A Wonder Book and Tanglewood Tales, for Girls and Boys
Chapter 6
Kabar beralih tentang itu, sungguh beralih masih tentang itu, beralih kepada si Umbuik Mudo, tak lama sepeninggal bapak si Galang, bangunlah Ia dari tidur, tidak karena dibangunkan, lalu duduk Ia sebentar, duduk tertegun di tengah rumah, berkata si Rambun Ameh. “Oi Tuan kata denai, mengapa Tuan bermenung, mengapa Tuan lekas bangun, sudah puaskah tidur Tuan?” Mendengar kata demikian, menjawab si Umbuik Mudo, “Sebabnya denai terbangun, darah denai tersirap-sirap, badan kasakkasak miang13, siapakah orang yang menuntut, sampai seumur ini, belum pernah seperti ini.” Berkata pula si Rambun Ameh, “Benar jua kata Tuan, ketika Tuan tidur tadi, datang bapak si Galang Banyak, membawa sirih di cerana, memanggil Tuan ke mari, Ia sedang baralek gadang, didesakdesaknya denai, disuruh denai membangunkan, tapi denai tidak mau, denai jua yang bertangguh, dia ingin langsung seiring. Kini bergegas lah Tuan, berkemaslah kini-kini, jangan sampai dijemput lagi.” Mendengar kata demikian, sudah memakai si Umbuik Mudo, memakai cara Bangkinang, berdestar seluk timba, letaknya membelah benak, si samping palembang aceh, bercincin permata nilam, berbaju beludru gandum. 13) Gatal-gatal 87 Berjalan turun sekali, ditunggangi kuda yang belang, kuda belang rajah kaki, ekor seperti serasah terjun, bulu seperti ainalbanat14, poni seperti awan tergantung, pelana emas selalu, kekangnya perak ditarik, injakannya satu-satu. Berjalanlah kuda si Umbuik Mudo, jalan kuda mendoncengdonceng, genta besar menghimbau-himbau, genta kecil pangilmemanggil, sampai Ia di Kampuang Aua, kuda merantak meringkik panjang, bertaburan ayam di lesung, terkejut bapak si Galang, tegak berdiri langsung ke pintu, meninjau sambil ke halaman, nampaklah si Umbuik Mudo. Turunlah si Galang Banyak, dibawa air di perian, disusulnya si Umbuik Mudo, lalu berpantun si Galang Banyak, “Sudah penat denai mendaki Mendaki batu berjenjang Bulan tak terang-terang jua; Sudah penat denai menanti Sudah putih mata memandang Tuan tak datang-datang jua.” Menjawab Si Umbuik Mudo, “Anak balam di atas jelatang Hinggap di ranting dalu-dalu; Sebab denai terlambat datang Jalan berbelok tempat lalu” Berkata pula Si Galang Banyak, “Cempedak di tengah laman Dijolok dengan empu kaki; Jangan lama tegak di laman Itu cibuk cucilah kaki.” Naiklah si Umbuik Mudo, sesaat Ia di tengah rumah, berpantun si Galang Banyak, 14) Warna bulu kuda 89 “Dipikat balam dengan balam Jarak tak tuan pilinkan; Penyakit semakin dalam Obat tak tuan kirimkan.” Si Umbuik Mudo lalu menjawab, “Yang tidak kincir dikincut Di mana akan boleh benang; Yang tidak Denai dituntut Di mana duduk akan senang. Dengarkan sebuah lagi, Hendak jerat dipilinkan Entah rantai yang tidak; Ada obat denai kirimkan Entah sampai entah tidak.” Galang Banyak pun berkata, “Meski jerat denai pilinkan Pandan terhampar di seberang; Meski obat Tuan kirimkan Badan bertemu baru senang.” Setelah lama berbalas pantun, setelah puas bertutur-tutur, duduklah si Umbuik Mudo, di manakah Ia duduk, duduknya di kepala jenjang, melihat hal demikian, berkata si Galang Banyak, “Duhai bapak kata denai, Bapak lihatlah ujung