The truce of God: A tale of the eleventh century
Chapter 4
Saya dapat mengikuti penderitaan-penderitaan di sana-sini dan saya menundukkan kepala saya di hadapan penderitaan-penderitaan itu, sambil berkata: silahkan, silahkan marahi saya, silahkan menunjukkan jari kepada saya, silahkan hujankan kebérangan Saudara kepada saya, – dan saya akan terima semua itu dengan hati yang tenang. Hanya saya mau menerangkan di sini, bahwa memang benar saya telah memberikan prioritas kepada penyelesaian soal keamanan dan soal Irian Barat, meskipun saya tahu, bahwa untuknya hampir ¾ daripada kegiatan Nasional harus dispendir. Benarkah politik saya yang demikian itu? Atau salahkah tindakan saya yang demikian itu? Sejarah akan menjatuhkan putusannya yang terakhir. Keamanan harus, harus sekali lagi harus dipulihkan dalam tahun ini, dan tidak boleh tunggu sampai tahun datang, – dan Irian Barat harus pula, harus, harus, tigakali harus, dimasukkan kekuasaan Republik tahun ini, sebelum ayam jantan berkokok 1 Januari 1963, kalau kita tidak menghendari Irian Barat itu masih berlarut-larut lagi dipermainkan orang dengan jalan akal-bulus "Negara Papua" atau dengan jalan lain-lain. Menurut strategi-waktu, maka 1962 adalah tahun tepat untuk memberi "genadeslag" kepada gerombolan pemberontak, dan Rakyatpun tak dapat menderita gangguan keamanan lebih lama lagi, dan menurut strategi-waktu pula berhubung dengan situasi internasional maka 1962 adalah waktu yang tepat pula untuk memberikan "genadeslag" kepada imperialisme Belanda di Irian Barat. Artinya: tahun 1962 adalah tahun yang obyektif menentukan bagi kita (beslissend, decisive) dalam hal menghantam hancur-lebur sisa-sisa terakhir dari kaum pemberontak, dan menghantam hancur-lebur imperialisme Belanda di Irian Barat. Tahun lain, kesempatan lain, tidak segera akan datang lagi! Sama dengan misalnya: Agustus 1945, segera sesudah peperangan dunia yang ke-II berakhir, adalah saat yang menurut strategi-waktu, obyektif satu-satunya saat, untuk mengadakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1929 saya sudah berkata: "pada akhir peperangan dunia yang akan datang, pada akhir peperangan Pasific, pada waktu itulah Indonesia akan merdeka!" Dan karena ucapan saya ini, saya oleh Belanda dijebloskan bertahun-tahun ke dalam penjara!
Nah, demikianlah duduknya perkara: Keamanan dan Irian Barat tidak bisa tunggu satu hari lebih lama lagi, sedangkan soal Sandang-Pangan bisa kita pecahkan sambil berjalan, dan – nanti lebih mudah, karena modal yang tadinya kita perguna-kan untuk memulihkan keamanan dan mengembalikan Irian Barat itu, dapat dipergunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan ekonomi. Kecuali daripada itu, keadaan Sandang-Pangan toh masih boleh dikatakan lumayan, mengingat bahwa kita melemparkan hampir ¾ dari kegiatan Nasional ke arah Keamanan dan Irian Barat itu?, mengingat bahwa kita ini setengah-setengah dalam keadaan perang?, mengingat bahwa pembangunan-pembangunan vital yang menelan ongkos milyar-milyaran berjalan terus?, mengingat bahwa kita tahun yang lalu dihamuk oleh kemarau yang mahahebat, ditambah dengan hama baru yang bernama ganjur? Adakah orang Indonesia yang mati kelaparan? Adakah orang Indonesia yang telanjang tidak berpakaian? Sebaliknya, adakah orang Indonesia sekarang ini, yang, melihat sukses-sukses kita di lapangan politik dan di lapangan pembangunan segala macam, tidak bangga bahwa ia orang Indonesia? Tidak bangga bahwa Republik ini adalah Republiknya? Tidak bangga bahwa, kendati masih ada kekurangan-kekurangan, ia adalah anggauta daripada Satu Bangsa yang bukan lagi bangsa cemoohan dunia, tetapi satu Bangsa yang dihormati dan dikagumi orang? Dan lebih lagi daripada itu: bahwa ia adalah anggauta dari satu Bangsa yang tidak mandek, tetapi satu Bangsa yang berjalan, – ya, berjalan! -, berjalan pesat kearah pem-bentukan satu Negara yang besar dan utuh dan kuat dari Sabang sampai Merauke, berjalan pesat ke arah satu kehidupan yang mulia, yang dihormati orang, yang adil, yang makmur, yang menjadi mercu-suar bagi orang lain, yang tiada exploitation de l’homme par l’homme, yang pesat menjadi salah satu pendekar daripada new emerging forces, – satu bangsa yang berjalan ke arah realisasi daripada sosialisme berdasarkan Kepribadian Nasional!
