Sodome et Gomorrhe - Première partie
Chapter 2
Jika saudara sudah kaya, ingatlah kepada pahitnya kemiskinan sendiri di masa silam, agar saudara tetap menjalankan keadilan terhadap orang yang masih melarat.
Jika saudara sudah terpelajar, ingatlah kepada keadaan sedih tatkala saudara masih bodoh, agar saudara dapat merasakan kesengsaraan orang-orang yang buta-huruf.
Aci dan sari daripada perkataan saya ini ialah, bahwa meresapkan sejarah perjuangan yang penuh dengan korbanan-korbanan yang pahit-pedih itu berarti juga meresapkan keadilan, dan dengan meresapkan keadilan, meresapkan adilnya Amanat Penderitaan Rakyat, dan dengan meresapkan adilnya Amanat Penderitaan Rakyat, meresapkan tanggungjawabmu terhadap Amanat Penderitaan Rakyat.
Saudara-saudara!
Demikianlah pokok-makna Proklamasi dengan seluruh falsafah-falsafah Undang-Undang Dasar '45 yang bersangkut-paut dengan Proklamasi itu.
Maka itu tepat-maha-tepatlah, bahwa kita pada 5 Juli 1959 kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945. Dengan kembali kita kepada UndangUndang Dasar 1945 itu, maka kita menemukan kembali Revolusi kita, rediscover our Revolution -, menemukan kembali Revolusi kita, yang sejak tahun 1950 kita tinggalkan, dan kita lupakan, dan kadang-kadang kita durhakai.
Saudara-saudara masih ingat sejarah peninggalan, pelupaan, dan pendurhakaan itu. Hari-mulainya ialah K.M.B. Sejak itu, maka liberalisme menyelinaplah dalam tubuh Indonesia, dan jiwa Revolusi amblas samasekali keawang-awang. Apinya padam samasekali, debunya terbang kemana-mana menjadi pupuk-suburnya keserakahan perseorangan, egoisme partai, dan penyeléwéng-penyeléwéngan.
Sedih saya melihat hal ini, dan pada tanggal 17 Agustus 1957 saya membentakkan saya punya "halt!", saya punya "stop!" Inilah perkataan yang saya pakai dalam pidato 17 Agustus 1957 itu:
"Sistim politik yang kita anut, tidak memberikan manfaat kepada rakyat banyak. Kita harus tinjau kembali sistim itu, kita harus herzien sistim itu. Ya, tinjau kembali sistim itu, dan menggantinya dengan satu sistim yang lebih sesuai dengan kepribadian bangsa kita, lebih memberi pimpinan ke arah tujuan yang satu itu, yaitu masyarakat keadilan sosial.
Berilah bangsa kita satu demokrasi yang tidak liar!
Berilah bangsa kita satu demokrasi gotong-royong yang tidak jégal-jégalan!
Berilah bangsa kita satu demokrasi ”met leiderschap” ke arah keadilan sosial!
Berilah bangsa kita satu demokrasi terpimpin!
Sebab demokrasi yang membiarkan seribu macam tujuan bagi golongan atau perseorangan, akan menenggelamkan kepentingan Nasional dalam arusnya malapetaka!”
Demikian bunyi suara saya tatkala saya membentakkan stop!
Tidak tanpa sengaja saya menamakan pidato 17 Agustus 1957 itu ”Satu tahun penentuan”, – ”A year of decision”.
Ya!, kalau kita ingin menyelamatkan Revolusi pada waktu itu, kita harus berani mengambil penentuan. Kalau kita ingin hidup terus sebagai Bangsa dan Negara pada waktu itu, dan tidak mati konyol di tengah jalan, kita harus berani mengambil penentuan.
