The American Missionary — Volume 44, No. 02, February, 1890
Chapter 2
Ya, aku masih ingat dengan sejelas-jelasnya situasi pada waktu "expulsion stage"nya Manipol itu. Jiwa bangsa Indonesia ketika itu, kataku tempohari, seperti terkoyak-koyak, terbelah-belah, terobek-robek. Aku katakan di dalam "Penemuan Kembali Revolusi kita" – yang kemudian diterima oleh segenap bangsa Indonesia, oleh partai-partai politiknya, oleh organisasi-organisasi-massanya, oleh Angkatan Bersenjatanya, oleh aparat Negara seluruhnya, oleh tokoh-tokoh dan putera-puteranya yang terkemuka, ya, oleh segenap Bangsa Indonesia, sebagai Manipol/Garis Besar Haluan Negara/Program Umum Revolusi Indonesia – aku katakan: "segala kegagalan-kegagalan, segala keseratan-keseratan, segala kemacetan-kemacetan dalam usaha-usaha kita yang kita alami dalam periode survival dan investment itu, tidak semata-mata disebabkan oleh kekurangan-kekurangan atau ketololan-ketololan yang inhaerent melekat kepada bangsa Indonesia sendiri, tidak disebabkan oleh karena bangsa Indonesia memang bangsa yang tolol, atau bangsa yang bodoh, atau bangsa yang tidak mampu apa-apa – tidak! -, segala kegagalan, keseratan, kemacetan itu pada pokoknya adalah disebabkan oleh karena kita, sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, telah menyeleweng dari Jiwa; dari Dasar, dari Tujuan Revolusi!".
Maka dengan Manipol itulah aku dan kita sekalian, kataku tadi, membanting-setir, menyerukan stop! stop! kepada segala penyelewengan, dan menetapkan tekad untuk melangsungkan Revolusi pada ril yang seharusnya, serta melangsungkan Revolusi itu terus, terus, terus sampai pada akhirnya, terus sampai kemenangan yang sepenuh-penuhnya, yaitu suatu Indonesia Baru, suatu Indonesia yang adil dan makmur, suatu Indonesia yang Sosialis, ciptaan tangan dan otak Bangsa Indonesia sendiri.
Inilah sebabnya ketika aku memaklumkan Manipol aku katakan, ya, aku katakan dengan pandangan-kemuka yang kumiliki ketika itu, bahwa "1959 menduduki tempat yang istimewa dalam sejarah Revolusi kita … 1959 menduduki tempat yang istimewa dalam sejarah Perjuangan Nasional kita, satu tempat yang unik!".
Sekarang, siapa orangnya yang tidak terpengaruh oleh pengaruhnya Manipol!
Kalau ia progresif, siapa orangnya yang tidak dihangati oleh hangatnya Manipol? Dan kalau ia reaksioner, siapa orangnya yang tidak basah-kuyup-kebes-kebes dan lari tunggang-langgang oleh semprotannya Manipol!
Manipol bahkan tidak hanya menggelorakan persada nusantara Indonesia dari Sabang di Baratlaut sampai Merauke di ujung Tenggara, – Manipol juga mempunyai kumandangnya di kelima-lima benua di bola bumi: dipunggung-punggung Himalaya sampai di belantara-belantara Afrika, menjelujuri sungai-sungai di Amerika Selatan dan menyusuri pantai-pantai di Oseania.
