A Wonder Book and Tanglewood Tales, for Girls and Boys

Chapter 4

Chapter 43,374 wordsPublic domain

Mendengar irama Tuan Umbuik, beruras rasa jantung denai, terbuka rasa pikiran eenai, nyaring sudah pendengaran denai, itu sebabnya denai turun, Dulang jua sedulang lagi Pendulang emas pelangki; Ulang jua sekali lagi Ulanglah irama yang tadi. Agar kami dengarkan lagi, kami simak sungguh-sungguh.” Mendengar kata demikian, menjawab si Umbuik Mudo, berkata sedang berpantun, “Malah dibuluhkan jua Capo di pematang tebat; Malah disuruhkan jua Disebutlah segala yang dapat. Entah sepat entah mentila Rama-rama dalam kembut; Entah dapat entah tiada Sudah lama kaji tak disebut.” Lalu mengaji Si Umbuik Mudo, diulang sekali lagi, dicobakan irama yang tadi, jangankan irama yang dapat, jangankan kaji kan terbaca, mata surat malah tak nampak, Kelit-kelit si Malaka Hinggap di pasar Payakumbuh; Terkelit iman yang celaka Kepada puti yang bertujuh. Tertawalah puti yang bertujuh, sibuk gareh-manggareh4, asyik bisik berbisik, cemooh berapi-api, gelak pun berderai-derai, berkata Puti Galang Banyak, 4) saling berkelakar 21 “Sudah terbalik tepi kain sudah hilang penggiliannya; sudah terbalik hati si Malin sudah hilang pengajiannya. Gila si pasin gila Gila si tawang-tawang; Gila si malin gila Digila sejadah sembahyang Berburu ke padang datar Dapatlah rusa belang kaki; Berguru kepalang ajar Bagai bunga kembang tak jadi.” Kembali surutlah dahulu, terbit malu di si Umbuik, peluh bagai anai sungai, mengalir ke tulang punggung, muka merah-merah padam, nafas sebesar-besar gajah, lalu berkata si Umbuik Mudo, “Duhai guru denai, berilah ampun banyak-banyak, denai pulanglah dahulu, tiada guna Denai di sini. Tiada alu sebesar ini Alu tertumbuk pada tebing Jika tertumbuk di pandan Bisa ditanami tebu; Tiada malu sebesar ini Malu tertumbuk di kening Jika tertumbuk di badan Bisa ditutup dengan baju.” Berkemas Si Umbuik Mudo, bersiap Ia segera, turun Ia ke tangga, lalu berkata guru si Umbuik, “Nantilah Buyung pulang, nantilah Buyung berbalik, nantikan usai helat ini, minum makan lah dahulu.” Menjawab Si Umbuik Mudo, “Beri maaf banyak-banyak, 23 berikan ampun seketika, usah guru berkecil hati, denai tetap kan pergi jua.” Berkata Guru si Umbuik Mudo, “Denai tebang tidak tertebang Bagai menebang batang sampir Denai tebas jua yang jadi; Denai larang tidak terlarang Bagai melarang air hilir Denai lepas jua yang jadi.” Berjalanlah si Umbuik Mudo, ditunggangi kuda yang belang, dipacu berbalik pulang, lalu berlari-lari kecil, dekat semakin hampir, hampir dekat kan tiba, tiba di tengah halaman. Dipautkan kuda segera, lalu langsung naik ke rumah, tegak ke tengah Ia bermenung, tegak ke tepi Ia menegun, penglihatan berapi-api, pemandangan kelam kabut, terlelap rebah sekali, tidur menelungkup ke bantal. Menelungkup sambil menangis, menangis terisak-isak, air mata bak hujan lebat, jatuh dua jatuh tiga, bagai intan putus pengarang, bagai manik putus talinya, bagai bunyi direntak pakam5. Sesaat Ia menangis, datang amai menghampiri, lalu bertanya lah amainya, “Buyung, apa yang buyung rusuhkan, apa yang Buyung tangiskan, apa karena kalah mengaji, atau tak terlawan dunia orang?’ Lalu menjawab si Umbuik Mudo, “Bukan denai salah mengaji, bukan kalah berdunia, bukan terhimpit karena memakai, tapi, Kelip-kelip si Melaka Hinggap di pasar Payakumbuh; Terkelit iman di dada Kepada puti yang bertujuh. Oi Amai, jika benar Amai iba, jika benar Amai sayang, pergilah Amai denai suruh, pergilah Amai denai seraya, 5) Bunyi yang keras sekali 25 Amai isilah uncang Amai, tiap sudut berhikmat, tiap isi tiap pekasih, talinya sepalit gila, Amai pergilah ke sana, ke rumah Kampuang Aua, ke ranah puti yang bertujuh, ke rumah Puti Galang Banyak, Amai tanyakan sungguh-sungguh, Amai berunding baik-baik. Satu dua tali pijakan, Jala putus bawa berenang; Satu iya dua tidakkan Kata putus badan pun senang. Berbuah kacang di Bandar Berbuah nasi nasian; Suruh katakan jawaban benar Jangan kita nanti-nantian. Sampaikan demikian, kepada Puti Galang Banyak,” kata si Umbuik Mudo. Demi melihat perasaan anak, berkemaslah Amai si Umbuik, dikunyah sirih sekapur, dicari ketika yang elok, diisi uncang lengkaplengkap, lalu berjalanlah ia turun. Telah serentang dua rentang, dekat semakin hampir, hampir dekat kan tiba, telah sampai di halaman, halaman Puti Galang Banyak, memanggil amai si Umbuik, “Oi Upik Puti Galang Banyak, adakah di rumah saat ini, meninjaulah Upik sebentar.” Oi Upik Galang Banyak, Upik tingkatlah mengkudu Panjatlah embacang; Upik liatlah ke pintu Siapa gerangan yang datang.” Lalu menjawab si Galang Banyak, berkata sambil berpantun, “Sudah ditingkat batang mengkudu Sudah dipanjat pohon embacang; 27 Sudah dilihat ke pintu Amai si Umbuik lah yang datang. “Duhai Amai tuan Umbuik Mudo,” sapa Puti Galang Banyak, “Cempedak di tengah halaman Dijuluk dengan empu kaki; Janganlah lama tegak di laman Itu cibuk cucilah kaki.” Lalu naik amai si Umbuik, sebentar di tengah rumah, dua bentar pula lamanya, duduk bersirih-sirihan, makan sirih sekapur seorang, habis manis sepah dibuang, kelatnya tinggal di kerongkongan, perisa habis tertelan, sarinya naik ke ubun-ubun. Sedang baik penuturan, sedang tepat perkiraan, sedang dapat agakagak, dikemukakanlah rundingan, dimulai dengan penuturan, berkata amai si Umbuik, “Bukan denai Kinari saja Kinari anak orang Padang; Bukan Denai kemari saja Besar maksud hendak dijelang.” Menjawab Amai si Galang, “Jika ikan sudah terkilat Mengapa tidak dijalakan Jika memang sudah ada niat Mengapa tidak disampaikan.” Menjawab Amai si Umbuik, “Ikan terkilat jala tampak Jala terendam masuk tepian Payah dibawa saja; Niat besar tersampaikan tidak Berbuah simantuang jantang Beruk payah memandang saja. 29 Makanya tidak dijalakan Tindih bertindih kaki dulang; Sebab tidak tersampaikan Kakak pemilih kata orang. Ilalang di koto panjang Dipintal diikat erat; Direntang rundingan bisa panjang Digulung saja biar singkat Benarlah di sini surat nahu Kalam tersisik atas atap; Benarlah di sini burung Mau Hati teringin hendak menangkap.” Berkata amai si Galang, “Kelapa dibelah-belah Terletak di atas pintu; Mengapa tertelah-telah Dahulu tidak begitu.” Menjawab amai si Umbuik, “Bukan denai kinari saja ke rimba mengambil toran terbawa rotan muda; bukan denai kemari saja kemari membawa pesan yaitu pesan si Umbuik Mudo. Dengarkan satu pantun lagi, Berbunyi bedil di Jepang Orang perang ke lima kota Kata tidak akan diulang Si Umbuik ingin jadi semenda Untuk si Puti Galang Banyak.” 