A Tour of the Missions: Observations and Conclusions

Chapter 3

Chapter 33,525 wordsPublic domain

Rasminah jadi bingung. Dalam gugupnya ia sudah lantas balik lagi dan dengan cepat lantas berlari menuju kegobubuknya Husin sedang Parta dan Dul mengudak dari belakang. Rasminah sampai digubuknya Husin dengan nafas sengal-sengal dan terus masuk kedalam ruangan dimana tadi malam ia telah tidur. Husin yang ketika selesai menyanyi dapatkan Rasminah sudah tidak ada lagi digubuknya telah mencari disekeliling tempat itu dan sekarang baru saja hendak pulang kegubuknya, akan berpakaian dan kemudian pergi lakukan pekerjaannya, sudah tidak dapat lihat Rasminah tapi dapat lihat pada Parta dan Dul memburu dengan cepat menuju kejurusan gubuknya. Ia cepatkan tindakannya akan menghalangi perjalanannya itu dua orang. Dengan satu jotosan yang jitu ia sudah bisa bikin Parta jadi terjungkal ke- atas tanah, tapi Dul sudah bisa liwatkan ia dan masuk kedalam gubuknya. Parta berbangkit dari jatuhnya dan lalu memburu akan kasi jotosan pada Husin, yang mana telah mengenakan dengan jitu pada itu pemuda, hingga Husin jatuh terpleset. Parta tinggalkan Husin dan memburu masuk kedalam gubuk, ikuti Dul, mengejar Rasminah, yang pada ketika itu sudah jadi kebingungan mencari lobang untuk meloloskan diri dari itu dua orang. Husin yang itu waktu sudah sampai diitu ruangan lalu kasi jotosan pada Dul dan kemudian pada Parta, hingga dua-duanya jadi terjungkel ketanah, tapi baru saja ia hendak menyamperkan Rasminah, ketika satu jotosan dari Parta bikin ia sempoyongan mundur kebetulan jendela. Dul melihat itu dan lalu barengi jotos Husin, hingga itu pemuda jadi terlempar keluar dari gubuknya. Parta sudah hendak lantas samperkan Rasminah, tapi Husin telah keburu sampai lagi didekatnya, dengan melompati jendela, dan pegang Parta dari belakangnya, hingga itu dua orang jadi gulat dengan seru.

Rasminah sudah melarikan diri kelain ruangan, ketika melihat Husin sedang bergulat dengan Parta, dengan dikejar oleh Dul. Ia melihat kekanan dan kiri akan mencari termpat buat sembunyikan diri, ketika matanya menampak satu senapan dimana dinding. Dul pun sudah sampai keitu ruangan. Dengan cepat Rasminah lalu ambil itu senapan, dan tujukan mulutnya pada Dul, yang terkepung dibetulan pintu ruangan.

Dalam pergulatannya, Parta dan Husin sudah berpagutan dan berguling-guling sehingga keluar dari gubuk. Dibetulan pintu Parta sudah bisa bikin Husin terbalik dan buat sesa'at lamanya tidak berdaya, justru disa’at yang pembantunya Husin dalam ia punya pekerja’an mengukur tanah sampai disitu. Melihat Husin sedang berkelai sama seorang yang ia tidak kenal, Hamja lalu menubruk pada Parta hingga itu dua orang jadi bertempur dengan sengit, yang berakhir dengan terpukul jatuhnya Hamja. justru ketika Parta hendak kasi pukulan, dengan menggunakan sepotong bambu, pada Husin dan Hamja, Dul yang dengan berjalan mundur sedang hendak keluar dari itu gubuk, diikuti oleh Rasminah yang memegang senapan, sudah kena langgar badannya keaatas tanah. Husin yang sudah bisa berbangkit dari jatuhnya, telah samperkan Rasminah dan ambil itu senapan dari tangannya itu gadis dan tujukan itu pada Parta dan Dul yang telah berbangkit pula, hingga pesat lalu melarikan diri menuju kepinggir sungai, hingga membikin Husin dan Rasminah jadi tertawa.

