The Adventures of Prince Lazybones, and Other Stories
Chapter 2
Ia bisalah terjadi di negeri Inggeris, oleh karena negeri Inggeris itu adalah suatu negeri yang memang sempat atau tepat untuk suatu mechanische dan industrieele revolutie. Negeri Inggeris adalah suatu negeri dengan banyak syarat-syarat, suatu negeri dengan banyak tambang-tambang, banyak arang-batu, banyak tambang-besi, – suatu negeri yang penuh basisgrondstoffen untuk subur-hidupnya mechanisme dan industrialisme itu. Basisgrondstoffen inilah syarat-syaratnya tiap-tiap mechanisme dan industrialisme yang besar, basisgrondstoffen inilah yang membikin b i a s a n y a mechanisme dan industrialisme itu menjadi subur. Albion yang mempunyai daerah basisgrondstoffen sebagai Zuid Wales, pegunungan Peak, tanah ngarai Schot, Middlesborough. Pegunungan Cumbris dan lain-lain,
di mana kekayaan ibu-bumi tersedia tinggal mengautnya dan mengeduknya sahaja,- Albion itu sepantasnyalah menjadi negeri
di mana bendera mechanisme dan industrialisme itu berkibar-kibar. Albion itu pula yang pada waktu itu melahirkan putera-putera ingenieur pembikin uitvindingen atau pendapatan-pendapatan baru. Newcomen yang mula-mula membikin mesin-uap, James Watt yang menyempurnakan mesin-uap itu, Arkwright yang membikin mesin-tenun yang pertama, ingenieur-ingenieur ini semua adalah Albion-putera adanya.
Hatsilnya mechanisme dan industrialisme itu? Hatsilnya ialah,
sebagai saya tuliskan di muka, tambah-besarnya kemampuan produksi Inggeris. Pembikinan-barang dengan sedikit-per-sedikit
secara stelsel huis-industrie yang sediakala pembikinan-barang secara "beperkte waren-productie" itu, – pembikinan-barang itu kini menjadi pembikinan-barang sebanyak-banyaknya, yakni pembikinan-barang secara "massa-waren-productie".
1) Buat bedan y a makna dua perkataan itu, lihatlah: H. G. Wells, The Outline of History.
Pasar-penjualan yang dulu cukup di negeri Inggeris sendiri segera menjadi terlampau sempit, pasar-penjualan itu perlu sekali dibuka pula di luar pagar-pagar sendiri: Proses "sesak-napas" mulai
b e r j a l a n, modern-imperialisme mulai bekerja. 1) Inilah sebabnya, rnengapa Albion, yang dulu hanya menduduki beberapa tempat sahaja di Hindustan, yang dulu hanya puas bersarang di Fort St. George, Fort William, Bombay dan lain-lain sahaja, yang dulu seolah-olah tak mempunyai keinginan sama-sekali menaklukkan daerah-daerah di India-dalam, – lalu seolah-olah dengan sekonyong-konyong kejangkitan penyakit ingin menyebarkan "beschaving", peradaban dan "orde-en-rust", tertib dan damai di seluruh benua Hindustan yang luas itu: seolah-olah penyakit "ingin menyebarkan beschaving dan orde-en-rust" itu menjadi penyakit demam, sebagai seorang yang keranjingan syaitan, sebagai raksasa yang tiwikrama, maka bergeraklah ia ke kanan dan ke kiri, melancarkan tangan ke kanan dan ke kiri, "kiprah" ke kanan dan ke kiri. Benggala diambil, Benares diduduki, Karnatik ditaklukkan, Orissa ditundukkan, … bagian-bagian dari Mysore, kemudian Dekkan, kemudian propinsi Bombay yang sekarang, kemudian tiap-tiap pelosok India yang belum merasakan lezatnya "beschaving" beserta "orde-en-rust" made in Great Britain! Dan bukan di Hindustan sahaja politik menyebar "beschaving" dan "orde-en-rust" ini dijalankan!
