The Adventures of Prince Lazybones, and Other Stories

Chapter 1

Chapter 13,057 wordsPublic domain

SWADESHI DAN MASSA-AKSI DI INDONESIA

SWADESHI DAN IMPERIALISME

Tatkala saya diundang oleh kaum studen di Jakarta untuk membikin pidato tentang perlu dan faedahnya pergerakan Rakyat Indonesia diberi alas-alas teori, maka di dalam pidato itu saya telah membicarakan suatu contoh: – swadeshi. Dan saya mengupas soal swadeshi itu ialah oleh karena soal itu sekarang paling ramai dibicarakan orang, dilihat dari kanan dan kiri, dicium-cium, dikutuki, dimaki-maki, dikeramatkan, dipersyaitankan, – tetapi sepanjang pengetahuan saya sampai sekarang belum adalah satu analisa atau pengupasan soal itu yang agak dalam dan mengenai pokok, sehingga banyak sekali orang bangsa Indonesia yang hanya membeokan sahaja ucapan-ucapan pemimpin-pemimpin di negeri lain. Ada yang dengan gampang sahaja meniru semboyan Mahatma Gandhi: "dengan swadeshi merebut swaraj"; ada yang juga dengan gampang sahaja mempersyaitankannya; ada pula yang tiada pendirian sama-sekali dan lantas menjadi bingung; tetapi belum ada yang mencoba dengan saksama membikin suatu penyelidikan tentang hal ini yang ber­sendi kepada analisa dialektik. Oleh karena itu maka soal ini adalah soal yang paling baik untuk dipakai sebagai contoh di dalam rapatnya kaum studen itu, di mana saya meyakinkan kandidat-kandidat pemimpin itu tentang perlu dan faedahnya "theoretische basis" bagi tiap-tiap per­gerakan rakyat. Oleh karena itu pula maka "Suluh Indonesia Muda" dengan segera membicarakan fatsal ini!

Swadeshi di tepi-tepinya sungai Indus dan Gangga, dan swadeshi di nusantara Indonesia, – adakah dua swadeshi itu sama harganya, sama kuatnya, sama tajamnya, sama shaktinya? Jikalau kita ingin menjawab pertanyaan ini, maka kita haruslah lebih dulu membikin suatu analisa tentang sifat dan hakekatnya modern-imperialisme di dua negeri itu. Sebab siapa yang ingin menaker dan mengukur kekuatannya per­gerakan swadeshi di India dan Indonesia itu zonder penglihatan yang jernih tentang sifat-hakekatnya modern-imperialisme itu; siapa yang ingin menyelidiki boleh atau tidaknya semboyan "dengan swadeshi mengejar kemerdekaan" dipakai di Indonesia sini, zonder menganalisa modern-imperialisme itu; pendek-kata siapa yang mau memisahkan soal swadeshi itu daripada soal modern-imperialisme, – ia boleh mempunyai akal yang pintar bagaimana juga dan fikiran yang tajam bagaimana juga, tetapi ia tak akan bisa menemukan kuncinya "teka-teki" itu adanya! Pergerakan swadeshi di India hanyalah bisa kita mengertikan dengan sejelas-jelasnya dan sedalam-dalamnya, jikalau kita mengerti pula dengan sejelas-jelasnya dan sedalam-dalamnya modern-imperial­isme Inggeris yang merajalela di India itu, – mengerti asal-asalnya, mengerti azas-azasnya, mengerti riwayatnya, mengerti sepak-terjangnya, mengerti hakekatnya dengan terang dan jernih. Begitu pula maka kita, jikalau kita ingin menaker pergerakan swadeshi itu bagi Indonesia, haruslah pula mengerti asal-asalnya, azas-azasnya, riwayatnya, sepak­terjangnya, hakekatnya modern-imperialisme di sini.

