A Tour of the Missions: Observations and Conclusions

Chapter 2

Chapter 23,418 wordsPublic domain

Dengan tindakan pelahan Parta keluar dari rumahnya. Pikirannya ada penuh dengan parasnya Rasminah yang cantik. Ia bayangkan bagaimana beruntung ia akan rasakan jika bisa beristeri dengan itu gadis yang berparas elok dan bersuara merdu. jika ia lagi kesal, Rasminah tentu bisa hiburkan ia dengan nyanyian-nyanyian yang disuarakan dengan suara yang merdu dan empuk! Bukan seperti Marsiti yang selalu bikin ia jadi jengkel dan jemu saja!

Parta mesti berdaya akan dapatkan Rasminah, itu gadis yang kelihatannya membenci padanya! Apakah yang ia mesti berbuat sekarang akan dapatkan itu gadis yang ia cintakan?

5. Kasimin

ASIMIN sedang hendak pulang kepondoknya, dari kebon, ketika ia berpapasan dengan Dul, pegawainya tuan tanah Hasan.

Sesuatu penduduk di itu desa ada mengetahui betul yang Hasan lagi sedang membeli semua tanah-tanah yang terletak dipinggir sungai, karena disitu ia, hendak berdirikan satu fabriek kayu yang besar, dan akan menggampangkan pengangkutan, jadi perlu dengan itu tanah-tanah yang berada dipinggir sungai. Sudah beberapa kali Kasimin dibujuk akan jual kebonnya pada tuan tanah, tapi selalu menolak, meskipun juga harga yang ditawarkan padanya ada sangat tinggi. Bujukan, ancaman atau uwang sudah tidak bisa mempengaruhi Kasimin akan jual iapunya kebon, karena buat Kasimin kebon itu ada merupakan sebidang tanah yang penuh dengan kenang-kenangan.

Sudah beberapa kali Dul coba bujuk Kasimin akan turut keinginannya tuan tanah Hasan, tapi Kasimin selalu menolak. Bukan satu kali saja Dul telah dapat dampratan dari majikannya buat urusan kebonnya Kasimin itu dan sekarang Dul takan berdaya, buat penghabisan kali, sebelumnya ia gunakan lain akal, buat bikin Kasimin suka turut kemauannya iapunya majikan.

Ketika melihat pada Dul lantas saja Kasimin hendak balik kembali kekebonnya, tapi telah dicegah oleh Dul yang berkata:

"Nanti dulu bang, Min, aku mau ada bicara sedikit sama kau”.

"Tentu lagi-lagi urusan kebonku, apatah bukan begitu?” Kasimin menanya.

"Betul, Min. Kau tahu meskipun juga aku ada bekerja sama tuan tanah Hasan, tapi aku ada menjadi juga kau punya sobat, karena aku kagumkan kau punya kemuliaan hati suka menolong pada orang yang sedang sakit atau dapat kesusahan. Lebih baik kau turut kemauannya tuan tanah dan jual ini kebon padanya,supaya jangan sampai terbit kerewelan dan kau dapat susah. Kau tokh sudah dapat tawaran bagus sekali dari dia?”

"Kendati bagaimana juga aku tidak nanti jual ini kebon, berkata Kasimin dengan tegas. "Tidak perlu kau banyak bicara lagi dalam ini urusan, Dul.”

"Jangan kau membantah Min, sebab itu cuma bisa bikin kau jadi dapat susah saja,” Dul menjawab.

"Susah? susah apa? kalau aku tidak mau jual kebonku, tidak seorang juga nanti bisa paksa aku menjual itu”.

Paksa tentu tidak bisa, tapi tuan tanah nanti bisa cari daya lain akan bisa punyakan juga ini kebon, yang tokh bukan ada jadi kepunya'anmu”.

Kasimin tundokkan kepalanya sesa’at, kemudian menengok pula pada Dul dan dengan suara gusar lalu berkata:

"Berkali-kali aku sudah bilang meskipun dengan harga bagaimana mahal juga tidak nanti aku jual ini kebon. Tidak perlu banyak omong lagi, Dul”.

"Pikirlah biar betul, Min, jangan sampai menyesal dibelakang kali. Lain hari aku nanti datang lagi pada kau”.

