The American Missionary — Volume 44, No. 02, February, 1890
Chapter 4
Akhirnya saya harus mengucapkan beberapa patah pula ke alamat Pemerintah Amerika Serikat. Ini di luar kemauan saya, dan seandainya tidak ada Komunike Bersama Johnson-Tengku, maka kata-kata saya ini tak ‘kan pernah saya ucapkan. Hasrat bersahabat dari fihak Indonesia terhadap Amerika Serikat sudah jelas sekali. Bahkan sesudah percobaan pendaratan Armada ke-VII ke Pakanbaru, bahkan sesudah pemboman-pemboman oleh Alan Pope, bahkan sesudah penghinaan-penghinaan oleh Avery Brundage, bahkan sesudah tingkah-laku yang tak patut dari Michelmore, Pemerintah Republik Indonesia masih bersedia memaafkan kejadian-kejadian itu. Tetapi seperti baru-baru ini diterangkan oleh Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Subandrio – soal hubungan RI-AS tidak semata-mata bergantung kepada Republik Indonesia, soalnya juga bergantung dan terutama bergantung kepada Pemerintah Amerika Serikat. Sudahkah Pemerintah Amerika Serikat berfikir berkali-kali sebelum membubuhkan tandatangannya kepada Komunike Bersama Johnson-Tengku yang penuh dengan kata-kata hostile, kata-kata permusuhan, terhadap Republik Indonesia itu? Sudahkah mereka memikirkan akan akibat-akibatnya? Tidakkah mereka ingat akan kearifan-tua, bahwa menyakiti hati adalah mudah, tetapi menyembuhkannya adalah sulit? Dengan perasaan berat saya harus mengatakan, bahwa Komunike Bersama Johnson-Tengku itu benar-benar keterlaluan. Benar-benar di luar batas! Pemerintah Amerika Serikat seharusnya menarik pelajaran dari politiknya selama ini yang mengutamakan Taiwan daripada Tiongkok. Tepat 40 tahun yang lalu administrasi Calvin Coolidge mengakui Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis. Kenapa 40 tahun sesudah itu administrasi Amerika Serikat belum juga mau mengakui RRT, dan masih mempreferir Taipeh daripada Peking? Sekarang dengan Komunike Bersama Johnson-Tengku itu malahan administrasi Johnson mempreferir "Malaysia" daripada Republik Indonesia.
Saya tahu apa alasan yang akan mereka berikan! Tempohari, ketika kita melancarkan Trikora, mereka mengatakan "baik Belanda maupun Indonesia sahabat kami". Sekarang di waktu Dwikora ini, tentulah mereka mengatakan "baik Malajsia maupun Indonesia sahabat kami".
Tetapi, maaf, tuan-tuan – dalam hal "Malaysia" kami tak bisa menerima kompromi, apalagi kompromi yang tidak manis terhadap kita ini. Tidak mungkin persahabatan dengan Republik Indonesia disatunafaskan dengan persahabatan dengan "Malajsia"! Apalagi, jika diteliti kalimat-kalimat dan kata-kata dan semangat Komunike Bersama Johnson-Tengku itu! To be frank; neither the wording nor the spirit is friendly! Baik kata-katanya maupun semangatnya, tidaklah manis.
Tetapi saya tandaskan di sini, bahwa kami tidak gentar oleh Komunike Bersama Johnson-Tengku itu! Kami hanya mau menandaskan, bahwa, kalau sampai buruk hubungan RI-AS, maka sebab-sebabnya tidak terletak pada Republik Indonesia, seperti buruknya hubungan Kamboja-Amerika Serikat, sebab-sebabnyapun tidak terletak pada Kamboja. Pangeran Norodom Sihanouk sendiri baru-baru ini menulis kepada Redaksi "Time", Amerika: "What do you reproach me with, exactly? Not to have abased myself before the dollar? To have succeeded, where so many others in this troubled region have failed? With providing my enslaved Asian brethren with a "bad example" by my pride, patriotism and independence? With placing the interests of Washington after those of my country?" ("Karena apakah sebenarnya kalian mencela saya? Karena tidak mau menghinakan diri di hadapan dollar? Karena telah berhasil, sedang begitu banyak orang lain di daerah yang keruh ini telah gagal? Karena memberikan ‘teladan yang buruk' bagi saudara-saudara Asia yang diperbudak, teladan dengan kehormatan, patriotisme dan kemerdekaan? Karena menempatkan kepentingan-kepentingan Washington di belakang kepentingan-kepentingan negeri saya sendiri?").
