Part 3
Bahwa revolusi kita benar-benar meningkat, ini juga kentara dari hasil-hasil kita dari tahun-ketahun. Ambillah periode sejak 17 Agustus 1964 sampai 17 Agustus 1965 ini – periode antara dua 17 Agustus itu untuk seterusnya kunamakan Tahun Kerja Proklamasi -, dalam Tahun Vivere Pericoloso itu kemenangan-kemenangan kita lebih banyak dan lebih besar daripada di masa-masa sebelumnya.
Kemenangan-kemenangan dalam Tahun Vivere Pericoloso itu – saya hanya menyebut-kan yang paling pokok-pokok dan paling penting-penting saja – antara lain adalah keluarnya Republik Indonesia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan disedarinya pendirian bahwa mahkota kemerdekaan sesuatu bangsa adalah Berdikari; Ketetapan MPRS tentang Banting Stir; pembubaran "BPS" serta koran-koran antek-antek dan biang-keladinya; penggulungan gerombolan kontra-revolusioner Kahar Muzakkar dan Gerungan; peranan Republik Indonesia dan negara-negara progresif lainnya dalam "KTT non-blok ke-II" sehingga membikin konferensi itu berwatak anti-imperialisme; Dasawarsa Konferensi Bandung yang bersejarah; "KTT kecil" di Kairo sesudah penundaan KAA II, yaitu di antara Republik Persatuan Arab, Pakistan, Republik Rakyat Tiongkok dan Republik Indonesia; ambil-alih maskapai-maskapai Amerika Serikat, dan paling akhir, hanya beberapa hari yang lalu, kocar-kacirnya "Malaysia" dengan keluarnya Singapura dari federasi neo-kolonial itu.
Kemenangan-kemenangan ini bukan kemenangan-kemenangan kecil!
Kemenangan-kemenangan ini hanya mungkin, karena Rakyat Indonesia bersatu-padu dan menyerbu kubu-kubu musuh laksana satu pasukan yang kompak, satu banjir yang dahsyat, dengan disiplin yang kokoh di bawah pimpinan yang satu !
Tentang PBB: PBB dalam susunannya yang sekarang tidak mungkin dipertahankan lagi. Dengan menguntungkan Taiwan dan merugikan RRT, menguntungkan Israel dan merugikan negeri-negeri Arab, menguntungkan Afrika Selatan dan merugikan Afrika, meng-untungkan "Malaysia" dan merugikan Republik Indonesia, PBB nyata-nyata menguntungkan imperialisme dan merugikan kemerdekaan bangsa-bangsa. Dalam tahun 1960 aku menuntut supaya PBB diritul dan pindah tempat. Sekarang tuntutanku ialah bahwa PBB harus mengakui kesalahan-kesalahannya dan harus dirombak sama sekali. Kalau tidak, maka PBB bukan hanya akan ditertawai sebagai mimbar omong-kosong, tetapi lebih jelek lagi. PBB akan dikutuk sebagai badan yang lebih buruk daripada Volkenbond dan malahan lebih buruk daripada semua Parlemen kapitalis digabung menjadi satu! Sesuatu Parlemen kapitalis paling-paling "mewakili" dan menindas Rakyatnya sendiri, tetapi PBB "mewakili" dan menindas Rakyat Korea, Rakyat Konggo, Rakyat Kalimantan Utara, Rakyat-rakyat jajahan di mana-mana!
Tentang Banting Stir: Ketetapan MPRS tentang Banting Stir tidak hanya punya arti ekonomi. Arti ekonominya memang besar, karena kalau kita tidak banting stir, maka kita bisa makin lama makin jauh menyimpang dari Dekon.
Tetapi arti politiknya tidak kalah besarnya, sebab banting stir itu berarti juga membanting gepeng kaum avonturir dalam politik, yang coba-coba mau menyelundupkan reformisme ataupun teori-phasensprong, dan yang coba-coba mau mengkisruhkan pengertian tentang dua tahap revolusi. Lebih-lebih lagi, banting stir juga punya-arti pendidikan yang besar, yaitu mendidik kita untuk tidak subyektif dalam menyusun plan, tidak subyektif dalam mengurus ekonomi, pendeknya mendidik kita untuk membebaskan diri sama sekali dari setiap subyektivisme, berat-sebelahisme, serampanganisme!