Dan musuh tahu penentuan apa yang hendak kita ambil, dan orang-orang Indonesia yang keblinger dan kontra-revolusionerpun mengetahui penentuan apa yang akan kita adakan. Maka mereka mengadakan tentangan dan tantangan terhadap penentuan itu, mereka mengadakan challenge dan re-challenge terhadap penentuan itu. Mereka akhirnya mengadakan pemberon-takan P.R.R.I.-Permesta, dengan disokong oleh subversi asing.
Bagaimanakah jawaban kita pada challenge yang amat hebat ini? Seluruh dunia pada waktu saya mengucapkan pidato 17 Agustus 1958 memasangkan telinga, untuk mendengar suara apa yang akan datang dari Indonesia, yang baru saja mendapat pukulannya challenge yang dahsyat itu? Mereka, seluruh dunia itu, dan sudah barang tentu musuh, dan orang-orang Indonesia yang keblinger, ingin tahu, apakah suasana kita ”suasana keadaan yang tertekan, suasananya Rakyat yang baru saja dapat pukulan-pukulan di badannya, babak-belur, babak-bundas? Apakah suara kita suara Rakyat yang telah remuk-redam dalam jiwanya, suara Rakyat yang telah megap-megap?”
Tidak! Kita tidak dalam keadaan tertekan, kita tidak remuk-redam dalam jiwa, kita tidak megap-megap! Kita dalam pidato 17 Agustus 1958 itu malahan menyatakan tekad kita yang tegas-keras laksana baja. Dalam pidato 17 Agustus 1958 itu, yang saya dengan sengaja beri judul ”Tahun Tantangan”, – ”A year of Challenge” -, saya berkata:
”Kita mutlak berdiri di fihak menyelamatkan Negara-Kesatuan, mutlak hendak kembali kepada Kepribadian sendiri, mutlak berdiri di fihak merealisasikan masyarakat yang adil dan makmur tanpa penindasan dan penghisapan, mutlak berdiri di fihak memperjuangkan satu Dunia Baru, social justice dan political justice, untuk segala bangsa. Nasional kita bersikap sintetis menyelamatkan Kesatuan Negara dan menyelamatkan kepribadian nasional serta merealisasikan keadilan nasional – internasional kita bersikap sintetis memperjuangkan persaudaraan bangsa-bangsa dan keadilan sosial. Nasional kita setia kepada Pancasila, – internasional kita setia kepada Pancasila. Nasional kita setia kepada Proklamasi, – internasional kita setia kepada Proklamasi."
Demikianlah jawaban yang kita berikan kepada segala tentangan dan tantangan terhadap Revolusi kita itu. Dan karena jawaban yang tegas dan tepat ini, dan atas dasar jawaban yang tegas dan tepat ini, maka Revolusi kita pada akhir tahun 1958 itu dapat diselamatkan, dapat "survive", meskipun belum mencapai kemenangan terakhir secara keseluruhan.
Apalagi dalam tahun 1959. Operasi-operasi phisik Angkatan Perang kita untuk menentang pemberontak-pemberontak itu diberi landasan politik-psichologis yang sangat kuat. Apakah landasan politik-psichologis itu? Landasan itu ialah Dekrit Presiden/Panglima Tertinggi 5 Juli 1959, yang menentukan kembali kepada Undang-Undang Dasar '45, dan pembubaran Konstituante.
Serentak Rakyat Indonesia dengan kembali kita kepada UndangUndang Dasar '45 itu lantas laksana mendapat "Wahyu Cakraningrat" kembali, serentak jiwa Revolusi yang tadinya laksana padam itu lantas hidup kembali dan bangkit kembali! Maka pada 17 Agustus 1959 saya mengucapkanlah satu pidato, yang berhubung dengan hidup kembalinya jiwa Revolusi itu, saya namakan "Penemuan kembali Revolusi kita","The rediscovery of our Revolution".
Pidato 17 Agustus 1959 inilah oleh Rakyat diberi nama "Manifesto Politik", – "Manipol", – dengan inti-sarinya yang oleh Rakyat pula dinamakan "USDEK". Dan "Manifesto Politik" inilah yang oleh MPRS kemudian disyahkan menjadi garis-besar haluan Negara.
