A Tour of the Missions: Observations and Conclusions

Chapter 4

Chapter 41,827 wordsPublic domain

"Sampai sebegitu jauh aku masih belum berpikir”, menyahut Rasminah sembari awaskan orang punya paras muka. "Tapi bibi, begitupun aku, merasa pasti, sebagai juga ada mendapat firasat. yang Kasimin masih hidup”.

Husin tidak menyahut, hanya menghela napas saja, sembari awaskan parasnya Rasminah dengan penuh perasa'an cinta. Kemanakah Kasimin sudah pergi sedari ia dipaksa berlalu dari kebonnya?

Dengan penuh pengrasa’an sedih, tercampur gemas, Kasimin, sembari membawa iapunya gitar dan bungkusan pakaian, Kasimin berlalu dari kebonnya. la tidak tahu kemana musti menuju dan turuti saja kemauan hatinya akan ber jalan, supaya bisa lekas singkirkan diri dari itu tempat, yang baginya sekarang cuma, berupa saja satu kesedihan. Berhari-hari ia berjalan, sehingga sampai disatu tegalan, dimana ada terdapat satu gubuk yang biasa digunakan buat tempat meneduh oleh orang yang mengusahakan kebon. Disitu Kasimin berkenalan dengan seorang desa yang sederhana, orang yang mempunyai itu kebon dan gubuk, dan akhirnya Kasimin dapat perkenan akan berdiam diitu gubuk sebegitu lama ia suka, asal saja ia suka membantu akan melihat-lihat itu kebon.

Meskipun uangnya cuma tinggal sedikit saja, karena hatinya sedanq tertindih kedukaan, Kasimin tidak ingin bekerja suatu apa akan mencari sesuap nasinya. Siang-malam kerjanya tidak lain cuma tidur-banqun saja.

Pada suatu hari, untuk mengutarakan perasa'an hatinya, Kasimin pentil gitarnya sembari menyanyi...

Sesuatu kesukaran,meski bagaimana berat juga, akhirnya tentu musti bergilir dengan malam. Begitupun dengan kesukarannya Kasimin, sebab itu pagi kebetulan sekali Husin yang sedang jalan-jalan didekat itu tempat sudah dapat dengar nyanyiannya Kasimin dan jadi ketarik dengan itu, sebab ia sering dengar Hadijah nyanyikan itu dan juga tahu yang Hadijah sangat gemar dengan lagu tersebut. Husin lalu samperkan Kasimin yang itu ketika sudah rebahkan dirinya disatu bale-bale. Bermula Kasimin tidak mau ladeni pada Husin, hingga pemuda kita musti dekatkan ia dibale-balenya dan sembari berjongkok, berkata:

"’Bang, bangunlah dulu, saya mau ada sedikit bicara”.

Kasimin jadi mendongkol, balikkan kepalanya dan berkata dengan sedikit sengit: "Aku tau kau ini ada orangnya tuan tanah, buat apa musti banyak bicara lagi!”

Husin dengan sabar lalu menyahut: "Saya ini bukan orangnya tuan tanah. Saya hanya mau tanya saja apa abang kenal sama Hadijah”.

Mendengar namanya Hadijah disebut, Kasimin jadi kaget, bangun duduk dibale-balenya dan awaskan Husin seketika lamanya, kemudian menanya: "Kau ini siapa? Dan kenapa boleh sebut namanya Hadijah?”

"Saya ini Husin” menyahut pemuda kita. "Makanya saya tanyakan Hadijah sebab saya kenal satu perempuan yang bernama demikian dan ia itu sering suka nyanyikan itu lagu yang abang barusan mainkan”.

"Kau kenal Hadijah yang suka nyanyikan itu lagu?” menanya Kasimin dengan kaget, sembari lom- pat dari bale-balenya dan ajak itu pemuda keluar gubuk, supaya bisa melihat lebih tegas pada Husin.

"Sabar, ’bang”, menyahut Husin. "jawablah dulu pertanyaan saya, sebelumnya saya kasih keterangan lebih jauh”.

