Tahun Kemenangan

Part 3

Chapter 33,162 wordsPublic domain (Wikisource)

Sebagai tindakan pertama dari penerimaan Rencana Bunker oleh Belanda, maka saya mengutus Saudara Adam Malik ke Washington dengan tugas minta keterangan dari wakil Belanda, apakah penerimaan Rencana Bunker oleh mereka itu mengandung pengertian yang sama dengan pengertian kita? Pengertian yang sama ini perlu disiarkan di muka umum, agar kelak dapat dihindarkan kesalahfahaman antara Indonesia dan Belanda.

Sesudah Indonesia dan Belanda mempunyai pengertian yang sama mengenai prinsip Rencana Bunker, – yaitu lebih dulu penyerahan Pemerintahan di Irian Barat kepada Indonesia, dan baru kemudian daripada itu yang dinamakan selfdetermination kepada Rakyat Irian Barat, – maka saya mengutus Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio, didampingi oleh Jenderal Hidayat, pergi ke Washington, untuk "menjajagi" isi-hati yang sebenarnya dari fihak Belanda, dan Saudara Subandrio saya beri kuasa-penuh untuk mengambil segala kebijaksanaan agar prinsip Rencana Bunker merealisir pengembalian Irian Barat ke dalam kekuasann Republik terlaksana sesuai dengan tuntutan Rakyat Indonesia dalam taraf perjuangan sekarang ini.

(In accordance with the wish of the Indonesian people in the present situation).

Lebih dari seminggu Saudara Subandrio dan Saudara Hidayat bekerja mati-matian di Washington. Lebih dari seminggu mereka bertempur. Akhirnya mereka pulang. Dan yang mereka bawa ialah “pengertian bersama sementara” antara Indonesia dan Belanda (“preliminary understanding”), dan satu ”aide memoire” yang tertulis dan ditandatangani oleh Pd. Sekjen P.B.B. U THANT, tertanggal 31 Juli 1962.

Pada umumnya, Preliminary Understanding dan Aide Memoire U Thant itu mengandung 7 pokok sebagai berikut:

Sesudah ratifikasi oleh Indonesia, Belanda, dan P.B.B., maka selambat-lambatnya 1 Oktober 1962 Penguasa P.B.B. akan tiba di Irian Barat untuk mengoper Pemerintahan dari tangan Belanda.

Pada waktu itu juga, kekuasaan Belanda di Irian Barat berakhir, bendera Belanda turun, bendera P.B.B. menggantinya.

Mulai saat itu, Penguasa P.B.B. akan memakai tenaga-tenaga Republik Indonesia (baik sipil maupun alat-alat keamanan), bersama dengan alat-alat yang sudah ada di Irian Barat yang terdiri dari putera-putera Irian Barat, dan sisa-sisa dari pegawai Belanda. Paratroop-paratroop kita tetap tinggal di Irian Barat, di bawah kekuasaan administrasi P.B.B. ("at the disposal of the United Nations' Administration"). Angkatan Perang Belanda mulai saat itu juga berangsur dipulangkan ke negeri Belanda. Yang belum pulang, akan ditaroh dalam pengawasan P.B.B., dan tidak boleh dipakai untuk operasi-operasi militer. Antara Irian Barat dan daerah Republik Indonesia lainnya, adalah lalu-lintas bebas. Tanggal 1 Januari 1963, atau 31 Desember 1962, bendera Sang Merah Putih secara resmi akan dikibarkan di samping bendera P.B.B. Pemulangan Angkatan Perang Belanda dan pegawai Belanda harus selesai pada tanggal 1 Mei 1963, dan sebentar sesudah itu Pemerintah Republik Indonesia secara resmi mengoper Pemerintahan di Irian Barat, dari tangan P.B.B. ke tangan kita.

Demikianlah 7 pokok Preliminary Understanding dan Aide Memoire U Thant.

