The Adventures of Prince Lazybones, and Other Stories
Chapter 4
lain-lain hal f. 42.484.000
Total: f. 1.622.278.000 1.622.278.000
Inilah daftar daripada "makan-jalan" di dalam pesta untuk merayakan "beschaving-orde-en-rust" yang diadakan oleh imperialisme di Indonesia!
Perhatikanlah nama-nama dan angka-angka yang dicetak dengan huruf tebal: Kecuali minyak-tanah dan tin, maka nama-nama itu adalah semuanya nama-nama hatsil cultures, dan semuanyapun angka-angka yang paling gemuk. Karet sekian milyun, copra sekian milyun, kopi sekian milyun, minyak-minyak-tanaman sekian milyun, gula sekian milyun, … tembakau, teh, kapuk, serat-nanas sekian millioen, delapan macam hasil cultures ini sahaja jumlah ekspornya sudahlah
f. 1.186.986.000 atau kurang lebih 75 % dari semua jumlah ekspor y ang
f. 1.622.278.000 itu! Conclusie? Conclusie ialah, bahwa imperialisme yang jengkelitan di atas padang perekonomian Indonesia itu ialah terutama sekali imperialisme-cultures, atau lebih tegas lagi: landbouw-industrieel-imperialisme. Conclusie ialah, bahwa pusat pengautan imperialisme ialah tanah Jawa dan Sumatera, yakni oleh karena delapan hatsil cultures itu terutama sekali ialah berpusat di tanah Jawa dan Sumatera.
Dan jika kita menyelidiki daftar "makan-jalan" itu seluruhnya?
Jika kita menyelidiki daftar itu seluruhnya, maka conclusie ialah, bahwa Indonesia terutama sekali adalah menjadi padang penanaman-modal alias exploitatiegebied buitenlands surplus – kapitaal, yang sebagian membikin product yang sudah "jadi", dan sebagian lagi mengeduk barang-barang yang masih berupa grondstof, sebagai mitsalnya karet, copra, kulit, babakan kina, tembakau dan lain-lain sebagainya. Jika kita menyelidiki daftar itu seluruhnya, maka kita
dus mendapat conclusie, bahwa daripada empat shaktinya imperialisme di Indonesia itu, shakti ketiga dan keempatlah yang paling haibat dan paling merajalela. Shakti ketiga dan keempatlah, – shakti grondstoffengebied dan shakti exploitatiegebied surplus-kapitaal, – yang menjadi nyawanya internationaal-imperialisme di Indonesia. Shakti ketiga dan keempat itulah karenanya, yang harus kita gugurkan kalau kita ingin menggugurkan imperialisme di Indonesia!
Imperialisme di Indonesia bukanlah pertama-tama imperialisme "a la Kautsky", imperialisme di Indonesia itu pertama-tama ialah imperialisme "a la Hilferding", yakni imperialismenya Finanzkapital yang mencari beleggingl). Ia bukanlah pertama-tama imperialisme yang mencari pasar-perdagangan, – impor rata-rata hanyalah separonya ekspor! Ia pertama-tama ialah hatsilnya kapitalisme di dunia Barat yang telah terlalu banyak modal, dan yang menyebarkan modal itu ke negeri-negeri yang bisa menerimanya. Ia, oleh karenanya, tidak sama-sikap, tidak sama-perangai, tidak sama-houdingnya terhadap kepada Rakyat dan negeri yang ia duduki, dengan imperialisme Inggeris di Hindustan. Sedang imperialisme Inggeris di Hindustan tidak membunuh-bunuh sama-sekali semua "kutu-kutu" Rakyat Hindustan oleh karenanya ia sebagai handels-imperialisme butuh kepada Rakyat yang mempunyai daya-beli dan butuh kepada suatu middenstand-intermediair, sedang imperialisme Inggeris itu lekas memberi onderwijs sedikit-sedikit yang bisa memajukan perdagangannya, sedang imperialisme Inggeris itu adalah imperialisme yang tidak terlalu-lalu sekali memadamkan productiviteitnya Rakyat, – maka imperialisme di Indonesia adalah terutama sekali imperialisme landbouw-industrie dan mijnbouw-industrie yang butuh kepada
Rak y at melarat yang suka bekerja sebagai kaum buruh dengan upah
