Part 2
Tetapi industrialisasi membutuhkan kecerdasan dan kejuruan, membutuhkan technical skill, membutuhkan keahlian tehnik setinggi-tingginya untuk perencanaan dan pimpinan. Pemuda-pemuda Indonesia harus mengerahkan perhatiannya ke jurusan ini. Kesempatan harus bertebaran seluas-luasnya bagimu, hai pemuda-pemudi Indonesia, untuk melaksanakan industrialisasi itu. Ya, bagimulah pekerjaan-besar yang akan merobah samasekali roman-muka dan corak masyarakat kita ini. Akan hilang lenyap kekolotan, akan hilang lenyap "kedusunan", akan hilang lenyap keulerkambangan, – ya, bangsa Indonesia akan menjadi satu bangsa yang giat-umyek laksana "gabah den interi" oleh industrialisasi itu, – akan hilang lenyap samasekali barangkali apa yang dinamakan "adem tentreming bawana", – akan bergegar-gegap-gempitalah udara dengan gemuruhnya tractor dan gentarnya mesin, – orang boleh menyenangi atau tidak menyenangi hal ini, … tetap terang dan nyatalah bahwa industrialisasi adalah satu-satunya jalan untuk menambah kekayaan masyarakat dan Negara, terang dan nyatalah bahwa industrialisasi bagi bangsa Indonesia adalah satu soal hidup atau mati.
Karena itu maka kita harus dengan tegas mengarah kepada industrialisasi itu, dan soal kecerdasan rakyat kita entamir dengan tidak berhenti-hentinya. Jikalau nanti tahun 1955 hampir silam, maka Indonesia akan telah mempunyai 33.000 sekolah rendahan, 1.600 sekolah lanjutan, 6 organisasi universitas untuk angkatan pemuda-pemudinya. Dan kita semua mengerti benar: meski angka-angka itu sudah angka-angka yang lumayan, jumlah sedemikian itupun masih jauh belum mencukupi!
Padahal, dari segala jurusan, pembangunan memanggil-manggil. Dari jurusan kesehatan. Dari jurusan perhubungan. Dari jurusan ketentaraan. Dari jurusan pengairan. Dari jurusan perlengkapan gedung-gedung. Dari jurusan pembentukan deviezen. Dari jurusan pembentukan pengertian ketatanegaraan. Semuanya memanggil-manggil.
Semuanya harus dilayani. Dan semuanya itu pada hakekatnya meminta dipenuhi satu syarat mutlak : Negara , dan sekali lagi Negara .
Ya, di sini bekerja pula "hukum timbal-balik" yang tempo hari telah saya sebut dalam beberapa pidato: "Hukum Dharma Eva Hato Hanti", yang saya pakai untuk menegaskan perlunya Persatuan: "Kuat karena bcrsatu, bersatu karena kuat".
Apu hukum timbal-balik antara pembangunan dan Negara!
Tiap-tiap si Fulan dapat menjawab dengan mudah: membangun untuk Negara, dan Negara untuk membangun! Membangun di segala lapangan agar supaya Negara menjadi kuat; karena mempunyai Negara yang kuat, maka kita bisa membangun di segala lapangan.
Karena itu maka saya minta kepada segenap bangsa Indonesia lebih-lebih lagi pada hari ulang tahun Proklamasi yang kesepuluh ini, supaya lebih dalam lagi menginsyafi dan memperaktekkan hidup ketatanegaraan. Semua lapisan, semua partai-partai, semua instansi-instansi, ya sampai kepada semua gerombolan-gerombolan di hutan-hutanpun saya panggil pada hari ini supaya lebih dalam menginsyafi dan memperaktekkan hidup ketatanegaraan, – hidup ketatanegaraan Republik lndonesia!