Tentang BPS: Sudah menjadi rahasia umum bahwa BPS itu dimaksudkan untuk "atas-nama Sukarnoisme membunuh ajaran-ajaran Sukarno dan membunuh Sukarno". Memang ada orang-orang yang dengan jujur menerima ide-ide politikku dan mengusulkan untuk menyebut ajaran-ajaranku itu "Sukarnoisme", tetapi dengan BPS soalnya lain sama sekali. Tidak percuma suatu suratkabar besar di Amerika Serikat mengakui bahwa pemerintahnya "terlalu cepat" memberikan dukungan kepada BPS sehingga membangkitkan kecurigaan Rakyat Indonesia. Tanpa dukungan Amerika Serikat pun Rakyat Indonesia tentu bisa membedakan daging dari ikan, bisa membedakan maksud baik dari maksud jahat, dan bisa mengenal sendiri apa hakekatnya BPS itu. Jika diingat bahwa BPS itu menyangkut suatu rencana jahat jelaslah bahwa di samping soal kriminalitas politik seperti memecah-belah persatuan nasional, mengacau-balaukan pengertian Nasakom, dan lain-lain, BPS juga tersangkut perkara kriminalitas biasa. Maka dari itu aku tidak ragu-ragu mengambil tindakan menutup suratkabar-suratkabar BPS. Aku juga mau peringatkan, janganlah BPS – isme itu yang sudah dilarang di koran ini dan koran itu, diselundupkan masuk ke koran-koran lain, yang lama maupun yang baru!
Tentang gerombolan: Pembasmian gerombolan kontra-revolusioner Kartosuwiryo, Soumokil, Kahar Muzakkar dan Gerungan merupakan kemenangan-kemenangan penting. Kepada prajurit-prajurit ABRI dan Rakyat yang aktif dalam pembasmian itu saya ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya.
Terutama sekali "Siliwangi" besar sekali jasanya. Terbasminya gerombolan-gerombolan ini hendaknya menjadi canang-peringatan bagi siapa saja jangan coba-coba bermain api kontra-revolusi di Indonesia! Sudah dalam tahun 1946, yaitu dalam pidato 17 Agustus-ku 19 tahun yang lalu kuperingatkan: "Dengan pengertian yang sedalam-dalamnya serta keyakinan yang sekuat-kuatnya akan arti persatuan bangsa, maka pemerintah selalu mencari jalan mempersatukan, selalu menghindarkan perselisihan, selalu menunjuk kepada ajaran sejarah ’Bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh’. Akan tetapi dalam pada itu, pemerintah mesti memperkuat kedudukannya sebagai pemerintah. Tiap-tiap pengacau, tiap-tiap pengrusak akan berhadapan langsung dengan kekuasaan pemerintah, dan pemerintah tidak akan ragu-ragu mengambil tindakan yang sepantasnya terhadap mereka itu.
Tentang "K.T.T. Non-Blok": Pendirian R.I. tentang non-alignment rasanya sudah cukup jelas. Non-alignment, dalam pendapat R.I., harus bersifat anti-imperialis. Kalau tidak anti-imperialis, maka non-alignment demikian itu jadinya sudah aligned, karena ia menguntungkan imperialisme. Non-blok itu paling-paling bisa dalam hubungan NATO dan Pakta Warsawa, tetapi orang tidak mungkin "non-blok" dalam hubungan imperialisme dan anti-imperialisme, penjajah dan yang melawan penjajah! Dengan konsepsi anti-nekolim yang jelas-tegas, maka delegasi R.I. yang saya pimpin sendiri memberikan sumbangan-sumbangannya yang positif di "K.T.T. non-blok ke-II", dan konferensi itu benar-benar telah menjadi konferensi anti-nekolim. Non-alignment revolusioner menang, non-alignment banci kalah! Adapun R.I. sendiri, R.I. dikenal dunia tidak menganut "teori tiga kekuatan", karena R.I. membagi dunia hanya dalam dua kubu, yaitu kubu Nefo revolusioner dan kubu Oldefo reaksloner. lni adalah hasil analisa yang obyektif atas konstelasi dunia dewasa ini, dan maka dari itu Conefo yang Insya Allah akan kita selenggarakan tahun depan, itu pun obyektif adanya!
