The truce of God: A tale of the eleventh century

Chapter 2

Chapter 23,169 wordsPublic domain

Ya! saya mengutamakan apa yang saya namakan "Landasan" itu! Saya tahu, bahwa menamakan Landasan itu adalah sulit, khususnya pada waktu-waktu permulaan. Dari kanan dan dari kiri (kiri bukan dalam makna haluan politik) saya mendapat tentangan-tentangan, terutama sekali dari kalangan-kalangan "vested material interest" dan "vested political interest", baik dari dalam maupun dari luar negeri. Dari kanan dan dari kiri saya dicemoohkan dan ditertawakan, dan disebutkan yang bukan-bukan. Sampai sekarangpun cemoohan itu masih ada yang berjalan terus. Juga dalam kalangan hyper-intellektuil Indonesia masih ada saja terselip di sana-sini orang-orang yang begitu berkarat otaknya dengan ajaran-ajaran staatsrecht Barat, liberalisme, dan liberale parlementaire democratie, sehingga mereka tak mampu lagi menganggap artinya "Landasan" itu, dan lantas basak-bisik menggrundel, mencemooh, mengejek.

Tetapi, justru "Revolution rejects yesterday"! Revolusi membuang orde tua, diganti orde baru. Justru Revolution bukan Revolution, kalau tidak ada tentangan dari vested interest vested interestnya orde tua itu, beserta tentangan dari hyper-intellectuelendom yang memang "geboren en getogen in de oude orde" – "dilahirkan dan dibesarkan dalam orde yang tua" yang hendak kita bongkar dan kita rombak dan kita ganti samasekali itu. Karena itu, apapun orang katakan dari dalam dan dari luar, – kita berjalan terus! Kita berjalan terus atas Landasan MANIPOL-USDEK-RESOPIM! Dan Landasan itu akan tertanam subur, akan tumbuh subur! Sekali Landasan itu bermahkota dalam kalbunya Rakyat, sekali ia laksana Wahyu Cakraningrat bermahligai dalam apinya jiwa Rakyat, maka Indonesia yang Jaya Raya, Indonesia yang Adil Makmur, akan menjadilah kenyataan sampai ke akhir zaman. Dan tidak akan ada satu kekuatan duniawipun yang akan dapat merongrong atau menghancurkan Indonesia dalam bentuk yang semacam itu!

Karena itu sekali lagi saya berkata: Kita berjalan terus! Berjalan terus atas dasar RESOPIM! Berjalan terus atas dasar Landasan: Revolusi – Sosialisme Indonesia – Satu Pimpinan Nasional! Seperti yang saya katakan tahun yang lalu: kita tak perlu menjiplak orang lain. Kita melalui jalan kita sendiri. Kita tahu, – demikian saya katakan tahun yang lalu "baik negara-negara yang sudah tua, maupun negara-negara yang anyar merdeka, ataupun negara-negara yang masih terbelakang dalam lapangan teknik dan ekonomi, di antara mereka itu banyak yang mengira bahwa syarat mutlak untuk kemajuan Negara dan Bangsa ialah kemajuan teknik dan modal uang semata-mata. Mereka tidak tahu, bahwa dalam abad ke XX salah satu dasar bagi kemajuan nasional ialah konsepsi ideologi yang progresif revolusioner, berdasarkan atas kepribadian nasional!"

Apa yang saya katakan tahun yang lalu itu, merupakan dasar daripada pimpinan saya dalam melaksanakan perjuangan Nasional. Tiga kali berturut-turut pada tiap-tiap 17 Agustus, – 17 Agustus 1959, 17 Agustus 1960, 17 Agustus 1961 -, saya selalu saja tandas-tandaskan dasar kepribadian Nasional, dasar Revolusi, dasar progresivisme, dasar sosialisme, dasar pertumbuhan baru dari dunia yang sedang bergolak, dan sedikit sekali tentang soal-soal yang teknis materiil. Oleh karena itu, maka ada sementara orang yang berkata: "Bung Karno pandai pidato politik, akan tetapi tak memperdulikan samasekali soal-soal ekonomi". Saya tahu adanya kritik-kritik yang demikian itu! Akan tetapi saya berkata kepada Saudara-saudara: Strategi pimpinan saya sudah memperhitungkan makna dari kritik-kritik tersebut! Strategi pimpinan saya sudah mengkopyok pro-pronya dan kontra-kontranya kritik-kritik semacam itu. Bagaimanapun tahun yang lalu saya sudah naikkan lagi puncak strategi itu, dan saya sudah mencapai puncak Landasan yang saya maksudkan. Tahun yang lalu saya sudah mencapai Kulminasi daripada Landasan perjuangan Nasional. Tahun yang lalu saya gelarkan Landasan-Betonnya RESOPIM!

