A Tour of the Missions: Observations and Conclusions
Chapter 1
page=1|thumb|[[Sorga Ka Toedjoe (ejaan lama)]] __NOTOC__ 1. Rasminah | 2. Hadijah | 3. Peminangan yang ditolak | 4. Marsiti | 5. Kasimin | 6. Dimabuk cinta | 7. Tamu yang tidak diundang | 8. Tertolong | 9. Bibi dan keponakan | 10. Pengaruhnya uang | 11. Terusir | 12. Bertemu | 13. Berkumpul Kembali | 14. Surga Ketujuh
1. Rasminah
OHOR...
Awan-awan tebal ada menutupi cahayanya matahari, sebagaimana sering terjadi ditempat-tempat disekitarnya bilangan Puncak.
Ditepi Telaga Warna, itu telaga yang terkenal permai dibilangan Preanger, ada kelihatan sangat teduh hingga menambahkan kecantikannya pemandangan diitu tempat. Puhun-puhun besar dengan daun-daunnya yang lebat membikin lebih teduh lagi satu pinggirnya itu telaga, dimana ada kelihatan sejumlah gadis-gadis sedang memancing ikan, sembari menyanyi dengan gumbira, sebagai juga mereka tidak perdulikan atau kenal sama kesukaran dunia...
Antara gadis-gadis itu adalah Rasminah yang paling cantik dan suaranyapun lebih merdu dari yang lain-lain.
Mereka bercanda, saling mengganggu satu sama lain. Mereka tertawa karena lucunya ceritera yang dituturkan oleh satu gadis itu.
Diluar tahu mereka, yang mengira sedang berada ditempat tertutup besar ada mengintip Parta, satu pemuda mata keranjang. Parta awaskan Rasminah dengan mata terbuka besar, karena kagum sama kecantikannya paras dan merdunya suara gadis itu, siapa ia telah rindukan buat sekian lamanya, tetapi tidak diladeni oleh Rasminah.
Jalannya waktu tidak dirasakan oleh gadis-gadis itu, begitupun oleh Parta. Sebagai juga hendak menjaili gadis-gadis itu sang ikan pun tidak mau samper dan makan umpan diujung pancing mereka. Akhirnya... pancingnya Rasminah dapat juga memakan korban. Rasminah tarik pancingnya dan seekor ikan yang masih berkelèjètan kelihatan dimana ujung tali pancing. Gadis kita lemparkan ikan itu ketepi telaga, sembari berbangkit dari duduknya akan memburu ketempat dimana ikan itu telah jatuh. Dengan tertawa girang ia pungut ikan itu, kemudian lalu melarikan diri dari dampingnya kawan-kawannya akan pulang kerumah bibinya dimana ia ada menumpang, karena Rasminah pun ada satu gadis piatu yang tinggal sama bibinya yang tidak melihat, siapa ia rawat dengan teliti dan rajin. Rasminah musti pulang, karena hari sudah dekat sore dan rumahnya ada jauh juga.
Suara tertawanya Rasminah yang penuh kegembiraan jadi berenti mendadak, sedang parasnya yang bergirang pun berobah menjadi ketakutan, ketika ia melihat Parta keluar dari tempat sembunyinya dan jalan menyamperkan dia. Rasminah lemparkan ikan yang ada ditangannya dan dengan sepenuhnya tenaga lalu melarikan diri, sedang Parta pun mulai mengudak dari belakangnya.
Disepanjang tepi sungai Rasminah ulur kakinya. Semangkin dekat Parta mendatangi. Rasminah menengok kebelakang dan dapat lihat Parta tidak seberapa jauh lagi dari dia. Rasminah jadi semangkin ketakutan; ia hendak lari lebih cepat lagi, tetapi sang kaki tidak bisa turuti kemauan hatinya. Dalam takutnya, Rasminah berteriak minta tulung.
Parta datang semangkin dekat. Lagi sedikit saja, ia akan bisa dapat pegang pada Rasminah, itu gadis yang ia rindui, dan rangkul tubuhnya...
