Tahun Tantangan

Part 4

Chapter 42,187 wordsPublic domain (Wikisource)

Ini adalah kewajiban semua bangsa, sebab sejarah sekarang ini bukanlah lagi sejarahnya bangsa ini atau bangsa itu, melainkan sejarahnya seluruh Kemanusiaan, oleh karena seluruh umat manusia sekarang ini telah terikat satu-sama-lain dalam satu Nasib Bersama, – terikat satu-sama-lain dalam satu "common fate".

Bagi kita bangsa Indonesia, kita merasa berbahagia bahwa kita, dalam perjoangan nasional kita yang telah limapuluh tahun itu, – perjoangan nasional 50 tahun yang tempo hari juga saya gambarkan sebagai "satu perjalanan mencari kembali Kepribadian kita sendiri" -, telah menemukan sistim-falsafah atau teori-politik yang menjamin perdamaian dunia dan keselamatan kesejahteraan semua manusia itu, yaitu Pancasila dengan lima silanya yang telah termasyhur di dalam dan luar negeri.

Sekali lagi, kepada seluruh umat-manusia, kepada pemimpin-pemimpin di semua negara, kepada pemikir-pemikir semua bangsa, saya anjurkan think and rethink dan merenungkan: adakah sistim-sistim-falsafah atau teori-teori-politik usang yang Tuan-tuan pakai itu membawa manusia lebih dekat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan dan keamanan, – ataukah membawa manusia lebih dekat kepada ketidakbahagiaan, ketidaksejahteraan, ketidakamanan, ketidak-selamatan? Jikalau benar analisa saya bahwa dunia manusia sekarang ini hidup dalam suasana-takut yang terus-menerus, jikalau benar apa yang saya katakan di Amerika tempo hari bahwa "mankind now lives in constant fear", – maka datanglah saatnya sekarang ini kita mengadakan introspeksi (melihat ke dalam) secara sungguh-sungguh. Waktu belum terlambat, sebab walaupun hantu maut sudah mendekam di tepi langit, belumlah Api membakar dan mengamuk alam semesta!

Saudara-saudara! Kita sekarang hendak memasuki tahun yang keempatbelas daripada Revolusi kita. Berkat Tuhan, kita masih berdiri tegak, dan jikalau dibandingkan dengan tahun 1957, kita sekarang lebih maju. Di dalam tahun 1957 banyaklah negara yang menamakan Republik kita ini "the sick man of South-East Asia" – orang sakit di Asia Tenggara. Untuk mengatasi itu, kita harus mengadakan tindakan-tindakan dengan mengambil keputusan-keputusan tanpa ragu-ragu. Berhubung dengan itulah saya menamakan tahun 1957 itu "tahun penentuan", – a year of decision.

Penyakit-penyakit kita hanya dapat kita sembuhkan dengan obat-obat yang radikal dan jitu, yang harus kita ambil dengan keberanian dan ketetapan hati. Pada waktu menamakan 1957 itu satu tahun penentuan, maka saya berkata:

"Saudara-saudara, camkan: – ini adalah tahun penentuan. Ini adalah "year of decision". Tenggelamkah?, atau terus hidupkah? Kalau kita terus-menerus lupa diri secara begini, saya khawatir, hari-gelap akan menimpa kita. Kita sekarang harus berani. Berani mengambil keputusan. Berani meninggalkan apa yang lama, berani memasuki apa yang baru. Yang lama sudah nyata koyak, sudah nyata robek, sudah nyata menghambat kemajuan dan membangkitkan kerewelan saja. Kita harus tidak ragu-ragu lagi melangkahi garis-teluh yang memisahkan yang lama dari yang baru. Kita sudah sampai kepada satu titik, darimana kita tidak bisa balik kembali. Kita sudah sampai kepada "point of no return". Kita hanya tinggal satu pilihan lagi: mundur?, mandek?, atau maju? Mundur-hancur! Mandek-amblek! Maka hayo kita maju, hayo kita tinggalkan apa yang lama, memasuki apa yang baru!"