Sesudah berkata demikian, Dul lalu berjalan pergi, tinggalkan Kasimin sendirian diitu tempat.

Kasimin awaskan Dul berlalu dengan bingung. Rupa-rupa pikiran masuk kedalam otaknya. Apatah betul tuan tanah nanti bisa paksa dia akan jual itu kebon, yang mana meskipun betul bukan kepunya’annya, tapi sudah dijanjikan oleh bapa Kasdam. ketika ia itu hendak menarik napasnya yang pengabisan, bahwa ia, Kasimin, boleh berdiam terus dan usahakan itu kebon sebegitu lama ia mau, asal saja uang sewa’annya kasimin bayar dengan betul padatuan tanah? Dengan cara bagaimana tuan tanah nanti bisa Kasimin dari itu kebon, itulah Kasimin tidak bisa pikir, sebab uang sewa tanah, Kasimin selalu bayar dengan betul dan belum pernah menunggak.

Dengan tindakan pelahan dan kepala penuh dengan rupa-rupa pikiran, Kasimin teruskan tindakannya akan pulang kepondoknya.

Betul saja ketika Kasimin hendak pulang kepondoknya, adalah ditempat pembrentian autobus di Senen, Batavia-Centrum, orang dapat lihat Rasminah turun dari satu autobus yang baru sampai dari Bogor.

Meskipun baru ini kali Rasminah pernah datang di Betawi sendirian, iapunya kelakuan tidak unjukkan demikian. Dengan tidak takut-takut atau sangsi-sangsi, satu tangannya menenteng koffer, Rasminah memanggil satu deeleman dan naikkan koffernya keitu kendaraan, kemudian, sesudah ia sendiri naik, lalu menyuruh kusirnya jalankan deelemannya ke Kwitang.

Di satu rumah yang sederhana, deeleman diberhentikan dan Rasminah turun dari itu kendara’an.

Beberapa menit kemudian kita dapatkan Rasminah sudah ada dihadapannya tuan dan nyonya Mustapa, siapa sambut kedatangannya Rasminah dengan penuh kegirangan. Mereka ingat betul pada Hadijah dan pertulungan apa yang Hadijah sudah pernah berikan pada mereka, selagi Hadijah masih tinggal sama ayahnya yang hartawan.

Ketika Rasminah sudah tuturkan maksud kedatangannya di Betawi, Mustapa lantas saja berkata:

"Kebetulan sekali kedatanganmu ini, Rasminah, sebab dalam beberapa hari ini fabriek tenun di Tanah-

Abang lagi cari perempuan-perempuan muda yang rajin akan diberikan pelajaran buat menjadi tukang tenun. jika sudah bisa, ada harapan akan mendapat bayaran bagus juga, lumayan buat hidup dengan sederhana. Kalau kau mau, besok aku nanti antarkan kau kesana”.

Rasminah jadi girang dan berkata: "Sukur sekali kalau tuan sudi antarkan saya keitu fabriek tenun, sebab kalau pergi sendirian, saya tentu akan merasa kikuk”.

"Sekarang baiklah kau pergi kekamarmu dulu dan mengaso, sebab kau tentu merasa lelah sehabisnya perjalanan dengan autobus tadi,” menjawab Mustapa. "Bibimu nanti unjokkan dimana adanya kamar yang disediakan buat kau”.

Rasminah mengucap terima kasih, kemudian dengan diantar oleh istrinya Mustapa, lantas berlalu dari situ akan pergi kekamar yang sudah disediakan buat dia.

6. Dimabuk cinta

ETIKA mendapat tau yang Rasminah sudah berangkat ka Betawi, Parta menjadi kalang kabut. Ia hendak susul ke Betawi, tidak tahu Rasminah berdiam dimana. Mengingat bersarnya kota Betawi Parta merasa pasti akan susah akan bisa cari tempat kediamannya itu gadis sehingga ketemu. Karena terlalu pikirkan Rasminah, akhirnya Parta jatuh sakit dan beberapa hari lamanya ia tidak bisa berlalu dari pembaringan.

