Part 3
Perlukah kujelaskan lagi perlunya menekan, membanteras, menyapu bersih pemecah dan pengganggu keamanan dan Persatuan? Tidak perlu! Materiil penggangguan keamanan itu nyata telah mendatangkan kerugian yang besar, idiil ia mendatangkan bahaya yang lebih besar lagi. Sebab idiil di atas beginsel Persatuan Nasional, berdiri di atas beginsel Persatuan. Tidak berdiri di atas beginsel Persatuan Nasional, dan tidak berdiri di atas beginsel Negara Nasional. Kita berdiri di atas beginsel Negara Nasional itu, oleh karena kita menghendaki satu Negara Republik Indonesia yang meliputi sekujur badannya Natie. Kita berdiri di atas beginsel Negara Nasional itu, oleh karena kita menghendaki satu Negara-Besar yang berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke. Oleh karena itulah maka kita memegang teguh kepada dasar Pancasila, oleh karena hanya Pancasilalah dapat mempersatukan seluruh Natie Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke, – Natie Indonesia, yang beraneka agama, beraneka adat-istiadat, beraneka ethnologie. Tetapi misalnya Kartosuwiryo c.s.? Negara Nasional, Negara yang meliputi sekujur badannya Natie, Negara yang berwilayah segenap tanah-air Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke, bukanlah bagi mereka satu premisse yang pokok, bukan bagi mereka satu premisse yang absolut. Dengan satu bagian tanah-air kita, mereka telah senang, dengan satu daerah mereka telah senang, ya, mungkin dengan "satu bidang tanah selebar payung" pun mereka telah senang, asal di daerah itu berjalan pemerintahan menurut konsepsi mereka itu. Pada intinya ini dus memecah beginsel Persatuan. Memecah beginsel Persatuan Bangsa, menabrak beginsel Negara yang meliputi sekujur-badannya Natie, menabrak beginsel Negara Nasional, mengkhianati Proklamasi 17 Agustus '45. Pengkhianatan ini belum habis. Apalagi bukan pengkhianatan beginsel saja, yang dijalankan dengan jalan demokratis parlementer. Ia dijalankan dengan jalan menentang Negara, dengan jalan kekerasan senjata, dengan teror, dengan membakar, dengan membunuh. Alat-alat kekuasaan Negara aktif berusaha membanteras mereka itu, tetapi usaha itu belum membawa hasil-kesudahan yang seratus persen.
Perlukah kubentangkan lebar-lebar gunanya dan perlu mutlaknya kita mempergiat pembangunan diseluruh lapangan? Saya rasa juga tidak. Tiap-tiap anak kecil mengerti bahwa kita mengingini satu masyarakat yang makmur, yang sejahtera, yang cukup lengkap segala-galanya yang "tata-tenteram-kerta-raharja". Hanya perlu selalu kugemblengkan dalam hati-sanubari seluruh rakyat, bahwa masyarakat yang demikian itu tidak dapat datang dengan sekedar mengucapkan "pat-pat-gulipat, tenguk-tenguk dapat berkat" melainkan harus dibangun dengan usaha dan amal, – dengan membanting-tulang, dengan memasangkan tiap-tiap urat di tubuh kita, dengan memeras keringat habis-habisan. Malahan sering saya katakan, bahwa kemerdekaan bukanlah garansi buat kemakmuran-kesejahteraan, melainkan sekedar satu jembatan , satu hal yang memberikan kemungkinan kita berusaha leluasa menyusun kemakmuran dan kesejahteraan. Kalau kemungkinan itu tidak dipergunakan, kalau kita tidak berusaha, tidak membangun, tidak membanting-tulang, tidak memeras keringat, maka sampai yaumulkiyamat pun kita tidak akan mengalami kemakmuran dan kesejahteraan.
Perlukah saya uraikan harusnya kita melanjutkan perjoangan Irian Barat, melanjutkan pula perjoangan menyapu bersih tiap-tiap sisa imperialisme-kolonialisme dari bumi Indonesia?