Husin, satu landmeter muda, yang sedang melakukan pekerjaannya didekat tempat itu, telah dapat dengar suara teriakannya Rasminah. Ia menengok dan dapat lihat Parta sedang mengeyar Rasminah. Meskipun tidak kenal pada gadis itu, maopun pada Parta, tetapi Husin yang dapat lihat seorang perempuan muda sedang dikejar oleh satu lelaki. sudah tidak bisa biarkan hal demikian dengan tidak campur tangan. Ia tinggalkan theodolitenya dan lantas lari akan cegat perjalanannya Parta yang sedang mengejar Rasminah.
Rasminah lari, tetapi kakinya sudah mulai lemas. napasnya pun mulai sengal-sengal...Ia ingin bisa mempunyai sayap akan terbang atau mempunyai kesaktian akan masuk kedalam tanah, supaya bisa loloskan diri dari Parta yang ganas itu. Rasminah kesandung dan jatuh. Parta mendatangi semangkin dekat...
Parta bergirang melihat Rasminah terjatuh. Lagi beberapa tindak saja dan ia akan bisa dapat pegang gadis itu. Mendadak satu jotosan yang jitu sudah bikin ia melayang dan kejebur kedalam sungai...
Rasminah lihat kejadian itu dengan hati legah. Ia bergirang dan bersukur. Rasminah bangkit dari jatuhnya dan, dengan tidak mengucapkan terima kasih lagi pada penolongnya, ia meneruskan perjalanannya pulang.
Husin berdiri ditepi sungai dengan tidak perdulikan lagi pada Rasminah dan awaskan Parta yang sedang gelagapan dalam air, tertawakan pemuda yang dalam kesukaran itu. Parta yang sudah diserang dengan mendadak oleh Husin, tahu-tahu dirinya sudah terjebur dalam sungai, jadi sangat dongkol pada landmeter muda itu, tapi buat sementara itu tidak bisa berbuat lain selainnya dari pada berdaya akan loloskan dirinya dari bahaya terbawa hanyut oleh air sungai...
2. Hadijah
ARI sudah jadi semangkin sore. Permainya alam, terangnya cuaca, meskipun tertutup dengan gundukan-gundukan awan dan kesunyiannya tempat itu, yang cuma kadang-kadang saja terganggu oleh suara ocèhannya burung-burung, sebagai juga menjadi kaca bagi perasaan hati Hadijah yang tidak melihat.
Lagu yang ia perdengarkan dengan gitarnya, diikuti dengan suara nyanyian yang perlahan, meskipun ada lagu yang menggembirakan, ada menimbulkan juga perasaan mengharukan bagi yang mendengar.
Dari jauh Rasminah sudah dapat dengar suara gitar yang ditabuh oleh bibinya. Ketika sudah datang dekat kepekarangan rumah, Rasminah perlahan-lahan tindakannya dan dengan jalan berindap-indap menyamperkan Hadijah yang sedang duduk disatu bangku kebon dibawahnya satupohon besar. Rasminah biarkan Hajijah mainkan gitarnya dan menyanyi, dengan tidak menegur suatu apa. Iapun tidak kasih kentara yang ia berada didekat situ.
Dari parasnya Hadijah orang bisa dapat kenyataan bahwa perempuan yang tidak melihat itu ada kenangkan apa-apa dengan memainkan lahu yang sedang dinyanyikan itu. Ketika sudah habis menyanyi dan berhenti tabuh gitarnya, Hadijah bingung seketika lamanya, dengan paras sedih, kemudian ia menghela napas panjang dan berkata seorang diri:
Apakah aku nanti bisa bertemu lagi padanya di dunia ini, akan menyatakan aku punya perasaan menyesal, sudah berlaku begitu terburu napsu, Aku merasa pasti ia masih hidup, tapi dimana?"
Rasminah yang sedari tadi berdiri diam mengawaskan kelakuannya sang bibi, samperkan Hajijah dan berkata:
"Kenapa bibi suka meinkan itu lagu yang selalu bikin bibi jadi sedih?”
Hadijah tidak lantas menyahut, hanya kembali menghela napas. Kemudian dengan mengusut ia pegang pundaknya Rasminah, siapa ia tarik semangkin dekat dan berkata:
"Aku nyanyikan itu lagu saban hari, sebab meskipun betul ia bikin aku jadi sedih, tetapi ia bikin juga aku jadi terkenang sama apa yang sudah terjadi, hingga merupakan juga satu hiburan bagiku”.