Dari kelakuannya Parta, Marsiti dapat tahu bahwa sang suami sedang rindui lain perempuan, satu hal yang bikin Marsiti jadi sangat mendongkol dan kuatir. Mendongkol, karena Parta ada cintakan lain perempuan ; kuatir, karena selempang ia nanti diceraikan oleh Parta.

Marsiti rawat Parta dengan teliti, hingga dua minggu kemudian Parta sudah bisa berlalu dari pembaringan dan berjalan-jalan lagi sebagaimana biasa, meskipun parasnya masih sangat pucat dan tidakannya unjuk kelemahan badannya.

Parta sedang duduk di krosi-panjang dari meja-stelan, ketika Marsiti datang membawakan ia obat.

Karena sangat terkenangnya pada Rasminah, dalam penglihatannya Parta, yang mendatang itu ada Rasminah, hingga ia sambut kedatangannya dengan penuh kegirangan. Ia persilakan Marsiti duduk, dengan panggil Rasminah padanya, hingga Marsiti jadi terkejut dan berkata:

"Saya ini bukannya Rasminah, hanya Marsiti”.

Mendengar perkata'an itu, Parta menjadi terkejut dan tersedar dari terkenangnya itu. Sekarang barulah Marsiti mendusin bahwa Parta, suaminya, sedang gila seorang perempuan lain yang bernama Rasminah. Sebaimana tabiatnya perempuan yang kebanyakan, Marsiti pun tidak berbeda. Ia ingin dapat tahu siapa adanya Rasminah itu.

"Siapatah itu Rasminah, kanda?” begitulah ia menanya pada sang suami.

"Rasminah? Siapa itu Rasminah? Aku tidak kenal Rasminah?”

Barusan kanda kirakan saya ini Rasminah dan sambut kedatangan saya dengan penuh kegirangan. Siapatah itu Rasminah kanda?”

"Aku sudah bilang, aku tidak kenal Rasminah. Kenapatah kau begitu cerewet?”

"Kalau kanda tidak kenal, masa kanda sebut namanya? Bilanglah siapa Rasminah itu, kanda. Saia tidak marah ; saya cuma ingin tahu saja”.

"Sudah, jangan tanya lagi. Aku sudah bilang, aku tidak kenal orang yang bernama Rasminah dan jangan tanya lebih jauh lagi”.

Marsiti jadi mendongkol mendapat itu jawaban dari Parta, tapi sekarang ia berlaku cerdik dengan tidak unjuk perasa’an hatinya itu. Ia nanti cari tahu dengan pelahan.

Dengan lemah lembut dan kelakuan manis, Marsiti persilakan Parta minum obatnya ; tapi Parta tidak perdulikan perkata’an-perkata’annya Marsiti. Ia tinggal duduk diam sembari bingung, memikirkan dimana adanya Rasminah yang ia kenangkan.

Melihat kelakuannya Parta, mau tidak mau, Marsiti jadi mendongkol juga dan supaya tidak kentarakan perasa’an hatinya, Marsiti lantas berlalu dari hadapannya Parta.

Baru saja Parta hendak berbangkit akan pergi kekamarnya kutika Dul datang mengunjungi akan menengok padanya. Parta persilakan Dul duduk didekatnya. Sebagaimana layaknya dua sobat kental, mereka bicara dengan asik, sehingga suatu ketika dengan tidak sengaja Parta keluarkan portretnya Ras- minah dari kantong bajunya, tapi buru-buru masukkan kembali, ketika ingat Dul ada didekatnya. Melihat kelakuannya Parta, Dul jadi ingin tahu portret siapa yang baru Parta keluarkan dan lantas menanya:

"Potret siapatah itu, Parta? Kasihlah aku lihat”.

"Akh, bukan potret siapa-siapa, hanya kenalan saja”.

"Cobalah kasih aku lihat, Parta. Sama sobat tidak perlu orang mesti resiakan apa-apa”.

"Sudahlah, Dul, jangan lihat itu”.

"Marilah kasih aku lihat, kalau kau memang anggap aku sebagai sobatmu”.

Mau tidak mau Parta keluarkan juga portret itu dan kasihkan itu pada Dul, siapa lalu sambuti dan pandang seketika lamanya. Akhirnya ia berkata:

"Akh manis betul ini perempuan! Siapatah ini, Parta?”

"Rasminah, Dul, satu gadis yang cantik sekali”.