Pada tanggal 9 yang lalu saya kirim Menteri Luar Negeri Subandrio dan Jenderal Hidayat ke Washington lagi untuk mengadakan perundingan formil dengan Belanda. Lagi beberapa hari mereka berjuang dengan gigih dengan backing mutlak dari kami dan seluruh Rakyat Indonesia, dan sekarang (hari ini) perundingan formil itu telah selesai, dan saya pada saat ini dapat memberitahukan kepada Saudara-saudara, bahwa hasil perundingan formil itu telah ditandatangani.

Dan pokoknya ialah:

a. Kolonialisme Belanda di Irian Barat secara formil gulung tikar pada 1 Oktober 1962. Bendera Belanda pada hari itu secara resmi turun dari angkasa Irian Barat. b. Kita mulai masuk secara berangsur-angsur di Irian Barat pada saat itu juga. c. Berhubung dengan waktu yang dibutuhkan untuk memulangkan secara teratur semua tenaga Belanda ke Nederland, maka pemerintahan Republik Indonesia secara keseluruhan masuknya di Irian Barat ialah pada sekitar 1 Mei 1963. Meskipun demikian, bendera Republik Indonesia sudah berkibar di Irian Barat secara resmi pada tanggal 31 Desember 1962, yaitu sebelum ayam jantan berkokok pada tanggal 1 Januari 1963.

Terimalah, Saudara-saudara, hasil ini dengan rasa terimakasih kepada Tuhan!.

Nah, sekarang satu soal yang perlu saya terangkan kepada Saudara-saudara.

Dan bagaimana tentang hal selfdetermination bagi Rakyat Irian Barat? Kita menyetujui diadakan pemungutan suara selfdetermination itu pada tahun 1969. Dus 6-7 tahun sesudah Irian Barat dalam pemerintahan Republik. Dus selfdetermination ini adalah apa yang kita namakan ”internal selfdetermination", selfdetermination antara kita dengan kita sendiri, dan bukan "external selfdetermination" yang kita tolak. Dalam tahun 1969 itu Rakyat Irian Barat boleh menentukan secara bebas: tetap di dalam Republik?, keluar dari Republik? atau bagaimana?

Tentu bagi sebagian dari Saudara-saudara ada yang bertanya: Kenapa Presiden dan Pemerintah menerima-baik hal selfdetermination bagi Rakyat Irian Barat itu, padahal Rakyat Irian Barat adalah sebagian dari tanah air Indonesia juga, dan Irian Barat sendiri adalah sebagian dari tanah air Indonesia, dan Irian Barat sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 de jure adalah sebagian dari Republik Indonesia, yang wilayahnya dari Sabang sampai Merauke?

Ya, Saudara-saudara, saya tidak menyangkal kebenaran daripada fikiran yang demikian itu. Malahan saya menyokong kebenaran pendirian tersebut, oleh karena pendirian itu adalah juga pendirian saya dan pendirian Pemerintah.

Justru oleh karena itulah kita mutlak menuntut masuknya Irian Barat dalam Pemerintahan Republik, – mutlak!, dan tidak boleh ditawar sekuku hitampun. Tuntutan ini dipenuhi oleh bagian pertama dari Rencana Bunker, dan oleh persetujuan formil yang barusan kita capai.

Maka sesudah Irian Barat masuk ke dalam kekuasaan Republik, artinya: sesudah Proklamasi 17 Agustus 1945 in realitas terlaksana secara lengkap dari Sabang sampai Merauke, maka kita bersedia untuk menunjukkan sikap bijaksana. Sikap bijaksana yang sesuai dengan keadaan dan pertumbuhan di Irian Barat sendiri, yang selama 12 tahun terpisah dari kita, selama 12 tahun terus saja dijajah oleh Belanda, selama 12 tahun disuguhi garam bikinan Belanda.

