Sodome et Gomorrhe - Première partie
Chapter 5
Saya ulangi lagi: Kita bertekad bulat, kita mendesak terus. Kita merasa kuat, oleh karena kita memang kuat, dan oleh karena kita di fihak yang benar, dan oleh karena kita tidak berjalan sendiri. Ya, kita tidak berjalan sendiri! Kawan-kawan kita ada di mana-mana, keadaan internasional umumnya menguntungkan kepada kita. Di dalam pidato-pidato saya yang terdahulu sudah saya katakan, bahwa imbangan dunia beberapa tahun yang lalu didasarkan atas hegemoni, penjajahan, penindasan, penghisapan lebih dari 2000 juta manusia oleh kurang daripada 500 juta manusia, dan bahwa kini sebagai reaksi terhadap ketidakadilan itu tiga perempat (sedikitnya) daripada umat manusia di muka bumi ini berada di dalam satu Revolusi-Besar yang saya namakan Revolusinya Kemanusiaan, – the Revolution of Mankind – dan bahwa Revolusi kita ini adalah sebagian saja daripada Revolusi Kemanusiaan itu. Cita-cita Revolusi kita adalah, kataku, kongruen dengan "the social conscience of Man". Itulah sebabnya maka Revolusi Indonesia amat populer di kalangan tiga-perempat umat manusia itu, dan bahwa semboyan-baru "freedom to be free", "bebas untuk merdeka", yang saya lansir di luar-negeri dalam perjalanan muhibah yang akhir ini, disambut amat baik sekali oleh mereka itu, terutama sekali oleh Rakyat-Rakyat Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Ya, "freedom to be free", – "bebas untuk merdeka"! Sebab, buat apa ada "freedom of speech, freedom of creed, freedom from want, freedom from fear" – buat apa "bebas bicara, bebas berkepercayaan, bebas dari kemiskinan, bebas dari ketakutan" -, jikalau tidak ada kebebasan untuk merdeka, tidak ada "freedom to be free"? Berapa bangsakah yang tidak, sudah mempunyai Negara yang merdeka, lantas diganggu atau diintervensi kemerdekaannya oleh sesuatu kekuasaan asing? Berapa bangsakah yang tidak, ingin melemparkan penjajahan atas dirinya, ingin menjadi bangsa yang merdeka, lantas dihalang-halangi tercapainya kemerdekaan itu dengan segala macam? Bagi bangsa-bangsa yang sedang berjuang untuk mencapai kemerdekaan, atau bangsa-bangsa yang kemerdekaannya sedang diganggu-ganggu, atau bangsa-bangsa yang sedang ketakutan bahwa kemerdekaannya akan diganggu-ganggu, bagi mereka itu semboyan "freedom to be free"' "bebas untuk merdeka" itu terdengarnya laksana satu bunyian terompet dari Kayangan.
Itulah sebabnya bahwa tatkala saya mendengungkan suara "freedom for West Irian to be free" -, "bebaslah hendaknya Irian Barat untuk merdeka" -, suara saya itu disambut oleh pendengar-pendengar dengan persetujuan yang gegap-gempita, dan disambut di dalam batin oleh segenap rakyat progresif di muka bumi dengan persetujuan yang luar-biasa. Dan persetujuan ini bukan hanya timbul pada waktu perjalanan-muhibah saya itu saja, melainkan satu persetujuan yang memang dari tadinya. Perjalanan-muhibah saya itu, yang sebagai sudah saya katakan juga satu perjalanan perjuangan dan perjalanan testing, menambah tebalnya persetujuan itu, dan menambah kesediaan bangsa-bangsa itu untuk membantu kita.