Juga di luar Hindustan itu udara menjadi menggetar mendengarkan dengungnya nyanyian imperialisme Inggeris "Rule Britannia,
Rule the waves!" …
Dan modern-imperialisme Inggeris ini, sebagaimana orang gampang bisa yakinkan daripada saya punya uraian tahadi, adalah di dalam tingkatnya yang pertama-tama, suatu imperialisme yang membawa barang-perdagangan alias waren keluar Inggeris, suatu imperialisme yang mencari pasar penjualan bagi barang-barang itu, suatu handels-imperialisme yang mencari afzet. Memang karena suksesnya imperialisme ini muka bumi lantas seolah-olah terlanda suatu banjir barang-barang bikinan Inggeris. Memang karena suksesnya imperialisme ini negeri Inggeris lantas mendapat nama "bengkel bagi dunia", "the workshop of the world". Pisau-pisau, gunting-gunting, palu-palu, mesin-mesin, tricot-tricot, kain-kain … di mana-mana orang jumpai barang-barang itu, di mana-mana orang baca cap "Made in Great Britain" 2) .
1) Lihatlah: K a u t s k y, dll. dibuka tahadi.
2) Di dalam abad y ang keduapuluh Albion mendapat persaingan besar dari satu negeri lain y ang juga penuh dengan basisgrondstoffen, y ang dus geschikt juga bagi mechanisme dan industrialisme, y akni Germany. "Made in Great Britain" disaingi oleh "Made in Germany". Bandingkanlah:
M. P a v lo w i t c h, The Foundations of Imperialist Policy.
D r. B a r s t r a, Geschiedenis v. h. modern-imperialisme.
"Made in Great Britain" – itulah yang terutama sekali menjadi nyanyiannya John Bull sambil berjalan-jalan di kanan-kiri sungai Indus dan Gangga. "Made in Great Britain" menjadi anasir yang ia tuliskan di atas panji-panji yang ia tanamkan di seluruh Hindustan, "Made in Great Britain" menjadi dasarnya "usaha-kemanusiaan" mendatangkan "Beschaving dan orde-en-rust" di kota-kota dan di desa-desa di sebelah selatan gunung Himalaya.
Tetapi, di situ sendiri sejak zaman kuno sudah ada suatu industri Bumiputera yang subur, yang produksinya malahan sampai orang dagangkan keluar Hindustan juga ! 1)
1) Besant, India bond of free. Ranganathan, Indian village as it is. Di dalam abad ketujuhbelas Compagnie Belanda sudah banyak dagangkan banyak barang Hindustan itu di Indonesia sins, mitsalnya "kain Madras", dll. Lihatlah: Colenbrander, Koloniale Geschiedenis, deel III. G. P. R o u f f a e r, Voornaamste Industrieen. Vet h, Java, I dan II. R a f f 1 e s, History of Java.
Apa yang John Bull perbuat? John Bull menjalankan ajaran moral
ia punya "beschaving" dan ia punya "orde-en-rust": Ia mengadakan beberapa peraturan yang menghalang-halangi suburnya industri Bumiputera itu, – merintang-rintangi, memadam-madamkan, membinasakan industri Bumiputera itu. Ia mengadakan invoerrecht (bea masuk) yang tinggi bagi barang-barang India yang mau masuk ke Inggeris, tetapi invoerrecht yang rendah bagi barang-barang Inggeris yang mau masuk ke Hindustan. Ia mengadakan aturan-aturan pajak yang mencekek lehernya industri-kain di Hindustan itu, aturan pajak yang menutup nafasnya tiap-tiap concurrentie dari fihaknya industri Bumiputera itu. 2) Begitu besar ia punya sukses di dalam kerja "beschaving" dan "orde-en-rust" ini, sehingga sebelum tahun 1850, industri Hindustan itu menjadi binasa sama-sekali oleh karenanya!
2) Lihatlah: Pr. Banerje e, A study of Indian economies (p. 95). D M G. Koch, Herleving etc. B. K. Sarkar, di dalam Indian in der modernen Weltwirtschaft and Weltpolitik. Lajpat Rai, Unhappy India. Romesh Dutt, Econ. history of India under early British rule. Hyndman, The bankruptcy of India. Besant, India bond of free. Ranganathan, Indian village as it is, dll.
