Seluruh Nusantara Berjiwa Republik
Part 1
__NOTOC__ __NOEDITSECTION__
Paduka Tuan Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat!
Paduka Tuan-tuan tamu dari luar-negeri yang saya hargai benar kehadirannya disini!
Saudara Rakyat Indonesia Seluruhnya!
Lebih dulu, saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas pidato Paduka Tuan Ketua tadi, yang saya dengarkan dengan penuh-penuh minat, dan yang berisi banyak sekali petunjuk dan anjuran. Pidato Paduka Tuan itu memberi keyakinan kepada saya, bahwa persatuan dan kerja-sama antara rakyat dan Pemerintah, yang mutlak-perlu untuk keselamatan Negara kita selanjutnya, dapat tercapai. Terutama sekali di waktu-waktu yang sekarang ini, yang persatuan itu kadang-kadang agak terganggu, padahal Negara kita masih dalam bahaya, pidato paduka Tuan itu kami perhatikan benar.
Kemudian saja minta maaf, bahwa pidato saya, berhubung dengan keadaan, adalah agak panjang. Tetapi dengarkanlah dengan sabar.
Saudara-saudara! Marilah kita semua, seluruh rakyat Indonesia, pada hari ini mengarahkan ingatan kita kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, mengucapkan syukur dan terima-kasih kepadaNya. Bahwa Dia telah memberikan kepada kita merayakan hari 17 Agustus ini untuk buat keempat kalinya: Republik kita pada hari ini mencapai usia tiga tahun! Padahal,… apakah yang tidak ia alami didalam tiga tahun itu!
Samudera-samudera rintangan harus ia arungi, gunung-gunung kesulitan harus ia lewati, topan dan badainya kegentingan-kegentingan harus ia lalu, dan didalam tahun yang lalu malahan sambarannya geledek dan halilintar peperangan imperialis-fasis harus ia alami! Tidakkah wajib kita merebahkan badan dan jiwa kita di hadapan hadirat Allah Seru Sekalian Alam itu, untuk menyatakan terima kasih kita kepadaNya?
GAGALNYA LINGGARJATI
Ya, republik kita yang sebentar sesudah diproklamirkannya, banyak orang yang mengira akan segera musnah lagi dari permukaan bumi… Republik kita itu kini berusia tiga tahun! Tetapi masih saja perjuangannya masih belum habis. Masih saja soalnya belum selesai. Masih saja perundingan dengan Belanda belum mencapai satu hasil yang tertentu. Padahal sejak persetujuan linggarjati, pokok-pokoknya sudah sama-sama disetujui. Bukankah Belanda sudah menyetujui kemerdekaan Indonesia seluruhnya, yang akan terselenggara dengan bentuk Negara Indonesia Serikat tanggal 1 Januari 1949? Bukankah pula sudah sama disetujui mendirikan suatu Uni Indonesia-Belanda, sebagai suatu perserikatan Negara yang sama-sama merdeka, sama-sama berdaulat, sama-sama souverein, untuk mengurus hal-hal yang mengenai kepentingan bersama antara Indonesia dan Belanda?
Naskah Linggarjati! Belanda menandatangani naskah itu. Ia menandatangani naskah itu dengan hatinya. Ia bersitegang-urat-leher mengadakan dan mengemukakan-interpertrasinya sendiri, yang berlainan dengan teks dan notulen pembicaraan-pembicaraan tentang fatsal-fatsal naskah itu sendiri.
Memang reaksi di negeri Belanda terhadap naskah Linggarjati itu hebat sekali. Komisi Jenderal yang menandatangani naskah itu jadinya seakan-akan di #desavoueer oleh pemerintahnya di negeri Belanda, yang menentukan sikapnya sendiri tentang makna dan maksud naskah itu.
Dalam keadaan yang semacam itu, dengan sendirinya terjadilah perbedaan pemahaman yang hebat antara generasi Republik dan Komisi-Jenderal tentang menyelenggarakan naskah itu. Akhirnya Belanda mencoba memaksakan kemauannya kepada Republik dengan kekerasan senjata.