Ai, kita ini patriot, kita ini anti-imperialisme, kita ini bukan republikein mogol-setengah-matang, kita ini bukan pendurhaka Proklamasi! Kita ini sudah berkali-kali sumpah, bahwa kita akan berjoang terus, ya, tadi saya telah katakan: meski di seluruh abad ke-XX sekalipun, sampai Irian Barat dikembalikan ke pangkuan Ibu Pertiwi. Dan kita inipun prinsipiil anti-kolonialisme dan anti-imperialisme, di manapun ia dilakukan, bagaimanapun ia dilakukan, oleh siapapun ia dilakukan. Kitalah yang di dalam Konperensi Asia-Afrika bulan April yang lalu berkata, bahwa imperialisme belum mati, bahwa kolonialisme belum mati. "Colonialism is not yet dead. How can we say it is dead, as long as vast areas of Asia and Africa are unfree" Kitalah pula yang tidak mau ketinggalan memberi bantuan moril kepada semua bangsa-bangsa yang memperjoangkan kemerdekaannya, seperti Tunisia, Aljazair, Marocco, Vietnam, Malaya, dan lain-lain. Karena itu, sekali lagi kita berkata, kita akan berjoang terus, berjoang terus dengan segala daya-upaya, berjoang terus mati-matian, sampai Irian Barat dikembalikan kepada kita, sampai tiap-tiap kutu imperialisme-kolonialisme musna dari pangkuan Ibu Pertiwi.
Janganlah orang anggap ini omong-kosong, janganlah orang anggap ini omong-sombong. Jikalau Belanda masih menghendaki perhubungan baik antara Indonesia dan Belanda, jikalau bagi Belanda perhubungan baik itu masih akan ada artinya, maka hendaklah Belanda menerima baik anjuran kita dan anjuran Konperensi Asia-Afrika untuk membuka perundingan dengan kita mengenai penyerahan kekuasaan di Irian Barat kepada Republik.
Demi perhubungan baik itu, – bahkan demi kepentingan perdamaian di dunia ini, – maka semua sumber-sumber ketegangan antara Indonesia dan Belanda yang eksplosif harus dihilang-kan. Telah lima tahun umurnya ketegangan antara Indonesia dan Belanda oleh karena persoalan Irian Barat itu! Buat apa terus-menerus begini, hai Belanda? Sumber-sumber ketegangan dalam hubungan Indonesia-Belanda banyak, tetapi dengan jalan musyawarat beberapa sebab-ketegang-an itu ternyata telah dapat disingkirkan. Misi Militer Belanda – satu sumber ketegangan – telah dapat kita akhiri dalam tahun 1953 berkat kesediaan kedua belah fihak untuk berunding.
Uni Indonesia-Belanda – satu sumber ketegangan lain – telah dapat kita hapuskan pula, juga karena adanya kesediaan berunding pada kedua belah fihak.
Kenapa sumber pokok dari semua ketegangan, yaitu masa'alah Irian Barat, masih belum juga dapat dimatikan? Kalau Belanda dalam soal Irian Barat tetap bersitegang urat leher, kalau Belanda tidak mau melihat betapa eksplosifnya pertikaian mengenai Irian Barat ini, maka saya khawatir bahwa hubungan Indonesia-Belanda sukar untuk memperbaikinya kembali!
Saya menjadi ragu-ragu, apakah benar-benar masih ada kesungguhan dalam hati fihak Belanda untuk memperbaiki hubungannya dengan Indonesia? Apakah artinya kampanye Belanda untuk menjual propaganda memburuk-burukkan nama Indonesia dengan buku putihnya, yang disodors-sodorkan kian-kemari itu? Apakah yang tersimpan dalam lubuk hati Belanda dengan membiarkan orang-orang di negeri Belanda menyokong gerakan R.M.S., yang terang hendak mengacau keamanan di Indonesia ini? Bagaimana orang seperti Westerling dengan riwayat kejahatannya di Indonesia, masih dapat ditolerir untuk membuat rencana, dan hampir dapat melaksanakan rencananya itu untuk kembali ke Indonesia dan mengulangi kejahatannya lagi? Apakah yang mendorong Belanda untuk melompat ke kanan dan melompat ke kiri mencari pembela bagi beberapa Belanda tahanan yang kena tuduhan menjalankan aksi-aksi jahat di Indonesia ini?
