Part 3
Songsonglah Dia, dengan sikap dan tindakan yang tahu membatasi diri di lapangan kepartaian! Songsonglah Dia, – demikianlah zonder tedeng-aling-aling kuanjurkan sekarang ini -, dengan sedikitnya menyederhanakan kepartaian. Songsonglah Dia, dengan merobah Undang-undang Pemilihan Umum yang sudah ada, dan dengan mengadakan Undang-undang Kepartaian! Di dalam pidato pembukaan Konstituante tempo hari itu, sayapun telah berkata: "Konstitusi Bandung haruslah berupa kelahiran daripada peradaban dari Revolusi kita ini, yang sebagai semua revolusi-revolusi lain, mengenal pengalaman-pengalaman yang besar nilainya. Bagaimana pengalaman-pengalaman kita itu? Menyenangkankah? Menyedihkankah? Jadikanlah pengalaman-pengalaman pedoman untuk mengadakan. koreksi kepada ketatanegaraan Indonesia dan koreksi kepada organisasi kepunyaan Rakyat yang bernama partai. Di medan pertempuran dulu Rakyat berjoang dengan bulat-bersatu-padu berlindung di bawah lambang kesatuan, sebagai pelaksana Jiwa Proklamasi. Tetapi bagaimana keadaan di luar medan pertempuran? Kebebasan berpartai bukanlah satu-satunya alat untuk memutar roda demokrasi … Konstituante Indonesia adalah wenang, wenang penuh, berwewenang penuh, untuk meninjau dan memutuskan, apakah partai-politik dapat dipakai sebagai dasar demokrasi, bagi masyarakat, parlemen, dan Kabinet, dalam suasana Pembangunan Res Publica yang diharapkan Rakyat. Perhatikanlah pengalaman-pengalaman dalam menjalankan wewenang itu, sebab pengalaman adalah guru, adalah pedoman, adalah kemudi yang sangat berharga. Perhatikan pengalaman-pengalaman itu, sebab pengalaman yang tidak diperhatikan akan menjadi boomerang yang menghantam-roboh kita sendiri!
Sederhanakanlah kepartaian! Sekarang kepartaian jumlahnya berlebih-lebihan itu sudah menjadi tidak populer di kalangan Rakyat, sudah menjadi cemoohan di kalangan Rakyat. Lagi pula Rakyat melihat bahwa kadang-kadang partai itu dipergunakan tidak sebagai alat pembela kepada kepentingan Rakyat, melainkan sebagai alat pembela kepentingan pribadi beberapa pentolan dalam partai itu, atau sebagai alat pemberi kerja kepada orang-orang yang tak punya kerja, atau alat pemberi lisensi kepada orang-orang yang cari lisensi.
Partai bukan pembela ndoro atau pembela juragan, partai bukan arbeidsbureau, partai bukan makelaarskantoor! Partai di dalam Revolusi ini harus melulu organisasi penyusun tenaga Rakyat, melulu mengabdi kepada perjoangan Revolusi dan perjoangan Rakyat!
Sekali lagi: sederhanakanlah kepartaian! Sederhanakan isi-jiwanya, sederhanakan jumlahnya. Sederhanakan isi-jiwanya, jangan isi-jiwanya itu selintat-selintut seperti jiwa tukang catut di pasar gelap! Sederhanakan jumlahnya, jangan jumlahnya itu berpuluh-puluh buah seperti lalat-hijau mengerumuni hidangan. Ultra-multi-party-system tak sesuai dan tak dapat diperguna-kan sebagai alat penyelenggaraan masyarakat Res Publica. Masyarakat Res Publica hanya dapat diselenggarakan dengan Demokrasi Terpimpin, yang tak dapat berjalan dan tak dapat sejalan dengan ultra-multi-party-system itu. Dengan zonder tèdèng-aling-aling saya anjurkan kita merobah Undang-undang Pemilihan Umum yang sudah ada, dan mengadakan Undang-undang Kepartaian yang jitu. Dan dengan zonder tèdèng-aling-aling pula saya di sini menganjurkan dirobek-robeknya Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945, yang menganjur-anjurkan diadakan-nya partai-partai, dan lalu menghidupkan dunia liberalisme parlemeter dalam Revolusi kita, yang sebenarnya wajib dipimpin oleh keutuhan kommando, tetapi karenanya menjadi pecah belah samasekali sampai dewasa ini. Kesalahan 3 Nopember 1945 itu memungkinkan segala macam unsur-unsur kontra-revolusi memainkan perannya untuk menjauhkan kita dari tujuan Revolusi.
