John Henry Smith: A humorous romance of outdoor life
Chapter 1
SURAT-SURAT ISLAM DARI ENDEH
DARI IR. SUKARNO KEPADA T. A. HASSAN,
GURU "PERSATUAN ISLAM", BANDUNG
No. 1. Endeh, 1 Desember 1934.
Assalamu'alaikum,
Jikalau saudara-saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut di bawah ini:
1 Pengajaran Shalat, 1 Utusan Wahabi, 1 Al-Muchtar,
1 Debat Talqien, 1 Al-Burhan compleet, I Al-Jawahir.
Kemudian daripada itu, jika saudara-saudara ada sedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal "sayid". Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal-soal yang beribu-ribu kali lebih benar dan lebih sulit daripada soal "sayid" itu, maka tokh menurut keyakinan saya, salah satu kecelaan Islam zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia yang menghampiri kemusyrikan itu. Alasan-alasan kaum "sayid", misalnya mereka punya brosyur "Bukti kebenaran", saya sudah baca, tetapi tak bisa meyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal suatu "aristokrasi Islam". Tiada satu agama yang menghendaki kesama-rataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu, adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwanya sesuatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu, melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebencanaan!
Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku, yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucap beribu-ribu terima kasih.
Wassalam, SUKARNO
No. 2. Endeh, 25 Januari 1935.
Assalamu'alaikum,
Kiriman buku-buku gratis beserta kartupos, telah saya terima dengan girang hati dan terima kasih yang tiada hingga.
Saya menjadi termenung sebentar, karena merasa tak selayaknya dilimpahi kebaikan hati saudara yang sedemikian itu.
Ya Allah Yang Mahamurah!
Pada ini hari semua buku dari anggitan saudara yang ada pada saya, sudah habis saya baca. Saya ingin sekali membaca lain-lain buah pena saudara. Dan ingin pula membaca "Buchari" dan "Muslim" yang sudah tersalin dalam bahasa Indonesia atau Inggetis? Saya perlu kepada Buchari atau Muslim itu, karena di situlah dihimpunkan Hadits-hadits yang dinamakan sahih. Padahal saya membaca keterangan dari salah seorang pengenal Islam bangsa Inggeris, bahwa di Buchari-pun masih terselip hadits-hadits yang lemah. Diapun menerangkan, bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam, banyaklah karena hadits-hadits lemah itu, – yang sering lebih "laku" dari ayat-ayat Qur'an. Saya kira anggapan ini adalah benar. Berapa besarkah kebencanaan yang telah datang pada umat Islam dari misalnya "hadits" yang mengatakan, bahwa "dunia" bagi orang Serani, akhirat bagi orang "Muslim" atau "hadits", bahwa satu jam bertafakur adalah lebih baik daripada beribadat satu tahun, atau "hadits", bahwa orang-orang Mukmin harus lembek dan menurut seperti onta yang telah ditusuk hidungnya!
Dan adakah Persatuan Islam sedia sambungannya Al Burhan I-II? Pengetahuan saya tentang "wet" masih kurang banyak. Pengetahuan "wet" ini, saya ingin sekali perluaskan; sebab di dalam praktek sehari-hari, umat Islam sama sekali dikuasai oleh "wet" itu, sehingga "wet" mendesak kepada "Dien".
Haraplah sampaikan saya punya compliment kepada tuan Natsir atas ia punya tulisan-tulisan yang memakai bahasa Belanda. Antara lain is punya inleiding di dalam "Komt tot het gebed" adalah menarik hati.
Wassalam dan silaturrahmi,
SUKARNO
No. 3. Endeh, 26 Maret 1935.
Assalamu'alaikum w.w.,
Tuan punya kiriman postpakket telah tiba di tangan saya seminggu yang lalu. Karena terpaksa menunggu kapal, baru ini harilah saya bisa menyampaikan kepada tuan terima kasih kami laki-isteri serta anak. Biji jambu mede menjadi "gayeman" seisi rumah; di Endeh ada juga jambu mede, tapi varieteit "liar", rasanya tak nyaman. Maklum, belum ada orang menanam varieteit yang baik. Oleh karena itu, maka jambu mede itu menjadikan pesta. Saya punya mulut sendiri tak berhenti-henti mengunyah!