Karena itu saya ulangi kepada saudara-saudara di sini: Hayo berjalan terus, hayo desak terus, kita tidak berjalan sendiri, kita tidak berjuang sendiri! Kawan-kawan kita itu mengerti pula, bahwa perjuangan pembebasan Irian Barat bukan hanya perjuangan adil daripada Bangsa Indonesia saja, tetapi adalah satu bagian daripada perjuangan-umum mengubur kolonialisme dan imperialisme di seluruh muka bumi. Dan mereka mengerti pula, bahwa perdamaian-dunia tak mungkin datang, selama masih ada kolonialisme-imperialisme di bawah kolong langit, dan bahwa dus perjuangan mengubur kolonialisme-imperialisme di Irian Barat adalah satu bagian daripada perjuangan-umum untuk perdamaian-dunia. Kepada semua kawan-kawan kita di seluruh muka bumi itu saya menyampaikan salamnya Rakyat Indonesia yang berjuang, salamnya satu Bangsa, yang telah lahir-kembali dalam kancahnya perjuangan, satu Bangsa yang dalam Undang-Undang Dasarnya dan dalam api-hatinya telah bersumpah bahwa "penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, dan bersumpah untuk "ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial", – salamnya satu Bangsa yang pada saat-saat sekarang ini sedang gegap-gempita bercancut-taliwanda mengerah-kan segala semangat dan tenaganya untuk melaksanakan sumpah itu. Hidup kesetia-kawanan perjuangan, hidup kesetia-kawanan progresif, hidup kesetia-kawanan Revolusi Kemanusiaan dan Peri-Kemanusiaan!
Dengan salam itu pula nanti akhir bulan ini Insya Allah saya akan menuju Beograd di Yugoslavia untuk mewakili Bangsa Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara yang berpolitik bebas dan aktif, yang akan dimulai pada tanggal l September yang akan datang. Saya akan pergi ke sana itu dengan mengemban segenap Amanat Bangsa Indonesia, amanat yang saya pikul dengan sepenuh kecintaan dan sepenuh tanggung-jawab, yaitu amanat Kemerdekaan, amanat Perdamaian, amanat Kesejahteraan dan Kebahagiaan bagi seluruh umat manusia di seluruh muka bumi.
Apalagi di mana Indonesia adalah salah satu sponsor daripada Konferensi Tingkat Tinggi in!! Bersama-sama dengan Yugoslavia dan Republik Persatuan Arab, Indonesia telah mensponsori Konferensi itu. Maka menjadi kewajiban Indonesia-lah membuktikan perlunya Konferensi itu, dan dapat-berhasilnya Konferensi itu. Saya minta do'a saudara-saudara semua ke hadlirat Tuhan, agar saya dapat menjalankan pengembanan amanat saudara-saudara itu dengan baik.
Ya, perlunya Konferensi. Barangkali di antara saudara-saudara ada yang menanya, apakah Konferensi ini tidak mendesak Konferensi AsiaAfrika ke belakang? Tidak merugikan hasil-hasil Konferensi Asia-Afrika itu? Tidak melemahkan solidaritet Asia-Afrika yang tadinya selalu kita pupuk dan kita gembléng?
Tidak, saudara-saudara, samasekali tidak! Sebab pada hakekatnya, Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara Bebas dan Konferensi Asia-Afrika itu adalah komplementer satu sama lain, artinya "mengkomplitkan" satu sama lain. Dua Konferensi ini isi-mengisi satu sama lain.
Di pidato Medan beberapa minggu yang lalu itu telah saya uraikan, bahwa dua Konferensi ini pada hakekatnya berdiri di atas dua bidang yang berlainan satu sama lain, tetapi toh mengisi dan membutuhkan satusamalain!
Konferensi Asia-Afrika adalah penggabungan (samenbundeling) daripada rasa nasionalisme anti imperialisme di Asia-Afrika, – akumulasi daripada rasa nasionalisme anti imperialisme di Asia-Afrika itu, sehingga rasa nasionalisme anti imperialisme di Asia-Afrika yang tadinya agak "berantakan" itu menjadi satu gabungan-tenaga yang hebat, satu "coordinated accumulated force".
Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara Bebas adalah penggabungan (samenbundeling) daripada rasa internasionalisme Negara-Negara Bebas, sehingga rasa internasionalisme Negara-Negara Bebas (yaitu persahabatan segala bangsa, perdamaian dunia, perlucutan senjata, dan lain-lain sebagainya itu) menjadi pula satu "coordinated accumulated moral force".
Saudara lihat: Konferensi Tingkat Tinggi dan Konferensi Asia-Afrika tidak merugikan satu sama lain, tidak "menjégal" satu sama lain. Dua Konferensi itu malah mengkomplitkan satu sama lain.
Dengan mensponsori K.T.T. dan ikut dalam K.T.T. maka Indonesia merasa setia kepada kepribadiannya, setia kepada sumbernya yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar, setia kepada garis-azasi daripada politik-luar-negerinya.
Apakah garis-azasi politik-luar-negeri kita itu?
Pertama : Bebas dan Aktif.
Kedua : Solidaritas Asia-Afrika.
Ketiga : "Tetangga baik", good neighbour policy.
Untuk apa?
Untuk Perjuangan menentang Kolonialisme-imperialisme (pertama).
Untuk mempertumbuhkan Kepribadian Nasional (kedua).
Untuk Persahabatan dan Perdamaian antar-bangsa (ketiga).
Indonesia pergi ke K.T.T. nanti dengan mengemban garis-garis-azasi dan tujuan-tujuan ini, sebagaimana Indonesia dulu pergi ke K.A.A.-pun dengan mengemban garis-garis-azasi serta tujuan-tujuan itu. K.T.T. dan K.AA. adalah satu sama lain komplementer.
Indonesia tidak melupakan K.A.A., Indonesia tidak bersikap, "masa bodoh" kepada solidaritas Asia-Afrika. Indonesia malahan selalu masuk di barisan paling depan daripada solidaritet Asia-Afrika itu. Dan Indonesia sekarang ini, bersama-sama dengan beberapa Negara lain, malahan sedang sibuk mempersiapkan Konferensi Asia-Afrika yang ke II. Malah dalam angan-angan Indonesia, alangkah baiknya jikalau A.A. menjadi A.A.A., K.A.A. menjadi K.A.A.A, – Konferensi Asia-Afrika menjadi Konferensi Asia-Afrika-Amerika Latin! Dengan demikian maka samenbundeling daripada rasa-rasa-nasionalisme anti imperialisme itu menjadi lebih komplit!
Saudara-saudara! Lama saya meminta keuletan saudara-saudara mendengarkan pidato saya ini. Sekarang saya sudah hampir tiba kepada kata-kata-penutup. Kata-kata-penutup ini adalah amat penting sekali bagi hubungan antara saya dengan saudara-saudara, hubungan antara saudara-saudara dengan saya, yang saudara-saudara dalam MPRS telah angkat menjadi Pemimpin Besar Revolusi. Karena itu saya masih meminta lagi kesabaran dan keuletan saudara-saudara untuk mendengarkan dan memperhatikan kata-kata-penutup pidato saya ini.
Saudara-saudara, di muka telah saya gambarkan kepada saudara-saudara jalannya perjuangan kita pada masa yang lampau, – dengan kemajuan-kemajuannya dan kemundurannya, dengan kegembiraan-kegembiraannya dan kesedihannya, dengan harapan-harapannya dan kadang-kadang keputus-asaannya, dengan senyum-simpul perajurit dan tetesan air matanya -, sampai kita datang pada hari sekarang ini, 17 Agustus 1961, di mana kita merasa, bahwa kita sungguh sudah meletakkan dasar-dasar yang sehat bagi perjuangan kita itu, dan sudah mulai melaksanakan dasar-dasar sehat itu, dan telah memetik hasil di sana-sini yang menggembirakan.
Dasar-dasar sehat itu ialah R.I.L. atau Resopim: Revolusi, Manipol/USDEK/UUD '45, satu Pimpinan Nasional.
