Katri Holm: Kertomus äideille

Chapter 2

Chapter 23,100 wordsPublic domain

Kita tahu dari sejarah, bahwa Diponegoro yang tidak bisa ditundukkan di medan pertempuran, akhirnya dijebak ke ruang perundingan. Tetapi pengalaman Diponegoro itu buat kita merupakan pengalaman tidak-langsung, sedang selamanya pengalaman tidak-langsung itu tidak mungkin meresap seperti halnya pengalaman yang langsung. Seandainya kita tidak pernah membikin kesalahan di atas bukit Linggarjati dan di atas kapal Renville, barangkali kita juga masih naif dalam berunding dengan kaum imperialis. Karena kita belajar dari pengalaman itulah maka kita sekarang tidak naif. Sehingga, di waktu utusan Pemerintah Amerika Serikat, tuan Ellsworth Bunker datang kemari, maka dalam persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Amerika Serikat, maka "Peace Corps" Amerika diputuskan mundur! Ini merupakan peningkatan kedewasaan kita dalam menghadapi imperialisme!

Semuanya ini membuat kita juga mengerti, saudara-saudara, mengapa Republik Demokrasi Vietnam tidak sudi berunding dengan Amerika Serikat yang terus saja main bom dan main roket, pendeknya, terus saja main agresi. Perginya Perancis dari Indocina bukannya ditentukan di Fauntainebleau, tetapi di Dien Bien Phu!

Seperti bebasnya Irian Barat tempo hari – selalu ini aku katakan – tidak ditentukan di London atau di Moskow, di Washington atau di P.B.B., tetapi di rimba-rimba di Irian Barat sendiri!

Begitulah, setiap pengalaman itu berguna dan berharga, asal dia dipelajari dan disimpulkan!

Marilah pada saat-saat yang hahagia ini kita belajar sebanyak-banyaknya dari Agustus yang agung, belajar sendiri-sendiri maupun belajar bersama-sama. Sekarangpun pelajaran yang bisa kita timba dari pengalaman 20 tahun ini luar biasa banyaknya, luar biasa! Dan dengan pasti aku bisa mengatakan bahwa pelajaran itu tidak akan kunjung habis! Kelak, Saudara-saudara, manakala kita sudah lebih jauh terjarak dari masa-sejarah sekarang ini, pelajaran yang bisa dan yang akan ditimba orang akan lebih banyak lagi. Ahli-ahli sejarah, sarjana-sarjana lain, politikus-politikus, sastrawan-sastrawan, seniman-seniman, jurnalis-jumalis, semuanya kelak akan mempelajari sejarah kita, zaman kita, revolusi kita. Dan dengan menggeleng-gelengkan kepala mungkin mereka akan berkata dengan takjub:

"Hebat! Hebat! Bagaimana mungkin, dalam masa sependek itu bisa ditunaikan hal-hal sebesar itu!"

Sedarilah, insyafilah wahai Saudara-saudara sekalian, bahwa engkau, dan engkau, dan engkau, dan engkau – semuanya dan masing-masing, ambil bagian dalam proses sejarah yang besar ini. Seperti berkali-kali aku peringatkan, janganlah ada di antara kalian yang berfikiran "Ah, aku toh cuma satu orang; tanpa aku perjuangan juga berjalan", lalu orang itu lebih suka thenguk-thenguk dan ongkang-ongkang. Revolusi kita ini begitu maha-dahsyatnya, sehingga tidak ada satu keluarga pun, tidak ada satu makhluk pun yang tidak tersangkut di dalamnya. Atau orang memihak revolusi dan ikut ber-revolusi, atau orang menolak revolusi dan ikut menentang revolusi! Yang netral tidak ada, dan tidak mungkin ada!