Meriamnya dan bomnya disuruh bicara,– bukan rasa keadilan dan pengertian tentang sejarah. Usul Republik supaya keputusan tentang perselisihan itu diserahkan kepada suatu #arbitrage, sebagai yang dengan tegas dan nyata dimaksudkan oleh fatsal 17 Linggarjati, ditolak mentah-mentah oleh Belanda dengan alasan yang dibuat-buat dan dicari-cari, yang oleh seorang bangsa Amerika dengan jitu sekali dinamakan "hair-splitting sophistry".
Belanda lebih percaya kepada hasil kekuatan senjatanya, daripada kepada hasil kebijaksanaannya sesuatu #arbitrage. Apakah ia sepaham benar dengan metodenya Frederik II Prussia . . . yang diagungkan juga oleh Hitler . . . yang berkata:
"Kalau engkau ingin memiliki suatu daerah, dan engkau mempunyai cukup senjata, serbu sajalah daerah itu. Nanti sesudah berbuat demikian, toh mudah sekali mendapatkan beberapa orang advocat yang mencarikan alasan-alasan buat penyerbuan itu?"
PERANG KOLONIAL PECAH, APAKAH AKIBATNYA
Entah! Tetapi sesuai dengan resep itu, digerakkannyalaah segenap angkatan perangnya pada 21 Juli tahun yang lalu. Daerah kita diserbuanya. Bedilnya memuntahkan peluru, meriamnya menggeledek dan mengguntur, mitrailleurnya dan bomnya diamukkan kepada pemuda dan rakyat kita yang hanya bersenjata rongan dan bambu runcing. Ratusan, ribuan pemuda dan rakyat kita itu mati-matian, oleh karena mempertahankan kebenaran dan keadilan . . .
Di sinilah saya mengajak saudara-saudara menundukkan kepala sebentar, untuk menyatakan hormat dan terima kasih kita kepada mereka yang telah mati itu, mati agar supaya Republik terus hidup. Moga-moga Allah Subhanahu wa ta'ala yang maha adil memberkati arwah perjuangan mereka itu, yang mati membela keadilan.
Saudara-saudara! Tahun ketiga daripada Republik kita ini bermula, sesudah perang imperialisme Belanda itu di setop oleh Dewan Keamanan Serikat Bangsa-Bangsa dengan gencatan senjata yang diperintahkan olehnya.
Apakah akibat daripada aksi ala Frederik II itu? Adakah ia membawa hasil sebagaimana yang diharapkan oleh Belanda? Jauh daripada itu! yang dapat dinyatakan dengan tegas adalah dua akibatnya:
Pertama, aksi militer itu merugikan kepada kedua belah pihak. Merugikan kepada Republik, oleh karena tentara Belanda dapat menduduki kota-kota dan jalan-jalan raja(besar) di sebagian daerah Republik.
Tetapi sebaliknya, politik bumi-hangus yang kita jalankan, tidak sedikit merugikan kepada Belanda. Kita sebagai satu bangsa yang mati-matian cinta kepada kemerdekaan yang telah bersumpah "sekali merdeka tetap merdeka"– kita sebagai satu bangsa yang telah ratusan tahun terhisap dan tertindas, kita yang telah gandrung kepada kemerdekaan itu dengan hati yang berkobar-kobar dan menyala-nyala, kita yang biasa tidur berkandang langit berselimut mega– kita menjalankan cara pertahanan yang logis (dan akan kita jalankan pula tiap-tiap kali kalau perlu) bagi bangsa yang diserang kemerdekaannya tetapi kekurangan alat senjata ;
Kita menjalankan taktik bumi hangus yang sehebat-hebatnya, dan taktik gerilya yang seulet-uletnya. Apa saja yang mungkin akan jatuh di tangan musuh dan menguntungkan kepada musuh, kita binasakan, kita ledakkan, kita bakar habis-habisan: "wij hebben niets te verliezen, doch alles te winnen" Taktik bumi hangus yang dilakukan oleh pasukan Republik dan rakyat itulah, nyata tidak sedikit merugikan Belanda, dan pasukan-pasukan gerilya Republik yang dibantu oleh rakyat selalu mengancam tentara Belanda dimana-mana, yang kekuasaannya tidak lebih dari lima atau sepuluh kilometer timbal-balik jalan besar yang dikuasainya atau lima atau sepuluh kilometer keluar kota yang didudukinya. Daerah diluar itu, tetaplah dalam kekuasaan Republik, dari daerah itulah tetap perlawanan berjalan, tetap gerilya berkobar, tetap senapan dan bambu-bambu runcing mencari mangsa.