31 Mendengar tuturan itu, menjawab amai si Galang, “Mengenai rundingan itu, dengarkanlah duhai kakak: Di rimba tiada bercapa Tumbuh di lurah ulak pantai; Bagi kita tak kan mengapa Terserah pada yang memakai, Kakak berundinglah dengan si Galang, kakak tanyakanlah padanya, Teluk kulak kuala tenang Juragan masuk muaranya; Buruk baik kata si Galang Denai pasti mendukungnya.” Lalu dipalingkanlah rundingan, dialihkan pada si Galang, berkata amai si Umbuik, “Duhai Puti Galang Banyak, dengarkanlah oleh anak, “Satu dua tali pijakan Jala putus bawa berenang Jala anak orang dengung-dengung; Satu iya dua tidakkan Kata putus badanpun senang Jangan lama kami digantung.” Menjawab si Galang Banyak, “Duhai Amai kata Denai, benarlah kata Amai, tapi sedikit kata Denai, minta tangguhkan dahulu, yang setahun dua tahun ini, belum Denai akan berjunjungan, belum terniat akan berlaki, denai akan menggadis saja, katakan begitu baik-baik, kepada Tuan Umbuik Mudo,” katanya Puti Galang Banyak. Mendengar jawaban demikian, termenung amai si Umbuik Mudo, angan lalu paham tertumbuk, kita mau orang enggan. Denai nak dulang, denai nak dulang Pucuk si jawi-jawi muda; 33 Denai nak pulang denai nak pulang Jika beruntung kembali pula.” Menjawab si Galang Banyak, “Kemanakah condong kerambil Dulang-dulang rebah ke Bandar; Datang kemari tiada dipanggil Hendak pulang tiada diantar, Denai lepas dengan hati suci, dilepas dengan mulut manis, dilepas dengan muka yang jernih.” Lalu Turunlah amai si Umbuik, berjalan dengan hati iba, berjalan dengan hati sabak, pulang dengan hati rusuh. Telah serantang dua rentang, cukup ketiga rentang panjang, hampir kan tiba lah si Amai, tiba di tengah halaman, langsung naik ke atas rumah. Begitu nampak amai tiba, berkata si Umbuik Mudo, “Duhai Amai Denai, bagaimanakah kata jawabnya, bagaimanakah hasil rundingannya. Letak di bawah mengenai Dipotong-potong dipertiga; Harap bagai rasa akan jadi Cemas bagai rasa kan tiada.” Menjawab amai si Umbuik, “Mengkudu di dengung-dengung Jatuh sedahan silaranya; Belum dimulai sudah tertarung Alamat badan akan binasa.” Berkata si Umbuik Mudo, “Duhai Amai denai, Amai katakan yang sebenarnya, Amai kabarkan segalanya, apakah jawaban si Galang, agar Dia tahu hati denai, apa benarkah yang diangankan, apa benarkah yang ditangguhkan, sehingga dia sampai demikian?” kata si Umbuik Mudo, hati di dalam tak senang lagi. 35 “Duhai Buyung anak Amai, dalam setahun dua tahun ini, dia belum akan berjunjungan, dia belum akan bersuami, belum berniat akan menikah, dia akan menggadis saja, begitulah katanya, kata si Puti Galang Banyak. Sungguhpun demikian, dengarkan pula oleh anak, Anak buaya gulung tenun Masuk kuala Indrapura; Apakah daya untung belum Nantikan saja ketikanya. Koto Sabab menghadap Tiku Tiku menghadap Koto Tangah; Sedang tidak sabarlah dahulu Nantikan saja gerak Allah. Tak jiran mengkudu ada Belum pandan akan bergadang; Niat itu yang tak ada Belum badan akan tergamang. Jangan hati dibuat rusuh, jangan hati dibuat risau, usah buyung khawatirkan.” Menjawab si Umbuik Mudo, “Benar pula kata Amai, sungguh benarlah begitu, tapi sedikit terasa dalam hati, petuah dari Amai juga, melangkah tak cukup selangkah, yang sekali diduakan, yang dua cukupkan tiga, cukup tiga kata putus, begitu juga yang biasa, begitu juga yang dipakai. Pergilah Amai sekali lagi, minta sungguh kata yang putus, agar tak terasa-rasa jua.” Mendengar kata demikian, hilanglah akal amai si