IMPERIALISME

Apakah imperialisme itu? Imperialisme adalah suatu nafsu, suatu politik, suatu stelsel menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri bangsa lain, suatu stelsel overheersen atau beheersen ekonomi atau negeri bangsa lain. Ia adalah suatu verschijnsel, suatu "kejadian" di dalam pergaulan hidup, yang menurut faham kita timbulnya ialah karena keharusan-keharusan atau noodwendigheden di dalam geraknya ekonomi sesuatu negeri atau sesuatu bangsa. Ia terutama sekali adalah wujudnya politik-luar-negeri daripada negeri-negeri Barat di dalam abad kesem­bilanbelas dan keduapuluh. Ialah yang menjadi sebabnya hampir semua Rakyat-rakyat Asia dan Afrika kini terkungkung.

Soal modern-imperialisme sudah banyak sekali yang menyelidiki.

Baik kaum imperialisme sendiri, maupun kaum yang memusuhi imperialisme itu; baik kaum ekonomi-liberal, maupun kaum ekonomi-Marxis, – semua­nya sudah banyak yang memberi "urunan" kepada wetenschap yang menganalisa soal modern-imperialisme itu, semuanya sudah mengemukakan teorinya masing-masing. Terutama kaum Marxislah yang banyak urunan­nya. Mereka sudahlah mengodal-adil teori kaum "liberale-economie" yang menggambarkan imperialisme itu sebagai usahanya kaum kulit putih untuk menggali kekayaan-kekayaan yang belum tergali, bagi keperluannya seluruh dunia-manusia;" mereka mengodal-adil pula teori kaum itu, yang dengan menunjuk kepada majunya benua Amerika sesudah dikolonikan oleh Inggeris, mengatakan bahwa dus kolonisasi ada suatu rakhmat;' ) mereka

1) P a r v u s, Kolonialpolitik und Zusammenbruch.

2) K a u t s k y, Sozialismus und Koionialpolitik.

mengodal-adil pula bohongnya teori kaum itu, bahwa imperialisme itu adalah kerja meninggikan produktivitetnya bangsa kulit berwarna. 11 Mereka membuktikan, bahwa semua imperialisme adalah berazaskan urusan rezeki-sendiri, urusan rezeki-sendiri yang berupa mengambil bekal­-bekal hidup atau levensmiddelen, urusan rezeki-sendiri yang mencari pasar-pasar-penjualan barang-barang alias afzetgebieden, urusan rezeki-sendiri mencari padang-padang pengambilan bekal-industri alias grondstofgebieden, urusan rezeki-sendiri yang mencari tempat-tempat menggerakkan kapital-kelebihan alias exploitatie-gebieden daripada sur­plus-kapitaal. Di dalam saya punya buku-pleidooi adalah saya kemukakan pendapatnya beberapa penulis tentang imperialisme itu, – pendapatnya Brailsford, Trulstra, Dr. Bartstra,

Otto Bauer, dan lain-lain. Untuk ring­kasnya artikel ini maka saya persilahkan pembaca membaca sendiri di dalam buku-pleidooi itu 2) .

Tetapi adalah perlu juga agaknya saya ceritakan di sini bahwa di antara Marxistische theoretici daripada modern-imperialisme itu, adalah d u a aliran yang berselisihan satu sama lain. Satu aliran berkata, bahwa modern-imperialisme itu adalah suatu keharusan-ekonomi atau "economische noodzakelijkheid" bagi sesuatu negeri yang sudah "overrijp" kapitalismenya, yakni yang kapitalismenya sudah begitu "matang", sehingga bedrijfs – dan bank-concentratie-nya sudah

Maximum-doorgevuld, – dan satu aliran berkata, bahwa modern-imperialisme itu bukanlah suatu economische noodzakelijkheid bagi kapitalismenya sesuatu negeri, walaupun kapital­ismenya sudah "overrijp". Artinya: satu aliran berkata, bahwa overrijp kapitalisme di dalam sesuatu negeri itu akan mati atau "stikken" jikalau tidak menjalankan imperialisme, – satu aliran yang lain berkata, bahwa walaupun kapitalisme di dalam sesuatu negeri sudah overrijp, ia zonder imperialisme tokh tidak akan mati. Apakah uitgangspunt-nya aliran yang pertama, mempunyai standpunt bahwa imperialisme adalah suatu economische noodwendigheid bagi hidup-terusnya kapitalisme? Uitgangs­punt-nya ialah, bahwa kapitalisme itu akan "opheffen" diri sendiri, memberhentikan diri sendiri, "menggali liang kubur sendiri" 3) . Tentang hal ini, maka Karl Kautsky menulis: "Naast de periodieke crisissen … ontwikkelt zich steeds sterker de blijvende (chronische) overproductie en de blijvende krachtsverspilling.