Apakah semua orang Belanda begitu bodoh untuk tidak mengetahui lebih dulu, bahwa aksi militer tidak boleh tidak pasti membawa kecele, pasti merupakan fiasco? Tidak sebab banyaklah golongan-golongan di kalangan rakyat Belanda sendiri yang dari tadinya memang tidak setuju dengan aksi militer itu. Ada yang tidak setuju karena prinsip, yakni prinsip mengutamakan perundingan di atas pembunuhan, prinsip menganggap pembunuhan satu perbuatan yang menyalahi peri kemanusiaan; ada yang tidak setuju oleh karena dari sebelumnya telah dapat menduga bahwa aksi militer pasti akan merupakan satu fiasco yang amat besar. Komisi Jenderal sendiri sebenarnya berpendapat demikian! saya membaca tulisannya bekas anggota komisi jenderal Max Van Pol yang berkepala (*1)"Het Indie-Beleid" yang dikutip oleh majalah "Tijdsein" bulan Juni yang lalu, dan saya kagum atas keterusterangannya tuan itu membuka tabir yang menutupi pertikaian paham dikalangan bangsa Belanda itu. (*2) "Tot do voorzienbare gevolgen nu van een gewelddadige poging tot herstel van het Nederlandse gezag behoorden niet allen de guerilla, maar ook de verschroeide aarde politiek, en de overmijdelijkheld van contraterreur tegen de terreur".
(*3)"wat de guerilla aangaat: de Comissie General wist met volstrekte zekerheid– hoe die verkregen werd, kan thans niet en ook voorloopig niet openlijk worden medegedeeld- dat de Republikeinse troepen, bij een eventuele militaire actie onzerzijds, geen openlijken strijd zouden wagen, doch alles zouden zetten op voortdurende aanvallen tegen onze verbindingslijnen. Dit betekende een wijze van strijdvoeren, waarop vooral onze Nederlandse troepen niet berekend waren en die door dagelijkse kleine verliezen op den duur tot zware verliezen zou leiden. Later is door de feiten bevestigd dat de voorwetenschap der Commissie Generaal juist was"..
Dan lebih lanjut tuan Max Van Pol menulis: (*4)"Naast de zekerheid van een langdurige guerilla en onophoudelijke aanvallen op onze verbindingslijnen had de Commissie Generaal de volsrekte zekerheid, dat de verschroeide aarde politiek onverbiddelijk zou worden toegepast. Ook dit is door de feiten bevestigd, al heeft de bijzondere snelle opmars der Nederlandse troepen bij de politionele actie dan ook een aantal objecten, Java meer tijd beschikbaar was, zou daar ook nog meer dan nu het geval was vernield zijn geworden".
Sekianlah! Jadi Pihak Belanda ada yang tahu betapa akibat daripada aksi militer yang mereka akan jalankan! Toh mereka Jalankan! Toh mereke terjun pula kedalam api! Toh mereka perbuat juga apa yang bahasa kita menamakan "ilang-ilangan"! Analisis kita yang semacam itu tak dapat lain, melainkan bahwa pihak Belanda memang kekurangan kekuatan Jiwa, dan berada dalam putusan dan serta kebimbangan mengingat kontroversi dalam kalangan sendiri, dan bahwa mereka pada waktu itu memang benar-benar (*5)"in den put".