yang murah dan suka menyewakan tanah dengan sewa yang murah, – suatu imperialisme yang mempunyai kepentingan atau belang atas rendahn y a productiviteit Rakyat Indonesia itu adanya. Sedang imperialisme Inggeris di India adalah suatu imperialisme yang semi-liberal, maka imperialisme di Indonesia adalah imperialisme yang orthodox dan monopolistic di dalam darah-dagingnya dan di dalam jiwa-raganya. Tiap-tiap apa sahaja yang bisa meninggikari productiviteit Rakyat Indonesia itu ia tindas, tiap-tiap nafsu ia padamkan, tiap-tiap kegiatan ia rintang-rintangi, tiap-tiap energie ia bunuh! Sebab, tinggi-rendahnya upah-buruh dan tinggi-rendahnya sewa-tanah di sesuatu masyarakat ditetapkan oleh tinggi-rendahnya productiviteit daripada masyarakat itu: Di dalam masyarakat kaya upah adalah tinggi dan sewa adalah mahal, di dalam masyarakat melarat upah adalah rendah dan sewa adalah murah, – di dalam masyarakat yang hampir mati-kelaparan orang suka bekerja dan menyewakan tanah asal bisa mendapat sesuap nasi penolak bahaya maut. 8)
Bilamana pergaulan hidup Bumiputera bertambah sehatnya, sehingga harga-sewa-tanah juga lantas naik ke atas, maka perusahaan kaum modal Eropah itu menjadi kurang untungnya", begitulah Prof. van Gelderen berkata, 8) dan ucapan ini kami tambahi dengan ucapan Meyer Ranneft yang menulis: "Jumlah harta yang digali oleh modal dan perusahaan itu menjadi lebih besar, kalau tingkatnya masyarakat Bumiputera ada lebih melarat !" 1) kami tambahi lagi dengan tulisannya Prof. Boeke yang berbunyi: mereka punya modal itu hanyalah mengharap dari Hindia tanah yang subur dan kaum buruh yang murah! Rakyat-penduduk bagi mereka tak lebih daripada suatu alat atau merupakan suatu kesusahan yang tak dapat dihindarkan. Buat mereka, yang paling perlu hanyalah banyaknya kaum buruh dan harganya tanah; kalau kaum buruh ada banyak jumlahnya, sehingga harga dan upah menjadi rendah, maka merekalah yang untung 2)
1) Rudolf Hilferding, Das Finanzkapital.
2) Dengan jernih diterangkan causaal-verbandn y a oleh Prof. van Gelder en di dalam ia pun y a Voorlezingen over trop. kol. staathuishoudkunde.
3) Voorl. P. 59.
Dan bukan sahaja memadamkan productiviteit di atas lapangannya rezeki, bukan sahaja memadamkan economische productiviteit! Productiviteit geestelijk itu semuanyapun mendapat bagiannya! Apa yang orang jumpai di atas lapangan onderwijs dan opvoeding di Indonesia, membikin orang tersenyum kalau dibandingkan dengan onderwijspolitiek John Bull di negeri Hindustan. Sedang di Hindustan orang sudah adakan banyak sekolah-sekolah tinggi dan pertengahan dan rendah ber puluhpulu h t a hun yang l a l u maka di Indonesia hal-hal itu dimulainya terlambat sekali, dengan hatsilnya orang yang bisa baca-tulis sampai sekarang baru … 7%. 8) Sedang di Hindustan onderwijspolitiek boleh dikatakan semi-liberal, maka onderwijspolitiek di sini adalah suatu sistim pendidikan kaum buruh yang bersemangat buruh belaka. "Ethische politiek" yang orang adakan di sini tempo-hari, yang bermaksud "kemanusiaan" terhadap kepada bangsa kita, yang antara lain-lain memberi "lebih banyak" onderwijs kepada kita,- ethische politiek itu tidak "kebetulan"- lah orang adakan pada masa modern-imperialisme makin subur dan makin merasa kekurangan kaum-buruh-intelectueel dan kaum-penjilat-pena. 4)
Menjadi: memang sudah sepantasnyalah imperialisme yang asalturunnya dan di dalam darah-dagingnya suatu imperialisme yang anti-liberal dan orthodox, bersikap yang demikian itu. Dan karena dari dulu sampai sekarang, dari zaman Compagnie sampai ke zaman sesudah-compagnie, dari zaman cultuurstelsel sampai kezaman modern-imperialisme, tiap-tiap "kutu" kita dipitas dan dibunuh, maka susunan pergaulan hidup Indonesia menjadilah sangat primitief atau bersahaja. Tidak ada suatu kelas industrieel dan golongan menengah
Bumiputera sebagai di Hindustan yang kini berdiri di Indonesia.
