John Henry Smith: A humorous romance of outdoor life

Chapter 2

Chapter 23,318 wordsPublic domain

Bilakah kita punya penganjur-penganjur Islam mengerti falsafatnya historic degrees ini, – membangunkan kecintaan membunuh segala "se­mangat-kurma" dan "semangat-sorban" yang mau mengikat Islam kepada zaman kuno ratusan tahun yang lalu, kecintaan berjoang mengejar zaman, kecintaan berkias dan berbid'ah di lapangan dunia sampai kepun­cak-puncaknya kemoderenan, kecintaan berjoang melawan segala se­suatu yang mau menekan umat Islam ke dalam kenistaan dan kehinaan?

Khabar Endeh: sehat-wal'afiat. Bagaimana di sini?

Wassalam,

SUKARNO

No. 9. Endeh, 22 April 1936.

Assalamu'alaikum,

Than, postpakket yang pertama, sudah saya terima: postpakket yang kedua sudah datang pula di kantor pos, tetapi belum saya ambil, karena masih ada satu-dua kawan yang belum setor uang kepada saya, padahal saya sendiri di dalam keadaan "kering", – sebagai biasa sehingga belum bisa menalanginya. Tapi dalam tempo tiga-empat hari lagi, niscayalah kawan-kawan semua sudah setor penuh.

Di dalam paket yang pertama itu, ada "ekstra" lagi dari tuan, yaitu biji jambu mede. Banyak terimakasih. Kami seisi rumah, itu hari pesta lagi makan biji jambu mede, seperti dulu. Juga saya membilang banyak terima kasih atas tuan punya hadiah buku serta pinjaman buku.

Khabar tentang berdirinya pesantren, sangat sekali menggembirakan hati saya. Kalau saya boleh memajukan sedikit usul: hendaklah ditam­bah banyaknya "pengetahuan Barat" yang hendak dikasihkan kepada murid-murid pesantren itu. Umumnya adalah sangat saya sesalkan, bahwa kita punya Islam-scholars 2 ) masih sangat sekali kurang pengetahuan modern-science 3 ) .

1) Artin y a: Melulu sebagai ting k at-ting k at perjalanan sejarah.

2) Scholar = Orang y ang berilmu.

3) Pengetahuan modern.

Walau yang sudah bertitel "mujtahid" dan "ulama" sekalipun, banyak sekali yang masih mengecewakan pengetahuannya modern-science. Lihatlah misalnya kita punya majalah-majalah Islam: banyak sekali yang kurang kwaliteit. Dan jangan tanya lagi bagaimana halnya kita punya kyai-kyai muda I Sa y a tahu, tuan pun y a pesantren bukan universiteit, tapi alangkah baiknya kalau tokh western science di situ ditambah banyaknya. Demi Allah "Islam science" bukan hanya penge­tahuan Qur'an dan Hadits sahaja; "Islam science" adalah pengetahuan Qur'an dan Hadits plus pengetahuan umum! Orang tak dapat memahami betul Qur'an dan Hadits, kalau tak berpengetahuan umum. Walau tafsir­-tafsir Qur'an yang masyhurpun dari zaman dahulu,- yang orang sudah kasih titel tafsir yang "keramat", – seperti misalnya tafsir Al-Baghawi, tafsir Al-Baidlawi, tafsir Al-Mazhari dls.- masih bercacad sekali; cacad-cacad yang saya maksudkan ialah misalnya: bagaimanakah orang bisa mengerti betul-betul firman Tuhan, bahwa segala barang sesuatu itu dibikin olehNya "berjodo-jodoan", kalau tak mengetahui biologi, tak mengetahui elektron, tak mengetahui positif dan negatif, tak mengetahui aksi dan reaksi? Bagaimanakah orang bisa mengerti firmanNya, bahwa "kamu melihat dan menyangka gunung-gunung itu barang keras, padahal semua itu berjalan selaku awan", dan bahwa "sesungguhnya langit-langit itu asal-mulanya serupa zat yang bersatu, lalu kami pecah-pecah dan kami jadikan segala barang yang hidup daripada air", – kalau tak mengetahui sedikit astronomy? Dan bagaimanakah mengerti Ayat-ayat yang meriwayatkan Iskandar Zulkarnain, kalau tak mengetahui sedikit history dan archaeology? Lihatlah itu blunder-blunder-Islaml ) sebagai "Sultan Iskandar" atau "raja Fir'aun yang satu" atau "perang Badar yang mem­bawa kematiannya ribuan manusia hingga orang berenang di lautan darah"! Semuanya itu karena kurang penyelidikan history, kurang scientific feeling 2) .

