Chapter 2
" Dan ketika pintu terbuka, terlihat si besar Miller sedang berdiri di depan pintunya sambil menggenggam lentera di tangan kanannya dan tongkat kayu besar di tangan kirinya.
" Hans kecil temanku," jerit si Miller, 'aku sedang dalam masalah besar. Anak lelakiku yang masih kecil telah jatuh dari tangga dan mengalami luka serius, kini aku akan pergi ke dokter dan memintanya untuk datang. Tetapi dokter ini tinggal ditempat yang jauh sekali, dan malam ini cuaca begitu buruk. Jadi aku pikir daripada aku yang pergi, lebih baik bila kau saja yang pergi memanggil dokter itu. Lagipula aku akan memberimu gerobak dorongku, jadi sepantasnyalah bila kau melakukan sesuatu untukku sebagai balasannya."
" Tentu saja,' jawab Hans kecil khawatir, ' aku merasa dihormati karena engkau telah memilihku untuk meminta pertolongan, dan aku akan pergi secepatnya. Tetapi kau harus meminjamkan aku lenteramu, karena malam ini cuaca begitu buruk dan gelap gulita hingga aku takut aku terjatuh kedalam lubang parit.'
" Waduh, maaf sekali, tapi lentera ini baru kubeli, dan kalau sesuatu terjadi pada lentera baruku ini aku akan rugi besar."
" Oh sudahlah kalau begitu, aku akan berangkat tanpa lentera," sahut Hans kecil, dan ia menurunkan mantel bulunya yang berat dari gantungan, mengambil topi ungunya, dan melilitkan syal coklatnya keleher agar hangat, lalu iapun keluar berjalan dan mulai mengarungi badai.
" Malam itu badai benar-benar dahsyat! Malam begitu gelap sehingga Hans kecil hampir-hampir tak dapat melihat, dan angin berhembus kencang sehingga ia harus bertahan sekuat tenaga agar bisa berdiri dan melangkah. Walaupun begitu Hans kecil begitu berani, dan tidak satupun dari halangan itu menghentikannya. Setelah menempuh perjalanan berat selama lebih dari tiga jam, akhirnya ia tiba di depan rumah sang dokter dan mengetuk pintunya. "
" Siapa disana?" seru sang dokter, ia menjulurkan kepalanya keluar dari jendela kamarnya.
" Ini aku Hans kecil Pak Dokter."
" Ada apa Hans kecil? Apa yang kau inginkan? "
" Anak lelaki si Miller telah jatuh dari tangga, dan kini sedang terluka, Miller mengingikan agar kau datang segera dan mengobatinya."
" Baiklah!" Jawab sang dokter; dan ia memerintah pembantunya untuk menyiapkan kuda, mencari sepatu butnya, dan membawa lenteranya, lalu turun kebawah dan pergi kearah rumah si Miller, Hans kecil berjalan tertatih-tatih mengikuti bunyi kudanya.
" Namun hantaman badai makin memburuk, dan hujanpun turun dengan derasnya, suaranya berderu tertiup angin badai, Hans kecilpun tidak dapat melihat lagi kemana arah yang harus ia tuju, dan telah kehilangan jejak sang dokter dan kudanya karena kakinya yang kecil kurang cepat mengikuti. Akhirnya Hans kecil benar-benar tersesat dan malah berjalan menuju rawa-rawa basah, padahal tempat itu sangat berbahaya karena penuh lubang-lubang tersembunyi yang sangat dalam, dan Hans kecil yang malang pun terjatuh kedalam salah satu lubang tersebut dan tenggelam. Mayatnya ditemukan keesokan harinya oleh seoarang gembala, terapung diatas genangan air, dan dibawa kembali ke pondok kecilnya."
" Semua orang menghadiri pemakaman Hans kecil, karena ia begitu populer, dan si Miller menunjuk dirinya sebagai orang yang paling berkabung."
