1'idak bisa, kita mengadakan proklamasi itu meskipun imperialisme berantakan. Tidak bisa kita mengadakan satu negara jika tidak sudah dipenuhi syarat-syarat untuk negara. Apa syarat untuk negara, saudara-saudara? Syaratnya adalah tiga. Negara, pertama syaratnya ialah harus mempunyai wilayah. Wilayah yang tegas dapat ditaruh di atas kaart. Bisa dipetakan. Wilayah yang di dalam bahasa asing dinamakan territoor. Dan cita-cita kami, sebagai bangsa Indonesia, cita-cita kita, juga bukan suatu negara sembarangan, saudara-saudara, tetapi suatu negara yang besar, yang kuat, sentosa, modern, up to date, dan satu negara yang bisa mendatangkan kebahagiaan kepada rakyat. Satu negara yang bisa di dalamnya diisikan satu masyarakat yang adil dan makmur. Bukan satu negara kapitalis. Bukan satu negara kemiskinan. Bukan satu negara yang rakyatnya tidak bisa makan dengan cukup. Bukan satu negara yang rakyatnya tidak hidup dengan bahagia. Tetapi satu negara besar dan masyarakat adil dan makmur di dalamnya.

Ini kami pikirkan mengenai wilayah itu tadi. Dan kami, pemimpin-pemimpin, sampai kepada satu kesimpulan, bahwa jikalau kita ingin mempunyai satu negara yang di dalamnya satu masyarakat yang adil dan makmur, haruslah negara itu berwilayah seluruh Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Apa artinya saudara-saudara? Tidak bisa kita mengadakan satu negara yang bisa memberi masyarakat adil dan makmur jikalau wilayahnya tidak dari Sabang sampai ke Merauke. Artinya, misalnya negara Jawa sendiri, umpamanya, tidak bisa menyelenggarakan satu masyarakat yang adil dan makmur. Demikian pula Sumatera umpamanya berdiri sendiri sebagai negara, tidak bisa menyelenggarakan satu masyarakat yang adil dan makmur. Kalimantan tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Sulawesi tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Bali tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Sumbawa tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Priangan tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Madura tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Hanya negara yang berwilayah dari Sabang sampai ke Meraukelah bisa menyelenggarakan masyarakat yang adil dan rnakmur, oleh karena daerah-daerah ini daerah Jawa, daerah Sumatera, daerah Kalimantan, daerah Sulawesi, daerah Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, yaitu kepulauan Sunda Kecil yang dulu dinamakan demikian, sekarang dinamakan Nusa Tenggara, daerah Halmahera, daerah Maluku Tengah, Ambon, Saparua, Nusa Laut, daerah Irian Barat dan lain-lain sebagainya harus isi-mengisi satu sarna lain. Jikalau sesuatu daerah berdiri sendiri, saudara-saudara, tak mungkin menyelenggara-kan masyarakat yang adil dan makmur itu.

Nah, jadi ditinjau oleh pemimpin-pemimpin kita: bisakah kita nanti mengadakan satu negara besar, modern, up to date, yang wilayahnya dari Sabang sampai ke Merauke? Kami pikir, kami tinjau, dan jawab kami: Ya! Kami dapat, kita dapat mengadakan negara yang demikian itu, berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke. Ialah oleh karena di dalam sejarah Indonesia, dahulu kitapun pernah mempunyai negara yang demikian itu, malahan wilayahnya lebih besar daripada apa yang dinamakan Hindia Belanda. Pernah pula mempunyai negara lain, yaitu Sriwijaya, yang wi layahnya hampir sama dengan apa yang dinamakan Hindia Belanda. Jadi menurut sejarah, negara yang berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke, bisa diadakan. Demikian pula, saudara-saudara, sejarah pergerakan Indonesia menunjukkan bahwa daerah-daerah ini memang makin lama makin kembali ke dalam rasa persatuan Indonesia. Jadi tentang hal persoalan yang pertama, vaitu apakah bisa diadakan satu wilayah. satu territoor bagi negara, jawahnya ialah tegas: ya, kita bisa mengadakan wilavah atau territoor itu.

