The Adventures of Prince Lazybones, and Other Stories

Chapter 3

Chapter 33,481 wordsPublic domain

Marilah kita mendengarkan Abdul R a s u l, presiden Barisal Conference, yang berkata: "Ik kan de mensen niet begrijpen, die de zaak der swadeshi voorstEkan, doch de boycott van de hand wijzen. Dit is een economische questie, – het een moet noodwendig volgen op het andere. Het woord boycott moge in sommige oren agressief klinken, maar het succes van de swadeshi-beweging betekent het zich onthouden van vreemde goederen of de boycott er van. Als wij de voorkeur geven aan goederen in ons land gemaakt, en de in vreemde landen vervaardigde weigeren, dan betekent dat het boycotten van vreemde waren. Waarom zou het aanstoot geven het gouvernement of aan wie ook? In ons eigen huis zijn we toch zeker onze eigen heer en meester, en mogen wij zelf kiezen wat wij willen kopen en wat wij weigeren." 2)

Marilah kita mendengarkan B a t G a n g a d h a r T i l a k, yang dengan jitu telah berkata: "Lord Minto opende hier laatst de Industrieele Tentoonstelling, en zeide bij die gelegenheid, dat de ware swadeshi moet worden gescheiden van politieke aspiraties.

Dit is een oneerlijke voorstelling van de werkelijke staat van zaken … Het is een blunder, om de politiek van de swadeshi te scheiden!" 4

Marilah kita mendengarkan pidatonya S u r e n d r a N a t h

B a ­n e r j e e yang berkata: "Swadeshi is gebaseerd op vaderlandsliefde en niet op haat voor de vreemdeling …

Ons doel is het gebruik van inheemse goederen algemeen te maken, de groei en ontwikkeling van inheemse kunsten en industrieen te bevorderen, en het land te behoeden voor het groeiend kwaad der verarming … De atmosfeer is doortrild met de industrieele geest.

De slavengeest heeft een knak gekregen.

1) Bandingkan: Freundlich, Nijverheid.

2) Pada A. B e s a n t, How India wrought for Freedom.

3) Bij Freundlich, t.a.p.

4) Pada Freundlich, t.a.p.

De geest van zelfverwerkelijking dringt overal door. Verzamel U rond van dorp tot dorp, van stad tot stad. Zweer den Swadeshi-eed, en ge legt breed en diep de grondslagen van Uw industrieele en politieke emancipatier 1)

Dan marilah kita sebagai penutup mendengarkan perkataannya Mahatma Gandhi yang berseru: "Het is een zonde, Amerikaanse tarwe te eten, terwijl uw buurman, de korenkoopman, door gebrek aan klanten te gronde gaat … Ook maar een el uitheems weefsel in Indie invoeren, beduidt, een stuk brood uit de mond van een, die gebrek lijdt, wegnemen". "De boycotten en de verbranding van vreemde weefsel hebben niets te maken met een rassenhaat tegen Engeland, die Indie niet koestert, ja zelfs niet kent." 2)

Jadi: macam-macam orang, macam-macam pendapat. Tetapi, poli­tik atau bukan politik, boikot atau bukan boikot, kebenyian atau bukan kebencian,- hatsilnya bagi imperialisme Inggeris adalah setali t i g a wang! lebih lakunya barang bikinan India, dan lebih tidak lakunya barang bikinan Inggeris; lebih majunya industri di Bombay dan Madras dan Jamsheedpore, dan lebih surutnya industri di Bradford dan Man­chester dan Birmingham. Hatsilnya bagi imperialisme Inggeris ialah, bahwa imperialisme Inggeris itu terkena ulu-hatinya, terkena pusat-nyawanya, terkena lak-lakan-rongkongannya ibarat Niwata Kawaca terkena pula lak-lakan-rongkongannya oleh Begawan Mintaraga! Sebab, – dan di sinilah sekarang pembaca mengerti perlunya mengetahui, "warna"-nya imperialisme Inggeris di Hindustan itu, sebab imperialisme Inggeris di Hindustan itu adalah teristimewa suatu handels‑imperialisme yang mencari afzet.