Mengingat semua ini, mengingat bahwa hingga kini kita masih dapat mempertahankan kehidupan nasional di lapangan ekonomi, meskipun 75% dari kegiatan nasional dilemparkan kepada keamanan dan Irian Barat, maka saya, di mana sekarang soal keamanan dan Irian Barat itu boleh dikatakan selesai, Insya Allah merasa sanggup untuk mengatasi bottlenecks dan kesulitan-kesulitan dari persoalan ekonomi dalam waktu pendek yang tidak terlalu panjang. Sementara itu saya di sini menandaskan, bahwa untuk lancarnya pelaksanaan program ekonomi (antara lain sandang-pangan) maka perlulah kita benar-benar menyingkirkan beberapa penyakit. Di antara penyakit-penyakit itu, yang terpokok ialah terlalu parahnya penyakit Komunisto-phobi, kiri-phobi, Rakyat-phobi, buruh-phobi dan tani-phobi, yang masih ngendon di dalam hati dan kepala setengah alat-alat negara yang bersangkutan. Untuk menyebutkan beberapa contoh: Guna menaikkan produksi, maka sudah beberapa lama saya anjurkan untuk membentuk Dewan-dewan Perusahaan, di mana diikutsertakan wakil-wakil kaum buruh dan kaum tani dan wakil-wakil golongan-golongan Rakyat lainnya, tetapi sesudah sekian lama dan berulang-kali saya peringatkan, baru sekarang inilah mulai dibentuk, dan pembentukannyapun jalannya seperti keong, lambatnya bukan kepalang. Sudah berapa lama saya anjurkan, dan malahan sudah berapa lama lahir Undang-undangnya, supaya perjanjian Bagi Hasil yang agak menguntungkan kaum tani dan Landreform dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, tetapi sampai sekarang belum dilaksanakan betul-betul sebagaimana mestinya. Semuanya ini jika diteliti sebab-sebabnya, akan terbukti bahwa yang menjadi penghalang ialah Komunisto-phobi, kiri-phobi, Rakyat-phobi, dan sebagainya! Si penderita penyakit ini takut membentuk Dewan-dewan Perusahaan, Dewan-dewan Produksi, demikian pula Dewan-dewan Distribusi dan Panitia Pembelian Padi, dan lain sebagainya, karena mereka tahu, bahwa jika ini dibentuk, maka akan berarti mengangkat dan mengikutsertakan wakil-wakil buruh atau tani, dan di antaranya terdapat orang-orang Komunis yang mereka takuti. Mengenai Landreform, misalnya, masih ada saja orang-orang yang suka menegas-negaskan bahwa Landreform Indonesia, adalah "bukan Landreform Komunis", malah lebih daripada itu: mereka mencoba-coba mencocok-cocokkan Landreform Indonesia dengan "Landreform" di Taiwan atau di Vietnam Selatan! Dengan demikian, mereka bukannya mengurangi, tetapi malah mempertebal komunisto-phobi, sekurang-kurangnya mereka sendiri masih komunisto-phobi. Dengan demikian, masih tepat apa yang pernah saya katakan dalam Jarek, bahwa "masih ada saja orang-orang yang tidak bisa berfikir secara bebas apa yang baik bagi Rakyat Indonesia, dan apa keinginan Rakyat Indonesia, melainkan a priori telah benci dan menentang segala apa saja yang mereka sangka adalah kiri dan adalah "Komunis".
Dalam Risalah "Mencapai Indonesia Merdeka" yang saya tulis 30 tahun yang lalu, pernah saya tulis: "Kita harus merdeka agar kita bisa leluasa bercancut-taliwanda menggugurkan stelsel kapitalisme dan imperialisme. Kita harus merdeka, agar supaya kita bisa leluasa mendirikan suatu masyarakat baru yang tiada kapitalisme dan imperialisme. Selama kita belum merdeka, selama kita belum bisa leluasa menggerakkan kita punya badan, kita punya tangan, kita punya kaki, selama kita dus masih terhalang di dalam kita punya gerak bangkit – tidak bisa "kiprah" sehebat-hebatnya, – selama itu kita tidak bisa habis-habisan-tenaga menghanjut stelsel kapitalisme dan imperialisme. Selama itu maka kapitalisme dan imperialisme akan tetap berkuasa sebagai yang mahasakti, bertakhta di atas singgasana kerezekian Indonesia, tidak bisa digugurkan daripada singgasana itu hingga mati menggigit debu …"
Jika sekarang ini di alam Indonesia Merdeka, bagian terbesar dari Rakyat, yaitu kaum buruh dan kaum tani, belum bisa berleluasa bercancut-taliwanda, masih terhalang dalam segala gerak-bangkitnya, sehingga tidak-bisa "kiprah" sehebat-hebatnya untuk secara habis-habisan menghanjut kaum imperialis dan kakitangan-kakitangannya di dalam negeri, maka semuanya ini adalah karena sebagian kita ini masih hidup seperti di alam kolonial, terutama belum lepas dari komunisto-phobi.