pangkal, perhatikanlah hilir mudik, sudah benarkan duduk orang, yang di tengah mungkin di tepi, yang di tepi mungkin di tengah.” Mendengar kata demikian, berdirilah bapak si Galang, dipandang hilir dan mudik, nampaklah si Umbuik Mudo, duduk di kepala jenjang, lalu diturut oleh Bapak si Galang Banyak. “Duhai buyung si Umbuik Mudo, pindahlah buyung duduk, 91 beranjaklah buyung dari situ, pindah ke kursi emas ini, janganlah buyung duduk di situ, tidak baik dilihat orang.” Menjawab Si Umbuik Mudo, “Duhai bapak kata denai, menurut pikiran hati denai, patutlah denai duduk di sini, mengapa denai harus beranjak, apalah yang lebih pada denai, apa ubahnya dengan di sini, mengapa denai duduk di situ.” Berkata Bapak si Galang, “Duhai Buyung Umbuik Mudo, andai boleh harap dan pinta, perkenankanlah pinta bapak, buyung menikah sekarang jua, dengan Puti Galang Banyak.” Sedangkan si Umbuik Mudo, mendengar kata demikian, berkata sedang terkejut, “Duhai bapak kata denai, beserta ninik mamak denai, yang duduk di rumah ini, ampunkan denai banyakbanyak, dengarkan denai beribarat, Lurus jalan ke kampung Cina Beri bertonggok batang padi; Terimalah sembah si dagang hina Letak di bawah telapak kaki. Anak keling berbaju satin Sudah satin coklat pula; Denai hina lagi miskin Sudah miskin melarat pula. Empelas daun ke Loyang Ditoreh baru dijemur; Si Galang emas denai Loyang Di manalah mungkin bercampur baur. Dengarkan sebuah lagi, “Denai elok karena kain dipinjam, sungguhpun denai besar, besar karena terbawa ruas, sungguhpun denai kaya, kaya karena emas bawaan, untuk gelang kakinya tidak sampai, tergesek akan diempelasnya, tertonggok akan dikiraikannya, terbawa akan dikembalikannya, oleh Puti Galang Banyak.” 93 Lalu berkata Bapak Si Galang, “Usah diulang dua kali, untuk yang sekali ini, bapak meminta sungguh-sungguh, pakai yang baik buang yang buruk, kalau salah akan kami timbang, kalau utang biar kami bayar, asalkan pinta dapat berlaku, buyung menikah sekarang juga, menikah dengan si Galang.” Berkata si Umbuik Mudo, “Duhai para ninik mamak, yang hadir di helat ini, maafkan denai banyak-banyak, denai hendak mengungkai sila, denai dahulu turun, Denai berjalan sekarang jua.” Mendengar kata demikian, tercengang orang yang banyak, berkata bapak si Galang, “Oi buyung nantilah pulang, nantilah buyung berjalan, nantikan helat ini usai, minum makanlah dahulu.” Menjawab Si Umbuik Mudo, “Kalau begitu kata bapak, benarlah juga kata bapak, tapi sungguhpun begitu, telah terniat dalam hati, denai akan berjalan jua, denai akan pergi mengaji, Bapak lepaslah dahulu, lepas dengan suka hati, lepas dengan muka yang jernih. Si kujur berladang kapas Kembanglah bunga parautan; Jika mujur bapak melepas Bagai ayam pulang ke pautan.” Mendengar kata demikian, keluarlah Puti Galang Banyak, berkata sambil menangis, “Duhai tuan Umbuik Mudo, apakah yang terasa di hati, apa yang bersalahan di mata, sehingga tuan hendak pergi, tolong jelaskan pada denai.” Lalu menjawab Si Umbuik Mudo, berkata sedang berpantun, “Putus berdentang tali rebab Ditimpa tanah yang berderai; Adik jangan menanya sebab Untung yang membawa sansai.” Dengarkanlah juga, 95 Berburu ke padang datar Dapatlah rusa belang kaki