Angka-angka impor di dalam tahun 1910 adalah kira-kira 90.000.000, di dalam tahun 1912 kira-kira £ 115.000.000, di dalam tahun 1914 kira-kira £ 95.000.000, di dalam tahun 1915 kira-kira 105.000.000, di dalam tahun 1918 kira-kira /125.000.000, di dalam tahun 1920 kira-kira

£ 335.000.000. Dari impor ini, selamanya bagian yang terbesar adalah dari n e g e r i I n g g e r i s, dan sebagian besar pula berupa kain-kain manu­facturen. 8) Tetapi ekspor?

Ekspor biasanya adalah s e d i k i t lebih besar daripada impor 4) tetapi ekspor ini sebagian yang besar adalah ekspor bekal-bekal, mitsalnya kapas-kasar, kulit-kulit dan lain sebagai­nya, 5 – yang nanti, sesudah di-"olah", diimpor ke India lagi!

1) Surendra Nath Banerjee, Speeches and Writings.

2) Pada F 11 löp Mille r, Lenin and Gandhi.

3) Bandingkan: Statement moral and material progress of India: 1919-1921.

4) Bandingkan: Statement. Juga: Van Gelder e n, Voorlezingen (p. 103).

5) Bandingkan: Statement.

Jadi: senjata swadeshi di India adalah senjata haibat yang bisa meremukkan tubuhnya imperialisme Inggeris. Herankah kita, bahwa swadeshi itu sedari mulanya lalu mendapat Nap" dari fihak Inggeris, disebut pergerakan yang timbul dari rasa chauvinisme-rendah belaka, suatu pergerakan kebencian, suatu pergerakan kaum "penghasut" yang tiada maksud lain melainkan maksud "destructive" dan merusak? Heran­kah kita, bahwa propagandis-propagandis swadeshi itu beribu-ribu yang ditangkap, beribu-ribu yang diseret di muka hakim, beribu-ribu yang di­hukum dan dilemparkan ke dalam penjara, dituduh "sedition" dan merusak ketenteraman umum?

En tokh, sebagai yang kita lihat dimana­-mana, palang-pintu kaum imperialisme tidak bisa mengurangi pergerakan itu, bahkan malahan mempergiatnya! Sebagai angin yang makin lama makin meniup menjadi angin taufan, sebagai aliran yang makin lama makin mengebah menjadi banjir, sebagai kekuatan-rahasia yang makin lama makin mengelectriseer sekudjur badannya bangsa, maka pergerakan swadeshi ini, yang pada h a k e k a t n y a ialah pergerakannya kaum middenst and dan kaum industrieel 1) menjadilah suatu per­gerakan yang menyerapi tulang-sungsumnya dan nyawanya Rakyat-jelata. Terutama sesudah Mahatma Gandhi memasukkan dua elemen di dalam pergerakan swadeshi itu, y a k n i elemen pemakaian barang tenunan ­tangan: terutama sesudah Gandhi dengan dua elemen ini bisa memberi kesempatan-mencari-sesuap-nasi kepada kaum tani yang enam bulan tiap-tiap tahun terpaksa menganggur, – terutama sesudah itulah maka pergerakan swadeshi itu menjadi sangat populer sekali.

Charkha dan kadhar buat abad keduapuluh pada hakekatnya adalah dua elemen yang memundurkan jarum kemajuan masyarakat, dua elemen yang m e r e m evolusi, dua elemen yang maatschappelijk-reaction­nair, – tetapi charkha dan kadhar itu, sebagai alat ganjil hidupnya kaum tani India yang enam bulan setahunnya terpaksa menganggur, bisa juga ada harganya. "Tachtig procent der Indische bevolking is telkens een half jaar lang noodgedwongen werkloos; hen kunt ge alleen helpen, door een in vergetelheid gei akt handwerk te doen herleven en tot bron te maken van nieuwe inkomsten, Indie moet van honger sterven, zolang men geen arbeid bezit, die voedsel verschaft." "Ik zou de twijfelaars willen verzoeken, de huizen der armen binnen te gaan, wier karige inkomsten alleen door het spinnewiel weer vergroot worden; al deze lieden zullen verklaren,

dat met het spinnewiel weer licht en vreugde hun woningen zijn binnengetrokken." 1) "Voor een uitgehongerd en niet-actief yolk is de enige vorm, waarin God het kan wagen to verschijnen: de Arbeid, met de belofte van eten als betaling … Het spinnewiel be­tekent het leven voor millioenen stervenden. Het is de honger die Indie naar het spinnewiel drijft" 2) ,— begitulah Gandhi berkata.