Umbuik, terasa sesak pikirannya. Terketik terkitun-kitun Salimbada dalam liangnya; tegak tertegun-tegun Bicara dalam hati saja. 37 Rumah Gadang Sembilan Ruang Puti duduk di serambi; Sungguh sakit berpikir seorang Bagai menentang langit tinggi Hendak pergi badanlah malu, tidak pergi bagaimanalah, karena sayang pada anak, akhirnya berjalan jua. Telah serentang perjalanan, cukup ketiga rentang panjang, hampir dekat kan sampai, sampai di halaman rumah si Galang, memanggil amai si Umbuik, “Oi, Amai Puti Galang Banyak, adakah di rumah saat ini?”. Meninjau si Galang Banyak, nampaklah amai si Umbuik, berkata si Galang Banyak, “Cempedak tengah halaman Dijolok dengan empu kaki; Usah lama berdiri di halaman Itu cibuk cucilah kaki.” Sudah naik amai si Umbuik, tidak lama di atas rumah, berpantun si Galang Banyak, “Berbuah belimbing besi Berbuah berputik pula; Bertuah pintu di tepi Sudah pergi berbalik pula.” Menjawab amai si Umbuik, “Kain kurik kain Jawa Dijahit belum disesah; Sebab saya berbalik jua Rundingan kita belum sudah.” Duhai kakak amai si Galang, tolong dengarkan oleh kakak, Bertangga berbilik juga Berdulang berkalang hulu; 39 Sebab Denai berbalik pula Mengulang kata yang dahulu.” Mendengar kata demikian, menjawab Amai si Galang, berkata sambil berpantun, “Sejak semula denai katakan Tidak terletak dalam padi Terletak jua di pematang; Sejak semula denai katakan Tidak diletak dalam hati Diletak jua di belakang Ke rimba tidak bertapa Tumbuh di ulang pantai; Bagi Denai tidak mengapa Tinggal di orang yang memakai. Terhadap pada rundingan itu, kakak berundinglah dengannya, yakni dengan Puti Galang Banyak.” Berkata amai si Umbuik, “Duhai upik si Galang Banyak, jawablah jua kata denai, Satu dua tali pijakkan Jala putus bawa berenang Ragu-ragu janganlah ada; Satu ada dua tidakkan Kata putus hati kan senang Jangan terasa-rasa jua.” Lalu menjawab si Galang Banyak, “Duhai Amai kata denai, Tuak jua kata denai Nira jua kata amai Tidak jua kata denai Iya jua kata amai. Amai dengarkan baik-baik, Amai dengarkan habis-habis, denai 41 katakan kata mati, denai sampaikan kata putus. Tentangnya tuan Umbuik mudo, siang tak jadi angan-angan, malam tak jadi impian, sungguhpun elok tuan Umbuik, tahulah denai di eloknya, elok karena kain dipinjam, sungguhpun besar tuan Umbuik Mudo, Denai lah tahu di besarnya, besar terbawa di ruasnya, sungguhpun kaya tuan Umbuik Mudo, denai tahu di kayanya, kaya dari emas bawaan bapaknya, untuk gelang kaki denai takkan sampai. Tentang tuan Umbuik Mudo, usah disebut dua kali, sedangkan yang sekali ini, jika tersentuh denai empelas, jika tersinggung denai kiraikan, jika terbawa denai kembalikan, tidak usah diulang lagi, berdiri bulu remang denai!” katanya si Galang Banyak, tanpa menenggang perasaan orang. Akan hal amai si Umbuik, bagai ayam kena pukul, hati gatal mata digaruk, berjalan dengan hati iba, berjalan tertatih-tatih, berjalan tertegun-tegun. Kepundan kulitnya manis Pucuk sibayur-bayur tinggi; Berundung-undung sambil menangis Begitu perasaannya kini. Telah serentang perjalanan, berhenti amai si Umbuik, duduk bermenung di pinggir jalan, keringatnya menganak sungai, mengalir ke tulang punggung, dipikir-pikir dalam hati, dipatut-patut dengan akal, terkira pula yang merusuh. Apakah yang merusuhkannya, apakah yang dirisaukannya, jika terbit usut dan selidik, jika datang sudi dan tanya, dari si buyung Umbuik Mudo, apa kan tenggang badan diri, kalau dikatakan semuanya, kalau diberitakan habis-habis, pasti nanti Dia marah, Mengkudu di dengung-dengung Dua dengan dahan silaranya; Belum dianjur sudah tertarung Alamat badan akan binasa. 