Syarat yang kedua daripada sesuatu negara, saudara-saudara, ialah bahwa di atas territoor itu harus ada rakyatnya. Kalau tidak ada rakyatnya tidak bisa menjadi negara. Coba umpamanya saudara mengadakan satu proklamasi di padang pasir, hendak mengadakan negara di padang pasir, walaupun wilayahnya ada, yaitu padang pasir, tetapi tidak ada rakyat di atasnya, saudarasaudara, tidak mungkin menjadi satu negara. Dan bukan rakyat sembarang rakyat, tetapi rakyat yang merasa dirinya bersatu padu, rakyat yang merasa dirinya telah menjadi satu bangsa, bukan dua, bukan tiga, bukan empat, satu bangsa. Inipun diselidiki oleh kami, pemimpin-pemimpin, dipikir, di-tinjau, bahkan di dalam tahun 1945, saudara-saudara, dikumpul-kan pemimpin-pemimpin, bersama meninjau soal ini dan ternyata: rakyat Indonesia yang terserak di pulau-pulau Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke, yang berdiam di atas 3.000 pulau, – jumlah pulau di Indonesia lebih dari 10.000, saudara-saudara, – tetapi rakyat yang berdiam di atas 3.000 pulau, rakyat Indonesia yang berpuluh-puluh juta ini, walaupun diam terserak-serak atas 3.000 pulau, sehingga sebagai tempo hari saya katakan, pernah seorang wartawan berkata bahwa Indonesia adalah the most broken up nation in the world, satu negeri, satu bangsa yang paling terserak-serak rakyatnya saudarasaudara. Meskipun rakyat Indonesia berdiam di atas 3.000 pulau, ternyatalah bahwa Indonesia telah mempunyai rasa satu bangsa. Bahkan pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh pemuda-pemudi kita diikrarkan rasa ini, sebagai ikrar pemuda yang termasyhur: satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa. Dengan keyakinan inilah saudara-saudara, maka pertanyaan yang kedua dijawab oleh kami: Ya! kami telah menjadi satu bangsa.

Syarat ketiga bagi negara ialah apakah bisa diadakan Pemerintah Pusat apa tidak? Pernerintah Pusat vang satu. Bukan dua. bukan tiga. bukan empat. Jawab kamipun: bisa diadakan Pemerintah Pusat yang satu. ‘I'atkala kami berkumpul, pemimpinpemimpin dari seluruh Indonesia, di dalam bulan Agustus saudarasaudara. sebelum mengadakan proklamasi, spesial soal ini ditinjau antara kita dengan kita. Dapatkah kita memenuhi syarat ketiga daripada sesuatu negara? Yaitu adanya satu Peinerintah Pusat. Dan jawab daripada sidang itu ialah: dapat Indonesia mengadakan satu Pemerintah Pusat. Sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, saudara-saudara, atau lebih tegas, pada tanggal 16 Agustus, pemimpin-pemimpin yang berkumpul di Jakarta itu, semuanya berkeyakinan, tiga syarat daripada negara bisa dipenuhi, territoor ya, bangsa ya, Pemerintah Pusat ya. Maka pada malam 16 malam 17 ditandatanganilah Proklamasi kemerdekaan Indonesia, dan pada tanggal 17 Agustus 1945 dibacakan di muka umum: -Kami Bangsa Indonesia sejak saat sekarang ini merdeka, mendirikan satu negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nah, saudara-saudara, tiga syarat ini berjalan, territoor, wilayah Republik Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Hanya sebagian daripada territoor ini, saudara-saudara, sekarang diduduki oleh Belanda. Belum dikembalikan oleh Belanda kepada kita. Maka oleh karena itu saya selalu berkata kepada rakyat Indonesia, janganlah berkata, mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Republik, tetapi katakanlah mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik, sebab Irian Barat sudah masuk di dalam wilayah Republik. Irian Barat sudah masuk di dalam territoor Republik. Sudah saya terangkan kepadamu sekalian di dalam rapat raksasa yang lalu, saudara-saudara, bahwa di dalam Undang-Undang Dasar kita ditulis dengan tegas, bahwa wilayah Republik Indonesia ialah: Indonesia. Dan apa yang dinamakan Indonesia? Yang dinamakan Indonesia ialah Tanah Air Indonesia yang terserak kepulauannya dari Sabang sampai ke Merauke. Dus Irian Barat masuk di dalam wilayah Republik. Yang bclum ialah kekuasaan Republik dikembalikan oleh Bclanda kepada kita. Uan saya tahu tekad saudara-saudara, taliu tekad pemuda dan pemudi, tahu tekad prajurit-prajurit, tahu tekad bintara-bintara, tahu tekad perwira-perwira, tahu tekadmu hai rakyat jelata, tahu tekadnya bapak Marhaen, tahu tekadnya bapak Madroi, tahu tekadnya seluruh rakyat Indonesia, ialah: berjuang terus agar supaya Irian Barat masuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik.