1) Blunder = kesalahan, kebodohan.

Artin y a: Kurang c inta kepada pen y elidikan 11= pengetahuan

Alangkah baiknya kalau tuan punya muballigh-muballigh nanti bermutu tinggi, seperti tuan M. Natsir, misalnya! Saya punya kyjakinan yang sedalam-dalamnya ialah, bahwa Islam di sini, – ya di seluruh dunia – , tak akan menjadi bersinar kembali kalau kita orang Islam masih mempunyai "sikap hidup" secara kuno sahaja, yang menolak tiap-tiap "ke-Barat-an" dan "kemoderenan". Qur'an dan Hadits adalah kita punya wet yang ter­tinggi, tetapi Qur'an dan Hadits itu, barulah bisa menjadi pembawa kemajuan, suatu api yang men y ala, kalau kita baca Qur'an dan Hadits itu dengan berdasar pengetahuan umum.

Ya, justru Qur'an dan Hadits­lah yang mewajibkan kita menjadi cakrawarti di lapangannya segala science dan progress, di lapangannya segala pengetahuan dan kemajuan. Kekolotan dan kekunoan dan kebodohan dan kemesuman itulah yang menjadi sebabnya ulama-ulama Hejaz dulu memaksa. Ibnu Saud me­rombak kembali tiang radio Madinah, kekunoan dan kebodohan dan kemesuman itulah pula yang menjadi sebabnya banyak orang tak mengerti dan tak bisa mengerti sahnya beberapa aturan-aturan-baru yang diadakan oleh Kemal Ataturk atau Riza Khan Pahlawi atau Jozef Stalin! Cara kuno dan cara mesum itulah, – juga di atas lapangan ilmu tafsir yang menjadi sebabnya seluruh dunia Barat memandang Islam itu sebagai satu agama yang anti-kemajuan dan yang sesat. Tanyalah kepada itu ribuan orang Eropah yang masuk Islam di dalam abad keduapuluh ini: dengan c ara apa dan dari siapa mereka mendapat tahu baik dan bagusnya Islam, dan mereka akan menjawab: bukan dari guru-guru yang hanya menyuruh muridnya "beriman" dan "percaya" sahaja, bukan dari muballigh­-muballigh yang tarik muka angker dan hanya tahu putarkan tashbih saha­ja, tetapi dari muballigh yang memakai cara penerangan yang masuk akal, – karena ‘berpengetahuan umum. Mereka masuk Islam, karena muballigh-muballigh yang menghela mereka itu, ialah muballigh-mubal­ligh modern dan scientific, dan bukan muballigh "a. la Hadramaut" atau "a l a Kyai bersorban". Percayalah bahwa, bila Islam dipropagandakan dengan cara yang masuk akal dan up-to-date, seluruh dunia akan sedar kepada kebenaran Islam itu. Saya sendiri, sebagai seorang terpelajar, barulah mendapat lebih banyak penghargaan kepada Islam, sesudah saya mendapat membaca buku-buku Islam yang modern dan scientific. Apa sebab umumnya kaum terpelajar Indonesia tak senang Islam? Sebagian besar, ialah oleh karena Islam tak mau membarengi zaman, dan karena salahn y a orang-orang y ang mempropagandakan Islam: mereka kolot, me­reka orthodox, mereka anti-pengetahuan dan memang tidak berpenge­tahuan, takhayul, jumud, menyuruh orang bertaklid sahaja, menyuruh orang "percaya" sahaja, – mesum mbahnya mesum!