Sungguh, semua tindakan-tindakan Belanda itu tidak ada satupun yang menunjukkan adanya kesungguhan hati fihak Belanda untuk memelihara hubungan baik dengan kita. Rupanya mereka telah tidak bisa lagi berfikir secara historis dan secara politik-psichologis. Rupanya mereka tak mampu menarik pelajaran dari masa-masa yang telah lampau. Rupanya mereka telah buta-pandangan. Rupanya mereka telah masuk golongan orang-orang yang "wien de goden verderven willen, slaan ze met blindheid". Rupanya, seperti yang sudah-sudah, Belanda menunggu datangnya paksaan-paksaan, menunggu jatuhnya palu-godam sejarah, menunggu jatuhnya kenyataan "one can not escape history", untuk mengubah sikapnya yang bandel itu. Ya, dan jikalau nanti hukum-besi "one can not escape history" itu datang kepada Belanda, maka ia hanya akan menelan pahitnya saja, dan menelan tragiknya.
Demikianlah saudara-saudara kewajiban kita untuk melanjutkan perjoangan kita mengembalikan Irian Barat ke pangkuan kekuasaan Ibu Pertiwi, dan perjoangan menentang semua sisa-sisa imperialisme-kolonialisme yang masih ada. Tinggal sekarang saya harus menguraikan tugas pokok mengadakan pemilihan-umum. Perlukah saya uraikan perlunya pemilihan-umum itu lebih lebar? Sebenarnya tidak. Tetapi ada hal-hal yang bersangkutan dengan pemilihan-umum itu, yaitu yang mengenai hidup-kepartaian , perlu saya kupas lebih dalam lagi.
Tadi sudah saya bayangkan: Kalau saya bicarakan tentang hidup-kepartaian di tanah-air kita, hatiku merasa sedih. Dan makin dekat kepada pemilihan-umum, hatiku makin cemas.
Padahal, buat apa diadakan pemilihan-umum itu? Untuk melaksanakan demokrasi, untuk mencapai stabilisasi politik. Tetapi terjadilah – ini lumrah – satu paradox. Paradox, bahwa untuk mencapai suatu stabilisasi politik, terjadilah suatu disstabilisasi politik. Paradox ini sementara boleh, asal jangan ia dilebih-lebihkan.
Bung Hatta sebagai Wakil Presiden pada tanggal 3 November '45 menandatangani satu Maklumat, yang menganjurkan rakyat mendirikan partai-partai politik, dengan pesanan:
"Supaya diberikan kesempatan kepada rakyat seluas-luasnya untuk mendirikan partai-partai politik dengan restriksi, bahwa partai-partai politik itu hendaknya mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan masyarakat ".
Perhatikan saudara-saudara! Dianjurkan mendirikan partai-partai politik, tetapi "partai-partai politik itu hendaknya mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan masyarakat ".
Tetapi apa yang telah terjadi? Sejak keluarnya maklumat itu, berkembang-biaklah kehidupan kepartaian. Malah berkembang-biak dan berkembang-biak! Sekarang jumlah partai-partai politik di Indonesia sudah mendekati 30.
Zegge en schrijve: t i g a p u l u h! Jarang ada negeri yang begitu banyak partainya seperti Indonesia ini. Katakanlah bahwa Republik Indonesia bukan Republik Demokrasi!
Akan tetapi, perkembangan demokrasi itu kadang-kadang menunjukkan gejala-gejala, bahwa penggolongan dalam macam-macam partai itu bukan lagi bersifat penggolongan yang sehat, tetapi sudah mendekati sifat perpecah-pecahan. Bukan lagi bersifat diferensiasi yang rasionil, tetapi sudah bersifat versplintering: Saya katakan perpecah-pecahan atau versplintering, oleh karena banyak dari partai-partai itu tidak menunjukkan perbedaan-perbedaan besar mengenai dasar yang prinsipiil. Tidak! Banyak dari partai-partai itu sangat boleh jadi hanya disebabkan oleh nafsu menonjolkan diri dari beberapa orang yang merasa kurang mendapat perhatian masyarakat; "distinctie-drang"; oleh nafsu ingin berpengaruh. Oleh karena nafsu "dia mau kursi", bukan demokrasi.