Berlimau perutlah dahulu; Berguru kepalang ajar Bagai bunga kembang tak jadi Berbalik surutlah dahulu. Denai akan kembali mengaji, lepaslah diri denai, lepaslah dengan hati yang suci, lepaslah dengan muka yang jerih. Selasih di kebun lama Denai meminta mematahkan Rotan diambil nak orang Pauh Entah berduru entah tidak; Kasih adik selama ini Denai meminta diikhlaskan Badan jika terdorong jauh Entah kembali entah tidak. Dengarkan sebuah lagi, Duhai adik ke ladang adik Ke ladang mudik ke lurah Bayur tidak berpucuk lagi; Duhai adik tergamang adik Hilanglah ayam tengah rumah Bendur tidak berlumpur lagi.” Si Galang Banyak lalu menangis, menangis menggerung panjang, menghempas-hempaskan diri, membentur-benturkan badan, berkata sambil menangis, “Duhai Tuan si Umbuik Mudo, jika salah denai ke tuan, jika mulut ada terdorong, jika teramun jika tersesat, jangan diletak dalam hati, denai meminta dimaafkan.” Gayung tidak disambutnya, kata tidak dijawabnya, pantun tidak dibalasnya, si Umbuik Mudo tetap berjalan. Si Galang Banyak lalu berkata, 97 “Kapal si Ali ke Bangkali Kapal si Tongga ke Kibawan; Tuan akan pergi mengaji denai tinggal tak berkawan. Tergamang air di jajaran Terendam urat padi muda; Tergamang Denai tuan tinggalkan Denai sudah tuan ajar manja Rumah beranjung di Ulakan Dihimpit bandar yang bereja; Tak elok tuan demikian Kami diberi harap saja. Tiuplah api pangganglah rotan Anak raja pergi menjala; Buruk baik di tangan tuan Tidak denai banyak bicara. Orang menampi di halaman Padi dipatuk balam tunggal; Jika tuan pergi berjalan Dengan siapa denai Tuan tinggal. Si Umbuik Mudo menjawab, “Duhai Upik Puti Galang Banyak, dengarkan pula oleh adik, “Apa direndang di kuali Beras seberang tiga sayak; Apa dipandang pada kami Emas kurang guna pun tidak. Selasih di bawah tempat Tumbuh serumpun dengan empelas; mengapa kasih pada yang melarat Guna dengan apa akan dibalas. 99 Simantung di tepi air Ranting diambil untuk pemulut Pemulut beruk rambak Cina Singgah ke pulau makan padi; Adik kandung cobalah pikir Rasa kan kena bawalah surut Badan mulia kan jadi hina Rendah bangsa karena kami. Menjawab si Galang Banyak, “Ayam kurik rembayan tedung Ekor berjela dalam padi Ambil tempurung beri makan; Dalam daerah tujuh kampung Tuan surang tempat hati Yang lain denai haramkan. Ikan bernama gambo lian Mudik menggonggong anak damak; Tuan sepantun gambar bulan Indah di mata orang yang banyak. Duduk menulis di kursi Seperti jenang dalam Medan; Lekat tak bisa putus lagi Begitu kasih kepada Tuan. Kambing yang dari Bengkulu Dibeli nak orang Tabing Di Tuan berhingga jua; Sayang di denai tiap helai bulu Kasih menjadi darah daging Di Tuan terbuang saja. Mengabut api di Pulau Punjung Orang membakar rimba raya; 101 Maksud hati hendak berdukung Tuan enggan apalah daya. Denai tunggang hendak menurut, Tuan tak mau membawa, dengarkan oleh Tuan pantun denai, buhul di dalam ikat pinggang, bungkus di dalam sudut destar, letakkan benar dalam hati. Ke pekan sekali ini Ke pekan tidak membeli lagi; Berjalan sekali ini Mungkin tak kan bersua lagi.” Berkata si Umbuik Mudo, “Kalau adik mandi dahulu Bergosok dengan daun lada; Kalau adik mati dahulu Nantikan denai di surga. Menjawab