"Bagaimana bisa jadi hiburan jika menyebabkan juga kesedihan?” Rasminah bertanya.
"Jika kau tidak tau riwayatku tentu juga kau tidak bisa artikan maksudku”, Hadijah menjawab.
"Ceriterakanlah, bibi, saya ingin sekali mendengar itu”, Rasminah mengundang.
Hadijah tidak lantas menyahut, hanya bingung sebentar, kemudian, sesudah menghela napas, barulah berkata:
"Baiklah aku nanti tuturkan itu. duduklah disini, diselahku, Ras!”
Rasminah lalu duduk disebelahnya Hadijah, sedang satu tangannya masih terus dipegang oleh bibinya.
"Riwayatku panjang dan menyedihkan”, begitulah Hadijah mulai "tetapi baik juga buat kau dengar supaya bisa dibuat kaca dalam penghidupanmu”.
Hadijah berhenti berkata-kata sebentar, sembari pentil gitarnya dengan perlahan, kemudian teruskan ceriteranya:
"Ayahku, Ras, ada seorang hartawan yang beradat sangat kukuh dan kemaoannya selalu bertentangan dengan hatiku. Aku sangat suka sama muziek, tapi ia sangat tidak setuju, hingga terpaksa aku mesti pelajari itu dengan diam-diam, diluar tahunya. Antara pegawainya ada satu pemuda, Kasimin, yang cintakan aku, dan akupun mencintakan dia. Ia ada seorang pemuda pendiam dan tahu diri, hingga tidak berani majukan lamaran bagi diriku pada ayahku, siapa dengan bertentangan sama perasaan hatiku. sudah terima baik lamarannya seorang hartawan buat anaknya yang bukan saja ada satu dogol, tapi juga satu pemogaran dan penjudi besar. Karena kuatir ayahku nanti paksa juga aku menikah sama pemuda itu, aku dan Kasimin akhirnya sudah melarikan diri, sesudah menikah dengan diam-diam, dari rumahnya orang tuaku, yang dalam gusarnya sudah tidak mau aku anak lagi padaku. Kita datang di Betawi dan sewa rumah di Poncol, dimana Kasimin dengan uwang cèlènganku yang beryumlah besar yuga telah mulai berdagang. Saban hari pada jam 5 sore, kendati lagi bagaimana tidak sempat juga. ia tentu pulang akan ketemui aku, akan mainkan itu lagu "Sorega ke-Tujuh” bersama-sama, karena lagu itu ada menjadi symbool dari percintaan dan penghidupan kita. Dagangannya Kasimin dapat kemajuan bagus dan 5 tahun lamanya kita telah hidup dalam keberuntungn. Tapi sebagaimana sudah lumrahnya dalam dunia ini, segala apa tidak ada yang kekal, karena pada suatu hari, lantaran terburu napsu, aku sudah bikin luka hatinya Kasimin yang beradat keras dan sedarioitu ketika, keberuntunganku telah menjadi musnah, sebagai juga asap tertiup angin...".
Hadijah tidak bisa teruskan ceritanya, karena tertindih oleh perasaan sedih. Sesa'at lamanya ia tinggal bingung, sehingga Rasminah jadi berkata:
"Jika menuturkan riwayat itu bikin bibi jadi sedih, baiklah jangan teruskan”
Hadijah usap-usap badannya Rasminah, kemudian teroskan riwayatnya:
"Pada suatu sore selagi udara ada sedikit mendung dan karena ketanggungan masak, aku sudah datang sedikit laat ketempat dimana kita biasa duduk-duduk. Ketika aku lagi jalan ketempat itu, aku dapat lihat suamiku sedang bicara dengan asik dengan seorang perempuan muda. Karena ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh mereka aku sudah tidak lantas menyamperkan, hanya dengan jalan berindap-indap aku sembunyikan diri dibelakang satu puhun tanjung besar, tidak jauh dari tempat mereka sedang bicara. supaya dapat mendengarkan pembicaraan mereka. Apa yang aku dengar adalah suamiku sedang berkata pada perempuan itu:”
"Maskipun apa yang sudah terjadi, kecinta'anku bagimu tidak menjadi kurang. Aku nanti rawat anak itu dengan baik". sedang perempuan itu kelihatan sebagai orang baru habis menangis. jawabnya perempuan itu bikin darahku jadi meluap dan perasaan cemburuan jadi timbul, karena ia bilang:
"Aku merasa sukur sekali yang cintamu tidak berobah, Hatiku sekarang merasa legah”