Ada lagi satu contoh: Cukup banyak sikap pemerintah Perancis yang tak saya setujui, tetapi orang, bagaimanapun, toh harus mengakui bahwa jenderal De Gaulle menjalankan politik yang ada mengandung realiteitszin. Pembukaan hubungan diplomatiknya dengan RRT, usulnya untuk menetralisasikan Vietnam Selatan, dan inisiatif-inisiatifnya yang lain, membuktikan adanya pemikiran yang lain, membuktikan adanya pemikiran yang tidak konventionil. Seperti dikatakan oleh Rene Dabernat dalam "Le Combat"; "De Gaulle has launched a frontal attack against the wall of silence, of conformity, of habit" … Sesungguhnya, sejak Perang Dunia II terlalu sering, bahkan hampir selalu, pemerintah-pemerintah kapitalis yang non-AS seperti di-kungkung oleh tembok kebungkeman (tidak membantah), tembok keseragaman (tak berani lain), dan tembok kebiasaan (tak pernah secara orisinil mengorientasi ke Asia atas dasar baru).
Lihat! Kami sekarang memperbaharui hubungan-hubungan kami dengan Belanda. Dari fihak kami, kami menunjukkan cukup kesediaan dan kemauan baik, selama hubungan baik itu diletakkan di atas dasar persamaan derajat. Kami bukan bangsa pendendam, kami bukan bangsa yang berhati batu, tetapi janganlah sekali-kali melukai hati kami lagi. Saya kira tak bisa dibayangkan sikap yang lebih masuk-akal daripada sikap kami ini!
Seperti saya nyatakan di depan PBB: "Kami tidak berusaha mempertahankan dunia yang kami kenal; kami berusaha membangun suatu dunia yang baru, yang lebih baik! … Seluruh dunia ini merupakan suatu sumber tenaga Revolusi yang besar, suatu gudang mesiu revolusioner yang amat luas!"
Saudara-saudara! Masih banyak persoalan-persoalan yang harus kita tanggulangi, soal-soal nasional maupun internasional. Terutama penanggulangan ekonomi masih menuntut banyak peluh-keringat dari kita.
MMAA II, sebagai pengembangan daripada konperensi Bandung, telah merumuskan dengan baiknya keharusan setiap negara Asia-Afrika untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam ekonomi, bebas dalam politik, berkepribadian dalam kebudayaan.
Saya teringat akan apa yang dikatakan Perdana Menteri Kim Il Sung di tahun 1947: "In order to build a democratic state, the foundation of an independent economy of the nation must be established … Without the foundation of an independent economy, we can neither attain independence, nor found the state, nor subsist".
"Untuk membangun satu Negara yang demokratis, maka satu ekonomi yang merdeka harus dibangun. Tanpa ekonomi yang merdeka, tak mungkin kita mencapai kemerdekaan, tak mungkin kita mendirikan Negara, tak mungkin kita tetap hidup".
Sekarang Korea-nya Kim Il Sung sudah sepenuhnya memecahkan masalah sandang-pangan, produksi padinya saja 400 kg lebih per kapita pertahun, dan dari negara agraris-industriil sekarang Korea Kim Il Sung sudah menjadi negara industriil-agraris. Inilah kondisinya, maka Korea itu secara politik maupun kebudayaan tidak tergantung kepada siapapun.
Indonesia tak mau berdiri di belakang! Indonesia mau berdiri di barisan depan dalam merealisasikan azas MMAA II itu! Dari sinilah keterangannya mengapa, sekalipun saya tahu banyak kesulitannya untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam hal sandang-pangan, saya sudah bertekad untuk secepat mungkin tidak mengimport beras lagi.