Saudara-saudara, territoor sudah ada. Bangsa sudah ada. Pemerintah Pusat sudah berfungsi, saudara-saudara, sejak 17 Agustus 1945 hingga kini. Tetapi apa yang terjadi, apa yang terjadi? Achmad Husein c.s., Sjafruddin Prawiranegara c.s., justru melanggar semuanya ini, saudara-saudara. Mereka mengadakan Pemerintah lain, melanggar syarat yang nomor tiga ini tadi, ialah bahwa Republik Indonesia berwujud satu negara. Saudara-saudara hanya mengenal satu Pemerintah Pusat. Dus, jikalau mereka mengadakan satu pemerintah pusat lain, sebenarnya mereka itu mengkhianati Proklamasi 17 Agustus 1945. Dan bukan saja mengkhianati Proklamasi 17 Agustus 1945, saudara-saudara, mengkhianati kepadamu, hai Marhaen, mengkhianati kepadamu hai pemuda dan pemudi, mengkhianati kepada pahlawanpahlawan kita yang telah gugur, mengkhianati kepada perjuangan rakyat Indonesia yang sudah berpuluh-puluh tahun. Mengkhianati kepada jiwa Indonesia sendiri. Khianat perbuatan ini, saudarasaudara. Maka oleh karena itu segenap rakyat Indonesia, – saya yakin, -semuanya akan menghukum perbuatan Achmad Husein dan Sjafruddin Prawiranegara c.s. itu.

Tetapi, sebagai dikatakan oleh ibu Rasuna Said tadi, kami, kita penuh dengan kepercayaan, penuh, asal rakyat jelata, sekali lagi saya ulangi, asal rakyat jelata setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945. Meskipun ada petualang-petualang, seratus, seribu, sepuluh ribu saudara-saudara. mereka akan lenvap dari rnuka bumi ini olch tcnaga daripada rakyat jelata itu. Rakyat jelata kckuatan Republik. rakyat jelata kekuatan negara. rakyat jelata sandaran daripada cita-cita. Saudara-saudara, rakyat inilah modal kita. Rakyat jelata yang ingin bebas merdeka. Rakyat jelata yang dengan tenaganya kita rnengadakan proklamasi dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 itu. Apa, saudara-saudara, sebenarnya yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945? Kataku di tempat lain. pada tanggal 17 Agustus 1945, kita tidak hanya memproklamirkan Negara, tidak, bukan hanya memproklamirkan negara, kataku. Pada tanggal 17 Agustus 1945 itu kita juga memproklamirkan kepribadian kita. Kepribadian Indonesia. Apa kepribadian Indonesia, kataku, di lain tempat. Dan jawabku ialah: pertama, cinta merdeka. Cinta merdeka, tidak mau dijadikan budak orang lain. Tetapi juga menghormati kemerdekaan orang lain. Cinta kepada kemerdekaan, tetapi juga menghormati kemerdekaan orang lain. Ingin bersahabat dengan semua manusia di dunia ini, ingin bersahabat dengan semua bangsa di dunia ini. Ingin bersahabat dengan semua negara di dunia ini. Saya berkata di lain tempat, saudara-saudara, bahwa kepribadian bangsa Indonesia terjelma di dalam dasar Pancasila.

Tadi diuraikan oleh Ibu Rasuna Said, memang Pancasila ini adalah pengutaraan daripada jiwa Indonesia. Aku ini, saudarasaudara, pernah diberi titel doktor, oleh karena katanya, aku ini adalah pembuat Pancasila. Aku menjawab, aku bukan pembuat Pancasila. Pancasila terbenam di dalam jiwanya Bangsa Indonesia. Apa yang kuperbuat hanyalah menggali lagi mutiara lima dari bwni Indonesia itu, dan mutiara lima ini aku persembahkan kepada bangsa Indonesia yang berupa lima dasar daripada Pancasila.

Aku diberi titel doktor mau aku terima, tetapi janganlah berkata bahwa aku ini adalah pembuat daripada Pancasila. Aku menggali kembali lima kebenaran daripada bangsa Indonesia itu, satu: Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai tadi telah diuraikan panjang lebar oleh Ibu Rasuna said. Dua: Kebangsaan Indonesia yang bulat, yang kita ini bukan orang Cigereleng, bangsa Cigereleng, bangsa Sukajati, bangsa Bandung, bangsa Periyangan, bangsa Jawa. Tidak! Kita ini adalah Bangsa Indonesia seluruhnya, satu Bangsa sebagai diucapkan oleh pemuda-pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Ketiga, dasar Pancasila: Perikemanusiaan. Menjehnanya di dalam politik sekarang ini, sebagai satu politik behas dan aktif, satu politik ingin bersahabat dengan semua baiigsa, balikan aktif berikhtiar agar sernua bangsa di dunia ini bersatu, jangan menjadi dua blok sebagai yang sekarang, ancammengancam satu sama lain, laksana dua raksasa yang telah mengintai di cakrawala, yang nanti pada satu hari akan menerkam satu sama lain, membakar seluruh manusia di dunia ini menjadi hangus.