Duapuluh tahun, duapuluh tahun merdeka! Duapuluh tahun itu bukan masa sembarangan, Saudara-saudara! Duapuluh tahun yang bagaimana! Kalau direnung-renungkan, bahwa dalam periode 20 tahun itu kita berhasil menegakkan satu Republik kesatuan yang sentausa dengan sarana-sarananya – termasuk Angkatan Bersenjata – yang kuat, kita berhasil mengalahkan agresi-agresi imperialis dan berbagai-bagai kontra-revolusi, memulihkan keutuhan wilayah, dan yang amat-sangat pentingnya menggugah kesedaran Rakyat sehingga Rakyat kita menjadi Rakyat gemblengan seperti sekarang ini, yaitu: Rakyat yang bersatu dan mengembangkan persatuan, Rakyat yang berjuang dan mengembangkan perjuangan – maka kadang-kadang aku sendiripun keheran-heranan bagaimana segalanya ini menjadi mungkin dan bagaimana aku sendiri bisa memberikan pimpinan yang dikehendaki! Tetapi, Saudara-saudara: seperti berulang-kali kutunjukkan, sejarah itu mempunyai hukum-hukumnya yang obyektif. Seandainya kita pemimpin-pemimpin Republik Indonesia yang sekarang ini gagal, karena kita buta akan hukum-hukum obyektif sejarah itu, belum tentu sejarah akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang lain bagi bangsa Indonesia. Tetapi karena kita memahami hukum-hukum obyektif sejarah itu, dan karena kita setia berjalan di atasnya hukum-hukum obyektif itu, maka kita bisa menjalankan tugas-tugas raksasa yang dipikulkan oleh sejarah ke atas pundak kita. Kita, malahan asal kita setia kepada hukum sejarah dan asal kita bersama dan memiliki tekad baja, kita bisa memindahkan gunung Semeru atau gunung Kinibalu sekalipun!

Hari ini kita berhimpun di depan Istana Merdeka di bawah Tugu Nasional yang megah dan di hadapan Patung Pahlawan Diponegoro yang gagah, disaksikan oleh matahari yang riang-gembira dan bermilyar-milyar mata sahabat-sahabat yang penuh simpati dari segala penjuru angin. Untuk apa?

Untuk mengadakan perhitungan, afrekening dengan masa-silam kita. Sebab, selalu satu bangsa itu berdiri di tengah-tengahnya masa-silam dan masa depan. Bilamana bangsa itu tidak tiap-tiap kali mengadakan perhitungan dengan masa-silamnya, bilamana bangsa itu tidak bertekad menumpas segala yang negatif dan mengembangkan segala yang positif dari masa-silamnya, maka bangsa itu tidak akan mungkin membina, membimbing, membangun masa depannya.

Kita mengadakan pertanggunganjawab, kita mengadakan perhitungan, kataku, karena sesungguhnya sebagai satu nasion yang berjuang kita ini sudah mengalami kristalisasi. Seperti gadis penampi, sejarah telah memisah-misahkan, telah memilah-milahkan emas dari loyang, sari dari ampas.

Pertanggunganjawab ini bahkan tidak hanya kupersembahkan kepada bangsaku yang menjadi junjunganku, tetapi juga kepada semua comrade-in-arms kita di luar negeri, kepada seluruh kekuatan Nefo di dunia, sebagai bahan konsultasi. Karena akhirnya, antara revolusi Indonesia dan revolusi-revolusi mereka juga harus diadakan suatu dialog, agar bersama-sama kita bisa menyempurnakan kita punya serangan-serangan, kita punya serbuan-serbuan ke benteng-benteng nekolim. Siapa saja boleh memberikan evaluasi, boleh memberikan penilaian terhadap hasil-hasil revolusi Indonesia. Juga lawan-lawan kita dan juga kalau penilaian mereka itu seburuk-buruknya, penilaian itu akan welkom bagi kita, karena ini akan merupakan bahan konfrontasi antara fikiran-fikiran lapuk dunia-lama dan fikiran-fikiran segar dunia-baru.

Berkali-kali kukatakan bahwa abad ke-XX ini abad berakhirnya imperialisme dunia. Sudah terlalu lama "pax imperialistica" menindas-menghisap-memperbudak kita, dan genta sejarah sudah berdenting bahwa saatnya penyusunan Pax Humanica telah tiba! Pax Humanica! Damai antara semua manusia! Selamat-tinggal "pax imperialistica". Selamat-tinggal buat selama-lamanya! Selamat-datang Pax Humanica, selamat-datang buat selama-lamanya pula.