Merasa yang dirinya tidak teranytam bahaya lagi dari Parta dan Dul, Rasminah lantas hendak melalukan diri dari situ akan pulang kerumah bibinya dan nyatakan itu maksud pada Husin, siapa lalu berkata:

"Nanti dulu, nona, tunggulah sampai saya berpakaian dan saya nanti antarkan nona pulang kerumah, supaya tidak dapat gangguan lagi dari itu bajingan, siapa beberapa bulan duluan pun saya sudah pernah kasih ajaran ketika ia sedang mengejar satu perempuan muda didekat itu jembatan”.

Rasminah awaskan Husin sesa'at, kemudian berkata:

"Kalau begitu tuan juga yang duluan sudah tulung saya dari gangguannya Parta!”

"Apa nona juga yang baru ini saya tulungi? Ma'afkanlah saya, nona, kalau saya tidak kenali, sebab itu waktu saya tidak keburu samperkan nona untuk memberi pertulungan lebih jauh, karena nona sudah berlalu”.

"Betul,tuan, sebab bukan bareo satu-dua kali saja Parta hendak mengganggu pada saya. Dan sekarang saya harus mengucap trima kasih pada tuan, buat pertulungan tuan diitu ketika dan sekarang ini”.

"Tapi kenapatah nona semalam sudah datang kesini dan ini pagi, sesudah berlalu, balik lagi kesini dengan diudak oleh itu dua orang?”

"Kemaren tempo saya hendak pulang kerumah bibi saya,sesudah berdiam beberapa minggu di Betawi, ditengah jalan saya punya takut saya sudah lari masuk kedalam gombolan yang lebat dan ketika sudah malam, sebab tidak kenali jalan lagi, saya sudah kesasar kesini dan terpaksa cari perlindungan dalam gubug tuan...”

Rasminah berhenti berkata-kata sesa’at, ketika ingat bagaimana ia sudah makan barang hidangannya Husin semalam, kemudian terusakan pula penuturannya:

"Karena merasa sangat lapar dan haus, saya sudah makan dan minum juga didalam tuan punya rumah. Saya harap tuan suka ma’afkan sama saya kalau saya sudah bikin habis tuan punya makanan”.

Husin jadi tertawa ketika mendengar perkata’annya Rasminah itu, hingga membikin Rasminah jadi sedikit malu-maluan, karena kirakan yang Husin sudah tertawakan dia. Sesudah tertawa barulah Husin berkata:

"Saya sukur sekali yang itu barang-hidangan sudah menulung nona dari kelaparan dan kehausan. Sekarang izinkanlah saya berpakaian dulu, supaya bisa lekas antarkan nona pulang kerumah bibi nona”.

Sesudah berkata demikian Husin lalu masuk kedalam gubuknya, tinggalkan Rasminah sendirian di itu tempat sedang mengagumi pemandangan alam yang permai disekitar itu gubuk.

9. Bibi dan keponakan

EDARI ditinggalkan oleh Rasminah, kesehatannya Hadijah banyak terganggu, apalagi di waktu belakangan, karena terlalu memikirkan sang keponakan, akhirnya buat beberapa hari lamanya ia sudah tidak ditinggalkan pembaringan. Baik juga teman-temannya Rasminah telah merawati dengan teliti padanya, hingga sakitnya Hadijah tidak jadi kepanjangan.

Itu hari Hadijah sedang duduk dikursi malah, memikirkan Rasminah kenapa itu keponakan tidak mengirim kabar suatu apa padanya, ketika itu gadis datang masuk menghampirkan Hadijah sang bibi, Rasminah lalu menubruk dan rangkul lehernya Hadijah, sembari menanya:

"Apa bibi ada baik?”

"Kau telah kembali, Rasminah? Kenapa tidak mengirim kabar apa-apa sama bibi, hingga bikin aku jadi buat pikiran saja?”

"Sebab pikir saya tidak akan berdiam lama di Betawi, maka juga tidak mengirim kabar apa-apa sama bibi. Sekarang saya sudah dapat kerjaan tetap di Betawi, maka kembali dulu kesini ajak bibi pindah kesana”.

Hadijah menjadi girang ketika mendengar Rasminah sudah dapat pekerjaan dan utarakan itu. Kemudian ia menanya lagi:

"Jam berapa kau berangkat dari Betawi dan bagaimana bisa sampai disini begini pagi?”

"Sebetulnya semalam pun saya sudah mustinya sampai disini, bibi, tetapi sebab dipegat dijalanan oleh Parta dan kawannya...".