Militer mereka pada waktu itu sedang sekuat-kuatnya, tetapi ekonomi sebaliknya; sedang sekempes-kempesnya. Maka lantas dicobalah (*6)"er op of er onder". Lantas dicobalah "ilang-ilangan"! Lantas dikerjakannyalah apa yang melukai hati kita itu, mengisi hati kita itu dengan rasa sakit yang tak akan kita lupakan turun temurun, melukai seluruh ummat Islam di Indonesia dan di muka bumi, oleh karena menghinanya kesuciannya bulan Ramadlan!
. catatan kaki
1."The Indie Policy"
2."To do now foreseeable consequences of a violent attempt to restore the Dutch authorities were not only the guerrillas but also the scorched earth politics, and about inevitably hero of counter terror against terror ".
3."what the guerrillas may concern: the Commission uses General knew with absolute certainty – how it was obtained, can not now and the time being not be openly stated-that the Republican troops in any military action on our part, no outright battle would venture, but everything would be put on continuous attacks against our connecting lines. This meant a method of struggle, which especially our Dutch troops were not calculated and who by daily small losses eventually led to severe losses would result. Later, by the facts confirmed that the science of General Commission was right "The Indie Policy "
4."In addition to the certainty of a protracted guerrilla and incessant attacks on our connection lines, the Commission General of the absolute certainty that the scorched earth politics inevitably would be applied. This is also supported by the facts confirmed, though the special rapid advance of the Dutch troops at the police action than a number of objects, Java more time was available, would there even more than it had been destroyed have become. "
5."in the pit"- hendak beradu
6. "at or below"
Siapa-siapa percaya bahwa agresi Belanda itu benar-benar satu aksi "kepolisian" untuk mendatangkan "keamanan" dan bukan satu aksi militer-ekonomis, dua imperialistis, untuk merebut kembali yang paling kaya, yang paling subur daerah-daerah yang paling gemuk? Advokat-advokat yang berkewajiban mencari-carikan alasan untuk membenarkan perlunya z.g. politionele actie itu– sesuai dengan resep Frederik II– rupanya buat sekali ini tidak berhasil sama sekali. Seluruh dunia yang progressif mencela aksi ini, seluruh Asia mengutuknya, di Lake Success Dewan Keamanan mengangkat jarinya dan membentuk "Berhenti!"
Memang sampai sekarang pihak resmi Belanda belum mampu mengemukakan alasan-alasan politik yang tidak bertentangan satu sama lain, apa sebab dianggapnya perlu mengadakan aksi militer itu. Keterangan Dr. Van Mook tidak sesuai dengan keterangan Dr. Beel! R.V.D bertentangan dengan Mr. van Kleffens! Dr.Van Mook di dalam memorandumnya pada tanggal 20 juli mengatakan bahwa aksi militer ini diadakan untuk membangun ketertiban dan keamanan untuk memungkinkan penyelenggaraan program yang termaksud di Linggarjati, tetapi.. bahwa pemerintah Belanda dalam perhubungannya dengan Republik tak dapat lagi menganggap dirinya masih terikat oleh persetujuan Linggarjati itu,– Dr. Beel didalam pidato-radionya pada 20 Juli mengatakan bahwa pemerintahnya tetap memegang kepada azas-azas ini tetap berarti penuh dalam hubungannya dengan Republik!
Kalau dua keterangan ini harus dinamakan "terang", entah barangkali kita-lah yang kurang mengertinya!
Tetapi manakala alasan politik yang dikemukakan mereka adalah tidak terang, maka tujuan militer-ekonomis perang mereka itu adalah terang seterang-terangnya: hendak membinasakan angkatan perang kita, hendak menghancurkan Republik strategis dan ekonomis, hendak menguasai daerah-daerah deviezen!
Tetapi sebagaimana semua orang telah mengatahui: angkatan perang kita belum binasa. Republik kita masih berdiri, deviezen dan alat-alat..