Masih terlalu banyak instruksi-instruksi dan tindakan-tindakan Presiden yang ditujukan untuk memobilisasi, mempersatukan dan mengikutsertakan kekuatan-kekuatan Rakyat yang revolusioner, tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, atau malahan diam-diam kadang-kadang “dijegal” atau “diserimpung” oleh alat-alat negara sendiri. Satu contoh saja misalnya mengenai pengerahan dan pemersatuan Rakyat melalui Front Nasional. Pekerjaan Front Nasional sekarang ini kadang-kadang digerowoti dan dipecah-belah oleh orang-orang yang masih menderita sesuatu phobi. Malahan masih ada satu daerah, yang di situ itu belum dapat dibentuk Front Nasional daerah, karena adanya orang-orang yang komunisto-phobi!
Tetapi sekali lagi saya katakan, saya tidak segan dan menundukkan kepala kalau Rakyat memarahi saya, dan saya akan terima kemarahan itu dengan tenang. Tetapi sebaliknya sayapun tidak segan untuk menudingkan jari saya kepada golongan-golongan yang selalu mencari keuntungan dari keadaan inflasi, atau dengan sengaja menjalankan subversi ekonomi untuk menyulit-nyulitkan dan menjegal-jegal segala gerak-gerik Republik atau pimpinan Republik. Kepada mereka itu saya berkata: Satu hari akan datang yang engkau melihat segala usahamu gagal. Dan mungkin satu hari akan datang, yang engkau harus menebus kejahatanmu itu di dalam penjara, atau di tiang penggantungan!
Saudara-saudara! Waktu tidak mengizinkan saya untuk membicarakan hal-hal lain yang penting-penting pula. Kepada para menteripun saya menyatakan penyesalan saya, bahwa tidak semua laporan mereka itu dapat saya masukkan dalam pidato ini. Tadi sudah saya katakan bahwa hari ini adalah hari Jum’at. Tapi haraplah Saudara-saudara tetap mendengarkan saya sampai habis. Tepat pada waktunya, Saudara-saudara boleh pulang.
Saudara-saudara! Saya sekarang tiba pada kata penutup.
Kata pembukaan, sebagai tadi Saudara dengarkan, menguraikan irama dari perjuangan kita di tahun yang lampau.
Kata penutup harus memberikan pedoman dalam menghadapi masalah-masalah di tahun yang akan datang.
Apakah pedoman ini?
Peganglah teguh-teguh dalam ingatan Saudara-saudara: Perjuangan kita atas dasar Manipol-USDEK dan RESOPIM sudah mulai membawa hasil yang menyenangkan. Lihatlah pada hasil-hasil besar daripada perjuangan kita itu yang sekarang sudah tertulis dengan bintang-bintang di angkasa, lihatlah hasil-hasil lain yang berupa stadion-stadion di dalam kalbunya Rakyat, lihatlah hasil-hasil lain besar-kecil yang Saudara dapat lihat dengan mata dan raba dengan tangan di kanan-kiri Saudara! Kewajiban kita ialah terus bersatu-padu dan terus bergotong-royong sambil memegang teguh Manipol-USDEK dan RESOPIM itu, dan memperluas dan memperdalam pelaksanaan Manipol-USDEK dan RESOPIM itu.
Mengenai ini saya memperingatkan kepada satu hal yang kita harus waspada: Yaitu, kepada adanya orang-orang yang dalam perkataan mengikuti Manipol-USDEK dan RESOPIM, akan tetapi dalam prakteknya bertentangan dengan Manipol-USDEK dan RESOPIM. Waspadalah terhadap orang-orang yang demikian itu! Waspadalah! Sebab jikalau tidak, maka nanti mudah tumbuh pengrongrongan Revolusi dari dalam.