"Astaga, dipegat oleh Parta dan kawannya”, memotong Hadijah dengan kaget dan kuatir, "abis apakah sudah terjadi?”

"Sebab ketakutan saya jadi kesasar didalam hutan”, meneruskan Rasminah, "tetapi bisa meloloskan diri dari Parta dan kawannya itu. Beruntung saya bisa cari perlindungan dirumahnya tuan Husin, yang sekarang antarkan saya kemari, sesudahnya tuan Husin kasi ajaran yang pantas pada Parta dan gundalnya”.

"Tuan Husin?” menanya Hadijah. "Siapa itu tuan dan mana ia sekarang?”

Husin samperkan Hadijah dan berkata:

"Saya merasa sukur sekali sudah bisa memberikan pertolongan pada nona Rasminah. Saya harap saja yang buat hari kemudian ia tidak nanti dapat gangguan lagi dari itu pemuda ceriwis”

"Tuan ini siapa dan tinggal dimana?”

"Saya bernama Husin, berasal dari Betawi, tapi sekarang sedang melakukan pekerjaan mengukur hutan disebelah barat sini buat tuan tanah, karena saya ada menjadi landmeter”.

"Ya, saya musti membilang terima kasih pada tuan buat tuan punya pertolongan pada Rasminah. Kalau tidak ada tuan, saya tidak tahu apa sudah terjadi pada dirinya saya tidak tahu apa sudah terjadi pada dirinya saya punya keponakan itu, karena sudah lama Parta ada taroh hati pada Rasminah yang sudah tidak mau ladeni padanya. Baik jeega kita sekarang akan lekas pindah ke Betawi, hingga tausah mesti dapat gangguan lebih jauh lagi dari dianya”.

Husin menengok pada Rasminah, siapa ketika itu sedang mengawaskan padanya, tapi buru-buru tundukkan kepalanya dengan paras berobah merah melihat Husin ada mengengok padanya. Sesudah berdiam sesa’at, Husin berkata lagi pada Hadijah:

"Nyonya, apakah boleh saya datang kunjungi nyonya dan nona Rasminah disini selama nyonya belum pindah ke Betawi?”

Rasminah tinggal tundukkan kepalanyya ketika Husin majukan itu pertanyaan pada Hadijah, siapa tidak lantas menyahut, hanya berpikir dulu sesa’at, kemudian dengan sedikit sangsi baru berkata:

"Kalau tuan mau datang menamu tentu sekali kita tiada keberatan sutu apa, asal saja tuan tidak but cela'an pada saya punya rumah, yang tidak karuan macam ini”.

Mendengar jawabannya Hadijah, hatinya Rasminah jadi girang, tapi tinggal terus tundukkan kepalanyya, karena kuatri metanya nanti beradu lagi dengan matanya Husin, pada siapa hatinya merasa sangat tertarik.

"Terima kasih buat nyonya punya izin itu. Begitu saya ada tempo saya nanti datang mengunjungi nyonya disini. Sebab saya musti urus pekerjaan saya, izinkanlah saya berlalu dulu”.

Setahu kenapa, hatinya Husin pun merasa tertarik pada Rasminah. Banyak gadis ia kenal, antaranya barangkali ada yang lebih cantik dari Rasminah dan juga lebih terpelajar, tapi belum pernah ia rasakan hatinya memukul lebih keras dari pada ketika lagi berhadapan dengan Rasminah.

"Itu Husin rupanya ada seorang yang sopan dan tahu aturan, Ras”, begitulah Hadijah berkata ketika Husin sudah berlalu”.

"Ya, bibi”, menyahut Rasminah, "ia ada sangat sopan berbeda jauh dengan Parta yang ceriwis”.

"Kau sudah besar, Ras”, berkata Hadijah, "dan tidak lama lagi temponya buat kau menikah akan sampai. Sebagai seorang yang mengalamai banyak pahit dan getirnya dunia aku mau nasehatkan sama kau supaya jangan sembarangan jatuh cinta, sebab kau masih mauda dan aku ingin singkirkan duri-duri yang delalu beserta sama sedapnya percibtaan dari pengalamanmu, kalah bisa”.

Parasnya Rasminah jadi berobah merah ketika mendengar itu ucapan, tapi ia tinggal diam saja sembari tundukkan kepala, tidak sahuti perkataanya sang bibi.