..pembuat deviezen kita bakar sebanyak-banyaknya! dan semangat kemerdekaan di daerah pendudukan tetap membara, di beberapa daerah tetap berkobar dan menyala-nyala! Keuntungan apa yang Belanda capai dengan agresinya itu? Juga sekarang, setelah tentara Republik ditarik kembali dari daerah pendudukan, juga sekarang ternyata, bahwa Belanda tak sanggup mengadakan keamanan dalam daerah yang mereka kuasai, tak sanggup menindas-mati semangat-kemerdekaan yang malahan meniup meluap melompat menjadi-tekad membalas, tekad menyerang, sehingga pegawai-pegawai pemerintahnya yang berkedudukan jauh dari kota besar tidak aman sama sekali. Sungguh benar peribahasa Tionghoa, bahwa orang dapat membinasakan Jenderal dengan tentaranya, tetapi tidak dapat membinasakan kemauan yang bersemayam di dalam kalbu!
Apakah akibat aksi militer itu lagi?
Kedua, aksi militer Belanda itu tidak menghancurkan Republik seperti yang mereka kehendaki, tetapi malahan meletakkan perjuangan Republik ke tingkat yang lebih tinggi! Ke tingkat Internasional! Soal Indonesia menjadi perhatian Dewan Keamanan Serikat Bangsa-Bangsa, menjadi pokok perundingan-perundingan meja hijau di Lake Success. Soal Indonesia menjadi lebih menghikmati perasaan-perasaan di New Delhi, di Cairo, di semua negara-negara Arab, di Kongres-kongres Internasional. Tidak lagi ia semata-mata soal antara Indonesia dengan Belanda saja. Tidak lagi ia dapat diputar-putarkan dengan alasan-alasan Juridis sebagai soal "dalam negeri". Memang demikianlah kehendak kita dari semulanya. Memang soal Indonesia adalah soal dunia, soal yang jauh melangkahi perhubungan antara Indonesia dengan Belanda saja,– soal yang dengan nyata "affect the whole world", sebagai Pandit Jawaharlal Nehru mengatakannya. Resolusi Dewan Keamanan tanggal 1 Agustus 1947 yang memerintahkan kedua belah pihak untuk meletakkan senjata, resolusi itu mematahkan sama sekali pendirian Belanda itu bahwa soal Indonesia adalah suatu soal "dalam negeri" semata-mata.
Tidak, bukan soal "dalam negeri", tetapi satu soal yang- saya meminjam kata-kata anggota KTN Dr. Graham–"strategic in place and strategic in time". Satu soal Internasional ! PJM wakil Presiden pun telah menguraikan hal ini dengan jelas dalam pidatonya pada pembukaan sidang Komite Nasional Indonesia Pusat bagian kedua di Malang tahun yang lalu. Saya sungguh tidak mengerti apa sebab pihak Belanda tidak segera mengerti, bahwa segala alasan-alasan Juridisnya untuk meng-isolir soal Indonesia menjadi soal "dalam negeri" itu akhirnya toh akan sia-sia belaka. Sungguh lebih mudah menaruhkan air di punggung itik, daripada mengisolir soal-soal di Indonesia dan pembunuhan di Indonesia itu! Rumah terbakar dan Belanda tidak mau bahwa orang-orang tetangga ikut geger hendak memadamkan api? Dulu, sebelum ada ekonomi dunia, sebelum ada politik dunia, dulu di zamannya ekonomi nasional, hal itu mungkin dan Belanda memang mengisolir kita beratus-ratus tahun lamanya…
..Tetapi sekarang dengan adanya ekonomi dunia dan politik dunia hal itu tidak mungkin lagi! Indonesia telah masuk gelanggang Internasional! Jika tidak seketika, lambat laun dunia Internasional toh pasti ikut serta dalam penyelesaian persengketaan Indonesia-Belanda itu. Inilah pula yang menjadi dasar politik luar negeri Repulik:
Menuju Perdamaian Internasional, mencari penyelesaian sesuatunya dengan jalan damai, dengan membawa soal kita ke atas dampar Internasional.
TEKAD KITA!