Memang cantik gadis ini, Parta. Kau beruntung sekali bisa dapatkan ia".

"Memang aku akan merasa beruntung jika bisa dapatkan ia buat istri, Dul. Tetapi Rasminah tidak cintakan aku, hanya benci padaku, dan sekarang ia sudah pergi ke Betawi”.

"Masa bisa jadi begitu? Siapakah yang tidak mau jadi isterinya seorang sebagai kau, anaknya satu tuan tanah yang hartawan besar”.

"Betul, Dul, Rasminah bukan cinta, hanya benci padaku. cobalah kasi pikiran bagaimana aku bisa dapatkan Rasminah akan menjadi istriku”.

Dul berpikir sesa'at, kemudian lalu dekatkan mulutnya pada kupingnya Parta dan bisikkan apa-apa pada pemuda mata keranjang itu. Parasnya Parta lantas berobah menjadi girang. Sesudah Dul berbisik itu padanya, Parta lantas berkata:

"Ya, itu akal bagus sekali, Dul. kalau nanti aku bisa dapatkan Rasminah dengan menggunakan akal itu, aku tidak sayang akan kasikan kau ƒ 500.- sebagai persenan”.

"Tapi ingat janjimu dengan betul, Parta. jangan kalau nanti sudah dapatkan Rasminah lantas lupakan Dul sama sekali”.

"Itulah kau ta' kuatirkan, Dul. Begitu aku dapatkan Rasminah aku nanti lantas kasikan itu ƒ 500.- pada kau”.

"Buat bisa diyalankan akal kita itu perlu kau mesti lekas-lekas sembuh dan bisa keluar pula sebagaimana biasa”.

"Itulah kau ta' usah kuatir. Besok aku sudah akan bisa keluar buat jlankan itu akal”.

"Itu bagus. Sekarang biarlah aku atur dulu apa yang perlu guna itu”.

Dul jabat tangannya Parta, kemudian lantas berlalu dari situ, sedang Parta, sesudah berada sendirian, kelihatan jadi mesem-mesem dan kemudian bersuit dengan gembira, akan utarakan kegirangannya, hingga membikin Marsiti jadi heran, ketika ia itu pulang sehabis belanja, dapatkan Parta dalam keada'an demikian, sangat berbeda dari tempo ia tinggalkan.

7. Tamu yang tidak diundang

ERAPA minggu telah berlalu. Rasminah telah beruntung bisa dapatkan pekerjaan pada fabriek tenun yang disebutkan oleh Mustapa. Sesudah dicoba beberapa hari lamanya, ia telah dikasihkan pekerjaan tetap pada fabriek itu, dimana ia kerja dengan rajin, hingga menyenangkan hatinya iapunya majikan dan juga teman-teman kerja.

Sedang Rasminah lagi bekerja di Betawi, adalah Hadijah telah menjadi sakit karena terlalu memikirkan sang keponakan. Baik juga sakit itu tidak menjadi kepanjangan dan sekarang Hadijah sudah mulai sembuh dari sakitnya itu.

Selama itu ketika, sedari itu permufakatan antara Dul dan Parta, saban hari orang bisa dapatkan itu dua orang berada di warung kopi yang berada dipinggir jalan yang menjurus kerumah Hadijah. Mereka berdiam disitu hampir seantero hari, tempo-tempo berdua’an, kadang-kadang cuma Parta sendirian, atau Dul saja. Tukang warung menjadi heran dengan kedatangan mereka saban hari diwarungnya, tapi karena mereka tidak merugikan dagangannya, hanya menguntungkan, sebab bukan jarang Parta suka belika juga kopi atau lain-lain minuman, dan juga kuwe-kuwe buat orang-orang lain yang kebetulan berada diitu warung, ia tidak utarakan perasaannya itu.

Apa maksudnya Parta dan Dul dengan kedatangannya pada warung kopi saban hari itulah pembaca akan lekas mendapat tahu.

Pada suatu hari, ketika matahari sudah hampir silam kejurusan Timur, dan Parta serta Dul hen- dak berlalu dari itu warung kopi, satu sado ada kelihatan mendatang dengan kudanya dilarikan sangat pesat. Parta dan Dul awaskan sado itu, yang ditumpangi oleh satu penumpang dengan perasaan sedikit heran dan kepingin tahu, sebab jarang ada sado yang liwat disitu diwaktu begitu siang.