Tentang Dasawarsa K.A.A. I: Perayaan Dasawarsa Konferensi Asia-Afrika ke-I atau Konferensi Bandung telah menjadi manifestasi perkasa dari tekad anti-imperialis bangsa-bangsa Asia-Afrika. Segala fitnahan terhadap konsepsi-Bandung, seakan-akan forum Asia-Afrika itu suatu forum "rasialis", "sepataris", "sektaris" serta tuduhan-tuduhan lainnya, bisa kita gempur-hancur.
Melalui upacara khidmat Dasawarsa K.A.A. I dan acara-acara lainnya, antara lain pertemuan-pertemuan dan tukar-fikiran antara para utusan dari kedua benua kita, maka saling-pengertian di antara sesama negara-negara A-A yang anti-nekolim bertambah mendalam. Bukan saja usaha sabotase terhadap Dasawarsa itu gagal-berantakan sama sekali, tetapi perayaan Dasawarsa itu sendiri merupakan sukses yang gilang-gemilang. Bagi Rakyat Indonesia sendiri Dasawarsa merupakan pendidikan politik yang teramat penting, sehingga perhatian Rakyat Indonesia terhadap masalah-masalah internasional bertambah besar, setiakawan mereka terhadap saudara-saudaranya yang berjuang untuk kemerdekaan nasional bertambah besar pula.
Tentang K.T.T. Kecil: Seluruh dunia tahu, bahwa R.I. menghadapi K.A.A. II di Aljazair dengan persiapan yang secukup-cukupnya. Delegasi tingkat menteri yang dipimpin oleh W.P.M. I Dr. Subandrio sudah sampai di Algiers, sedang delegasi K.T.T. yang saya pimpin sendiri hanya sampai di Kairo, karena Standing Committee K.A.A. akhirnya memutuskan penundaan K.T.T. itu sampai awal November yang akan datang. Bahwa kaum imperialis berusaha mati-matian untuk mentorpedo K.A.A. II itu, hal ini sudah dengan sendirinya. Hal ini ternyata antara lain dari rapat "persekemakmuran Inggeris".
Tetapi lebih penting dari segalanya itu adalah perkembangan di Aljazair sendiri. Ketika Ben Bella digulingkan dan digantikan oleh suatu Dewan Revolusioner, Pemerintah R.I. segera mengakui rezim baru di bawah pimpinan Houari Boumedienne, bukan hanya karena pertimbangan-pertimbangan KA.A., tetapi karena pemerintah R.I. menganggap per-kembangan itu perkembangan progresif. Ada pemimpin-pemimpin yang takut dirinya akan "di-Ben-Bella-kan", tapi ini hanya membuktikan bahwa mereka itu pemimpin-pemimpin vested interest! Tergulingnya Ben Bella harus menjadi peringatan bagi pemimpin manapun, bahwa begitu seseorang pemimpin menjauhkan dirinya dari kepentingan-kepentingan Rakyatnya, begitu ia akan jatuh. Kemudian, penundaan K.A.A. II kami gunakan di Kairo untuk mengadakan suatu pertemuan puncak – "le’ petit sommet", kata harian-harian Perancis – di antara saudara-saudaraku Gamal Abdef Nasser, Ayub Khan, Tjou En-Lai dan saya sendiri. Hasil "KTT kecil" ini sudah diketahui umum, dan saya puas atas hasil tersebut.