Tetapi di samping itu, kita mempunyai tekad dan moral ksatria terhadap nasib kita sendiri. berpuluh-puluh kali, ya beratus-ratus kali kita tadinya telah berkata, dan selalu akan berkata, bahwa benar kita cinta damai, tetapi kita lebih cinta lagi kepada kemerdekaan. Kalau kemerdekaan kita dilanggar, kita melawan mati-matian, dam kita mempertahankan kemerdekaan kita itu dengan segala– sekali lagi: segala:– jalan dan usaha yang boleh kita lakukan dan yang dapat kita lakukan: gerilya, bumi hangus, sabotase, boikot, pemogokan, ya, apalagi itulah memang haknya sesuatu bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan kalau diserang!
Belanda telah menyerang kita, dan Indonesia yang tadinya memang telah masuk gelanggang Internasional, karena adanya ekonomi dunia dan politik dunia itu, Indonesia sekonyong-konyong melompat ke pusat perhatian Internasional itu. Sungguh satu plus bagi Republik, satu keuntungan bagi Republik,–akibat agresi Belanda, yang tidak disangka-sangka oleh Belanda itu! Malah kita diakui dalam sidang Dewan Keamanan sebagai suatu partai dalam "dispute". Dengan demikian kita mendapat tempat yang sederajat berhadapan dengan Belanda dalam Dewan keamanan itu. Utusan kita kesana, Sutan Sjahrir, diakui sebagai Ambassador at large. Simpati yang kita peroleh dalam Dewan Keamanan itu dari berbagai pihak memberikan kepuasan bagi kita, mengisi kalbu, kita dengan rasa terima kasih. Dan simpati di luar Dewan Keamanan pun tidak kecil pula; sebagian besar dari pers Internasional menumpahkan simpatinya kepada kita. Dan perhatian negeri-negeri lain kepada kita, terutama India dan Negara-negara Arab, bertambah besar pula. Atasnya pun kami mengucapkan terima kasih.
Dewan Keamanan tidak saja memerintahkan perletakan senjata kepada kedua belah pihak, ia mengangkat pula suatu Komite Konsuler, terdiri dari enam orang Konsol-Jenderal yang ada di Jakarta, untuk mengawasi jalannya gencatan senjata itu dan mengirimkan laporannya ke Lake Success. Dengan keputusan ini ternyata sekali lagi, bahwa Souvereiniteit* Belanda itu, yang selalu dipakai sebagai alasan oleh Belanda, untuk mengisolir soal Indonesia, dapat ditembus,-ditrobos-, karena ada kepentingan Internasional yang lebih besar. Teori Belanda bahwa soal Indonesia adalah soal dalam negeri bagi Belanda, teori bahwa hanya Belanda sendirilah yang bertanggung jawab tentang keamanan di Indonesia, -kedua-dua teori itu kini tumbang jebol hancur berantakan dengan keputusan Dewan Keamanan itu! catatan kaki: Souvereiniteit: Kedaulatan
SOAL INTERNASIONAL
Ya, soal kemerdekaan Indonesia menjadi soal Internasional! Soal kemerdekaan kita tidak lagi satu soal antara Belanda dengan Indonesia belaka,- tidak lagi satu soal yang dapat diputus secara unilateral oleh Belanda saja. Camkanlah hai saudara-saudara seluruh bangsa Indonesia, terutama yang berada di kepulauan Indonesia di luar daerah Republik.
Camkanlah hal ini! Camkanlah kenaikan soal kita ke tingkatan yang lebih tinggi itu, tingkatan yang tidak dapat diturunkan lagi oleh pihak Belanda, meski dengan daya upaya yang bagaimana jugapun!
Camkanlah hal kenaikan ini, supaya saudara-saudara tidak mengarahkan pandangan saudara-saudara kepada Belanda saja,-camkanlah- agar supaya saudara-saudara teguh di dalam kalbu, teguh di dalam usaha, menentang imperialisme Belanda, teguh di dalam penderitaan,- sebagai pegangan bahwa saudara-saudara tidak sia-sia bercita-cita, tidak sia-sia berkorban untuk cita-cita itu!