Maka, dengan Landasan RESOPIM, bagaimana halnya dengan pelaksanaan Triprogram? Dalam pelaksanaan Triprogram itu, saya berikan prioritas yang setinggi-tingginya kepada pemulihan keamanan. Sebab, selama keamanan belum pulih, selama masih ada gerombolan-gerombolan D.I.-T.I.I., sisa-sisa P.R.R.I.-Permesta, aksi-aksi gelap subversi asing, maka acara Sandang-Pangan dan Perjuangan Anti Imperialisme sukar dapat dikejar secara jitu. Bahkan lebih daripada itu! Selama keamanan masih terganggu, selama tenaga-tenaga anti-Republik masih bebas berkeliaran ke sana-sini, maka selalu Kesatuan Indonesia dalam bahaya, selalu Kesatuan Indonesia dalam keadaan terancam. Gangguan-gangguan keamanan dan oknum-oknum pengganggu keamanan itu selalu menjadi alat subversi asing untuk melakukan peranan yang bermaksud menekan kemajuan kita atau keruntuhan kita samasekali. Karena itu maka saya berikan prioritas kepada pemulihan keamanan itu, penggempuran dan penghancuran daripada golongan-golongan gerombolan yang tak mau menyerah. Sebagai yang saya katakan tahun yang lalu, maka lebih dari 50 % dari seluruh kegiatan nasional kita, kita tujukan kepada penghancuran daripada gangguan-gangguan keamanan itu. Dan Angkatan Bersenjata secara keseluruhan ditugaskan untuk melenyapkan segala gangguan keamanan itu selambat-lambatnya akhir 1962.

Dan Angkatan Bersenjata, dengan bantuan Rakyat, telah melaksanakan tugas ini dengan baik.

Dapat saya beritahukan bahwa berkat lindungan Tuhan Yang Maha Esa, berkat tepat dan ampuhnya politik keamanan yang telah saya gariskan dalam Manifesto Politik, berkat jerih-payah serta darah para prajurit dan Rakyat yang bersatu-padu, maka Program Keamanan itu dapat diselesaikan pada waktunya. Sekarang lebih kurang 95 % telah selesai, dan Angkatan Perang kita kegiatannya sudah dialihkan titik-beratnya kepada fasal ketiga dari Triprogram, yaitu Irian Barat.

Atas hasil pelaksanaan tugas di bidang Keamanan ini, maka saya atas nama Pemerintah dan Rakyat menyatakan rasa terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada segenap anggauta Angkatan Bersenjata, yang telah menunaikan tugas Darma Baktinya dengan penuh keinsyafan dan keikhlasan pengorbanan. Terimakasih ini juga saya tujukan kepada alat-alat Negara lainnya, serta Rakyat, yang membantu Angkatan Bersenjata hingga dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

Namun hasil-hasil yang telah kita capai ini perlu dikonsolidasi dan distabilisasi. Usaha-usaha konsolidasi dan stabilisasi itu meliputi:

A. Rehabilitasi dari Aparatur Negara yang telah rusak dan kacau sebagai akibat dari gangguan keamanan, dan usaha itu dilandaskan pada jiwa USDEK.

B. Rehabilitasi Materiil, Personil, Mental dan Phisik, Sosial-Ekonomi, di daerah-daerah yang bertahun-tahun telah menderita akibat gangguan keamanan.

C. Mensukseskan Triprogram dan Manipol pada umumnya.

Ini semuanya adalah usaha-usaha yang disebut dengan "operasi follow-up keamanan".

