The American Missionary — Volume 44, No. 02, February, 1890
Chapter 5
Apa gunanya kita secara buta mengoper teknik dunia Barat, kalau hasilnya pengoperan itu hanyalah satu negara dan masyarakat á la dunia Barat saja? Kalau hasilnya pengoperan itu hanyalah satu negara-copie dan satu masyarakat-copie á la Barat saja, – satu negara-copie dan satu masyarakat-copie dengan berisikan segala penjakitnya exploitation de l'homme par l'homme? Apa gunanya, kalau pengoperan itu tidak mendatangkan pemenuhan dari segala isi Amanat Penderitaan Rakyat? Apa gunanya, kalau pengoperan itu tidak mendatangkan realisasi cita-cita: gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja?
Di Amerika Serikat sendiri, simbol dari kemajuan teknik, simbol dari kemajuan materiil yang berlimpah-limpah, orang ada yang berkata: "there is a virtual despair among many who look beyond material success to the inner meaning of their lives". Artinya: tidak puas dengan hanya sukses materiil belaka.
Negara-negara-Barat yang memang gembong-gembong di lapangan teknik itu, sekarang tidak ada satupun yang mempunyai "Orang-Orang-Besar-Gembong-Konsepsi".
Dalam masa naiknya kapitalismenya, dalam masa Kapitalismus im Aufstieg, mereka mempunyai gembong-gembong seperti Disraeli dan Bismarck dan Gambetta. Dalam masa megap-megapnya kapitalismenya, dalam masa Kapitalismus im Niedergang, mereka mempunyai gembong-gembong seperti Mussolini dan Hitler. Sekarang, dalam masa "Universal Revolution of Man" ini, – they have nobody. Mereka tidak mempunyai pemimpin yang ternama, tidak mempunyai gembong yang ber-konsepsi, tidak mempunyai Leader dengan letter L. yang besar. Tidak mempunyai Konseptor yang suaranya pantas didengarkan oleh seluruh umat manusia dari segala bangsa, segala warna-kulit, segala agama. Misalnya, – maaf saya sebutkan satu misal lagi -: Dulu Amerika saya namakan "the Centre of an idea". Sekarang saya tidak bisa lagi menyebutkan Amerika "the centre of an idea".
Karena itu hai Bangsa Indonesia!, dalam Revolusi kita ini, janganlah kita mencari kepeloporan mental pada orang lain. Carilah kepeloporan mental itu pada diri kita sendiri. Cari sendiri konsepsi-konsepsimu sendiri! Sudah barang tentu fihak lain, terutama sekali fihak imperialisme, selalu mencoba mencekokkan alam-fikirannya ke dalam hati dan kepala kita, – dengan mereka-punya propaganda, dengan mereka-punya perpustakaan-perpustakaan, dengan mereka-punya film-film, dengan mereka-punya penetrasi kebudayaan, dan lain-lain sebagainya, – dan berapa kaum intelektuil kita tidak terkena cekokan diam-diam ini?, – berapa profesor-profesor kita dan sarjana-sarjana kita tidak masih ngglenggem dalam merekapunya textbooks bikinan Rotterdam atau Utrecht atau Harvard atau Cambridge? – saya ulangi: sudah barang tentu fihak lain selalu mencoba mencekokkan alam-fikirannya ke dalam hati dan otak kita, – tetapi, jadilah Bangsa yang Besar yang tidak menjiplak, jadilah mercu-suar yang gemilang bersinar sendiri, susunlah kitapunya konsepsi-konsepsi atas dialektik Revolusi kita sendiri. Freedom to be free, freedom to be free!, – freedom to be free juga di alam konsepsi sendiri! Dan dengan dialektik kita itu, selalu tingkatkanlah konsepsi-konsepsi Revolusi kita itu menjadi setingkat dan seirama dengan dialektiknya Sejarah Umat Manusia yang sekarang juga sedang bergelora dan berbangkit. Jikalau tidak, kita nanti diganyang, dilindas menjadi glepung oleh dialektiknya Sejarah Umat Manusia itu.