Kita ini kaum anti-taqlidisme? Bagi saya anti-taglidisme itu berarti:

Bukan sahaja "kembali" kepada Qur'an dan Hadits, tetapi "kembali kepada Qur'an dan Hadits dengan mengendarai kendaraannya pengetahuan umum".

Tuan Hassan, maafkanlah saya punya obrolan ini. Benar satu obrolan, tapi satu obrolan yang keluar dari sedalam-dalamnya saya punya kalbu. Moga-moga tuan suka perhatikannya berhubung dengan tuan punya pesan­tren. Hiduplah tuan punya pesantren itu!

Wassalam,

SUKARNO

No. 10. Endeh, 12 Juni 1936.

Assalamu'alaikum,

Saudara! Saudara punya kartupos sudah saya terima dengan girang. Syukur kepada Allah Ta'ala saya punya usul tuan terima!

Buat mengganjel saya punya rumah tangga yang kini kesempitan, – saya punya onderstand dikurangi, padahal tahadinyapun sudah sesak sekali buat membelanjai – segala saya punya keperluan maka saya sekarang lagi asyik mengerjakan terjemahan sebuah buku Inggeris yang men­tarikhkan Ibnu Saud. Bukan main haibatnya ini biography! Saya jarang menjumpai biography yang begitu menarik hati.

Tebalnya buku Inggeris itu, – formaat tuan punya "Al-Lisaan" – ,

adalah 300 muka, terjemahan Indonesia akan jadi 400 muka. Saya minta saudara tolong carikan orang yang mau beli copy itu, atau barangkali saudara sendiri ada uang buat membelinya?

Tolonglah melonggarkan saya punya rumah tangga yang disempitkan korting itu.

Bagi saya pribadi buku ini bukan sahaja satu ichtiar economy,

tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confession. Ia adalah menggambarkan kebesaran Ibnu Saud dan Wahliabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan element aural, perbuatan begitu rupa, hingga banyak kaum "tafakur" dan kaum pengeramat Husain c.s. akan kehilangan akal nanti sama sekali. Dengan menyalin ini buku,

adalah satu confession bagi saya bahwa, saya, walaupun tidak mufakati semua system Saudisme yang masih ban y ak feodal itu, tokh menghormati dan kagum kepada pribadinya itu laki-laki yang "towering above all Moslems of his time; an immense man, tremendous, vital, dominant. A giant thrown up out of the chaos and agony of the desert, – to rule, following the example of his

Great teacher, Mohammad" 1) . Selagi menggoyangkan saya punya pena menterjemahkan biography ini, ikutlah saya punya jiwa bergetar karena kagum kepada pribadinya orang yang digambarkan. What a man! Mudah-mudahan saya mendapat taufik menyelesaikan terjemahan ini dengan cara yang bagus dan tak kecewa. Dan mudah-mudahan nanti ini buku dibaca oleh banyak orang Indonesia, agar bisa mendapat inspiration daripadanya. Sebab, sesungguhnya ini buku, adalah penuh dengan inspiration. Inspira­tion bagi kita punya bangsa yang begitu muram dan kelam-hati, inspiration bagi kaum Muslimin yang belum mengerti betul-betul artinya perkataan "Sunah Nabi", – yang mengira, bahwa sunah Nabi s.a.w. itu hanya makan korma di bulan Puasa dan celak-mata dan sorban sahaja!

Saudara, please tolonglah. Terima kasih lahir-bathin, dunia-akhirat.

Wassalam,

SUKARNO

1) Artin y a: ialah bahwa Ibnu Saud itu seorang laki-laki y ang melebihi semua orang Muslim zaman sekarang, seorang raksasa y ang mengikuti tauladann y a Nabi Muhammad s.a.w.

No. 11. Endeh, 18 Augustus 1936.

Assalamu'alaikum,

Surat tuan sudah saya terima. Terima kasih atas tuan punya kecapaian mencarikan penerbit buku saya ke sana-sini. Moga-moga lekas dapat, sayang kalau manuscript yang begitu tebal, tinggal manuscript sahaja.