Hasil-hasil selama tiga tahun, di mana pada permulaan pemberontakan dari apa yang disebut Gerombolan D.I.-T.I.I. Kartosuwiryo dan P.R.R.I.-PERMESTA pada tahun mulainya Kabinet Kerja, mereka telah menguasai seperenam dari wilayah Republik Indonesia dengan perkiraan kekuatan lebih kurang 125.000 orang tenaga tempur, dengan senjata 45.000 pucuk, berat dan ringan, kini hampir seluruh (95%) dari wilayah Republik Indonesia telah dibebaskan dari Gerombolan Pemberontak. Hingga kini dapat ditewaskan 23.495 orang, dan 133.365 orang yang kembali ke pangkuan Republik Indonesia, sedangkan senjata yang telah kita rampas adalah 40.317 pucuk, berat dan ringan. Juga kegiatan subversif mereka selama ini sebagian besar telah dapat kita patahkan atau kita gagalkan. Ini semua tidak akan dapat berhasil jikalau tidak ada pengorbanan-pengorbanan dari kita. Selama ini segala usaha-usaha dalam pemulihan keamanan telah meminta korban dari kita, yaitu 3.736 orang gugur dari prajurit-prajurit Angkatan Bersenjata dan O.K.D. dan 6.213 orang dari Rakyat; luka-luka 5.164 orang dari prajurit Angkatan Bersenjata dan O.K.D., dan 4.375 orang dari Rakyat.

Puncak dari segala usaha-usaha yang telah kita selenggarakan seperti yang saya sebutkan tadi ialah tertangkapnya Kartosuwiryo pada tanggal 4 Juni tahun 1962 yang lalu, yang kemudian disusul dengan penyerahan diri dari beratus-ratus pengikutnya secara berangsur-angsur.

Ini adalah satu kenyataan yang harus diterima oleh seluruh Bangsa Indonesia dengan rasa lega dan gembira. Rasa lega dan gembira karena penderitaan-penderitaan yang selama ini dirasakan oleh Rakyat telah dihentikan.

Rasa lega dan gembira, karena dengan pulihnya keamanan, Negara akan dihindarkan dari pemborosan lebih lanjut daripada jiwa, harta benda, dan kekayaan alam, dan dapatlah potensi nasional dikerahkan dan dipusatkan kepada usaha-usaha lain, yaitu Pelaksanaan Pembangunan Semesta Berencana serta usaha-usaha besar di bidang lain-lain, dan Pembebasan Irian Barat.

Ya, sekarang pembebasan Irian Barat! Ini bukan saja termasuk dalam rangka Triprogram, yang dus harus kita laksanakan, tetapi pada hakekatnya adalah satu Tuntutan Nasional secara mutlak. Segala tekad nasional kita, segala semangat perjuangan kita, segala rasa harga-diri kita, kita tumplekkan habis-habisan kepada pembebasan Irian Barat itu. Sebagian besar daripada kekayaan nasional kita, kita ambyurkan ke dalam perjuangnn pembebasan Irian Barat itu.

Mengapa kita bersikap demikian?

Mengapa kita bertekad demikian?

Apakah kita ini didorong oleh fanatisme belaka? Atau didorong oleh rasa prestise belaka? Atau untuk memperluas daerah Republik Indonesia? Tidak, samasekali tidak! Kita tidak dicambuk oleh fanatisme, kita tidak main politik prestise, kita bukan imperialis-ekspansionis yang haus kepada perluasan daerah. Daerah kekuasaan kita sudah cukup luas dan cukup kaya untuk memberi makan dan hidup-senang kepada lebih dari 250.000.000 manusia Indonesia!

Pun kita tidak membebaskan Irian Barat untuk menambah jumlah penduduk! Jumlah penduduk dalam daerah kekuasaan Republik sekarang ini sudah hampir 100.000.000 orang, dan apa arti tambahan 750.000 putera Irian Barat kepada jumlah 100.000.000 itu?