1) The Effect of Western Influence on native civilization in the Malay Archi pelago, p. 77.
2) Het zakelijke en persoonlijke element in de kol. welvaartspolitiek, p. 12.
3) Bandingkan: Statistisch Jaaroverzicht.
4) Bandingkan: Stokvis, Van Wingewest naar Zelfbestuur; Brooshooft, De Ethische Koers in de koloniale politiek; Sneevliet, Proces, d.l.s.
Tidak ada suatu nationale bourgeoisie di Hindustan y ang kini kita dapatkan di Indonesia.' ) Tiap-tiap akar dari perusahaan-besar Bumiputera sudahlah tercabut dan terbasmi dari dulunya, tiap-tiap perusahaan kerajinan atau industri atau pelayaran sudahlah dihalang-halangi dan dibikin tidak bisa hidup lagi oleh imperialisme-tua dan modern yang dua-duanya monopolistis itu. Perdagangan, pelayaran, pertukangan, ya perusahaan-besar apa-sahaja,- semuanya sudah matilah oleh monopolisme itu. Kini tinggallah perdagangan-kecil belaka, pelayaran-kecil belaka, pertukangan-kecil belaka, pertanian-kecil belaka, … ketambahan lagi miliunan kaum buruh yang sama-sekali tidak mempunyai perusahaan sendiri, – kini masyarakat Indonesia adalah masyarakat merk-ke c il, suatu masyarakat merk-kromo, suatu masyarakat merk-Marhaen yang apa-apanya semua kecil. Padahal aduhai, betapakah tidak tingginya tingkat perusahaan Bumiputera di zaman sebelum imperialisme asing merajalela! Marilah saya di bawah ini mengulangi lagi beberapa citaat yang tempo-hari saya kemukakan di dalam saya punya pleidooi. Marilah kita mendengarkan Th. St. Raffles yang menulis: Begitu sukarnya menceritakan luasn y a perdagangan di tanah Jawa pada saat orang Belanda mulai di tepi lautanlautan Timur, begitu menyedihkan hatilah menceritakan bagaimana perdagangan itu dihalang-halangi, dirobah dan dike c il-ke c ilkan oleh perbuatan bangsa asing itu, yakni dengan kekuasaannya monopoli yang sudah bobrok, dengan ketamaan dan keserakahan akan duit … 2) Marilah kita mendengarkan Prof. Veth yang menceritakan, bahwa bangsa kita "masih di dalam abad keenambelas, sebagai juga di dalam zaman Majapahit, adalah terkenal sebagai kaum saudagar yang besar-usaha, kaum pela y ar yang gagah, kaum perantau yang berani", dan bahwa bangsa kita itu "tentunya ada kena perobahan yang besar sekali, menjadi kaum tani yang diam dan jinak sebagai sekarang inil", diam dan jinak karena "semangat-harimaunya sudah tumpas sampai kutu-kutunya", diam dan jinak karena "obat tidur ketaklukan pada bangsa asing yang lama sekali itu sudah bekerja"? ) Marilah kita mendengarkan Prof. van Gelderen yang berkata: "Dengan adanya pusaka yang luas, maka tak bisalah disangkal lagi bahwa pada zaman dulu itu sudah ada permulaan daripada perdagangan yang giat, daripada perhubungan niaga dengan tanah seberang. Oleh adanya contingenten dan leverayncien, kemudian oleh adanya stelsel cultuur-paksaan, maka kaum producent Bumiputera didesaklah dari pasar-dunia, dan diha l ang-halangi suburn y a suatu kelas majikan dan kelas saudagar bangsa
sendiri." Begitulah maka perusahaan-perusahaan asing zaman sekarang ini sudahlah memadamkan sama-sekali pertukangan-pertukangan di rumah.
1) Objectief. Perasaan sa y a subjectief tidak di sini sa y a kemukakan.
2) History of Java.
3) Java, deel 1.