Di depan Sidang M.P.R.S. sudah menunjukkan hukum dialektika yang akan membalikkan "garis hidup" imperialisme menjadi garis – mati imperialisme itu.

Karl Marx benar sekali ketika meramalkan bahwa proletariat, "anak-kandung" kapitalisme itu, akan menjadi penggali liang-kuburnya.

Sekarang kita semua, ya proletariat, ya kaum tani, ya kaum tertindas lainnya, kaumyang kunamakan kaum Marhaen, dan semua nasion-nasion tertindas di dunia ini,bersama-sama dan serempak menjadi penggali liang kuburnya imperialisme.

Tidak ada kehormatan yang lebih besar daripada ini.

Saudara-saudara !

Sesudah delik-detik Proklamasi 20 tahun yang lalu, belum pernah aku bangga seperti hari ini, belum pernah aku terharu begitu intens seperti hari ini! Lihatlah mata Rakyat Indonesia itu – sinarnya lebih cermerlang daripada matahari! Lihatlah tekad Rakyat Indonesia itu – teguhnya lebih perkasa daripada baja!

Hai imperialis, Rakyat Indonesia tidak mungkin kau kalahkan lagi, tidak mungkin! Kalau hanya Rakyat kita tidak mungkin dikalahkan lagi, aku sudah akan besar-hati sekali. Tetapi ini bukan hanya itu! Rakyat kita akan mengalahkan imperialis! Rakyat kita akan menang !

Ya, hai imperialis, kami akan menang !

Kesalahan kaum imperialis dan kaum reaksioner umumnya adalah, bahwa mereka meremehkan Rakyat yang jembel, meremehkan Rakyat jelata. Malahan ada di antara pemimpin-pemimpin Indonesia yang baru merasa krasan kalau berada di tengah-tengahnya ndoro-den-ayu-ndoro-den-ayu dan raden-mas-raden-mas atau berada di antara direktur-direktur yang kapitalis-birokrat, atau di antara tuan-tanah-tuan-tanah atau lintah-darat-lintah-darat. Memang ada pemimpin revolusioner dan ada pemimpin reaksioner, ada pemimpin sejati dan ada pemimpin gadungan !

Bukan salahnya Rakyat kalau kaum imperialis babak-belur menghadapi Rakyat, bukan salahnya Rakyat kalau kaum imperialis babak-bundas di Indonesia, di Vietnam, di Konggo, di Dominika, dan di mana-mana. Sebab mereka selalu mengukur Rakyat itu dengan ukuran kolonial, dengan ukuran poundsterling atau dollar. Mereka, seperti rentenir, menghitung-hitung di Asia Tenggara ada berapa juta Rakyat, di Timur Tengah ada berapa juta Rakyat, di Afrika ada berapa juta Rakyat, di Amecrika Latin ada berapa juta Rakyat, di Oseania ada berapa juta Rakyat. "Kasih mereka sekian juta dollar, habis perkara". Mereka tidak tahu, bahwa kalau ada mata-uang yang paling merosot nilainya sekarang ini mata-uang itu adalah justru pound-sterling dan dollar!

Barangkali ada yang tidak percaya akan apa yang aku katakan? Tengoklah di zaman "Plan Marshall" untuk 100 juta Rakyat Eropa Timur dikeluarkan 100 juta dollar untuk subversi. Tapi sekarang, untuk mensubversi 200 juta Rakyat Asia Tenggara dikeluarkan 1.000 juta dollar. Artinya, paling sedikit dollar itu sudah merosot 5 kali! Toh dollar itu tidak menghasilkan simpati dan persahabatan terhadap Amerika Serikat, sebaliknya, dollar itu seperti memancing antipati dan permusuhan dari Rakyat-rakyat Asia Tenggara.

Ataukah barangkali orang Asia lebih mahal daripada orang Eropa?

