Chapter 2
Kepetualangan-kepetualangan itu pada dasar hakekatnya adalah bangkitnya tenaga-tenaga reaksi dan tenaga-tenaga kontra-revolusi yang hendak mati-matian menentang kelanjutan daripada kita punya Revolusi. Tenaga-tenaga reaksi dan kontra-revolusi dari dalam negeri mencari kontak dengan tenaga-tenaga yang sama dari luar-negeri, sesuai dengan wet polarisasi. Wet: "soort zoekt soort", – "tikus mencari tikus", "musang mencari musang". Tenaga reaksioner mencari tenaga reaksioner. Tenaga kontra-revolusioner mencari tenaga kontra-revolusioner. Petualang mencari petualang, tukang barter mencari tukang barter. Bandot smokkel mencari bandot smokkel. Pengkhianat mencari pengkhianat. Dulu di dalam pagar negeri sendiri, yakni di bidang nasional; kini juga di luar pagar, di bidang internasional. Sebaliknyapun, maka tenaga-tenaga di luar-negeri menyambut-baik kontak: dan kerjasama dengan persekutuan-persekutuan dari dalam, kontak dan kerjasama yang memang sudah lama dicari-cari.
Di dalam polarisasi-polarisasi ini niscaya banyak juga orang-orang yang hanya ikut-ikutan saja. Mereka adalah laksana buih-buih yang terbawa berputar oleh air-putaran, atau buih-buih yang terbawa hanyut oleh aliran deras. Terhadap kepada mereka itu, hati kita bolehlah hati yang mengampuni. "Heer, vergeef hen, ze weten niet wat ze doen", – "ya Tuhan, ampunilah mereka, mereka tak tahu apa yang mereka perbuat".
Ah, tiap-tiap kali saya berpidato pada hari 17 Agustus, hatiku selalu terharu karena mengetahui bahwa begitu banyak orang Indonesia mendengarkan pidato saya. Pada hari sekarang ini mungkin 50-60 juta orang Indonesia memasangkan telinganya kepada apa yang saya katakan. Di Aceh rakyat berkerumun di hadapan radio-radio-rumah dan radio-radio-umum, di Irian Barat orang dengan sembunyi-sembunyi menyetel pesawat pula. Pagi-pagi benar di waktu fajar, wakil-wakil kita di Moskow mencoba mendengarkan suara saya dan sambutan-sambutanmu. Dan di Washington pun, tengah-tengah malam benar, wakil-wakil kita mengerumuni pesawat-pesawat radionya. Ya, total barangkali 50-60 juta orang, – orang-orang Indonesia senaungan di bawah panji satu Negara, orang-orang Indonesia secinta semesra terhadap kepada Republik, yang mungkin air-matanya berlinang-linang, karena terharu hatinya ingat kepada korbanan-korbanan Proklamasi. Tetapi … ada juga orang-orang lain yang men-dengarkan pidato saya ini … Simbolon di suatu tempat, dan Zulkifli Lubis, dan Husein, dan Jambek dan Syafruddin , – dan Sumual, dan Somba, dan lain-lain. Ya, "dan lain-lain", – itu orang-orang Indonesia yang hanya ikut-ikutan saja, atau dipaksa ikut mengangkat senjata melawan Negaranya sendiri, melawan bangsanya sendiri, melawan saudara-saudaranya sendiri.
Kepada petualang-petualang yang dengan sedar mengkhianati Negaranya sendiri dan bangsanya sendiri, saya tak mau berbicara apa-apa. Mereka di sebelah sana dari garis, kami di sebelah sini … Tetapi kepada orang-orang yang hanya ikut-ikutan saja dalam pemberontakan ini, kepada orang-orang yang salah-pimpinan itu, kepada mereka pada Hari 17 Agustus ini saya berkata: Saudara-saudara tertipu. Saudara-saudara melawan Republikmu sendiri, saudara-saudara melawan Negaramu sendiri. Saudara-saudara melawan kepastian sejarah. Dengan demikian maka hari depan bukanlah jadi hari-depanmu. Saudara-saudara menjadi korban ambisinya orang-orang yang jahat, yang secara serakah menghisap harta-kekayaan dan ke-kuasaan dari tubuhnya bangsa. Tetapi bagi saudara-saudara, waktu belum terlambat, bagi saudara-saudara buku nasional belum tertutup. Kembalilah kepada bangsamu sendiri, kembali-lah kepada Negaramu sendiri. Kembalilah kepada jalan yang benar!