Sado itu meliwati mereka. Penumpangnya bukan lain dari Rasminah, yang rupanya baru saja sampai dari Betawi.

Parta dan Dul jadi saling melihat, kemudian dengan tidak membuang tempo lagi mereka lalu memburu sado itu, yang semangkin lama jadi terpisah semangkin jauh dari mereka.

Sampai sebegitu jauh Rasminah masih belum mendusin yang bahaya ada mengancam dirinya.

Parta dan Dul mengudak dengan sekeras-kerasnya kaki marika bisa berlari, tapi larinya sado itu ada terlebih pesat lagi, hingga dengan sebentar saja sado itu sudah terpisah jauh sekali dari Parta dan Dul. Disatu tikungan, sado itu hilang dari pemandangan Parta dan Dul.

Napasnya parta sudah mulai sengal-sengal, tapi Dul masih belum merasa lelah. Ketika sampai disatu tikungan yang menerus kesatu jalanan kecil, Dul lalu berkata pada Parta: "Kita mesti ambil ini jalanan dan pegat itu sado dibetulan itu kobakan air, dimana itu sado tentu terpaksa musti pelahankan jalannya”.

Dengan tidak berkata-kata mereka masuk ke itu jalanan kecil dan berlari terus. Ketika mereka keluar dari itu jalanan kecil, baru saja itu sado liwati tikungannya. Parta bertereak pada Dul, tereakan mana dapat didengar oleh Rasminah. Disitu barulah Rasminah mendapat tahu bahwa orang sedang kejar padanya. Pada kusir sado Rasminah berkata: "Tulunglah, bang, tulung sama saya! Kasi lari itu kuda lebih cepat!”

Sang kusir yang mendapat lihat orang sedang kejar Rasminah, lalu pecut kudanya, hingga larinya itu binatang jadi semangkin keras. Rasminah jadi mulai ketakutan. Dengan bingung ia menengok kekanan dan kiri akan mencari jalan akan meloloskan diri.

Mendadak itu sado berhenti, karena salah satu rodanya terjeblos di satu lobang yang sedikit dalam. Dengan gugup Rasminah lompat turun dari kendaraan itu dan melarikan diri masuk kedalam satu jalanan kecil. Dengan sepenuhnya tenaga ia berlari.

Parta dan Dul yang dapat lihat itu sado berhenti jadi sangat girang. Mereka menampak juga yang Rasminah sudah turun dari itu kendara’an dan masuk keitu jalanan kecil. Mereka keluarkan seantero tenaganya akan mengejar terus, dengan berlari semangkin cepat. Semangkin dekat mereka mendatangi pada korban marika. Rasminah jadi mulai gugup ... ia dapat lihat satu grombolan puhun-puhun dan masuk kedalam itu. Parta dan Dul liwati itu grombolan!

Rasminah menarik napas legah! Satu bahaya sudah liwat!

Tapi sebentar lagi Parta dan Dul kelihatan jalan mendatangi keitu gombolan, sembari melihat ke kanan dan kiri dengan teliti. Kembali mereka liwati itu gombolan!

Sesudah berselang sesa’at dan mengira yang mereka sudah berlalu jauh, Rasminah keluar dari tempat sembunyinya. Ia melihat ke kanan-kiri, tapi tidak dapat lihat Parta dan Dul. Rasminah mulai menarik napas legah...

Baru saja Rasminah berjalan beberapa tindak, dengan sedikit bingung, karena tidak tahu jurusan mana yang ia harus ambil, ketika ia dapat suara treakannya Parta pada Dul!

Dengan tidak menengok lagi Rasminah lantas mulai berlari! Parta dan Dul kejar padanya dari belakang!

Rasminah masuk kedalam satu gombolan rumput, dengan dikejar terus oleh Parta dan Dul!

Sesa’at kemudian Parta dan Dul keluar lagi dari itu gombolan. nyatalah mereka sudah tidak bisa ketemukan Rasminah!

Parta mulai mengutuk, begitu juga Dul!