1) Bandingkan: K o c h, Herleving; R o y, One Year of Non-Cooperation;

S a r k a r, Indian etc.; dll

Tetapi reaksioner sama-sekali perkataan Sang Mahatma itu, bahwa segala mesin-mesin harus dihapuskan dan diganti dengan charkha. Reak­sioner sama-sekali Sang Mahatma punya ucapan, bahwa mesin-mesin adalah "pendapatan syaitan"! Mesin-mesin bukanlah pendapatan syaitan, mesin-mesin bukanlah mendatangkan celakanya manusia, – mesin-mesin adalah "Rakhmat-Tuhan" dan salah-satu hatsilnya evolusi pergaulan hi­dup yang tinggi harganya. Mesin-mesin itu tidak bersalah, melainkan stelsel-produksi yang memperusahakannya!

En tokh, … bagaimana juga bencinya Gandhi kepada mesin­mesin, bagaimana juga bencinya Gandhi kepada mechanisme dan industrialisme, justru kaum industrilah yang paling keras menyokong pergerakannya, justru kaum industrilah yang terutama sekali menjadi motornya pergerakan swadeshi itu s) Kaum industri itulah yang menjadi "gemuk" karena tidak lakunya barang Inggeris. Barang-barang bikinan industri sendiri, barang-barang keluaran Bombay atau Jamsheedpore, yang selamanya mendapat persaingan long begitu haibat dari barang­-barang keluaran Inggeris, – barang-barangnya kaum industri India itu oleh adanya pergerakan swadeshi lantas menjadi laku seperti kuweh. Dan di sampingnya kaum industri itu maka kaum tani di desa-desalah yang terutama sekali menjadi pengikut Gandhi yang setia. 4 ) Teriakan "Gandhi kidzjai, Gandhi kidzjai!" kita dengar di dalam gubug-gubug sederhana di dusun-dusun, Gandhi punya filsafat sosial yang mistik, yang memandang sebagai ideal: suatu pergaulan hidup tani-tani-kecil dan tukang-tukang-kecil seperti di zaman purbakala, – Gandhi punya filsafat sosial itu adalah cocok dengan ideologinya kaum tani di dusun-dusun itu.

Dalam pada itu, maka keadaan kaum buruh yang bekerja pada industri Bumiputera itu adalah mengingatkan kita kepada keadaan kaum buruh Lawean atau Lasem di Indonesia sini. Pergerakan kaum buruh di India memang makin lama makin menjadi pesat. Pergerakan kaum buruh itu adalah ikut bekerja keras bagi India-Merdeka, tetapi ia memusuhi juga kapitalisme bangsa sendiri.

Ia memang suatu koreksi yang seharusnya bagi pergaulan hidup yang tak adil, yang bersendi

Bandingkanlah: R o y, K o c h kepada pengambilannya meerwaarde oleh "kaum atasan", dan kemelaratan atau Verelendungnya "kaum bawahan". Ia adalah suatu peringatan bagi kita, bahwa bukan tiap-tiap seru "nasionalisme" adalah mencari kesela­matannya seluruh Rakyat!"

1) Pada Fillöp Miller, Lenin and Gandhi.

2) Pada R o m a i n Rolland, Mahatma Gandhi.

3) Bandingkan: Roy, Koch, S a r k a r, etc.

Apakah pelajaran yang kita ambil daripada uraian di muka ini? Pelajaran yang kita ambil ialah, bahwa semboyan perjoangan "dengan swadeshi merebut kemerdekaan!" di tepi-tepinya sungai Indus dan Gangga adalah suatu semboyan yang berisi shakti yang nyata, suatu semboyan yang berisi tenaga yang haibat, suatu semboyan yang berisi rieele macht. Semboyan itu jikalau didengung-dengungkan lebih haibat lagi dan meng­getarkan lebih haibat lagi angkasa Hindustan, bisa menjadi angin-taufan yang menyapu tiap-tiap impornya Albion. Dengan tenaga semboyan itu maka pergerakan India bisa menjadi bertenaga guntur yang meremuk­kan imperialisme Inggeris. Dengan tenaga semboyan itu India-Inggeris bisa menjadi India-Merdeka.