Sejak 17 Agustus 1964 ini saya menghendaki kita tidak akan membikin kontrak baru lagi pembelian beras dari luar negeri! Saya minta saudara-saudara sekalian membantu usaha ini. Selain melaksanakan UUPA-UUPBH, selain membasmi hama tikus dan hama-hama lain, selain memberantas segala pemborosan, segala pencoleng-pencoleng kekayaan negara dan segala pengacau-pengacau ekonomi – kalau perlu dengan menembak mati mereka itu! -, maka saya minta saudara-saudara berkorban pula di atas lapangan makanan ini. Produksi beras kita sebenarnya sudah cukup! Tetapi kenapa kita harus membuang devizen 120 á 150 juta dollar tiap-tiap tahun untuk membeli beras dari luar negeri? Kalau US$ 150.000.000 itu kita pergunakan untuk pembangunan, alangkah baiknya hal itu! Tambahlah menu-berasmu dengan jagung, dengan ubi, dengan lain-lain! Jagung adalah makanan sehat, kacang adalah makanan sehat! Campur menumu, campur menumu! Saya sendiri sedikitnya seminggu sekali makan jagung, dan badanku, lihat!, adalah sehat. Marilah kita berkorban sedikit, sebagaimana sukarelawan-sukarelawati kita juga sedia berkorban!
Ciri dari ekonomi kolonial tempohari adalah ketergantungan dalam banyak hal, termasuk pangan, dan sebaliknya yang diutamakan oleh ekonomi kolonial adalah bahan-bahan-export, umumnya bahan mentah. Dekon menghendaki perombakan ekonomi kolonial itu! Dekon dengan tegas menggariskan bahwa pertanian itu dasar, dan industri itu tulangpunggung.
Seperti sudah saya katakan di depan tadi, maka perubahan pertanian atau perubahan agraris itu merupakan syarat bagi "kepabrikan", yaitu bagi industrialisasi. Inilah redenasinya, inilah rationya, mengapa di dalam Jarek kukatakan bahwa keputusan untuk mengadakan Landreform itu diliputi oleh semangat "foreseeing ahead", yaitu semangat telah "melihat lebih dahulu". Sebaliknya, menolak Landreform, yang dalam jangka panjang berarti pula menolak industrialisasi, menandakan pandangan yang cupet, yang cetek, yang sempit; yang dangkal, yang bodoh!
Mengenai perusahaan-perusahaan modal Inggeris yang telah diambilalih oleh kaum buruh dan kini mulai dikuasai oleh Pemerintah, baiklah saya tegaskan bahwa pada dasarnya dan pada akhirnya tidak boleh ada modal imperialis yang beroperasi di bumi Indonesia. Modal imperialis yang masih beroperasi di sini harus tunduk sepenuhnya kepada perundang-undangan nasional Indonesia. Modal ex-Inggeris itu akan dikuasai sepenuhnya oleh Pemerintah. Sudah tentu prosedurnya bisa bermacam-macam, bisa nasionalisasi dengan kompensasi, bisa juga konfiskasi tanpa kompensasi. Jalan mana yang akan harus ditempuh, ini bergantung pada sikap Inggeris terhadap pembubaran "Malaysia".