Apakah kita cukup ketangkasan untuk melaksanakan ini? Ah, saudara-saudara, kenapa tidak? Sudahkah kita menjadi Rakyat yang beku? Sudahkah kita demikian turun dinamik kita, sehingga kita sudah ”ngglenggem” puas dengan keadaan yang ada, dengan alat-alat yang ada, dengan Negara yang ada, dan tidak berani atau tidak mau mengadakan perobahan-perobahan yang perlu, dan lupa bahwa Negara sekedarlah ada satu alat untuk mencapai atau mem-pertahankan atau memelihara sesuatu? Dan oleh karena kita sekarang ini masih dalam taraf perjoangan, – dan kapan kita akan bisa berhenti berjoang? -, maka Negara harus kita hantir sebagai alat perjoangan. Dan sebagai alat perjoangan, maka Negara itu, dengan segala sistim-sistimnya, boleh dan harus kita robah dan perbaiki terus, kita asah terus, kita pertajam terus, sebagai kita mengasah terus dan pertajam terus kita punya pedang di masa perjoangan.
Pada 17 Agustus 1957 saya berkata: "Revolusi barulah benar-benar Revolusi, kalau ia terus-menerus berjoang. Bukan saja berjoang ke luar menghadapi musuh, tetapi berjoang ke dalam memerangi dan menundukkan segala segi-segi negatif yang menghambat atau merugikan jalan-nya Revolusi itu. Ditinjau dari sudut ini, maka Revolusi adalah satu proses yang dinamis-dialektis dan dialektis-dinamis, satu simfoni hebat dari kemenangan atas musuh" dan kemenangan" atas-diri-sendiri, satu simfoni hebat antara overwinning dan self overwinning. Hanya bangsa atau kelas yang dapat mengadakan simfoni yang demikian itulah dapat mencapai kemajuan dan kekuatan dengan jalan Revolusi".
Asahlah terus kita punya Negara! Hantu kolonialisme dan imperialisme masih mengintai di cakrawala, dan tugas sosial-ekonomispun masih menunggu penyelenggaraan dengan alat Negara itu. Jangan bimbang hati: fajar kemenangan politik dan sosial-ekonomis telah merantak di bang-wetan! Tugas sejarah memanggil-manggil kita, songsonglah tugas sejarah itu dengan jiwa yang penuh pengertian dan dinamiknya perjoangan, – siapa yang sedar dan dinamis, dialah yang akan terpakai, siapa yang tak mengerti, siapa yang beku, dia akan tertinggal, dan siapa yang berkhianat, dia akan digilas hancur-lebur oleh sejarah.
Mengenai kepartaian, yang memberi pengalaman buruk kepada kita di masa yang lampau, baiklah saya cantumkan di sini rumusan pendapat dari para Panglima dan para Komandan Operasi yang dengan anak-anak buahnya sedang menyabung jiwanya membasmi pemberontakan-pemberontakan sekarang. Rumusan tersebut adalah sebagai berikut:
Dalam melakukan tugasnya membasmi pemberontakan, Angkatan Perang Republik Indonesia melandaskannya kepada keyakinan, bahwa setelah tugasnya berhasil, maka tidak akan terulang lagi ekses-ekses politik di masa-masa yang lalu, seperti misalnya "dagang sapi" , memperpolitikkan soal-soal ekonomi dan kepegawaian, dan lain-lain. Ekses-ekses yang buruk inilah yang menjadi sebab pokok dari kekacauan.
T.N.I. bertekad, bahwa sesudah pemberontakan ini, ia akan memusatkan tenaga kepada penertiban hukum dan disiplin, serta pembersihan dalam tubuh alat-alat Negara, baik sipil maupun militer.