Buku-buku yang tuan kirimkan itu segera saya baca. Terutama "Soal-Jawab" adalah suatu kumpulan jawahir-jawahir. Banyak yang tahadinya kurang terang, kini lebih terang. Alhamdulillah!
Sayang belum ada Buchari dan Muslim yang bisa baca. Betulkah belum ada Buchari Inggeris? Saya pentingkan sekali mempelajari Hadits, oleh karena menurut keyakinan saya yang sedalam-dalamnya, – sebagai yang sudah saya tuliskan sedikit di dalam salah satu Surat saya yang terdahulu dunia Islam menjadi mundur oleh karena banyak orang "jalankan" hadits yang dlaif dan palsu. Karena hadits-hadits yang demikian itulah, maka agama Islam menjadi diliputi oleh kabut-kabut kekolotan, ketakhayulan, bid'ah-bid'ah, anti-rasionalisme, dll. Padahal tak ada agama yang lebih r a s i o n a l dan simplistis daripada Islam. Saya ada sangkaan keras bahwa rantai-taqlid yang merantaikan Rokh dan Semangat Islam dan yang merantaikan pintu-pintunya Bab-el-ijtihad, antara lain-lain, ialah hasilnya hadits-hadits yang dlaif dan palsu itu. Kekolotan dan kekonservatifan-pun dari situ datangnya. Karena itu, adalah saya punja keyakinan yang dalam, bahwa kita tak boleh mengasihkan harga yang mutlak kepada hadits. Walaupun menurut penyelidikan ia bernama SHAHIEH. Human reports (berita yang datang dari manusia) tak bisa absolut; absolut hanyalah kalam Ilahi. Benar atau tidakkah pendapatan saya ini? Di dalam daftar buku, saya baca tuan ada sedia " J awahirul-Buchari". Kalau tuan tiada keberatan, saya minta buku itu, niscaya disitu banyak pengetahuan pula yang saya bisa ambil.
Dan kalau tuan tak keberatan pula, saya minta "Keterangan Hadits Mi'raj". Sebab, saya mau bandingkan dengan saya punya pendapat sendiri, dan dengan pendapat Essad Bey, yang di dalam salah satu bukunya ada mengasih gambaran tentang kejadian ini. Menurut keyakinan saya, tak cukuplah orang menafsirkan mi'raj itu dengan "percaya" sahayja, yakni dengan mengecualikan keterangan "akal". Padahal keterangan yang rasionalistis di sini ada. Siapa kenal sedikit ilmu psychologi dan para-psychologi, ia bisa mengasih keterangan yang rasionalistis itu. Kenapa sesuatu hal harus di-"gaib-gaibkan", kalau akal sedia menerangkannya?
Saya ada keinginan pesan dari Eropah, kalau Allah mengabulkannya dan saya punya mbakyu suka membantu uang-harganya, bukunya Ameer Alie "The Spirit of Islam".
Baikkah buku ini atau tidal? Dan di mana uitgever-nya?
Than, kebaikan budi tuan kepada saya, – hanya sayalah yang merasai betul harganya saya kembalikan kepada Tuhan.
Alhamdulillah, – segala pudjian kepadaNya. Dalam pada itu, kepada tuan 1.000 kali terima kasih.
Wassalam,
SUKARNO
No. 4. Endeh, 17 Juli 1935.
Assalamu'alaikum,
Telah lama saya tidak kirim surat kepada saudara. Sudahkah saudara terima saya punya surat yang akhir, kurang lebih dua bulan yang lalu?