Sekarang tak perlu lagi kita membuang-buang energi memperdebatkan apakah Manipol itu benar atau salah, baik atau buruk, menguntungkan atau merugikan. Memang, sekalipun mayoritas terbesar dari Rakyat kita serta-merta mendukung Manipol, tetapi pada waktu lahirnya, Manipol kita masih mengalami ejekan-ejekan, cercaan-cercaan, celaan-celaan, bahkan maki-makian. Saya masih membiarkan keadaan itu sampai setahun lamanya: ketika suratkabar-suratkabar oposisi-kanan masih saya tolerir, ketika partai-partai oposisi-kanan masih saya biarkan sambil saya amati, saya ikuti, saya awasi. Tetapi dasar mereka kaum reaksioner! Mereka mengira bahwa pembiaran saya itu tanda daripada kelemahan. Lalu mereka makin lama makin tak bisa mengendalikan diri lagi, makin gila-gilaan sakersa-kersanya. Terompet mereka, yaitu pers kuning, meraung-raung sesuka-sukanya, berselang-seling dengan ledakan-ledakan granat dan tembakan-tembakan pistol, malahan mitralyur, dari darat dan dari udara, yang ditujukan kepada diri saya, tetapi yang sesungguhnya tertuju kepada demokrasi dan kemerdekaan itu sendiri. Jangankan percobaan-percobaan yang diperhitungkan kalau-kalau saya "kelimpe" begitu, sedangkan moncong meriam diarahkan ketempat saya, tetapi saya, berkat lindungan Tuhan, tetap tenang, dan saya tolak apa yang harus ditolak, yaitu main fasis-fasisan. Tetapi setahun sesudah Manipol, yaitu ketika aku memaparkan Jalannya Revolusi Kita (Jarek), aku tegaskan bahwa kita "tidak boleh setengah-setengah" dan bahwa "berdasarkan moral revolusioner dan moralnya Revolusi, maka Penguasa wajib menghantam membasmi tiap-tiap kekuasaan, asing maupun tidak asing, pribumi ataupun tidak pribumi, yang membahayakan keselamatan atau berlangsungnya Revolusi". Maka kunyatakanlah suara hati Rakyat yang menuntut keadilan dan demokrasi, bahwa partai-partai reaksioner Masyumi dan P.S.I. adalah terlarang, maka kuperintahkan pulalah sejumlah suratkabar kuning yang suka awur-awuran, juga terlarang. Tindakan-tindakan ini obyektif memperkuat dan mempersehat Persatuan Nasional.
Dan jangan dikira bahwa manusia Sukarno ini manusia yang "weruh sadurunging winarah". Jangan dikira Sukarno memiliki ilmu gaib yang begini-begitu! Tidak! Manakala aku meramalkan hal ini atau hal itu, ramalanku itu aku dasarkan pada pemahamanku atas hukum-hukum obyektif sejarah masyarakat. Kalaupun ada "ilmu gaib" yang kumiliki, – itu adalah karena aku kenal Amanat Penderitaan Rakyat, karena aku kenal situasi, dan karena aku kenal ilmu yang kompetent yaitu Marxisme. Maka pada waktu aku memerintahkan pelarangan partai-partai dan suratkabar-suratkabar reaksioner itu, maka aku membayangkan bahwa kaum yang progresif-kiri tentu semakin yakin akan kebenaran Manipol, kaum yang berdiri di tengah atau yang oleh orang Inggeris disebut "midle-of-the roaders" bisa melihat kebenaran politikku, sedang kaum yang kanan tentu menjadi tidak berani lagi untuk terang-terangan memusuhi Manipol. Ya, tidak berani terang-terangan memusuhi Manipol, karena takut kepada penjara, atau takut kepada Rakyat. Dari sinilah asal mula munculnya Manipolis bermuka-dua: Manipolis-munafik, Manipolis-palsu, – Manipolis-gadungan! Maka aku peringatkan di dalam "Jarek" itu: "Salah satu ciri daripada orang yang betul-betul revolusioner ialah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan". Aku jelaskan juga ketika itu tentang "tiga golongan-besar revolutionnaire krachten" yang "Dewa-dewa dari Kayanganpun tidak bisa membantah kenyataan ini", dan bahwa dus "samenbundeling daripada tiga golongan-besar revolutionnaire krachten itu adalah keharusan dalam perjuangan anti-imperialisme dan kapitalisme".Aku waktu itu berkata: "Kita tidak boleh menderita penyakit Islamo-phobi, atau Nationalisto-phobi, atau Komunisto-phobi", dan "saya membanting tulang mempersatukan semua tenaga revolusioner", "membanting tulang mempersatukan semua tenaga NASAKOM!"