Apa arti hidup ketatanegaraan? Persatuan, ketatanegaraan, kerjasama yang baik antara rakyat dan rakyat, kerjasama yang baik antara rakyat dan alat-alat pemerintahan, kerjasama yang baik antara semua instansi-instansi, pendek kata Pemerintah yang sudah mencapai Konsolidasi, – itulah inti hidup ketatanegaraan, itulah inti hidup Bernegara!
Semua kita harus menjunjung-tinggi dan memperkuat Negara. Dan dengan Negara itu kita membangun. Dengan Negara itu kita mengerahkan, mengkoordinir semua tenaga laksana satu mesin maha-Raksasa – yang berjiwa Pancasila, satu Mu'zizat koordinasi, maka seluruh bangsa Indonesia harus kerah-mengerahkan tenaganya. Tiap-tiap roda bergerak dan menggerakkan, tiap-tiap gigi bergerak dan menggerakkan, tiap-tiap sekrup menjalankan kewajibannya dengan tiada mangkir sekejap mata. Demikianlah gegap-gempitanya satu bangsa yang berjiwa ketatanegaraan dan memfiilkan pembangunan. Gegap-gempita jiwanya, gegap-gempita aktiviteitnya. Laksana satu sarang lebah yang maha-besar, seluruh masyarakatnya umyek mengamalkan azas "satu buat semua, semua buat satu". Kemajuan dan hasil-hasil-baik daripada pembangunannya bukanlah jasa tenaga-seseorang, tetapi adalah hasil team-work daripada semua tenaga yang turut serta dalam usaha itu.
Ke arah kehidupan-kebangsaan yang demikian itulah kita menuju.
Sepuluh tahun kita telah merdeka, sepuluh tahun kita telah berjoang dan bekerja, dan Alhamdulillah, meski garis di sana sini ada mendekung ke bawah, garis-besarnya boleh dikatakan tetap menaik. Setapak demi setapak, ondanks segala macam rintangan, kita maju. Sekarang meski kesadaran-kesadaran-berpemerintahan, – regeringsbewustheid -, belum meresap secukup-cukupnya di seluruh golongan bangsa, meski baru saja kita mengalami satu krisis Kabinet – bolehlah dengan bangga kita katakan bahwa revolusi kita sedari mulanya, telah melahirkan stable government . Besok, tidak lama lagi, kita mengadakan pemilihan-umum untuk Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante. Lusa, tidak lama lagi pula, kita mulai dengan sidang-sidangnya: Dewan Perwakilan Rakyat akhir tahun ini, Konstituante di tahun depan.
Ya, tidak lama lagi Insya Allah, seluruh warga-negara Indonesia yang memenuhi syarat-syaratnya akan memberikan suaranya kepada calon-calon yang menurut pertimbangannya layak dan tepat untuk duduk dalam Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante itu.
Dengan pemilihan-umum itu akan tercapailah penyempurnaan ketatanegaraan, akan lahirlah ketatanegaraan yang memenuhi syarat-syaratnya demokrasi. Akan lahirlah Konkretisasi dari salah satu silanya Pancasila, realisasi daripada apa yang menjadi idam-idaman Rakyat-jelata Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun.
Tctapi, aduh alangkah sakitnya kelahiran itu, alangkah berbahayanya kelahiran itu! Kalau kita tidak berhati-hati, robeklah nanti seluruh tubuhnya Ibu Pertiwi! Gejala-gejala perpecahan dalam dunia kepartaian telah nampak dengan nyata di angkasa, hantu sentimen yang berselimut ideologis-prinsipalisme bukan saja menghintai di cakerawala, tetapi sudah mulai mengaut-ngaut bumi di sana sini. "Partaiku harus menang dalum pemilihan-umum, partaiku harus menang!" – semboyan ini memang normal dalam tiap-tiap pemilihan-umum, tetapi lupakah orang akan tragedi-tragedi di negara-negara lain?