Pertimbangan untuk mencari keuntungan ekonomi? Atau tambahan kekayaan alam? Itupun tidak! Daerah yang dalam kekuasaan Republik sudah mempunyai kekayaan alam yang berlimpah-limpah, baik yang sudah dieksplorir dan dieksploitir, maupun yang belum dieksplorir dan dieksploitir, sehingga semua imperialis ngiler kétés-kétés melihat kekayaan alam kita itu. Ada imperialis yang mengatakan bahwa tidak adil 90.000.000 maanusia diberi kekayaan alam sebanyak itu!

Nah apakah gerangan sebabnya kita begitu mati-matian membebaskan Irian Barat? Tak lain tak bukan, oleh karena kita adalah satu Bangsa yang mempunyai dasar-jiwa, satu Bangsa yang mempunyai prinsipe, satu Bangsa yang mempunyai karakter. Pembebasan Irian Barat, sebagian daripada tanah air kita, adalah bagi kita satu soal prinsipe, satu Kewajiban Suci daripada Jiwa Indonesia, – luas atau tidakkah Irian Barat itu, kaya atau tidakkah Irian Barat itu, berpenduduk banyak atau sedikitkah Irian Barat itu. Perjuangan membebaskan Irian Barat merupakan satu unsar fundamentil daripada Nationbuilding kita, bahkan juga satu dasar fundamentil daripada characterbuilding Indonesia. Sejak dulu mula kita menyubur-nyuburkan karakter-tulen kepada Bangsa Indonesia, jauh daripada oportunisme, jauh daripada jiwa penjiplak, jauh daripada Sklavengeist, atau jiwa budak-belian yang tidak mengenal kehormatan. Kalau belakangan ini ada seorang moralis-politikus berkata "A nation with character is worth to live for, is worth to sacrifice for", – "satu bangsa yang berkarakter pantas kita sajikan hidup dan korbanan kepadanya" -, maka kita telah mencam-camkan keagungan-jiwa yang demikian itu kepada Rakyat Indonesia jauh sebelum "Sturm über Asien" menderu-deru di angkasa Timur! Itulah sebabnya kita juga membantu perjuangan lain-lain bangsa yang menentang kolonialisme, dengan tidak memperdulikan bangsa itu apa warna kulitnya atau apa corak agamanya. Misalnya perjuangan bangsa Aljazair kita bantu keras, dan kita turut gembira sekali bahwa perjuangan mereka itu telah berhasil. Hidup Aljazair! Hidup kemerdekaan di manapun juga! Matilah kolonialisme seterusnya!

Saya kira lambat-laun tujuan Indonesia membebaskan Irian Barat itu dimengerti oleh dunia-luaran, – juga oleh mereka yang dulunya menganggap kita tidak akan becus mengurus Irian Barat, dan mengatakan bahwa kita ini hanya ekspansionis belaka, atau irredentis, atau imperialis, atau kolonialis, atau lain-lain sebutan yang segar-segar, hantam-kromo lidah tak bertulang.

Saudara-saudara tentu masih ingat kenapa saya yang dulu begitu sabar terhadap Belanda, dalam memperjuangkan pembebasan Irian Barat itu akhirnya seperti tidak sabar dan melansir politik Konfrontasi. Konfrontasi di segala bidang. Di bidang politik, di bidang ekonomi, ya juga kalau perlu gempur-gempuran di bidang militer. Sebab-musababnya politik Konfrontasi itu tak perlu saya ulangi lagi di sini. Masih segar dalam ingatan kita sikap Belanda bertahun-tahun yang menjengkelkan, yang treiterend, yang akhirnya memaksa kita menjalankan politik Konfrontasi itu. Dan Saudara-saudara mengetahui juga, bahwa politik Konfrontasi itu bukan sekadar politik gertak-sambal. Sehari demi sehari, seminggu demi seminggu, sebulan demi sebulan, kita pertinggi persiapan dan pelaksanaan politik konfrontasi itu dengan nyata. Lidah kita menjadi tinju, tinju kita menjadi palu-godam yang maha-hebat!

Di samping itu, Saudara-saudara ingat saya mengeluarkan juga uluran-tangan kepada fihak Belanda. Uluran-tangan untuk menyelesaikan sengketa secara damai, dengan jalan menyerahkan pemerintahan atas Irian Barat kepada kita secara ikhlas, agar selanjutnya hubungan antara Indonesia dan Belanda dapat dinormalisir.