Pemerintah hendaknja menjamin, bahwa justru sesudah terbasminya pemberontakan, akan diintensifkan usaha autonomi dan pembangunan dengan berpegang antara lain kepada hasil-hasil Munas dan Munap.
T.N.I. mengharap diberikan pernyataan-penghargaan kepada perajurit-perajurit yang telah menunaikan tugasnya dengan setia, dan keluarganya yang menderita.
Demikianlah rumusan Angkatan Perang. Kita harus mengadakan zelfcorrectie yang serious. Jika tidak, songsongan kita kepada panggilan Revolusi akan menjadi hampa, dan "retooling kita for the future" akan menjadilah satu omong-kosong belaka! Di bidang internasional pun kita harus memberi songsongan! Sebab, sebagai kukatakan tadi, tantangan adalah di bidang nasional dan di bidang internasional. Songsonglah panggilan Revolusi di bidang internasional, dalam arti: memperkuat kesetiakawanan kita kepada perjoangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang menentang kolonialisme dan imperialisme.
Artinya: bahwa kita sebagai anggauta daripada kesetiakawanan itu harus lebih aktif, lebih dinamis, lebih berani-bertindak-kemuka, lebih tidak beku, lebih solider daripada yang sudah-sudah.
Jangan gubris bisikan si kapuk yang ragu-ragu! Sudah barang tentu semangat setiakawan itu ditentang terang-terangan atau sembunyi-sembunyian oleh kaum-kaum kolonialis dan imperialis, tetapi jangan gubris pula, perjoangan selalu membawa tentang-menentang, dan-api semangat Bandung tak mengenal kunjung padam! Buktinja? Sesudah Konperensi Asia-Afrika di Bandung 1955, dunia menyaksikan:
Konperensi Mahasiswa Asia-Afrika di Bandung, 1956.
Konperensi Wartawan Asia-Afriks di Tokyo, 1956.
Konperensi Sarjana Hukum Asia-Afrika di New Delhi, 1957.
Konperensi Solidaritas Rakyat Asia-Afrika di Cairo, 1958.
Konperensi Wanita Asia-Afrika di Colombo, 1958.
Dan baru-baru ini:
Konperensi Negara-negara Afrika di Accra, 1958.
Betul solidaritet Asia-Afrika ini belum merupakan satu gunung-karang yang meski di "atom" pun tidak akan retak, tetapi kekuatan jiwanya tak dapat ditentang, dan malahan makin lama makin bertambah merupakan satu potensi internasional. Dan lebih daripada itu: (maka itulah sebabnya kita harus menyongsongnya dengan jiwa yang lebih solider daripada dahulu): jiwa Asia-Afrika sebenarnya adalah juga cerminan daripada dua fase daripada tiap-tiap revolusi di Asia dan Afrika (yang satu lebih, yang lain kurang), yaitu fase politik dan fase sosial.
Ya, dua fase, dan kita bangsa Indonesia merasa bangga bahwa kitalah yang lebih dulu dengan segera dan terang-terangan berkata bahwa Revolusi kita adalah ”a summing up of many revolutions in one generation". Bahwa kitalah dengan terang-terangan telah dalam tahun 1945 menformulir Pancasila, yang antara lain menghendaki Keadilan Sosial. Bahwa kitalah dengan terang-terangan dalam mukadimah Undang-undang-Dasar kita sejak tahun 1945 selalu mengemukakan tuntutan masyarakat yang adil dan makmur. Bahwa kitalah yang dengan terang-terangan mempunyai fatsal 38 daripada Undang-undang-Dasar-Sementara, realisasi daripada ide masyarakat adil dan makmur. Bahwa kitalah (antara lain saya sejak tahun 1927 dalam pidato-pidato dan artikel-artikel, 1930 dalam " Indonesia Menggugat ", 1933 dalam " Mentjapai Indonesia Merdeka ") zonder tèdèng-aling-aling berkata menghendaki satu masyarakat sama-rasa-sama-rata tanpa kapitalisme dan imperialisme, dus satu masyarakat politiek-economische democratie atau satu masyarakat politiek-sociale-democratie.