Tidak usah saya ulangi di sini bahwa demokrasi adalah sekedar alat, bahwa pemilihan-umum adalah sekedar alat, ya, bahwa Negara sekalipun adalah sekedar alat, – bahwa rakyat-sejahteralah tujuan, bahwa masyarakat-adil-dan-makmurlah tujuan, bahwa Ibu Pertiwi-Jayalah tujuan, bahwa manusia-Bahagialah tujuan. Janganlah alat merusak tujuan! Janganlah Pembuatan alat memberantakkan tujuan! Janganlah lupa daratan memainkan sentimen kepartaian. Janganlah nanti, ya, pemilihan-umum dapat berlangsung tetapi bangsa Indonesia terpecah-belah terobek-robek dadanya, bahkan hangus terbakar dalam api saling-dengki dan saling-benci bertahun-tahun lamanya. Bagaimanapun juga, peliharalah keutuhan bangsa.
Aku heran: apakah orang lupa bahwa perjoangan kita ini pada mulanya ialah untuk menjunjung seluruh tanah-air dari lembah-lumpurnya penjajahan? Seluruh tanah-air dengan seluruh rakyatnya? Kemerdekaan harus meliputi seluruh rakyat. Kemakmuran dan kesejahteraan harus meliputi seluruh rakyat. Kebudayaan Nasional harus dinikmati seluruh rakyat. Kemajuan ilmu pengetahuan harus dimiliki seluruh rakyat. Karena itulah maka diformulirkan Pancasila, pemersatu seluruh rakyat! Dan memang; – siapa berani membantah bahwa Proklamasi 17 Agustus adalah jaya, justru karena didukung oleh seluruh rakyat? Siapa berani membantah bahwa negara-negara bagian ambyuk ke dalam Negara Kesatuan, oleh karena tenaganya Persatuan Bangsa? Di zaman Jogya, masih ada pemimpin-pemimpin yang berani berkata: "My loyalty to my party ends, where my loyalty to my country begins" – di manakah pemimpin yang demikian itu pada waktu menghadapi pemilihan-umum sekarang ini?
Rupanya orang mengira, bahwa sesuatu perpecahan di muka pemilihan umum atau di dalam pemilihan-umum selalu dapat diatasi nanti sesudah pemilihan-umum itu! Hantam kromo saja memainkan sentimen sebelum pemilihan-umum itu! Orang lupa: ada perpecahan yang tak dapat disembuhkan lagi. Ada perpecahan yang terus memakan, terus menggrantes, terus membaji dalam jiwa sesuatu rakyat, sehingga akhirnya memecahbelahkan keutuhan bangsa. bahkan kadang-kadang meledak sedahsyat-dahsyatnya menjadi peperangan samasekali. Celaka bangsa yang demikian itu, celaka Negara yang demikian itu! Bertahun-tahun, kadang-kadang berwindu-windu ia tak mampu berdiri kembali, bertahun-tahun ia laksana hendak "doodbloeden" kehilangan darah yang keluar dari luka tubuhnya sendiri.
Karena itu, segenap jiwa-ragaku berseru kepada bangsa Indonesia: "Terlepas dari ideologi apapun, – jagalah Persatuan! Jagalah Keutuhan" Bukan hanya oleh karena aku ini Presiden yang berdiri di atas semua partai dan semua golongan, maka aku berseru demikian! Aku menyerukan Persatuan dan Keutuhan, oleh karena aku seorang Patriot, oleh karena aku pencinta Kemerdekaan Nasional, oleh karena aku pencinta rakyat-jelata yang juga mengingini Persatuan, oleh karena aku ini sedikit-banyak ikut-ikut berjoang berpuluh tahun dan oleh karena aku sedikit-banyak ikut-ikut pula berkorban untuk mempersatukan bangsa Indonesia dan untuk mencapaikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Rela aku meninggalkan Istana Merdeka ini untuk mengabdi kepada Persatuan dan Kemerdekaan bangsa, sebagai patriot saja, dan tidak sebagai Presiden!