Khabar Endeh: Sehat wal'afiat, Alhamdulillah. Saya masih terus study Islam, tetapi sayang kekurangan perpustakaan, semua buku-buku yang ada pada saya sudah habis "termakan". Maklum, pekerjaan saya sehari-hari, sesudah cabut-cabut rumput di
kebun, dan di sampingnya "mengobrol" dengan anak-bini buat menggembirakan mereka, ialah membaca sahaja. Berganti-ganti membaca buku-buku ilmu pengetahuan sosial dengan buku-buku yang mengenai Islam. Yang belakangan ini, dari tangannya orang Islam sendiri di Indonesia atau di luar Indonesia, dan dari tangannya kaum ilmu-pengetahuan yang bukan Islam.
Di Endeh sendiri tak ada seorangpun yang bisa saya tanyai, karena semuanya memang kurang pengetahuan (seperti biasa) dan kolot-bin-kolot. Semuanya hanya mentaqlid sahaja zonder tahu sendiri apa-apa yang pokok; ada satu-dua berpengetahuan sedikit, – di Endeh ada seorang "sayid" yang sedikit terpelajar, – tetapi tak dapat memuaskan saya, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun dari "kitab fiqh": mati hidup dengan kitab-fiqh itu, dus – kolot, dependent, unfree 2) , taqlid. Qur'an dan Api-Islam seakan-akan mati, karena kitab-fiqh itulah yang mereka jadikan pedoman-hidup, bukan kalam Ilahi sendiri. Ya, kalau, difikirkan dalam-dalam, maka kitab-fiqh itulah yang seakan-akan ikut menjadi algojo "Rokh" dan "Semangat" Islam. Bisakah, sebagai misal, suatu masyarakat menjadi "hidup", menjadi b e r n y a w a, kalau masjarakat itu hanya dialaskan sahaja kepada "Wetboek van Strafrecht" dan "Burgerlijk Wetboek", kepada artikel ini dan artikel itu? Masjarakat yang demikian itu akan segeralah menjadi masyarakat "mati", masyarakat "bangkai", masyarakat yang – bukan masyarakat. Sebab tandanya masyarakat, ialah justru ia punya hidup, ia punya nyawa.
Begitu pula, maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada Rokh, tiada nyawa, tiada Api, karena umat Islam sama sekali tenggelam di dalam "kitab-fiqh" itu, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya Agama yang Hidup.
Nah, – begitulah keadaan saya di Endeh; mau menambah pengetahuan, tetapi kurang petunjuk. Pulang balik kepada buku-buku yang ada sahaja. Padahal buku-buku yang tertulis oleh autoriteit-autoriteit ke-Islam-anpun, masih ada yang mengandung beberapa fatsal yang belum memuaskan hati saya, kadang-kadang malahan tertolak oleh hati dan ingatan saya. Kalau di negeri ramai, tentu lebih gampang melebarkan saya punya sayap …
1) Dependent = "mengikut sahaja".
2) Unfree = "tidak merdeka fikirann y a".
Alhamdulillah, antara kawan-kawan saya di Endeh, sudah banyak
yang mulai luntur kekolotan dan kedumudannya. Kini mereka sudah mulai sehaluan dengan kita dan tak mau mengambing sahaja lagi kepada kekolotannya, ketakhayulannya, kejumudannya, kehadramautannya, kemesumannya, kemusyrikannya (karena percaya kepada azimat-azimat, tangkal-tangkal dan "keramat-keramat") kaum kuno, dan mulailah terbuka hatinya buat "Agama yang hidup".
Mereka ingin baca buku-buku Persatuan Islam, tapi karena malaise, mereka minta pada saya mendatangkan buku-buku itu dengan separoh harga. Saya sekarang minta keridlaan tuan mengirim buku-buku yang saya sebutkan di bawah ini dengan separoh harga l ) … haraplah tuan ingatkan, bahwa yang mau baca buku-buku itu, ialah orang-orang korban malaise, dan bahwa mereka itu pengikut-pengikut baru dari haluan muda. Alangkah baiknya, kalau mereka itu bisa sembuh sama sekali dari kekolotan dan kekonservatifan mereka itu; Endeh barangkali bukan masyarakat' mesum sebagai sekarang!
Bagi saya sendiri, saya minta kepada saudara hadiah satu dua buku apa sahaja yang bisa menambah pengetahuan saya, – terserah kepada saudara buku apa.