1) H. N. Brailsford, War of Steel and Gold, dll.

2) Sejarah Pergerakan, jilid III, mulai ka c a 8. Salinan dalam bahasa Belanda: Indonesia klaagt aan! Sekarang "Indonesia Menggugat".

3) Menurut perkataan: "Sie produziert vor allem ihre eigenen Totengraber". (Kommunistisches Manifest)

Reeds sinds enige tijd vindt de uitbreiding van de markt veel te langzaam plaats; deze vindt steeds meer hindernis, het wordt aldoor onmogelijker, haar productiekrachten ten yolk te ontplooien.

De tijden van opbloei worden steeds korter, de tijden van crisis steeds langer. Daardoor groeit de massa der productiemiddelen die niet voldoende of in het geheel niet gebruikt worden, de massa der rijkdommen die nutteloos verloren gaan, de massa' arbeidskrachten

die braak moeten liggen.

De kapitalistische maatschappij begint in haar eigen overvloed te stikken; ze is steeds minder in staat, de voile ontplooiing van de produc­tiekrachten die ze schiep, te verdragen. Steeds meer productiekrachten moeten braak liggen, steeds meer producten nutteloos ongebruikt liggen, zal zij niet in de war raken.

Zo verandert het privaatbezit van produc­tiemiddelen niet slechts

voor de kleinproducenten, maar voor de gehele maatschappij zijn oorspronkelijk wezen in het tegendeel daarvan. Uit een drijfkracht der maatschappelijke ontwikkeling wordt het tot een oorzaak van maatschappelijke stagnatie en ontaarding, – van maatschap­pelijk bankroet." 1)

Van maatschappelijk bankroet, dan untuk menghindarkan atau setidak-tidaknya menjauhkan datangnya maatschappelijk bankroet yang karena tidak setimbangnya produksi dan afzet itu, maka menurut Kautsky kapitalisme harus menjalankan politik m e n g u l u r

n y a w a: ia mengadakan monopoli-monopoli, ia mengadakan beaya-beaya-proteksi yang setinggi-tinggi, ia mencari "pekerjaan" di dalam pembikinan senjata­-senjata perang darat dan armada laut, dan terutama sekali: ia menjalankan imperialisme.

"Om de noodwendigheid te ontgaan, vermeerderde consumptie-middelen voor de arbeiders van het eigen land te moeten produceren, produceert het kapitalisme in stijgende mate vernietigings-, communicatie- en pro­ductiemiddelen voor het buitenland, d.w.z. voornamelijk voor de economische achterlijke, agrarische landen." 2)

Jadi: Kautsky memandang imperialisme itu sebagai satu keharusan, satu kemestian, satu okonomische Notwendigkeit; satu syarat-untuk-hidup­ terus bagi kapitalisme yang sudah matang. Zonder imperialisme, zonder melancarkan tangan keluar pagar, zonder buitenlands afzetgebied, maka menurut pendapatnya, niscayalah kapitalisme lantas "mati tertutup napasnya", niscayalah kapitalisme lantas "verstikken". Untuk menghindarkan verstikking inilah maka ia economisch noodwendig harus menjalankan imperialisme!

1) Karl Kautsky, Erfurterprogram.

2) Karl K au t s k y, Soziatisrnus and Kolonialpolitik. Di dalam lain artikel kit a akan buktikan bahwa imperialisme itu tidak diarahkan kepada agrarische landen sahaja.