Tentang modal Amerika Serikat: Setelah di tahun 1957 kita mengambilalih modal Belanda dan di tahun 1963 modal Inggeris, maka pada awal tahun ini, Rakyat Indonesia – yang membela hak-haknya dari serangan-serangan Amerika Serikat yang memberikan active aid kepada neo-kolonialisme "Malaysia" – mengambil alih modal Amerika Serikat. Sekarang modal itu berada di bawah pengawasan Pemerintah Republik Indonesia. Ini merupakan langkah penting bagi R.I., yang dengan azas Berdikari sedang menegakkan perekonomian nasionalnya sendiri, yang bebas sama sekali dari imperialisme maupun feodalisme. Di dunia dewasa ini "Sosialisme" benar-benar menjadi mode. Tidak ada sesuatu pemerintah, yang tidak mau dimusuhi Rakyatnya, yang tidak menyatakan dirinya "Sosialis".
Lucunya, di antara. "Sosialisme-sosialisme" itu ada yang mentah-mentahan "Sosialisme" dengan … modal imperialis di negerinya!
Ya, malahan ada negeri yang sama sekali belum mulai dengan perubahan-perubahan nasional-demokratis, sudah menyatakan "membangun Sosialisme".
Indonesia tidak mau munafik dengan Sosialismenya. Indonesia dengan tegas menyatakan bahwa revolusi masih dalam tahap nasional-demokratis, sekalipun sejumlah hasil penting telah dicapai dalam tahap ini. Nanti akan datang ketikanya, – yang Indonesia akan membangun Sosialisme, yaitu apabila modal imperialis sudah habis dan pemilikan tanah kaum tuan-tanah sudah dibagi kembali kepada rakyat. Yang terang, dengan modal imperialis tidak mungkin kita membangun Sosialisme. Jangankan Sosialisme, ekonomi nasionalpun tidak akan mungkin! Oleh sebab itu, prinsip membangun ekonomi tanpa modal monopoli asing, sudah menjadi prinsip yang tak bisa ditawar-tawar bagi kita. Adapun sikap RI terhadap AS., hal inipun sudah diketahui umum. Pemerintah AS sendiri sangat tahu akan sikap kita itu. Segala sesuatunya tidak semata-mata bergantung pada RI. Malahan, dalam keadaan sekarang, soal-soalnya lebih banyak bergantung pada sikap AS. Apakah mereka akan menghentikan sokongan mereka terhadap "Malaysia" dan bersahabat kembali dengan Indonesia, ataukah sebaliknya tetap menyokong "Malaysia" dan memusuhi RI. – ini adalah persoalan yang terpenting dewasa ini dalam relasi R.I.-A.S. Baiklah pemerintah AS. mempertimbangkan betul-betul hal ini, karena akhirnya pada kita ada hak penuh – sebagai Republik yang berdaulat – untuk menasionalisasi, atau bahkan mengkonfiskasi modal asing manapun yang memusuhi Republik Indonesia.
Tentang Singapura: Lemahnya proyek "Malaysia" sudah kentara sejak permulaannya. Ini sudah ratusan kali kukatakan! Seperti seluruh dunia tahu, Brunei yang menjadi tempat pertama pecahnya revolusi Kalimantan Utara di bawah pimpinan Mahmud Azahari itu, menolak "Malaysia" dan tidak pernah tergabung dalam "Malaysia". Sekalipun diiklankan secara besar-besaran oleh pers imperialis seakan-akan ekonomi "Malaysia" itu "makmur", tapi aksi-aksi kaum buruh di sana yang melawan kemerosotan hidup tidak bisa disembunyi-kan lagi. Sementara itu, sedang R.I. mendapat pujian dari mana-mana karena politiknya yang dijiwai Bhinneka Tunggal Ika sehingga Rakyat Indonesia merupakan Rakyat yang rukun, di "Malaysia" terus-menerus timbul kerusuhan-kerusuhan rasialis. Semua ini membuktikan bahwa proyek "Malaysia" memang suatu proyek yang dipaksakan. "Malaysia" diadakan antara lain untuk. "overvote" suku Tionghoa. Pernah saya bersenda-gurau bahwa "pertentangan Kualalumpur-Singapura lebih tajam daripada pertentangan Kualalumpur – Jakarta".