Terima kasih lebih dahulu, dari saya dan dari kawan-kawan di Endeh. Sampaikanlah salam saya kepada saudara-saudara yang lain.
Wassalam,
SUKARNO
No. 5. Endeh, 15 September 1935.
Assalamu'alaikum,
Paket pos telah kami ambil dari kantor pos, kami di Endeh semua membilang banyak terima kasih atas potongan 50% yang tuan idzinkan itu. Kawan-kawan semua bergirang, dan mereka ada maksud lain kali akan memesan buku-buku lagi, insya Allah.
Saya sendiripun tak kurang-kurang berterima kasih, mendapat hadiah lagi beberapa brochures. Isinya brochure Congress Palestina itu, tak mampu menangkap "centre need of Islam" 2) .
Di Palestina orang tak lepas dari "conventionalism", – tak cukup kemampuan buat mengadakan perobahan yang radikal di dalam aliran yang nyata membawa Islam kepada kemunduran.
1) Buat tidak menjemukan pemba c a, nama-nama buku itu kami tidak sertakan di sini.
2) Artin y a: Kepentingan Islam y ang terpenting.
Juga pimpinan kongres itu ada "ruwet", orang seperti tidak tahu apa yang dirapatkan, bagaimana caranya tehnik kongres. Program kongres yang terang dan nyata rupanya tak ada. Orang tidak zakelijk 2) , dan saja kira di kongres itu, orang terlalu "meniup pantat satu sama lain", – terlalu "Caressing each other", terlalu "mekaar lekker maken". Memang begitulah gambarnya dunia Islam sekarang ini: kurang Rokh yang nyata, kurang Tenaga yang Wujud, terlalu "bedak membedaki satu sama lain", terlalu membanggakan sesuatu negeri Islam yang ada sedikit berkemajuan,- orang Islam biasanya sudah bangga kepada "Mesir" dan "Turki"! – terlalu mengutamakan pulasan-pulasan yang sebenarnya tiada tenaga!!!
Brochures yang lain-lain sedang saya baca, Insya Allah nanti akan saya ceriterakan kepada tuan saya punya pendapat tentang brochure-brochure itu. Terutama brochurenya tuan A. D. Hasnie saya perhatikan betul. Buat sekarang ini, sesudah saya baca brochure Hasnie itu secara sambil-lalu, maka bisalah sudah saya katakan,
bahwa cara pemerintahan Islam" yang diterangkan di situ itu, tidaklah memuaskan saya, karena kurang "up to date". Begitukah hukum-kenegaraan Islam? Tuan A. D. Hasnie menerangkan, bahwa demokrasi parlementer itu, cita-cita Islam. Tetapi sudahkah demokrasi parlementer itu menyelamatkan dunia? Memang sudah satu anggapan-tua, bahwa demokrasi parlementer itu puncaknya ideal cara-pemerintahan. Juga Moh. AR, di dalam ia punya tafsir Qur'an yang terkenal, mengatakan bahwa itulah idealnya Islam. Padahal ada cara-pemerintahan yang 1 e b i h sempurna lagi, yang juga bisa dikatakan cocok dengan azas-azasnya Islam!
Brochure almarhum H. Fachroeddin akan berfaedah pula bagi saya, karena saya sendiripun banyak bertukaran fikiran dengan kaum pastoor di Endeh. Than tahu, bahwa pulau Flores itu ada "pulau missi" yang mereka sangat banggakan. Dan memang "pantas" mereka membanggakan mereka punya pekerjaan di Flores itu. Saya sendiri melihat, bagaimana mereka "bekerja mati-matian" buat mengembangkan mereka punya agama di Flores. Saya ada "respect" buat mereka punya kesukaan bekerja itu. Kita banyak mencela missi, – tapi apakah yang kita kerjakan bagi menyebarkan agama Islam dan memperkokoh agama Islam? Bahwa missi mengembangkan roomskatholicisme, itu adalah mereka punya "hak", yang kita tak boleh cela dan gerutui. Tapi "kita", kenapa "kita" malas, kenapa "kita" teledor, kenapa "kita" tak mau kerja, kenapa "kita" tak mau giat? Kenapa misalnya di Flores tiada seorangpun muballigh Islam dari sesuatu perhimpunan Islam yang ternama (misalnya Muhammadiyah) buat mempropagandakan Islam di situ kepada orang kafir?