Lihat kini di luar-pagar. Sesudah kita di tahun 1945 mengadakan Proklamasi, menyusullah negara-negara lain. Saya tidak menyebutkan R.R.T. Itu sudah nyata satu negara yang dinamakan "komunis". Tetapi lihat Birma. Birma yang datang kemudian daripada kita, menghendaki masyarakat "social justice". Lihat Ceylon. Ceylon yang juga datang sesudah kita, menghendaki pula satu masyarakat "social-justice". Dan lihat Mesir. Revolusi Mesir terjadi dalam tahun 1952, tujuh tahun sesudah kita. Dalam tahun 1955 Gamal Abdel Nasser menulis: "Sekarang saya dapat menerangkan, bahwa kita ini memasuki dua revolusi, bukan satu. Semua rakyat di dunia ini memasuki dua revolusi: satu revolusi politik yang merebut hak memerintah diri sendiri dari tangannya kezaliman, … dan satu revolusi sosial, termasuk di dalamnya pertentangan kelas, yang akan berakhir bilamana keadilan telah terjamin untuk semua anggauta-anggauta daripada bangsa itu. Bagi kita, maka pengalaman dahsyat yang kita "alami sekarang ini ialah, bahwa kita ini sedang menjalankan dua revolusi pada waktu yang sama". Nasser merasa bahwa Mesir "caught between the millstones of two revolutions", – terjepit antara batu-batu-penggilingannya dua revolusi! Dan ia berkata: "It was not within our "power to stand on the road of history like a traffic policeman and hold up the passage of one revolution until the other had passed by in order to prevent a collision", yang berarti: "Tidak di dalam kekuasaan kita untuk berdiri di jalan-rayanya sejarah seperti seorang agen-polisi lalu-lintas, dan, agar menghindarkan satu tabrakan, menahan berjalannya satu revolusi, sampai revolusi yang lain sudah berlalu".
Ya, saudara-saudara, demikianlah memang inti-hakekat daripada Nasionalisme Asia: ber-roman dua, ber-roman politik dan ber roman sosial. Nasionalisme Asia yang bangkit sebagai reaksi atas penjajahan politik dan penghisapan ekonomi, nasionalisme Asia yang berkobar dalam dadanya berjuta-juta rakyat yang perutnya lapar, pakaiannya compang-camping, gubuknya doyong, nasionalisme Asia itu tidak bisa lain daripada pasti mempunjai roman sosial pula. Dan karena itu benar sekali perkataan Nasser: Seorang revolusioner tidak dapat diibaratkan sebagai seorang agen-polisi lalu-lintas, yang menahan berlalunya sesuatu kendaraan Revolusi. Seorang revolusioner harus sedar akan hukum-hukum revolusi, dan menghormati hukum-hukum revolusi itu, dan percaya kepada kekuatan Rakjat, dan ikut terjun ke dalam kancah candra-dimukanya kedua macam revolusi itu, – ikut mengerti, ikut sedar, ikut aktif, ikut berjoang menyongsong dan melaksanakan kehendak sejarah dan tugas sejarah. Sebab sebagai tadi saya katakan, siapa yang tidak ikut mengerti, siapa yang tidak ikut sedar, siapa yang beku, dia akan ditinggalkan basah-basah, dan siapa yang menentang, dia akan digiling-digulung-dilindis-digilas hancur-lebur oleh kereta jagarnathnya Revolusi!
"Fate does not jest", kata Nasser. "Nasib tak mau dipermainkan". Memang demikianlah! Kereta Jagarnathnya Sejarah tak boleh dibikin main-mainan!
En toh, rupanya, dunia Barat, atau lebih tegas: elemen-elemen kolonialis-imperialis dari dunia Barat, mau main-mainan dengan Kereta Jagarnathnja Sejarah itu! Mereka menentang, sedikitnya selalu menjelek-jelekkan, segala apa saja yang timbul mencari realisasi di Asia-Afrika itu. Mereka menentang pertumbuhan di Indonesia. Mereka menentang pertumbuhan di Mesir, mereka menentang pertumbuhan di lain-lain negara Arab. Cannot they realise that history is against them? Apakah mereka tak mau mengerti, bahwa sejarah menentang mereka? Mereka mengingatkan saya kepada itu anak Belanda dari ceritera-dongengan, yang hendak menahan jebolnya gili-gili dengan menutup lobang dalam gili-gili itu dengan jari-tangannya. Lima meter dari tempat anak itu, gili-gili jebol, dan anak itu mati klelep di dalam banjir yang membandang.