Saya yakin, bahwa meskipun penjajahan Belanda merajalela di Irian Barat itu 12 tahun lamanya, toh masih banyak di sana itu patriot-patriot Indonesia yang tak mau luntur, pencinta-pencinta kemerdekaan yang tetap setia kepada Proklamasi, pencinta-pencinta kemerdekaan yang tetap setia kepada Kemerdekaan Nasional dari Sabang sampai Merauke. Meskipun Rakyat di Irian Barat itu duabelas tahun lamanya tiap hari tiap malam dicekoki dengan propaganda Belanda, tiap hari tiap malam disuruh menguntal fitnahan-fitnahan terhadap kepada Republik Indonesia, maka toh tidak kurang-kurang patriot Irian Barat yang tetap patriot. Sebagian besar dari patriot-patriot itu meringkuk dalam penjara, sebagian besar hidup sebagai buruan yang sengsara, diuber, ditangkap, disiksa, – tetapi bagaimanapun sengitnya penindasan atas mereka itu, selfdetermination '45 masih tetap hidup menyala-nyala dalam kalbu mereka itu.

Oh ya tentu, di samping itu tentu Belanda berhasil memparadirkan boneka-boneka serta para pengikutnya, yang secara sistematis dididik oleh Belanda untuk membenci dan mencemoohkan Republik. Di mana ada perjuangan kemerdekaan tanpa bertemu dengan boneka-boneka? Di Cuba? Tidak! Di Aljazair? Tidak! Di Vietnam? Tidak! Di Guinee? Tidak! Di Indonesia sendiri dulu? Tidak! Malah di Indonesia dulu itu boneka-boneka itu, saking banyaknya, tak dapat kita hitung jumlahnya dengan jari dua tangan kita! Pasar imperialis penuh dengan boneka-boneka itu, dan engkau bisa beli mereka dengan harga setalen sepotong!

"Ze waren bij bosjes op de imperialistische passer te koop, en je kunt ze kopen voor een kwartje per stuk!"

Ya, di mana ada perjuangan Kemerdekaan yang tidak menjumpai boneka? Tetapi juga, di mana ada kaum boneka yang dapat bertahan lama? Semua sejarah perjuangan Kemerdekaan bangsa-bangsa menunjukkan, bahwa akhirnya kemerdekaan toch dapat direbut oleh patriot-patriot kemerdekaan. Akhirnya patriot-patriot inilah yang menang! Akhirnya boneka-boneka itulah yang disapu-bersih oleh perjuangan, atau ditendang masuk ke dalam timbunan sampahnya sejarah!

Di antara dua golongan di Irian Barat ini, di antara patriot dan boneka, terdapatlah golongan ke tiga yang sebagian besar terdiri dari pemuda dan pemudi. Mereka adalah amat penting, karena mereka, generasi muda itu, adalah bibit-bibit pemimpin daerah atau bibit-bibit pemimpin Nasional. Pada umumya mereka anti kolonialisme. Tetapi mereka tak bisa, atas kesadaran dan keyakinan sendiri menjadi pro Republik. Apa sebab? Mereka tidak mengenal Republik. Mereka memang dipisahkan oleh Belanda dari Republik. Mereka tak dapat mengikuti dari dekat tujuan dan cita-cita Republik. Mereka mengenal Republik hanya "van horen zegen", en nog wel – van Hollands horen zeggen! Tatkala kita di sini memproklamirkan Republik, tatkala kita di sini menumpahkan kita punya darah untuk mempertahankan Republik, mereka baru lahir, atau baru anak-anak kecil. Tatkala kita di sini mulai membangun dan sekali lagi membangun mereka belum mencapai usia akil-balig.

Dan meskipun mereka sekarang tidak mudah diracuni oleh propaganda Belanda yang bersifat 100% anti-Republik, dan dag in dag uit menjelekkan dan menghina Republik, namun sebaliknya mereka ingin menilai dengan mata kepala sendiri apakah Republik itu, baik dalam tujuan maupun dalam isi. Para pemuda dan pemudi Irian Barat itu pada instinctnya ingin merupakan bagian daripada Republik, bahkan ingin merupakan bagian daripada Revolusi, akan tetapi mereka ingin mengambil keputusan ini (atau lain keputusan) atas dasar kesadaran sendiri dan kayakinan sendiri, dan tidak oleh bisikan atau desakan dari siapapun juga atau golongan manapun juga.

Saya kira, kita harus menghargai pendirian mereka itu. Biar mereka melihat sendiri apa Republik itu, apa tujuan Republik, apa isi Republik! Sekali mereka melihat dan mengenal Republik, kita yakin, pasti merekapun akan menjadi patriot Indonesia yang cinta kepada Republik. Dan – patriot karena keyakinan, bukan patriot buat-buatan!