Apakah ramalanku itu salah? Tidakkah kemudian ternyata bahwa memang ada kaum yang mulutnya kumat-kumit dengan Manipol tetapi praktek-prakteknya mensabot Manipol? Kaum yang mulutnya kumat-kumit dengan Pancasila tetapi praktek-prakteknya mensabot Pancasila? Kaum yang mulutnya kumat-kumit dengan Nasakom tetapi praktek-prakteknya mensabot Nasakom? Dan kalau aku mengecam mereka itu, tidaklah karena aku mengada-ngada, tidaklah karena aku mau "merusak persatuan", seperti yang dituduhkan setengah orang terhadap diriku. Tidak! Justru mereka itulah yang merusak persatuan, dan justru tindakanku mengecam mereka itulah menyelamatkan persatuan! Sebab, persatuan kita bukan persatuan asal persatuan, persatuan kita adalah persatuannya tenaga-tenaga revolusioner. Maka sungguh menggelikan bahwa ada orang-orang yang mengakunya "menyebarkan ajaran Sukarno", tetapi menganjurkan hanya "samenbundeling van alle krachten" saja. Lihatlah!, – bukan "samen-bundeling van alle revolutionnaire krachten", tetapi mereka sekadar mengatakan "samenbundeling van alle krachten"! Yang dikorup "hanya" perkataan revolusioner, artinya, yang dikorup adalah justru jiwa daripada jiwa ajaran Revolusi!
Kadang-kadang kalau aku duduk seorang diri, atau juga kalau aku berhadapan dengan orang-orang yang aku tahu dasarnya munafik (aku cukup sering bertemu dengan orang-orang demikian) aku bertanya di dalam hati: Apa sebetulnya yang membikin mereka begitu membandel dan berkepalabatu? Apakah yang memberanikan mereka membikin penafsiran-penafsiran yang semau-maunya atas pidato-pidatoku? Apakah mereka mengira bahwa apa-apa yang mereka ucapkan di depan umum itu tidak sampai ke telingaku? Apakah mereka mengira aku tidak membaca koran, tidak mengikuti siaran-siaran Radio dan Televisi? Apakah mereka mengira bahwa apabila mereka main bisik-bisik dan pas-pis-pus dalam pertemuan-pertemuan yang konspiratif, tidak ada di antara yang diajak konspirasi itu yang setia kepada Pemimpin Besar Revolusi, dan melaporkan segala sesuatunya kepada Pemimpin Besar Revolusi?
Aku tahu, sebelum aku mengucapkan pidatoku yang sekarang ini, komplotan-komplotan itu sudah membicarakan – seperti kaum imperialis sudah membicarakan – "apa gerangan yang akan dipidatokan oleh Sukarno si ahli-demagogi itu?". Ya, mereka mengejek aku sebagai "ahli-demagogi". Tetapi, dengan ejekannya itu mereka sebenarnya bukannya menipu orang lain, – mereka sebenarnya menipu diri mereka sendiri! Mereka tidak percaya kepada ejekan-ejekan mereka sendiri, ini terang! Sebab kalau mereka percaya, kalau aku memang hanya seorang "ahli-demagogi" saja, kenapa kalian takut kepada pidato-pidatoku yang toh "cuma demagogi"? Neen Meneer, kalian takut akan kebangkitannya massa yang tentu saja beraksi atas anjuran-anjuranku untuk bermassa-aksi! Kalian takut kepada Rakyat, sebab kalau Rakyat tahu bahwa kalian munafik, tentu kalian akan diganyang oleh Rakyat!