Tentang tuan punya usul menulis buku yang lebih tipis, – brosyur -, saya akur. Memang brosyur itu amat perlu. Tapi sebenarnya saya ingin menyudahi satu buku lagi yang juga kurang-lebih 400 muka tebalnya, yang rancangannya sekarang sudah selesai pula di dalam saya punya otak. Rakyat Indonesia, – terutama kaum intelligentzia – , sudah mulai banyak yang senang membaca buku-buku bahasa sendiri yang "matang", yang "thorough". Ini alamat baik; sebab perpustakaan Indonesia buat 95% hanya buku-buku tipis sahaja, hanya brosyur-brosyur sahaja, tak sedikit gembira saya, waktu saya menerima buku bahasa Indonesia "Islam di tanah China". Buku ini adalah satu contoh buku yang "thorough". Alangkah baiknya, kalau lebih banyak buku-buku semacam itu di perpustakaan kita!

Barangkali nanti kita punya intelligentzia tidak senantiasa terpaksa men­cari makanan rokh dari buku-buku asing sahaja. Ini tidak berarti, bahwa saya tak mufakat orang baca buku asing. Tidak! Semua buku ada faedahnya, makin banyak baca buku, makin baik. Walau buku bahasa Hottentot-pun baik kita baca! Tapi janganlah perpustakaan kita sendiri berisi nihil, sebagai keadaan sekarang ini. Tuan kata, buku-tipis lebih murah harganya; tapi bagi kaum intelligentzia dan kaum yang sedikit mampu tidaklah menjadi halangan harga buku tebal itu. Toch kaum intelligentzia juga mengeluarkan banyak uang bagi buku asing? Tokh kita punya kaum mampu juga banyak mengeluarkan uang buat pakaian, buat bioskop, atau buat kesenangan lain-lain? Sebenarnya harga sesuatu buku tidak menjadi ukuran laku-tidaknya buku itu nanti; yang menjadi ukuran, ialah kandungan buku itu; isi buku itu, digemari orang atau tidak. Bagi marhaen, ya memang, zaman sekarang ini zaman berat.

Tapi tiada keberatan kalau buku-buku tebal itu dijadikan "penerbitan untuk rakyat", atau dipecah menjadi empat-lima jilid, sehingga meringankan harga bagi marhaen. (Sebenarnya kurang baik memecah buku menjadi jilid-jilid yang kecil). Tapi tokh, dalam pada saya menganjurkan penerbitan lebih banyak buku yang tebal dan thorough itu, saya akui pula kefaedahannya brosyur. Sebagai alat propaganda, bro­syur adalah sangat perlu. Insya Allah saya akan tulis brosyur tentang faham jaiz didalam hal keduniaan.

Di dalam salah satu surat saya yang terdahulu, saya sudah sedikit singgung perihal ini. Kita punya peri-kehi­dupan Islam, kita punya ingatan-ingatan Islam, kita punya ideologi Islam, sangatlah terkurung oleh keinginan mengcopy 100% segala keadaan keadaan dan cara-cara dari zaman Rasul s.a.w., dan khalifah yang besar.

Kita tidak ingat, bahwa masyarakat itu adalah barang yang tidak diam, tidak tetap, tidak "mati" – tetapi "hidup" mengalir berobah senantiasa, maju, berevolusi, dinamis. Kita tidak ingat, bahwa Nabi s.a.w. sendiri telah menjaizkan urusan dunia menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak haram atau makruh. Kita royal sekali dengan perkataan "kafir", kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap "kafir". Pengetahuan Barat – kafir; radio dan kedokteran – kafir; pantalon dan dasi dan topi – kafir; sendok dan garpu dan kursi – kafir; tulisan Latin – kafir; ya bergaulan dengan bangsa yang bukan Islam pun – kafir! Padahal apa-apa yang kita namakan Islam? Bukan Rokh Islam yang berkobar‑kobar, bukan api Islam yang menyala-nyala, bukan Amal Islam yang mengagumkan, tetapi … dupa dan korma dan jubah dan celak-mata! Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangannya bau kemenyan, siapa yang matanya dicelak dan jubahnya panjang dan menggenggam tasbih yang selalu berputar, – dia, dialah yang kita namakan Islam. Astagafirullah Inikah Islam? Inikah agama Allah? Ini? Yang mengafirkan pengetahuan dan kecerdasan, mengafirkan radio dan listrik, mengafirkan kemoderenan dan ke-up-to-date-an? Yang mau tinggal mesum sahaja, tinggal kuno sahaja, yang terbelakang sahaja, tinggal "naik onta" dan "makan zonder sendok" sahaja "seperti di zaman Nabi dan Chalifahnya. Yang menjadi marah dan murka kalau mendengar khabar tentang diadakannya aturan-aturan baru di Turki atau di Iran atau di Mesir atau di lain-lain negeri Islam di tanah Barat?