"Apa lagi yang kau mau tanya?” menanya Kasimin dengan tidk sabar. "Tanyalah lekas!”

"Abang ini siapa dan kenapa boleh berdiam diini gubuk yang hampir rubuh?” menanya Husin.

"Aku Kasimin. Makanya aku berdiam disini, sebab sudah dicurangi oleh tuan tanah dan diusir dari kebonku”, menyahut Kasimin. "Itulah sebabnya maka tadi aku telah berlaku kasar pada kau”.

"Oh, kalau begitu abang ini bernama Kasimin,” berkata Husin yang ingin mendapat ketetapan bahwa ini Kasimin betul ada suaminya Hadijah yang ia sudah begitu lama cari. "Dan abang kenal sama Hadijah? Sama ia itu abang pernah apa?”

"Isteriku bernama Hadijah”, menyahut Kasimin dengan suara terharu, "tapi sudah lama kita berpisahakan dan sekarang aku tidak tau apa ia masih ada diini donia atau tidak”.

"Dan itu lagu yang barusan abang nyanyikan”, menanya Husin lebih jauh dengan teliti, "lagu apatah itu, ’bang?"”

"Itu adalah lagu yang oleh Hadijah dan aku dianggap sebagai kita punya symbool percinta’an”, berkata Kasimin sembari menghela napas. "Dari sebab itu juga, saban hari selama aku bernapas aku tentu musti mainkan dan nyanyikan itu lagu”.

"Apa abang masih cintakan itu Hadijah”, menanya Husin lebih jauh, sedang ia sendiri tidak mau kasi keterangan suatu apa dulu pada Kasimin.

"Tentu sekali aku masih cintakan Hadijah”, menyahut Kasimin, "Ia ada perempuan satu-satunya yang aku cintakan diini dunia, meski juga ia telah perlakukan aku dengan secara tidak adil”.

"Tidak adil?” menanya Husin. "Tidak adil bagaimana, ’bang?”

"Ia tau yang aku cintakan padanya dengan segenap hati dan jiwaku,” berkata Kasimin sembari menghela napas, "tapi meski begitu, ia masih cemburukan aku main gila sama lain perempuan dan keluarkan perkataan-perkataan yang melukakan hatiku. Dari sebab itu, dalam kegusaran aku telah tinggalkan padanya dan sedari itu waktu aku selalu kenangkan padanya!”

"Kalau abang selalu kenangkan dan masih cinta pada Hadijah, kenapatah abang tidak mau cari padanya?” menanya Husin.

"Ya, aku pun menyesal sudah tidak berlaku begitu pada beberapa tahun dulu, tapi itu tempo keangkuhanku tidak mengizinkan aku pergi mencari padanya, dan sekarang,” berkata Kasimin sembari napas dan paras menyesal, "aku tidak tau dimana Hadijah ada berdiam, karena dua tahun dulu ketika aku cari ianya di Poncol, ia sudah tidak ada lagi disitu dan tiada seorang juga yang mengetahui ia pindah ke mana”.

"Apa abang akan merasa girang jika bisa bertemu dan berkumpul kembali sama Hadijah?” menanya Husin sembari awaskan Kasimin punya paras muka.

Kasimin tidak menjawab dan awaskan Husin seketika lamanya, sebagai orang henda mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh itu pemuda. Kemudian ia menyahut:

"Kenapa kau menanya begitu? Apa kau tau di mana Hadijah ada berdiam sekarang?”

Husin tidak lantas menyahut, hanya awaskan saja pada Kasimin, hingga ia ini jadi berkata lagi:

"Barusan kau sebut namanya Hadijah, apakah kau kenal padanya dan tahu dimana ia berdiam sekarang? Bilanglah, Husin, bilanglah padaku dimana Hadijah ada berumah sekarang?” Sembari berkata demikian Kasimin pegang dan gonyang-gonyang badannya Husin. sebagai orang hendak paksa itu pemuda kasi tau dimana tempat kediamannya Hadijah.