Perdagangan ekspor Bumiputera adalah menjadi binasa sama-sekali, dan perusahaan-perusahaan yang hanya membikin barang-barang untuk daerah sendiri sahaja menjadilah hilang tersapu oleh gelombang barang-barang bikinannya massaproductie. 1)
Marilah kita mendengarkan ceritanya Du Bus yang berbunyi:
"Pada zaman dahulu tanah Jawa adalah mengambil kain-kain yang rada alusan dari pasisir, tetapi kain-kain untuk keperluan sehari-hari ia bisa bikin sendiri, cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh tanah Jawa, malahan juga cukup untuk sebagian daripada kepulauan Hindia. Berkapal-kapallah barang-barang itu meninggalkan tanah Jawa, menyebar kian-kemari ke seluruh nusa-nusa di sekelilingnya" 8) – disambung dengan perkataan Schmalhausen yang membubuhi komentar: "Sedang Du Bus diantara sebab-sebabnya keadaan-jelek ini menyebutkan pula musnanya perusahaan-perusahaan ekspor, maka kita di dalam Zaman sekarang ini, jugalah boleh mengatakan lagi, bahwa banyak perusahaan-perusahaan Bumiputera menjadi megap-megap atau binasa sama-sekali." 8) Marilah … tetapi cukup! Cukup sekian sahaja! Sebab siapakah bisa membantah bahwa diantara Rakyat Indonesia kini tidak ada lagi perusahaan-perusahaan yang agak besar, siapakah yang bisa membantah bahwa diantara Rakyat Indonesia tidak ada manufacturen, perbengkelan atau paberik-paberik, siapakah yang bisa membantah bahwa Rakyat Indonesia tiada nationale bourgeoisie sebagai Rak y at Hindustan, siapakah yang bisa membantah bahwa masyarakat Indonesia ialah suatu masyarakat yang segala-galanya merk-ke c il, yakni suatu masyarakat yang Kromoistis dan marhaenistis? Bahwasanya: benarlah conclusienya Dr. Huender tatkala ia menutup ia punya economisch over zicht yang terkenal, bahwa: "Een Indonesische middenstand als ruggegraat dezer maatschappij ontbreekt; de enkele grootgrondbezitters of kapitalisten geheel" yakni bahwa "tidak adalah di sini suatu middenstand-Indonesia y ang menjadi tulang-punggungn y a mas y arakat; kaum tani-besar atau kapitalist y ang han y a satu-dua itu, tidaklah menjadi satu hubungan-ekonomi dengan rak y at murba lainn y a." 4 )
Conclusie daripada semua yang kita tuliskan di atas ini ialah, bahwa politik swadeshi di Indonesia tidak bisa dipakai sebagai senjata jang terpenting untuk melemahkan imperialisme atau untuk mendatangkan
1) Voorlezingen.
2) Rapport Du Bus.
3) Java en de Javanen.
4) Slotbeschouwing daripada overzicht itu.
Indonesia-Merdeka; kita di sini terutama sekali adalah berhadapan dengan grondstoffenimperialisme dan k apitaalbeleggingsimperialisme, yang dua-duanya tak bisa dilemahkazi dengan politiek swadeshi itu. Kita di sini tidak ada kaum middenstand dan industrieel Bumiputera sebagai di India, yang bisa menjadi motornya pergerakan membrantas imperialisme itu. 1) Kita tidak bisa melemahkan imperialisme itu dengan suatu politik "national-economische self-containing", tidak bisa menundukkan imperialisme itu dengan suatu boycott-economie, tidak bisa memberhentikan imperialisme itu dengan pergerakan yang menentang impor. Kita harus mengerti, bahwa paberik-paberik gula, bahwa paberik-paberik karet, bahwa paberik-paberik kopi, bahwa paberik-paberik teh, bahwa paberik-paberik minyak, bahwa paberik-paberik lain y ang serna c am itu, y ang semua menjadi tulang-punggungn y a imperialisme di Indonesia itu, akan dengan tenteram bekerja terus, walaupun seluruh Rak y at Indonesia semua memakai pakaian
"lurik" atau barang-barang bikinan sendiri.
Tidak! Dengan suatu masyarakat yang sembilan puluh lima prosen terdiri dari kaum yang segala-galanya kecil itu, dengan suatu masyarakat yang sembilan puluh lima prosen terdiri dari kaum Marhaen itu, dengan suatu masyarakat yang tiada industrieel middenstand dan yang terutama sekali ialah dicengkeram oleh grondstoffenimperialisme dan capitaalbeleggings – imperialisme itu, dengan masyarakat yang demikian itu tenaga yang bisa mendatangkan Indonesia-Merdeka terutama sekali ialah organisasinya Kang Marhaen yang milyunan itu di dalam suatu politieke-massaactie yang nationaal-radicaal dan marhaenistis di dalam segala-galanya! Dengan masyarakat dan imperialisme yang demikian itu, maka zwaarte puntn y a kita punya aksi haruslah terletak di dalam politiek bewustmaking dan politieke actie, yakni di dalam menggugahkan keinsyafan politik daripada Rakyat dan di dalam perjoangan politik daripada Rakyat. Dengan masjarakat dan imperialisme yang demikian itu kita tidak boleh "menggenuki" aksi ekonomi sahaja, dengan mengabaikan aksi politik dan mendorongkan aksi politik itu ketempat yang nomor dua. Dengan masyarakat dan imperialisme yang demikian itu kita tidak boleh menenggelamkan, verdrinken politieke bewustmaking dan politieke actie itu di dalam aksi "konstruktif" mendirikan warung ini dan mendirikan warung itu, –
aksi "konstruktif" yang akhirnya hanya mempunyai harga
"penambal" belaka.
