A Wonder Book and Tanglewood Tales, for Girls and Boys

Chapter 5

Chapter 52,616 wordsPublic domain

Di hari yang sehari itu, berjalanlah si Umbuik Mudo, berjalan pergi ke pancuran, pemandian Puti Galang Banyak. Serentang sudah perjalanan, sudah dua rentang panjang, cukup ketiga rentang panjang, hampir semakin dekat, dekat pun hampir kan tiba, tibalah Ia di sana, di sumur pancuran raja, pemandian si Galang Banyak, yang berbatu satu-satu, yang berpancuran gading gajah, yang berdinding cermin besar, airnya jernih bagai mata kucing. Berpuputlah Si Umbuik Mudo, bunyi puput bak orang memanggil, bunyi menyisir awan biru, bagai rebab dan kecapi, bagai bunyi gong dan talempong, bagai bunyi gendang ditabuh, kadang bagai bunyi dengung-dengung, kadang bagai bunyi dari dalam tanah. Sementara Puti Galang Banyak, si Galang sedang menenun, di bawah lumbung yang besar, tersirap darah di dada, lalu mengentak ke empu kaki, membalas ke ubun-ubun, turak tidak terluncurkan, suri tidak terlantakkan, karak tidak terpijakkan, telah tergoji8 di genggaman, telah lepas yang dipegang, sutra pun habis kusut-kusut. Keruh bagai kuah siput Jernih bagai kuah balam; Hati bagai rumin kusut Bagai benang dilanda ayam. 8) Terlepas 59 Mendengar suara puput si Umbuik, merentak tegak seketika, badan bak rasa bayang-bayang, peluh sudah bercucuran, darah di dada berdesiran, gelisah tak tahu sebab, bagai belut kena palang, bagai ular kena pukul, duduk yang tidak tersenangkan, digulung tali tenun seketika, lalu berkata pada amainya, “Duhai Amai kata denai, Amai ambilkan perian denai, Amai berikan juga labu, Amai ulurkan juga gayung, denai akan pergi mandi, tak tertahankan gerah badan, tak tertanggungkan gerah diri, denai merasa kepanasan, hati hangus bukan kepalang”. Akan hal amai si Galang, dijangkaukan perian di dinding, diberikan labu satu-satu, diulurkan gelas perak. Berjalanlah si Galang Banyak, disandang perian di bahu, dijinjing gayung di tangan kiri, dikempit labu di ketiak. Tidak berapa lama, sampailah ia di tepi tebing, berhentilah si Galang Banyak, nampak oleh si Umbuik Mudo, nampak dari balik aur, lalu berpantun si Umbuik Mudo, “Cempedak dikeping-keping Terletak di dalam buluh; Jangan lama tegak di tebing Nanti dibawa tebing runtuh”. Mendengar kata demikian, terkejut si Galang Banyak, dipandang hilir dan mudik, dilihat kiri dan kanan, tak seorangpun yang nampak, berjalanlah Ia kembali. Berjalan menuju sumur, sesampainya di sumur itu, dilihat sumur sudah keruh, sumur sudah diaduk orang, sumur sudah dibundaknya9, melihat hal demikian, terbit marah si Galang Banyak, mengamuk mencaci maki, “Anak mincacak anak mincacau, anak si ngiang-ngiang rimba , anak dapat dalam semak, anak salah penaruhan, anak tidak berpetunjuk, anak tidak berajaran, sumur Denai dikeruhkannya, sumur Denai dikacaunya.”10 9) Diaduk 10) Sebutan untuk anak nakal 61 Baru mendengar kata itu, keluarlah si Umbuik Mudo, berdiri di tempat terang, lalu berpantun si Umbuik Mudo, “Cemeti talang baiduri Lantak sepenuh pematang; Hari panas elang berbunyi Denai lapar yang kuning datang.” Mendengar pantun demikian, semakin marah si Galang Banyak, lalu didatanginya seketika, diludahinya si Umbuik Mudo, diambilnya perian, dihantamkan ke si Umbuik Mudo, jangankan si Umbuik akan kena, malah perian habis pecah. Lalu diambil pula labu, dihempaskannya sekalian, dielakkan oleh si Umbuik, labupun habis hancur remuk. Diambilnya gayung, dilemparkan ke si Umbuik, usah si Umbuk yang kena, malah gayung entah kemana, lalu berkata si Umbuik Mudo, “Sudah jatuh silara kopi Dihimpit selodang pinang; Ke sumur hendak mandi Gayung digenggam sudah hilang. Pelam yang serangkai kuning Dijolok serangkai muda Direbut anak bidadari Direbut lalu dimakannya; Jika tak jadi dengan yang kuning Awan bertepuk gunung laga Bulan sama dengan matahari Kasih yang tidak akan dicari. Jika dapat kelapa tumbuh Denai tanam di bawah jenjang; Jika dapat kata yang sungguh Denai gunggung dibawa terbang.” 