Islam is progress, Islam itu kemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam salah satu surat saya yang terdahulu. Kemajuan karena fardlu, kemajuan karena sunah, tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan di lapangkan oleh aturan, jaiz atau mubah yang lebarnya melampaui­ batas-batasnya zaman. Islam is progress. Progress berarti barang baru, barang baru yang lebih sempurna,

yang lebih tinggi tingkatn y a daripada barang yang terdahulu.

Progress berarti pembikinan baru, creation baru, – bukan mengulangi barang yang dulu, bukan mengcopy barang yang lama. Di dalam politik Islam-pun orang tidak boleh mengcopy barang yang lama, tidak boleh mau mengulangi zamannya "chalifah-chalifah" yang besar. Kenapa tokh orang-orang politik Islam di sini selamanya menganjurkan political system "seperti di zamannya chalifah-chalifah yang besar" itu? Tidakkah di dalam langkahnya zaman yang lebih dari seribu tahun itu peri-kemanusiaan mendapatkan system-system baru yang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatnya daripada dulu? Tidakkah zaman sendiri menjelmakan system-system baru yang c o c ok dengan keperluannya, – c o c ok

dengan keperluan zaman itu sendiri?

Apin y a zaman "Chalifah-chalifah yang besar" itu? Akh, lupakah kita, bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yang "meng­anggitkan", bukan mereka yang "mengarangkan"? Bahwa mereka "menyutat" sahaja api itu dart barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yakni dari Kalam Allah dan Sunah Rasul?

Tetapi apa yang kita "cutat" dari Kalam Allah dan Sunah Rasul itu? Bukan apin y a, bukan n y alan y a, bukan flonen y a, tetapi abun y a, debu­ n y a, asbesn y a. Abunya yang berupa celak-mata dan sorban, abunya yang mencintai kemenyan dan tunggangan onta, abunya yang bersifat Islam­ mulut dan Islam-ibadat – zonder taqwa, abunya yang cuma tahu baca Fatihah dan tahlil sahaja, – teapi bukan apinya, yang menyala-nyala dari ujung zaman yang satu ke ujung zaman yang lain. Tarikh Islam, kita baca, tetapi kitab-kitab tarikh itu tidak mampu menunjukkan dynamical laws of progress 1) yang menjadi n y awan y a dan tenagan y a zaman-zaman yang digambarkan, tidak bisa mengasih falsafatnya sejarah, dan hanyalah habis-habisan-kata memuluk-mulukkan dan mengeramat-ngeramatkan pahlawan-pahlawannya sahaja. Kitab-kitab tarikh ada begitu, – beta­pakah umat Islam umumnya, betapakah si Dulah dan si Amat, betapakah si Minah dan si Maryam? Betapakah si Dulah dan Amat dan Minah dan Maryam itu, kalau mereka malahan lagi hari-hari dan tahun-tahun dice­koki faham-faham kuno dan kolot, takhayul dan mesum, anti-kemajuan dan anti-kemoderenan,- hadramautisme yang jumud-maha-jumud?

Sesungguhnya, Tuan Hassan, sudah lama waktunya kita wajib membantras faham-faham yang mengafirkan segala kemajuan dan kecer­dasan itu, membelenggu segala nafsu kemajuan dengan belenggunya: "ini haram, itu makruh", – padahal jaiz atau mubah semata-mata! Insya Allah, dalam dua-tiga bulan brosyur itu selesai!