Alangkah baiknja jikalau dunia Barat mengerti, bahwa nasionalisme Asia adalah satu kepastian sejarah, satu historisch phenomeen, dan bahwa nasionalisme Asia itu pasti sedikitnya bermuka dua. Kami tidak minta dibantu, kami hanya minta dimengerti dan dibiarkan, Biarkanlah kami mencari kepribadian sendiri. Biarkanlah kami bertumbuh secara kodrat kami sendiri. Tetapi apa yang kami alami? Kami selalu diganggu, kami selalu ditentang, kami selalu dihalang-halangi. Dunia Barat rupanya mengira, bahwa adalah kewajiban mereka untuk membuat kami ini seperti mereka. Dengan demikian, maka antara Barat dan Asia selalu ada ketegangan-ketegangan dan konflik-konflik. Malah pernah terdjadi perang panas antara Barat dan Mesir, dan sekarang hantu peperangan itu mengintai pula di lain tempat. Sebabnja ialah kurang pengertian di dunia Barat tentang hakekatnya nasionalisme di Asia atau Afrika.
Sudah diketahui oleh umum bahwa kami selalu menganjurkan koeksistensi antara blok komunis dan blok anti komunis, dan memang kami tidak mau masuk sesuatu blok di antara dua itu. Kami punya politik adalah politik bebas yang tidak mau mengikatkan diri. Kami punya politik ialah politik "menyusun kepribadian sendiri". Biarkanlah kami menjalankan politik yang demikian itu. Tetapi, sekali lagi, apa yang kami alami? Bukan dibiarkan, bukan dimengerti, tetapi selalu diogrok-ogrok, selalu diejek-ejek, sering "disubversif", kadang-kadang diserang terang-terangan. Zonder tèdèng-aling-aling saya katakan: akhirnya nanti yang rugi bukan kami, tetapi Tuan! Baik kami maupun Tuan, kedua-dua kita ini tak dapat melepaskan diri dari Sejarah. "One cannot escape history", demikianlah bunyi suatu ucapan. Kami tak dapat "escape history", Tuanpun tak dapat "escape history". Tetapi history kami dan history Tuan adalah berlainan! Kami tak dapat escape history bahwa kami akan bertumbuh terus menjadi bangsa-bangsa yang besar dan sejahtera. Tuan tak dapat escape history bahwa kolonialisme dan imperialisme Tuan akan ditentang enyah samasekali dari Asia dan Afrika!
Sebaiknya, janganlah kita mengganggu satu-sama-lain! Kami selalu menganjurkan koeksistensi antara blok komunis dan blok anti komunis, – sekarang kami juga menganjurkan koeksistensi antara kami dan Tuan-tuan: Koeksistensi antara blok-bersenjata dan Negara-negara yang berpolitik bebas. Koeksistensi antara Barat dan Nasionalisme Asia.
Konperensi Asia-Afrika tempo hari mewakili 1.600.000.000 orang, lebih separoh dari jumlah manusia di muka bumi. Kalau dipotong jumlah rakyat R.R.T. pun, Konperensi Asia-Afrika itu masih mewakili 1.000.000.000 orang! Konperensi pertama itu belum disusul dengan Konperensi yang kedua, tetapi janganlah mengira bahwa nasionalisme bangsa-bangsa Asia-Afrika telah mandek. Tidak! Nasionalisme bangsa-bangsa Asia-Afrika itu malah bertambah hebat di mana-mana, bertambah menyala dan berkobar-kobar di mana-mana. Lihat di Aldjazair, lihat di Tunisia, lihat di Mesir, lihat di Libanon, lihat di Yaman, lihat di Ceylon, lihat di Indonesia, lihat di tempat lain-lain! Ini adalah satu kenyataan sejarah, satu historisch phenomeen kataku tadi, yang tak dapat diingkari oleh sinpapun juga: 1.000.000.000 manusia, kalau tidak 1.600.000.000 atau 1.700.000.000 manusia, hatinya menyala-nyala karena Apinya satu Ide! Belum pernah sejarah dunia mengalami phenomeen seperti ini! Phenomeen-phenomeen lain di zaman dahulu, hanyalah meliputi puluhan juta manusia saja, atau paling-paling ratusan juta manusia, – tetapi "phenomecn Asia-Afrika" ini meliputi lebih dari satu setengah milyar jiwa manusiua!