Datang 1960, tahun yang dekat di belakang kita. Dalam tahun 1960 itu, tidak hanya kemenangan-terakhir secara phisik sudah mulai nampak, dan penyeléwéngan mental sudah dapat buat sebagian besar dihentikan, tetapi pertumbuhan haluan Manipol/USDEK sudah nampak nyata, – bukan saja secara penyebaran mental di kalangan Rakyat di mana-mana, tetapi, juga di dalam prakteknya penghidupan Rakjat sehari-hari Manipol/ USDEK itu mulai tumbuh setapak-demi-setapak. Oleh karena itulah, maka saya pada tanggal 17 Agustus 1960 dapat menyajikan pidato yang saya namakan "Laksana Malaekat menyerbu dari langit", jalannya revolusi kita!, yang oleh Rakyat pula diberi nama "Pidato Jarek".
Dan sekarang, saudara-saudara, kita berdiri di atas penanggalan 17 Agustus 1961. Dua windu usia Republik. Tujuhbelas kali tujuhbelas Agustus kita alami. Lebih dulu saya mengucapkan syukur kehadlirat Tuhan Yang Maha Esa atas perlindungan-Nya kepada Republik dan kepada saya selama ini, dengan do'a agar kita diperlindungi-Nya pula seterusnya. Dan saya mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada suadara-saudara semua, atas kesediaan dan keinsyafan saudara-saudara untuk mengikuti pimpinan saya, dan atas kerelaan dan pengorbanan saudara-saudara dalam menghadapi dan mengatasi segala rintangan, sehingga kini Alat Perjuangan Bangsa Indonesia menjadi lebih lengkap lagi, – yaitu: Pertama: Revolusi, Kedua: Konsepsi Nasional Progresif yang terintikan dalam Undang-Undang Dasar '45 dengan Pembukaannya, dan dibeberkan dalam Manipol/USDEK. Malahan perlengkapan ini beberapa bulan yang lalu dikomplitkan dengan nomor tiga: pimpinan Revolusi: kepada saya dipercayakan oleh MPRS (atas nama saudara-saudara) tugas sebagai Pemimpin Besar Revolusi dan Mandataris MPRS. Dengan demikian maka – saya bicara lepas dari sudut pribadi – syarat-syarat mental daripada perjuangan kita sungguhlah menjadi lengkap! Yaitu:
Kesatu: Revolusi.
Kedua: Ideologi Nasional Progresif (yaitu Undang-Undang Dasar '45 + Manipol/ USDEK).
Ketiga: Pimpinan Nasional.
Hukum "Kesatuan-tiga" ini adalah hukum buat segala bangsa. Hukum ini adalah hukum universil. Hukum ini bukan hanya hukum buat bangsa Indonesia saja. Tidak ada satu bangsa bisa menjalankan perjuangan besar untuk merubah secara radikal satu keadaan lapuk menjadi satu keadaan baru, tanpa dipenuhinya tiga syarat ini: kesatu: Revolusi, kedua: Ideologi Nasional Progresif, ketiga: Pimpinan Nasional. Artinya: sesuatu Perjuangan Besar untuk Perubahan Besar yang radikal, harus dengan Revolusi, harus dengan Ideologi Nasional yang Progresif, harus dengan satu Pimpinan Nasional yang tegas. Sekali lagi: tidak ada Perjuangan Besar untuk Perubahan Besar yang radikal dapat berjalan baik tanpa kesatuan tiga ini! Tidak ada mungkin Perjuangan Besar itu lancar dan berhasil, tanpa Tritunggal ini. Demi keselamatannya Perjuangan, lancarnya Perjuangan, berhasilnya Perjuangan, maka tiga hal ini merupakanlah satu keseluruhan, satu kesatuan, satu ketunggalan, yang tak dapat dipisahpisahkan satu sama lain. Sejarah dan prakteknya semua Perjuangan Besar di seluruh dunia menunjukkan kebenarannya hal ini. Di mana sesuatu Perjuangan Besar berhasil, di situlah tampak adanya Tritunggal itu. Di mana sesuatu Perjuangan berjalan seret, atau tidak berhasil, di situlah tampak tidak dipenuhinya syarat "Tritunggal" itu. Ada bangsa yang ber-revolusi, dan juga mempunyai pimpinan nasional, tetapi tidak mempunyai konsepsi atau ideologi nasional, – revolusinya tak tahu arah, dan menjadi tele-tele. Ada bangsa yang ber revolusi, dan mempunyai konsepsi atau ideologi nasional, tetapi tidak mempunyai pimpinan nasional, di situ revolusinya seperti tentara tanpa jendral, dan revolusinya menjadi seperti sekadar api-mengangah di dalam sekam dan tak mencapai apa-apa kecuali asap yang mengepul ke sana-sini.