Katakanlah aku "ahli-demagogi", katakanlah aku "ahli-fraseologi", tetapi yang pasti ialah aku bukan ahli-pura-pura, Sukarno tidak pernah "pura-pura", Sukarno tidak pernah "schijnheilig". Salah satu tuntutan bagi kaum revolusioner adalah sifat terus-terang, sifat berani mengatakan apa yang harus dikatakan, "mendumuk" apa yang harus "didumuk". Inilah sebabnya aku sekarang sinyalir terang-terangan adanya kaum yang plintat-plintut atau plungkar-plungker dengan Manipol, kaum yang pertentang-pertenteng dengan Manipol. Dan ada juga kaum yang mau "mengagul-agulkan" atau "melanggengkan jasanya", kaum yang "membusungkan dada". Ya, memang ada orang-orang yang kepalanya menjadi besar, sangat besar sampai-sampai hampir pecah, yang menyangka bahwa nasib Indonesia ini "ada di dalam tangannya", yang mengira Indonesia "tak bisa hidup tanpa mereka", yang menganggap dirinya "Presdir" Republik, yang mengharap-harap – ya, aku terang-terangan saja – "kalau Sukarno mati, biar aku jadi Presiden atau Raja Indonesia" …
Apa yang bisa aku katakan? Aku hanya mau mengatakan ini: kalian menghina Rakyat Indonesia, kalian meremehkan kesadaran politik Rakyat Indonesia! Sebab, orang boleh mencibirkan bibir bahwa Revolusi Indonesia belum menyelesaikan tugas ini atau belum merampungkan kewajiban itu, tetapi orang tidak bisa mengenak-enakkan diri, orang can never draw comfort dari anggapan bahwa Rakyat Indonesia bisa ditundukkan! Di Amerika-Latin kudeta yang satu bisa disusul oleh kudeta yang lain, terkadang tanpa ikut-sertanya samasekali Rakyat dalam aksi-aksi itu. Di Afrika pergolakan sekarang memang hebat, tetapi pergolakan itu boleh dibilang baru mulai. Di tetangga kita yang menyebut dirinya "Malaysia", boneka-boneka imperialis masih bisa menongkrongi singgasana kekuasaan. Tetapi di Indonesia – ini bukan menyombongkan diri – Rakyatnya sudah banyak makan garam perjuangan, sudah banyak berpengalaman, setidak-tidaknya pengalamannya sudah sangat lumayan, sedang tingkat kesadaran maupun tingkat keterorganisasian kaum buruh dan kaum taninya amat tinggi. Apa saja yang tidak sudah kita alami! Pengadilan kolonial, bui kolonial, poenale-sanctie, tanah-pembuangan, tiang-penggantungan? Sudah! Militerisme fasis? Sudah! Agresi-agresi kolonial? Sudah! Intervensi dan subversi imperialis? Sudah! Kontra-revolusi? Sudah! Dan dalam melawan segala kemaksiatan itu kita mengkombinasikan "akal" dengan "okol", taktik-taktik perjuangan dengan penyusunan kekuatan, kerja legal dengan kerja ilegal, perang gerilya dengan perang frontal, diplomasi dengan konfrontasi. Rakyat yang punya pengalaman begini di balik punggungnya, Rakyat gemblengan macam ini tak mudah dikalahkan, Rakyat otot-kawat-balung-wesi macam ini tak bisa dikalahkan! Di Indonesia yang Rakyatnya adalah Rakyat baja-tempaan-baja-gemblengan ini, hanya usaha-usaha yang progresif sajalah yang bisa berhasil. Sedang usaha-usaha, langkah-langkah dan aksi-aksi yang bertentangan dengan hukumnya sejarah bukan saja bisa gagal, tetapi pasti gagal. Pasti gagal! Yo opo ora, Rek! Pasti gagal! Kalau mau berenang di lautan, orang harus tahu hukumnya laut! Orang bisa bunuh diri dengan menentang hukumnya laut, tetapi orang tidak bisa membunuh hukumnya laut! Orang tak bisa membunuh hukum Sejarah, orang tak bisa membunuh hukum Revolusi!