Demikian kukatakan setahun yang lalu. Alhamdulillah, di beberapa lapangan kita telah berani mengambil keputusan-keputusan. Sikap "tak tabu apa yang harus diperbuat" sudah mulai kita tinggalkan. Dan ternyata keputusan-keputusan yang tepat, yang disambut baik oleh kalangan Rakyat. Rakyat kita memang ingin maju secara serentak. Kesedarannya ber-Negara, kesedarannya tentang demokrasi terpimpin, kesedarannya mengidamkan demokrasi ekonomi, kesedarannya mengidamkan Dunia Baru, nasional dan internasional, sudah makin mendalam dan sudah begitu mendalam, hingga kemajuan dalam keempat lapangan ini harus ditumbuhkan dan dilayani secara serentak. Para pemimpin harus menyedari hal ini sedalam-dalamnya, kalau mereka tidak mau digiling-digilas oleh mesin-gilasnya massa. Rakjat 1958 sekarang sudah lebih sedar. Sebab, oleh karena kita berani bersikap tepat dan tegas, maka problematik kita sekarang ini lebih "gekristalliseerd", lebih nyata dan terang garis-garisnya, lebih "gamblang ceto wélo-wélo", tidak lagi terjalin-jalin, tidak lagi remeng-remeng, tidak lagi tak terang mana yang putih mana yang hitam, tidak lagi tak terang siapa kawan siapa lawan, tidak lagi tak terang siapa yang setia dan siapa pengkhianat, tidak lagi mengandung teka-teki bagi Rakyat. Rakyat 1958 kini telah lebih mengerti siapa pemimpin sejati, dan siapa pemimpin anteknya asing. Rakyat telah lebih mengerti siapa pemimpin pengabdi Rakyat dan siapa pemimpin gadungan. Jikalau ada sesuatu hal yang kurang menyenangkan, maka Rakyat kini lebih mudah dapat membeda-bedakan, mana yang disebabkan oleh kepalsuan atau ketololan pemimpin, dan mana yang memang inhaerent dengan jalannya sesuatu revolusi atau inhaerent dengan pertumbuhan sesuatu Negara yang masih muda. Dengan demikian maka Rakyatpun lantas dapat memilih, mana yang harus dicontoh dari luar-negeri, mana yang harus diselesaikan dengan formule Indonesia sendiri.

Ya, saya kata tahun 1958 adalah tahun yang lebih maju! Cobaan-cobaan di tahun yang lalu malah boleh dianggap rahmatnya Tuhan! Dalam tahun 1957 Indonesia dinamakan "the sick man of South East Asia", dicemooh orang di luar-negeri, diejek dan ditertawakan kanan-kiri. Dan memang kita di waktu itu sakit. Sekarang kita telah mengatasi krisisnya penyakit itu, dan kita sekarang mulai dihargai orang di dunia luar. Kalau kita terus berani bersikap begini, maka penyakitnyapun nanti akan dapat diatasi samasekali. Dan bolehlah kita nanti memandang lagi bintang-bintang di langit!

1957! Mungkin orang luar menamakan tahun itu "the year of the sick man", – tahunnya si-orang sakit. Saya namakan tahun 1957 itu "the year or decision". Nama apakah yang harus saya berikan sekarang kepada tahun 1958 ini?