si Galang Banyak, “Alhamdu di surat Nahu Dibaca khatib si Nur Alam Di balikPadang Sira; Sedang di dunia sudah tiada Di akhirat wallahu alam Musim pabila kan bersua.” Berkata si Umbuik Mudo, “Tutuhlah limau ini Tak kan lama rimbun lagi; Pandangilah anak dagang ini Tak kan lama tampak lagi.” Satu pantun lagi adik kandung, Jangan dihisap minum talang Kalau dihisap ditapisi; 103 Jangan dituntut dagang hilang Dituntut jangan ditangisi. Jangan ditimba biduk padang Kalau ditimba keruh jadinya; Jangan dicinta anak dagang Kalau dicinta jauh jadinya. Anak orang koto Bangkinang Singgah ke rumah katib Ibrahim; Andaikan hilang anak dagang Usah adik ganti dengan yang lain. Ke kanan jalan ke Sikapiang Ke kiri jalan ke Malaka Ke Siak dari Tebing Tinggi; Dengan tangan kanan sambut kasih sayang Dengan tangan kiri hapus air mata Kasih akan bercerai lagi.” Turunlah si Umbuik Mudo, ditunggangi kuda yang belang, dipacu kuda berbalik pulang, sekejap mata memandang, menangis Puti Galang Banyak, menangis menggerung panjang, menghempashempaskan badan, berguling-guling di tanah, lalu pingsanlah seketika. Ributlah helat yang banyak, semua berlari ke halaman, digendong si Galang Banyak, dibawa ke atas rumah. Di hari sehari itu, tidak ada kesibukan orang, selain mengurus si Galang Banyak. 105
JANJIAN
Kabar beralih tentang itu, beralih pada si Umbuik Mudo, sudah sampai Ia di rumah, langsung naik seketika, berkata si Umbuik Mudo, “Oi Upik Puti Rambun Ameh, adik isikanlah bekal, kakak akan kembali mengaji, adik tinggallah di rumah. Ada satu pesan kakak, adik ingat baik-baik, jika mati si Galang Banyak, mati sepeninggal kakak, bawakanlah payung panji, bawakan kain untuk kafannya, katakan begitu pada amainya, sampaikan itu pesan kakak.” Menjawab Rambun Ameh, “Kalau begitu kata tuan, insyaallah baiklah itu, denai ingat baik-baik, denai pegang teguh-teguh”. Lalu berjalan Si Umbuik Mudo, cukup tiga hari genap, sampailah di surau gurunya, yang bergelar Tuanku Imam Mudo, mengajilah si Umbuik di sana. Sepeninggal si Umbuik Mudo, sakitlah si Galang Banyak, lebih parah dari sebelumnya, banyaklah tawa yang dipakai, obat sudah sepenuh rumah, tawa sudah bercawan-cawan, usahkan sakit yang kan sembuh, malah semakin bertambah parah. 107 Kayu kelat tumbuh di tanah Berurat berbenih tidak; Obat jauh penyakit parah Penawar sesuai tidak Seminggu sudah si Galang sakit, sampai dua pekan antaranya, sudah payah si Galang Banyak, sudah resah dan gelisah, hari itu hari Jumat, sedang bulat bayang-bayang, sedang lengang orang di kampung, sedang ramai orang di balai, berkata si Galang Banyak, “Duhai Bapak kata Denai, Duhai Amai kata denai, iman denai sudah berkucak, lemah segala sendi tulang, rasakan sampai ajalullah, yang punya datang menjemput, beri maaf denai di Bapak, beri ampun denai di Amai, relakan jerih payah Bapak, relakan air susu Amai, jawab salam di yang tinggal, denai berjalan sekarang jua.” Mendengar kata demikian, terbitlah tangis bapak ibunya, menghempas-hempaskan diri, melecut-lecutkan badan, merenggutrenggutkan rambut, tapi harus bagaimana. Tapanuli kota Siantar Pandan melilit Panyabuangan; Nyawa putus badan terlantar Arwah mengirap ke junjungan. Telah sampai