Kataku dalam pidato tahun yang lalu: "Dengan demikian, maka saya bawalah pemecahan soal Irian Barat ke dalam taraf baru, dengan membuka segala kemungkinan yang baik bagi kedua bangsa dan perdamaian dunia. Terbukalah pintu bagi bangsa Belanda di bawah Oranye Huis, yang bebarapa kali memimpin perjuangan kemerdekaan Nederland terhadap penjajahan asing, untuk meninggalkan nama yang terhormat dalam sejarah internasional di masa yang akan datang".

Inilah yang saya ucapkan satu tahun yang lalu pada 17 Agustus 1961: politik Konfrontasi disertai dengan uluran-tangan. Palu-godam disertai dengan ajakan bersahabat.

Akan tetapi apakah jawaban Belanda terhadap politik kita ini? Secara sekonyong-konyong, secara mendadak, Menteri Luar Negeri Belanda Luns mengajukan resolusi dalam sidang General Assembly P.B.B. 1961, yang bertujuan memisahkan Irian Barat secara permanent dari Republik Indonesia, dengan mendirikan apa yang ia namakan ”Negara Papua” atas azas "selfdetermination". Kekurang-ajaran yang lebih besar daripada kekurang-ajaran Luns ini tidak ada di lapangan percaturan politik dalam abad sekarang ini! Coba fikirkan! Tuntutan Republik Indonesia, perjuangan Bangsa Indonesia untuk membebaskan sebagian tanah airnya selama duabelas tahun ini (sebenarnya lebih), itu semua oleh meneer Luns dianggap sepi samasekali. Dalam resolusi yang ia usulkan kepada P.B.B. itu, Republik Indonesia samasekali tidak dibawa dalam pembicaraan, bahkan samasekali tidak disebut-sebut, seolah-olah tak ada sengketa antara Indonesia dan Belanda mengenai Irian Barat samasekali. Maka sayapun tidak segan-segan menamakan perbuatan Luns itu (dihadapan Duta Besar Amerika Tuan Howard Jones) perbuatannya seorang "evil spirit towards Indonesia", – yaitu perbuatannya seorang yang jahat hati terhadap Indonesia! Secara coûte que coûte, harus!, musti!, ia berhasrat mendirikan "Negara Papua". Benderanya sudah mulai dikibarkan, "lagu-kebangsaannya" sudah diciptakan dan mulai diperdengarkan, calon presidennya, calon perdana menterinya, calon panglima-besarnya sudah mulai dibisik-bisikkan.

Kita tidak mau biarkan kekurang-ajaran ini! Menteri Luar Negeri Subandrio saya kirimkan ke sidang P.B.B. di New York dengan hanya satu instruksi saja: "Gagalkan usaha Belanda untuk mendirikan Negara Papua melalui P.B.B.!" Dan Menlu Subandrio masuk gelanggang pertempuran. Dengan sengit ia berjuang, dan akhirnya usaha Belanda tadi buat sementara dapat digagalkan.

Dengan sengaja saya berkata "buat sementara". Sebab Luns berniat untuk tiap tahun selanjutnya memajukan resolusi "selfdetermination" bagi Rakyat Irian Barat di muka sidang P.B.B. Jika "Negara Papua" tak dapat dibentuk, – paling sedikit tiap tahun Indonesia akan disérét olehnya sebagai terdakwa (beklaagde) di forum P.B.B. Demikianlah jalan-fikiran Luns. Demikianlah jalan-fikiran fihak Belanda.

Sekembalinya Menlu Subandrio dari sidang P.B.B., maka saya beritahukan kepadanya, (yang selanjutnya juga menjadi keputusan Kabinet), bahwa untuk menanggulangi segala akal-bulus Luns itu, politik Konfrontasi harus diperhebat lagi sehebat-hebatnya, – harus dipuncakkan kepada puncaknya yang terakhir: Irian Barat harus dibebaskan dari kolonialisme Belanda dalam tahun 1962: Irian Barat harus dibebaskan dari kolonialisme Belanda sebelum ayam jantan berkokok pada tanggal 1 Januari 1963! Saya tidak sudi untuk tiap tahun memperdebatkan soal Irian Barat di P.B.B.!