Mengapa swadeshi itu tidak bisa dipakai sebagai senjata yang terpenting untuk mendatangkan Indonesia-Merdeka, akan saya uraikan lebih lanjut.

IMPERIALISME DI INDONESIA

Dalam karangan saya yang lalu, sudah saya terangkan dengan seterang­-terangnya, bahwa pergerakan swadeshi itu buat India adalah suatu pergerakan yang mempunyai shakti yang nyata, suatu pergerakan yang mem­punyai tenaga yang haibat, suatu pergerakan yang mempunyai rieele macht akni oleh karena imperialisme Inggeris di India bisa gugur terkena ulu-hatinya oleh pergerakan swadeshi itu.

Bagaimanakah sekarang pergerakan swadeshi itu buat Indonesia, – berapa jauh akibatnya, berapa jauh tenaganya? Pergerakan swadeshi buat Indonesia tidaklah sama-akibat, tidaklah sama-tenaga, tidaklah sama­ kekuasaan dengan pergerakan swadeshi di tepi-tepinya sungai Indus dan Gangga. Pergerakan swadeshi itu buat Indonesia adalah ditetapkan "harga"-nya oleh "warna" imperialisme yang ada di Indonesia, sebagai­mana pergerakan swadeshi itu buat India adalah ditetapkan pula "harga"- nya oleh "warna" imperialisme yang ada di India. Pergerakan swadeshi itu buat Indonesia, walaupun antara batas-batas yang tertentu pantas men­dapat sokongan tiap-tiap nationalis Indonesia, tidaklah sebagai di India boleh dipakai di dalam semboyan "dengan swadeshi merebut kemerdekaan", yakni tidak boleh dipakai sebagai senjata yang terpenting untuk mengejar Indonesia-Merdeka.

1) Untuk mempelajari nasib kaum buruh di India, ba c alah: F u r t w a n g 1 e r, Das werktdtige Indtien, suatu buku y ang sangat gedocumenteerd

Sebab imperialisme yang ada di Indonesia adalah berlainan "warna"- nya dengan imperialisme yang ada di India. Sedang imperialisme Inggeris yang mengaut-aut kekayaan India adalah imperialisme yang dilahirkan oleh suatu mechanische dan industrieele revolutie, sedang imperialisme Inggeris itu adalah imperialisme yang semi-liberaal, sedang imperialisme Inggeris itu tidak membunuh-bunuh sama-sekali semua "kutu-kutu" Rakyat India, maka imperialisme yang ada di Indonesia adalah suatu imperialisme yang timbulnya bukan karena suatu mechanische dan indus­trieele revolutie, – suatu imperialisme yang oleh karenanya anti-liberaal, suatu imperialisme "kuno", suatu imperialisme "orthodox" yang senantiasa berusaha membunuh tiap-tiap "kutu" Rakyat Indonesia adanya.

Tatkala dunia belum "kenal-kenal-acan" akan mechanische dan industrieele revolutie, tatkala dunia masih "kuno", maka imperialisme Belanda sudahlah mulai menunjukkan kegiatan yang besar sekali: kera­jaan-kerajaan di kepulauan Maluku, kerajaan Makasar, kerajaan Banten, kerajaan Mataram,- semua kerajaan itu sudahlah merasakan indung-indungnya tangan "beschaving en orde-en-rust" Belanda s e b e l u m John Bull, karena mechanische dan industrieele revolutienya, kena penyakit ingin "menyopankan"

seluruh Hindustan. Tatkala Albion baru menduduki Fort St. George, Fort William, Bombay dan lain-lain sahaja, maka setengah tanah Jawa sudahlah menjadi tanah kompenii ) .

Memang imperialisme Belanda bukanlah anaknya suatu mechanische dan industrieele revolutie. Memang negeri Belanda tidak pernah menga­lamkan suatu mechanische dan industrieele revolutie. Memang negeri Belanda tak akan kenal suatu mechanische dan industrieele revolutie.