Sesudah mendapat bukti yang Kasimin itu ada sebetulnya orang yang ia sedang cari, Husin lalu berkata:

"Kalau betul abang masih cintakan Hadijah dan ingin bertemu padanya, marilah abang turut sama saya”.

Kasimin awaskan Husin sebagai orang yang tidak percaya sama pendengarannya sendiri, kemudian lalu menanya:

"Dan kau nanti antarkan aku pada Hadijah? Apakah aku bukan lagi mengimpi, Husin?”

"Tidak, ’bang, kau bukan lagi mengimpi, hanya lagi sedar. Tapi kalau betul abang ingin bertemu sama Hadijah, marilah lekas turut sama saya!”

13. Berkumpul Kembali

ADIJAH sedang duduk sendirian dipertengahan rumahnya yang luas dan diperaboti serba bagus.

Sedari pagi ia rasakan hatinya kekedutan, sebagai juga ada alamat bahwa diitu hari bakal terjadi apa-apa yang penting dalam penghidupannya. Ia duduk salah, jalanpun salah, hingga ia tidak tahu musti berbuat apa.

Baru saja ia duduk diitu krosi goyang sembari layangkan pikirannya pada peghidupannya ketika masih bersama-sama Kasimin, kutika Husin datang masuk keitu ruangan dengan diikuti oleh Kasimin, yang kelihatannya jadi bingung, karena tidak tau Husin henda bawa ia kemana.

Tempo melihat Kasimin berdiri bingung didekat pintu melihatin pada Hadijah yang sedang duduk di krosi goyang, Husin lalu samperkan dan tuntun Kasimin ajak ia datang dekat pada Hadijah.

Kasimin kenali pada sang isteri yang ia selalu buat kenangan bertahun-tahun lamanya. Dengan tidak merasa lagi Kasimin lalu jatuhkan dirinya didekatnya Hadijah dan sembari pegang tangannya itu perempuan yang tidak bisa melihat, ia lalu berkata:

"Hadijah, oh, Hadijah, apatah betul aku sedang berhadapan lagi sama kau, atawa aku sekedar mengimpi saja?”

Mendengar suaranya Kasimin, Hadijah jadi mengingat terharu, hingga buat seketika lamanya ia tidak bisa keluarkan sepatah sepatah perkataan juga.

"Hadijah,” berkata lagi Kasimin sembari goyang-goyang badannya sang isteri "Hadijah, apatah kau su- dan tidak kenalin lagi sama aku? jawablah, Hadijah, jawab pertanyaanku!”

Masih juga Hadijah tinggal diam, karena terharunya, hingga Kasimin jadi berkata lagi: "Hadijah, ampunkanlah padaku yang sudah tinggalkan kau dengan secara kejam! Bilanglah, Hadijah, yang kau ampunkan aku!” sembari goyang-goyang lagi badannya Hadijah.

Sebagai orang baru mendusin dari mengimpinya, akhirnya bisa juga Hadijah berkata, sembari pegang tangannya Kasimin:

"Apa betul kau Kasimin, suamiku? Aku tokh lagi sedar, bukannya lagi mengimpi!”

"Ya, Hadijah, aku ini Kasimin yang selalu kenangkan kau!”

Mendapat itu jawaban dari Kasimin, Hadijah jadi menangis tersedu-sedu, begitu juga Kasimin, tapi ini kali mereka menangis bukan karena duka, hanya karena kegirangan. Dengan tidak perdulikan lagi pada Husin yang sedari tadi tinggal berdiri bingung mengawaskan kelakuan mereka, Hadijah dan Kasimin saling rangkul satu sama lain sembari menangis.

Mendengar suara tangisannya iapunya bibi, Rasminah memburu keluar, tapi dibetulan pintu ia jadi berdiri diam sebagai orang kasima, ketika melihat Hadijah sedang merangkul seorang yang ia tidak kenal sembari menangis. Husin goyangkan tangannya, sebagai tanda supaya Rasminah jangan ganggu itu dua orang, kemudian ia samperkan itu gadis dan tuntun Rasminah jalan keloar dari itu ruangan.