Dan Kautsky tidak berdiri sendiri! Dua kampiun-teori lagi menunjukkan economische noodwendigheid-nya imperialisme

bagi kapitalisme yang sudah matang: Rudolf Hilferding dan Rosa Luxemburg, walaupun yang pertama mempunyai analisa sendiri, dan yang kedua juga mempunyai analisa sendiri. Apakah yang Hilferding katakan? Hilferding mengata­kan, bahwa di dalam sesuatu negeri yang kapitalismenya sudah matang, banyak sekali harta yang tertimbun-timbun di dalam bank-bank dan yang tidak bisa mendapatkan tempat-kerja di dalam negeri itu sendiri. Kapital menganggur ini, kapital-kelebihan ini, surplus-kapitaal ini,

makin lama makin bertambah sahaja, makin lama makin

bertimbun sahaja, makin lama makin accumuleren sahaja dan

ia tidak boleh tidak harus dicarikan padang-kerja di luar-negeri, kalau kapitalisme itu tidak ingin mati karena verstikking.

"De verbinding der banken met de industrie heeft tot gevolg dat deze aan de levering van het geldkapitaal de voorwaarde vastknoopt, dat dit geldkapitaal zal dienen om haar (nl. die industrie) werk te verschaffen. Dit doel is te bereiken door dit kapitaal te doen dienen

om in andere, in ontwikkeling nog achterlijkelanden, grondstoffen

te produceren, die dan naar het industrieland worden geexporteerd.

In dat vreemde land veroor­zaakt dit kapitaal dan een snelle economische ontbinding van de op de oude productenhuishouding berustende verhouding; de uitbreiding van de productie voor de markt, en daarmede de vermeerdering van die pro­ducten die uitgevoerd worden en daardoor weer kunnen om de rente op te brengen van nieuw ingevoerd kapitaal. Betekende het ontsluiten van kolonien en nieuwe markten vroeger voor alles de verkrijging van nieuwe verbruiksartikelen, thans werpt zich het nieuw belegde

kapitaal hoofdza­kelijk op bedrijfstakken, die grondstof voor de industrie leveren." 1)

Dengan lain perkataan, menurut Rudolf Hilferding imperialisme adalah juga suatu buntut yang mesti, suatu keharusan, suatu economische noodwendigheid. Economisch noodwendig, karena harta yang tertimbun-­timbun di dalam bank-bank itu sudahlah menjadi "Finanzkapital", yakni kapital yang bukan lagi hanya di-"rente"-kan dengan cara hutang-piutang, melainkan ialah kapital yang ikut campur tangan di dalam industri – suatu kapital yang memasuki industri itu, mengawasi industri itu, memimpin industri itu, pendek-kata: mendireksi industri itu.

1) Rudolf Hilferding, Das Finanzkapital

Rudolf Hilferding menggambarkan imperialisme itu sebagai ismenya Finanzkapital yang mencari belegging,- Kautsky menggambarkan imperialisme itu sebagai ismenya Industrie-kapitaal yang mencari afzet. Tetapi baik Hilferding maupun Kautsky berkeyakinan bahwa isme itu adalah ismenya economische noodswendigheid!

Dan Rosa Luxemburg? Rosa Luxemburg juga berpendapat, bahwa imperialisme bagi kapitalisme yang sudah matang adalah suatu syarat untuk hidup-terus, yang tidak-boleh-tidak harus dipenuhi.

Cara mengupasnya yang berbeda, analisanya yang berbeda.

Rosa Luxemburg menunjukkan, bahwa di dalam sesuatu negeri ada perusahaan­-perusahaan yang hanya membikin alat-alat-produksi