Belakangan ini juga ada diskusi mengenai nation-building dan character-building. Kita semua boleh bergembira bahwa setelah "PRRI-Permesta" kita tumpas, sukuisme-daerahisme-provinsialisme sudah sangat berkurang. Juga sesudah rasialisme 10 Mei tahun yang lalu kita tindak, maka rasialisme itu – sekalipun masih latent – tidak akut lagi. Seperti saudara-saudara sekalian tahu, yang selalu saya impi-impikan adalah kerukunan Pancasilais-Manipolis dari segala sukubangsa, segala agama, segala aliran politik, segala kepercayaan. Kerukunan dari segala suku, artinya termasuk suku-suku peranakan atau keturunan asing, – Arab-kah dia, Eropah-kah dia, Tionghoa-kah dia, India-kah dia, Pakistan-kah dia, Yahudi-kah dia. Untuk mencapai ini saya menganjurkan integrasi maupun asimilasi kedua-duanya. Juga dalam hal ini kita tak bisa sekadar memenuhi keinginan-keinginan subyektif kita. Kita harus tahu hukum-hukumnya! Tak bisa misalnya kita – jangankan 1-2 generasi, 10 generasipun tak bisa meniadakan "rahang Batak", atau "sipit Tionghoa", atau "mancung Arab", atau "lidah Bali", atau "kuning langsat Menado", atau "ikal Irian", dan sebagainya. Memang bukan ini yang menjadi soal! Yang menjadi soal ialah: bagaimana membina kerukunan, membina persatuan, membina Bangsa, di antara semuanya, dan dari semuanya. Untuk mencapai hal ini, maka di samping tiap-tiap suku memberikan sumbangan-sumbangan positif, tiap-tiap suku juga harus menerima sumbangan-sumbangan positif dari suku-suku lain. Pendeknya, semua suku harus mengintegrasikan diri menjadi satu keluarga besar Bangsa Indonesia. Kebhinnekaan harus terus kita bina, karena justru ke-Bhinnekaan inilah unsur menjadikan ke Ekaan. Bhinneka Tunggal Ika harus kita fahami sebagai satu kesatuan dialektis! Yang terpenting adalah mengikis-habis sisa-sisa rasialisme.
Oleh sebab itulah saya perintahkan kepada Pengadilan untuk mempercepat pemeriksaan perkara-perkara rasialisme, yang hanya membikin malu kita saja sebagai bangsa. Tentang pekerjaan LPKB, yang setahun yang 1alu saya restui dengan pesan supaya terutama memberantas phobi-phobian, saya akan sempurnakan susunannya dengan me-NASAKOM-kan pimpinannya, di daerah-daerah maupun di pusat. Dalam pada itu saya sedikit kecewa bahwa LPKB belakangan ini ikut-ikut campur dalam urusan-urusan yang bukan bidangnya, seperti koperasi, pariwisata, dan lain-lain. Saya dulu pernah menjewer FNPIB karena mengurusi totalisator, – lha mbok LPKB menarik pelajaran dari peringatan saya itu!
Mengenai soal-soal internasional, yang terpenting rasanya adalah KAA II yang akan datang. Kita senang sebanyak mungkin tenaga revolusioner-progresif tergabung dalam KAA itu. Perjuangan berarti menghimpun sebanyak mungkin tenaga dalam perjuangan itu. Juga dalam perjuangan anti-imperialisme, negara-negara Asia-Afrika harus mengusahakan "samenbundeling van alle revolutionnaire krachten". Saya mengharap, bahwa soal peserta Konferensi A.A. tidak menimbulkan perpecahan dalam kalangan kekuatan-kekuatan revolusioner-progresif. Saya akan sangat prihatin melihat perpecahan di kalangan blok revolusioner-progresif, oleh karena hal itu merugikan solidaritas kekuatan-kekuatan yang menentang kolonialisme dan imperialisme. Saya sungguh-sungguh minta perhatian dari semua kekuatan revolusioner-progresif, jangan sampai perbedaan pendirian di kalangan mereka, merugikan kepada perjuangan-umum menggempur kolonialisme-imperialisme itu!
Mengenai "KTT non-blok", saya tak merasa perlu menambahkan apa-apa lagi sesudah statement Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Subandrio di depan DPR-GR yang saya setujui sepenuhnya. Saya gembira sekali menyaksikan bahwa persatuan negara-negara Afrika semakin tergalang, dan saya menyambut-baik keputusan KTT mereka baru-baru ini, yang, sesuai dengan mandat yang diberikan oleh MMAA II, menetapkan Aljazair sebagai tempat KAA II tahun depan.