Bertrand Russell pernah menulis, bahwa di dalam sejarah manusia adalah dua dokumen historis yang sampai sekarang menguasai alam-hati dan alam-fikirannya bagian-bagian besar dari umat-manusia, dan yang bersaingan hebat satu-sama-lain. Dua dokumen historis itu ialah " Declaration of Independence " Amerika tulisan Thomas Jefferson, dan " Manifes Komunis " tulisan Karl Marx.
Bertrand Russell mengharap supaya kompetisi antara potensi yang dibangunkan oleh dua dokumen historis itu jangan di-beslecht di medan peperangan, tetapi hendaknya di-beslecht di medan penyelenggaraan kesejahteraan manusia, "Silahkan berkompetisi, di medan penyeleng-garaan kesejahteraan manusia, bukan di medan pertempuran, – siapa yang unggul, dialah yang lebih baik, siapa yang ternyata lebih baik, dialah yang unggul”.
Saya setuju dengan harapan Earl Bertrand Russell itu, dan itulah memang sebabnya kami selalu menganjur-anjurkan koeksistensi antara komunis dan anti komunis. Tetapi ada satu hal yang dilupakan Earl Russell, dan yang saya minta diperhatikan oleh seluruh dunia Barat sekarang ini: Bukan dua potensi sekarang mengisi dunia, tetapi tiga!
Potensi ketiga itu ialah potensinya Nasionalisme di dunia Timur!
Terutama sekali sesudah Perang Dunia II, maka nasionalisme di dunia Timur itu menjulang setinggi langit. Sesudah perang-dunia II itu, apa yang sering saya sebutkan "Sturm über Asien" benar-benar meliputi seluruh bangsa-bangsa Timur, dan kadang-kadang malah benar-benar mentaufan dan membadai. Kini ia telah menggelorakan jiwa satu setengah milyar orang! Tak dapat sejarah sesuatu bangsa kulit berwarna kini ditulis, zonder menulis tentang nasionalisme itu.
Dan sekarang perhatikan: berlainan dengan dua potensi yang lain itu, yang tentang-menentang satu-sama-lain, kadang-kadang hampir menerkam satu-sama-lain, maka potensi ketiga ini sebenarnya tidak bermusuhan dengan siapapun juga. Ia hanya minta diakui, minta dimengerti, minta jangan diganggu-gugat. Jika ia diakui, dimengerti, tidak diganggu-gugat, maka ia akan menjadi sumbangan sebesar-besarnya kepada kesejahteraan-dunia dan perdamaian dunia. Tetapi manakala ia dimusuhi atau ditentang, ia akan mampu membangkitkan daya-pertahanan diri yang ”nggegirisi”. Siapa mengganggu-gugat kepadanya, memusuhi kepadanya, hendak menindas kepadanya, untuk mempertahankan kepentingannya atau mempertahankan susunan dunia sebelum Perang Dunia II, – ia tentu akan terbentur kepada perlawanan suatu maha raksasa yang mungkin satu-dua-kali dipukul rebah, tetapi selalu akan bangkit kembali dan bangkit lagi kembali, dengan selalu bertambah kekuatannya berganda-ganda kali.
Di samping itu, maka nasionalisme di dunia Timur yang anti kolonialisme dan imperialisme itu, mempunyailah banyak "simpatisan-simpatisan" dari kalangan bangsa-bangsa progresif. Karena dua sebab itulah, maka tiap-tiap tindakan subversi, tiap-tiap tindakan intervensi, tiap-tiap tindakan agresi di daerah nasionalisme Timur ini sebenarnya adalah sama dengan bermain api!