Dan bukan sahaja membinasakan sama-sekali industri Bumiputera itu, sehingga Hindustan bisa menjadi afzetgebied yang sempurna! Ia juga mengusahakan Hindustan itu menjadi salah satu negeri tempat-pengambilan bekal bagi industri tekstil Inggeris, yakni tempat-pengambilan ruw katoen atau kapas-kasar, sutera-kasar, wol-kasar, dan lain-lain bakal. Ia membikin Hindustan itu menjadi afzetgebiednya yang nomor satu, tetapi juga salah-satu daripada grondstoffengebied-nya yang penting. Ia menjalankan teorinya Thomas Bazle, ketua Kamer van Koophandel di Manchester, yang berkata:
"In Indie is er een grondgebied van enorme uitgestrektheid, en de bevolking ervan zou Engelse manufacturen in geweldige hoeveelheden kunnen gebruiken. De vraag met betrekking tot onzen handel op India, is eenvoudig of zij ons betalen kan met de gewassen die ze teelt, voor hetgeen wij bereid zijn haar aan industrieproducten to leveren."
Rakyat India yang celaka! Industrinya padam sama-sekali, dan ruw katunnya dipaksakan menjual dengan harga yang rendah-rendah. Industrinya padam, sehingga beribu-ribu kaum pertukangan lantas menjadi kehilangan pencarian hidupnya, dan lantas mencoba menyambung nyawanya dengan masuk ke dalam pertanian. Ke dalam pertanian yang hatsilnya ruw katoen begitu rendah harganya, ke dalam pertanian yang sudah begitu penuh-sesak dengan wong-tani yang sempit hidup, ke dalam pertanian yang belastingnya kadang-kadang sampai 80 a 90 prosen tingginya! 1) Ke dalam pertanian, yang oleh karena itu, makin lama makin menjadi kocar-kacir, makin lama makin tak cukup manfaat memberikan sesuap nasi. Rakyat India yang celaka! Herankah kita, kalau matinya industri dan kocar‑ kacirnya pertanian yang demikian ini lalu menjadi sebabnya India itu saban-saban kali kejangkitan oleh bahaya kekurangan makan, yakni kejangkitan bahaya-kelaparan, kejangkitan oleh "paceklik", kejangkitan oleh "famines" yang saban-saban kali menyapu jiwanya berpuluhan juta manusia, dan yang mendirikan bulunya seluruh dunia. 2) En tokh, … imperialisme Inggeris membawa juga pengaruh lainnya pada masyarakat India. Imperialisme Inggeris di Hindustan yang terutama sekali datang dengan barang-dagangan dari "workshop of the world" itu, imperialisme Inggeris yang terutama sekali handels-imperialiame yang mencari afzet, imperialisme Inggeris itu mempunyai kepentingan atau b e l a n g supaya Rakyat India itu tidak melarat-melarat sekali. Ia butuh kepada suatu Rakyat yang ada daya-beli sedikit-sedikit, suatu Rakyat yang bisa membeli apa-apa yang ia dagangkan. Ia butuh kepada suatu masyarakat yang kenal akan kebutuhan, suatu masyarakat yang kenal akan behoeften. Ia butuh pula kepada suatu k e 1 a s –
p e r t e n g a h a n yang menjadi jembatan antara dia dengan Rakyat-jelata yang ia dagangi barang-barangnya itu, – suatu middenst and yang menjadi intermediair antara dia dengan pembeli yang jutaan itu. Ia, imperialisme Inggeris di Hindustan itu, ia oleh karena itu, memang lekas sekali mengadakan onderwijs sedikit-sedikit, oleh karena ia mengetahui, bahwa onderwijs adalah menambah kebutuhan-kebutuhan Rakyat.
1) Lihatlah: Koch, Lajpat Rai, dll.
2) Lihatlah: V a u g ha n Nash, The great Famine. R o m e s h D u t t, Famines and Land-Assessments in India.