Mari kita kupas lagi dasar-hakekat kepetualangan-kepetualangan tadi: Dasar-hakekatnya ialah bangkitnya tenaga-tenaga reaksi dan tenaga-tenaga kontra-revolusi yang hendak mati-matian menentang kelanjutan daripada kita punya Revolusi. Itulah pula dasar-hakekat daripada D.I.-T.I.I. sejak dari mulanya bersemboyan "anti komunis", malahan sejak dari mulanya menamakan Republik kita ini R.I.K. yaitu Republik Indonesia Komunis, Juga D.I.-T.I.I. menjalankan teror, penggedoran, pembakaran, penculikan, pembunuhan. Juga D.I-T.I.I. bekerja-sama dengan anasir-anasir asing, menerima pimpinan militer dari asing, menerima sokongan uang dari asing, menerima droppingan senjata dari asing. Juga D.I.-T.I.I. penjelmaan daripada satu "proklamasi", proklamasi N.I.I. 7 Agustus 1949. Dan terutama sekali: Juga D.I.-T.I.I. menentang tiap-tiap konsolidasi Republik. Herankah kita kalau Dahlan Jambek belakangan ini mencoba membentuk D.I.-T.I.I. pula di Sumatera Barat?
Pada hari keramat 17 Agustus sekarang ini, saya menyerukan lagi: jangan lupa D.I.-T.I.I., – jangan biarkan mereka, hantamlah terus D.I.-T.I.I., sampai mereka hancur-lebur samasekali!
Sekarang, apakah yang dinamakan kelanjutan daripada Revolusi ialah terletak dalam segala bidang yang perjoangannya belum selesai. Kelanjutan Revolusi ialah kelanjutan perjoangan-perjoangan yang belum selesai. Kelanjutan perjoangan di bidang politik, kelanjutan perjoangan di bidang ekonomi atau lebih tepat sosial-ekonomi, kelanjutan perjoangan di bidang kepribadian Nasional. Revolusi kita adalah satu "revolusi campuran", revolusi politik dan sosial-ekonomi dan kebudayaan, – satu Revolusi yang pada hakekatnya adalah "a summing up of many revolutions in one generation". Satu bagian daripada Revolusi ini adalah lebih maju daripada bagian yang lain, tetapi semua bagian-bagian itu meminta kelanjutan daripada perjoangannya.
Welnu, kelanjutan daripada Revolusi inilah yang pada hakekatnya mereka tentang. Terutama sekali oleh karena Revolusi kita sekarang ini mulai meletakkan tekanan kata pula kepada penyelenggaraan masyarakat adil dan makmur, masyarakat kebahagiaan seluruh rakyat, masyarakat tanpa eksploitasi dan feodalisme, tanpa penindasan dan penghisapan. Revolusi Nasional kita telah mengalami "fase politiknya", dan kini sedang mengetok pintu untuk me-masuki "fase sosialnya" atau lebih tepat mengetok pintu untuk memasuki "fase sosial-ekonomi-nya" yaitu fase penyelenggaraan masyarakat idam-idaman massa yang adil dan makmur.
Fase politik daripada Revolusi kita memang belum seluruhnya selesai. Benar "kekuasaan politik" sudah dipegang oleh bangsa kita, benar "politieke macht" itu tidak di tangan bangsa Belanda lagi, tetapi penggunaan daripada kekuasaan politik itu belum sesuai dengan cita-cita Rakyat dan penderitaan Rakyat. Di samping itu, kekuasaan politik kita masih belum pula melebar ke Irian Barat. Belanda masih tetap menongkrong di sana memegang kekuasaan politik. Tujuh tahun lamanya kita mencoba memindahkan kekuasaan politik di Irian Barat itu ke tangan kita, dengan jalan mengajak Belanda untuk berunding, sekali lagi berunding, dan sekali lagi berunding, tetapi sia-sia belaka. Tujuh tahun lamanya kita mencoba merobah sikap Belanda dengan jalan "sweet reasoning and persuasion", tetapi hasilnya sama saja dengan mencoba merobah luwak menjadi ayam atau serigala menjadi kambing. Maka terpaksalah kita mengambil "jalan lain" yang tegas, "'jalan lain" yang terkenal dengan nama Aksi Irian Barat, "jalan lain" yang penuh dengan gegap-gempitanya semangat perjoangan.