Apa hukum-hukum Revolusi itu? Hukum-hukum Revolusi itu, kecuali garis-besar romantika, dinamika, dialektika yang sudah kupaparkan tadi, pada pokoknya adalah:
Pertama, Revolusi mesti punya kawan dan punya lawan, dan kekuatan-kekuatan Revolusi harus tahu siapa kawan dan siapa lawan; maka harus ditarik garis-pemisah yang terang dan harus diambil sikap yang tepat terhadap kawan dan terhadap lawan Revolusi;
Kedua, Revolusi yang benar-benar Revolusi bukanlah "revolusi istana" atau "revolusi pemimpin", melainkan Revolusi Rakyat; oleh sebab itu, maka Revolusi tidak boleh "main atas" saja, tetapi harus dijalankan dari atas dan dari bawah;
Ketiga, Revolusi adalah simfoninya destruksi dan konstruksi, simfoninya penjebolan dan pembangunan, karena destruksi atau penjebolan saja tanpa konstruksi atau pembangunan adalah sama dengan anarki, dan sebaliknya; konstruksi atau pembangunan saja tanpa destruksi atau penjebolan berarti kompromi, reformisme;
Keempat, Revolusi selalu punya tahap-tahapnya; dalam hal Revolusi kita: tahap nasional-demokratis dan tahap Sosialis, tahap yang pertama meretas jalan buat yang kedua, tahap yang pertama harus dirampungkan dulu, tetapi sesudah rampung harus ditingkatkan kepada tahap yang kedua; – inilah dialektik Revolusi;
Kelima, Revolusi harus punya Program yang jelas dan tepat, seperti dalam Manipol kita merumuskan dengan jelas dan tepat: (A) Dasar/Tujuan dan Kewajiban-kewajiban Revolusi Indonesia; (B) Kekuatan-kekuatan sosial Revolusi Indonesia; (C) Sifat Revolusi Indonesia; (D) Hari depan Revolusi Indonesia; dan (E) Musuh-musuh Revolusi Indonesia. Dan seluruh kebijaksanaan Revolusi harus setia kepada Program itu;
Keenam, Revolusi harus punya sokoguru yang tepat dan punya pimpinan yang tepat, yang berpandangan jauh-kemuka, yang konsekwen, yang sanggup melaksanakan tugas-tugas Revolusi sampai pada akhirnya, dan Revolusi juga harus punya kader-kadernya yang tepat pengertiannya dan tinggi semangatnya.
Demikianlah hukum-hukum Revolusi.
Saya sendiri tak pernah ragu-ragu bahwa Revolusi kita akan menang. Betapa saya akan ragu! Bukan saja sesudah Manipol, bahkan bukan saja sesudah Proklamasi, tetapi sejak aku masih muda dan menceburkan diri ke dalam kancah perjuangan kemerdekaan, sejak detik itu aku tak pernah ragu-ragu. Malahan, aku menceburkan diri ke dalam kancah perjuangan itu karena aku tidak ragu-ragu. Yaitu karena keyakinan!, – keyakinan akan adilnja cita-cita kemerdekaan nasional, keyakinan akan Sosialisme, keyakinan bahwa cita-cita Revolusi itu bisa, pasti, dan akan menang.
Tetapi sudah barang tentu kaum peragu selalu saja ada, seperti juga kaum munafik selalu saja ada, dan seperti kaum khianat selalu saja ada. Inilah sebabnya aku tak bosan-bosannya memperingatkan akan segala bahaya yang secara latent mengancam Revolusi kita.
Di dalam Manipol aku mengganyang "si-12 syaitan". Di dalam Jarek aku mengganyang segala phobi-phobian dan sikap munafik. Di dalam Resopim aku mengganyang sikap-sikap yang mencla-mencle. Di dalam Takem aku masih mengganyang "orang-orang yang dalam perkataan mengikuti … akan tetapi dalam prakteknya bertentangan dengan Manipol-Usdek". Dan tahun yang lalu, di dalam Gesuri aku mengganyang lagi phobi-phobian di samping juga sikap-sikap yang serba keblinger.
Toh masih saja ada orang yang menuduh Sukarno "memihak", Sukarno "pilih kasih". Sukarno memihak? Memihak siapa? Kalau terhadap imperialisme, feodalisme dan musuh-musuh Revolusi umumnya, ya!, memang Sukarno memihak, memang Sukarno pilih kasih, yaitu memihak kepada Rakyat dan memihak kepada Revolusi itu sendiri. Tidakkah pernah aku berkata, bahwa Revolusi tak mungkin uncommitted, artinya, bahwa Revolusi harus selalu committed, yaitu memihak? Sekali lagi, ya! Kalau terhadap imperialisme, terhadap feodalisme, terhadap musuh-musuh Revolusi umumnya, memang aku pilih kasih, memang aku memihak, karena tak mungkin aku mengasihi imperialisme dan feodalisme, tak mungkin aku mengeloni antek-antek imperialisme dan feodalisme, dan oleh sebab itu, aku pilih kasih, dan kasihku tertuju kepada Rakyat, kepada si Marhaen, si Sarinah, si Jelata, si Proletar, si kaum "yang terhina dan lapar".