"Aku tidak mau larang kau cintakan orang. Ras, sebab itor sudah jamknya dan buat orang-orang muda, mencinta dan dicinta ada madunya penghidupan”, meneruskan Hadijah ketika Rasminah tinggal diam saja, "Aku cuma mau peringatkan kau supaya jangan turutkan saja hati yang sedang mencinta dengan tidak menggunakan lagi kau punya pikiran yang waras. Kau harus berlaku teliti akan memilih suami, sebab aku tidak bisa melihat akan mengasi bantuan yang perlu pada kau”.

"Terima kasih, bibi, buat nasehat itu”, menyahut Rasminah dengan suara perlahan. "Saya nanti perhatikan itu dengan segenap hati dan pikiran”.

"Aku cintakan kau, Ras”, meneruskan Hadijah. "lebih-lebih dari anakku sendiri. Aku ingin sekali supaya dalam penghidupanmu jangan sampai kau alamkan kesukaranya penghidupan yang disebabkan oleh kurang pikir atau tindakan yang keliru. Dari itu, Ras, jika ada apa-apa yang kau merasa sangsi, hal dan minta buah pikiranku”.

"Baik, bibi”, menyahut Rasminah. "Saya tidak nanti lupakan pesanan itu”.

Hadijah tarik Rasminah akan datang semangkin dekat padanya, kemudian rangkul itu gadis dibetulan pinggangnya.

10. Pengaruhnya uang

PA GUNANYA aku bayar gaji pada kau jika kau tidak bisa urus pekerjaanmu pada Dul. "Disuruh omongi Kasimin saja tidak bisa beres!”

"Berkali-kali saya sudah bujuk Kasimin akan jual kebonnya”, menyahut Dul dengan merendah, "tapi tidak berhasil, hingga saya terpaksa ambil lain jalan supaya tuan bisa juga dapatkan itu kebon”.

"Lain jalan bagaimana? Bilanglah lekas!” membentak Hassan.

"Itu kebon bukan punyanya Kasimin, hanya akhli warisnya bapa Kasdam, sebab sampai sekarangpun itu kebon masih belum dibalik atas namanya Kasimmin yang bandel itu. Saya sudah cari anaknya bapa Kasdam dan bujuk ia akan jual saja kebonnya pada tuan, tapi rupanya ia masih sangsi akan turut bujukan saya, karena menurut katanya, bapa Kasdam sudah janjikan Kasimin boleh berdiam dan usahakan terus itu tanah sebegitu lama Kasimin mau”.

"Dan apa kau sudah bikin lebih jauh”, menanya Hassan dengan tidak sabar.

"Saya sudah ajak anaknya bapa Kasdam datang disini supaya tuan juga bisa bicara dan bujuk padanya. Ia ada seorang bodoh dan kalau dikasih lihat uang banyak tentu sekali hatinya jadi tertarik dan suka turut kemauan tuan”.

"Mana dia sekarang?” menanya Hassan.

"Ia ada diluar menunggu tuan punya panggilan”, menyahut Dul dengan hati legah.

"Lekas ajak ia masuk kesini”, memerentah Hassan. Selama Dul pergi keluar akan panggil anaknya bapa Kasdam, Hassan buka laci meja tulisnya dan keluarkan dari situ satu kantong yang berisi uang ringgitan dan perakan, kemodian ambil juga segumpulan uang kertas dari lain laci, yang ia taroh diatas meja tulisnya.

"Inilah dia anakya bapa Kasdam, tuan”, berkata Dul ketika datang kembali bersama seorang desa yang kelihannya amat bodoh.

Hassan awaskan itu orang yang diajak oleh Dul dengan teliti, kemudian berkata, sedang tanganyya buat main itu uang ringgitan dan perakan yang terletak diatas meja tulisnya:

"Kau anaknya bapa Kasdam?”

"Betul, tuan”, menyahut itu orang.

"Itu kebon yang sekarang diusahakan oleh Kasimin ada punyamu, bukan?” menanya ia lebih jauh.

"Duluan bapa saya punya, tapi tempo ia mau meninggal ia pesan sama saya akan kasihkan bang 'Min usahakan itu kebon sebegitu lama bang'Min mau”, menyahut Kasdam.