Dugaan saya ini dibenarkan oleh kenyataan. Beberapa waktu belakangan ini, beberapa putera Irian Barat telah mengunjungi Republik dari Nederland. Kedatangan mereka itu samasekali tidak dengan semangat pro Republik. Malah ada yang condong kepada kurang-suka kepada Republik. Mereka hanya mau melihat. Mereka hanya mau meninjau. Beberapa hari mereka melihat sana-sini, meninjau sana-sini. Dan apa yang terjadi? Tanpa pengecualian mereka semua menjadi pro Republik! Malah ada yang minta diterjunkan di Irian Barat, untuk ikut menggempur kolonialis Belanda di Irian Barat!

Pengalaman tentang beberapa putera Irian Barat ini kita ”seluruhkan” kepada seluruh penduduk di Irian Barat. Secara keseluruhan kita masukkan mereka dalam kekuasaan Republik, sesuai dengan Proklamasi 17 Agustus 1945, untuk memberi kesempatan kepada mereka mengenal dan mencamkan hasil-hasil perjuangan Republik. Sesudah itu, tahun 1969 kita akan berkata kepada mereka: "silahkan, Saudara-saudara, silahkan! Tuan-tuan boleh memilih!” Dan kita yakin, mereka akan memilih tinggal dalam Republik!

Maka atas dasar pertimbangan inilah, kita menerima juga prinsip kedua dari Rencana Bunker, yaitu selfdetermination.

Nah, Saudara-saudara sebangsa! Sungguh keramat angka 17 dalam kehidupan Republik kita ini! Kita sekarang genap berusia 17 tahun, dan pada genap berusianya Republik 17 tahun itu, pada hari ini, dengan menundukkan kepala kepada Tuhan, saya dapat memberitahukan dengan resmi kepada Saudara-saudara: nanti, pada tanggal 1 Oktober tahun ini, habislah riwayat penjajahan Belanda di Irian Barat.

Nanti, pada tanggal 1 Oktober tahun ini, tidak ada lagilah bendera Belanda yang berkibar sebagai penguasa di seluruh tanah air kita dari Sabang sampai Merauke.

Nanti, pada tanggal 1 Oktober tahun ini, lengkaplah dalam prinsipe wilayah Negara Kesatuan Indonesia, yaitu Republik Proklamasi.

Hati kita penuh dengan rasa bercampur-bawur. Segala macam rasa, berputarlah dalam hati kita sekarang ini. Rasa syukur kepada Tuhan. Rasa gembira. Rasa pilu karena mengenangkan deritaan-deritaan yang lampau. Rasa getam karena mengenangkan korbanan-korbanan di persada perjuangan. Rasa kagum karena mengingat keberanian pahlawan-pahlawan kita yang diterjunkan di rimba-rimba dan rawa-rawa. Rasa terimakasih kepada patriot-patriot Indonesia yang mendahului kita berpuluh puluh tahun yang lalu, pendekar-pendekar daripada Gerakan Nasional. Rasa hormat kepada Pak Marhaen dan mBok Marhaeni, yang dulu dalam physical Revolution membumihanguskan rumahnya sendiri. Rasa marah karena ingat kepada pemuda-pemuda kita yang dalam physical Revolution itu ditendangi oleh serdadu Belanda atau didrél atau digantung. Rasa khidmat, karena merenungkan Karsanya Sejarah, bahwa "jer basuki mawa beya" …Dan ada satu rasa lagi. Yaitu rasa harapan. Harapan, bahwa ini kali fihak Belanda sungguh-sungguh secara jujur melaksanakan persetujuan yang baru dicapai itu. Jangan seperti Linggajati, jangan seperti Renville. Kita sudah berabad-abad bersengketa dengan Belanda, sudah berabad-abad hidup "op gespannen voet" dengan fihak Belanda, dan secara Negara dengan Negara sudah pula 17 tahun lamanya bersengketa dengan segala macam pengorbanan jiwa dan pengorbanan harta dari kedua belah fihak. Rasa pertanggunganjawab dari Rakyat kita masing-masing, Rakyat Indonesia dan Rakyat Belanda, meminta kebijaksanaan setinggi-tingginya dari para pemimpin kedua belah fihak. Kami dari fihak Indonesia, kami tidak ada maksud lain kecuali tidak mau dijajah, tidak mau dikungkung, tidak mau dieksploitir. Kami tidak ada maksud lain kecuali mau hidup merdeka dan mau dibiarkan hidup merdeka, merdeka dari penjajahan, merdeka untuk menyusun Negara dan masyarakat kami sendiri menurut kehendak kami sendiri. Kami cinta damai, kami ingin hidup bersahabat dengan segala bangsa, tetapi kalau kemerdekaan kami diganggu atau kalau kami dijajah, maka kami akan melawan, kami akan menghantam, kami akan tidak takut mati, kami akan bertempur sampai tétés darah yang penghabisan!