Kita sekalian adalah makhluk Allah. Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini seolah-olah adalah buta. Ya, benar kita merencanakan, kita bekerja, kita mengarahkan angan-angan kepada suatu hal di waktu yang akan datang. Tetapi pada akhirnya, Tuhan pula yang menentukan. Justru karena itulah, maka bagi kita sekarang adalah satu kewajiban untuk senantiasa memohon pemimpin kepada Tuhan. Tidak semua manusia berhak berkata: "Aku, aku sajalah yang benar, orang lain pasti salah". "Golonganku, partaiku sajalah yang benar, partai lain pasti salah". Orang yang demikian adalah orang yang mutlak-mutlakan yang sombong, yang Ego Sentris, yang eksklusif, orang yang tenggelam dalam ekstremitet, orang yang tak mungkin dapat menjalankan toleransi, orang yang dus samasekali ongeschikt buat demokrasi. Orang yang demikian itu, pada bathinnya adalah orang fasis. Orang yang demikian itu akhirnya lupa, bahwa hanya Tuhan sajalah yang memegang kebenaran.
Bangsaku, kembalilah kepada Persatuan! Terlalu besar risiko yang kita ambil buat kemudian hari, kalau kita sekarang tidak mengamalkan sekedar pengekangan sentimen. Lagi pula, lupakah kita bahwa Revolusi Nasional belum selesai, kok kita lebih sibuk mencari salahnya orang lain daripada memikirkan melanjutkan Revolusi Nasional? Lupakah kita bahwa Irian Barat masih merintih-rintih di bawah telapak-kaki imperialisme kok kita lebih sibuk menghantam partai orang lain, daripada menghantam remuk-redam imperialisme yang masih bercokol di Irian Barat itu?
Camkanlah! Sepuluh tahun Proklamasi Kemerdekaan telah berusia, tetapi pengembalian Irian Barat kepada wilayah kekuasaan Republik Indonesia, sampai hari ini, jam ini, detik ini masih saja pada taraf tuntutan.
Belanda masih tetap berkuasa di Irian! Ikhtiar untuk mencari suara dua pertiga di P.B.B. tempo hari gagal, – Belanda masih tetap berkuasa di Irian! Perundingan di Den Haag sebagai bagian dalam perundingan pembubaran Uni tidak berhasil, – Belanda masih tetap berkuasa di Irian!
Akhirnya, Konperensi Asia-Afrika membicarakan tuntutan Indonesia kepada P.B.B.
Dan memang kita akan lanjutkan tuntutan kita itu di P.B.B. dan memang akan masuk lagi di agenda P.B.B.
Tetapi bagaimanapun pentingnya bantuan dari luar, – kita berterimakasih kepada Negara-Negara Konperensi Asia-Afrika, namun jika kita tidak mengambil nasib saudara-saudara kita di Irian menjadi nasib kita yang mengenai seluruh bangsa Indonesia di tangan kita sendiri, maka sampai lebur-kiamatpun tuntutan itu akan tetap tuntutan belaka. Tidak! P.B.B. hanyalah salah satu front, bukan satu-satunya front! Dengan kekuatan sendiri, dengan kekuatannya bangsa Indonesia itu sendiri kita harus memerdekakan Irian, dan dengan kekuatan kita sendiri kita Insya Allah pasti akan memerdekakan Irian. Kerahkanlah seluruh tenaga! Kerahkanlah seluruh potensi perjoangan! Bulatkanlah tekadnya seluruh bangsa Indonesia yang 80.000.000 jiwa, persatukan dan bangkitkan laksana gempa seluruh jiwa-raga yang 80.000.000 itu, perlipat-gandakan hebatnya aksimu membebaskan Irian, maka Irian Barat pastilah segera berkumpul lagi dengan kita dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia!