"Apa kau mau jual iteo kebon?” menanya Hasan sembari mengambil beberapa uang ringgitan dari meja tulis dan buat permainkan ditangannya.

"Saya mau jual tapi takut sama dia, sedang itu kebon ada punyamu”, membujuk Hassan. "Dengan menjual itu kebon kau nanti bisa punya banyak uang”.

"Dan kau boleh gunakan itu uang buat kawin dan membeli kerbau beberapa ekor”, Dul campur berkata akan bantu bujuk Kasdam. "juga kau bisa beli pakaian yang bagus-bagus”.

"Kawin saya tidak mau, ’bang Dul, sebab takut”, menjawab Kasdam. "Saya mau beli kerbau saja”.

"Jadi kau mufakat akan jual itu kebon padaku?” menanya Hassan dengan seura girang.

"Saya mau jual kalai bang Min tidak marah”, berkata Kasdam.

"Kenapa ia musti marah, sedang itu kebon bukan punyanya. Kau yang punya kebon, kalau kau mau jual tiada seorang juga bisa halangi kau akan jual itu”.

"Tapi kalau bang Min marah sam asaya bagaimana?” menanya Kasdam, dengan paras bingung. Ia ingin jual itu kebon, supaya bisa punyakan banyak uang, tapi takut sama Kasimin.

"Itu kebon kau punya, kau boleh bikin apa kau suka sama itu, kenapa Kasimin musti marah”, berkata Hassan. "Sekarang bilang saja terus terang apa kau mau jual atau tidak?” Sembari berkata demikian, kembali Hassan permainkan itu uang ringgitan dan perakan, hingga membikin Kasdam jadi lupakan pada Kasimin dan perjanjiannya pada ia punya ayah ketika itu orang tua henda menutup mata. Dengan begitu itu penjualan sudah terjadi dan Kasimin...

11. Terusir

ASIMIN tidak tahu bahwa orang sedang berdaya akan curangi iapunya hak buat mengusahakan itu kebon terlebih lama, sebagaimana sudah dijanjikan padanya oleh bapa Kasdam ketika hendak menutup mata. Waktu itu penjualan terjadi, Kasimin sedang tidur dengan nyenyak digubuknya. Ia baru dapat tahu saja tentang itu penjualan beberapa hari kemudian tempo Adung datang padanya dan menanya:

"Kalau kau berlalu dari sini kau mau pindah ke mana, ’bang Min?”

"Pindah dari sini?” menanya Kasimin dengan paras tidak mengerti. "Siapa bilang aku mau pindah?”

"Bukankah ini kebon sudah dijual pada tuan tanah oleh Kasdam?” menegaskan Adung.

"Siapa yang bilang itu?” menanya Kasimin dengan kaget.

"Semua orang dikampung tahu yang Kasdan sudah jual ini kebon pada tuan tanah”, berkata Adung. "Kasdam sekarang ada mempunyai banyak uang dan sudah beli juga beberapa ekor kerbau. Katanya tuan tanah mau bersihkan ini kebon dan suruh 'bang Min lantas berlalu dari sini”.

"Apa betul Kasdam sudah jual ini kebon pada tuan tanah?” menanya Kasimin yang ingin tahu duduknya hal dengan jelas. "Aku tidak percaya yang itu anak sudah langgar pesenan ayahnya dan jual ini kebon dengan tidak berdamai lebih dulu sama aku.”

"Astaga, ’bang Min,” berseru Adung dengan sedikit sengit. "Buat apatah saya justakan ’bang Min dalam ini hal? Saya tokh tidak untung apa-apa kalau saya bohongi ’bang Min. Semua orang tahu yang Kasdamm sudah jual ini kebon dan tuan tanah mau suruh ’bang Min lantas berlalu dari sini. Nah, itu apa,” meneruskan Adung sembari menunjuk kesatu jurusan, "aoakah itu bukan ’bang Dul yang sedang mendatangi kesini dengan diiringi oleh sejumlah kuli-kuli?”

Kasimin melihat kejurusan yang diunjuk oleh Adung dan betul saja disitu ia dapat lihar sejumlah orang sedang mendatangi kejurusan kebonyya, sedan Dul ada jalan paling depan sekali. Melihat itu, -Kasimin lalu lompat bangun, tarik satu golok panjang yang tergantung didinding rumahnya, kemudian, sembari bertereak dengan keras, ia samperkan itu sejumlah orang yang sedang jalan mendatangi kejurusan kebonnya. Dengan tidak menanya sutu apa lebih dulu, Kasimin lalu gunakan goloknya akan babat beberapa puhun yang mengadang dijalanan, sebagi syuga hendak mengasi lihar pada Dul dan orang-orangnya bagaimana tajamnya iapunya golok.