Perjoangan pembebasan Irian Barat telah sangat menaikkan martabat kita sebagai bangsa yang cinta kemerdekaan. Aksi-aksi kita, yang memuncak pada pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda, dan pemulungan orang-orang Belanda yang tak diperlukan, aksi-aksi kita itu seolah-olah petir dan halilintar telah menyedarkan sebagian dunia yang selama ini belum mau sedar, bahwa Indonesia bukanlah bangsa katak atau bangsa "Hamlet yang tak berkeputusan". Dalam aksi yang mau tak mau menggugah ketakjuban siapapun juga itu, tentara dan rakyat kita memainkan rol yang amat besar. Dan pemudapun berjasa sesuai dengan harapan yang bangsa cantumkan kepadanya. Salut-kehormatan kuberikan kepada tentara dan rakyat dan pemuda itu!
Bagi Belanda tinggal kini dua pilihan: terus berkeras-kepala, atau memahami tuntutan sejarah. Terus berkeras-kepala, akan berarti "jalan lain" akan kita daki terus dan Belanda akan kehilangan Irian Barat dengan tiada terhormat dan menderita kerugian-kerugian seterusnya yang tak ternilai; memahami tuntutan sejarah, akan berarti mengembalikan Irian Barat kepada Indonesia dengan terhormat, dan normalisasi hubungan antara Nederland dan Indonesia sebagai lazim dalam dunia internasional.
Bagi kita sendiri, ada juga pesan yang hendak saya katakan di sini: Hendaklah kita mengenai aksi Irian Barat itu jangan bersikap picik. Sebab, ada beberapa pentolan yang mengatakan bahwa "aksi Irian Baratnya Sukarno" itu menjadi "sebab" dari "segala kesulitan". Dan ada juga orang-orang yang mengatakan, bahwa perusahaan-perusahaan yang telah diambil-alih itu "tidak layak dikuasai oleh Pemerintah". Orang-orang yang mengatakan bahwa aksi Irian Baratnya Sukarno-lah sebab dari segala kesulitan, orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang tak mengerti hukum-hukumnya perjoangan, orang-orang yang memang belum pernah ikut benar-benar dalam perjoangan, orang-orang yang tak mengerti bahwa semua perjoangan-perjoangan besar membawa kesulitan-kesulitan, orang-orang yang jiwanya cynis atau orang-orang cap mentega yang berjiwa kapuk, yang tak pernah mengerti artinya pepatah kuna "jer basuki mawa beya”, atau firman Tuhan "innamaal usri jusro", atau uyapan Vivekanada "victory through struggle". Sebagai yang pada saat mencetuskan aksi Irian Barat sekarang ini saya katakan beberapa kali dengan mensitir Danton “de l’audace, encore de l'audace et toujours de l'audace!", yang berarti “keberanian, sekali lagi keberanian, selalu keberanian", maka tiap-tiap perjoangan-besar tidak hanya menuntut pengorbanan, tetapi ia juga menuntut keberanian!
Dan orang-orang yang berkata bahwa perusahaan-perusahaan yang terambil-alih tak layak dikuasai Pemerintah. Awas kepada orang-orang yang demikian itu, saudara-saudara! Mereka adalah burung alap-alap kekayaan, yang ingin sekali memulai dengan pembahagian rezeki, agar mendapat bagian buat gemuk kantongnya sendiri!
Bagaimana juga, saudara-saudara, "jalan lain" yang kita ambil sekarang ini untuk memperjoangkan pembebasan Irian Barat, adalah jalan yang benar. Jangan ragu-ragu tentang hal itu! Dan kalau benar aksi Irian Barat ini "aksi Irian Baratnya Sukarno" – dan saya kata: tidak benar, sebab saya tempo hari hanya memberi komando saja, dan aksi ini bukan aksi-Sukarno melain-kan aksinya Rakyat -, jika benar aksi ini aksinya Sukarno, maka saya nyatakan di sini bahwa saya siap-sedia untuk memikul segala tanggungjawab atas komando itu dan segala tanggung-jawab atas segala akibat-akibatnya! Teruskanlah hai seluruh Rakyat Indonesia aksi Irian Barat itu, teruskan!, jangan ragu-ragu, jangan mundur setapak, jangan berkisar sejari, teruskan!, – Insya Allah, nanti kita pasti menang!