"Kita musti cari padanya sampai dapat, Dul. Ia tentu masih sembunyi didalam itu gombolan!” begitulah Parta berkata.

"Tentu saja ia masih ada diitu gombolan”, menyahut Dul, "selainnya kalau ada setan yang kasi ia sayap buat terbang. Ayolah kita cari lagi diitu gombolan!”

Kembali mereka masuk lagi keitu gombolan, tapi sesa’at kemudian telah keluar kembali dengan tangan kosong.

Hari sudah mulai gelap. Mau tidak mau Parta dan Dul terpaksa musti tunda mencari Rasminah, kalau marika tidak mau kegelapan diitu tempat lebat. Mereka jalan pulang dengan perasa’an mendongkol dan penasaran.

Kemanakan Rasminah sudah pergi?

Rasminah sebetulnya sudah sembunyikan diri dalam satu gombolan rumput yang sangat lebat. Sebagai juga ada melaikat yang bantu melindungi dia, Parta dan Dul sudah tidak ada ingatan akan mencari dalam itu gombolan, sebab mereka mengira yang Rasminah tentu tidak akan berani masukkan dirinya kedalam tempat yang begitu lebat, karena kuatir nanti ada ular atau lain-lain binatang didalamnya.

Sesudah berdiam diitu gombolan seketika lamanya dan merasa pasti yang Parta dan Dul sudah berlalu, barulah Rasminah berani keluar dari itu gombolan. Disitu barulah ia dapat tahu yang hari sudah hampir jadi malam. Meskipun hatinya merasa takut, Rasminah paksakan juga dirinya akan berjalan diitu tempat yang lebat. Ia jalan dengan tidak mengetahui jurusan.

Siang sudah terganti dengan malam!

Dengan penuh perasa'an takut Rasminah berjalan terus. Ia tidak tahu ia berada dimana dan jurusan apa yang ia harus ambil. Ia jalan dengan sejalan-jalannya saja, supaya bisa keluar dari itu tempat yang lebat.

Dari satu jurusan ia dapat lihat penerangan yang kecil. nyatalah disitu ada rumah orang!

Dengan lelah Rasminah tujukan tindakannya kejurusan penerangan itu. Hatinya merasa sedikit legah!

Sesudah berjalan sedikit lama akhirnya Rasminah sampai disatu gubuk kecil. Ia tidak tahu rumah siapa adanya itu. Akan mengetok pintu ia merasa takut, sebab kuatir Parta dan Dul berada disitu. Dengan perasa’an sangsi ia tolak pintu rumah, yang nyata tidak terkunci, sebab dengan gampang itu pintu terbuka. Rasminah melihat kedalam. Dipertengahan rumah ada satu lampu kecil dan itulah penerangan yang ia dapat lihat dari jauh, karena jendelanya ruangan itu tidak tertutup. Tapi tiada satu orang ada terlihat disitu. Rasminah bertindak masoke kedalam rumah dengan tindakan perlahan. Ia masuk keitu ruangan, kemudian terus kelain ruangan, yang ternyata ada dipakai sebagai tempat menyimpan barang dan buat orang duduk makan atau minum, sebab disatu pojokan ada terdapat satu meja kecil, diatas mana Rasminah dapat lihat sedikit barang makanan dan sebungkus nasi.

Melihat bungkusan nasi, Rasminah merasa lapar dan juga haus, dan sekarang barulah ia ingat yang sedari berangkat dari Betawi ia tidak makan suatu apa lagi dan itu berselang beberapa jam yang lalu..

Perasa’an laparnya bikin Rasminah jadi mendekati bungkusan itu nasi, yang ia lalu buka dan juga mulai menggratak akan mencari barang makanan lain. Sesudah melihat kekanan dan kiri, akhirnya dengan bernafsu Rasminah mulai makan: dengan tiada memikirkan lagi siapa yang berdiam diitu rumah atau Parta dan Dul berada disitu...

Sesudah makan nasi, Rasminah buka limonade yang terdapat dimeja dan minum itu...

Sesudah lapar dan hausnya jadi hilang, barulah Rasminah rasakan yang tubuhnya ada sangat lelah. Ia duduk disatu bale-bale, didekat satu pojokan dan sesa'at kemudian, karena lelahnya, Rasminah sudah jatuh pules!