Tentu ini hanya senda-gurau belaka, tetapi apapun alasannya, sudah menjadi kenyataan bahwa Singapura memisahkan diri dari "Malaysia". Ya, "Malaysia" mulai rontok dari dalam! Rontok berantakan nantinya sama sekali! Tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang akan bisa mempertahankan kelangsungan hidup "Malaysia"! Tidak Tengku, tidak Inggeris, tidak Amerika, tidak seribu dewa dari kayangan! Peristiwa ini sekaligus mendemonstrasikan kegagalan total daripada politik kolonial Inggeris di mana-mana. Sesudah gagal dengan West Indies Federation, gagal dengan Central Federation of Africa, gagal dengan South Arabian Federation, Inggeris kini gagal pula dengan "Federation of Malaysia"!
Saudara-saudaraku setanah-tumpah-darah,
Kawan-kawanku serevolusi,
Perjuangan kita selamanya mempunyai aspek nasional dan aspek intemasional. Kedua-dua aspek ini tak terpisah-pisahkan satu samalain. Pada perayaan dwi-dasawarsa Republik ini pun kita perlu menelaah situasi internasional dalam mana kita sekarang berada.
20 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, dan 20 tahun setelah didirikannya P.B.B., perdamaian dan keamanan bangsa-bangsa tetaplah tinggal cita-cita, tinggal harapan, sedangkan kenyataannya banyak bangsa-bangsa masih merana dalam penderitaan yang berlarut-larut, akibat "peradaban" imperialisme. Kaum imperialis paling suka menyebut dirinya "beradab"; mereka juga paling suka menganggap kita-kita ini "biadab", sehingga mereka harus datang dengan pasukan-pasukan, dengan armada-armada, dengan pangkalan-pangkalan perang untuk "mengajarkan peradaban" kepada kita … Dalam "mengajarkan peradaban" itu mereka cukup royal, tidak sayang harta tidak sayang benda, dan jika kita-kita ini dianggap "mbandel", maka dibomnyalah kita, dibomnya Maluku, dibomnya Kamboja, dibomnya Laos, dibomnya Kuba.
Pada saat ini rupanya bangsa yang paling "mbandel" itu bangsa Vietnam, sehingga bangsa ini setiap hari, setiap jam, setiap detik dihujani bom oleh pembawa-pembawa "missi suci" dari Washington … Kalau "missi suci" itu gagal total, sudah tentu yang salah ya kita-kita kaum "biadab" ini!
Mereka yang datang dari jarak sejauh separo bola-bumi, mereka itu namanya "pembela perdamaian", sedang Rakyat Vietnam yang tinggal di negerinya sendiri, mengurusi urusannya sendiri dan mengatur tatahidupnya sendiri, Rakyat Vietnam ini dinamakan "agresor". Salah-satu harus gila, Saudara-saudara: Vietnam atau Amerika Serikat. Kedua-duanya gila tidak mungkin, kedua-duanya waras pun tidak mungkin! Saudara-saudara bisa menyimpulkan sendiri mana yang waras dan mana yang giIa!
Akhirnya "alasan" A.S. mengapa melakukan "escalation" atas peperangannya di Indocina, adalah "untuk mencegah Vietnam menjadi negeri Komunis".
Saya tidak pernah mendengar Paman Ho berkeberatan A.S. merupakan negeri kapitalis, jika Rakyat A.S. memang menghendaki demikian; kenapa A.S. berkeberatan Vietnam "menjadi negeri Komunis", jika Rakyat Vietnam meng-hendaki demikian? Hak menentukan nasib sendiri berarti pula hak menentukan macam pemerintah yang dikehendaki oleh sesuatu Rakyat di negerinya sendiri. Ini bahkan tercantum dalam "Declaration of Independence" Amerika sendiri ! Ataukah dokumen besar ini telah dilemparkan sendiri oleh bangsa yang melahirkannya?
Kalau agresi A.S. terhadap Vietnam itu kita biarkan, maka dia akan merupakan bahaya besar bagi seluruh tata-hidup internasional kita. Sekarang agresi itu terjadi di Vietnam, besok dia mungkin terjadi di bumi lain! Dia malahan sudah terjadi juga di Dominika. Maka dari itu, demi keselamatan masing-masing dan demi keselamatan kolektif kita, kita bangsa-bangsa yang cinta-merdeka dan cinta-damai harus melawan agresi A.S. itu, dan harus aktif memberikan sokongan kita kepada saudara-saudara di Vietnam itu.