Wassalam,

SUKARNO

No. 12. Endeh, 17 Oktober 1936.

Assalamu'alaikum,

Dua surat yang akhir, sudah saya terima. Baru ini hari ada kapal ke Jawa buat membalas kedua surat itu. Itulah sebabnya balasan ini ada terlambat.

Tuan tanya, apakah tuan boleh mencetak saya punya surat-surat kepada tuan itu? Sudah tentu boleh, tuan! Saya tidak ada keberatan apa­-apa atas pencetakan itu. Dan malahan barangkali ada baiknya orang mengetahui surat-surat itu. Sebab, di dalam surat-surat itu adalah saya teteskan sebagian dari saya punya bathin, saya punya nyawa, saya punya jiwa. Di dalam surat-surat itu adalah tergurat sebagian garis-perobahan­nya saya punya jiwa,- dari jiwa y ang Islamn y a hanya raba-raba sahaja menjadi jiwa yang Islamn y a y akin, dari jiwa yang mengetahui adanya Tuhan, tetapi belum mengenal Tuhan, menjadi jiwa yang sehari-hari berhadapan dengan DIA, dari jiwa yang banyak falsafat ke-Tuhan-an tetapi belum mengamalkan ke-Tuhan-annya itu menjadi jiwa sehari­-hari menyembah kepadanya. Saya wajib berterima kasih kepada Allah Subhanahu Wata'ala, yang mengadakan perbaikan saya punya jiwa yang demikian itu, dan kepada semua orang, – antaranya tidak sedikit kepada tuan yang membantu kepada perbaikan itu. Sebagai tanda terima kasih kepada Allah dan kepada manusia itulah saya meluluskan permintaan tuan akan mengumurnkan saya punya surat-surat itu.

1) Artin y a: Hukum-hukum y ang menjadi sebabn y a kemajuan

Beberapa waktu yang lalu adalah orang menulis satu entrefilet di dalam surat-khabar "Pemandangan", bahwa saya sekarang gemar Islam. Banyak orang yang heran membaca khabar itu, begitulah katanya salah seorang teman dari Jawa yang menulis sepucuk surat-selamat kepada saya berhubung dengan entrefilet itu. En tokh, bagi siapa yang mengenal saya betul-betul dan tidak hanya oppervlakkig sahaja, bagi siapa yang menge­tahui seluk-beluknya saya punya jiwa sejak dari umur delapanbelas tahun, bagi siapa yang pernah menyelami samuderanya saya punya nyawa sampai kebagian-bagian yang paling dalam, bagi dia bukanlah barang yang "mengherankan" lagi bahwa saya "sekarang gemar Islam". Bukankah satu "alamat" bahwasanya saya dulu anggauta Sarekat Islam, dan kemudian juga anggauta Partai Sarekat Islam dan kemudian pula meninggalkan Partai Sarikat Islam itu hanya karena tak mufakat 100% dengan partai itu, dan bukan karena benci kepada Islam? Bukankah satu "alamat", bahwa saya di ­dalam kurungan penjara Sukamiskin yang pertama kali ada membikin banyak studi dari Islam itu, hingga semua pers putih menjadi curiga dan sengit-sengit, dan "Java Bode" membikin gambar-sindiran lucu yang sampai sekarang saya simpan di saya punya album? Bukankah satu "ala­mat", akhirnya, bahwa kebanyakan saya punya ucapan-ucapan dulu itu menunjukkan satu "dasar mystiks", satu "dasar ke-Tuhan-an" yang betul belum "terbentuk" nyata ke dalam sesuatu "agama", tetapi tokh sudah nyata menunjuk kejurusan itu? Dan bilamana saya dulu kadang-kadang mengeluarkan ucapan-ucapan yang membangunkan kesan anti-Islam, bilamana saya dulu kadang-kadang bertengkar dengan sesuatu fihak Islam di atas sesuatu masalah masyarakat Islam, maka itu bukan karena menen­tang Islam sebagai Islam, bukan karena anti-Islam qua agama, bukan karena anti-Islam "an sich", tetapi hanyalah karena tidak senang melihat ‘Geadaan-keadaan di kalangan umat Islam yang membangunkan amarah Ian kejengkelan saya.