Selama kita teguh dalam menegakkan kemerdekaan nasional kita, dan selama di dunia ini ada yang bernama imperialisme, maka selama itu kita harus siap menghadapi subversi, intervensi dan agresi kaum imperialis. Sebab, tidak akan pernah kaum imperialis itu memperkenankan kemerdekaan tipe Sukarno, kemerdekaan tipe Sihanouk, kemerdekaan tipe Mao Tse-tung, ataupun kemerdekaan tipe Boumedienne, tipe Hafez, tipe Nasser, tipe Toure, tipe Keita, tipe Nkrumah, tipe Nyerere. Mereka paling-paling memperkenankan, malahan merestui "kemerdekaan tipe Tjiang Kai-Sek, tipe Pak Jung Hi, tipe Ky, tipe Tsombe, tipe Tengku Abdulrakhman. Tetapi ada baiknya bahwa kaum imperialis menjagoi jagoan-jagoan seperti Tjiang Kai-Sek dan lain-lain itu, sebab anasir-anasir itu anasir-anasir yang paling korup di dunia ini, sehingga bantuan dollar berapa saja banyaknya mereka sikat sendiri dan tidak ada atau sedikit sekali yang mereka pakai untuk melawan revolusi. Ya, Saudara-saudara, boneka-boneka imperialis pun menguntungkan kepada kita!

Kitapun, Saudara-saudara, kitapun jangan memakai ukuran salah untuk revolusi kita sendiri. Revolusi hanya bisa diukur dengan ukuran revolusi!

Revolusi tidak bisa diukur dengan ukuran text-books, sekalipun yang ditulis oleh profesor-profesor botak di Oxford, di Cornell atau di mana saja. Rupanya aku masih perlu menandas-nandaskan hal ini, karena masih ada saja yang menganggap text-books imperialis itu sebagai standard fikiran yang dikeramatkan, sacrosanct yang tidak boleh diganggu-gugat ………

Apakah "mission sacree" atau "white man’s burden" kaum imperialis itu "Hukum Illahi"? Kira-kira, dong bung! Meleklah, hai, kaum yang tersesat!

Bagaimana mengukur sesuatu revolusi dengan ukuran-ukuran revolusi? Segala-sesuatu hendaknya diamati untuk kesejahteraan umum, ya atau tidak? Pro bono publico – ini adalah semboyan kita. Untuk kesejahteraan umum! Sekalipun ada yang secara pribadi dirugikan, sekalipun ada yang laba perusahaannya berkurang, tapi asal pro bono publico, maka ia harus diterima. Sebaliknya, walaupun ada yang tambah mobil, tambah bungalow, tambah koelkast, tambah air-conditioner, walaupun ada yang bisa menyekolahkan anaknya ke Eropa atau ke "jabalkat" sekalipun, tapi jika tidak pro bono publico, maka ia harus ditolak. Kecuali – kecuali, kataku – jika orang sudah menjadi orang asing di tanah air sendiri, atau sudah menjadi orang pribumi di negeri asing! Ya, kecuali jika orang sudah cidera, sudah durhaka, sudah khianat terhadap urusan revolusi!

Lihatlah kepada kaum buruh dan kaum tani, sokoguru-sokoguru revolusi kita itu! Mereka memang pantas, worthwhile, tepat kusebut sokoguru revolusi!

Mereka bekerja, mereka menghasilkan, mereka berproduksi, tanpa mengeluh dan tanpa banyak cingcong. Mereka mempunyai tuntutan-tuntutan mereka, tetapi tuntutan-tuntutan itu biasanya masuk-akal. Kalau kaum buruh ingin supaya upahnya bisa untuk membeli buku-sekolah untuk anaknya, apakah itu tidak masuk-akal? Kalau kaum tani menghasratkan tanah, "senyari bumi", apakah itu tidak masuk-akal? Aku teringat kepada seniman-seniman ludruk yang mengatakan "Ya kalau punya pacul tapi ndak punya tanah, ke mana pacul itu mesti dipaculkan!" Tetapi ada di antara kita ini yang ndoro-ndoro, yang main tuan-besar, yang mengira dirinya eigenaar revolusi atau presdir Republik, lalu maunya bukan dia berkorban buat Republik, tapi Republik berkorban buat dirinya! … Orang-orang semacam ini, parvenu-parvenu, charlatan-charlatan, profitor-profitor macam ini ada baiknya kita promovir menjadi penghuni Nusakambangan!