Missi di dalam beberapa tahun sahaja bisa mengkristenkan 250.000 orang kafir di Flores,- tapi berapa orang kafir yang bisa "dihela" oleh Islam di Flores itu? Kalau difikirkan, memang semua itu "salah kita sendiri", bukan salah orang lain. Pantas Islam selamanya diperhinakan orang!
1) Artin y a: Tidak memegang kepada pokok-pembi c araan sahaja.
2) Artin y a: Rantain y a adat-kebiasaan.
Kejadian di Bandung yang tuan beritakan, sebagian saya sudah tahu, sebagian belum. Misalnya, saya belum tahu, bahwa tuan punya anak telah dipanggil kembali ke tempat asalnya. Saya bisa menduga tuan punya duka cita, dan sayapun semakin insyaf, bahwa manusia punya hidup adalah sama sekali di dalam genggaman Ilahi.
Yah, kita harus tetap tawakkal, dan haraplah tuan suka sampaikan saya punya ajakan tawakkal itu kepada saudara-saudara yang lain-lain, yang juga tertimpa kesedihan.
Sampaikanlah salamku kepada semua.
Wassalam,
SUKARNO
Publisher "The Spirit of Islam" kini sa y a sudah tahu: Doran & Co., New York. Sa y a sudah dapat persanggupan ongkosn y a dari sa y a pun y a mbak y u, dan sudah pe s an buku itu. Sa y a ingin tahu pendapat Ameer AU, apakah y ang menjadikan kekuatan Islam, dan apakah sebabn y a "semangat kambing" sekarang ini. C o c okkah dengan pendapat sa y a, atau tidak?
No. 6. Endeh, 25 Oktober 1935.
Assalamu'alaikum,
Sedikit khabar yang perlu saudara ketahui: hari Jum'at, malam Sabtu 11/12 Oktober j.b.l., saya punya ibu-mertua, yang mengikut saya ke tanah interniran, telah pulang ke rahmatullah. Suatu percobaan yang berat bagi saya dan saya punya isteri, yang, – alhamdulillah, kami pikul dengan tenang dan tawakkal dan ikhlas kepada Ilahi. Berkat bantuan Tuhan. Inggit tidak meneteskan air mata setetespun juga, begitu juga saya punya anak Ratna Juami. Yah, moga-moga Allah senantiasa mengeraskan apa yang masih lembek pada kami orang bertiga. Yang timah menjadi besi, yang besi menjadi baja, amien! Kesakitan ibu-mertua dan wafatnya, adalah menyebabkan saya belum bisa tulis surat yang panjang, maafkanlah! Sakitnja ibu-mertua hanja empat hari.
Wassalam,
SUKARNO
No. 7. Endeh, 14 Desember 1936.
Assalamu'alaikum,
Kiriman "Al-Lisaan", telah saya terima mengucap diperbanyak terima kasih kepada saudara. Terutama nomor ekstra perslah debat taqlid, adalah sangat menarik perhatian saya. Saya ada maksud Insya Allah kapan-kapan, akan menulis sesuatu artikel-pemandangan atas nomor ekstra taqlid itu, artikel yang mana nanti boleh saudara muatkan pula ke dalam "Al-Lisaan". Sebab, cocok dengan anggapan tuan, soal taqlid inilah teramat maha-penting bagi kita kaum Islam umumnya.
Taqlid adalah salah satu sebab yang terbesar dari kemunduran Islam sekarang ini. Semenjak ada aturan taqlid, di situlah, kemunduran Islam cepat sekali. Tak hairan! Di mana genius" dirantai, di mana akal fikiran diterungku, di situlah datang kematian.