Indonesia tidak bermaksud mengeluarkan suara tantangan. Dalam soal Irian Barat kita senantiasa bersedia berunding dengan siapa saja, apa lagi dengan Belanda. Dunia mengetahui kesediaan kita itu. Tetapi kesediaan berunding itu dijawab oleh fihak Belanda senantiasa dengan ketidaksediaan berunding. Bangsa Indonesia harus insyaf, bahwa terutama oleh kekuatan bangsa Indonesia sendirilah Irian Barat akan kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik. Bangsa Indonesia bersedia menggunakan segala tenaga yang benar dan adil di segala front untuk mengembalikan Irian Barat, bersedia berjoang meski di seluruh abad ke-XX sekalipun, supaya terpenuhilah dari Sabang sampai ke Merauke seluruh panggilan Proklamasi.
Ada satu hasil di waktu belakangan ini dalam persoalan kita dengan Belanda, yaitu soal Uni. Tatkala dalam tahun 1950 melebur kembali negara-negara-bagian dalam Negara Kesatuan, yang melebur feodalisme hancur-luluh dalam kancahnya Unitarisme yang dicintai rakyat, maka masih ketinggalanlah satu ikatan dengan Belanda yang berupa Uni, yang dikepalai oleh Ratu Negeri Belanda.
Bagi jiwa nasional, ikatan yang demikian itu dirasakan sebagai satu tekanan yang maha-hebat. Berkat perjoangan Pemerintah, Uni itu daput dihapuskan; sejak tahun 1954 Uni itu pecah-musnalah ke dalam histori; Republik sejak saat itu menjadilah lagi Republik Proklamasi.
Tinggal saja ratifikasi pembubaran Uni itu oleh Dewan Perwakilan Rakyat di sini. Dus, saudara-saudara, apa yang telah kita capai sampai sekarang? Apa yang telah kita capai sebagai hasil perjoangan kita yang berpuluh-puluh tahun, hasil keringat dan korban-korban kita, sejak zamannya Budi Utomo sampai ke zamannya Serikat Islam, sampai ke zamannya N.I.P. dan P.K.I. dan Sarekat Rakyat, sampai ke zamannya Partai Nasional Indonesia dan Pendidikan Nasional Indonesia dan Partindo dan Parindra dan Gerindo dan partai-partai lain, sampai ke penderitaan-penderitaan dan latihan-latihan kita di zaman Jepang, sampai ke saatnya Proklamasi, sampai kepada hari ulang tahun yang sekarang? Kita telah mencapai banyak, dan pantaslah kita mengucap terimakasih kepada Allah subhanahu wa ta'ala atas apa yang telah kita capai itu:
Pertama : Terbentuknya satu Negara Kesatuan indah-permai yang walaupun Irian Barat belum masuk ke dalam wilayah kekuasaannya, terbentang dengan megahnya antara dua benua dan dua samudra, laksana "sabuk zamrud yang melingkar-lingkar khatulistiwa", satu Negara Kesatuan yang kaya-raya, yang dalam pangkuannya menyimpan kekayaan alam yang maha-luas dan maha-berharga, yang sungguh tiada taranya di seluruh muka-bumi.
Kedua : Timbulnya kembali satu Bangsa, – Bangsa Indonesia yang di zaman modern ini mau dan dapat berjoang untuk mencapai cita-cita nasionalnya, mau dan dapat berjoang mati-matian untuk mencapai dan mempertahankan kemerdekaan tanah-airnya. Satu Bangsa Indonesia yang dari zaman purba-mula telah memiliki taraf kebudayaan yang tertentu, dan sejak tercapainya kemerdekaan menunjukkan hasrat dan kemampuan untuk mempertinggi lagi taraf kebudayaan nasionalnya itu. Satu bangsa yang dengan hati terbuka menghadapi kemajuan-kemajuan dan ajaran-ajaran dunia internasional, akan tetapi toh tetap berusaha untuk mengembangkan kebudayaan nasionalnya sendiri.