Maka atas dasar keputusan ini, lahirlah TRIKORA. Lahirlah Tri Komando Rakyat, yang saya atas nama Rakyat Indonesia ucapkan di Jogyakarta pada tanggal 19 Desember 1961, hari peringatan penyerbuan Jogyakarta secara khianat oleh Belanda presis tigabelas tahun yang lalu.

Gagalkan pembentukan "Negara Papua"! Kibarkan Sang Merah Putih di mana-mana di Irian Barat!, siap-sedialah untuk komando mobilisasi-umum! Demikianlah isi Trikora itu. Kecuali itu Angkatan Perang diperintahkan untuk siap menerima perintah menggempur kolonialisme Belanda di Irian Barat setiap waktu, membebaskan Irian Barat dengan jalan kekerasan senjata setiap saat.

Inilah jawaban Bangsa Indonesia terhadap politik "Negara Papua" dari fihak Belanda itu. Ya, telah berulang-ulang saya katakan bahwa jawaban ini bukanlah jawaban gertak-sambal. Bukan demagogi, bukan bahasanya seorang yang main bentak, bukan ketololannya seorang yang fanatik. Sebab mula-mula oleh fihak Belanda dikirakan demikian, dan juga oleh beberapa orang Indonesia yang merasa dirinya maha-bijaksanapun saya ini dikatakan bodoh, dicemooh, diejek, ditolol-tololkan.

Tetapi dari Rakyat Indonesia yang berjuta-juta itu, sambutan atas Trikora itu adalah hebat sekali. Berjuta-juta Sukarelawan, laki, perempuan, tua, muda, dari kota, dari desa, dari gunung-gunung, mengalirlah untuk mendaftarkan diri, – satu bukti bahwa Bangsa Indonesia sebagai satu keseluruhan bertekad untuk membebaskan Irian Barat selekas mungkin, dengan jalan apapun. Angkatan Perang kita, baik kesatuan-kesatuannya maupun pangkalan-pangkalannya telah dapat dibangun dan diperlengkapi dengan cepat, sehingga jika perlu dalam tahun 1962 ini juga dapat langsung membebaskan Irian Barat secara penggempuran operasionil.

Dengan dukungan dan lindungan Angkatan Bersendjata Republik Indonesia, telah kita daratkan lebih kurang 2.000 orang Sukarelawan di daratan lrian Barat.

Dan 2.000 Sukarelawan itu telah membangun pula berlipat-lipat ganda ribu-ribuan pejuang-pejuang bersenjata dari pemuda-pemuda di Irian Barat sendiri. Mereka telah membuat kantong-kantong gerilya dari Utara sampai Selatan Irian Barat, kantong-kantong gerilya di mana-mana.

Kantong-kantong ini merupakan daerah-daerah De Fakto Republik Indonesia yang nyata. Administrasi Belanda menjadi lumpuh, evakuasi warga Belanda secara besar-besaran telah terjadi, juga ekonominya jadi lumpuh atau kocar-kacir di daerah-daerah itu.

Dalam beberapa minggu kita dapat mengembangkan Kantong-kantong De Fakto itu di seluruh daratan Irian Barat, jika diperlukan lagi.

Ini semua dilaksanakan tanpa menggerakkan induk tenaga dari Angkatan Perang Republik Indonesia. Kita telah sedia pula dengan pasukan-pasukan lengkap guna membasmi Westerling-Westerling dan lain-lain bom-waktu yang akan ditinggalkan oleh Kolonial Belanda di Irian Barat. Dan kita telah sedia dengan berpuluh-puluh Batalyon untuk menjamin keamanan di seluruh Irian Barat, sehingga Dunia Internasional tidak usah takut akan timbul sesuatu suasana seperti di Kongo, kalau kita mengoper administrasi di Irian Barat.

Seluruh rakyat harus menunjukkan setia kawannya kepada Gerilyawan-gerilyawan kita yang perwira-perwira itu, yang berjuang mati-matian di Irian Barat, dan saja ucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada mereka yang telah gugur dalam menunaikan Tugas Suci guna melaksanakan Tri Komando Rakyat.