Saudara-saudara! Saya berbesar hati bahwa Revolusi kita ini sekarang sudah berupa gunung-karang-realitas bagi kawan dan bagi lawan. Saya berbesar hati bahwa Revolusi kita ini sekarang tidak lagi diremehkan oleh lawan, dianggap sepi oleh lawan, atau dianggap sebagai satu "kegilaan" oleh lawan. Karena itu, saya tak heran bahwa lawan semakin berikhtiar untuk mematahkan Revolusi kita ini, makin mengepung revolusi kita ini dengan segala tipu-daya dan subversi, makin gila-gilaan menjelek-jelekkan Revolusi kita ini. Saya berbesar hati, bahwa sekarang ini seluruh telinga lawan dipasang untuk mendengarkan pidato Pemimpin Besar Revolusi Indonesia pada hari ini.
Untuk didengar oleh telinga lawan itu, saya sekarang dengungkan lagi apa yang sudah saya katakan berulang-ulang: "Go to hell with your "Indonesia going to economic collapse"! Go to hell dengan omonganmu bahwa Indonesia akan binasa ekonomis. Go to hell! Psy-warmu tidak mempan! Psy-warmu kami anggap gonggongan anjing. Berpuluh-puluh kali engkau bilang Indonesia di bawah pimpinan Sukarno akan ambruk, akan collapse, akan hancur, tetapi psy-warmu tidak mempan! Tahun yang lalu mereka "meramalkan" bahwa Indonesia permulaan tahun 1964 akan ambruk ekonomis. Tetapi permulaan 1964 Indonesia tidak ambruk!, dan sekarang mereka berkata lagi bahwa nanti bulan Oktober yang-akan-datang-ini Indonesia akan ambruk, – akan "collapse". Go to hell! Indonesia tidak akan ambruk, – Insya Allah, Indonesia tidak akan ambruk!
Paceklik 1962 dan paceklik 1963 tidak membuat Indonesia ambruk ekonomis, apalagi 1964, di mana panen kita di mana-mana berhasil baik, – Indonesia tidak akan ambruk!
Of course, sudah barang tentu, kita masih menghadapi kesulitan-kesulitan di segala bidang, – sebagaimana semua negara-negara-dalam-revolusi menghadapi kesulitan-kesulitan, – apalagi kita, yang baru saja delapan tahun dapat bekerja membangun, – lima tahun yang pertama kita pergunakan untuk physical revolution, lima tahun lagi kemudian kita pergunakan untuk survival – of course, sudah barang tentu, kita menghadapi dan harus memecahkan kesulitan-kesulitan, – tetapi gobloklah orang kalau ia berkata bahwa Indonesia akan ambruk.
No Sir!, kami tidak akan ambruk! Bersama-sama Rakyat Indonesia, kita akan pecahkan segala kesulitan-kesulitan itu, bersama-sama kita akan ganyang segala kesulitan-kesulitan itu. That's what the Revolution is for! Justru itulah tugas Revolusi!: memecahkan kesulitan-kesulitan, melenyapkan segala rintangan-rintangan.
Revolusi bertugaskan dan memang berada untuk memecahkan kesulitan-kesulitan. Revolusi bukanlah nyanyian keroncong Moritsko angler-angleran, Revolusi adalah perjuangan, perjuangan, sekali lagi perjuangan, perjuangan yang bersayap razende inspiratie, perjuangan yang berkendaraan gegap-gempitanya aksi Rakyat untuk memecahkan kesulitan-kesulitan yang merintang di tengah jalan, perjuangan yang akhirnya mencapai kemenangan-akhir yang gilang-gemilang, yaitu terlaksananya Amanat Penderitaan Rakyat.
Ya, saya katakan lagi, memang ada kesulitan-kesulitan, tetapi kesulitan-kesulitan itu akan kita pecahkan bersama, – that's what the Revolution is for! -, kesulitan-kesulitan itu akan kita ganyang, – that's what the Revolution is for, and – we can take it! Inilah romantiknya Revolusi! Inilah dinamiknya Revolusi! Siapa yang tidak memiliki romantiknya Revolusi, siapa yang tidak memiliki dinamiknya Revolusi, – sudah, jangan ikut Revolusi, masuk saja di kandang kambing, ngempeng susu saja dari tetek si kambing itu!