Ia terutama sekali memang lekas mengadakan sedikit onderwijs yang utilistisch bagi kaum middenstand India, – mengadakan colleges, mengadakan high-schools, mengadakan universities, membangunkan golongan intelek, agar supaya kaum pertengahan dan intelek itu cakap menjalankan kerja-intermediair yang sangat perlu itu. 1) Ia pendek-kata tidaklah sangat-sangat sekali "membunuh kutu-kutunya" Rakyat India, dan terutama sekali tidaklah sangat-sangat sekali "membunuh kutu-kutunya" middenstand India, yang ia butuh perantaraannya itu. Golongan menengah yang menjadi saingan baginya adalah ia punya musuh, – karena itulah ia bunuh industri Bumiputera! tetapi golongan menengah yang bekerja bersama-sama dengan dia, middenstand yang menjadi intermediair, middenstand yang afhankelijk daripadanya, adalah ia punya sahabat.
Inilah sifatnya dan perangainya imperialisme Inggeris di Hindustan itu: suatu sifat-perangai yang selamanya "tergoyang-goyang", suatu sifat perangai yang "terlenggang-lenggang", suatu sifat-perangai yang "s l i n g e r e n d" antara dua ujung. Satu ujung ialah ujungnya "grondstofgebied" yang ingin membeli kapas-kapas dan lain sebagainya dengan murah dan yang dua menekan "kutunya" masyarakat India itu, satu ujung lagi ialah ujungnya "afzetgebied" yang ingin menjual barang-barang Inggeris dengan mahal, – ujung yang menjaga supaya "kutu" itu jangan mati-mati sekali dan supaya middenstand-intermediair tetap ada.
Middenstand-intermediair! Sedikitlah Albion mengerti, bahwa middenstand ini nanti akan menghidupkan lagi shaktinya persaingan. Sedikitlah Albion mengerti, bahwa "kutu middenstand" yang ia tidak bunuh-sama-sekali, nanti akan hidup lagi menjadi kutu yang besar yang bisa menggigit kepadanya. Golongan intelek atau kelas kaum terpelajar yang ia bangunkan sendiri itu, intellectuelendom yang ia paberikkan di dalam ia punya colleges, di dalam ia punya high-schools, di dalam ia punya universities, – intellectuelendom itu nanti menjadilah salah satu motor yang penting
di dalam proces-hidup-lagi atau proces renaissance daripada golongan menengah itu. Dasar memang turunan kaum industri, dasar memang turunan kaum yang "berkutu", dasar memang "kutu" itu tidak sangat-sangat sekali terbunuh, maka, walaupun sudah tahun 1850 industri Bumiputera binasa sama-sekali, di dalam tahun 1851 didirikan lagilah paberik-kain yang pertama di kota Bombay. Dasar memang industri Bumiputera itu cukup segala syarat-syaratnya, maka segeralah ia subur di segala cabang-cabangnya. Terutama tatkala di dalam perang besar 1914-1918 impor dari Inggeris menjadi tipis, maka ia mendapat impetus yang tak dikenalkan sedia-kalanya. Industri tekstil Bumiputera yang memang sediakala industri yang termuka, majulah dengan pesat, industri tekstil itu di dalam tahun 1891 sudah mempunyai 127 paberik, di dalam tahun 1901 sudah mempunyai 152 paberik, di dalam tahun 1911 sudah 234 paberik,l ) di dalam tahun 1927 sudah 336 paberik, dengan 8.700.000 spindel dan 162.000 weefspoel ! 2)
1) Macaulay berkata: "The simple question is, what is the most useful."