Ya! Nyata apa tidak. Trikora bukan gertak-sambal. Trikora bukan pula politiknya Sukarno yang tolol atau majnun. Trikora adalah konsekwensi logis daripada politik Konfrontasi. Trikora adalah manifestasi daripada Volkswil Indonesia (manifestasinya tekad-kemauan Rakyat Indonesia) untuk mengusir imperialisme dari Irian Barat selekas mungkin, manifestasi daripada Offerbereidheid Indonesia (kesediaan berkorban) untuk mati-matian menjalankan perjuangan pengusiran itu. Trikora disambut secara hebat-maha-hebat oleh Rakyat Indonesia, oleh karena Trikora adalah politik yang benar. Yang tolol adalah orang-orang Indonesia beberapa gelintir itu, yang mengejek-ejek Trikora, dan menyebutkan kita orang yang tolol!

Datanglah dalam suasana memuncaknya politik Konfrontasi itu dalam bulan Maret apa yang dinamakan "Rencana Bunker".

Makna Rencana Bunker adalah empat:

Satu: Pemerintahan atas Irian Barat harus diserahkan kepada Republik Indonesia.

Dua: Sesudah sekian tahun di bawah Pemerintahan Republik, maka Rakyat Irian Barat diberi kesempatan untuk menentukan sendiri secara bebas nasibnya selanjutnya, – tetap terus di dalam Republik Indonesia? atau memisahkan diri dari Republik Indonesia-kah?

Tiga: Pelaksanaan penyerahan Pemerintahan di Irian Barat akan selesai dalam waktu dua tahun.

Empat: Untuk menghindari bahwa kekuatan-kekuatan Indonesia langsung berhadap-hadapan dengan kekuatan-kekuatan Belanda, diadakanlah waktu-peralihan di bawah kekuasaan P.B.B. Waktu peralihan P.B.B. ini akan berlaku satu tahun lamanya, diperlukan untuk memulangkan seluruh Angkatan Perang Belanda dan seluruh pegawai Belanda dari Irian Barat ke Nederland.

Demikianlah pokok-pokok-isi Rencana Bunker. Kita segera memberikan reaksi terhadap Rencana itu: Kita terima prinsip-prinsip dari Rencana Bunker itu. Yaitu: penyerahan pemerintahan di Irian Barat kepada Republik, dan hak selfdetermination kepada Rakyat Irian Barat sesudah sekian tahun di dalam Republik, Perhatikan: kita terima prinsip-prinsip. Hanya prinsip-prinsip! Kita tidak terima rencana panjangnya waktu yang diusulkan oleh Bunker. Soal waktu dapat nanti diperjuangkan dalam perundingan.

Tampak sekali fihak Belanda dalam hal menerima Rencana Bunker itu amat ogah-ogahan. Beberapa minggu telah berlalu, beberapa bulan telah berlampau, fihak Belanda masih saja tidak memberikan jawaban yang tegas. Baru pada permulaan bulan Juli (bulan yang lalu) fihak Belanda mulai berkutik mengeluarkan suaranya, dan sementara itu sudah barang tentu Trikora telah berjalan terus: Kantong-kantong gerilya di Irian Barat telah menjalar ke mana-mana. Di Sansapor, di Sorong, di Klamono, di Taminabuan, di Fakfak, di Kaimana, di Merauke, di semua tempat-tempat itu Gerilyawan-gerilyawan kita telah menjejakkan kakinya dan menanamkan kakinya teguh-teguh. Dan telah digerakkan pula Tri Komando Rakyat oleh Rakyat di sekitar Manokwari, Serui, Kotabaru, dan lain-lain. Pendek-kata daerah-daerah De Fakto kita telah tersebar di Irian Barat di mana-mana.

Saudara-saudara!

Oleh karena Pemerintah Belanda menyatakan menerima prinsip-prinsip Bunker sesudah Trikora menerjunkan beberapa ribu paratroop di daratan Irian Barat, dan sesudah Trikora membangunkan kantong-kantong gerilya di mana-mana, maka sudah barang tentu suasana pembicaraan Rencana Bunker itu sekarang agak berlainan daripada suasana ketika Rencana Bunker baru dilahirkan, yaitu pada bulan Maret.