63 Menajawab si Galang Banyak, “Cincin empat tinggal tiga Hilang di pulau bentuk taji Masih tergilang-gilang jua; Sedang sahabat sudah menggila Apalagi main belum jadi Masih tergilan-gilan jua. Dengarkan satu pantun lagi, Anak salimang salimbada Kurang satu tiga puluh; Jangan mau dirintang mata Mata membawa binasa tubuh. Aur ditanam bambu tumbuh Tumbuh di kebun si gumanti; Asalkan hati sama sungguh Kering lautan Denai nanti.” Setelah lama berpantun-pantun, setelah puas bertutur-tutur, setelah lelah berunding-runding, teringat oleh si Galang, teringat hendak kembali pulang, hati sudah berdebar-debar, darah sudah berdesir-desir, entah bapak yang menyebut, entah amai yang memanggil, apalah sangka bapak dan amai, lama benar di pemandian. Berlari pulang seketika, selangkah Ia berjalan, dua rentang Ia berlari, tiba-tiba ia berhenti, tertegun si Galang Banyak, tampak oleh si Umbuik Mudo, si Galang Banyak berhenti pula, dianya tidak jadi pulang. Umbuik Mudo bertanya, “Mengapa Adik tertegun, mengapa adik berhenti, mengapa adik tak jadi pulang, apakah yang teringat, apakah yang terkira, apa yang mengganggu dalam hati?” Menjawab Puti Galang Banyak, “Bukan sedikit yang denai rusuhkan, bukan sedikit yang denai risaukan, ada yang Denai 65 takutkan, sungguh takut denai pulang, maka badan denai ragu, maka badan denai susah, takut bapak akan marah, takut amai akan marah.” Berkata si Umbuik Mudo, “Duhai Upik Puti Galang Banyak, apakah yang adik risaukan, apakah yang adik takutkan, mengapa bapak akan marah, mengapa amai juga marah, apa yang mereka marahkan, katakanlah kepada Denai.” Menjawab Galang Banyak, “Tengkuluk bersudut empat Tengkuluk anak orang Batang Kapas; Yang dijolok tidaklah dapat Penjolok tinggal pula di atas. Denai sudah pergi ke sumur, membawa labu dan perian, jangankan air yang terbawa, perian malah habis pecah, labu malah habis remuk, gayung malah hilang lenyap. Kalau datang usut periksa, dari bapak dan amai denai, apakan tenggang badan denai, apalah akan jawab denai, itulah yang denai menungkan, itu yang lebih denai rusuhkan.” Mendengar perkataan itu, menjawab si Umbuik Mudo, “Itu tak usah adik risaukan, jika bertanya bapak dan amai, adik jawablah baik-baik, pandai-pandai adik berkata, kalau cemas alamat mati badan kita, hampir kita tidak bersua. Katakan, “Denai melihat kuda bertanduk, kuda menyipak ke belakang, karena lari perian pecah, itu sebab labu remuk, gayungpun hilang entah kemana”, katakan saja seperti itu, jangan adik ubah-ubah, bapak tidak akan marah, amai pun tidak akan marah. Dari Sunuruik ke Sitingkai Dari Simabur hendak ke kanan Tupai melompat melampaui; Jika dipindah usah diungkai Jika membuhul usah mengesan Pandai-pandai bermain budi. 67 Lentik-lentik terbang ke rimba Terbang melintas di bubungan; Jangan terbetik terberita Biarlah luluh dalam kandungan. Berbagi bawanglah kita Agar tentu bersiang serai Berbagi sayanglah kita Agar tentu bercerai-cerai. Adik berbaliklah pulang, denai juga akan pulang, marilah kita bertolak punggung, usah lama kita di sini, jika orang terburu-buru, akan bagaimanalah lagi. Hati si Galang sudah tenang, karena beroleh petunjuk jelas, berjalan pulang seketika, telah serentang perjalanan, hampir kan dekat Ia tiba, tibalah Ia di halaman, langsung naik ke atas rumah. Tidak