Itulah sebabnya kami pada saat tercapainya persetujuan Indonesia-Belanda sekarang ini masih melahirkan harapan tadi: Harapan bahwa ini kali fihak Belanda sungguh-sungguh melaksanakan persetujuan itu secara jujur, dan tidak secara Linggajati atau secara Renville, agar supaya hubungan lndonesia-Belanda kelak berlangsung secara baik.

Maka sementara itu kami dari fihak Indonesia terpaksa tetap waspada, tetap dalam posisi perjuangan, tetap dalam "stelling", tetap dalam Trikora, tetap sampai ada kenyataan-kenyataan yang nyata, bahwa ini kali persetujuan Indonesia-Belanda itu benar-benar dilaksanakan secara jujur, dan tidak a la Renville dan Linggajati. Jika sengketa ini dapat diselesaikan secara memuaskan bagi kami dan secara terhormat bagi Belanda, maka saya nyatakan di sini, bahwa uluran-tangan saya tahun yang lalu tetap berlaku. Memang adalah menjadi dasar penghidupan Nasional Bangsa Indonesia, bahwa kami secara aktif mencari persahabatan dengan setiap bangsa, jika dari fihak mereka itu ada keinginan jujur ke arah itu. Memang inilah termaktub dalam Kerangka nomor tiga daripada Revolusi Indonesia itu, yaitu Kerangka persahabatan dari semua bangsa.

Maka kepada Bangsa Indonesia sendiri saya berseru supaya selanjutnya kita tidak usah merasa sombong terhadap Belanda, tidak usah bersikap congkak karena merasa menang. Pelajaran yang saya sendiri sejak pemuda peroleh dari almarhumah Ibu saya ialah: ”Uletlah dalam kekalahan, tetapi berbudilah dalam kemenangan". Saya kira pelajaran yang saya terima dari Ibu ini, berlaku pula bagi kita-semua dalam menghadapi penyelesaian sengketa antara Indonesia dan Belanda.

Kecuali itu, kemenangan yang kita capai ini, bukan ”Kemenangan pribadi" dari seseorang semata-mata. Jangan dicongkak-congkakkan! Kemenangan ini adalah Kemenangan Sejarah. Tiap perjuangan menentang kolonialisme akhirnya akan dimenangkan oleh fihak pejuang kemerdekaan, oleh karena jalannya Sejarah menghendaki kemenangan fihak kemerdekaan itu. Tiap perjuangan mempertahan-kan kolonialisme akan kalah, oleh karena jalannya Sejarah menghendaki kalahnya kolonialisme itu. Kita telah berbuat sesuai dengan jalannya Sejarah, dan oleh karena itulah kita menang. Belanda berbuat menentang jalannya Sejarah, dan oleh karena itulah mereka kalah. Karena itu, jangan kemenangan kita ini terlalu dicongkak-congkakkan!

Kecuali itu, menengadahkanlah muka kita-semua kepada Tuhan. Kemenangan ini adalah Karunia Tuhan. Pemberian Tuhan! Belas-kasihnya Tuhan! Dialah yang membuat. Dialah yang membuat. Dialah yang memberi. Karena itu janganlah mencongkakkan diri.