Saya selalu mengatakan bahwa perjuangan kelas harus ditundukkan kepada perjuangan nasional. Dan aku gembira bahwa jeritanku ini difahami oleh sebagian sangat terbesar dari Rakyatku. Tetapi aku mau peringatkan kalau koruptor-koruptor dan pencoleng-pencoleng kekayaan negara meneruskan "operasi" mereka yang sesungguhnya anti-Republik dan anti-Rakyat itu, maka jangan kaget jika satu waktu perjuangan antar-golongan berkobar dan membakari kemewahan hidup kaum koruptor dan poncoleng itu!

Revolusi kita sekarang sudah tidak dalam taraf percobaan, sudah tidak dalam tarat eksperimen. Kita tidak boleh main eksperimen atau main coba-coba lagi. Ibaratnya kesebelasan sepakbola, tidak boleh kita memasang pemain-pemain yang belum "jadi", yang belum matang. Revolusi kita sudah menemukan vormnya, dan taraf ini meletakkan pada kita syarat-syarat baru, tuntutan-tuntutan baru, ukuran-ukuran baru.

Mereka yang kemarin progresif, hari ini mungkin menjadi retrogresif; yang kemarin revolusioner, hari ini mungkin menjadi kontra-revolusioner, yang kemarin radikal, hari ini mungkin menjadi melempem. Maka itu, Saudara-saudara, janganlah di antara kita ada yang mengagul-agulkan jasa-jasa di waktu lampau saja. Ik walg van al die oude koek! Aku muak! Biar engkau dulu jenderal-petak di tahun 1945, tetapi kalau sekarang memecah persatuan nasional revolusioner, kalau sekarang mengacaukan front Nasakom, kalau sekarang memusuhi sokoguru-sokoguru revo1usi, engkau menjadi tenaga reaksi! Sebaliknya, biar engkau dulu bukan apa-apa, ya, biar sekarang engkau bukan apa-apa, tetapi setia kepada revolusi, engkau tenaga revolusioner! Tenaga-tenaga macam inilah, laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, tinggi maupun rendah, tenaga-tenaga revolusioner macam inilah yang tanpa kecualinya ku "samenbundelen", kugabungkan menjadi satu, agar menjadi satu tenaga raksasa, "kadya prahara angguncang samodra"!

Sejak matinya Roosevelt, Stalin dan Churchill, dunia kita sedikit sekali mengenal pemimpin-pemimpin besar. Dulu, di waktu-mudaku, ketika aku mulai membasuhkan diriku ke dalam gerakan kemerdekaan, kukenal nama-nama yang besar-besar. Tetapi banyak di antara mereka itu yang kini tidak terkenal lagi, sebagian karena wafat terlalu cepat, sebagian lagi karena tidak setia kepada jalan revolusioner yang sekali pernah mereka pilih sendiri. Kesetiaan kepada jalan revolusioner adalah syarat pertama bagi seseorang untuk bisa terus di dalam gerakan dan untuk memainkan peranan tertentu di dalam gerakan itu.

Revolusi itu selalu mempunyai alat-alat materiil dan alat-alat spirituil sekaligus. Alat-alat materiil itu ada yang sederhana dan ada yang modern, yang up-to-date menurut perkembangan ilmu sekarang. Aku tahu, tiap-tiap kali aku sebagai Panglima Tertinggi ABRI mempermodern persenjataan keempat-empat Angkatan Bersenjata kita, atau jika Republik Indonesia membuka lin penerbangan ke jagad luar atau mempermodern alat-alat RRI dan TVRI kita, pers imperialis selalu mengejek aku dengan menulis bahwa aku membangun – demikian kata mereka – "proyek-proyek prestise". Ini adalah pembadutan jurnalistik dan pembadutan politik sekaligus yang amat jenaka!

Kaum imperialis yang memang masih punya dollar dan punya bom nuklir dan lain-lain, tapi sudah tidak punya prestise lagi itu, ho ho kaum imperialis itu membicarakan prestise kita !! Monumen Nasional juga "proyek prestise"? Jalan Trans-Sumatera juga "proyek prestise"? Terimalah, wahai Rakyat di Sumatera "proyek prestise" ini dengan tangan dan hati terbuka, sebab memang prestise Sumatera akan naik karenanya! Dan catatlah, wahai wakil-wakil pers Barat, bahwa aku Insya Allah akan membikin pula proyek-proyek besar lainnya di Kalimantan, di Sulawesi, di Maluku, di Nusa Tenggara, di Irian Barat!