ajal si Galang, di hari yang sehari itu, amainya sudah bergila-gila, lupa dunia di hari itu, berkurung diri dalam bilik. Telah dibunyikan tabuh dan canang15, orang berkumpul semuanya, besar kecil tua muda, laki-laki perempuan, cukup dengan imam dan katib, rapat pepat semuanya, Allahurabbi banyaknya orang. Tidak termuat di daun talas Di daun terung sudah penuh pula; Tidak termuat di tempat luas Di tempat lekung sudah penuh pula. Melihat si Galang Banyak, menjenguk mayat anak gadis. 15) Sejenis gong kecil 109 Begitu mendengar tabuh berbunyi, tercengang si Rambun Ameh, tersirap darah di dada, lupa di badan seketika, lalu mengucap masa itu, “Ya Allah ya Rasulullah, Ya Tuanku junjungan denai, tabuh apakah ini gerangan, meninggalkah Puti Galang Banyak?”. Diambilnya payung panji, diikatnya kain sekayu, turunlah Ia seketika, telah berlari-lari kecil, baru sebentar Ia berlari, tiba lah Ia di rumah itu, dilihat orang sudah penuh, banduanglah16 bunyi ratap, naiklah Ambun ke atas rumah, langsung melihat ke si mayat, meratap si Rambun Ameh, “Ke rimba mencari cendawan Anak siamang bergantungan; Kakak sudah pergi berjalan Pada siapa adik dipertaruhkan. Kain putih cuci dengan embun Bawa ke air buang daki; Kakak sepantun kasih embun Hilang kemana akan dicari. Beruas-ruas buku jagung Beruas sampai ke bukunya; Puas hati tuan kandung Kakak berjalan karena lakunya. Beruas buku jagung Beruas pula buku talang; Puas hati kakak kandung Kakak denai terbaring seorang.” Mendengar ratapan si Rambun, menangis puti yang berenam, meratap menggarung panjang, berkata sambil berpantun, “Sejak semula Denai pintakan Tidak diletak dalam padi Terbang si burung dihamparkan; 16) Bunyi ratap seperti dengungan 111 Sejak semula dikatakan Tidak diletak dalam hati Kami juga yang merasakan. Bayur-bayur di gunung Padang Selasih bawa ke pekan; Rumit sulit kasih ke dagang Kita kasih dia berjalan.” Telah lama orang meratap, telah lama mayat terbujur, teringat oleh si Rambun Ameh, teringat pesan Tuannya, wasiat amanat si Umbuik Mudo, lalu berkata si Rambun Ameh, “Duhai Amai kata Denai, dengarkanlah Denai katakan, tatkala tuan Umbuik kan berjalan, berpesan Ia pada denai, apalah isi pesan itu, kalau mati si Galang Banyak, bawakan kain untuk kafannya, kuburkan di bukit Silanguang, inilah payung itu, tudungkan pada kakak denai. Sebaiknya sekarang jua, mayat lah lama di tengah rumah, mayat sudah lama terbujur, marilah kini dikuburkan, ke puncak bukit Silanguang, jangan terus kita tangisi.” Menjawab amai si Galang, “Kalau begitu kata anak, kita ikuti lah sekarang, ke puncak bukit Silanguang.” Maka begitulah jadinya, berjalanlah orang yang banyak, mengusung mayat si Galang, ke puncak bukit Silanguang. Tidak lama orang berjalan, sampailah orang di sana, di puncak bukit itu, telah dikuburkan si mayat, ditanamkan pancang kuburan, terpancang mejan yang dua, dipasangkan tirai langit-langit, pulanglah orang semuanya. Kabar beralih tentang itu, sungguh beralih di sana jua, beralih pada si Umbuik Mudo. Telah lama kelamaan, cukup sudah tiga hari, mayat si Galang dalam kubur, bermimpi si Umbuik Mudo, apalah kata mimpinya, bermimpi kehilangan burung, berenang kehilangan destar, 113 tersentak