Tahun 1958! Dalam tahun 1957 kita menderita sebuah bisul besar di kita punya tubuh, sebuah bisul kanker yang "mêntêng-mêntêng" , bisul kanker-jahat-maha-jahat yang berisi bermacam-macam virus yang amat jahat, yang hendak meracuni seluruh tubuhnya bangsa dan Negara, yaitu virusnya kepetualangan, virusnya pengkhianatan, virusnya mempermainkan pusat, virusnya sinisme, virusnya liberalisme politik dan liberalisme mental, virusnya kesukuan yang diruncing-runcingkan, virusnya egosentrisme, virusnya warlordism, virusnya ultra-multi-party system, virusnya dagang-sapi, virusnya keliaran-jiwa juga di kalangan pemuda, virusnya subversi kasar-kasaran dan halus-halusan, virusnya diplomasi yang hendak membuat kita satu bangsa bèbèk yang kehilangan samasekali kepribadian. Awas!, kataku pada waktu itu, bertindaklah tepat dan cepat, janganlah ragu-ragu, jangan télé-télé seperti orang hilang-akal, – kita akan binasa nanti samasekali kalau keadaan kita biarkan terus begini macam! Alhamdulillah, kita kemudian sedar! Pada permulaan tahun 1958 bisul kanker itu njebrot, kita adakan operasi dengan tidak ragu-ragu dan tegas, dan sekali lagi Alhamdulillah, krisis sekarang sudah kita atasi. Dan kita harus bertindak terus, dengan tidak berbalik di tengah jalan, bertindak terus pula di lapangan "retooling for the future", – retooling materiil-mental di segala lapangan -, sungguh kita tidak boleh balik lagi kembali ke sikap beku dan ragu-ragu seperti dulu, dan Insya Allah, hari depan tidak akan gelap.

Nama apa yang harus saya berikan kepada tahun 1958? What is in a name! Sejarah adalah satu rantai panjang, yang tidak saban tahun mengenal satu datum untuk memarkir: "di sebelah sini adalah hari kemarin, di sebelah sana adalah hari besok". Dan tugas kita, tidak pula bisa berkata: "sampai hari ini tugas kita semacam ini, mulai besok pagi tugas kita semacam itu". Tahun 1958 adalah kelanjutan daripada tugas tahun 1957.

Cobalah dengarkan sekali lagi sebagian daripada amanat saya tahun yang lalu: "Kalau kita terus-menerus lupa diri secara begini, saya khawatir, hari gelap akan menimpa kita. Kita sekarang harus berani … Berani meninggalkan apa yang lama, berani memasuki apa yang baru. Kita harus tidak ragu-ragu lagi melangkahi garis-teluh yang memisahkan yang lama dari yang baru … Kita sudah sampai kepada "point of no return" … Hayo kita tinggalkan apa yang lama, memasuki apa yang baru!" Tiap-tiap kalimat, tiap-tiap kata daripada amanat 1957 itu masih berlaku penuh bagi hari sekarang. Sekarangpun saya masih berkata: "Jangan ragu-ragu! Tinggalkanlah apa yang lama, masukilah apa yang baru!"

Kalau tahun 1957 saya namakan "tahun penentuan", "tahun ‘keputusan", "a year of decision", maka sebenarnya tahun 1958 pun masih "tahun penentuan", "tahun keputusan", "a year of decision". 1957 hanyalah salah satu saja daripada beberapa tahun yang menentukan. 1957 hanyalah salah satu saja daripada beberapa "years of decision". Sebab pertumbuhan dan perpindahan itu memang bukan satu proses yang hanya satu tahun! Tiap-tiap bangsa dalam masa pertumbuhan, putihkah kulitnya atau kuningkah kulitnya, hitamkah warnanya atau sawo-matangkah warnanya, dalam masa pertumbuhannya niscaya mengalami waktu-waktu yang menentukan, – mengalami "decisive periode", – yang menentukan kemajuan atau kemacetan, kejayaan atau breakdown samasekali.

Dalam keadaan demikian, maka fikiran-fikiran beku yang ngamplok saja kepada segala macam kebiasaan-kebiasaan, fikiran-fikiran beku yang bersifat "conventional thought", hanya akan menimbulkan keragu-raguan belaka; Dan tiap-tiap keraguan tak mungkin dapat mengatasi keadaan-keadaan yang genting. Tiap-tiap keraguan malahan membuat keadaan genting menjadi makin genting.