Karena itulah, maka berkenaan dengan kejadian-kejadian di Libanon dan Jordan, kita mendesak supaya tentara Amerika dan Inggeris lekas ditarik dari daerah-daerah itu. Lekaslah tarik tentara-tentara asing itu, karena tiap-tiap pendudukan oleh tentara asing, dari manapun asalnya, dan di manapun dijalankan pendudukan itu, selalu menimbulkan insiden-insiden besar-kecil yang tidak diharapkan. Lekaslah tarik tentara asing itu, karena jika tidak ditarik, itu berarti main dengan api !
Bangsa Indonesia, yang herboren (lahir lagi) dalam api-keramatnya nasionalisme itu, dan sedar pula bahwa ia adalah satu bagian daripada "dunia baru yang berjoang untuk lahir", – "the dawning new world which is struggling to be born" – , bangsa Indonesia berdiri amat simpatik terhadap pertumbuhan nasionalisme yang wajar di mana-mana tempat. Dan justru oleh karena nasionalisme bangsa Indonesia adalah nasionalisme Pancasila, maka bangsa Indonesia aktif bekerja untuk mempertahankan perdamaian dunia dan aktif bekerja untuk terselenggaranya perdamaian dunia. Seluruh hati bangsa Indonesia menggetar memohon kepada Tuhan, supaya janganlah hendaknya di sesuatu tempat di muka bumi ini ada percikan api. Sebab sebahagian daripada dunia ini sebenarnya sudahlah menjadi satu gudang mesiu yang maha-maha-besar. Sesuatu percikan api mungkin mengenai timbunan mesiu itu, dan akan meledaklah mesiu itu menggeledek-mengguntur-menghalilintar lebih hebat daripada seribu geledek dan seribu guntur. Sudahkah manusia di dunia ini begitu mata-gelap untuk meriskir seluruh umat-manusia mengalami kebinasaan total, – mengalami "total destruction"?
Di sinilah tempatnya aku mengajak kepada seluruh dunia untuk mengadakan "think" dan "rethink" tentang bermacam nilai dan norma-norma yang terdapat di segala macam sistim-falsafah dan teori politik yang berada hingga kini, agar supaya sistim-sistim-falsafah dan teori-politik itu dapat seiring berkembang dan bertumbuh, selaras dengan kemajuan ilmu-pengetahuan tehnik yang sekarang ini begitu menggemparkan. Sistim-sistim-falsafah dan teori-teori-politik itu lahir dalam masa yang telah usang, yang pada waktu itu misalnya belum ada ilmu atom. Sistim-sistim falsafah dan teori-teori-politik itu lahir dalam zamannya mesin uap dan paling-paling mesin listrik, zamannya trem-kuda dan sepur-kelutuk. Tetapi zaman kita sekarang ini adalah zamannya pesawat yet dan pesawat rocket, zamannya pesawat atom, zamannya ilmu nuclear, zamannya senjata-senjata hydrogen, zamannya guided missiles, zamannya explorer dan sputnik, zamannya kemungkinan hubungan inter-planeter dengan bulan dan bintang-bintang, – zaman, yang uap dan listrik dianggap sebagai barang usang yang pantas ditertawakan, sebagaimana kita mentertawakan bedil sundut di zamannya bren, atau mentertawakan makan-sirih di zamannya lipstick.
Tidak sudah datangkah saatnya kita umat manusia "think" dan “rethink" sistim-sistim-falsafah dan teori-teori-politik yang lahirnya di dalam zaman usang itu, tetapi yang masih saja kita pakai dalam zaman atom yang penuh dengan ancaman petir dan halilintarnya peperangan atom dan ancaman malam-gelap-gelitanya total destruction, – dan mencoba menemukan sistim falsafah atau teori politik baru yang dapat membawa kita lebih dekat kepada perdamaian-dunia dan keselamatan-keselamatan-kesejahteraan semua manusia yang kita cita-citakan?