Apa yang kita lihat? Kita melihat bahwa dasar-dasar-baru itu memberi-kan kegiatan di mana-mana, memberikan action di mana-mana, – di segala bidang, di bidang mental, di bidang organisatoris, di bidang mengerahkan tenaga. Tidak seperti dulu sebelum adanya dasar-dasar-baru itu, di mana kelesuan-perjuangan adalah selalu meringkuk di jiwa kita, di mana kemacetan selalu kita lihat di semua pelosok, di mana "tidak berbuat" dianggap bijaksana untuk menghindarkan kesalahan, di mana falsafah "alon-alan asal kelakon" dianggap satu kebijaksanaan yang paling tinggi. Semuanya itu oleh karena tidak ada pedoman yang jelas yang nyata yang tegas, sehingga kesimpangsiuran selalu membingungkan kita, dan tidak ada begeestering (pembakaran semangat) yang menyala-nyala.
Sekarang berkat adanya dasar-dasar-baru, maka begeestering dan action itu telah ada, dan hasilnya kadang-kadang telah memberikan kebanggaan nasional dan kepercayaan nasional, dan kebanggaan nasional dan kepercayaan nasional itu memberikan lagi pembakaran semangat secara baru. Dengan begeestering itu, sekali lagi begeestering, selalu begeestering, – sebagai dikata-kan oleh Danton: audace, encore de l'audace, toujours de l'audace – , maka kita melanjutkan perjuangan yang masih panjang ini, dan menghantam menundukkan segala rintangan, segala kesulitan, segala kekecewaan, segala keputusasaan yang menghadang di tengah jalan!
Ya, gembiralah kita dengan Ordening Baru ini! Ya, Alhamdulillah kita sekarang mempunyai Ordening Baru itu! Malah ada saudara-saudara yang setia yang menanya: "Kenapa Bapak tidak sedari dulu-dulu-mula memimpin Ordening Baru ini?"
Saudara-saudara tentu dapat menerima, jikalau saya katakan, bahwa saya secara mendalam telah mempelajari Revolusi Indonesia ini dalam bandingan dan "hubungan dengan revolusi-revolusi bangsa lain. Dan apa yang saya lihat? Revolusi Indonesia ini tadinya benar boleh disebutkan "Revolusi yang paling tertib", tetapi juga harus saya sebutkan "Revolusi yang paling kurang rencana". The most orderly, but also the least planned. Sebenarnya dari tahun 1945 mula kita ber-revolusi tanpa rencana, melainkan hanya menurutkan adrengnya hati belaka. Dan terbawa oleh beberapa hal yang saudara-saudara telah ketahui, maka pelaksanaan Revolusi itu sebagai satu keseluruhanpun berjalan tanpa pimpinan nasional.
Kini dirasakan Pimpinan Nasional itu perlu. Tetapi sebelum menerima pimpinan, saya harus memperjuangkan Konsep terlebih dulu, yaitu Konsep: Revolusi, dan Ideologi Nasional Progresif. Dialektik perjuangan menyatakan, bahwa sebelum mengoper pimpinan nasional, menangkanlah konsepsi-konsepsi nasional terlebih dahulu. Memang Pimpinan Nasional – dan di sini saya bicara lagi lepas dari pribadi sendiri – tak boleh berlangsung buat sebentaran waktu saja seperti misalnya pimpinan sesuatu Kabinet Koalisi atau pimpinan sesuatu partai. Pimpinan Nasional bukan pimpinan sesuatu partai atau pimpinan sesuatu Kabinet Koalisi. Pimpinan Nasional harus memimpin satu Bangsa, dan Bangsa bukan seperti satu Kabinet Koalisi, bukan seperti satu partai, melainkan adalah satu kelangsungan, satu continuity, seperti tertulis di atas tembok museum Mexico yang saya ceriterakan tadi.