Aku dikatakan menguntungkan salahsatu golongan saja dari antara keluarga besar nasional kita ini? Jawabku di sini juga: Ya, aku menguntungkan salahsatu golongan saja, yaitu – golongan revolusioner! Aku ini sahabatnya kaum Nasionalis, kaum Nasionalis yang revolusioner! Sahabatnya kaum agama, kaum agama yang revolusioner! Aku ini sahabatnya kaum Komunis, karena kaum Komunis adalah kaum yang revolusioner. Malahan, seperti kukatakan beberapa waktu yang lalu di Istora Senayan aku adalah sahabatnya kaum yang paling revolusioner!
Ada baiknya rasanya – karena ditengah-tengah kita masih ada kaum yang sinis, yang pesimis, yang fatalis, yang defaitis – untuk menjumlahkan hasil-hasil-perjuangan kita yang pokok-pokok saja.
Hasil-hasil kita, kemenangan-kemenangan kita – sekali lagi – yang pokok-pokok saja, adalah:
Pertama, pembebasan Irian Barat;
Kedua, penumpasan kontra-revolusi bersenjata;
Ketiga, konsolidasi dan perluasan persatuan nasional, antara lain melalui Front Nasional, M.P.R.S., D.P.R.- G.R., D.P.A., dan lain-lain yang disusun atas dasar kegotongroyongan nasional berporoskan NASAKOM;
Keempat, Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana tahapan ke I dan khusus di bidang ekonomi lahirnya Dekon;
Kelima, Pembangunan Angkatan Bersenjata yang bukan main hebatnya. Angkatan Darat kita "nggegirisi" kaum imperialis. Angkatan Laut kita megah dan kuat. Angkatan Udara kita tak ada tandingannya di seluruh Asia Tenggara. Angkatan Kepolisian kita up-to-date. Kita ber-missiles dan ber-rocket. Malahan kita sekarang sudah bisa bikin kita-punya jet sendiri!
Ini kemenangan-kemenangan kita di dalam negeri.
Apa kemenangan-kemenangan kita yang bersangkut-paut dengan luar negeri?
Pertama, Asian Games IV, konfrontasi terhadap IOC, dan yang terpenting:
Ganefo I;
Kedua, MMAA II, dan di sampingnya juga KWAA, Sidang Eksekutif KPAA, sidang Persiapan KIAA, dan FFAA III;
Ketiga, pemupukan setiakawan A-A serta penggalangan kekuatan
New Emerging Forces;
Keempat , terbentuknya front internasional yang luas anti- "Malaysia", dan menggeloranya Dwikora.
Siapa yang berani mengatakan bahwa kemenangan-kemenangan ini adalah kemenangan-kemenangan yang kecil? Siapa yang tidak bisa mengerti bahwa kemenangan-kemenangan ini sedikit-banyaknya adalah kemenangan-kemenangan yang punya ukuran sejarah, yang historis? Siapa yang tidak mengerti begitu, dia benar-benar adalah orang yang tolol!
Di samping pokok-pokok yang saya sebutkan tadi, masih banyak kemajuan-kemajuan lain yang juga penting-penting sekali, tetapi yang terlalu banyak untuk saya sebutkan semuanya, misalnya pencabutan SOB, yang menandakan bahwa kita kuat, adanya UUPA-UUPBH, digantinya Caturtunggal dengan Pancatunggal, digantinya Paran dengan Kotrar, dan sebagainya dan sebagainya.
Saya perlu tekankan positifnya hasil-hasil kita ini, karena, tanpa menyadari hal ini, tak mungkin kita mengkonsolidasi dan mengembangkan diri. Untuk mengkonsolidasi harus ada yang dikonsolidasi, dan untuk mengembangkan harus ada yang dikembangkan. Dan yang harus kita konsolidasi dan harus kita kembangkan itu sesungguhnya a d a! Hanya yang bodoh saja yang tak tahu bahwa kita ini banyak maju, hanya yang ndablek saja yang tak mau tahu bahwa kita banyak maju.
Akhir-akhir ini udara politik di negeri kita diliputi oleh diskusi ini dan diskusi itu, polemik ini dan polemik itu, perdebatan ini dan perdebatan itu. Apakah gejala ini baik atau buruk? Ia buruk kalau ia melemahkan persatuan nasional. Tetapi ia baik kalau ia memperkuat persatuan nasional. Dasar aku ini memang orang dinamis!