Saudara-saudara, kini dua acara dari Triprogram Pemerintah telah terlaksana: Keamanan dan Irian Barat. Di bawah ridlonya Allah subhanahu wa ta'ala, di bawah rakhmatnya Tuhan yang Maha Adil, maka acara Keamanan dan acara Irian Barat dapat pada waktunya terlaksana berkat keuletan-hati dan tekad kesatuan Bangsa Indonesia. Keuletan-hati yang tali-baja, dan tekad-kesatuan yang laksana gunung-batu itu, sebagai tadi kukatakan, hanyalah mungkin diwujudkan jika kita mempunyai Landasan bersama yang hidup mewahyui kita sebagai suatu kenyataan yang hidup, suatu living reality, – suatu Landasan yang benar-benar menghikmati seluruh fasét kehidupan Bangsa, baik ideologis, maupun Landasan yang benar-benar Nasional dalam arti yang seluas-luasnya. Dan landasan yang begitu itulah Landasan RESOPIM. Dengan Landasan RESOPIM itu kita dalam waktu yang telah ditetapkan dapat menyelesaikan persoalan-berat Keamanan dan persoalan-berat Irian Barat. Dengan Landasan RESOPIM itu kita dapat mencapai tahun 1962 ini sebagai satu Tahun Kemenangan. Lihat! Berapa umur Manipol-USDEK? Berapa umur RESOPIM? Sudah panjangkah umur Manipol-USDEK-RESOPIM itu? Manipol-USDEK baru berumur tiga tahun! RESOPIM baru berumur satu tahun! En toch kita dengan Landasan Manipol-USDEK dan RESOPIM itu telah mencapai hasil yang gilang-gemilang! Satu tanda apa? Tanda bahwa Manipol-USDEK-RESOPIM adalah Landasan yang Sakti! Karena itu, hayo berjalan terus!, – biar anjing menggonggong, hayo berjalan terus! – di atas Landasan Manipol-USDEK dan RESOPIM. Melihat hasil-hasil dari perjuangan kita dalam waktu belakangan ini, – juga di lapangan pembangunan -, sebenarnya, – siapa yang masih ingin terus bersikap pesimistis atau sinis, kecuali tentu musuh dari Revolusi, golongan gadungan atau golongan Kontra-revolusioner, yang selalu hanya pandai mengeritik saja atas dasar textbook-thinking, atau golongan yang selalu hanya memakai Republik untuk mengejar keuntungan diri sendiri atau golongannya sendiri, atau golongan yang memang anti Republik karena Republik adalah Republik Kemerdekaan dan Republik Kerakyatan? Maaf jikalau saya berkata, bahwa, mereka selalu melarikan diri dari kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi oleh Republik, – kesulitan-kesulitan yang memang selalu inhaerent pada tiap-tiap Revolusi. Mereka belum pernah dapat membanggakan diri menyumbangkan tenaga atau fikiran atau pengorbanan, dalam saat-saat Republik dan Revolusi dalam kesulitan atau diancam oleh bahaya.

Tidak, mereka lari, mereka mencari hidup-enak di luar Revolusi atau di luar Republik, dan dari sana itulah mereka lancarkan mereka punya kritik, kadang-kadang ancaman, bahkan juga tindakan-tindakan subversif terhadap diri saya dan dirinya orang-orang yang tetap menjalankan tugasnya dalam Republik dan dalam Revolusi. Mereka di luar negeri itu tak segan-segan untuk menceriterakan segala kekurangan-kekurangan kita kepada fihak asing, segala kekurangan-kekurangan Republik seolah-olah golongan asing itulah yang akan menentukan siapa yang harus memimpin Bangsa Indonesia dan Negara Indonesia. Mereka bersikap seolah-olah merekalah yang lebih tahu segala hal, seolah-olah merekalah yang akan dapat "menyelamatkan Indonesia". "Segala sesuatu akan lebih baik", katanya, asal saja merekalah yang memegang tampuk-pimpinan, asal saja merekalah yang memegang kemudi. Padahal, orang-orang yang sedemikian rupa itu, belum pernah, khususnya sesudah 1950, menunjukkan kebesarannya dalam sesuatu hal, kecuali – kebesaran dalam mengeritik. Rakyat-jelata belum pernah menikmati kebesaran mereka, baik dalam aksi maupun dalam konsepsi. Yang selalu mereka dengung-dengungkan ialah hanya zg. ”penyelesaian mas’alah-mas’alah” menurut afgezaagde en conventionele formules, afgezaagde en conventionele formules yang mereka ambil dari textbook-textbooknya dunia Barat, – afgezaagde en conventionele formules yang saya sudah kenal dari zamannya saya masih plonco ijo royo-royo!