Sebab masyarakat Belanda bukanlah suatu masyarakat yang mem­punyai syarat-syarat untuk hidup-suburnya modern industrialisme. Masya­rakat Belanda adalah suatu masyarakat yang melarat akan basis-grondstof­fen, suatu masyarakat yang tiada tambang-tambang besi, suatu masyarakat yang kurang arang-batu, suatu masyarakat yang terlalu "bloedarm" untuk bisa menjadi suatu masyarakat yang liberaal-industrialistisch. Kota-kota sebagai Leeds, sebagai Birmingham, sebagai Manchester, tidaklah ada di negeri Belanda itu, – ya, kota-kota yang semacam itu tidak akan bisa ada di negeri Belanda itu.

Imperialisme Belanda dilahirkan oleh suatu masyarakat yang "ouder­wets" dan yang selamanya akan tetap tinggal "ouderwets" di dalam segala‑ galanya. Imperialisme Belanda itu dilahirkan dan diteruskan hidupnya oleh suatu masyarakat yang selamanya akan tinggal

"bau-bau kiju dan mentega". Herankah kita, kalau imperialisme yang demikian ini, juga di dalam "warna"-nya ada berupa "ouderwets" dan orthodox, berlainan se­kali dengan imperialisme Inggeris di Hindustan yang di dalam banyak hal­-hal menunjukkan sikap modern-liberalisme? Herankah kita, kalau impe­rialisme Belanda ini di dalam hakekat yang sedalam-dalamnya tak pernah kenal akan ajaran-ajarannya modern-liberalisme itu, yakni kemerdeka­an dalam beberapa hal, mitsalnya "vrij arbeid, vrij concurrentie, vrij beroepen, vrij contracten", dan lain-lain sebagainja? Herankah kita, kalau imperialisme Belanda itu pada hakekatnya selamanya a d a l a h monopolistis? Di dalam zaman Compagnie ia mono­polistis, di dalam zaman na-compagnie ia monopolistis, di dalam zaman cul­tuurstelsel ia monopolistis, di dalam zaman "modern-imperialisme" ia masih juga monopolistis!

1) Lihatlah: Colenbrander, Koloniale Geschiedenis, II; V e t h, Java, I dan II; Raffles, History of Java; v.d. L i t h, Nederl. Indie, dll.

"Sesudah Oost-Indische-Compagnie pada kira-kira tahun 1800 mati", – begitulah saya menulis dalam saya punya buku-pleidooi,- "sesudah Oost­Indische-Compagnie pada kira-kira tahun 1800 mati, maka tidak ikut ma­tilah stelselnya monopolie, tidak ikut matilah stelselnya mengaut-aut untung yang bersendi pada paksaan. Malahan, … sesudah tahun-tahun 1800­1830; sesudah habis zaman "tergoyang-goyang" antara ideologie-tua dan ideologie-baru, sebagai yang disebar-sebarkan oleh revolusi Perancis; se­sudah habis "tijdvak van de twijfel" ini maka datanglah stelsel kerja­paksa yang lebih kejam lagi, lebih mengungkung lagi, lebih memutuskan nafas lagi, – yakni stelsel kerja-paksa daripada cultuurstelsel, yang sebagai cambuk jatuh di atas pundak dan belakangnya rakyat kita !" 1)

Dan juga di zaman sekarang, di dalam abad keduapuluh, di dalam zaman "kesopanan", di mana imperialisme di Indonesia itu tidak lagi bernama imperialisme-tua tetapi ialah imperialisme-modern, – juga di zaman se­karang ini, maka pada hakekatnya politik monopoli itu belumlah dilepaskan oleh imperialisme Belanda itu. Juga di dalam zaman sekarang ini, maka masih banyaklah monopoli dari zaman Compagnie yang masih terus hidup. Dan di sampingnya "monopoli-kuno" itu, maka modern-imperialisme Be­landa itu adalah "modern-monopolistis" di dalam hampir semua econo­mische politiek-nya.