Dan apa bencana yang pasti akan datang kalau proses perpecahan-perpecahan tidak segera disadari dan tidak segera dibendung?
Tiap-tiap orang tentu mengetahui jawabnya. Tanyakan kepada si Dadap dan si Waru yang jujur, tanyakan kepada si Marhaen dan si Kromodongso yang hatinya putih. la akan menjawab: bencana yang pasti datang ialah bencana panas-panasan-hati, bencana gogreknya kekuatan bangsa. Tanyakan kepada si intelektuil yang integre, ia akan menjawab: bencana yang pasti akan datang ialah bencana desintegrasi potensi nasional.
Sedarilah pada Hari Proklamasi ini, bahwa janji Nopember '45 ialah bahwa partai-partai politik itu hendaknya "mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan masyarakat"! Apa yang kita alami di waktu-waktu belakangan ini ialah kadang-kadang bukan "mempertahan-kan kemerdekaan dan mendjamin keamanan masyarakat", melainkan "mempertahankan kepentingan golongan sendiri dan kepentingan diri sendiri", dan "menjamin kepentingan golongan sendiri dan kepentingan diri sendiri"!
Apakah jalan keluar dari keadaan yang mesum sekarang ini, hai rakyat? Hai rakyat-jelata, hai Marhaen, hai Dadap, hai Waru, hai Sarinem, hai Sarinah? 29 September 1955, empat puluh lima hari lagi, engkaulah menjadi hakim! Di dalam pemilihan-umum, engkaulah menjadi hakim! Ambil kesempatan itu! Tangkap kcsempatan itu! Sederhanakanlah hidup-kepartaian, pilihlah orang-orang yang benar-benar pemimpin! Pilihlah satu Dewan Perwakilan Rakyat yang benar-benar mencerminkan kehendak 80.000.000 rakjat Indonesia. Pilihlah orang-orang yang benar-benar mengabdi kepada Rakyat-Indonesia dan Tanah-air Indonesia, bukan kepada kepentingan asing atau kepada kepentingan diri sendiri atau kepentingan golongan sendiri.
Sehatkanlah kehidupan politik kita dengan jalan pemilihan-umum itu! Engkau bisa, hai rakyat, sebab engkaulah yang nanti menjadi hakim, – bukan aku, bukan Bung Hatta, bukan Angkatan Perang, bukan Kabinet. Kita mesti menuju ke arah penyederhanaan bukan saja dalam kehidupan materiil sehari-hari, tetapi juga dan terutama – dalam cara berfikir politik.
Buat apa toh perlunya berpuluh-puluh partai itu? Lihat kepada irama-kodrat, ikutilah irama kodrat itu, sebagai yang sudah sering saya kemukakan dalam pidato-pidato yang terdahulu. "Dalam menuju ke laut, sungai setia kepada sumbernya", – "door naar de zee te stromen is de rivier trouw aan haar bron", – demikianlah kukatakan dalam pidato-pidato yang terdahulu. Lihat! Puluhan, ratusan, mungkin ribuan sungai-sungai kecil mentaati perintah sumbernya dan menuju ke laut, ribuan sungai-sungai kecil mengalir, mengalir, mengalir, tetapi sebagian besar daripada sungai-sungai kecil itu bermuara di bengawan-bengawan raksasa yang jumlahnya dapat dihitung di jari tangan, dan bengawan-bengawan raksasa inilah yang mencapai ke laut. Dan yang tidak bergabung dalam bengawan raksasa, – mandeklah ia menjadi rawa, sarang nyamuk dan serangga yang jahat, atau mandek menjadi comberan yang berbau busuk, atau mandek mengering, mati tanpa bekas.