Padahal, Revolusi adalah pembongkaran barang tua diganti dengan barang baru, kataku tadi. Revolution rejects yesterday! Revolusi harus melempar jauh-jauh, bahkan menghantam hanyur-lebur, fikiran-fikiran kuno, dan harus menegakkan, menggembléngkan, mengkobar-kobarkan fikiran-fikiran baru, cara-cara baru, konsepsi-konsepsi baru, cipta-cipta baru, landasan-landasan baru, tindakan-tindakan baru, pencatut-taliwandaan baru.

Padahal, Revolusi adalah "a do-it-yourself-outfit", Revolusi adalah suatu hal yang harus dijalankan dengan aksimu dan idemu sendiri, – tak dapat Revolusi itu dijalankan dengan mempergunakan textbook-textbooknya orang lain, apalagi textbooknya orang-orang yang tidak revolusioner, apalagi textbook-textbook yang kontra-revolusioner!

Saya dengan sengaja menguraikan persoalan ini agak panjang, – maaf!

Kataku -, oleh karena di waktu-waktu belakangan ini saya lihat menggiatnya sesuatu aksi subversif. Ada yang ditujukan kepada diri saya pribadi, – saya pernah digranat, dimitrailjir, ditembak pistul, pendek kata hendak dibunuh -, ada yang diarahkan kepada kawan-kawan patriot lain, ada yang dibidikkan kepada Republik an sich, Pemerintah dalam hal ini tidak hanya akan lebih waspada, akan tetapi malahan ada kalanya telah mengambil initiatif bertindak, sebelum aksi subversif itu dapat menjalankan rolnya yang lebih besar. Ya, apa boleh buat! ”A Revolution is not a very polite thing", – "Revolusi bukanlah suatu hal yang amat ramah-tamah", – Revolusi adalah Revolusi! Saya sudah pernah berkata dua tahun yang lalu: Revolusi terpaksa mengenal garis-pemisah. Garis-pemisah antara kawan dan lawan. Garis-pemisah antara kawan-Revolusi dan lawan-Revolusi. Kawan-Revolusi harus kita pupuk, lawan Revolusi harus kita hantam, kita gempur, kalau perlu kita binasakan samasekali. Kalau tidak, Revolusi sendiri akan binasa!

Saudara-saudara! Dengan selesainya soal keamanan, dengan selesainya soal Irian Barat, maka modal kita untuk memecahkan soal ekonomi akan sangat bertambah. Dulu pernah saya katakan, bahwa untuk menyelesaikan tugas keamanan saja, 50% dari seluruh kegiatan Nasional kita curahkan kepada itu, dan kemudian, ditambah dengan tugas TRIKORA, jumlah ini menjadi lebih besar lagi! Hampir-hampir ¾ dari kegiatan Nasional kita, kita pergunakan untuk menyelesaikan keamanan dan menjalankan Trikora itu. Jelasnya lebih dari 70% dari kegiatan Nasional kita, kita tumplekkan ke arah itu! Perhatikan sekali lagi: Lebih dari 70% !! Mengertikah Saudara-saudara, bahwa inilah salah satu sebab yang terbesar yang membawa kesulitan dalam kehidupan ekonomi? Mengertikah Saudara-saudara, bahwa dengan ditumplekkannya lebih daripada 70% Kegiatan Nasional itu, program ”Sandang-Pangan” belum samasekali terlaksana dengan cara yang memuaskan?