Ketiga : Tersusunnya satu aparatur ke Pemerintahan yang kian tahun kian kuat menuju kepada penyempurnaan, satu aparatur yang didampingi oleh alat-alat kekuasaan bersenjata, yang karena tak berhenti-henti menghadapi kesulitan-kesulitan, dan tugas-tugas dipadang pertempuran, kian hari kian bertambah ketangkasannya dan kemampuannya. Sayang sedikit, bahwa antara Pemerintah dulu dan Angkatan Darat kini ada perselisihan, yang sampai sekarang belum tercapai pemecahan persoalannya.
Keempat : Tersusunnya perhubungan-perhubungan dengan dunia di luar pagar, perhubungan yang istimewa pula dengan negara-negara dan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.
Politik bebas dan aktif terhadap luar negeri tidaklah hanya mempermudah datangnya bantuan guna perkembangan Republik Indonesia, akan tetapi ternyata membawa kemungkinan pula untuk memberikan sumbangan kepada dunia guna mengurangi ketegangan-ketegangan yang membahayakan perdamaian dunia.
Empat hasil perjoangan dan korbanan inilah yang nanti dapat kita letakkan di atas persadanya Konstituante. Empat hasil yang tidak kecil. Siapa bilang kecil? Ingatlah kembali keadaan kita pada permulaan abad ini: Satu bangsa yang terpecah-belah, satu bangsa dalam perbudakan ratusan tahun, satu bangsa yang miskin-papa-sengsara, satu bangsa yang terhina. Bahkan, satu bangsa yang tak boleh menyebutkan namanya sendiri! Alangkah besarnya perbedaan sekarang: Kini kita telah kembali menjadi Bangsa Indonesia yang bulat. Kini kita telah ber-Negara Kesatuan. Kini kita telah ber-Pemerintahan yang teratur. Kini kita telah berhubungan dengan dan dihormati oleh dunia internasional. Sungguh empat hasil yang penuh hormat.
Empat hasil yang membuat mata tiap-tiap patriot Indonesia berlinang-linang. Empat hasil pemberian Tuhan. Tidak sia-sia kita memenuhi panggilan Tuhan-Rabbulalamin. Tidak sia-sia kita berusaha, tidak sia-sia kita berjoang.
Tidak sia-sia kita berkorban …
Demikianlah saudara-saudara, potretnya perjoangan bangsa Indonesia di masa yang lampau sampai ke masa sekarang. Baik sekali lagi aku katakan: Aku melihat satu Bangsa, yang tadinya hampir tenggelam samasekali dalam lembah-lumpurnya kenistaan, yang namanyapun tidak dikenal orang, yang perihatin "akandang langit akemul mega", lambat-laun mengangkat dirinya dari lembah-lumpur itu, dan akhirnya melompat keluar dari lumpur itu dan menghantam remuk-redam imperialisme yang menekan dia tiga ratus lima puluh tahun lamanya di dalam lumpur itu. Aku melihat ia sejak 17 Agustus 1945 berdiri tegak, aku melihat dia menangkis segala hantaman-hantaman-pembalasan, aku melihat ia malahan makin hari makin bertambah besar dan perkasa, wah, aku melihat ia memancarkan sinar, aku melihat ia menengadahkan tangannya memohon restu kepada Ilahi. Aku melihat Dunia Timur laksana berfajar, karena tegaknya kembali Sang Putra Pratiwi ini.
Siapakah gerangan Sang Pratiwi-atmaja itu? la adalah Bangsa Indonesia, yang kini telah tegak kembali sepuluh tahun, tetapi yang, menilik ketabahannya dan keuletannya yang sudah-sudah Insya Allah mungkin dapat mencapai usia sepuluh kali seribu tahun. Sebab di masa yang lampau ia tahu, bahwa sesuatu bangsa hanya dapat berada kalau benar-benar ia berjiwa bangsa, hanya dapat kuat kalau ia bersatu, hanya dapat merdeka kalau ia membeli kemerdekaan itu, hanya dapat bertambah tenaga kalau ia menggembleng tenaga itu, hanya dapat makmur-sejahtera kalau ia memeras-keringat menyusun kesejahteraan itu.