Dan bukan industri tekstil sahaja! Industri yang lain-lainpun seolah-olah mendapat wahyu-baru dan tenaga-baru. Di atas lapang industri yang lain-lainpun, mitsalnya industri-listrik, industri-goni, industri-gula, industri-gelas, industri-besi, sebagai kepunyaannya famili Tata di Jamshudpore, – di atas lapang industri yang lain-lainpun, maka energi golongan menengah Bumiputera menjadi haibat. 8 Kaum imperialis Inggeris menjadi geger. Terutama kaum kapitalis tekstil tak terhingga marahnya. Mereka memaksa kepada pemerintah Inggeris untuk menghapuskan sama-sekali bea impor yang tokh sudah rendah itu, yang mereka harus bayar kalau mereka memasukkan barang-dagangannya di India. Mereka memaksa pemerintah mengadakan bea di India yang mengenai kain-kain bikinan India! Mereka tentu tak sia-sia berteriak sebagai orang di tengah lautan pasir, mereka tentu dituruti kemauannya!
Perhatikanlah pembaca! Untuk menekan saingan yang keluar dari fihak industri-kain di India, maka kain bikinan India itu di India sendiri dikenakan pajak sehingga terpaksa menjadi m a h a l ! "Een dergelijke belasting is nooit in eenig beschaafd land geheven!", – begitulah Koch berkata. 4)
Tetapi kekuatan-kekuatan masyarakat tak gampang direm semaumaunya. Kekuatan masyarakat India itu memang menuju kepada industrialisasi. Pada zaman sekarang, Hindustan sudah menjadi negeri industri yang k e d e l a p a n di seluruh dunia, dan malahan Prof. Sarkar mengatakan sudah menjadi negeri-industri yang pertama di seluruh dunia-panas 5) . Pada zaman sekarang, saingan daripada industri India tak dapatlah ditundukkan lagi oleh Albion, walaupun bagaimana juga Albion mencoba menundukkannya!
1) Bandingkanlah: Koch, HerZeving. Freundlich, Nijverheid in Br. Indie.
2) Lihatlah: S a r k a r, di dalam Indien in der modernen Weltwirtschaft and Weltpolitik.
3) Bandingkanlah: Fr eundlic h, Nijverheid in Br. Indid.
4) Herleving.
5) S a r k a r, t.a.p. Rupa-rupan y a Prof. Sarkar tidak menghitung negeri J erman masuk negeri-panas itu.
En tokh aneh sekali: sifat imperialisme Inggeris yang "slingerend" itu tahadi, yang tergoyang-goyang antara dua ujung, sifat-perangai yang demikian itu masih sahaja kita jumpai kembali, sekalipun dengan rupa yang baru. Nafsu imperialisme Inggeris untuk memadamkan industri Hindustan itu niscaya tetap ada, nafsu perdagangan Inggeris untuk membunuh tiap-tiap saingan India itu niscaya tetap menyala, tetapi adalah kepentingan Inggeris pula yang melarang matinya industri Bumiputera itu. Kepentingan ini ialah kepentingan militer atau strategi. Kepentingan militer itu mempunyai b e l a n g atas adanya industri yang cukup-besar di Hindustan, yang ia boleh pakai sebagai "Schlussel-industrie" di masa perang yang akan datang. Kepentingan militer itu adalah menuntut, yang India itu harus bisa siap dipakai sebagai basis bagi operasi-operasi perang di Asia-Barat, Asia-Tengah dan Asia-Timur. 1) Kepentingan muter itulah yang menjadi salah-satu ujungnya sifat-perangai imperialisme Inggeris di Hindustan. Satu ujung ingin membunuh industri Bumiputera, satu ujung lagi menjaga hidupnja industri Bumiputera itu! Satu ujung menjadi musuh, satu ujung lagi menjadi "sahabat". Sesungguhnya benarlah perkataan Srinivasa Yengar, bahwa imperialisme Inggeris adalah imperialisme "banci"! 2)
Karena imperialisme yang "banci" itulah industri Bumiputera di Hindustan kini tidak begitu sukar untuk berdiri tegak kembali.