Kita melihat monopoli, jikalau kita mempelajari benar-benar rintangan -rintangan yang orang adakan pada perusahaan-karet Bumiputera, yang melulu berarti suatu penindasan perusahaan-karet Bumi­putera itu, agar supaya perusahaan-karet asing bisa menggagahi semua pasar. Kita melihat monopoli, jikalau kita menyelidiki benar-benar kesukaran-kesukaran yang orang adakan bagi vennootschap Bumiputera, dengan macam-macam alasan ini dan itu, yang merintangi suburnya per­dagangan fihak Bumiputera itu. Kita melihat monopoli, kalau kita per­hatikan benar-benar, bagaimana, sebagai nanti saya uraikan lebih lanjut, imperialisme asing itu merendah-rendahkan dan memadam-madamkan productiviteit Rakyat Bumiputera dan masyarakat Bumiputera, agar supaya ia bisa memegang kecakrawartian sendiri dan bisa membikin untung yang besar.

1) Ka c a 34.

Dan imperialisme yang ada di Indonesia itu, sebagai yang telah sering sekali saya terangkan di mana-mana, kini sudahlah menjadi raksasa yang makin lama makin bertambah tangan dan kepalanya. Imperialisme-tua yang dulunya terutama hanya sistim mengangkuti bekal-bekal-hidup saha­ja, imperialisme-tua yang dulunya terutama hanya membikin Indonesia menjadi levensmiddelengebied sahaja, – imperialisme-tua itu kini su­dahlah … menjelma menjadi-imperialisme-modern yang empat ma­cam saktinya: pertama Indonesia tetap jadi levensmiddelengebied, kedua Indonesia menjadi afzetgebied, ketiga Indonesia menjadi grond­stoffengebied, keempat Indonesia menjadi exploitatiegebied daripada buitenlands surplus-kapitaal. Dan di dalam keempat shakti ini, maka imperialisme-modern itu sudahlah menjadi imperialisme yang campuran. Bukan modal Belanda sahaja, yang kini mengaut-aut kekayaan Rakyat Indonesia dan negeri Indonesia. Bukan modal Belanda sahaja yang kini berpesta di kalangan Rakyat Indonesia dan berdansa di atas bumi-Indonesia. Yang kini mengaut-aut kekayaan kita ialah, sejak adanya opendeur-poli­tiek, juga modal Inggeris, juga modal Amerika, juga modal Perancis-Belgia, juga modal Jepang, juga modal Jerman, juga modal Swis, – pendek-kata suatu imperialisme internasional yang bermilyar-milyar rupiah jumlah

dan tenaganya. 1)

Tetapi "warna" imperialisme yang ada di Indonesia, "warna" yang begitu perlu kita ketahui agar kita bisa mengukur tenaga pergerakan swadeshi untuk Indonesia, – bagaimanakah "warna" imperialisme itu? Warna im­perialisme di Indonesia bisalah kita tetapkan dengan angka-angka yang kita sajikan di bawah ini, angka-angka daripada . . . besarnya impor dan ekspor buat tahun-tahun 1920-1930 2) .

Buat tahun 1920 impor f. 1.116.213.000 ekspor f.2.224.999.000

1924 f. 678.268.000 f. 1.530.606.000

1925 f. 818.372.000 f. 1.784.798.000

1926 f. 865.304.000 f. 1.568.393.000

1927 f. 871.732.000 f. 1.624.975.000

1928 f. 969.988.000 f. 1.580.043.000

1929 f. 1.072.139.000 f. 1.446.181.000

1930 f. 855.527.000 f. 1.159.601.000

1) Lihatlah: D r. R. E. Smits, De beteekenis van Nederl. I ndie uit internationaal­ economisch oogpunt.

2) Bandingkan: Statistisch jaaroverzicht Nederl. Indie, tahun 1928, tahun 1929, tahun 1930 dan tahun 1931.