"Sesudah berkata begitu perempuan itu lantas berlalu. Tersurung oleh perasaan gusar dan cemburuan, bukannya aku lantas minta keterangan lebih jauh sama suamiku, hanya begitu lekas perempuang itu berlalu. Ketika itu ia lagi duduk bingung sebagai orang sedang berpikir keras. Kegugupannya ketika mendengar aku memaki sudah bikin aku jadi tambah gusar dan tambah cemburuan. hingga aku telah ucapkan perkataan-perkataan yang bukan mestinya, yang mana sudah bikin luka hatinya. Keterangannya yang perempuan itu ada saudaranya aku sudah tidak percaya, karena ia belum pernah kasi tahu padaku yang ia ada mempunyai saudara perempuan, dan bikin aku jadi bertambah sengit. Aku punya ucapan-ucapan rupanya sudah bikin ia jadi gusar dan hilang sabarnya, karena akhirnya ia cuma berkata saja:
"Kalau kau tidak mau percaya omonganku, aku tentu tidak bisa paksa kau akan percaya kebenarannya keteranganku tadi. Aku sekarang mau berlalu dari tempat ini, karena aku tahu kau tentu tidak akan bisa mencinta lagi padaku sebagaimana biasa sehingga kau bisa buktikan kebenarannya perkataanku. Sebelumnya aku berlalu dari depanmu, aku cuma mau bilang saja yang sampai akhirnya jaman aku punya cinta buat kau tidak akan berobah. Meskipun dimana juga aku berada, sebegitu lama aku masih bernapas, dalam kesenangan atau kesusahan, saban hari pada waktu seperti ini semangatku nanti datang mengunjungi kau akan mencicipi lagi itu surga keberuntungan yang selama 5 tahun ini kita sudah rasakan bersama-sama. Sekarang selamat tinggal!”
Karena berada dalam kegusaran dan hati terbakar oleh perasaan cemburuan, aku sudah tidak perdulikan padanya dan biarkan saja ia berlalu dari hadapanku. Berhari-hari ia tidak pulang. Akupun bermula tidak pikirkan, karena masih merasa marah padanya dan kirakan saja yang ia lagi mengeram sama perempuan itu. Satu hari orang ramai ceritakan yang dipinggir kali Noordwiyk telah didapatkan satu mayat, yang karena sudah berada lama dalam air susah dikenali rupanya, tapi potongannya ada banyak mirip sama Kasimin. Mendengar kabar itu, kegusaranku jadi linyap dan aku lantas buru-buru pergi akan melihat mayat itu. Apa mau, ditengah jalan aku telah ketubtuk auto dan ketika kemudian aku sedar dari pangsanku, aku sudah berada dirumah sakit, sedang kedua mataku sudah tidak bisa melihat lagi. Sedari waktu itu, Ras, aku telah menjadi buta, tidak bisa melihat lagi, tidak bisa bedakan gelap dari terang, merah dari putih, sedang hatikupun sudah tidak mengenal keberuntungan lagi”.
Hadijah berhenti berkata,kata, akan menangis sesegukan, sedang Rasminah pun jadi turut bersedih mendengar riwayatnya sang bibi yang bercelaka itu. Sesudah berselang seketika lamanya, Hadijah teruskan riwayatnya:
"Ketika sudah sembuh dan boleh keluar dari rumah sakit, orang antarkan aku pulang kerumah, dimana aku kemudian dapat kabar bahwa mayat itu bukan mayatnya Kasimin, hanya seorang dari kampung Noordwiyk yang memang ada mempunyai penyakit ayan dan rupanya selagi mandi telah terserang penyakitnya dan jadi mati tenggelam. dengan pertolongannya satu tetanggaku aku jual semua barang dagangannya Kasimin dan pindah dari Betawi kesini, dimana aku lantas beli rumah ini. Sejak itu, aku sudah hidup dalam kedukaan dan penyesalan. Hiburanku satu-satunya adalah saban hari pada waktu begini akan berdiam disini sembari menyanyikan itu lagu "Surga Ketujuh” yang oleh Kasimin dianggap sebagai satu pengutaraan dari cintanya padaku. jika lagi nyanyikan lagu itu, aku rasakan sebagai juga benar Kasimin ada didekatku, sebagaimana katanya ketika hendak meninggalkan aku, yang pada waktu begini semangatnya akan datang mengunjungi aku”.