alias productie-mid­delen, dan ada perusahaan-perusahaan yang hanya membikin barang kebutuhan manusia sehari-hari alias verbruiks-artikelen. Welnu, di dalam negeri itu productie-middelen-industrie membikin productie-middelen bagi verbruiks-artikelen-industrie, dan verbruiks-artikelen-industrie membikin verbruiks-artikelen bagi productie-middelen-industrie, – antara dua itu adalah "pekerjaan bersama", antara dua itu ada tukar-menukar, antara dua itu ada uitwisseling van productie, – tetapi karena anarkhinya produksi, lama-kelamaan uitwisseling ini tidak bisa "cocok" lagi atau evenwichtig, dan akhirnya banyak sekalilah verbruiks-artikelen yang tak bisa diambil oleh productie-middelen-industrie itu adanya. Artinya: di ­dalam negeri sendiri produksi-kelebihan alias overproductie itu tidak bisa lagi terjual, overproductie itu tidak bisa lagi mendapat afzet, over­productie itu tidak bisa lagi "terhisap", – dan imperialismelah jang harus menyambung nyawa!" Imperialismelah yang tentu menjadi buntut, im­perialisme, yang menurut teori ini dus ada juga keharusan-ekonomi bagi hidup-terusnya kapitalisme.

Dr. Anton Pannekoek melawan teori ini. Ia melawan teori, bahwa kapitalisme zonder imperialisme tidak bisa hidup-terus. Ia melawan Luxemburg, yang mengatakan bahwa productie uitwisseling itu selamanya harus menjadi tidak cocok. Ia menunjukkan, bahwa:

"de vraag is hier niet, of het doot practische toevalligheden soms

niet sluit, maar of het theoretisch-noodzakelijk niet sluiten k a n ."

Bagi Anton Pannekoek modern-imperialisme adalah juga suatu "keharusan" tetapi bukan keharusan sistim produksi, bukan keharusan ekonomi, bukan economische noodzakelijkheid. Baginja, kapitalisme itu tidak harus berimperialisme supaya jangan mati verstikking, – baginya imperialisme itu adalah kemauannya kapitalis guna mendapat untung yang lebih tinggi. Dan hanya karena kapitalis itu di dalam suatu masyarakat kapitalistis mempunyai pengaruh, mempunyai kekuasaan, mempunyai macht, hanya karena itulah maka kemauannya itu niscaya terlaksana, – imperialisme niscaya terjadi. Hanya karena itulah imperialisme meru­pakan suatu "keharusan" di dalam suatu dunia yang kapitalistis. Hanya karena itulah Pannekoek mengakui noodwendigheid-nya imperialisme. Kautsky berkata: "imperialisme adalah economisch noodzakelijk, dus kaum imperialistische politici lah yang menggenggam kekuasaan", tetapi Anton Pannekoek membantah: "kaum imperialis yang mempunyai kekuasaan, dus imperialisme itu menjadi noodzakelijk!" Dua faham keharusan yang berlainan sama-sekali satu sama lain, dua faham nood­zakelijkheid yang bertentangan satu sama lain! Yang satu suatu noodzakelijkheid yang karena kekuasaannya objectieve feiten, – yang satu lagi suatu noodzakelijkheid yang karena subjectief willen. Yang satu karena "isme", – yang satu lagi karena "isten"".

1) Rosa Luxemburg, Die Akkumulation des Kapitals, Ein Beitrag zur oko nomischen Erklarung des Kapitalismus.

Juga Dr. Otto Bauer berpendapat begitu. Juga dia berpendapat bahwa kapitalisme, karena senantiasa tambahnya penduduk di sesuatu ne­geri, tidak usah mati zonder imperialisme. Juga dia berkata, bahwa imperialisme itu hanyalah terjadi karena nafsu angkara-murka

daripada klasse kapitalisten, yang haus kepada untung yang lebih

tinggi. Rubuhnya kapitalisme bukanlah karena ia mati-tertutup-napas, rubuhnya kapitalisme menurut Bauer ialah karena kekuasaan kaum kapitalis dialahkan oleh kekuasaan kaum proletar.

"Niet aan de mechanische onmogelijkheid, de meerwaarde te realiseren, zal het kapitalisme te gronde gaan. Het zal te gronde gaan door het verzet, waartoe het de volksmassa's drijft", begitulah ia menulis dalam surat-mingguan "Die Neue Zeit".