Ikutilah irama kodrat itu! Janganlah terlalu banyak aliran-aliran politik kecil-kecil yang masing-masing bernafsu menempuh jalannya sendiri-sendiri! Bergabunglah menjadi beberapa bengawan-politik, bergabunglah menjadi beberapa partai politik yang pokok-pokok saja! Sungai-sungai kecil tidak berdaya besar, tetapi bengawan-bengawan raksasalah menimbulkan kekuatan arus yang maha-dahsyat. Beton dan batu tidak mampu membendungnya, besi dan baja tidak mampu mematikannya, bukit-bukit penghalang akan gagal jebol samasekali jikalau tidak hendak menyetop perjalanannya.
Ya, sederhanakanlah kehidupan politik kita, Rasionilkanlah kehidupan politik kita itu, kurangilah jumlah partai, pergunakanlah pemilihan-umum nanti untuk merasionilkan kehidupan politik kita itu, sebab terlalu banyaknya partai-partai politik berarti pula pemborosan tenaga nasional.
Tidakkah banyaknya krisis Kabinet juga antara lain disebabkan oleh coraknya kehidupan politik kita itu? Kita sekarang sudah mempunyai Kabinet lagi. Tetapi tahukah saudara-saudara bahwa kita ini dalam sepuluh tahun yang lalu telah mengalami tidak kurang dari limabelas krisis Kabinet? Tiap-tiap krisis Kabinet sedikit banyaknya berarti juga pemborosan tenaga, pemborosan waktu yang berharga, pemborosan slagkracht nasional. Tiap-tiap kali, krisis-krisis pemerintahan itu dimulai dengan perselisihan-perselisihan kecil, perselisihan-perselisihan yang hampir-hampir boleh dikatakan remeh, tetapi yang menjadi-jadi, karena tidak segera diselesai-kan, waktu perselisihan itu masih berukuran kecil. Sering kita kurang waspada, kurang dapat memberikan pernilaian yang tepat kepada sesuatu persoalan, sehingga kurang dapat membuat pra-perhitungan yang tepat pula ke arah mana persoalan itu bisa berkembang. Maka sering kita dihadapkan kepada satu fait accompli, satu kejadian yang sudah berukuran besar dan tak mudah dirobah lagi.
Inilah salah satu sebab keruwetan-keruwetan yang menimbulkan krisis-krisis Kabinet. Ya, tentu masih ada sebab-sebab lain bermacam-macam, seperti rasa curiga-mencurigai, rasa tak senang-menyenangi, rasa kesal atau rasa benci, dan lain-lain lagi emosi-emosi subyektif dari orang-seorang atau golongan-segolongan. Tetapi maha-sebab, maha-sumber dari semua sebab-sebab itu ialah diferensiasi kepartaian yang mendekati perpecahan-perpecahan zonder prinsipiil ratio samasekali. Sekian banyak partai, sekian pula banyak cara-berfikir. Sekian banyak cara-berfikir, sekian banyak pula cara pendirian. Sekian banyak pendirian, sekian pula banyaknya konsepsi. Segala macam warna bersimpang-siur, putih, hitam, hijau, merah, biru, sawomatang, coklat; kuning, – entah warna apa lagi bercampur aduk. Satu persoalan yang pada hakekatnya sederhana, lantas nampak menjadi ruwet, karena harus dilihat dengan begitu banyak macam kaca-mata konsepsi.
Bukan persoalannya yang ruwet, tetapi penglihatan kita bersamalah yang meruwetkan persoalan itu. Akhirnya keruwetan-keruwetan-penglihatan itu menjerat leher kita sendiri. Tele-tele kita megap-megap tak mampu bernafas dan berfikir sehat lagi. Tele-tele kita tak melihat jalan keluar samasekali!
Ya, kita laksana makin lama makin dalam, terseret ke dalam air-putarnya salah anggapan tentang demokrasi, makin lama makin hampir kelelap samasekali dalam air-putarnya misbegrip tentang demokrasi. Demokrasi kita telanjangi dari ageman-agemannya yang bernama zelf-discipline dan national disiplin, kita telanjangi bulat-bulat dari busana-busananya pengekangan diri.