"Jangan ganggu aku punya kebon kalau mau selamat,” bertereak Kasimin dengan paras sebagai orang kalap. "Siapa yang brani masuk kekebunku aku nanti kasi ajaran dengan ini golok.!”

"Janganlah berlaku begitu, Min”,membujuk Dul dengan suara sabar. "Kita dagang disini atas prentahnya tuan tanah buat bersihkan ini kebon, yang ia sudah beli dari akhliwarisnya bapa Kasdam. Kau musti lantas berlalu dari sini dengan baik, kita nanti paksa kau akan keluar dari ini kebon.”

"Apa?” membentak Kasimin dengan sengit. "Aku musti keluar dari ini kebon? Tidak, tidak nanti aku mau berlalu dari sini. Majulah lebih dekat kalau kau mau belajar dengan golokku ini!”

Sembari berkata begitu Kasimin lalu samperkan itu orang-orang, hingga mereka jadi lari simpang siur. karena kuatir kena kelanggar goloknya Kasimin yang rupanya ada sangat tajam. Kasimin kejar mereka sehingga sampai ditepi sungai, hingga Dul dengan orang-orangya terpaksa musti menyoburkan diri kedalam air, supaya bisa menjauhkan diri dari Kasimin yang sedang kalap. Meskipun begitu masih mengeyar terus, sehingga kakinya terjeblos dalam satu lobang dan ia jatuh tengkurup diitu sungai. Goloknya terlepas dari peganganya dan masuk kedalam air!

Melihat Kasimin sudah tidak bersenjata lagi, Dul lalu samperkan padanya, dengan diikuti oleh beberapa orangya, dan mulai serang pada Kasimin. Karena dikerubuti oleh banyak orang, akhirnya Kasimin kena juga dikalahkan oleh mereka, siapa lalu gotong Kasimin ketepi sungai dan lemparkan ia kedalam lumpur.

Selagi Kasimin menggeletak didalam lumpur dalam keadaan lelah, adalah Rasimah dan Husin sedang bersenang-sengan, sebagaimana layaknya orang-orang muda yang sedang menyinta satu-sama-lain, pelsiran di Telaga-Warna dengan menggunakan satu perahu kecil.

Mencinta dan dicinta adalah madunya penghidupannya, demikianlah ada dikata oleh satu penulis yang terkenal dan ini telah dirasakan kebenarannya oleh itu dua pemuda, karena sedari itu hari yang Husin sudah menolong Rasminah dari gangguannya Parta dan Dul, Husin sering sekali datang mengunjungi Hadijah dan Rasminah, kunjungan mana telah berakhir dengan bersaranya bibit percintaan antara itu dua pemuda. Ketika matahari sudah condong ke Barat, barulah itu sepasang merpati pulang kerumah Hadiydah.

"Rasminah”, berkata Husin ketika itu gadis hendak masuk kedalam rumahnya Hadijah dan sebe- lumnya Husin berpamitam padanya, "aku cintakan kau dengan segenap hatiku dan begitu lekas aku sudah dapatkan kedudukan yang lebih baik dan gajiku cukup buat kita berumah tangga, aku nanti lantas majukan lamaran pada bibimu”.

Parasnya Rasminah berobah merah ketika mendengar itu perkataan. Dengan sedikit malu ia menjawab:

"Jangan terburu nafsu, Husin. Aku tidak mau menikah dulu jika bibi belum bisa dapatkan kembali iapunya keberuntungan”

"Jadi kalau ia belum bisa melihat lagi, kau tidak mau menikah dulu, Ras?” menanya Husin. "Inilah keterlaluan!”

"Bukan begitu yang aku maksudkan”, menyahut Rasminah. "Maksudku yaitu jika bibi belum berkumpul kembali sama suaminya aku tidak mau menikah dulu, meskipun juga aku peen cintakan kau dengan segenap hatiku”.