Akan tetapkah ia memperhatikan dan mengamalkan hukum-alam ini? Saudara-saudara, sedetik dibagi seribupun, jangan pernah melupakan hukum-alam ini. Bangsa besar-besar telah lenyap-runtuh, karena melupakan semua atau salah-satu daripada hukum-alam ini. Kerajaan Fir’aun runtuh-lenyap, kerajaan Rumawi runtuh-lenyap, kerajaan Jengis Khan dan Kublai Khan runtuh-lenyap, kerajaan Majapahit runtuh-lenyap, ya Dunia Islam dulu hampir-hampir runtuh-lenyap, karena melupakan semua atau salah-satu daripada hukum-alam ini. Satu Dasa-Warsa kini di belakang kita, satu Dasa-Warsa yang kedua memulai pada hari ini. Marilah kita tetap satu "fighting nation" yang tidak mengenal "journey’s end". Marilah kita insyafi bahwa Hidup adalah Perjoangan, dan bahwa Perjoangan adalah Hidup. Marilah kita amalkan keinsyafan itu, kalau kita hendak memenuhi sumpah kita "sekali merdeka, tetap merdeka".
Ya, marilah kita berani menghadapi tugas dan berani mengamalkan tugas. Jelas tugas-tugas-pokok yang berada di hadapan kita sekarang ini. Jelas lebuh-lebuh yang harus menjadi arah daripada perjoangan dan pembantingan-tulang bangsa Indonesia dalam Dasa-Warsa yang di hadapan kita ini.
Apakah tugas-tugas-pokok yang berada di hadapan kita itu? Aku melihat tugas-pokok lima buah , lebuh-pokok lima buah . Aku melihat Panca Dharma terang memanggil-manggil.
P e r t a m a: persatuan bangsa harus kita gembleng kembali sekompak-kompaknya , jangan ada perpecahan seperti sekarang, jangan ada retak meski sekecil-kecilnyapun juga.
K e d u a: tiap-tiap tenaga pemecah persatuan, apalagi menimbulkan kekacauan dan gangguan keamanan, harus kita tekan, harus kita berantas, harus kita sapu bersih atau kita hantam hancur-lebur dari muka bumi.
K e t i g a: pembangunan di segala lapangan harus kita teruskan, malahan dengan lebih giat daripada yang sudah-sudah – dengan lebih banyak élan daripada dalam Dasa-Warsa yang baru lalu.
K e e m pat: perjoangan mengembalikan Irian Barat pada khususnya, perjoangan menyapu bersih tiap-tiap sisa imperialisme-kolonialisme pada umumnya, harus kita lanjutkan, bahkan harus kita pergiat-perhebat-perlipatgandakan dengan segala konsekwensi, harus kita gegap-gempitakan "lir agawe lindu hing bawana", sampai Irian Barat dipulangkan kembali ke pangkuan kekuasaan Ibu Pertiwi, dan sampai tidak ada satu ekor kutu imperialisme sekalipun masih berada di pangkuan Ibu Pertiwi!
Dan K e l i m a: pemilihan-umum, dengan tidak ditunda seharipun, harus kita selenggarakan dengan konsekwensi di seluruh tanah-air Indonesia, juga di daerah-daerah yang dinamakan daerah pengacauan.
Nah, itulah Panca Dharma yang kulihat melambai-lambai. Panca Dharma yang pasti menyegarkan jiwa pahlawan, Panca Dharma yang membuat darah mengalir cepat dalam tubuhnya orang ksatria, dan mengerutkan hatinya orang pengecut.
Perlukah kuuraikan lagi perlunya Persatuan Bangsa? Sudah barang tentu tidak. Berkali-kali telah kukatakan, bahwa tiada bangsa dapat segar-sentausa, bahkan dapat hidup langsung, zonder persatuan.