Memang seluruh "fase politiknya" Revolusi kita ini belum selesai dan masih harus diterus-kan. Dan memang perjoangan fase politik itu tidak boleh mandek, kita harus berjalan terus dalam fase politik itu, di segala lapangan! Tetapi dalam pada itu, sekarang sudah datang saatnya kita mulai mengetok pintu yang menuju kepada fase sosial-ekonomis, mengetok pintu yang menuju kepada realisasi masyarakat keadilan sosia1. Kita tidak dapat menunggu sampai keseluruhan daripada politieke macht itu secara sempurna-maha-sempurna sudah berada di tangan kita, sebelum kita dapat memasuki fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita itu. Tidak! Meski politieke macht itu belum sempurna seluruhnya berada di tangan kita, maka dengan politieke macht yang sudah ada ini sudahlah boleh kita mulai mengetok pintunya keadilan sosial. Ya, kita tidak dapat menunggu, dan kitapun tidak perlu menunggu! Dulupun kita tidak menunggu sampai semua bangsa Indonesia dapat membaca dan menulis, atau semua bangsa Indonesia dapat mengerti a-b-c-nya politik, sebelum kita mengadakan Proklamasi!
Fase sosial-ekonomis itu adalah kelanjutan daripada Revolusi Nasional kita. Orang-orang revolusioner-sejati mengerti akan hal ini. Hanya orang-orang yang mewarisi abu daripada Proklamasi, dan tidak mewarisi Apinya, tidak mengerti perkataan saya ini. Tetapi orang-orang yang mewarisi Api Proklamasi, orang-orang revolusioner-sejati kataku tadi, mengerti akan hal ini. Api tidak berhenti, api terus hidup, api revolusi adalah laksana ndaru yang terus bergerak. "A Revolution has no end", – satu revolusi tak pernah berhenti. Fase sosial-ekonomis adalah kelanjutan logis daripada fase politik. Dan fase sosial-ekonomis itu adalah suatu perjoangan ter-sendiri, suatu "battle" tersendiri, satu pertempuran tersendiri. "A Battle against remnants of colonial-economic exploitation, a battle against poverty itself, a battle for economic welfare for all": Satu pertempuran menentang sisa-sisa eksploitasi kolonial-ekonomis; satu pertempuran menentang kemiskinanan an sich; satu pertempuran untuk merealisasikan kesejahteraan ekonomis buat semua orang.
Terutama sekali berjalannya fase sosial-ekonomis inilah yang hendak ditentang oleh kekuatan-kekuatan reaksioner dan kontra-revolusioner dari dalam dan luar negeri itu! Dan oleh karena fase sosial-ekonomis itu adalah kelanjutan logis daripada fase politik, bahkan kelanjutan logis daripada Revolusi Nasional, maka menentang fase sosial-ekonomis itu adalah sebenarnya sama dengan menentang Revolusi itu sendiri. Dan oleh karena Revolusi kita adalah kodratnya sejarah, maka menentang Revolusi kita adalah: Sama dengan menentang beredarnya bulan, sama dengan menentang terbitnya matahari!
Dunia-dalam yang reaksioner atau yang tolol, dan dunia-luaran yang kolot dan reaksioner pula, sering berfikir (bahkan merencanakan!), bahwa pergantian Pimpinan Negara dan Pemerintah Indonesia dengan orang-orang yang lain yang "sama soort-nya" dengan mereka, akan dapat menentang atau menahan fase sosial-ekonomis daripada Revolusi ini. Alangkah tololnya mereka itu! Alangkah gemblungnya! Dalam tahun 1930 aku telah berkata: "Matahari terbit bukan karena ayam-jantan berkokok, tetapi ayam-jantan berkokok karena matahari terbit!"
Ya, ayam-ayam berkeluruk, dan burung-burung bersiul, karena di Timur fajar menyingsing; bukan: di Timur fajar menyingsing karena ayam-ayam berkeluruk dan burung-burung bersiul. Fajar menyingsing itu tak dapat dihalang-halangi. Dunia reaksioner dalam-dan-luar negeri mungkin dapat menyingkirkan ayam-ayam dan burung-burung itu, tetapi jangan mereka mengira dapat menghalangi matahari terbit! Dan jikalau mereka hendak bertempur dengan matahari, – bukan matahari yang kalah, tetapi mereka sendiri akan hancur-luluh hancur-lèlèh samasekali!
Fajar kini menyingsing, matahari kini akan terbit! Songsonglah fajar itu, songsonglah terbitnya matahari! Songsonglah fajarnya fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita itu dengan sikap-sikap yang baru, dengan pengertian-pengertian yang baru.