si Umbuik dari tidur, langsung terbangun seketika, hati di dalam tak tenang lagi. Sebentar duduk bermenung, teringat terus akan mimpi, pergi keluar membasuh muka, diambilnya air wuduk, lalu berbalik ke atas surau, segera setelah salat, Ia bertanya ke gurunya, “Duhai guru kata denai, berikan denai kemaafan, berikan ampun banyak-banyak, apakah takwil mimpi Denai, denai bermimpi malam ini”. Berkata Guru si Umbuik, “Duhai Buyung si Umbuik Mudo, apa benarkah mimpi Buyung, coba katakan pada denai, agar denai lihat takwilnya.” Menjawab Si Umbuik Mudo, “Denai bermimpi kehilangan burung, bermimpi kehilangan destar, cobalah guru katakan, agar senang rasa hati.” Sementara guru si Umbuik, langsung diambilnya surat mimpi, dibawa ke tengah rumah, dihitung-hitung hari bulan, lalu menggeleng-geleng kala itu, mengangguk-angguk pula gurunya, lalu berkata guru si Umbuik, “Duhai buyung si Umbuik Mudo, jika begitu mimpi anak, takwilnya sangatlah buruk, kerugian dalam kampung, kehilangan permainan, kematian anak dalam rumah.” Mendengar kata demikian, menangis si Umbuik Mudo, air mata bagai hujan lebat, jatuh dua jatuh tiga, bagai intan putus pengarang, bagai manik putus talinya, lalu berkata lah gurunya, “Duhai Buyung si Umbuik Mudo, janganlah hati dibuat rusuh, buyung pulanglah dahulu, berangkatlah sekarang juga, jangan ada upat puji dari orang kampung.” Menjawab Si Umbuik Mudo, “Kalau begitu nasihat guru, denai pulanglah dahulu, berikan maaf banyak-banyak, tunangan denai si Galang Banyak, jika sampai ajallullahnya.” 115 Berjawab salam dengan gurunya, dihunjamkan lutut yang dua, ditundukkan kepala yang satu, lalu berjalan Si Umbuik Mudo, berjalan dengan hati sabak, pulang dengan hati rusuh, teringat benar masa itu, kalau bukan karena laku diri, kalau bukan karena perangai diri, sesal yang tiada berguna, diserahkan saja kepada Allah. Berjalanlah si Umbuik Mudo, lambat laun berjalan, dekat semakin hampir, sampailah Ia di sana, sampai di rumah amainya, langsung naik seketika, berkata si Umbuik Mudo. “Duhai upik Puti Rambun Ameh, masak lah nasi setanak, masaklah gulai sebentar, sejak pagi sampai siang, denai belum makan dan minum, merentak rasa jantung denai.” Bertanaklah si Rambun Ameh, nasi masak gulai pun masak, kopi pun sudah terhidang pula, makanlah si Umbuik Mudo, minum makan sekalian, setelah minum dan makan, berkata si Rambun Ameh, “Oi Tuan Umbuik Mudo, benar jua kata Tuan, kakak Puti Galang Banyak sudah mati, dikubur di bukit Silanguang. Perihal pesan tuan dulu, sudah denai sampaikan, begitu juga wasiat Tuan, sudah denai tunaikan, begitu hilang kakak Galang Banyak, Denai bawakan payung panji, denai bawakan kain kafannya. Mendengar kata demikian, gumirang17 air matanya, jatuh dua jatuh tiga, bagai manik putus talinya, bagai intan putus pengarang, dibawanya menengadah, hati bak rasa disayat-sayat. Setelah lama kelamaan, karena lambat laun di sana, di rumah amai kandungnya, habis hari berganti pekan, habis pekan berganti bulan, cukup tujuh bulan pepat, sakitlah si Umbuik Mudo, sakit yang tidak bangun lagi. Nasi dimakan rasa sekam, air diminum bak sembilu, banyaklah orang yang mengobat, banyaklah tawa yang dipakai, banyaklah tambak-tambakan, obat