Ya, pohon Semangat Bandung akarnya sudah semakin masuk-tanah! Daunnya semakin rindang! Bunganya semakin semarak! Buahnya semakin banyak dan lezat! Solidaritas Asia-Afrika sudah bertambah kokoh, dan ini merupakan gunung-karang yang membikin kandasnya setiap percobaan reaksioner dan kontra-revolusioner dari "nekolim". (Ini singkatan Jenderal Yani untuk neo-kolonialisme, kolonialisme dan imperialisme).
Bukan saja solidaritas Asia-Afrika kian kokoh, tetapi juga solidaritas Nefo, solidaritas New Emerging Forces, yang melingkupi tritunggal negara-negara sosialis, negara-negara yang baru merdeka, dan kekuatan progresif di negara-negara kapitalis, solidaritas Nefo inipun makin menjelma, makin tumbuh, makin kokoh. Ketika saya mengkoreksi teori "tiga kekuatan dan kekuatan ketiga", dan melantunkan teori Nefo kontra Oldefo, ada orang-orang, malahan ada sebagian di antara kawan-kawan kita sendiri, yang tidak segera mengertinya, dan mengira bahwa teori Nefo itu "tidak ada isinya". Dasar mereka orang-orang yang tak mempunyai penglihatan sejarah! Orang-orang yang tak mempunyai Historis Inzicht! Sekarang bukan saja Ganefo I sukses besar, tetapi ofensif Nefo di bidang politik, ekonomi, kultur dan militer mencapai kemenangan-kemenangan dari hari-kehari pada skala internasional. Angan-angan Indonesia untuk mengadakan Konferensi New Emerging Forces, yaitu Conefo, dengan demikian meningkat akan menjadi realitas, meski bagaimanapun fihak imperialis akan menghalang-halanginya! Arus Sejarah tak dapat dibendung oleh siapapun juga, tidak oleh dewa-dewa di kayangan sekalipun!
Memang ada pokal yang macam-macam dari kaum imperialis itu: di Brazilia pemerintah Goulart mereka gulingkan; terhadap Kuba terus-menerus mereka lancarkan serangan-serangan; di Konggo mereka dudukkan Tsombe; ke Asia Tenggara mau mereka tumplekkan seperempat-juta tentara asing. Tetapi semua ini bukanlah arus-pokok sejarah! Semua ini adalah arus-balik sejarah, yang dus hanya berwatak sementara, dan tak ‘kan tahan akan seretannya arus-yang-pokok. Pasti ia akan hanyut, pasti ia akan tenggelam! Pasti!, seperti pastinya matahari terbit lagi di hari besok!
Brazilia dibegitukan, Kuba dibegitukan, Konggo dibegitukan, sebagian dari Asia Tenggara dibegitukan, – saya peringatkan kepada kaum imperialis manapun: jangan menjamah wilayah Republik Indonesia, j a n g a n m e n j a m a h ! Pemerintah dan Rakyat Indonesia tak akan membiarkan sejengkalpun tanah-tumpah-darahnya diinjak oleh musuh! Janganlah kalian coba-coba mengganggu Banteng Indonesia! Di lain tempat kalian toh sudah kewalahan menghadapi rakyat-rakyat yang membela tanah-airnya, apalagi kalau kalian menghadapi 103 juta Rakyat Indonesia yang bersemangat Banteng, dan menghadapi AL-AU-AD-AK Indonesia yang terkuat di Asia Tenggara, yang berkobar-kobar semangat patriotiknya, yang bersama Rakyat sudah pernah mengusir tentara Jepang, mengusir tentara Inggeris, mengusir tentara Belanda, dan sudah pernah menghantam remukredam-hancurlebur "DI-TII" dan "PRRI-Permesta" dengan semua begundal-begundalnya!
Ya, saudara-saudara, kita ini sekarang sedang dikepung! Tetapi kepadamu, kepada segenap bangsa Indonesia kuserukan, agar mengasah dan terus mengasah keris cinta-tanah-airmu, mempertajam dan terus mempertajam rencong kewaspadaanmu, menempa dan terus menempa godam persatuanmu. Kita mempunyai Manipol, kita mempunyai Pancasila, senjata ampuh persatuan revolusioner Indonesia.