Imperialisme suatu economische noodzakelijkheid, dan imperialisme bukan suatu economische noodzakelijkheid! Buat apa teori-teori itu

saya gambarkan di sini? Tak lain tak bukan, hanyalah untuk memberi inzicht kepada pembaca-pembaca yang kurang faham, bahwa modern-imperial­isme itu adalah berhubungan dengan kapitalisme, dan bahwa teori "memberi kemerdekaan sebagai hadiah" (vide Philippina!) jangan gampang dipercaya! Sebab hanya inzicht di dalam wezennya kapitalisme di Inggeris dan di negeri Belanda-lah yang bisa memberi inzicht kepada kita di dalam wezennya imperialisme Inggeris dan imperialisme Belanda, — inzicht yang mana, sebagai saya katakan di muka, perlu sekali kita mempunyainya, jikalau kita ingin mengukur harganya pergerakan swadeshi untuk cita-cita India-Merdeka dan harganya swadeshi untuk cita-cita Indonesia-Merdeka. Uraiannya Anton Pannekoek, bahwa juga zonder imperialisme, uitwisseling van productie di dalam lingkungan negeri-sendiri bisa dibikin "klop", uraian itu hanyalah mempunyai harga­ teori, yakni hanyalah mempunyai theoretische waarde belaka. Sebab praktek menunjukkan, bahwa uitwisseling itu sering-sering tidak bisa "klop",- praktek adalah saban-saban menunjukkan overproductie, prak­tek adalah saban-saban menunjukkan krisis, praktek adalah saban-saban menunjukkan "meleset"!

1) Tulisan-tulisan Pannekoek dalam Die Neue Zeit 1913 dan 1914.

Bagi kita bangsa Asia yang ingin merdeka, bagi kita yang paling penting ialah ‘bahwa imperialisme itu ada suatu keadaan, suatu kenyataan, suatu f e i t. Economische noodzakelijkheid bukan economische nood­zakelijkheid, – imperialisme bagi kita adalah suatu feit. Feit, feit yang mentah inilah yang kita hadapi sehari-hari. Feit inilah yang pertama-­tama sekali harus kita analisa di dalam sifat-sifatnya dan hakekat-hakekat­nya. Feit inilah memang yang terutama sekali kita analisa sekarang, analisa yang mana memberi inzicht kepada kita bahwa imperialisme ialah suatu politik, suatu stelsel, suatu "isme", yang di dalam umumnya mem­bikin negeri-negeri Asia itu terutama sekali menjadi afzetgebied, dan exploitatiegebied buitenlands surplus-kapitaal. 1 Untuk menggambarkan feit ini lebih terang lagi bagi pembaca-pembaca yang kurang faham, maka di bawah ini raya kutip keterangannya Otto Bauer yang menulis imperialisme adalah:

"client steeds het doel, aan het kapitaal-beleggingssfeer en afzetmark­ten to verzekeren. In de kapitalistische volks-economie scheidt zich elk ogenblik een deel van het maatschappelijke geldkapitaal uit de circulatie van het industrieele kapitaal af … Een deel van het maatschappelijke kapitaal is dus elk ogenblik doodgelegd, ligt elk ogenblik braak.

Is veel geldkapitaal doodgelegd, heeft het terugstromen der vrijge­komen kapitaalsplinters naar de productiesferen slechts langzaam plaats, dan daalt allereerst de vraag naar productiemiddelen en naar arbeids­krachten.

Dit betekent het onmiddellijke dalen der prijzen en winsten in de productiemiddelen-industrie, de verzwaring van den vakverenigings-strijd, het dalen der arbeidslonen. Beide verschijnselen werken echter ook terug op die industrieen, die verbruiksartikelen vervaardigen.

De vraag naar deze artikelen, die onmiddeliijk dienen tot bevrediging der menselijke behoeften, daalt, omdat enerzijds de kapitalisten, die hun inkomen uit de productiemiddelen-industrie trekken, geringere winsten maken, en omdat anderzijds de grotere werkloosheid en de dalende lonen de koopkracht der arbeidersklasse verminderen. Daardoor worden ook in de bedrijven voor verbruiksartikelen de prijzen, winsten, arbeidslonen kleiner.