Dengan angka-angka ini maka ternyatalah dengan seterang-terangnya, bahwa imperialisme di Indonesia itu terutama sekali ialah imperialisme yang mengekspor, suatu imperialisme yang menunjukkan export-excedent yang sangat besar, suatu imperialisme yang di dalam masa yang normal rata-rata dua kali jumlah harganya kekayaan yang ia angkuti keluar dari­pada yang ia masukkan kedalam. Dengan angka-angka ini maka ternya­talah bahwa "warna" imperialisme di Indonesia itu ada berlainan sekali daripada "warna" imperialisme Inggeris di Hindustan, yang jumlahnya impor dan ekspor rata-rata boleh dikatakan sama besarnya." Dengan angka-angka ini, maka ternyatalah dengan seterang-terangnya, bahwa, se­bagai nanti akan saya terangkan lebih jelas, pergerakan nasional Indo­nesia dus tak boleh sama taktiknya dengan pergerakan di Hindustan adanya.

Rata-rata dua kali gandanya ekspor daripada impor!, bahwasanya memang suatu perbandingan yang celaka sekali, suatu perbandingan yang memang memegang record daripada semua imperialistische drainage yang ada di seluruh muka bumi! Indonesia yang celaka! Sedang perbandingan­nya ekspor: impor di negeri-negeri jajahan yang lain-lain ada "mendingan" sedang perbandingan itu di dalam tahun 1924

buat Siam adalah 108,9/100

buat Afrika Selatan 118,7/100

buat Philippina 123,1/100

buat India 123,3/100

buat Argentinia 124,7/100

buat Mesir 129,9/100

buat Ceylon 132,8/100

buat Chili 175,4/100

maka perbandingan itu buat Indonesia menjadilah yang paling c elaka, yakni 220,4% 2) . Dua ratus dua puluh komma empat prosen besarnya ekspor dibandingkan dengan impor! Herankah kita, bahwa seorang statisticus sebagai Prof. van Gelderen sia-sia mencari angka yang lebih tinggi, dan berkata bahwa "kalau kita bandingkan angka-angka di Hindia dengan angka-angka negeri lain, maka ternyatalah, bahwa tidak ada

1) Aflevering dart Statement moral and material progress of India.

2) Publicatie Volkenbond: Memorandum on balance of payments and foreign trade balance 1911-1925, Geneve 1926, pada Van Gelder e n, Voorlezing, p. 103.

satu negeri di muka bumi yang procentage uitvoeroverschotnya begitu tinggi seperti Hindia Belanda". 1) Herankah kita, bahwa seorang Komunis C. Santin, yang tokh biasa melihat angka-angka yang kejam, menyebutkan imperialisme di Indonesia itu suatu imperialisme yang "terrible", yakni suatu imperialisme yang mendirikan bulu roma. 2)

Dua ratus dua puluh komma empat prosen besarnya ekspor, apakah yang diekspor itu? Yang diekspor ialah terutama sekali hatsil cultures dan minyak. Yang diekspor ialah terutama sekali gula, karet, tembakau, teh, petroleum, bensin, dan lain sebagainya, yang menurut angka-angka di atas tahadi semua totalnya di dalam zaman "normal" adalah paling "apes" f. 1.500.000.000.

Yang diekspor itu di bawah ini saya berikan percontohan, – dari tahun

1927. 8)

Hatsil-hatsil minjak-tanah total f. 149.916.000

Arachides f. 4.335.000

Karet f. 417.055.000

Damar f. 9.911.000

Copra f. 73.083.000

Gambir f. 1.194.000

Getah-Pertja f. 1.895.000

Djelutung f. 2.073.000

Topi f. 2.405.000

Kaju f. 9.106.000

Kulit f. 16.067.000

Babakan kina f. 5.454.000

Kina (kinine) f. 1.821.000

Hopi f. 74.376.000

Djagung f. 4.033.000

Kain-kain f. 5.425.000

Minjak-minjak (dari tanaman) total f. 14.766.000

Pinang f. 7.307.000

Rotan f. 8.521.000

Beras f. 2.373.000

Rempah-rempah total f. 33.409.000

Spiritus f. 3.125.000

Arang-batu f. 5.019.000

Gula total f. 365.310.000

1) Voorlezingen, p. 105.

2) Eastern and Colonial, No. 8.

3) Statistisch Jaaroverzicht, 1928

Tembakau total f. 113.926.000

Tepung ketela f. 21.423.000

Teh f. 90.220.000

Tin total f. 93.864.000

Bungkil f. 4.132.000

Kapuk, serat nanas, d.1.1. f. 38.250.000