Kepada pemerintah A.S. ingin saya nasehatkan – kuharap mereka masih bisa mendengar nasehat! – supaya mengakui kesalahannya dan segera menarik diri sama sekali dari Vietnam dan dari seluruh Indocina. Percuma mereka menuduh Republik Demokrasi Vietnam "tak sudi berunding", karena apabila A.S. tidak menarik diri sama sekali dari Vietnam, setiap orang melihat justru A.S.-lah yang tidak sudi penyelesaian secara damai. Baik disedari oleh A.S., bahwa satu-satunya alternatif baginya adalah keluar sama sekali dari seluruh Asia Tenggara! Jika mereka emoh menarik diri, mereka bisa kehilangan segala-galanya, segala-galanya! Hai, Amerika dan Inggeris! Zaman ini bukan zamannya imperialisme lagi. Zaman ini adalah zaman anti-imperialisme. Zaman ini adalah zaman hancurnya imperialisme!
Sebagai seorang yang telah banyak makan garam perjuangan, aku tahu bahwa tak pernah imperialisme itu menyerah dengan sukarela. Mereka hanya menyerah, jika mereka dipaksa, yaitu dipaksa dengan kekuatan yang maha-dahsyat, dengan machtsvorming dan machtsaanwending, nasional dan internasional. Di sinilah letak pentingnya Conefo, karena melalui Conefo itu kita akan menggalang, "samenbundeling van alle internationale revolutionnaire krachten", yang kusebut juga "Nasakom internasional", – gabungannya negara-negara Nasionalis, negara-negara Agama dan negara-negara Komunis dalam skala dunia, untuk melabrak babak-belur nekolim dan untuk membangun dunia kembali, membangun dunia baru – dunia tanpa imperialisme dan tanpa eksploitasi.
Situasi internasional dewasa ini adalah baik dan menguntungkan kita. Keluarnya Republik Indonesia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menambah baiknya situasi internasional itu. Sebab, walaupun ada di antara sahabat-sahabat kita di luar-negeri yang tidak menyetujui Republik Indonesia ke luar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, atau yang mengharap Republik Indonesia kembali masuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, namun keluarnya Republik Indonesia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa itu bisa mereka gunakan untuk memperkuat posisi mereka dalam menghadapi nekolim. Yang terang Perserikatan Bangsa-Bangsa sekarang tidak bisa main seenaknya sendiri, karena Perserikatan Bangsa-Bangsa harus memperhitung-kan pendirian dan sikap negara-negara dan pemerintah-pemerintah yang berani hidup desnoods tanpa Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sikap Republik Indonesia itu adalah kritik yang paling tajam yang bisa diberikan ke alamat Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan biarlah Perserikatan Bangsa-Bangsa terbuka matanya, kalau dia mau!
Dalam rangka pembinaan setiakawan Asia-Afrika, baru-baru ini saya telah mengutus Wakil Perdana Menteri I/Menteri Luar Negeri Subandrio disertai Menteri Penerangan dan dua orang Menteri Negara untuk mengunjungi 4 negara Timur Tengah dan 8 negara Arika. Missi itu telah menumbuhkan saling pengertian yang mendalam di antara kita dan negara-negara yang dikunjungi dan saya mengucapkan terimakasih kepada pemerintah-pemerintah yang bersangkutan atas sambutan mereka terhadap missi yang disebut "Safari Berdikari" itu. Republik Indonesia ingin menegaskan, bahwa Berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerjasama internasional, terutama di antara sesama negara yang baru merdeka. Yang ditolak oleh Berdikari adalah ketergantungan kepada imperialisme, bukan kerjasama yang sama-derajat dan saling-menguntungkan.