43 Ya Allah ya Rasulullah, bagaimanakah nasib denai ini, anak yang seperti ini, anak yang segagah ini, tampan dan patut dibanggakan, tapi dihina demikian rupa, entah mengapa demikian tega, takdir Allah sudah di denai. Sesaat sudah Ia bermenung, dibulatkanlah pikiran, berjalan amai si Umbuik, dekat bersarang hampir, hampir dekat kan tiba, tibalah Ia di halaman, lalu naik ke rumah seketika, tampak si Umbuik sedang bermenung, sedang melintuh-lintuh jari, sedang mengeratngerat kuku. Lalu bertanya si Umbuik Mudo, “Duhai Amai kata denai, bagaimana jawabannya, apa rundingan yang Amai bawa, Letak di bawah mengena Dipotong lalu di pertiga; Harap rasa kan diterima Cemas bagai rasa kan tiada, Coba katakan di Amai, kabarkan yang sesungguhnya, usah Amai berahasia, yang benar saja dikatakan, agar senang hati denai.” Berkata amai si Umbuik, “Duhai buyung dengarkanlah, Kalau itu yang buyung tanya, begini jawab si Galang, dalam setahun ini, denai belum akan berjunjungan, denai belum akan bersuami, belum terniat hendak menikah, denai akan menggadis saja.” Mendengar jawaban demikian, kata yang dahulu dikatakan, dilihat pula roman amainya, lalu berkata si Umbuik Mudo, “Duhai Amai kata denai, mengapa sembab mata Amai, mengapa berubah air muka Amai, mengapa gelisah hati Amai, hati pelepahkah hati Amai, jantung apa jantung Amai, jantung pisanglah agaknya, bukan yang benar dikatakan, berdustalah Amai kiranya!” Mendengar anak sudah marah, melihat anak sudah kesal, dikatakan saja yang sebenarnya, “Duhai buyung anak Amai, dengarkanlah sungguh-sungguh, Amai katakan habis-habis, Amai katakan yang sebenarnya, tidak dilebih dikurangi, begini kata si Galang, 45 “Katanya si Umbuik Mudo, siang tak jadi angan-angan, malam tak jadi impian, sungguhpun elok Tuan Umbuik, Denai tahu di eloknya, elok karena kain dipinjam, sungguhpun besar tuan Umbuik Mudo, denai telah tahu di besarnya, besar karena terbawa ruas, sungguhpun kaya tuan Umbuik Mudo, denai tlah tahu di kayanya, kaya karena emas bawaan bapaknya, untuk gelang kaki denai takkan sampai. Tentang tuan Umbuik Mudo, usah disebut dua kali, sedangkan yang sekali ini, jika tersentuh Denai empelas, jika tersinggung denai kiraikan, jika terbawa denai kembalikan, tidak usah diulang lagi, berdiri bulu remangku!” begitulah kata Puti Galang Banyak yang sebenarnya.” Begitu mendengar penuturan itu, terbit amarah si Umbuik Mudo, marah yang bukan alang-alang, marah yang bukan ulah-ulah, marah sambil menghempas-hempaskan tangan, marah sambil menghempas-hempaskan badan, disabarkan tidak tersabarkan, dibujuk tidak terbujuk, hilanglah akal amainya, lalu berkata amai si Umbuik, “Itu jua yang denai kirakan, itu jua yang denai bayangkan, kalau mengatakan semuanya, kalau mengabarkan pada anak, telah terpikir oleh Amai, pasti terjadi yang begini.” Sesaat dia menangis, sesaat dia melamun, akan hal si Umbuik Mudo, teringat dia akan sesuatu, dengan perlahan dia berkata, “Duhai Amai kata Denai, kalau Amai iba di Denai, kalau Amai sayang di denai, pergilah Amai denai seraya, tidaklah