Maka macam-macam penyakit menghinggapilah perikehidupan kita sebagai masyarakat dan sebagai Negara. Ambillah misalnya soal "Gezag". Tidakkah "Gezag" di Indonesia ini sering kurang sehat, kurang segar-bugar, karena masyarakat dihinggapi penyakit yang berasal dari misbegrip tentang demokrasi itu? Tiap-tiap hidung merasa dirinya berhak menentang Gezag, karena katanya "demokrasi". Kita di waktu-waktu yang akhir ini banyak berbicara tentang bagaimana ”mengembalikan Gezag”. Kita banyak menyebut-nyebut adanya Krisis Gezag. Bagi saya, hal itu bukan hal baru. Beberapa tahun yang lalu, dari tangga Istana Merdeka ini, saya sudah mensinyalir adanya krisis Gczag: Beberapa tahun yang lalu saya sudah berbicara tentang "Kawibawan Gezag". Beberapa tahun yang lalu saya sudah mcngajak mengembalikan Gezag ke atas singgasananya Kawibawan Gezag. Karena itu saya kira tak perlu saya sekarang banyak bicara tentang hal itu. Tetapi ketahuilah: Kawibawan adalah hanya satu faktor saja yang masih memerlukan Komponen yang lain. Ia masih memerlukan satu "pelengkap" yang lain . Agar supaya Gezag ber-Kawibawan, maka perlu adanya Ontzag. Ontzag kepada Gezag. Ontzag dalam arti hormat terhadap Gezag, bukan Ontzag dalam arti takut. Gczag zonder Ontzag, bukanlah Gezag; Gezag zonder Ontzag adalah sama dengan Togog berbaju Raja, atau sama dengan seorang tolol berbaju jenderal.
Ontzag terhadap Gezag hanya dapat ditimbulkan di kalangan Rakyat, apabila Gezag itu dipikulkan kepada pemimpin-pemimpin yang benar-benar telah dipilih oleh rakyat sendiri. Di sinilah letaknya kunci pengembalian Kawibawan Gezag yang kita kehendaki itu. Di sinilah letaknya arti pemilihan-umum bagi pengembalian Kawibawan Gczag itu.
Dus nyata pemilihan-umum itu banyak sekali gunanya.
Karena itu, janganlah ditunda lagi pemilihan-umum itu.
Janganlah ada orang yang mengkhianati pemilihan-umum itu, atau mencoba-coba memper-lambatnya, mencoba-coba menghalanginya, mencoba-coba mensabotnya, mengacaunya, meng-gagalkannya. Pemilihan-umum ini akan berarti konsolidasi daripada hasil-hasil Revolusi kita selama sepuluh tahun. Siapa yang mencoba-coba menghalangi atau menggagalkan pemilihan-umum ini, dia adalah pengkhianat Revolusi, pengkhianat Hak Keramat Rakyat Indonesia, pengkhianat Demokrasi, pengkhianat Pancasila, pengkhianat Republik, pengkhianat Proklamasi.
Saudara-saudara!
Mulai hari ini kita memasuki Dasa-Warsa yang kedua daripada Republik kita ini. Republik kita dilahirkan dalam satu masa sejarah-dunia yang gegap-gempita. Republik kita tidak dilahir-kan dalam adem-tenteramnya sinar bulan-purnama. Tidak! Api peperangan yang hampir membakar habis seluruh permukaan bumi pada waktu itu masih belum padam samasekali, gempa masih menggunjingkan bawana, samudra masih bergolak-golak dan mendidih! Malahan pernah kukatakan, bahwa Republik kita dilahirkan di dalam api.
Ya, benar perkataan orang, bahwa peperangan adalah satu ahli kimiah yang aneh. Tidak salah perkataan orang, bahwa ”war is a strange alchemist”. Barang yang tidak disangka-sangka orang sering muncul keluar dari sesuatu peperangan.
Tidak disangka-sangka orang, Sovyet Rusia muncul keluar dari Peperangan-Dunia yang ke-I. Tidak disangka-sangka orang, R.R.T., India – Merdeka, Pakistan – Merdeka, Vietnam – Merdeka, Indonesia – Merdeka muncul-keluar dari Peperangan-Dunia yang ke-II.