Baca Manipol, baca semua pidato-pidato saya yang dulu, dan benang-merah yang menjelujur semua pidato-pidato saya itu ialah: perjuangan, perjuangan, sekali lagi perjuangan, dan bahwa Revolusi adalah perjuangan. "Inallaha la yu ghoyiru ma bikaumin, hatta yu ghoyiru ma biamfusihim". "Tuhan tidak merubah nasibnya sesuatu bangsa; sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri". Firman Tuhan inilah gitaku, firman Tuhan inilah harus menjadi pula gitamu: Berjuang, berusaha, membanting tulang, memeras keringat, mengulur-ulurkan tenaga, aktif, dinamis, meraung, menggeledek, mengguntur, – dan selalu sungguh-sungguh, tanpa kemunafikan, ikhlas berkorban untuk cita-cita yang tinggi. Hai Manipolis, – jangan Manipolis munafik! Hai USDEKis, – jangan USDEKis munafik! Hai Sosialis, – jangan Sosialis munafik! Hai Nasakomis, – jangan Nasakomis munafik! Penyakit-busuk dari semua perjuangan ialah kemunafikan! Kemunafikan adalah sumber dari segala kelemahan. Sumber perpecahan. Sumber reformisme. Sumber kompromis. Sumber revisionisme. Sumber rontoknya romantik, dinamik, dan dialektik. Sumber pengkhianatan. Sumber segala kerling-kerlingan main-mata dengan musuh.
Celakalah sesuatu Revolusi yang disarangi oleh orang munafik. Karena itu, jebollah kemunafikan di mana ada, tendang-keluarlah kemunafikan dari segala penjuru!
Tendang-keluar orang-orang yang berkepala dua. Bersihkan, bersih-sucikan Manipol, sucikan Usdek, sucikan Sosialisme kita, sucikan Revolusi kita, sucikan Revolusi kita ini dari segala penyakit-penyakit-busuk yang menghinggapinya. Sucikan ia dari segala kemunafikan! Sucikan, kocok-bersih tubuh kita sendiri, agar kita kuat menghantam-remuk-redam semua musuhnya Revolusi.
Ya. Subversi musuh masih amat lihaynya berjalan terus! Salah satu usaha mereka ialah menggremeti orang-orang munafik! Menggremeti orang-orang yang kurang teguh kemanipol-annya dan kurang teguh keUSDEKannya, untuk misalnya mengadakan "coup" kepada pemerintah Sukarno, yang olehnya dinamakan "bajingan keparat" biang-keladi Manipol dan biang-keladi USDEK itu. Dan mereka sudah beberapa kali meramalkan bahwa nanti bulan ini atau bulan itu Sukarno akan dicoup, Sukarno akan jatuh, Sukarno "tidak akan ada lagi". Bukti-bukti tertulis tentang hal-hal semacam ini adalah di tangan saya! Tetapi, Allahu Akbar, Tuhan Maha Besar, saya masih berada di muka saudara-saudara! Saya masih berada di muka saudara-saudara sebagai Presiden Republik Indonesia, sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, sebagai Perdana Menteri Pemerintah, sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Saya masih berada demikian, karena perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa, dan karena kesetiaan Rakyat kepada Manipol, kepada USDEK, kepada Pancasila, kepada segala garis-besar pimpinan saya dalam Revolusi kita ini. Kalau Rakyat umpamanya tidak setuju kepada pimpinan saya itu, – sudah lama saya diganyang oleh Rakyat itu sendiri.
Saudara-saudara yang berhadapan dengan saya di Lapangan Merdeka ini, dan saudara-saudara yang mendengarkan pidato saya ini di seluruh pelosok tanah-air, – saudara-saudara semua merasa gembira memperingati hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan. Dengan tekad baru dan dengan kekuatan segar, ditambah dengan alam-fikiran yang lebih dewasa karena telah mengunyah-merenungkan segala pengalaman-pengalaman yang di belakang kita, dan mengunyah-merenungkan segala jurusan yang harus kita tempuh, kita kini memasuki tahun ke XX daripada Kemerdekaan kita. Pesanku kepadamu ialah, sebagai telah kupesankan kepadamu dahulu: "Mengalirlah, hai sungai Revolusi Indonesia, mengalirlah ke Laut, janganlah mandek, sebab dengan mengalir ke Laut itu, kamu setia kepada sumbermu!".