Karena nekolim itu biasanya mendirikan pangkalan-pangkalan militer di wilayah-wilayah orang lain, sedang pangkalan-pangkalan militer asing itu merupa-kan bahaya utama bagi perdamaian dunia, maka sejumlah organisasi massa di Indonesia telah mengambil prakarsa membentuk suatu komite yang dalam tahun ini juga akan menyelenggarakan di Indonesia suatu Konferensi Internasional Anti Pangkalan-pangkalan Militer Asing. Pemerintah Indonesia menyambut inisiatif itu, karena ide konferensi itu sesuai dengan Semangat Bandung.
Makin hari makin tegas perlawanan Rakyat-rakyat sedunia terhadap neo-kolonialisme. Ada dua faktor yang menyebabkan neo-kolonialisme itu lebih berbahaya daripada kolonialisme model lama. Pertama, karena cara-cara maupun praktek-prakteknya belum cukup dikenal oleh Rakyat, artinya, Rakyat belum cukup mempunyai pengalaman dengan sistim baru itu. Kedua, karena penjajah yang sesungguhnya, seringkali tidak jelas kelihatan, sebab neo-kolonialisme itu adalah penjajahan by proxy, penjajahan by remote control, penjajahan "dari jauh".
Selamanya saya bertolak dari pendirian, bahwa imperialismelah yang memerlukan kita, bukan kita memerlukan kaum imperialis! Inilah keterangannya, kenapa sesudah kaum imperialis terlalu banyak cingcong dan pertingkah, aku serukan "Go to hell with your aid !". Sesudah dipersetan, mereka sekarang mendekat-dekat lagi dan menawar-nawarkan kembali "bantuan" mereka. Tetapi saya tahu bahwa tidak ada "bantuan" nekolim yang cuma-cuma. Oleh sebab itu, soal-soalnya tergantung dari ada-tidaknya ikatan-ikatan langsung maupun tak-langsung pada "bantuan" yang ditawarkan. Di atas segala-galanya kaum sana harus tahu menghormati kedaulatan Republik Indonesia dan menghentikan sama sekali setiap kegiatan subversif di Indonesia!
Republik Indonesfa akan meneruskan sokongannya yang aktif kepada perjuangan kemerdekaan Rakyat-rakyat Kalimantan Utara, Angola, Mozambyk, Guinea (Bissau), Timor "Portugis", Somali "Perancis", Yaman Selatan, Oman, Azania (Afrika Selatan), Namibia (Afrika Barat Daya), Betswana (Bechuanaland), Lesotho (Basutoland), Swatini (Swaziland), dan lain-lain.
Sekalipun seluruh wilayah Republik Indonesia telah pulih di pangkuan kemerdekaan, dan sekalian nanti sisa-sisa imperialisme telah kita kikis sama sekali dari Indonesia, namun Republik Indonesia menganggap perjuangannya belum selesai selama di dunia ini masih ada wilayah yang belum bebas, sekalipun hanya sejengkal! Seperti selalu aku katakan, Rakyat Indonesia berjuang mengganyang nekolim as a matter of principle.
Saudara-saudara sekalian,
Di dalam-negeri situasi juga baik dan menguntungkan kita kaum revolusioner.
Hari ini genap 6 tahun usia Manipol. Berkat indoktrinasi, latihan revolutionnaire gymnastiek – dan pengorganisasian yang terus-menerus dan sambung-bersambung, Rakyat Indonesia kini memiliki kesedaran politik yang patut dibanggakan. Rakyat yang demikian ini, jika diorganisir lebih teratur, dilatih lebih militan, diindoktrinir lebih bersasaran, dipimpin dengan metode yang lebih tepat, pastilah akan mempunyai kekuatan yang tidak terbatas untuk melaksanakan Amanat Penderitaannya sendiri, yaitu berofensif dengan senjata "Panca Azimat".
Sejak dimaklumkannya Deklarasi Bogor maka persatuan nasional semakin kokoh, terutama karena penyingkiran anasir-anasir Manipolis-munafik dikerjakan secara lebih gencar. Tetapi jangan kita puas dengan kadar persatuan yang telah kita capai. Kita harus membikin persatuan nasional revolusioner berporos Nasakom itu menjadi kekuatan yang bersifat menentukan dalam kehidupan politik kita sebagai bangsa-negara.