Jagalah supaya Revolusi kita ini tetap murni dan segar! Lihat, ia sudah mulai mendatangkan hasil-hasil yang baik. Revolusi kita sekarang ini bukan lagi hanya mendatangkan kesulitan-kesulitan dan pengorbanan-pengorbanan belaka, ia juga sudah mulai mendatangkan kelezatan-kelezatan. Sifat "negatif", sifat "destruksi", sifat "menjebol" daripada Revolusi kita ini sekarang sudah mulai berkurang, – sifat "positif", sifat "konstruksi", sifat "membina" sudah mulai berkembang. Apa yang sudah ditanam dalam Revolusi kita ini, sekarang sudah mulailah berkembang atau berbuah. Boleh dikata, bahwa Revolusi kita sekarang ini sudah meningkat kepada taraf "tumbuh" sendiri, yaitu sudah meningkat kepada tingkat Selfsustaining growth atau selfpropelling growth, – bertumbuh sendiri atas dasar hasil Revolusi sendiri, laksana tanaman yang sudah "jadi", tak perlu dirabuk-rabuk, tak perlu disiram-didangir setiap hari.
Dan hasil-hasil Revolusi kita ini tidak hanya kita saja yang merasakan lezatnya, seperti ternyata dalam "year of triumph" ini, tidak!, akan tetapi seluruh dunianya "new emerging forces"-pun mengakui konsolidasi dan kemajuan kita ini, dan mereka ikut kagum, dan mereka ikut gembira. Memang Revolusi kita adalah sebagian daripada Revolusi-dunia yang besar, sebagai sudah saya uraikan dalam salah satu pidato 17 Agustus beberapa tahun yang lalu. Revolusi Indonesia, kataku tempohari, adalah "congruent dengan social conscience of man", "Kongruen dengan budi-nurani kemanusiaan", dan sekarang nyata benar bahwa Revolusi Indonesia itu sungguh-sungguh mempunyai suara yang mengumandang keempat penjuru daripada dunia", Revolusi Indonesia mempunyai Universal Voice, – Revolusi Indonesia mempunyai Suara Sejagad! Di mana-mana, di Kongo, di Aljazair, di Angola, di Mesir, di Afrika Baratdaya, di Cuba, di Amerika Latin yang lain, di negara-negara sosialis, – di mana-mana orang mendengarkan Suara Dengungnya Revolusi Indonesia, di mana-mana orang mendengarkan the Universal Voice daripada Revolusi Indonesia. Karena itulah maka Indonesia lah dipersilahkan oleh negara-negara Asia-Afrika untuk mengambil inisiatif mengadakan Konperensi Asia-Afrika yang kedua. Insya Allah, akhir tahun ini kita mengadakan Konperensi Asia-Afrika ke II, di Bandung lagi!
Dan bukan di kalangan ”new emerging forces” saja orang mengakui konsolidasi Revolusi kita itu. Di kalangan ”old establish forses”-pun orang mengakui konsolidasi dan kemajuan Revolusi kita itu, di kalangan ”old establish forces”-pun Revolusi kita ini sekarang sudah dipandang sebagai satu fenomen-dunia yang besar artinya, satu fenomen yang harus diperhatikan sungguh-sungguh. ”The Indonesian Revolution has become a phenomenon of threatening issue”, demikianlah seorang penulis mereka pernah menulis beberapa bulan yang lalu.
Ya!, atas dasar Manipol-USDEK dan RESOPIM, maka Revolusi Indonesia sekarang sudah menaik kepada tingkat selfpropelling growth: Kita maju atas dasar kemajuan! Kita mekar atas dasar kemekaran! Kemajuan sudahlah mempunyai momentum sendiri, dan kewajiban kita ialah jangan sekali-kali melepaskan momentum itu.
Karena itu, hai Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, jangan lepaskan konsolidasi dan kemajuan ini, jangan meninggalkan dasar dan landasan daripada konsolidasi dan kemajuan ini yaitu Manipol-USDEK-Resopim, jangan kendor, jangan ragu-ragu, jangan mandek, berjalanlah terus atas dasar Landasan itu, untuk mendapatkan hasil-hasil yang lebih besar lagi.
Tahun 1962 adalah Tahun Kemenangan, setidak-tidaknya Tahun Permulaan Kemenangan. Merasalah bangga bahwa kita ini putera-putera Indonesia! Merasalah bangga, bahwa kita ini anggauta-anggauta Bangsa Indonesia!!
Kita tidak boleh sombong, tetapi kita mempunyai alasan-alasan dan dasar-dasar yang nyata untuk menghadapi masa-datang dengan penuh kepercayaan!
Gelagat-gelagat yang kita lihat sekarang ini ialah, bahwa Indonesia pasti jaya.
Kita selalu suka membayar beya. Kita pasti nanti basuki!
Sekian!
Terima kasih!
Kategori:Pidato Soekarno