Keputusan yang ketiga yang diambil oleh Dewan Keamanan ialah mengangkat suatu Komite Jasa Baik, suatu "Committee of Good Offices", yang di kalangan bangsa kita lebih terkenal dengan nama "Komisi Tiga Negara" atau singkatnya K.T.N. Kewajibannya ialah menjadi Badan perantara untuk menolong menyelesaikan persengketaan Republik dengan Belanda dengan jalan damai. Anggota-anggotanya yang mula-mula, Professor Dr. Graham, Paul Van Zeeland, Justice Kirby, datanglah di sini pada penghabisan bulan Oktober 1947. Kini mereka telah kembali ke negeri mereka masing-masing, tetapi ketiga-tiganya meninggalkan kesan yang baik kepada kita, dan kepada mereka kita menyatakan terima kasih.
"Komite Jasa Baik". "Committee of Good Offices". Sekedar good offices, sekedar "mengantara"! Bukan untuk memberi arbitrage, bukan untuk memutus. Tiadanya kekuasaan untuk memutus itu tidak memuaskan kita,- utusan kita di Lake Success berulang-ulang meminta diadakannya badan arbitrage–, tetapi untuk menunjukkan goodwill, Republik menerima putusan Dewan Keamanan itu.
Dan kecuali untuk menunjukkan goodwill, adalah lain pertimbangan pula:-kita yakin: apabila soal Indonesia sudah menjadi urusannya sesuatu badan Internasional (sebagai misalnya KTN itu), maka lambat laun kebenaran dan keadilan pasti tercapai, lambat laun dunia Internasional makin mengerti benarnya tuntutan-tuntutan kita, berkat kegiatan kita berusaha, keuletan kita berjuang.
Ya, kita tidak naif, tidak dungu untuk mengharapkan bahwa kebenaran dan keadilan akan berlaku sekalipun terhadap kita; tidak naif dan tidak dungu untuk mengharapkan bahwa dunia-luaran akan sekalipun mengerti perkara kita. Kebenaran dan keadilan hanyalah dapat dicapai dengan perjuangan yang sehebat-hebatnya, ikhtiar dan usaha yang seulet-uletnya, pencerahan jiwa raga yang semutlak-mutlaknya, pengorbanan kalau perlu yang seikhlas-ikhlasnya. Inilah kepercayaan kita. Tetapi kita percaya pula, dengan kesucian tujuan, dengan kejujuran perjuangan, dengan keuletan perjuangan yang jujur itu, yang pantang patah di jalan, kebenaran pasti akan berlaku terhadap kita, keadilan pasti akan menjelma!
LAHIRNYA RENVILLE
Maka sejak datangnya K.T.N di Indonesia, mulailah masa perundingan yang pertama di bawah suasana "cease fire". Masa ini berjalan sampai penandatanganan Naskah Renville.
Aman sama sekali masa itu tidak. Betapa dapat aman? Sebab sekalipun ada "cease fire" … "Berhenti tembak-menembak" .. tidak ada garis demarkasi yang memisah kedua tentara yang berhadapan. Di dalam daerah-daerah yang katanya dikuasai oleh Belanda, terdapatlah bertebar-tebar "daerah-daerah kantong" yang dikuasai oleh T.N.I. Betapa juga keinginan untuk menjunjung tinggi putusan cease fire, namun pertumbuhan pasukan yang terpencar-pencar di belakang garis pertahanan Belanda dan bersilang-silangan letaknya itu, tak dapat dihindarkan. Tak mungkin tercapai satu cease fire yang mutlak. Tak mungkin mengelakkan pertempuran, kalau bertemu dua pasukan yang sama-sama bersenjata, sama-sama masih dendam dalam hati, sama-sama tadinya bermusuhan mati-matian. Selalu terjadilah tembak-menembak, yang sudah barang tentu pihak Belanda selalu pula mengartikannya sebagai pelanggaran cease fire oleh kita, seolah-olah pihak mereka semuanya adalah non-non dari klooster.