banyak sepenuh rumah, tawa sudah bercawan-cawan, lulur sudah bertimbun-timbun, sakit semakin parah jua. 17) Beriring-iringan 117 Penyakitnya bertambah dalam, hilanglah akal amainya, begitu pula adiknya si Rambun Ameh, sama bermenung keduanya. Terdengar si Umbuik sakit, sampailah kabar ke kampung Aur, datang pula amai si Galang Banyak, datang puti yang berenam, membezuk si Umbuik sakit, sakit yang tidak bangun lagi, minum tidak makanpun tidak, makin diobat makin parah, dibawa obat dan tawa, begitu sampai dipasangkan, baru sebentar obat terpasang, pingsanlah si Umbuik Mudo, lupa dunia seketika. Ada sebentar antaranya, berkata si Umbuik Mudo, “Duhai Adik, puti Rambun Ameh, duhai Amai kandung denai, letih lah sudah badan denai, goyahlah sendi tulang denai, janjian yang lah rasakan sampai, beri ampun denai di Amai, relakan semua yang termakan, relakan jerih payah Amai, maafkan kata yang terdorong, baik di lahir dan di batin, yang akan jadi hutang piutang. Kuburkan denai di bukit Silanguang, di depan kuburan si Galang Banyak, agar sama bertentangan, itulah amanat dari Denai, Amai genggan erat-erat. Mendengar kata demikian, pecahlah tangis orang yang banyak, akan bagaimanakah lagi, Allah Taalah Maha Kaya, Allah berbuat sekehendakNya, kata sudah diucapkan, amanat sudah ditinggalkan, sampailah janjian si Umbuik Mudo. Di hari yang sehari itu, harinya jatuh di hari jumat, sedang tepat tengah hari, dipukul tabuh larangan, sahut menyahut tabuh yang banyak, berdentang bunyi tabuh dari bukit, dibalas bunyi tabuh dari lurah, tabuh Jumat menyudahi. Terkejutlah orang di nagari, semua datang bergegas, besar kecil tua muda, laki-laki perempuan, riuh rendah bunyi ratap, naiklah orang yang banyak, heran tercengang semuanya. Akan hal amai si Umbuik, beserta Amai si Galang Banyak, tiga dengan si Rambun Ameh, sembilan dengan Puti yang berenam, lalu menghempas-hempaskan badan, memarut-marut diri, merenggut119 renggut rambut, lalu pingsan seketika. Berkata penghulu kampung, “Manolah Tuanku Panjang Jangguik, mayat sudah lama terbujur, elok kini kita kuburkan, sementara hari belum petang.” Menjawab Tuanku Panjang Jangguik, “Kalau begitu kata Datuak, marilah kita segerakan, hanya satu pinta denai, amanat dari yang mati, tatkala dianya sakit, kalau sampai Ia berpulang, minta berkubur di atas bukit, bukit yang seberang berseberangan, itu wasiat yang denai genggam, itu amanat yang denai pegang.” Menjawab penghulu kampung, “Kalau begitu wasiatnya, serupa itu amanatnya, sedikit jangan diubahi, janganlah kita tinggalkan, agar kita tak kena sumpah.” Akan bagaimanakah lagi, berjalanlah orang yang banyak, mengusung mayat si Umbuik, yakni ke bukit seberang berseberang, ke tempat orang lalu lintas. Dikuburkan mayat bertentangan, tertanam mejan yang dua, dipasangkan tirai langit-langit, hari pun beranjak petang, pulanglah orang semuanya. Tidak baik direndang kacang Elok diambil yang berbunga; Tiada guna diperpanjang Elok diambil yang berguna. Jika ada jarum yang patah Usah disimpan di dalam peti; Jika ada kata yang salah Usah disimpan di dalam hati. Jika ada sumur di ladang Bolehlah jua menumpang mandi; Jika ada umur panjang Kabar yang lain kita cari. 121
|}