Republik Indonesia sudah memberantas butahuruf – ini juga "proyek prestise"? Republik Indonesia memecahkan masalah kesehatan, masalah pendidikan, masalah pangan, dan lain-lain tanpa P.B.B. – ini juga "proyek prestise"? Republik Indonesia sudah meluncur-kan roket ionosfirnya – ini juga "proyek prestise"? Prestise apa dan siapa? Ya, prestise kemerdekaan dan prestise Rakyat kita yang merdeka! Dan kemerdekaan ini akan kita bela mati-matian, mati-matian, kalau perlu – seperti pernah kukatakan – kita bela kemerdekaan itu dengan bom atom! Tetapi jangan lupa, bahwa kekuatan Rakyat, persatuan Rakyat, perjuangan Rakyat itu juga satu bom atom, malahan lebih hebat daripada bom atom!

Ya, jangan dikira bahwa alat-alat atau senjata-senjata spirituil kita itu kalah daripada alat-alat atau senjata-senjata materiil kita. Alat-alat materiil, teknik, dan lain-lain itu malahan tidak pernah lebih daripada sekedar alat.

Alat ini harus diperalat, dan siapa yang memperalat? Yang memperalat ialah politik kita, ideologi kita, revolusi kita! Jangan dibalik!

Tanggal 25 Juni yang lalu, selaku Pemimpin Tertinggi Front Nasional aku telah mengeluarkan sebuah Instruksi 5 pokok, yaitu:

thumb|Manipol USDEK Satu: Mempertinggi kewaspadaan dan kesiapsiagaan nasional;

Dua: Mengutamakan disiplin dan tanggungjawab nasional;

Tiga: Memperkokoh persatuan nasional dengan mengamalkan jiwa Deklarasi Bogor dan tatakrama Nasakom;

Empat: Menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan dan perseorangan; dan

Lima: Meresapkan dan mengamalkan Lima Azimat Revolusi Indonesia: Nasakom, Pancasila, Manipol/USDEK, Trisakti Tavip, dan Berdikari.

Aku gembira sekali bahwa sejak saat itu hingga sekarang Instruksiku itu memang dijalankan, sehingga kelima-lima pokok itu memang diamalkan dalam amal-perbuatannya masyarakat.

Terutama semakin meresapnya "Lima Azimat" Revolusi memang sangat menggembirakan sekali, sangat membesarkan hati. Gagasan-gagasanku itu:'Nasakom (1926), Pancasila (1945), Manipol/USDEK (1959), Trisakti Tavip (1964) dan Berdikari (1965) – sebenarnya hanyalah hasil penggalianku, yang dua pertama dari masyarakat bangsaku, dan yang tiga terakhir dari Revolusi Agustus. Aku mengucapkan terimakasih kepada Saudara-saudara yang telah menganggap kelima-lima ideku itu sebagai azimat-azimat Revolusi. Tidak ada kebahagian lebih besar bagi seseorang revolusioner selain mengetahui bahwa ide-idenya sesuai dengan tuntutan-tuntutan revolusi!

Aku meminta kepada Saudara-saudara agar supaya kelima-lima pokok dalam Instruksiku itu terus disebar-sebarkan, diresapkan, diamalkan, sebab dari terlaksana-tidaknya Instruksi itu tergantung pula baik-tidaknya Front Nasional di hari-hari yang akan datang, baik-tidaknya persatuan bangsa di hari-hari yang akan datang. Baik Nasakom, baik Pancasila, baik Manipol/Usdek, baik Trisakti Tavip, maupun Berdikari itu kesemuanya mengabdi kepada persatuan nasional revolusioner, artinya, mengabdi kepada kepentingan revolusi. Semuanya alat pemersatu, semuanya alat revolusioner! Kalau beberapa waktu yang lalu kukatakan agar kita "berjiwa Nasakom", maksudku adalah agar kita berjiwa persatuan revolusioner, agar, kita semua gandrung kepada persatuan revolusioner. Kita tidak cukup hanya berjiwa Nasakom – kitapun harus berjiwa Pancasila, berjiwa Manipol/ Usdek, berjiwa Trisakti Tavip, berjiwa Berdikari !