Ada bangsa yang mau mengadakan perubahan besar yang terperinci rapih dan mempunyai pula pimpinan nasional, tapi tidak hendak mengadakan perubahan besar itu secara radikal revolusi, – dan "perubahan besar" yang dikehendakinya itu berupalah sekadar hanya reform-reform kecil di sana-sini.
Kita sekarang tidak begitu! Kita sekarang, – lagi saya bicara lepas dari sudut pribadi -, mempunyai Tritunggal itu. Tritunggal "ril". Tritunggal R. I. L. Tritunggal "Revolution, Ideology, Leadership". Atau Tritunggal "Re-so-pim": "Revolusi, Sosialisme, Pimpinan Nasional".
Dengan ini, boleh kita merasa bangga. Tetapi jangan kita merasa puas. Sebab Tritunggal itu baru berupa pemenuhan satu syarat. Hasil masih harus diperjuangkan. Kemenangan masih harus diperjuangkan. Tritunggal hanyalah satu syarat untuk lancarnya dan nanti berhasilnya perjuangan. Jikalau perjuangan tidak dijalankan, jikalau kesulitan-kesulitan tidak kita hantam, jikalau rintangan-rintangan tidak kita gempur, jikalau segala potensi-phisik kita dan segala energi-mental kita tidak kita kerahkan, jikalau segala keuletan kita tidak kita pentangkan sampai mencapai spanning yang setinggi-tingginya, jikalau keringat kita tidak kita peras sampai kétés-kétés membasahi bumi, maka kemenangan tidak akan tercapai, perjuangan tidak akan berhasil.
Janganlah puas jika mencapai sesuatu kemenangan! Tiap kemenangan dalam satu tingkat perjuangan, hanyalah merupakan satu tambahan modal, satu tambahan-alat bagi perjuangan dalam tingkat yang kemudian!
Tetapi bagaimanapun juga, bolehlah kita bergembira dengan situasi Revolusi kita sekarang ini. Rayakanlah 17 Agustus sekarang ini dengan meriah dan gembira, sebab situasi Revolusi sekarang ini memberi Harapan bagi masa-masa yang akan datang. Jika kemeriahan tadi tak dapat dicapai secara lahir, namun kita, karena Harapan yang baik itu, bisa merasa meriah secara batin. Dan kemeriahan batin memberi kesegaran kepada semangat dan kepada tekad untuk melanjutkan perjalanan mendaki gunung.
Saudara-saudara! Panjang-lebar saya beberkan lukisan perjuangan kita yang telah lampau. Panjang-lebar saya mengajak saudara-saudara menoleh ke belakang, melihat sejarah dan pengalaman-pengalaman dalam perjalanan yang telah liwat. Sekarang kita menghadapkanlah mata ke muka, sebab kita hendak berjalan terus, melanjutkan perjalanan mendaki gunung.