Hadijah tidak bisa teruskan ceritanya lebih jauh lagi, hanya kembali lalu menangis sesegukan. Rasminah lalu bujuki sang bibi supaya jangan terlalu berduka karena kuatir itu nanti mengganggu kesehatannya.
Diitu sa’at yang Hadijah lagi tuturkan riwayat penghidupannya pada Rasminah, adalah Kasimin, itu orang yang sedang diceritakan, pun lagi mementil gitarnya, dengan menyanyikan juga "Surga Ketujuh”, disatu kebon buah-buahan yang terletak dibilangan Tangerang. Sebagai juga Hadijah, Kasimin pun selalu kenangkan isterinya itu. Sebagai juga Hadijah, iapun ingin bisa berkumpul kembali sama isterinya yang ia cintakan itu, cuma saja perasaannya angkuh dan adat yang keras tidak mengizinkan ia mencari isterinya.
Saban sore iapun tentu tidak lupa akan mainkan lagu "Surga Ketujuh” sembari kenangkan pada keberuntungannya yang sudah-sudah. Ia merasa pasti yang suatu waktu ia tentu akan bisa bertemu dan berkumpul pula sama isterinya, cuma saja ia tidak tahu bahwa sang isteri itu sekarang sudah tidak melihat lagi!
3. Peminangan yang ditolak
EBERAPA hari telah berlalu.
Pada suatu pagi selagi Hadijah berduduk sendirian dipertengahan reomahnya, karena Rasminah lagi masak didapur, Parta telah datang mengunjungi.
Sesudah dipersilakan duduk dan Parta menanyakan kesehatannya Hadijah, Parta, dengan rupa sangsi akhirnya telah menanya:
"Bagaimana, nyonya, bagaimana putusannya dengan saya punya lamaran buat dirinya nyonya punya keponakan?”
"Sebagaimana sudah berulang-ulang saya kasi tau pada tuan, Rasminah belum ada niatan akan menikah”, Hadijah menjawab.
"Akh, itu cuma satu alasan saja akan menolak lamaran saya. Saya ingin sekali mendapat tau, kenapa Rasminah begitu membenci sama saya. Saya kirimi uwang belanja ia tolak, saya kirimi pakaian ia kirim kembali. Apakah sebabnya?”
"Betul, tuan, Rasminah belum ada mempunyai niatan akan bersuami. jikan ia kelihatannya sebagai membenci sama tuan, itulah ada karena tuan punya perbuatan sendiri”.
"Saya punya perbuatan sendiri? Akh, mana bisa jadi? Apakah yang saya sudah berbuat?”, Parta menanya.
"Apakah tuan tidak merasa yang dengan selalu menyegat ia disini dan sana, dan kadang-kkadang juga kejar-kejar padanya, tuan tidak bikin ia jadi ketakutan dan dengan begitu jadi membenci sama tuan?”
Parta jadi bingung. Sekarang barulah ia merasa bahwa perbuatannya yang ceriwis itu tidak betul adanya — bikin ia jadi dibenci oleh Rasminah. Apakah ia nanti bisa bikin betul kesalahannya itu dan apatah yang ia musti berbuat supaya bisa dapatkan kecinta’annya Rasminah yang ia sangat rindukan? Parta jadi terdiam, tidak berkata-kata buat seketika lamanya. Hadijah berkata lagi: "Sudahlah, tuan, buat apa tuan mesti begitu maui Rasminah. Tokh masih banyak gadis lain yang bukan saja parasnya ada lebih elok dari Rasminah, tapi pun lebih terpelajar dan derajatnya lebih tinggi dari dia”.
"Saya ingin beristerikan Rasminah, nyonya”, ujarnya Parta, "karena saya cintakan ia dengan segenap hati saya. Saya nanti bikin ia jadi beruntung. Begitu pun nyonya”.
"Tapi Rasminah tidak menyinta tuan”, Hadijah menjawab: "bagaimana tuan bisa bikin ia jadi beruntung?”