Gunakanlah senjata ini untuk mencegah setiap perpecahan nasional, dan konsentrasi-kanlah segala kekuatan nasional. Akhirilah segala phobi-phobian, hentikanlah jegal-jegalan dan srimpung-srimpungan, tulislah di atas panjimu "NASAKOM" dan sekali lagi "NASAKOM", kembangkanlah daya-inisiatif dan daya-kreatifnya massa Rakyat, terutama massa Rakyat yang terorganisasi dan yang bernaung di bawah panji-panjinya Front Nasional.
Kepada sukarelawan-sukarelawan dan sukarelawati-sukarelawati kukomando-kan, agar menunaikan segala tugas nasional-patriotikmu dengan semangat berkorban yang setinggi-tingginya, dan agar memberikan andil yang sebesar-besarnya kepada perjuangan besar, kepada perjuangan suci kita mengganyang neo-kolonialisme "Malaysia"!
Kepada seluruh Rakyat, kepada Angkatan Bersenjata, kepada semua alat negara, kepada semua alat Revolusi, kuserukan untuk merapatkan barisan, senantiasa siap-siaga dan bersatu di bawah Bendera Revolusi. Ya! Di bawah Bendera Revolusi, bukan di bawah bendera kompromi atau bendera liberal, di bawah Bendera Revolusi Indonesia, Revolusi kita, Revolusi demokrasi-sosialis, Revolusi yang harus kita gelorakan terus, Revolusi yang harus makin maju dan makin memuncak!
Karena itu kita harus menjaga jangan Revolusi kita itu mati. Karena itu semboyan kita ialah RESOPIM. Ya!, Revolusi, sekali lagi Revolusi! Tadi telah kukatakan: Beri ia romantik. Beri ia dinamik. Beri ia dialektik. Jangan ia mandek. Teruslah ia maju! Teruslah ia Revolusi! Teruslah ia progresif. Keprogresifan adalah syarat-mutlak bagi sesuatu Revolusi Modern di abad ke XX. Ingat! Revolusi kita adalah Revolusi di abad XX, bukan revolusi di abad XVII!
Segala apa yang saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi pimpinkan kepada Revolusi, adalah pencerminan daripada progresifitasnya Revolusi Indonesia.
Tidak ada satu hal dalam pimpinan saya itu yang konservatif, tidak ada satu hal yang "mandek", tidak ada satu hal yang tidak-progresif.
Unsur-unsur keprogresifan itu terdapatlah di semua lapisan masyarakat Indonesia. Ada di kalangan Agama. Ada di kalangan nasionalis. Ada di kalangan sosialis-komunis. Bukan? Agama menghendaki kemerdekaan dan keadilan. Nasionalis Indonesia menghendaki socio-nasionalisme dan socio-demokrasi. Sosialis-komunis menghendaki kemerdekaan dan sosialisme. Ketiga-tiganya dus mengandung keprogresifan. Karena itu, maka NASAKOM adalah keharusan-progresif daripada Revolusi lndonesia. Siapa anti NASAKOM, ia tidak progresif! Siapa anti NASAKOM, ia sebenarnya adalah memincangkan Revolusi, mendingklangkan Revolusi! Siapa anti NASAKOM, ia tidak-penuh-revolusioner, ia bahkan adalah historis kontra-revolusioner!
Dan segala apa yang saya namakan unsur Revolusi itu, – romantikkah, dinamikkah, dialektikkah, progresifitaskah, kemerdekaankah, kegotong-royongankah, ke Nasakomankah, – semua itu harus hidup di kalangan Rakyat, berkobar-kobar di dalam kalbunya Rakyat, berdentam-dentam di dalam fikirannya Rakyat, mengelektrisir sekujur tubuhnya Rakyat.
Rakyat Indonesia harus sadar-politik dan sadar-revolusi. Sadar! Ya, Sadar! Rakyat Indonesia harus politiek bewust dan Revolutie bewust. Seluruh Rakyat! Seluruh Rakyat! Semua! Si Dadap dan si Waru! Semua harus politiek bewust, semua harus Revolutie bewust. Dengan meniru perkataan Lenin, maka tiap-tiap koki pun harus mengerti politik dan mengerti revolusi – hidup dalam politik dan hidup dalam Revolusi.