Yah, saudara-saudara, bangsa Indonesia tidak mau ikut salah satu blok. Tidak mau ikut blok itu, tidak mau ikut blok ini. Bangsa Indonesia ingin menjadi sahabat dari sernua manusia. Dan bangsa Indonesia berikhtiar agar supaya semua manusia di dunia ini, 2.600 juta manusia di dunia ini, bersatu padu di dalam satu rasa perikemanusiaan. Dasar dari Pancasila yang ketiga: kita menjalankan politik bebas. Di luar negeri ada yang mengatakan ini politik netral, katanya. Saya tolak perkataan netral. Kita bangsa Indonesia tidak netral. Kita menjalankan politik bebas. Gamal Nasser dari Mesir berkata: Bung Karno menyebutkan politiknya politik bebas. Kami dari Mesir menyebutkan politik kami ini politik of non-alignment. Artinya politik tidak mau mengikatkan diri ke dalam salah satu blok. Pada hakekatnya sama. Cara Mesir mengatakan ialah non alignment policy, cara Indonesia menyebutnya ialah politik bebas. Tetapi aktif, aktif berikhtiar agar semua nianusia dipersahabatkan satu sama lain. Kami menolak perkataan netral. Kami tidak netral. Apa arti netral? Netral itu artinya: diam. Iiii politik iietral. Kita tidak netral. Kita aktif. Apalagi terhadap kcpada kolonialisme, kita tidak mau netral. Yah, kita mcnganjurkan supaya antara dua blok ini adalah hidup berdamping-dampingan satu sama lain. Yah sudahlah. kalau sudah terlanjur menjadi blok-blokan, sini satu blok, situ satu blok. Tapi dua blok ini bisa hidup berdamping-dampingan satu sama lain. llalam bahasa Inggerisnya: co-existence, malahan dikatakan peaceful co-existence. Hidup berdamping-dampingan satu sama lain dalam suasana perdamaian. Peaceful co-existence. Dan ini ternyata bisa, mungkin, bukan saja mungkin, bisa. Yaitu kalau sudah terlanjur blok-blokan, ya sudahlah, satu blok sini, satu blok situ, tapi dalam suasana perdamaian, tidak cakar-cakaran satu sama lain, tidak bertempur satu sama lain. Ini ternyata bisa. Sudah berpuluh-puluh tahun, sejak pecahnya perang dunia kedua, dua blok ini, saudara-saudara, ada dan bisa hidup berdamping-dampingan satu sama lain. Tetapi di antara kolonialisme dan bangsabangsa yang dikolonisir, antara penjajah-penjajah dan rakyatrakyat yang terjajah tidak bisa hidup berdamping-dampingan satu sama lain. Antara kolonial-isme dan rakyat-rakyat yang dikolonisir tidak bisa ada co-existence. Tidak! Apa sebabnya? Saya terangkan di lain tempat, oleh karena yang menjajah yaitu si kolonialis, tangannya masuk kantongnya rakyat yang dikolonisir. Kalau blok dengan blok tidak, saudara-saudara. Seperti di antara dua blok itu ada gang. Tetapi di antara kolonialis dan rakyat yang dikolonisir tidak ada gang itu, saudara-saudara. Ialah oleh karena tangannya si kolonialis masuk di dalam kantongnya rakyat yang dikolonisir. Maka oleh karena itu Bangsa Indonesiaberkata: Tidak! Kami tidak netral. Terutama sekali terhadap kepada kolonialisme. Kami tidak netral. Tidak! Kami berjuang terus, melawan kolonialisme. Kami berjuang terus melawan penjajahan. Bukan saja penjajahan di dalam negeri, tetapi penjajahan di luar negeripun kami berjuang kepadanya. Malahan kami tempo hari memanggil 29 negaranegara dan Bangsa-Bangsa Asia Afi-ika. berkumpul di kota molek Bandung ini. mengadakan konferensi Asia Afrika. Dan konferensi Asia Afrika itu telah menghukum kolonialisme dan segala bentuk dan tindakannya. hlilah tekad Bangsa Indonesia. saudara-saudara. Sebagai hasil daripada dasar ketiga daripada pancasila: Perikemanusiaan.