1) " Levensmiddelengebied" dan "grondstoffengebied" di dalam hakekatn y a masuk­ lah di dalam "exploitatiegebied surpluskapitaal" itu

Zo heeft het afscheiden van een deel van het geldkapitaal uit de kapitaalskringloop tengevolge: dalende prijzen, dalende winsten, dalende lonen, vermeerderde werkloosheid, in de GEZAMENLIJKE industrie. Deze kennis is voor ons deel van groot belang, want nu eerst kunnen we de doeleinden van de kapitalistische expantiepolitiek begrijpen. Ze streeft naar BELEG­GINGSSFEER VOOR HET KAPITAAL en naar AFZETMARKTEN VOOR DE WAREN." 1)

Beleggingssferen dan afzetmarkten! Tetapi tiap-tiap masyarakat, tiap-tiap negeri, imperialismenya adalah mempunyai "watak" sendiri­sendiri, "perangai" sendiri-sendiri, "warna" sendiri-sendiri. Negeri yang satu, imperialismenya terutama mencari beleggingssfeer bagi Finanz­kapitalnya, – negeri yang lain, imperialismenya t e r u t a m a mencari afzetgebied bagi barang-barangnya. Yang satu terutama sekali imperialisme dagang, yang lain t e r u t a m a sekali imperialisme exploitatie.

Welnu, hanya jikalau kita bisa menjawab pertanyaan, bagaimanakah terutama sekali warnanya imperialisme Inggeris di India, dan bagaimana­kah terutama sekali warnanya imperialisme Belanda di Indonesia; hanya jikalau kita bisa menjawab pertanyaan, sama atau tidaknya warna dua imperialisme itu, – hanya jikalau kita sudah begitu jauhlah, maka kita bisa mengukur harganya swadeshi di tepi-tepinya sungai Gangga dan Indus, dan harganya swadeshi di nusantara Indonesia adanya!

IMPERIALISME INGGERIS DI HINDUSTAN

Bagaimanakah warnanya imperialisme Inggeris itu?

Untuk memahami warna itu, maka kita harus mengerti, bahwa warna imperialisme itu ditetapkan oleh warnanya kapitalisme yang melahirkan­nya. Warna imperialisme, dan warna kapitalisme yang melahirkannya adalah berhubungan satu sama lain, "mengecap" satu sama lain, ber­causaal-verband satu sama lain. Warna imperialisme Amerika adalah akibat dari warna kapitalisme di Amerika, warna imperialisme Sepanyol akibat dari warna kapitalisme di Sepanyol, warna imperialisme Belanda akibat dari warna kapitalisme di negeri Belanda, dan warna imperialisme Inggeris akibat dari warna kapitalisme di Inggeris. Dua warna itu pada hakekatnya yang sedalam-dalamnya adalah dua muka dari badan yang satu )

1) Otto Bauer, Natiotuattatenfrage and Soz. Dem.

2) Bandingkanlah; Werner Sombart, Der moderne Kapita l ismus

Bagaimanakah warna kapitalisme Inggeris?

Pada penghabisan abad yang kedelapanbelas dan permulaan abad yang kesembilanbelas di negeri Inggeris terjadi sesuatu "revolusi" yang dengan sesungguhnya akan merobah susunan pergaulan hidup-tua di seluruh muka bumi,- menggali, membongkar susunan pergaulan hidup-tua itu sampai kepada sendi-sendinya dan akar-akarnya. Revolusi itu ialah mechanische dan industrieele revolutie l ) . Ia merobah cara produksi di negeri Inggeris, daripada stelsel huisindustrie dijadikan tingkat yang pertama daripada modern kapitalistische productiewijze. Ia merobah stelsel "perusahaan di rumah" dijadikan "perusahaan di paberik".

Ia mengganti alat-alat productie-tua dengan alat-alat productie-baru, yakni bengkel-bengkel dan mesin-mesin. Ia sangat sekali membesarkan "kekuatan-membikin" dari negeri Inggeris itu, sangat sekali menginginkan kemampuan produksi daripada negeri Inggeris itu.