SWADESHI DAN SWARAJ
Tiap-tiap pergerakan Rakyat adalah "gambarnya" perbandingan-perbandingan di dalam masyarakat, jakni "gambar"-nya sociaal-economische verhoudingen, Pergerakan Rakyat India adalah gambarnya sociaal-economische verhoudingen pula. Pergerakan Rakyat India itu, sebagai juga pergerakan-pergerakan Rakyat di negeri Asia yang lain, adalah suatu reaksi atas imperialisme yang mengungkungnya. Ia bukanlah bikinannya salah-satu atau beberapa pemimpin "in een slapelozen nacht", – ia adalah bikinannya pergaulan hidup yang ingin mengobati diri sendiri. Ia bukanlah produknya idealisme sahaja,- ia adalah produknya kepentingan-kepentingan mentah di dalam masyarakat India sendiri. Ia, sebagai tiap-tiap pergerakan Rakyat di mana-mana, adalah terikat kepada sociaal-economische determinatie dan sociaal-economische praedestinatie.
Ia mulai berorganisasi di dalam tahun 1885, yakni di dalam All India National Congress. Congress ini mula-mula adalah suatu organisasi yang "lunak" sekali. Tetapi tatkala di antara tahun 1890 dan 1900 industri Bumiputera itu makin pesat dan makin subur, maka segeralah kita melihat aliran-aliran yang lebih radikal di dalam National Congress itu. Memang kaum pertengahanlah, kaum pertukangan, kaum saudagar, kaum "intermediair", kaum industri, yang lama sekali menjadi nyawanya pergerakan India itu. Memang National Congress itu di dalam hakekatnya adalah tempat perjoangan kaum perusahaan-India yang ingin merebut hak-hak yang perlu untuk suburnya ia punya perusahaan, ia punya perdagangan, ia punya industri. Memang aksinya National Congress itu lama sekali adalah berupa aksi yang terang-terangan untuk hak-hak kaum perusahaan itu. 1)
1) Putusan Esher Militaire Commissie, 1920. Bandingkanlah: S a r k a r.
2) Swarajya, 18 Juni 1928.
Hal ini kentara sekali di dalam sepak-terjangnya aliran-aliran di dalam Congress semenjak tahun 1880-1900. Ada aliran yang "lunak", ada aliran yang setengah-radikal, ada aliran yang radikal atau "extremist". Aliran yang "lunak" ialah alirannya kaum yang setuju dengan susunan dan azasnya pemerintah Inggeris, asal sahaja mereka mendapat tempat di dalamnya. Aliran yang setengah-radikal ialah alirannya kaum yang menuntut perobahan-perobahan di dalam susunannya pemerintahan di propinsi-propinsi, alirannya kaum saudagar dan kaum industri, yang (mitsalnya kaum industri goni) tak begitu menderita saingannya imperialisme Inggeris. Aliran yang radikal atau "extremist" ialah alirannya itu kaum industri Bumiputera yang sangat sekali merasakan saingannya imperialisme Inggeris, yakni alirannya itu kaum industri yang ingin mempengaruhi fiscale-politieknya pemerintah, terutama sekali politik pajak dan bea impor. Dan tiga macam aliran ini makin lama menjadi makin terang, makin lama makin tajam garis-garisnya, makin lama makin gedifferentieerd. Makin lama makin keraslah tiga aliran itu bertentangan satu sama lain, bermusuhan satu sama lain, bertabrakan satu sama lain. Dan akhirnya, di dalam tahun 1907 didalam rapatnya Congress dikota Surat, meletuslah perselisihan ini: kaum extremis di bawah pimpinannya Arvindo Ghosh dan Bal Gangadhar Tilak, memisahkan diri daripadanya! National Congress menjadi kubra, National Congress, itu simbulnya "persatuan bangsa" tak luputlah kena hukumnya sociaaleconomische determinatie, – National Congress itu menjadi terpecahbelah dan hancur-bawur-berantakan! Tetapi tiap-tiap imperialisme adalah daya-mempersatukan. Tiap-tiap imperialisme adalah pengaruh-menghubung. Tiap-tiap imperialisme adalah associatiet endenz.
Juga National Congress kemudian menjadi satu lagi!