14. Surga Ketujuh

EBERAPA hari telah berlalu, hari-hari yang buat Hadijah dan Kasimin ada merupakan sebagai surga. Mereka saling tuturkan pengalaman mereka, ceritakan punya kedukaan, mereka punya rindu dan mereka punya pengharapan supaya bisa bertemu lagi diini dunia. Tidak bosannya mereka ceritakan bagaimana mereka sudah selalu nyanyikan itu lagu "Surga Ketujuh"’ yang oleh mereka dianggap sebagai satu symbool dari mereka punya percintaan yang suci dan kekal.

Itu hari Hadijah dan Kasimin sedang duduk beromong-omong dipertengahan rumah ketika Husin dan Rasminah datang masuk keitu ruangan. Melihat yang Hadijah dan Kasimin sedang berada disitu, mereka sudah hendak jalan keluar lagi, tapi Hadijah yang meski tidak bisa melihat, sudah dapat dengar mereka dan tempo Rasminah sudah berada didekatnya, lalu pegang tangannya itu gadis dan berkata:

"Rasminah, sekarang aku sudah dapatkan kembali aku punya peruntungan. Aku ingin supaya kau pun bisa turut rasakan itu. Apakah yang kau inginkan sekarang, Ras?”

Rasminah tidak tahu menjawab apa dan tinggal diam saja, hingga Hadijah yang sudah bisa menerka perasaan hatinya sang keponakan, lalu berkata lagi:

"Kalau kau rasa kaupun bisa merasa beruntung, sebagaimana aku rasakan sekarang, dengan menikah sama Husin, dengan segala senang hati aku izinkan kau akan lantas kawin sama itu pemuda yang sudah menjadi sebab dari aku punya keberuntungan sekarang.”

Kembali Rasminah tidak menjawab, hanya tundukkan saja kepalanya, tapi Husin yang ada berdiri di dekatnya,sudah lantas menyahut:

"Terima kasih, bibi, buat perkenan itu. Saya dan Rasminah tentu akan merasa sangat beruntung jika sudah menikah. Kita nanti turut tuladannya bibi buat tinggal setia satu sama lain sehingga elmaut pisahkan kita dari ini dunia.”

Kasimin awaskan Husin dan Rasminah dengan penuh perhatian dan musti aku, dalam hatinya, bahwa itu dua pemuda ada pasangan yang setimpal betul. Pada Husin ia berkata: "Aku doakan supaya kau dan Rasminah bisa hidup dengan rukun dan penuh keberuntungan selama-lamanya.”

Hadijah turut berkata: "Ya, aku pun doakan supaya kau berdua selalu berada dalam keberuntungan yang tidak disertakan dengan segala duri-durinya percintaan, sebagaimana pengalamanku!”

Film yang sekarang lagi dikerjakan oleh Tan's Film Coy., dengan Rukiah dan jumata dalam hoofdrollen, ada berkalimat

yang bukunya tidak lama lagi akan diterbitkan juga oleh kita.

Sorga ka Toedjoe film still 01.JPG|Tiga orang pemain yang cakap dalam salah suatu scene "Surga Ketujuh”. Sorga ka Toedjoe film still 02.JPG|Salah satu scene dari film "Surga Ketujuh”. Sorga ka Toedjoe film still 03.JPG|Scene pertemuan laki isteri yang sudah lama berpisah dalam film "Surga Ketujuh”. Sorga ka Toedjoe film still 04.JPG|Dimuka ialah Miss RUKIYAH dan Miss ANNIE LANDOW dalam "Surga Ketujuh” sebagai keponakan dan bibi yang saling menyayangi.

Sorga ka Toedjoe film still 01.JPG Sorga ka Toedjoe film still 02.JPG Sorga ka Toedjoe film still 03.JPG Sorga ka Toedjoe film still 04.JPG