Juga – dalam hal ini pers imperialis suka mengejek Sukarno. Kata mereka, Sukarno hanya pandai menyusun semboyan-semboyan, dan malahan singkatan-singkatan. Jawab saya juga singkat saja, karena, bukankah kaum imperialis sendiri membikin semboyan-semboyan, membikin singkatan-singkatan? Apa itu "food for peace"? Apa itu "atom for peace"? Apa itu "susu bubuk for peace"? Bedanya …, bedanya ialah: semboyan-semboyan Sukarno diterima dan didukung Rakyat, sedang semboyan-semboyan mereka ditolak dan dikutuk Rakyat. Inilah bedanya!

Mereka bukannya membenci NASAKOM karena abreviasi ini terdiri dari 7 huruf; mereka juga tidak membenci NEFO karena singkatan ini terdiri dari N. E, F dan O, Tidak! Mereka membenci singkatan-singkatan kita, karena mereka membenci isinya, ya, karena mereka takut terhadap isinya, terhadap daya-kekuatannya. Ini, dan tidak lain daripada ini, yang mereka benci dan takuti. Wakil-wakil pers Barat juga boleh mencatat, bahwa di Indonesia lebih banyak lagi semboyan-semboyan dan singkatan-singkatan akan lahir – semboyan-semboyan dan singkatan-singkatan yang bukan saja menjurubicarai kepentingan Rakyat, tetapi juga mudah diingat oleh Rakyat, dan dengan demikian memberikan kearahan, gerichtheid kepada jalannya revolusi kita. Ini merupakan garis "kerakyatan kita, ini adalah garis-massa kita!

Semboyan-semboyan itu hanyalah perumusan-perumusan yang paling singkat-padat, yang cekak-aos daripada program dan konsepsi-konsepsi revolusi Indonesia.

Tidak ada di dunia ini revolusi jiplakan. Setiap revolusi mesti orisinil.

Kalau ada revolusi jiplakan, revolusi begitu itu pasti gagal. Inilah sebabnya aku selalu menghargai kaum yang kreatif, yang punya ide-ide yang berani, yang punya fantasi yang menyundul langit, yang tahu melahirkan konsepsi-konsepsi yang baik.

Kita tidak bisa menjadi revolusioner yang baik, jika kita tidak teguh dalam prinsip-prinsip revolusioner, dan jika kita tidak menguasai ajaran-ajaran revolusioner. Tetapi kita juga tidak bisa menjadi revolusioner yang baik, jika kita tidak berjiwa-cipta, tidak kreatif, tidak pandai memeras kita punya otak sehabis-habisnya. Revolusi adalah sekaligus ya ilmu ya seni! Bahkan untuk memenangkan revolusi itu sendiri, kita harus kreatif, kita harus pandai menentukan taktik-taktik perjuangan yang soepel, yang fleksible, yang bijaksana. Tetapi! Tidak boleh kita soepel atau bijaksana di dalam strategi! Tidak boleh kita menjadi oportunis!

Revolusi terus meningkat. Maka dari itu revolusi itu juga mengajukan tuntutan-tuntutan yang meningkat. Itulah yang saya namakan rising demands of the revolution. Administrasi kolonial tidak memerlukan pegawai-pegawai patriot, cukup asal pegawai-pegawai itu ahli malahan lebih tidak patriot lebih baik !

Sebaliknya, pada hari-hari pertama atau pada tingkat pertama Revolusi kita, patriotisme itulah syarat yang mutlak buat pegawai-pegawai, sekalipun mungkin kurang ahli. Tetapi sekarang pegawai-pegawai yang tidak sekaligus patriot dan ahli akan sukar mengikuti derapnya revolusi. Begitu juga pemimpin-pemimpin dan kader-kader revolusi. Tidak cukup lagi kalau mereka itu hanya pandai saja, atau hanya berwatak saja; pemimpin-pemimpin dan kader-kader revolusi harus sekaligus berwatak dan pandai.