Saudara telah cukuplah keluarkan alasan-alasan dalil Qur'an dan Hadits. Saudara punya alasan-alasan itu, sangat sekali meyakinkan.
Tapi masih ada pula alasan-alasan lain yang menjadi vonnis atas aturan taqlid itu: alasan-alasannya "tarikh", alasan-alasannya "sejarah", alasan-alasannya "history". Bila kita melihat jalannya sejarah Islam, maka tampaklah di situ akibatnya taqlid itu sebagai satu garis ke bawah, – garis decline -, sampai sekarang. Umumnya kita punya kyai-kyai dan kita punya ulama-ulama tak ada sedikitpun "feeling" kepada sejarah, ya, boleh saya katakan kebanyakan tak mengetahui, sedikitpun dari sejarah itu. Mereka punya minat hanya menuju kepada "agama chususi" sahaja, dan dari agama khususi ini, terutama sekali bagian fiqh Sejarah, – apa lagi bagian "yang lebih dalam", yakni yang mempelajari "kekuatan-kekuatan-masyarakat" yang "menyebabkan" kemajuannya atau kemundurannya sesuatu bangsa, – sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian. Padahal, disini, di sinilah padang penyelidikan yang maha-maha-penting. Apa "sebab" mundur? Apa "sebab" bangsa ini di zaman ini begitu? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang maha-penting yang harus berputar terus-menerus di dalam kita punya ingatan, kalau kita mempelajari naik-turunnya sejarah itu.
Tetapi bagaimana kita punya kyai-kyai dan ulama-ulama? Tajwid tetapi pengetahuannya tentang sejarah umumnya "nihil". Paling mujur mereka hanya mengetahui "Tarich Islam" sahaja, – dan inipun terambil dari buku-buku tarikh Islam yang kuno, yang tak dapat "tahan" ujiannya modern science, yakni tak dapat "tahan" ujiannya ilmu-pengetahuan modern!
Padahal justru ini sejarah yang mereka abaikan itu, justru ini persaksian sejarah yang mereka remehkan itu, adalah membuktikan dengan nyata dan dahsyat, bahwa dunia Islam adalah sangat mundur semenjak muncul aturan taqlid. Bahwa dunia Islam adalah laksana bangkai yang hidup, semenjak ada anggapan, bahwa pintu-ijtihad sekarang termasuk tanah yang sangar. Bahwa dunia Islam adalah mati geniusn y a, semenjak ada anggapan, bahwa mustahil ada mujtahid yang bisa melebihi "imam yang empat", jadi harus mentaqlid sahaja kepada tiap-tiap kyai atau ulama dari sesuatu madzhab imam yang empat itu! Alangkah baiknya, kalau kita punya pemuka-pemuka agama melihat garis ke bawahnya sejarah semenjak ada taqlid-taqlidan itu, dan tidak hanya mati-hidup, bangun-tidur dengan kitab fiqh dan kitab parukunan sahaja!
Salam kepada saudara-saudara yang lain!
Wassalam,
SUKARNO
1) Genius = akal-fikiran.
Kaum kolot di Endeh, – di bawah anjuran beberapa orang Hadra maut – , belum tenteram juga membi c arakan haln y a sa y a tidak bikin "selamatan-tahlil" buat sa y a pun y a ibu-mertua y ang bare wafat itu, mereka berkata, bahwa sa y a tidak ada kasihan dan c inta pada ibu-mertua itu. Biarlahl Mereka tak tahu-menahu, bahwa sa y a dan sa y a pun y a Wen, se dikitn y a lima kali satu hari, memohonkan ampun bagi ibu-mertua itu ke pada Allah. Moga-moga ibu-mertua diampuni dosan y a dan diterima iman Islamn y a. Moga-moga Allah melimpahkan rahmatN y a dan ber k atN y a, y ang ia, meski sudah begitu tua, tokh mengikut sa y a ke dalam kesun y iann y a dunia interniran!
Amien!
No. 8. Endeh, 22 Pebruari 1936.