Wise in judgement, original in thought, resolute in action", – bijaksana dalam menimbang, orisinil dalam fikiran, tegas dan tangkas dalam tindakan -, itulah kombinasi yang dapat mengatasi pergolakan dalam pertumbuhan nasional. Karena itulah maka saya menganjurkan adanya jiwa yang tangkas dan dinamis. Jiwa yang tidak takut kepada perobahan. Jiwa yang berani mengadakan perobahan kalau perlu. Jiwa yang berani think-and-rethink, berani shape-and-reshape, berani make-and-remake. Jiwa yang berani terjun ke dalam lautan bergelora, untuk menyelam mencari mutiara!

Janganlah takut kepada "persoalan". Dalam tiap-tiap bangsa yang sedang dalam pertumbuhan dan perpindahan, maka tiap-tiap kemujuan akan menimbulkan persoalan. Siapa takut persoalan, ia sebenarnya takut kepada kemajuan. Siapa takut persoalan, ia sebenarnya beku, ia sebenarnya konservatif, ia sebenarnya takut inisiatif.

Jangan sekali-kali kita berbalik lagi! Jangan sekali-kali kita ragu-ragu! Jangan sekali-kali kita tidak mempunyai keberanian meneruskan usaha kita membuang apa yang lama, membongkar apa yang bobrok, menyudèt-mencuci-bersih sisa-sisa kanker yang bervirus macam-macam yang meracuni tubuh kita itu, menancepkan dalam tubuh kita jarum-jarum-injeksi yang perlu, – menggodok-menempa-menggembleng-kembali tubuh kita itu dengan segala senjata yang diperlukan, laksana penggodokan-penggemblengan tubuhnya Bambang Tutuka dengan segala macam senjata dewata dalam kawah Candradimuka, sehingga akhirnya ia keluar dari kawah itu sebagai Gatutkaca yang Maha-Sakti. Konkritnya, punyailah keberanian – janganlah ragu-ragu – untuk mengadakan pemikiran-baru dan tindakan-tindakan-baru di segala lapangan sebagai usaha "retooling for the future" untuk memenuhi tuntutan penyongsongan kepada tantangan-tantangan politik sosial dan nasional-internasional sebagai yang saya terangkan di muka tadi, – penyongsongan kepada tuntutan "double-faced revolution" yang kini telah menjadi satu challenge maha-dahsyat yang makin nyata.

Dus, nama apa buat tahun 1958? Sekali lagi jawab saya: What is in a name, – apa arti sesuatu nama! Tetapi jikalau toh saya harus beri nama pada tahun 1958 itu, baiklah saya beri nama "Year of Challenge" kepadanya: Tahun Tantangan, tahun menjawab tantangan!

Sebab, memang 1958 adalah penuh dengan tantangan: tantangannya pemberontakan P.R.R.I.-Permesta, tantangannya D.I.-T.I.I. yang masih saja belum tertumpas, tantangannya "aksi-jalan-lain" Irian Barat, tantangannya kemungkinan Perang-Dunia III karena situasi Timur-Tengah, tantangannya subversi-intervensi-agresi asing, dan terutama sekali intern: tantangannya menghindarkan bangkrutnya Negara yang hanya bisa kita selamatkan dengan memenuhi "double-raced-revolution" atau "many-faced-revolution" yang memang makin hari makin dituntut oleh Rakyat, dan yang hanya dapat diselenggarakan dengan pembangunan menurut planning, talak tiga kepada liberalisme, melaksanakan demokrasi terpimpin, penyederhanaan kepartaian, kelanjutan likwidasi K.M.B. secara konsekwen, dan lain sebagainya. Dalam suasana tantangan-tantangan itu kita tidak boleh setengah-hati. Kita harus resolut. Kita harus berani, juga berani sedikit "main judi". Dalam istilah Vivekananda: berani terjun ke dalam samodera-bergelora yang kita tidak kenaI dasarnya, dalam istilah seorang pemimpin besar lain: berani "face life in a rather adventurous way".