Dan sekarangpun, tuan Hassan, sekarangpun, yang saya, – berkat pertolongan Allah dan pertolongan tuan dan pertolongan orang-orang lain, sudah lebih bulat dan lebih yakin ke-Islam-an saya itu, sekarangpun hati saya malahan menjadi lebih luka dan gegetun kalau saya melihat keadaan-keadaan di kalangan umat Islam yang seakan-akan menentang Allah dan menentang Rasul itu. Lebih luka dan lebih gege­tun kalau saya melihat kejumudan dan kekunoan guru-guru dan kyai-kyai Islam, lebih luka dan lebih gegetun kalau melihat mereka mengokoh­-ngokohkan taqlidisme dan hadramautisme, lebih luka dan lebih gegetun Kalau melihat dilancang-lancangkannja dan dimain-mainkannya poligami, lebih luka dan lebih gegetun kalau melihat degradations ) Islam menjadi `agama-celak" dan "agama-sorban", – lebih luka dan lebih gegetun kalau melihat kenistaan-umum dan kehinaan-umum yang seakan-akan menjadi `patent" dunia Islam itu. Akh, tuan Hassan, sekarangpun barangkali kaum kolot sudah sedia dengan putusan-kehakimannya yang mengatakan ;aja "anti-Islam", "mau mengadakan agama baru", "murtad dari ahlussun­nah wal Jama'ah", "charidji" dan "qadiani", dan macam-macam sebutan bagi yang kocak-kocak dan segar-segar. Biar! Zaman nanti akan mem­buktikan, bahwa kaum muda tulus dan ikhlas mengabdi kepada kebenaran, lulus dan ikhlas mengabdi kepada Tuhan. Zaman nanti akan membawa persaksian, bahwa kita punya ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan bukan niat "mengadakan agama baru", bukan buat "merobah hukum-hukumnya Allah dan Rasul", tapi justru buat mengembalikan agama yang asli dan mengindahkan hukum-hukumnya Allah dan Rasul.

Biar! Belum pernah di sejarah dunia ada tertulis, bahwa sesuatu reform movement' ) tidak nendapat perlawanan dari kaum yang jumud, belum pernah sejarah iunia itu menyaksikan bahwa sesuatu pergerakan yang mau membongkar adat-adat salah dan ideologi-ideologi-salah yang telah berwindu-windu dan berabad-abad bersulur dan berakar pada sesuatu rakyat, tidak mem­bangunkan reaksi haibat dari fihak jumud yang membela adat-adat ideologi-ideologi itu. Silahkan kaum muda bekerja terus. Tapi dalam pada kaum muda bekerja terus itu haruslah mereka menjaga, jangan sampai mereka mengadakan perpecahan dan permusuhan satu sama lain di kalangan umat Islam, jangan sampai mereka melanggar perintah Allah akan "berpegang kepada agama Allah dan jangan bercerai-berai" Dan jangan sampai mereka "menggenuki umat sendiri, lupa kepada umat yang besar".

1) Artin y a: Diperosotkan derajatn y a.

2) Artin y a: Pergerakan perobahan .

Ini, inilah memang kesukarannya kerja yang harus diselesaikan oleh kaum muda itu: membantras adat-adat-salah dan ideologi-ideologi-salah tapi tidak bermusuhan dengan kaum yang karena "belum tahu", membela kepada adat-adat-salah dan ideologi-ideologi-salah itu; menawarkan adat-­adat-benar dan ideologi-ideologi-benar zonder memusuhi orang-orang yang karena "belum tahu", belum mau membeli adat-adat-benar dan ideologi­-ideologi-benar itu; mengoperasi tubuh-Islam dari bisul-bisulnya menjadi potongan-potongan yang membinasakan keselamatan tubuh itu sama sekali.