Aku tidak suka kepada ketenangan yang beku dan mati, aku tidak suka kepada keulerkambangan, yang kusukai ialah dinamika, vitalitas, militansi, aktivitas, kerevolusioneran! Misalnya: semua orang tahu bahwa aku ini penggemar senirupa, baik patung-patung, lukisan-lukisan, maupun yang lain-lain, Aku lebih suka lukisan samudera yang gelombangnya memukul-mukul menggebu-gebu, daripada lukisan sawah yang adem-ayem-tentrem, "kadyo siniram banyu wayu sewindu lawase", Kalaupun sawah, aku pilih lukisan sawah yang padinyapun mengombak dan anginnya bertiup. Kalau aku pilih lukisan potret, kupilih potret yang ada apinya, ada dayanya, ada grengsengnya. Lihatlah Patung Selamat Datang di depan Hotel Indonesia, lihatlah Patung Pembebasan di Lapangan Banteng, lihatlah Patung Trikora (Pemanah) di depan Istana Merdeka – semuanya dinamis, semuanya vital, semuanya laksana menderu-deru!
Yang aku harap adalah agar semua fihak yang berdiskusi, berpolemik dan berdebat itu melakukannya demi persatuan, bukan demi perpecahan, demi pelaksanaan Manipol, bukan untuk penyerimpungan Manipol.
Pertama sekali ada polemik tentang sistim pendidikan, yang tadinya dimulai dengan tuntutan meritul Menteri PDK dan membatalkan Pancawardhana. Dalam sistim Demokrasi Terpimpin maka Presiden, yang juga Perdana Menteri mengangkat pembantu-pembantunya sendiri. Saya setuju, setuju sekali kepada social-control di samping social-support dan social-participation. Saya sebagai penyambung lidah Rakyat bersedia mendengarkan pendapat-pendapat dan saran-saran Rakyat. Dan kalau memang ada di antara pembantu-pembantu saja yang anti-Manipol atau Manipolis-munafik, ataupun yang main-mata dengan kaum kontra-revolusioner, kaum reaksioner, kaum pemecahbelah dan kaum kapitalis birokrasi – Menteri-menteri atau juga Menko-menko semacam itu memang patut diritul, dan Insya' Allah aku zonder ampun akan meritulnya. Tetapi tentang Menteri-menteri/Menko-menko yang Manipolis, tergantung kepada saya apakah mereka saya perlukan sebagai pembantu atau tidak. Mengenai masalah pendidikan, saya sudah meminta DPA memberikan nasehatnya yang sesuai dengan alam-fikiran saya. Pancawardhana memang sistim pendidikan yang telah saya restui. Adapun pengkhususan-pengkhususan dalam melaksanakan sistim itu, ada pengkhususan Pancadarma, ada pengkhususan Islam, ada pengkhususan Katolik, ada pengkhususan Protestan, ada pengkhususan Budha, ada pengkhususan Hindu-Bali, ada pengkhususan Pancacinta, dan sebagainya, hal ini memang diperkenankan, asal dasarnya dan isi-moralnya Pancasila-Manipol-Usdek. Tidak percuma bahwa lambang nasional kita Bhinneka Tunggal Ika! Aku ingin bahwa dari kebhinneka-tunggal-ikaan itu lahir ide-ide, konsepsi-konsepsi, kreasi-kreasi yang hebat sehebat-hebatnya, dan lahir pula putera-putera, patriot-patriot, sarjana-sarjana, seniman-seniman, sasterawan-sasterawan, ahli-ahli, bahkan empu-empu, yang bisa kita banggakan. Di RRT Ketua Mao Tse Tung bersemboyan "Biar seratus bunga mekar bersama". Di sini aku ber-semboyan: Biar melati dan mawar dan kenanga dan cempaka dan semua bunga mekar-bersama di tamansari Indonesia! Saya katakan semua bunga, – bukan lalang, bukan rumput-pahit, bukan kemladean, bukan ganggeng!
Ada polemik tentang kebudayaan. Tentang kebudayaan, pendirianku sudah jelas: Berantaslah segala kebudayaan asing yang gila-gilaan! Kembalilah kepada kebudayaan sendiri. Kembalilah kepada kepribadian sendiri. Ganyanglah Manikebu, sebab Manikebu melemahkan Revolusi!