0, perkataan jampi-jampi, o, perkataan peneluh, o, perkataan mantram, o, toverwoord "constructief" dan "destructief". Sebagian besar daripada pergerakan Indonesia kini seolah-olah kena dayanya toverwoord
1) Di India kaum industrieel dan middenstand Bumiputeralah y ang menjadi n y awan y a swadeshi.
itu, sebagian besar daripada pergerakan Indonesia seolah-olah kena gendhamnya mantram itu! Sebagian besar daripada pergerakan Indonesia mengira, bahwa orang adalah "konstruktif" han y a kalau orang mengadakan barang-barang yang boleh diraba sahaja, yakni hanya kalau orang mendirikan warung, mendirikan koperasi, mendirikan sekolah-tenun, mendirikan rumah-anak-yatim, mendirikan bank-bank dan lain-lain sebagainya sahaja, – pendek-kata hanya kalau orang banyak mendirikan badan-badan sosial sahaja, – sedang kaum propagandis politik yang sehari-ke-sehari "cuma bicara sahaja" di atas podium atau di dalam surat-kabar, yang barangkali sangat sekali menggugahkan politiek bewustzijn daripada Rakyat-jelata, dengan tiada ampun lagi diberinya cap "destructief" alias orang yang "merusak" dan "tidak mendirikan suatu apa"! Tidak sekejap mata masuk di dalam otak kaum itu, bahwa semboyan "jangan banyak bicara, tetapi bekerjalah", harus diartikan dalam arti yang lugs. Tidak sekejap mata masuk di dalam otak kaum itu, bahwa "bekerja" itu tidak hanya berarti mendirikan barang-barang yang boleh dilihat dan diraba sahaja, yakni barang-barang yang tastbaar dan materieel.
Tidak sekejap mata kaum itu mengerti bahwa perkataan "mendirikan" itu juga boleh dipakai untuk barang yang abstrak, yakni juga bisa berarti mendirikan semangat, mendirikan keins y afan, mendirikan harapan, mendirikan ideologie atau geestelijke gebouw atau geestelijk artillerie yang menurut sejarah-dunia akhirnya adalah artillerie yang satusatunya yang bisa menggugurkan sesuatu stelsel. 1) Tidak sekejap mata kaum itu mengerti bahwa terutama sekali di Indonesia dengan masyarakat yang merk-kecil dan dengan imperialisme yang industrieel itu, ada baiknya juga kita "banyak bicara", di dalam arti membanting kita punya tulang, mengucurkan kita punya keringat, memeras kita punya tenaga untuk mernbuka mata Rakyat-jelata tentang stelsel-stelsel yang mencengkeram padanya, menggugah keinsyafan-politik daripada Rakyat-jelata itu, menyusun segala tenaganya di dalam organisasi-organisasi yang sempurna techniknya dan sempurna disiplinnya, pendek-kata "banyak-bicara" menghidup-hidupkan dan membesar-besarkan massa-actie daripada Rakyat-jelata itu adanya!
Tidak! semboyan "dengan swadeshi Mendatangkan kemerdekaan" yang buat India ada begitu besar shaktinya, semboyan itu buat Indonesia tidaklah bisa dipakai. Semboyan itu buat Indonesia adalah semboyan yang kosong, semboyan yng hampa, semboyan yang tidak berisi rieele macht. Kemerdekaan Indonesia tidaklah bisa didatangkan dengan pergerakan swadeshi, kemerdekaan Indonesia hanyalah bisa didatang-kan dengan politieke-massa-actie yang berazas Marhaenisme.
1) Lihatlah: Dr. Sun Yat Sen, San Min Chu I; Roland Holst, Massa actie; Kaut sky, Weg zur Macht; Vaswani, Gospel of freedom; dll. Terutama sekali juga biographieen daripada kampiun-kampiun pergerakan massa: Rapp op o r t, Jean Jaures; Amman, Sun Yat Sens Vermachtnis; B e b e 1, Aus meinem Leben; R. Rolland, Mahatma Gandhi; V. M a r c u, Lenin;
T r o t z k y, Mijn Leven; de G r u y t e r, Mac Donald en de Labourparty, dll.