Yang lampau, yang sekarang, yang di muka, – ketiga-tiganya bersangkut-paut satu sama lain. Perjuangan Nasional merupakan satu kelangsungan (satu continuitas), sebagaimana juga Sejarah Nasional merupakan satu kelangsungan atau continuitas. Karena itu maka saya selalu mengajak menoleh ke belakang, menilai keadaan sekarang, mengarahkan mata ke hari depan.
Bagaimana situasi sekarang? Persyaratan perjalanan kita sekarang sudah lengkap: RIL – R I L – "Revolution, Ideology, Leadership". Atau Re-so-pim, yaitu "Revolusi, Sosialisme, Pimpinan Nasional". Dengan lengkapnya persyaratan perjalanan itu, sekarang kita boleh berjalan terus. Malah alat-alat perjalananpun sudah kita miliki semuanya a la kadarnya:
Kesatu: Sudah barang tentu RIL – Revolution, Ideology,
Leadership, – atau Re-so-pim, Revolusi, Sosialisme,
Pimpinan Nasional.
Kedua: Alat-alat teknis, yang berupa skill dan alat-alat industri.
Ketiga: Modal, yang berupa kekayaan materiil, manpower, dan
lain sebagainya.
Keempat: Angkatan Bersenjata yang lumayan.
Kelima: Kerja-sama dengan dunia luar.
Dan sebagainya lagi, dan sebagainya lagi.
Dengan adanya alat-alat ini, maka perjalanan kita itu, asalkan penggerakan tekad dan energi cukup, bisalah berlangsung dengan tidak ngulerkambang.
Maka jagalah jangan sampai ada kemerosotan dalam pemakaian alat-alat itu: a. Konsolidirlah selalu segala alat perjuangan. b. Maksimalkanlah dan perluaskanlah selalu pemakaian alat perjuangan. c. Perbaikilah dan sempurnakanlah selalu mutunya alat perjuangan. d. Koreksilah selalu jikalau ada kesalahan atau kekeliruan dalam pemakaian alat perjuangan.
Apa artinya ini? Artinya ialah: bahwa dalam keaktifan kita sehari-hari menjalankan Perjuangan Nasional yang pada pokoknya ialah melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, tidak ada hal atau tidak banyak hal yang dapat dilaksanakan secara routine. Buanglah jauh-jauh "semangat routine" ini, buanglah jauh-jauh amtenar-isme, buanglah jauh-jauh pegawai-isme yang tak berjiwa dan tak berinisiatif. Buanglah jauh-jauh semua "ndoro-isme", dan sebaliknya: buanglah jauh-jauh pula semua "sumuhun dawuh-isme"! Tiap-tiap alat harus dipertumbuhkan, oleh karena mas'alah-mas'alahpun terus-menerus muncul dan bertumbuh. Tiap-tiap cara-kerja yang statis harus ditinggalkan, oleh karena kestatisan akan membawa kita terbentur pada satu realitas dalam masyarakat yang amat dinamis. Tiap-tiap Konsepsi, – apa lagi Konsepsi sosialisme, yang sekarang sudah ditetapkan oleh Majelis Tertinggi daripada Negara -, sekarang harus dilaksanakan di daerah-daerah, di kabupaten-kabupaten, di kecamatan-kecamatan, di kota-kota, di desa-desa.
Ini minta satu approach yang dinamis dan dialektis, satu cara-kerja yang dinamis dan dialektis.
Dinamis, oleh karena masyarakat bertumbuh secara dinamis. Misalnya taraf pendidikan bertumbuh secara dinamis, jumlah murid bertumbuh secara dinamis, kemajuan teknis bertumbuh secara dinamis, jumlah penduduk bertumbuh secara dinamis, kesadaran Rakyat bertumbuh secara dinamis, tuntutan-tuntutan-hidup bertumbuh secara dinamis. Tidakkah saya menamakan Revolusi kita ini "Revolusi-tuntutan-meningkat", atau Inggeris-nya "a Revolution of rising demands"? Siapa yang tidak dinamis, tak mungkin akan dapat meladeni pertumbuhan masyarakat yang amat dinamis itu!