Dan kita harus menggemblèng kembali Persatuan. Dalam masa tantangan-tantangan seperti sekarang ini, lebih daripada di masa-masa yang lampau, kita harus menggemblèng kembali Persatuan. Saya anjurkan persatuan ini berkali-kali dan berpuluh-puluh-kali meski saya tahu bahwa ada saja orang-orang di kalangan kita yang mengèjek, dan mengatakan bahwa persatuan adalah "hobby-nya Sukarno". Biar saya dièjèk, – kulit saya ini toh sudah "kapalan" karena dièjèk. Tentang nasionalisme Indonesia dan Asia saya dièjèk, tentang aksi Irian Barat saya dièjèk, tentang Persatuan saya dièjèk. Biar mereka mengèjèk sampai mulutnya meniran; Persatuan bukan "hobby-nya Sukarno". Saya gandrung Persatuan, oleh karena Persatuan adalah tuntutan sejarah. Pertentangan tetek-bengek antara kita dengan kita, terutama sekali antara sesama pendukung Pemerintah, hendaknya ditundukkan kepada kepentingan yang Besar, yaitu Menyelamatkan Republik.

Nah, saudara-saudara! Tinggal beberapa detik lagi, maka nanti mulailah tahun keempat-belas daripada kita punya Revolusi. Mari kita berjalan terus dengan tekad baru dan pandangan –pandangan baru di dalam kita punya dada, berjalan terus, dengan mata kita diarahkan ke muka.

Jangan terlalu menoleh ke belakang! Ya, di zaman purbakala memang kita ini sering mengalami puncak-puncak kejadian yang besar, yang pantas menjadi kita punya kebanggaan. En toh, jangan terlalu sering kita menoleh ke belakang, jangan kita terlalu "teren" kepada zaman kebesaran yang telah lampau. Menoleh ke belakang hanyalah boleh sekedar untuk menghirup inspirasi-inspirasi bagi perjoangan yang sedang berjalan.

Ada tiga-puncak-kejadian di sejarah kita yang lampau, yang amat gilang-gemilang. Pertama tatkala Gajah Mada bersumpah tidak akan memakan palapa sebelum seluruh Nusantara disatupadukan dalam satu Negara. Kedua tatkala Diponegoro, di sinar api kebakaran rumahnya yang dibakar oleh musuh, mengajak mendirikan satu rumah baru yang lebih besar, yaitu Rumah Besar bagi seluruh bangsa. Ketiga tatkala kita pada 17 Agustus 1945 mengadakan Proklamasi.

Ambillah inspirasi daripada puncak-puncak-kejadian ini untuk berjalan, berjoang, membanting tulang, bertempur di mana perlu, tetapi janganlah duduk enak-enak di kursi sambil "teren" kepada kebesaran atau kejantanan atau keharimauan yang telah lampau itu. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dan lebih mencelakakan bagi sesuatu bangsa, daripada duduk nggelenggem-ayem-ayem, enak-enak di atas bantal, sambil memakan warisan daripada leluhurnya yang telah mangkat. Yang membuat sesuatu bangsa bertumbuh dan menjadi besar ialah: usaha, keringat, dinamika, pembantingan-tulang, perjoangan, aktivitas yang kreatif, inventif, dan vital. Bangsa yang duduk termenung, – meski leluhurnya adalah gembong-gembong-kebesaran, dan sejarah-lampaunya adalah gilang-gemilang laksana Nur di langit, – bangsa yang demikian itu akan layu dengan sendirinya, akan menjadi kecil, akan mengkerut, dan akhirnya akan mati. Kebesaran dan kebahagiaanmu tidak lagi di tangan keluhuranmu yang telah mangkat, kebesaran dan kebahagiaanmu adalah di dalam tanganmu sendiri, dan itu pun: di dalam tanganmu sendiri yang berjoang, di dalam tanganmu yang menyala-nyala dengan Apinya Cipta.

Sebab hanya tangan yang demikian itulah tangan yang diberkahi Tuhan!

Moga-moga Tuhan memberkahi kita!

Merdeka!

Terima kasih!

Kategori:Pidato Soekarno‎