Pimpinan Nasional harus menanam dasar-dasar Kebangsaan dan dasar-dasar Kenegaraan, dan harus memimpin pelaksanaan daripada dasar-dasar Kebangsaan dan Kenegaraan itu sampai tercapailah cita-cita nasional, – kecuali jikalau ia ndléwér, kecuali jikalau ia menyeléwéng, kecuali jikalau ia durhaka dan khianat. Jikalau ia ndléwér, jikalau ia nyeléwéng, jikalau ia khianat, haruslah ia ditendang mentah-mentah oleh Revolusi.
Sebenarnya, sejak tahun 1950 sudah, saya memperjuangkan Konsepsi-konsepsi-nasional-progresif itu, oh, kadang-kadang mendapat cercaan-cercaan dan maki-makian terang-terangan, kadang-kadang dibisik-bisikkan bahwa saya telah menjual Indonesia kepada sesuatu Negara besar, kadang-kadang merasa seperti "single fighter" tersendiri dan terpencil di kalangan atasan, malah kadang-kadang hendak dibunuh orang, disabot dan digranat, – akan tetapi Alhamdulillah selalu dengan insaf dan sadar bahwa Rakyat membenar-kan saya dan mengikuti saya. Persetujuan dan dukungan Rakyat itulah yang selalu memberikan kekuatan-batin kepada saya untuk berjuang terus.
Tahun 1957 saya namakan tahun penentuan, dan saya mintakan penentuan-penentuan; tahun 1958 saya namakan tahun tantangan, dan saya mintakan jawaban-jawaban-tegas atas beberapa tantangan; tahun 1959 kita kembali kepada Undang-Undang Dasar '45, dan saya tonjoli tahun 1959 itu dengan pidato "Penemuan Kembali Revolusi Kita", yaitu dengan penegasan setegas-tegasnya daripada Konsepsi Nasional yang kemudian oleh Rakyat dinamakan Manipol/USDEK.
Maka sesudah Manipol/USDEK itu diterima resmi oleh MPRS sebagai garis-garis-besar haluan Negara, barulah saya mau menerima tugas dan kepercayaan sebagai Pemimpin Besar Revolusi.
Sejak penerimaan itulah Konsepsi Nasional menjadi bulat, yaitu Konsepsi Tritunggal R.I.L., ("Revolution, Ideology, Leadership") – atau Konsepsi Resopim: "Revolusi, Sosialisme, Pimpinan Nasional".
Sejak itulah saya memegang pimpinan Ordening Baru, dan dengan keterangan ini saya telah memberi jawaban atas pertanyaan apa sebab saya tidak dari setadi-tadinya memimpin Ordening Baru.
Bagaimanapun juga, saudara-saudara, kita bisa merayakan dua windu kemerdekaan kita ini dengan rasa gembira karena telah mencapai satu hasil yang nyata: yaitu landasan-landasan yang teguh dan jelas bagi perjuangan kita, yang tadinya tidak kita mempunyainya tetapi yang sekarang jelas-tegas berada di bawah telapak kaki kita untuk di atasnya kita berderap-maju ke arah realisasi Amanat Penderitaan Rakyat. Allahu Akbar, Revolusi Indonesia sekarang bukan lagi satu Revolusi yang ngawur, tetapi satu Revolusi yang tahu benar apa yang di-Revolusi-kannya!
Maka dengan do'a yang tak putus-putus ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala, marilah kita berjalan terus!
Ya, berjalan terus, tetap berjalan terus! dengan tak mau kalah kalau mendapat pukulan, ulet-maha-ulet kalau terpaksa mandek sebentaran, selalu waspada dalam kemajuan, bijaksana dalam segala kemenangan.
Tetap berjalan terus, mcnuju matahari, sebab matahari itu sudah terbit, dan jalan sudah terang-benderang!
Bangsa yang berjalan terus akan besar.
Bangsa yang mandek, akan kerdil.
Bangsa yang mundur, akan hancur.
Hancur lebur, tidak tahan sinarnya matahari!
Kategori:Pidato Soekarno