Setahun yang lalu sayapun berkata: "Janganlah kita beku! Janganlah kita statis dalam arti: satu kali ambil sistim politik, terus kita pertahankan sistim politik itu! Think-and-rethink,-shape-and-reshape! Demikianlah pesanan saya tempo hari. Nehru tempo hari mempergunakan perkataan ”remaking", dan di dalam perkataan itu terasalah dinamik, dan bukan kestatisan atau kebekuan. Sebagai sering saya katakan: Revolusi adalah Gerak, Revolusi adalah Beweging. Revolusi adalah Gerak Maju meninggalkan Hari Kemaren,- "Revolution rejects yesterday”. Janganlah menggamblok saja kepada faham-faham yang sudah-sudah, janganlah tidak berani membongkar fikiran-fikiran yang hanya cocok dengan alam ekonomi kolonial dan ekonomi liberal. Ya, sekarang kita sudah diharuskan memikirkan bagaimana pembangunan negeri kita menjadi satu masyarakat yang adil dan makmur bagi seluruh Rakyat, – bagi si Dadap dan si Waru, bagi si Kromo dan si Dongso, bagi si Zaetun dan si Misnah. Memang itulah kepribadian Indonesia di lapangan kemasyarakatan. Itulah isinya begrip "kekeluargaan Indonesia". Yang dibutuhkan sekarang ini ialah: orientasi baru, atau penemuan kepribadian kita sendiri di lapangan ekonomi. Dalam rangka pemikiran baru ini, Dewan Perancang Nasional sedang dalam proses pembentukannya. Dengan gembira saya umumkan di sini, bahwa Rencana Undang-undang Pembentukan Dewan Perancang Nasional kini sudah selesai. Tinggal nanti pengesyahan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Kepada Dewan Perwakilan Rakyat saya mintakan pengertian tentang pemikiran-baru atau orientasi-baru itu. Juga di lapangan ekonomi, kita masih banyak yang dihinggapi penyakit "Hollandsch denken", penyakit berfikir secara Belanda. Kikislah diri kita bersih-bersih daripada segala sisa-sisa "Hollandsch denken" itu! Siap-sediakanlah segala alat-alat materiil, mental, legal, untuk memungkinkan lahirnya Jabang bayi Masyarakat Adil dan Makmur itu dengan cara yang sehat dan lancar. Jangan nanti fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita ini datang, dengan barensweeën yang amat pedih.
Ya, saya ajak segenap bangsa Indonesia sekarang untuk dengan giat mensiap-sediakan segala alat-alat materiil, mental, legal untuk kelanjutan daripada Revolusi kita itu. Saya ajak segenap bangsa Indonesia untuk dengan giat bekerja kepada "retooling for the future" .
"Retooling for the future", membuat "alat-alat-baru untuk menyelenggarakan hari-depan", – di segala lapangan. Fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita itu hanyalah dapat berjalan secara lancar dan licin dengan perlengkapan-perlengkapan yang tepat dari sekarang di segala lapangan. Material investment, investment of human skill, mental investment, sudah saya sebutkan berulang-ulang. Penyusunan modal, managerial and technical know-how, suasana politik yang sesuai – itupun sudah saya mintakan dengan tandas dalam pidato 17 Agustus tahun yang lalu. Sekarang, marilah kita selenggarakan segala perlengkapan-perlengkapan itu, marilah kita metterdaad mengadakan retooling for the future di atas dasar orientasi-orientasi baru. Songsonglah Alam Baru dengan jiwa baru dan pengertian baru.
Songsonglah Dia, dengan melaksanakan Demokrasi Terpimpin, oleh karena masyarakat baru itu hanya dapat diselenggarakan dengan Demokrasi Terpimpin yang melemparkan jauh-jauh segala keburukannya free-fight-liberalism.
Songsonglah Dia, dengan melaksanakan pembentukan Dewan Perancang Nasional, sesuai dengan usul Dewan Nasional, itu badan Penasehat Kabinet, yang dalam usianya setahun ini telah menunjukkan ketangkasan dan pengertian yang luar-biasa.
Songsonglah Dia, dengan melaksanakan terlahirnya pola keadilan-dan-kemakmuran, yakni melaksanakan terlahirnya "blue-print", yang akan direncanakan oleh Dewan Perancang Nasional.