malu semalu ini, kalau malu akan terbangkit, kalau malu bisa dihapus, carikan denai perupuk hanyut, yakni ke lubuk mata kucing, sakti yang tidak terlalu sakti, jernih yang tidak terlalu jernih, tempat si udang di dalamnya, dalam yang tidak terlalu dalam, setangkup benang dan kaus, di putaran yang mengiang, di serangkak yang berdengkang, yang dibelit naga sakti, yang dibelit ular berbisa, yang dijunjung ikan besar. Perupuk itu yang Amai cari, perupuk itu yang Amai ambil, kalau tak dapat perupuk itu, tidaklah kasih Amai ke denai, tidaklah 47 sayang Amai ke Denai. Apa guna siput ini Siput sudah berangkai-rangkai; Apa guna hidup ini Hidup sudah bercermin bangkai. Biar Denai amuk badan Denai, agar senang hati Amai. Mendengar kata demikian, rusuhlah amai si Umbuik Mudo, sudah terdesak kira-kira, bagai makan buah Simalakama, kalau pergi badan mati, tidak pergi anak mengamuk, begitu sulitnya yang dicari, begitu rupanya kehendak anak, dipatut-patut dengan akal, dipikir-pikir oleh amai si Umbuik, daripada anak mati, eloklah denai mati dahulu. Karena iba pada anak, raga tidak dikhawatirkan, raga tidak dipikirkan, berjalan Ia seketika, dibawa kemeyan putih, menangis berundung-undung, kodek sudah diangkat tinggi, nafas sudah kembang kempis, berpantun amai si Umbuik, Ke pekan sekali ini Tak mungkin membeli lagi; Berjalan sekali ini Tidak mungkin berbalik lagi Tinggi melanjunglah wahai bambu Tak kan denai tebang lagi Tinggallah dulu wahai kampung Tak kan Denai kembali lagi Sesudah Ia menangis, berjalan amai si Umbuik, berjalan tertegun-tegun, berjalan tertahan-tahan, bumi dipijak rasa kan terban, langit dipandang rasa kan jatuh. Telah serentang perjalanan, dekat semakin hampir, hampir tiba lah dianya, tibalah ia di sana, turunlah hujan yang lebat, berdentang bunyi petus tunggal, tibalah si dulak-dolai6, bergetar tanah dipijaknya, kelam sudah di lubuk itu, kilat berapi-api. 6) Berulang-ulang 49 dibakar kemenyan putih, asap membubung ke atas langit, lalu menyeru amai si Umbuik, “Ya Allah ya Rasulullah, Ya tuhan junjungan denai, berlakukanlah kehendak denai, kabulkanlah pinta denai, hanyutkanlah perupuk itu.” Pinta yang sedang akan berlaku, Allah yang sedang kan menolong, seketika teduh hujan yang lebat, berhenti kilat dan petus, tenanglah angin yang kencang, teranglah tentang lubuk itu, tampaklah perupuk hanyut, sedang dijunjung ikan besar, sedang ditunggangi kala berbisa, sedang diputar-putar air, sedang dilamunlamun ombak, jauh yang tak terlalu jauh, dipandang sayup-sayup sampai. Kalau dikait tidak dapat, kalau diraih kelampauan, kadangkadang ia menepi, kadang-kadang ia ke tengah, hampir dekat Ia jauh, baru menjauh ia mendekat, Ia hilang-hilang timbul, tampak jelas terapung-apung. Kononlah amai si Umbuik, melihat hal yang demikian, memandang pada perupuk itu, hati di dalam kembang kempis, hati yang harap-harap cemas, harap bercampur takut, cemas rasa tak kan dapat, takut badan akan mati. Dibulatkannya tekad, diberanikannya diri, dipejamkan kedua matanya, diterjuninya lubuk itu, dilompatinya seketika, mencebur Ia akhirnya. Telah dihanyutkan pusaran air, telah dihempas-hempas ombak, tarik menarik dengan kala, rampas-merampas dengan ikan, rebut-berebut dengan naga, berebut saling menghempaskan. Setelah lelah saling berebut, setelah puas saling menarik, setelah lama saling menghela, dapatlah seruas perupuk. Bagi amai si Umbuik Mudo, begitu dapat perupuk itu, langsung keluar dari lubuk, berlari seketika menghadap pulang, berlari-lari kecil, melompat-lompat riang, berteriak-teriak kian kemari, hilang sudah malu dan sopan, karena hati terlalu senang. 