1) Buat riwajatnja pergerakan India: K o c h, Herleving; D. N. Banerje e, India's Nation Builders!; A. B e s a n t, How India wrought for Freedom; Valintine C h i r o 1, Indian Unrest, India Old and New, The Occident and the Orient; Hans Kohn, Geschichte der Nationalen Bewegung im Orient; Hyndman, The awakening of Asia; R o m a i n Rolland, Mahatma Gandhi; etc. Etc
Dan tatkala perang-dunia membakar masyarakat Barat di antara tahun 1914 dan 1918, tatkala perhubungan Inggeris – India menjadi tipis, tatkala impor barang Inggeris ke India menjadi sangat kurangnya, maka semua tangga kaum perusahaan India diarahkan kepada kesempatan yang bagus ini untuk memperbesar industri-sendiri dan untuk merebut semua pasar India bagi barang-barang bikinan industri-sendiri. Tatkala itu maka kaum industri India adalah mengalami "hari emas" alias banyak untung atau gouden dagen! Tetapi sesudah perang-dunia itu habis, sesudah dewa Mars boleh lagi ke kayangan, maka Albion segeralah berusaha sekuat-kuatnya merebut kembali pasar India itu bagi keperluan industrinya yang sekian lamanya terpaksa "hidup megap-megap". Albion mulai lagi membombardir barricade-economie industri India dengan meriamnya impor barang-barang "Made in Great Britain".
Bende Mataram! Kaum perusahaan India, jang di dalam masa perang besar itu tahadi sudah bisa menguatkan kedudukannya, yang sudah bisa melebar-lebarkan lapang-usahanya di lingkungan pagar sendiri, yang sudah hampir-hampir bisa merebut hegemonie atau cakrawarti di negeri-sendiri, – kaum perusahaan India itu . niscaya lantas bercancut -tali-wanda melawan hantaman Albion tahadi: National Congress menjadi sengit lagi, aksi Mohandas Karamchand Gandhi menggetarkan udara India dari Calcutta sampai ke Bombay, dari Madras sampai ke Kasymir.
Apakah senjata yang dipakai oleh Rakyat Hindustan di dalam perjoangannya yang bertahun-tahun itu? Senjata yang dipakainya ialah politik: Satyagraha dan non kooperasi ekonomi; swadeshi. Tiga kali palu godam swadeshi itu ia hantamkan di atas punggungnya imperialisme Inggeris. Tiga kali api boikot barang-barang Inggeris dan api cinta barang-barang sendiri berkobar-kobar. Tiga kali Albion menderita, gemetar seluruh tubuhnya: pertama dalam tahun 1905-1910, kedua dalam tahun 1920-1922, ketiga dalam tahun 1930 sampai sekarang. Albion yang tidak takut akan bedil atau bom atau meriam, Albion yang armadanya nomor satu di dunia, Albion itu terpaksalah mengakui bahwa palu-godam yang saban-saban gemuntur di atas tubuhnya itu sebenarnyalah suatu limpung yang maha-berat dan maha-shakti!
Apakah swadeshi itu? Swadeshi adalah diartikan dalam beberapa arti yang macam-macam oleh kaum-kaum politik India sendiri. Ia ada yang mengartikan sebagai suatu boikot tak mau membeli barang-barang bikinan Inggeris, yakni sebagai suatu taktik-perjoangan yang m e n y e r a n g. Ia ada pula yang mengartikan hanya sebagai usaha-positif memajukan kerajinan sendiri, pertukangan sendiri, industrialisme sendiri. Ia ada yang memandangnya sebagai suatu senjata-politik, dan ada pula yang memandangnya sebagai suatu usaha-ekonomi yang tak bersangkutan dengan politik sama-sekali. 1) Macam-macam orang, macam-macam. pendapat! Tetapi marilah kita membaca ucapan-ucapan di bawah ini, agar supaya pembaca bisa mendapat sedikit pemandangan tentang swadeshi itu.
Marilah kita mendengarkan putusan National Congress yang ke-22, yang berbunyi: "dat het Congres zijn grootste steun zal verlenen aan de swadeshi-beweging en dat het het yolk oproept om voor haar succes te arbeiden, door er ernstig naar te streven de groei van inheemse industrieen te bevorderen en de productie van inheemse artikelen te stimuleren door ze, desnoods met enige opoffering, te verkiezen boven geimporteerde waren"? )