Sekali lagi, ya! Benar Republik kita dilahirkan di dalam api! Sekarang, sepuluh tahun kemudian, Matahari telah bersinar, – terimalah sinar Matahari itu dengan gembira, sebab telah kukatakan tempo hari; apa yang dilahirkan di dalam api, tak akan cair meleleh kena sinarnya matahari. Malahan, makin sehatlah hendaknya kita tersiram oleh sinar Sang Surya itu, makin tumbuh, makin gagah-perkasa, makin hebat, makin kuat, makin menggatutkaca "otot kawat balung wesi", "ora tedas tapak paluning pande, sisaning gurindra"!
Tahukah saudara-saudara, apa yang bisa mencair-lelehkan kita? Kita bisa cair-leleh, bukan karena sinarnya Sang Surya, tetapi karena kelemahan-kelemahan kita sendiri, karena penyakit-penyakit dalam tubuh kita sendiri, karena misbegrip-misbegrip. Kita bisa cair-leleh karena perpecahan-perpecahan kita sendiri, karena misbegrip-misbegrip kita sendiri, karena kekurangan idealisme-nasional kita sendiri, karena ketidak-sepian-hing-pamrih kita sendiri. Kita bisa cair-leleh karena hasad, karena dengki, karena mengkelompok-kelompokkan diri zonder aturan, karena lupa-daratan mencari kebenaran sendiri, karena menyalahi prinsip Nasional dan mengutamakan prinsip golongan. Kita bisa cair-leleh karena Geloof kita kepada Kekuatan Nasional kita biarkan menjadi morat-marit. Kita bisa cair-leleh karena – mencair-lelehkan diri kita sendiri.
Panca Dharma telah kusodorkan kepada saudara-saudara: Kembali kepada Persatuan, memberantas pengacauan, memperhebat pembangunan, memperhebat perjoangan Irian Barat dan anti-kolonialisme-imperialisme, menyelenggarakan pemilihan-umum, – tetapi ketahuilah bahwa Panca Dharma adalah sekedar Dharma , kewajiban yang harus dipenuhi, dan belum syarat-syarat-mutlak untuk kelanjutan hidup sesuatu bangsa. Syarat-mutlak untuk kelanjutan hidup ialah Kemauan Hidup – Levenswil. Levensdrang, – dan syarat-mutlak untuk kelanjutan Hidup sesuatu bangsa ialah kemauan Hidup Sebagai Bangsa, – Nationaal Levenswil, Nationaal Levensdrang. Bangsa yang tidak mempunyai Api-Hidup-Nasional ini, Api-Keramat yang menghikmati semua warga-bangsanya, dari agama apapun, dari lapisan sosial apapun, dari ethnologi apapun, dari ideologi-politik apapun, – bangsa yang tidak kalbunya berkobar-kobar dengan Api Keramat "Feu Sacré" ini, – bangsa yang demikian itu lambat-laun akan gogrok dan akan buyar menjadi ”bangsa-bangsa" yang kecil, atau akan gogrok dan buyar menjadi kelompokan-kelompokan manusia belaka, atau akan tenggelam-lenyap musna samasekali.
Ya! Panca Dharma kusodorkan, tetapi Panca Dharma itu tak kan dapat kita jalankan dengan penuh penyerahan jiwa raga, – dengan penuh élan – kalau tidak hidup menyala-nyala berkobar-kobar dalam kalbu kita Api-Keramat yang kumaksudkan itu!
Nyalakanlah lagi Api-Keramat itu manakala ia hampir padam, kobarkanlah nyalanya manakala ia masih menyala! Api-Keramat inilah yang membuat kita berani mengeluarkan Proklamasi 17 Agustus 1945, Api-Keramat inilah yang membuat kita berani mengadakan Revolusi, Api-Keramat inilah yang membuat kita mampu bertahan sepuluh tahun. Api-Keramat inilah yang akan membawa kita ke tempat tujuan, biar berapa jauhpun tempatnya tujuan itu, – biar kita harus mendaki gunung menurun gunung, menempuh lautan mengarungi samudra, menaik angkasa menginjak bledek dan guntur sekalipun!