"Kalau nyonya suka izinkan saya menikah dengan Rasminah, nanti pun Rasminah tentu bisa mencinta saya. Saya nanti iringkan semua kemauannya, kasi ia tinggal dirumah gedong, pakaian yang bagus-bagus, barang permata yang berharga mahal dan hidup dengan senang dan serba cukup”.
"Apa tuan kira dengan uang tuan bisa bikin orang jadi beruntung dan mencinta sama tuan?”
"Bukan begitu, yang saya maksudkan, nyonya. Saya mau bilang yang saya nanti bikin Rasminah hidup dalam serba cukup dan kesenangan. Dengan pelahan ia tentu nanti bisa mencinta sama saya”.
"Tuan punya anggapan ada kliru. cinta tidak bisa dibeli dengan harta dunia, cinta ada datu perasa’an suci yang tidak gampang bisa dipengaruhi oleh kementerengan dan uang. jika tuan punya kedatangan cuma ada buat itu urusan saja, baiklah tuan pulang saja, sebab saya tidak bisa terima tuan punya lamaran buat Rasminah, bukan saja karena Rasminah tidak cinta tuan, tapi juga sebab tuan sudah mempunyai isteri. Semua orang tahu yang tuan Parta ada beristerikan Marsiti”.
"Marsiti cuma satu istri piara’an saja. Saya punya kedua orang-tua tidak tau yang saya piara Marsiti itu. Kalau nyonya suka kasihkan Rasminah sama saya, saya nanti buang Marsiti itu dan kawin sama Rasminah”.
"Sudahlah, tuan, tidak perlu tuan rundingkan ini hal lebih jauh. Saya sudah bilang yang saya ta’ bisa terima tuan punya lamaran buat dirinya Rasminah”.
Mendengan itu ucapan, Parta punya paras lantas berobah menjadi beringas. Ia bangkit dari krosinya dan dengan tidak ucapkan sepatah perkata’an lagi, lantas saja ia berjalan keluar, tinggalkan Hadijah sendirian diitu ruangan.
Mendengar Parta sudah berlalu, Hadijah lantas menarik napas legah dan dengan suara sedikit keras lalu panggil Rasminah, yang tidak lama kemudian kelihatan keluar menyamperkan pada sang bibi. Hadijah persilakan Rasminah duduk didekatnya, kemudian berkata:
"Kau tentu bisa duga apa maunya Parta itu dengan iapunya kedatangan disini?”
"Ya, bibi.”
"Bagaimana pikiranmu sekarang. Apa kau mau bersuamikan dia?”
"Saya lebih suka mati dari pada musti bersuami sama Parta, bibi”.
"Jika kau selalu tolak lamarannya ia tentu berdaya terus akan dapatkan kau. Kalau kau punya pikiran tetap begitu, kau harus berlaku hati-hati terhadap dia, yang terkenal sebagai satu pemuda mata keranjang, yang tidak sungkan akan gunakan segala daya buat bisa sampaikan maksudnya”.
Mendengar itu omongan Rasminah punya paras berobah menjadi sedikit pucat. Ia manggutkan kepalanya, kemudian ketika ingat bahwa sang bibi tidak bisa melihat, ia berkata: "Ya, bibi, saya nanti berlaku hati-hati”.
Sesudah ucapkan itu perkata’an Rasminah lalu berbengkit dari duduknya dan jalan masuk kedalam rumah.
Satu malam telah berlalu dengan cepat. Esok paginya selagi Rasminah duduk menjait, dengan disebelahnya duduk Hadijah, Rasminah berkata pada sang bibi:
"Bibi, beras sudah hampir habis lagi, sedang uang simpanan bibi pun cuma tinggal sedikit saja. Ras sekarang sudah besar dan bisa menjaga diri dengan baik. Apakah tidak lebih baik kalau Ras pergi saja ke Betawi dan mencari pekerja’an disana? Dengan begitu bukan saja bisa mencari uang, tapi pun Ras bisa jauhkan diri dari Parta”.
Hadijah tidak lantas menyahut hanya berdiam dulu sebentar sebagai orang lagi berpikir, kemudian lalu berkata:
"Kalau kau mau pergi ke Betawi akan mencari pekerja’an kau boleh tinggal menumpang dirumahnya tuan Mustapa, aku punya kenalan lama. Tapi disana kau jangan sembarangan bergaul sama orang dan harus jaga diri dengan baik”.