" Karena akulah sahabatnya,' sahut si Miller, ' maka akan dirasakan adil apabila aku mendapatkan tempat terdepan". Dan berjalanlah si Miller ditempat yang paling depan, mengepalai barisan orang yang berkabung yang mengenakan jubah hitam-hitam, dan sesekali ia menyeka matanya dengan saputangannya yang besar.
thumb|right|250px|pondok Hans kecil " Kepergian Hans kecil benar-benar merupakan kehilangan besar untuk kita semua," Ucap pengrajin besi saat pemakaman selesai, dan mereka semua sedang duduk-duduk dengan nyaman di kedai minuman, sambil mereguk anggur berempah yang hangat dan memakan kue-kue manis. " Benar-benar kehilangan yang besar untuk Ku pribadi,' sahut si Miller, ' bagaimana tidak? Sebenarnya aku terhitung sudah akan memberikan gerobakku padanya, dan sekarang ia telah pergi, aku tidak tau apa yang hendak kulakukan dengan gerobakku itu. Sekarang barang tersebut menjadi penghalang saat aku hendak berjalan dirumahku, dan kondisinya sudah buruk sekali sehingga tidak ada harganya bila hendak kujual. Kini aku akan lebih berhati-hati lagi kalau aku hendak memberikan barangku. Bagaimanapun juga orang yang murah hati dan senang berderma seperti aku selalu saja mengalami penderitaan seperti ini."
" Lalu?" sahut Tikus-air, setelah lama berdiam diri.
" Ya, itulah akhirnya," sahut si burung Linnet.
" Lalu apa yang terjadi dengan si Miller? " tanya si Tikus-air lagi.
" Oh! Entahlah," jawab si burung Linnet; " Dan sejujurnya aku juga tak peduli."
" Sangat jelas bagiku bahwa engkau samasekali tidak punya rasa simpati dalam sikapmu itu. " Kata Tikus-air.
" Maaf, tetapi tampaknya kamu tidak mengerti pesan moral yang terkandung dalam cerita ini, " Burung Linnet memberi penjelasan.
" Apa? " Tikus-air menjerit.
" Pesan moral."
" Apakah kau mencoba mengatakan padaku bahwa cerita tersebut memiliki pesan moral? "
" Tentu saja." sahut si Linnet.
" Oh benar-benar deh, " sahut Tikus-air dengn marah sekali, " Kau seharusnya bilang padaku sebelum mulai bercerita. Bila kau katakan sebelumnya maka aku tidak akan membuang-buang waktuku mendengarkan ceritamu; malah aku seharusnya berkata 'Bah', persis seperti kritikus. Walaupun begitu, belum terlambat, karena aku bisa mengucapkannya sekarang", lalu Tikus-air berteriak, "Bah" semampunya, sambil menggoyang-goyangkan ekornya, dan kembali masuk kedalam lubangnya.
" Waduh, sikapnya jelek sekali Tikus-air itu." Komentar si Bebek, yang mengayuh mendekat beberapa menit kemudian. " Memang sih ia punya beberapa inti perkataan yang aku pikir bagus, tapi karena aku seorang ibu, aku tidak pernah bisa melihat seorang yang menyimpan status lajangnya hingga tua tanpa menitikkan air mata."
" Tampaknya aku telah membuatnya tidak senang," jawab si Linnet. "Karena pada kenyataannya aku telah menyampaikan cerita yang mengandung pesan moral."
" Ah! cerita dengan pesan moral itu seringkali berbahaya untuk disampaikan, " sahut si Bebek.
Dan aku cukup setuju dengan pendapat si Bebek.
Catatan kaki
Referensi Oscar Wilde, Project Guttenberg.
Kategori:Cerita pendek Kategori:Cerita anak
en:The Happy Prince and Other Tales/The Devoted Friend es:El amigo fiel ru:Преданный друг (Уайльд/Сахаров)