Syukur Alhamdulillah! Demikian itulah memang Bangsa Indonesia! Bewust! Bewust! Sadar! Ia tidak masa-bodoh. Ia tidak seperti rumput. Ia selalu "gito-gito, lir gabah den interi". Kalbunya senantiasa bergelora. Fikirannya selalu bergerak. Jiwanya senantiasa "keranjingan". Keranjingan seperti ditiup Malaekat! Keranjingan dengan cita-cita. Keranjingan dengan ide. Keranjingan dengan tujuan perjuangan. Keranjingan dengan kemerdekaan. Keranjingan dengan ide masyarakat adil dan makmur. Keranjingan dengan hapusnya "exploitation de l'homme par l'homme". Keranjingan dengan lenyapnya "exploitation de nation par nation". Keranjingan dengan benci mati-matian kepada imperialisme dan kolonialisme. Keranjingan dengan hidup berjuang. Keranjingan, ya keranjingan, maka karena itulah ia selalu sibuk dalam aksi.
Karena itulah Revolusinya Revolusi yang ber-romantik. Revolusi yang ber-dinamik. Revolusi yang ber-dialektik.
Karena itulah Revolusi Indonesia adalah satu Revolusi yang "onstervelidyk", – satu Revolusi yang tak dapat mati dan tak akan mati. "The Indonesian Revolution is a deathless Revolution! Because the Indonesian Revolution is a Revolution of Everybody of the people. And freedom is a deathless cause, and social justice is a deathless cause".
Ini pernah kukatakan di luar negeri. Alangkah benarnya! Alangkah tepatnya! Dengan romantik yang menghikmati seluruh Rakyat, dengan dinamik yang menggegap-gempitakan seluruh Rakyat, dengan dialektik yang mengaktifkan seluruh-alam-fikiran Rakyat, maka Revolusi Indonesia benar-benar satu Revolusi-tanpa-mati. Benar-benar satu "deathless Revolution". Romantik adalah sumber-kekuatan-abadi kita, – Oerkracht kita, kataku tadi. Dinamik adalah sumber kekuatan sosial kita, – ia adalah kitapunya social force. Dan Dialektik adalah sumber kekuatan konsepsi kita, – sumber rasionalisasinya Revolusi kita, daja-ciptanya Revolusi kita.
Ada seorang perdana menteri dari Negara Asing berkata kepada saya: "How can your country subsist, you have no big industry in your country!" "Bagaimana negeri tuan bisa hidup terus, tuan tak mempunyai industri berat dalam negeri tuan!" Maaf saya berkata: Alangkah bodohnya tuan Perdana Menteri ini! Ia mengira bahwa hidup sesuatu bangsa tergantung dari teknik di negeri itu, tergantung dari industri di negeri itu.
No Sir! Hidupnya sesuatu bangsa tergantung dari vrijheids-bewustzijn bangsa itu, kesadaran kemerdekaan bangsa itu, dan – hidupnya sesuatu Revolusi tergantung dari Revolutie bewustzijn bangsa yang ber-revolusi itu, kesadaran ber-revolusi dari bangsa itu. Tidak dari teknik. Tidak dari industri. Tidak dari pabrik atau kapal terbang atau jalan aspal.
Saya tidak berkata bahwa kita tidak memerlukan teknik. Saya sendiri beberapa tahun yang lalu telah berkata bahwa kita memerlukan technical skill, memerlukan technical and managerial know-how.
Apalagi dalam dunia modern sekarang ini! Dunia abad ke XX! Bukan dunia abad bedil-sundut! Tetapi toh, lebih-lebih dari technical skill itu, kita memerlukan jiwa bangsa, jiwa merdeka, jiwa ber-revolusi. Kita memerlukan kemampuan Konsepsi-konsepsi, dan keuletan-perjuangan untuk melaksanakan, merealitaskan konsepsi-konsepsi itu.