51 Bahagia yang tiada terkira, baju di badan berturai-turai, sarung sudah bersimpang-simpang, rambut sudah awut-awutan, setiap orang yang melihat, besar kecil tua muda, habis tercengang semuanya, habis tertawa semuanya, melihat tingkah amai si Umbuik. Melihat laku perangainya, banyaklah orang yang bertanya, seorangpun tak diacuhkannya, entah terdengar entah tidak, ia terus berlari saja, sambil menjujung perupuk itu. Setelah lama berlari, sampailah ia di halaman, langsung naik ke atas rumah, bertanya si Umbuik Mudo, “Duhai Amai kata denai, dapatkah yang Denai katakan, adakah yang Amai cari?” Menjawab amai si Umbuik, dengan nafas yang terengahengah, berkata terputus-putus, karena lelah berlari-lari. “Oi Buyung si Umbuik Mudo, jika itu yang buyung tanyakan, jika itu yang buyung sebut, cemas mati badan denai, hampir kita tidak bertemu. Memukat tentang teluk kosong Kenalah anak maco aji; Kalau bukan Allah yang menolong Haram sampai ke tanah tepi Lihat di anak pakaian Amai, habis semua bertirai-tirai, habis semua compang camping, sudah tidak berbentuk lagi, berebut-rebut dengan kala, tarik menarik dengan ikan, hela menghela dengan naga, sebab untung pemberian Allah, dapatlah perupuk itu. Kononlah si Umbuik Mudo, begitu melihat perupuk itu, bahagia sungguh tak terkira, langsung dibawa masuk bilik, dirautnya perupuk itu, telah selesai Ia meraut, bertanya amai pada si Umbuik, “Buyung, apakah yang Buyung buat, apakah yang Buyung kerjakan. Buyung, sedang apa saat ini?” Menjawab Si Umbuik Mudo, “Jika itu yang Amai tanyakan, denai sedang membuat puput, jika malu bisa dibangkit, jika malu 53 bisa dihapus, denai akan meniup puput, ke sumur pancuran raja, ke sumur si Puti Galang Banyak.” Mendengar jawaban demikian, sangat terkejut amai si Umbuik, sekarang baru Ia maklum, lalu berkata seketika, “Buyung, usah Buyung pergi ke sana, entah dia sedang demam, takut nanti dia terkejut, entah sedang lemah semangat.” Lalu si Umbuik Mudo menjawab, “Amai tak tahu di malu, Amai tidak tahu di sakit, sungguh tebal telinga Amai, renungrenungkanlah dahulu, Amai dengarkan kata denai, Rumah gadang7 bertiang tidak Di manalah angin akan lalu Entah lalu di liang lantai; Hati bimbang diungkap tidak Siapalah orang yang akan tahu Entah di orang yang merasai Akan hal badan diri denai, sejak mendengar kata-kata itu, tidur denai tidak nyenyak, makanpun rasa tidak enak, tidur yang tidak bisa tidur, namun untuk kali ini, meski hilang nyawa di badan, meski hilang yang berkata, biarlah denai cobakan jua. Belalang terbang melayang Terbangnya berapi-api; Satu hilang dua terbilang Namanya anak laki-laki.” Mendengar kata-kata itu, berkata Amai si Umbuik, “Denai tebang tidak tertebang Bagai menebang batang sampir Denai pangkas jua dengan pisau; Denai larang tidak terlarang Bagai melarang air hilir Buatlah saja sesukamu.” 7) Rumah adat Minangkabau 55 Orang padang memintal benang Dipintal dilipat-lipat Dilipat lalu diperdua; Kalau direntang bisa panjang Baik digulung agar singkat Diambil saja yang berguna. 57

PUPUT PERUPUK