lama sampai di rumah, datang tanya dari bapaknya, terbit selidik dari ibunya, berkata amai si Galang, “Duhai Upik Puti Galang Banyak, mana perian anak tadi, mana labu anak tadi, mengapa tidak membawa air, mengapa anak pulang saja, siapakah yang mengambil perian, siapakah yang mencuri labu anak?” Menjawab si Galang Banyak, berkata sambil menangis, “Duhai Bapak kata denai, Duhai Amai kata denai, dengarlah cerita denai, sewaktu denai akan pulang, dari sumur pemandian, perian sudah denai sandang, labu penuh berisi air, denai bertemu kerbau gila, kuda menyipak ke belakang, karena lari perian pecah, karena lari labu pun remuk, gayung pun hilang entah kemana, denai cari tiada bersua.” Berkata bapak si Galang, “Mengapa anak menangis, siapakah orang yang marah, kami tidaklah marah, kami hanya mencemaskan, entah perian diambil orang, entah labu dicuri orang.” Jika begitu cerita anak, senanglah pula hati kami, anak kami tidak apa-apa, tidak sakit ataupun luka, bersyukur benar kami berdua, patutlah kita berkaul-kaul, patutlah kita berdoa. 69 Pergilah menangkap ayam, suruh potonglah kambing seekor, potong sekarang kini jua, kita mendoa nanti malam, suruh undang orang siak,” Katanya bapak si Galang. Sehingga begitulah yang jadi, dijemput seekor kambing, lalu dipotong seketika, dipotong ayam tujuh ekor, lalu dipanggil orang siak, memintak doa selamat. Orang padang memintal benang Dipintal dilipat-lipat Dilipat lalu diperdua; Kalau direntang bisa panjang Baik digulung agar singkat Diambil saja yang berguna. 71

MENJEMPUT UMBUIK MUDO

Sementara kabar beralih, walau beralih tentang itu jua, telah sehari sesudah itu, telah dua hari antaranya, sakitlah si Galang Banyak, sakit yang tidak bangun lagi, nasi dimakan rasa sekam, air diminum bagai sembilu, sudah banyak yang mengobati, banyak tawa11 yang dipakaikan, namun penyakit bertambah dalam, hilang sudah akal bapaknya, remuk sudah hati amainya, melihat penderitaan si Galang Banyak. Telah sehari cukup ketiga, datang pikiran di bapaknya, teringat pula oleh amainya, ditanya pada si Galang Banyak, “Apa benar kah yang sakit, coba katakan pada kami, agar tentu obat dicari, agar jelas obat diminta.” Lalu berkata si Galang Banyak, “Tidak tentu sakit di mana, badan serasa bayang-bayang, kepala rasa kan pecah, darah denai tersirap-sirap, nasi dimakan rasa duri, air diminum pahitpahit, denai inginkan umbut muda, ke ranah Kampung Tibarau, baru sakit rasakan hilang.” Begitulah adanya, berjalanlah bapak si Galang, berjalan cepatcepat, berjalan bergegas-gegas, ke ranah Kampung Tibarau. Baru sebentar Ia berjalan, dekat semakin hampir, hampir rasa akan sampai, tibalah Ia di sana, di ranah Kampung Tibarau, diambil umbut Tibarau, lalu bergegas berbalik pulang, berjalan cepat-cepat, hati cemas darah tak senang, si Galang sakit ditinggalkan. 11) Tawar : Jampi 73 Sesampainya di rumah, dibangunkan si Galang Banyak, “Duhai anak bangunlah bangun, itu umbut sudah dapat”. Terjagalah si Galang Banyak, langsung duduk seketika, dipandang baik-baik, nampaklah umbut Tibarau, merentak berbalik tidur, berkata si Galang Banyak, “Mengapa bapak bodoh begitu, mengapa bapak bingung begitu, ke kampung Tibarau denai suruh cari, umbut tibarau yang diambil.” Menangis merentak-rentak, kehendak tidak terpenuhi, mungkin akan mati badan ini, “Kayu kelat tumbuh di tanah Berurat bertunas tidak; Obat susah penyakit parah Bertawa selilir tidak.” Melihat hal demikian, berkata bapak si Galang, “Duhai Upik kata bapak, katakan yang sebenarnya, katakan jelas-jelas, apa yang akan bapak ambil, apa yang akan bapak cari, jauh akan bapak jemput, dekat akan bapak jelang, tergantung