Songsonglah Dia, dengan memperhebat Gerakan Hidup Baru sebagai yang saya anjurkan setahun yang lalu, – Gerakan Hidup Baru yang berisikan Revolusi Mental, untuk memperkuat jiwa perjoangan politik, dan menghidupkan daya-cipta gotong-royong untuk membangun, dan mempergunakan tenaga-kerja manusia sebagai faktor utama di samping modal.
Sungsonglah Dia, dengan melaksanakan pekerjaan Konstituante di Bandung yang sekarang ini seperti tèlè-tèlè, sesuai dengan harapan yang saya ucapkan pada waktu membuka Konstituante itu pada tanggal 10 Nopember 1956, yang berbunyi: "Bekerjalah" dengan cepat, dan bekerjalah dengan tepat. Cepat, sebab di zaman bom atom ini perjalanan segala sesuatu adalah cepat, deras, dan tangkas. Tepat, – sebab perjoangan Rakyat akan berjalan terus, juga di luar tembok Konstituante ini, sedapat mungkin dengan saudara-saudara, bila tidak mungkin: di atas kepala saudara-saudara, – over Uw geëerde hoofden heen! Sesudah Konsitituante Bandung, babakan Revolusi kita ingin sekali lekas meningkat memasuki Revolusi Pembangunan Res Publica yang amat hebat. Konstitusi Bandung menjadi fondamen ketatanegaraan; Program Pembangunan akan disusun oleh Rakyat sendiri di atas dasar fondamen ketatanegaraan itu … Saya minta kepada saudara-saudara, susunlah Konstitusi di mana dengan sekelebatan mata saja sudah bisa dilihat bahwa Republik kita adalah benar-benar Res Publica, benar-benar kepentingan umum yang berarti kepentingan bersama … Konstitusi Bandung harus menjadi canangnya pembangunan, canangnya pembangunan Res Publica … Saya harap Konstitusi Bandung janganlah mendurhakai hatinya Rakyat! Ya, songsonglah Dia, fase baru dalam Revolusi kita itu, dengan melekaskan pekerjaan Konstituante di Bandung itu. Sebab bangsa kita adalah bangsa dalam perjoangan, dan perjoangan berarti gerak-cepat dan dinamik. Dan sebagai kukatakan pada pembukaan Konstituante, Konstitusi kita harus Konstitusi perjoangan: "Bagi kita bangsa Indonesia, demikianlah kataku, satu bangsa dalam Revolusi, Konstitusi dus harus merupakan satu alat perjoangan! Konstitusi yang saudara-saudara akan susun, tidak boleh merupakan satu statisch begrip, satu tulisan yang dianggap keramat belaka, satu tulisan yang dikemenyani tiap-tiap malam Jum'at, satu tulisan-mati yang ditaruhkan dalam almari-kaca atau ditaruhkan dimejanya profesor yang kepalanya botak. Tidak! Konstitusi kita harus Konstitusi perjoangan, konstitusi yang memberi arah dan dinamik kepada perjoangan, sebagai Wahyu Cakraningrat memberi arah dan dinamik kepada perjoangan. Konstitusi kita harus merupakan satu manifestasi daripada geloranya dan gegap-gempitanya perjoangan kita merobah satu tata kolonial yang mesum, menjadi satu tata nasional yang modern dan berbahagia. Konstitusi kita harus menjawab kepada keperluan-keperluan Indonesia pada waktu sekarang dan pada waktu dekat yang akan datang.
"The constitution is made for men, and not men for the constitution", "Konstitusi dibuat untuk keperluan manusia, dan tidak manusia untuk keperluan konstitusi", demikianlah seorang pejoang pernah berkata. Kita, bangsa Indonesia sekarang ini, kita harus berkata: "Konstitusi kita ialah konstitusi yang dibuat untuk keperluan manusia Indonesia yang sedang berjoang, dan tidak manusia Indonesia dibuat untuk keperluan konstitusi" .
Karena itu pula saya minta kepada saudara-saudara, jangan Konstituante ini menjadi badan tempat berdebat bertèlè-tèlè! Perjoangan minta kesanteran. Perjoangan minta dinamik, perjoang-an tidak mau mandek! Perjoangan akan berjalan terus, juga di luar tembok Konstituante ini, – di atas kepala saudara-saudara, – over Uw hoofden heen – , jikalau saudara-saudara tidak menyesuaikan diri dengan geloranya semangat perjoangan itu dan dengan santernya tempo perjoangan itu.