Assalamu'alaikum,
Belum juga saya bisa tulis artikel tentang nomor ekstra taqlid sebagaimana saya janjikan, karena repot "mereportir" sekolahnya
saya punya anak, dan karena – … di Endeh ada datang seorang guru-pesantren dari Jakarta golongan kolot, dan – kebetulan juga – seorang lagi golongan muda dari Banyuwangi, sehingga, walaupun mereka itu dua-duanya datang di Endeh buat dagang, tokh saban malam mertamu di rumah saya. Sampai jauh-jauh-malam mereka soal-bersoal satu sama lain dan kadang-kadang udara Endeh menjadi naik temperature hingga hampir 100°1 Saya tertawa sahaja, – senang dapat melihat orang dari "dunia ramai"! – hanya menjaga sahaja jangan gampai udara itu terbakar sama sekali. Dan selamanya saya diminta menjadi hakim. Tak usah saya katakan pada tuan, bahwa kehakiman saya itu, sering membikin tercengangnya itu guru-pesantren, padahal seadil-adilnya menurut hukum!
Karena rupanya berhadapan dengan orang interniran politik, maka kawan muda itu bertanya: bagaimanakah siasahnya, supaya zaman kemegahan Islam yang dulu-dulu itu bisa kembali? Saya punya jawab ada singkat: "Islam harus berani mengejar zaman." Bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun Islam ketinggalan zaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuan buat "mengejar" seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali kepada Islam-gloryl ) yang dulu, bukan kembali kepada "zaman chalifah", tetapi lari ke muka, lari mengejar zaman, – itulah satu-satunya jalan buat menjadi gilang-gemilang kembali. Kenapa tokh kita selamanya dapat ajaran, bahwa kita harus mengkopi "zaman chalifah" yang dulu-dulu? Sekarang tokh tahun 1936, dan bukan tahun 700 atau 800 atau 900? Masyarakat toch bukan satu gerobak yang boleh kita "kembalikan" semau-mau kita? Masyarakat minta maju, maju ke depan, maju ke muka, maju ke tingkat yang "kemudian", dan tak mau disuruh "kembali"!
Kenapa kita musti kembali ke zaman "kebesaran Islam" yang dulu-dulu? Hukum Syari'at? Lupakah kita, bahwa hukum Syari'at itu bukan hanya haram, makruh, sunah, dan fardlu sahaja? Lupakah kita, bahwa masih ada juga barang "mubah" atau "jaiz "? Alangkah baiknya, kalau umat Islam lebih ingat pula kepada apa yang mubah atau jaiz ini! Alangkah baiknya, kalau ia ingat, bahwa ia di dalam urusan dunia, di dalam urusan statesmanship, "boleh bergias, boleh berbid'ah, boleh membuang cara-cara dulu, boleh mengambil cara-cara baru, boleh ber-radio, boleh berkapal-udara, boleh berlistrik, boleh bermodern, boleh berhyperhyper-modern," asal tidak nyata dihukum haram atau makruh oleh Allah dan Rassul! Adalah satu perjoangan yang paling berfaedah bagi umat Islam, yakni perjoangan menentang
k e k o l o t a n. Kalau Islam sudah bisa berjoang mengalahkan kekolotan itu, barulah ia bisa lari-secepat kilat mengejar zaman yang seribu tahun jaraknya ke muka itu. Perjoangan menghantam orthodoxie ke belakang, mengejar zaman ke muka, – perjoangan inilah yang Kemal Ataturk maksudkan, tatkala ia berkata, bahwa "Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari di dalam mesjid memutarkan tashbih, tetapi Islam ialah p e r j o a n g a n ". Islam is progress: Islam itu kemajuan!
1) Artin y a: Kemegahan Islam
Tindakan-tindakan ulilamri-ulilamri di zaman Islam-glory itu tidak lah, dan tidak bolehlah, menjadi hukum bagi umat Islam yang tak boleh diubah atau ditambah lagi, tetapi hanyalah boleh kita pandang sebagai tingkat-tingkat perjalanannya sejarah, – merely as historic degrees. 1)