akan bapak kait, asal sakit anak bisa hilang.” Menjwab si Galang Banyak, “Jika bapak sayang di denai, mungkin sakit akan terobat, carikan denai umbut muda, yang sama besar dengan denai, yang sama tinggi dengan denai, ka ranah Kampuang Tibarau. Satu lagi pesan denai, akan hal umbut itu, tumbuhnya hanya sebatang saja, tidak bisa dibeli, tidak bisa ditukari.” Begitu mendengar kata itu, berjalanlah bapak si Galang, berjalan turun seketika, ke ranah Kampuang Tibarau. Sesampai di sana, duduk bermenung Ia sebentar, tegak berpikir seketika, dihisap rokok yang sebatang, dikunyah sirih sekapur, sedang dapat agakagak, berkata bapak si Galang dalam hati, umbut apa yang akan denai ambil, kalau diambil umbut pisang, umbut pisang banyak di rumah, tidak sama besar dengan dia, termenung lagi akhirnya. 75 Telah sebentar Ia bermenung, memandang Ia hilir mudik, melihat kira dan kanan, nampaklah enau sebatang, berlari-lari Ia ke sana, ditebangnya enau itu seketika, diambil umbutnya sekalian, diukur tinggi si Galang, umbut itu sudah diambil. Berkata bapak si Galang, “Pencarian yang sekali ini, tidak akan salah lagi,” lalu dipikul dibawa pulang, berjalan bergegas-gegas, dengan nafas kembang kempis, peluhnya menganak sungai, mangalir ke tulang punggung, karena beratnya umbut itu. Sesampainya di halaman, diletakkan di bawah lumbung, lalu naik ke atas rumah, berkata bapak si Galang, “Oi Upik Puti Galang Banyak, upik bangunlah bangun, itulah umbut sudah dapat, yang sama besar dengan anak, dibawa dari Kampuang Tibarau, itu yang tegak di halaman, tinjaulah ke pintu besar, lihatlah ke bawah lumbung.” Kononlah si Galang Banyak, begitu mendengar umbut dapat, langsung hilang sakitnya, berdiri Ia ke pintu besar, meninjau sambil ke halaman, melihat ke kiri dan kanan, tersesat pandang ke bawah lumbung, nampaklah umbut enau, jatuh berderai air mata, sesaklah dada memikirkannya, berbalik ke tempat tidur, keluh kesah si Galang Banyak, sakit bertambah berat jua, rasa kan terbang yang berkata, lalu berpantun beribarat, “Kayu kelat tumbuh di tanah Berurat bertunas tidak; Obat jauh penyakit parah Bertawar selilir tidak” Entah harus bagaimana, hilang sudah akal bapaknya, habis sudah tenggang dan akal, melihat si Galang Banyak, duduk termenung seketika, menangis terisak-isak, hati rusuh bercampur iba, badan jerih berguna tidak. Sesaat sudah menangis, teringat akan sesuatu, dipanggilnya amai si Galang Banyak, “Sekarang beginilah, coba tanya pada anak, apa benar kehendak si Galang, coba beli lah mulutnya, 77 tunaikan sungguh-sungguh, kalau denai diharapkan, tidak dapat yang sebenarnya, hilang sudah akal denai, sempit sudah pikiran denai, entah mungkin pada adik, Ia mau mengatakan, Ia mau mengungkapkan.” Akan hal amai si Galang, orang cerdik dan bijaksana, berkata sambil menangis, menangis terisak-isak, menghempas-hempaskan badan, melecut-lecutkan tangan, berguling-guling di lantai. “Duhai Upik Puti Galang Banyak, katakanlah sungguhsungguh, usah anak berahasia, usah anak simpan-simpan, apa benarkah yang sakit, apa obat yang kan dicari, apa benar kehendak anak, denai meminta kata putus, katakan isi hati anak, jika tidak anak katakan, jika tidak anak jelaskan, denai amuk badan denai, agar senang hati anak.” Berlari Ia ke bilik dalam, dibuka pintu yang besar, diambil sebuah rencong, tajam yang bukan alang-alang, bisa yang bukan ulah-ulah, jejak ditikam mati jua, disintak rencong seketika, berlari ke tengah rumah, diletakkan di lehernya. Begitu nampak oleh si Galang Banyak, amainya akan mengamuk diri, cemaslah rasa hatinya, terbitlah takut seketika, menggadodoh12 Ia bangun, direbutnya rencong itu, dicampakkan ke halaman. Kononlah si Galang Banyak, telah sesak kira-kira, habis budi habis bicara, habis tenggang dan kelakar. “Sudah masak padi rang Saba Diambil untuk galu-galu Tidak boleh mengunyah lagi; Terdesak padang ke rimba Terhentak ruas ke buku Tidak dapat berpaling lagi. Hendak mengatakan hati berat, hendak membenarkan badan malu, tak dibenarkan amai mengamuk, dikatakan jua lah akhirnya. 