Marilah kita camkan conclusie kita ini. Marilah kita belajar memikir yang analytis. Dan marilah kita juga belajar memikir "in werelddelen", belajar memikir "benua-perbenua". Marilah kita belajar ingat, bahwa imperialisme yang ada di Indonesia ialah imperialisme yang internasional. Di daerah cultures sekitarnya Deli 43,83% dari semua kapital adalah kapital asing yang bukan Belanda, di daerah cultures Sumatera Selatan prosentase ini adalah 36,6, di perusahaan minyak B.P.M. 40% dari semua aandeel adalah kepunyaannya "Shell", 1) – buat seluruh Indonesia prosentase kapital asing yang bukan Belanda adalah kurang lebih 30%. 2) Musuh yang begitu banyak anggautanya itu, musuh yang terdiri dari persekutuan gembong-gembong dan belorong-belorong yang begitu banyak jumlahnya itu, musuh yang ibarat raja raksasa Rahwana yang sepuluh kepalanya itu, – amboi, musuh yang demikian itu tidak dapat dialahkan dengan swadeshi-swadeshian sahaja.' )
Oleh karena itu, tidak! Dan sekali lagi: tidak! Tidak bolehlah kita membeo sahaja kepada semboyan-semboyan yang dipakai oleh perjoangan-perjoangan Rakyat di lain negeri, tidak boleh kita mengover sahaja segala leuzen zonder meng-analyseer sendiri. Pergerakan Indonesia haruslah memikir sendiri, mengupas soal-soalnya sendiri, mencari semboyan-semboyannya sendiri, menggembleng senjata-senjatanya sendiri. Hanya dengan cara demikianlah kita bisa menjauhi segala pemborosan tenaga! Tetapi dalam pada itu … adakah dengan segala hal yang saya uraikan di atas itu, saya mau mengatakan bahwa saya dus anti segala pergerakan swadeshi di Indonesia? Saya tidak anti segala pergerakan swadeshi di Indonesia. Sa y a bukan seorang nasionalis kalau sa y a tidak senang melihat bangsa sa y a bisa membikin sendiri barang ini dan itu, sa y a bukan seorang nasionalis kalau sa y a tidak senang melihat bangsa sa y a mempun y ai crea tiefvermogen dan berusaha mempertinggi creatiefvermogen itu, sa y a bukan seorang nasionalis kalau sa y a tidak merasa wajib-ikut berusaha membesar-besarkan creatiefvermogen bangsa sendiri itu. Saya hanyalah merasa wajib membantah, yang orang mengira, sebagai tempo-hari sering saya dengar, bahwa swadeshi itu bisa mendatangkan Indonesia-Merdeka, dan merasa wajib menjaga, jangan sampai pergerakan politik mengejar Indonesia-Merdeka itu ditenggelamkan atau di-verdrinken didalam pergerakan swadeshi, ditenggelamkan dan di-verdrinken di dalam suatu pergerakan yang tidak boleh dipakai sebagai senjata untuk menghantam grondstoffen dan kapitaal-beleggings-imperialisme. Di dalam karangan saya yang akan datang akan saya terangkan apa faedahnya swadeshi itu, faedahnya bagi belajar meninggikan productiviteit masyarakat Indonesia, dengan syarat-syaratnya agar supaya swadeshi itu tidak menjadi suatu pergerakan yang sosial-reaksioner, dan agar supaya pergerakan swadeshi itu tidak menjadi alat bagi kaum munafik candidaat-bourgeoisie untuk menggemukkan kantongnya sendiri. Tetapi karangan saya ini tidak bisa saya tutup dengan tidak satu kali lagi memperingatkan: Lenyapkanlah segala pengiraan bahwa swadeshi bisa mendatangkan Indonesia-Merdeka.
"Suluh Indonesia Muda", 1932
1) Semua angka-angka ini terhitung dengan gegevens D r. R. E. S mit s, De beteekenis van Ned. Ind. uit intern. ec . oogpunt.
2) Taksiran D r. Walle r. Lezing di muka ledenvergadering Verbond van Nederl. Werkgevers, 30 September 1927.
3) Bandingkanlah keadaan Indonesia dengan keadaan Mexico, y ang juga men jadi mangsa internasional imperialisme; J. M. Br ow n, Modern Mexico and its