"Kenapa begitu, Ras? Kenapa musti menunggu sampai bibi berkumpul lagi bagaimana?”

"Kau musti bantu cari padanya sampai ketemu”, berkata Rasminah dengan suara tetap.

"Dengan segala senang hati dan dengan sepenuhnya tenaga aku nanti membantu, Ras”, kata Husin, "supaya maksud kita pun bisa lekas kesampaian”.

12. Bertemu

ENGAN meninggalnya iapunya ayah, siapa telah merasa menyesal sudah berlaku begitu keras terhadap anaknya, Hadijah sudah mendapat seantero warisannya itu orang tua.

Meskipun sekarang Hadijah, juga Rasminah, ada tinggal dirumah gedong yang besar, dengan perabotan yang lengkap, dan mempunyai banyak uang akan guna hidup sehari-hari. Hadijah masih belum bisa rasakan keberuntungan yang sempurna. Iapunya perasaan menyesal buat perbuatannya terhadap Kasimin dan keinginannya akan bisa berkumpul kembali sama sang suami ada merupakan satu halangan buat satu perasaan beruntung yang lengkap. Hadijah rasakan yang ia tidak akan bisa cicipkan lagi itu keberuntungan sebagaimana ia dan Kasimin telah pernah rasakan, meskipun juga ia dan Kasimin telah pernah rasakan, meskipun juga ia sekarang ada terhitung sebagai seorang perempuan hartawan, jika ia belum bisa bertemu dan berkumpul kembali sama sang suami yang bertahun-tahun lamanya ia selalu rindukan.

Sedari mereka pindah ke Betawi, Husin sering kunjungi Rasminah, tapi sampai sebegitu, jauh masih belum bisa bujuk itu gadis akan turut keinginannya buat lekas-lekas menikah, meski juga Husin sekarang telah mendapat kedudukan lebih besar, Rasminah sudah ambil putusan tetap tidak akan menikah sebelumnya Hadijah bisa berkumpul lagi sama Kasimin.

Dayanya Husin akan mencari Kasimin masih belum juga bisa berhasil, pertama karena ia tidak tahu musti mencari dimana dan kedua sebab ia sendiri dan juga orang-orangnya tapi semua sia-sia saja.

Bukan jarang Husin suka menanya pada dirinya sendiri apakah tidak bisa jadi yang Kasimin itu sudah tidak ada lagi diini dunia yang fana. Kepercayaannya Hadijah bahwa Kasimin masih ada diini dunia memaksa Husin akan, mencari terus, maski juga dengan cuma sedikit pengharapan saja akan bisa berhasil.

"Tapi, Ras”, demikianlah Husin satu hari menanya pada kecintaannya, "bagaimanakah seandainya Kasimin sudah tidak ada lagi diini dunia dan bibimu tidak bisa berkumpul lagi padanya?”

"Bibi, begitu juga aku”, menyahut Rasminah dengan suara tetap, "merasa pasti yang Kasimin masih hidup. Dari itu, Husin, carilah terus sehingga ketemu, jika 'kau betul cintakan aku dan ingin menikah sama aku”.

"Itupun aku telah dan ,masih berbuat, Ras”, berkata Husin sembari menghela napas, "tetapi rasanya ada sangat susah buat bisa ketemukan Kasimin. sebab tiada seorang juga yang mengetahui atau mendapat kabar kemana ia telah pergi sedari berlalu dari sini” .

"Itu betul, tapi kalau kau mencari terus, akhirnya tentu bisa ketemu.” berkata Rasminah sembari tundukkan ,kepalanya.

"Tentu sekali aku nanti mencari terus,” berkata Husin. sembari duduk lebih dekat pada kencintaannya. "cuma saja aku ingin tahu, apatah kalau seandainya Kasimin .sudah tidak ada lagi didunia dan aku bisa dapatkan bukti cukup yang ia betul sudah meninggal, kau nanti suka akan lantas menikah sama aku.”

"Kenapa kau boleh menanya begitu, Husin,” menanya Rasminah dengan perasaan tidak enak ..Apatah

Kau sudah dapatkan keteranqan yang Kasimin sudah meninggal?”

"Aku belum dapat keterangan suatu apa, Ras”, menyahut Husin. "Aku menanya begitu sebab ingin tahu bagaimana jadinya kalau seandainya Kasimin itu sudah meninggal dunia” .