"Tentu saya nanti jaga diri dengan baik, bibi. Kalau Ras sudah dapat pekerja’an, Ras nanti balik kemari akan ambil bibi buat pindah ke Betawi”.
"Kalau kau punya niatan sudah tetap begitu, baiklah kau bikin persedia’an akan berangkat ke Betawi. Besok atau lusa kau boleh pergi, supaya jangan dapat gangguan lebih jauh dari Parta”.
"Kalau bibi bilang begitu, baiklah lusa saja Ras berangkat, sebab Ras mau pesan teman-teman dulu supaya mereka lihat-lihat dan bantu rawati bibi selama Ras lagi tidak ada dirumah”.
Sesudah berkata demikian Rasminah lalu berbangkit dan masuk kedalam kamarnya, untuk pakaiannya yang hendak dibawa ke Betawi.
4. Marsiti
ALAM sebuah gedong kecil yang diperaboti dengan lengkap ada kelihatan, dipertengahan rumah, seorang perempuan muda, dengan paras duka, sedang mementil gitar sembari menyanyi. Beberapa bujang perempuan kelihatan sedang membersihkan korsi-meja yang berada disitu.
Dengan paras masgul, sesudah menyanyi, itu perempuan muda menghampiri satu rustbank, dimana ia lalu menjatuhkan dirinya, sembari menghela napas. Ia duduk disitu dengan bingung, sehingga satu bujang perempuan menyamperkan dia sembari sodorkan satu rekening dan berkata:
"Nyonya, itu abang bilang ia tidak bisa kasi tempo lagi. Kalu tidak dibayar ini hari, besok mau diperkarakan, sebab tuannya tidak bisa menunggu lebih lama lagi”.
Marsiti sambut itu kwitantie, perhatikan sesa’at lamanya, kemudian lalu lemparkan sembari berkata:
"Bilang saja tuan belum pulang, Nanti sore boleh datang lagi”.
Itu bujang pungut itu kwitantie dan jalan keluar, sedang Marsiti, begitulah namanya itu perempuan, lalu bangun dari itu rustbank dan samperkan krosi-panjang dari meja-stelan, dimana ia lantas duduk. Belum lama Marsiti duduk disitu, ketika Parta jalan masuk keitu ruangan dan dengan paras marah-marah, lalu duduk juga diitu krosi Marsiti awaskan parasnya Parta sesa’at lamanya, kemudian menanya:
"Kau kenapa, kanda? Apa sudah ketemu sama itu tukang rekening?”
"Rekening... tidak lain dari rekening saja kalau aku datang kesini...!” Parta menjawab dengan gusar.
Marsiti jadi mendongkol dapat itu penyahutan dan berkata: "Dan kau... tidak lain cuma marah-marah saja dan tekuk muka kalau ada disini!”
"Mana aku bisa bersenang kalau selalu dikerubuti tukang rekening?”
"Kau tokh bisa minta cukup uang akan membayar itu semua rekening dari kau punya ayah. jangan bikin aku jadi malu saja sama itu tukang-tukang rekening yang kalau datang kemari selalu mengomel kalang kabut, jika rekeningnya tidak dibayar!”
"Berapa kali aku musti bilang sama kau yang ayahku tidak mau kasi uang banyak-banyak lagi sama aku! jangan sentara buat membayar rekening, buat aku blanja saja sudah hampir tidak cukup!”
"Mana bisa jadi tidak dapat kalau kau minta! Ayahmu tokh mempunyai banyakn uang!”
"Ayahku sekarang lagi pusing dan musti gunakan banyak uwang akan membeli tanah diudik, dari itu aku tidak bisa dapat uwang banyak-banyak lagi. Kau musti berlaku himat dan jangan bikin aku tambah kesal saja!”
"Siapa yang bikin kau kesal? Aku tidak, tapi kau yang bikin aku jadi malu dan kesal!”
Parta awaskan Marsiti dengan perasaan mendongkol dan jemu, kemudian ia berbangkit dari duduknya dan dengan tidak berkata-kata lagi, lalu jalan keluar dari itu ruangan.