12) Menggebu 79 “Duhai Amai kata denai, dengarkanlah sungguh-sungguh, dengarkan denai beribarat: Guruh petus penuba limbat Limbat dituba orang seberang; Tujuh ratus carikan obat Bertemu tuan Umbuik baru senang.” Mendengar kata demikian, tercengang hebat amai si Galang, maklum sudah di dalam hati, berkata Ia pada suaminya, “Duhai bapak si Galang, berhelatlah sekali lagi, turunkan padi dari lumbung, tangkaplah kerbau dalam kandang, jemputlah si Umbuik Mudo, ke ranah Kampuang Tibarau.” Maka begitulah yang jadi, berjalanlah bapak si Galang, membawa sebuah cerana, menuju ke ranah Kampuang Tibarau. Telah serentang perjalanan, tibalah Ia di sana, di rumah amai si Umbuik, memanggil bapak si Galang, “Oi Umbuik ya si Umbuik, adakah di rumah buyung kini?” Mendengar kata demikian, meninjau adik si Umbuik, yang bernama Puti Rambun Ameh, nampaklah bapak si Galang Banyak, berkata si Rambun Ameh, “Cempedak di tengah laman Dijolok dengan empu kaki; Janganlah lama tegak di laman Itu cibuk cucilah kaki, Bapak naiklah dahulu.” Naiklah bapak si Galang, lalu termiang seluk menyeluk, duduk bersirih-sirihan, makan sirih sekapur seorang, habis manis sepah dibuang, pahitnya tinggal di kerongkongan, perisanya habis tertelan, sarinya naik ke ubun-ubun. Sedang longgar perkabaran, diangsur rundingan seketika, berkata bapak si Galang, 81 “Bukan denai Kinari saja Kinari anak orang Padang; Bukan denai kemari saja Besar maksud yang dijelang. Bukan denai ke rimba saja Ke rimba menebang sampir; Bukan denai ke sini saja Ke sini datang memanggil. Hendak memanggil si Umbuik Mudo, di manakah dia sekarang?” Menjawab Puti Rambun Ameh, “Kalau itu bapak tanyakan, dia memang ada di rumah, sedang tidur di atas anjung, belum lama dia tidur.” Berkata Bapak si Galang, “Tolong sudilah memanggil, tolong berjerihlah sebentar, tolonglah dibangunkan, katakan bapak datang memanggil, langsung terbawa hendaknya, katakan begitu baik-baik.” Menjawab Rambun Ameh, “Duhai bapak si Galang Banyak, daripada bapak marah nanti, elok bapak marah sekarang, bukan denai enggan disuruh, denai takut membangunkannya, sebab dia baru tidur, pulang mendoa tadi malam, pulanglah bapak dahulu, nanti saja denai bangunkan.” Menjawab Bapak si Galang, “Kalau begitu kata anak, biarlah denai menantikan, sampai terbangun Umbuik Mudo, baru kan senang hati denai, berjalan kami beriringan.” Berkata Rambun Ameh, “Janganlah bapak risaukan itu, begitu dia bangun nanti, denai suruh langsung berangkat, tidaklah berapa akan lama, berjalan sedekat ini.” Pulanglah bapak si Galang, sampai Ia di tengah laman, langsung naik ke atas rumah, begitu sampai si Galang bertanya, “Duhai bapak kata denai, mana orang yang bapak jemput, mana orang yang bapak panggil, mengapa belum tiba jua?” 83 Menjawab bapak si Galang, “Bapak cari ke rumahnya, bapak cari ke kampungnya, yakni ke Kampuang Tibarau, bertemu Umbuik baru tidur, pulang mendoa tadi malam. Tapi bapak sudah berjanji, dengan adiknya si Rambun Ameh, menyuruh lekas dibangunkan, menyuruh lekas datang ke sini.” Orang Padang memintal benang Dipintal dilipat-lipat Dilipat lalu diperdua; Kalau direntang bisa panjang Baik digulung agar singkat Diambil saja yang berguna. 85

DI RUMAH PUTI GALANG BANYAK