Jelasnya sekarang pesanku itu ialah: Mengalirlah, hai sungai Revolusi Indonesia, mengalirlah dengan kekuatannya romantikmu dan ketangkasannya dinamikmu ke arah jurusan yang dijelmakan oleh dialektik Revolusi, mengalirlah, jangan mandek, sebab dengan mengalir ke arah jurusan yang dijelmakan oleh dialektikmu itu, maka engkau setia kepada Amanat, yang Penderitaan Rakyat telah berikan kepadamu!
Bagi saya sendiri, – tiap-tiap kali sesudah saya pada 17 Agustus membacakan Amanat kepada Rakyat, sesudah saya masuk kembali ke Istana Merdeka, saya selalu duduk termenung beberapa menit, – pertama untuk menyatakan syukurku kepada Tuhan, kedua untuk menikmati kekagumanku atas Bangsaku Indonesia. Engkau Bangsaku Indonesia, engkau, yang sedang ber-revolusi dalam tubuh bangsa sendiri, dan engkau pula, yang sedang ber-revolusi untuk merubah keadaan seluruh umat manusia! Allahu akbar, – alangkah uletmu, alangkah tinggi daya-tahanmu! Alangkah tegap-tegas derap-langkahmu! Dengan Rakyat seperti engkau itu aku bisa dengungkan ke seluruh muka bumi pekik-perjuangan kita yang berbunyi "Kemerdekaan – Sosialisme – Dunia Baru", dan aku bisa geledekkan dalam telinga-nya semua imperialis di muka bumi: "Ini dadaku, mana dadamu!" Dan aku bisa ulangi apa yang pernah kukatakan di luar negeri: "The Indonesian People can take every thing for the sake of Revolution". Revolusi Indonesia bisa mengganyang segala-segala apa saja yang ditimpakan kepadanya!
Saudara-saudara sering memberikan gelar-keagungan kepadaku, – gelar ini gelar itu -, bahkan mengangkat aku sebagai Pemimpin Besar Revolusi. Sebaliknya, aku mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa aku ditunjuk untuk memimpin perjuangannya Bangsa Indonesia ini, – suatu Bangsa yang jiwanya Jiwa Besar, suatu Bangsa yang ulet laksana baja, suatu Bangsa yang mempunyai daya-tahan (incasseringsvermogen) yang luar biasa, suatu Bangsa yang dapat bersikap ramah-tamah-lemah-lembut, tetapi juga kalau disakiti atau diserang dapat "mengamuk" laksana Banteng! Tiap-tiap 17 Agustus kekagumanku kepadamu selalu makin bertambah, tiap-tiap 17 Agustus aku merasa melihat bahwa Revolusi Indonesia memang satu Revolusi Maha Besar yang mengejar satu Ide, – Ide Besar, yakni melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia, dan Amanat Penderitaan Rakyat di seluruh muka bumi. Dan tiap-tiap 17 Agustus aku makin teguh keyakinanku: Revolusi Indonesia adalah Revolusi tanpa-mati, Revolusi Indonesia pasti akan menang!
Dengan Rakyat seperti Rakyat Indonesia ini, aku berani meningkatkan Revolusi Indonesia itu menjadi satu Revolusi yang benar-benar multicomplex, aku berani memimpinnya, aku berani mensenopatiinya, karena aku merasa mampu untuk dengan ridho Tuhan meningkatkan segala tenaganya, meningkatkan segala pikirannya, menggegap-gempitakan segala romantik dan dinamiknya, mendentam-dentamkan segala hantaman-hantamannya, menggelegarkan segala pembantingan-tulangnya, mengangkasakan segala daya kreasinya, menempa-menggembleng segala otot-kawat-balung-wesinya!
Sungguh: Kamu bukan bangsa cacing, kamu adalah Bangsa berkepribadian Banteng!
Hayo, maju terus! Jebol terus!
Tanam terus! Vivere pericoloso!
Ever onward, never retreat!
Kita pasti menang! Kategori:Pidato Soekarno