Rasminah tidur dengan nyenyak, hingga tidak mendapat tahu ketika satu pemuda masuk ke ruangan itu dan mendekati dia. Itu pemuda awaskan Rasminah sesa'at lamanya, kemudian lalu samperkan dinding, dari mana ia ambil sepotong kain yang tergantung disitu dan gunakan itu pemuda bukan lain dari Husin, dengan tindakan pelahan , supaya tidak mengganggu tidurnya Rasminah, lalu keluar kembali dari itu ruangan, sesudah menutup pintunya dengan pelahan.

Husin sebenarnya telah mendapat lihat Rasminah masuk keruangan dalam keruangan dalam dari gubuknya, tapi karena ingin mendapat tahu apa yang hendak diperbuat oleh itu perempuan muda yang telah masuk kegubuknya dengan diam-diam, sudah biarkan saja Rasminah masuk dan menggratak, dan juga dahar nasinya. Ketika melihat Rasminah sudah tidur nyenyak, barulah ia samperkan gadis itu keitu bale-bale!

Meskipun waktu sudah mengutarakan jauh malam, tapi Husin belum juga masuk tidur. Ia duduk didekat satu meja sembari membaca buku, tapi pikirannya ia tidak bisa tenangkan pada apa yang ia baca, karena keinginannya akan mendapat tahu siapa adanya itu gadis yang sekarang lagi tidur nyenyak dilain ruangan dari gubuknya, selalu mengaduk dalam otaknya...

8. Tertolong

ALAM sudah berganti dengan siang...Hawa pagi yang sejuk sudah bikin Husin jadi mendusin lebih pagi dari biasanya ia bangun. Ia lalu bikin bersih apa yang perlu dalam itu gubuk, kemudian buk semua jendela yang tertutup, sesudah mana, dengan tindakan pelahan ia samperkan ruangan dimana Rasminah telah tidur.

Husin dapatkan itu perempuan muda masih tidur nyenyak. Ia lalu keluar lagi dari itu ruangan dan berjalan keluar dari gubuknya, sesudah mengambil gambar yang tergantung dimana dinding gubuk.

Disatu gundukan tanah, dimuka guboknya, Husin duduk dan mulai pentil itu gitar, sembari menyanyi, akan menyatakan perasa’an ingin tahu siapa adanya itu gadis yang semalam telah masuk kedapam gubuknya dengan dian-dian dan sampai sekarang masih tidur nyenyak disitu.

Sura gitar dan nyanyiannya Husin sudah bikin Rasminah jadi mendusin dari tidurnya. Ia melihat kekanan dan kiri dengan perasa'an bingung, karena ia tidak ingat dimana ia berada. Akhirnya, sesudah berpikir sesa'atm ia ingat juga yang semalam ia telah makan dan minum dan kemudian jatuh pules. Tangannya kena pegang itu sepotong kain yang menutupi badannya. Ia jadi kaget dan lalu lemparkan itu, kemudian berbangkit dan dengan tindakan cepat jalan menuju kejendela, dari mana ia dapat lihat Husin sedang duduk mementil gitar sembari menyanyi didepan gubuknya.

Merasa kuatir yang Husin pun satu pemuda yang berperangai sebagai Parta, Rasminah lalu samperkan pintu gubuk, sekarang dengan tindakan berindap-indap, karena ia ingin berlalu dari itu gubuk dengan diam-diam.

Husin masih sedang pentil gitarnya sembari menyanyi kutika Rasminah keloar dari pintu gubuk dan dengan tidak melihat lagi kejurusannya, berlalu dari itu tempat dengan tindakan cepat.

Keinginan Rasminah satu-satunya adalah akan jauhkan diri dari itu gubuk dengan seberapa lekas bisanya. juga ia ingin bisa lekas-lekas sampai dirumah bibinya. Rasminah jalan dengan separoh lari!

Akhirnya ia sampai dijalanan besar, dan disitu ia bisa tahu kejurusan mana ia harus berjalan. Ia menarik napas legah!

Rasminah berjalan dengan cepat, tapi... disatu tikungan, dari jauh, ia dapat lihat Parta dan Dul sedang jalan mendatangi!