Dan dialektis?
Dialektis, oleh karena segala pertumbuhan selalu menjadi dialektis dengan timbulnya persoalan-persoalan-penentang, yaitu dengan timbulnya contradicties. Kemajuan, perbaikan, kemenangan, pun menimbulkan persoalan-persoalan-penentang, atau contradicties, yang segera harus dihadapi dan dipecahkan, agar tidak menjadi rintangan bagi pertumbuhan selanjutnya. Siapa yang tidak dialektis, tak mungkin dapat meladéni dengan segera segala contradicties itu!
Lebih-lebih dalam penyelenggaraan sosialisme! Cara-pemikiran dan cara-kerja yang dinamis dan dialektis sangatlah dibutuhkan dalam penyelenggaraan sosialisme itu; tak boleh kita dalam penyelenggaraan sosial-isme itu berfikir dan bekerja secara statis; tak boleh kita bekerja tanpa inisiatif, yaitu secara routine. Dalam penyelenggaraan sosialisme tak ada tempat bagi amtenar-isme dan pegawai-isme, tak ada tempat bagi burokrat-isme dan ulerkambang-isme. Tiap hari harus melahirkan inspirasi; tiap hari harus melahirkan konsepsi; tiap hari harus melahirkan ide yang lebih baik daripada ide kemarin, sebagai kelanjutan daripada hasil-hasil-karya hari kemarin!
Saudara-saudara!
Pemerintah dalam rapat-pleno DPR-GR pada tanggal 5 Juli yang lalu telah memberi keterangan mengenai situasi Negara pada dewasa ini. Khusus dalam hal keuangan, keterangan itu agak-agak bernada mineur. Tetapi janganlah heran! Sebab, di masa yang lampau, kegiatan nasional kita terpaksa terbagi-bagi:
Kecuali membangun, kita harus menyelamatkan Negara dari pem-berontakan dan subversi asing.
Kecuali membangun, kita harus mengamankan daerah-daerah dari gerombolan-gerombolan yang menggarong dan mengganas.
Kecuali membangun, kita masih harus menjebol sisa-sisa lama dari alam kolonial, yang membikin golongan-golongan bersikap reformistis, konservatif, liberal, kadang-kadang kontra-revolusioner.
Kecuali membangun, kita harus menanam dasar-dasar baru yang merupakan syarat mutlak bagi suatu Negara Merdeka seperti Indonesia, dengan penduduk 92 juta, begitu luas dalam daerahnya, begitu kaya-raya dalam alamnya.
Kecuali membangun, kita harus berjuang menyelesaikan persoalan Irian Barat.
Pendek-kata, dalam masa yang lampau, perhatian dan kegiatan kita terpaksalah terbagi antara apa yang tempohari saya namakan destruksi dan konstruksi. Di satu fihak menjebol dan menghancurkan anasir-anasir, fikiran-fikiran, kekuatan-kekuatan yang mengancam keselamatan Negara, – menjebol dan menghancurkan kolonialisme dan imperialisme, di lain fihak membangun di lapangan materiil, organisatoris-materiil, phisik, mental dan lain sebagainya.
Maka jika saya lihat dari Anggaran Belanja dan Anggaran Perusahaan, saya kira lebih dari 50 % dari kegiatan nasional kita masih harus kita tujukan kepada "penghancuran" itu: penghancuran segala hal yang membahayakan keselamatan Negara atau melambatkan per-juangan nasional, baik yang berupa penyeléwéngan-penyeléwéngan, maupun pemberontakan-pemberon-takan, maupun subversi asing, maupun sisa-sisa fikiran konvensionil atau kontra-revolusioner dari zaman kolonial dan liberal.
Artinya: Lebih dari 50% kegiatan nasional masih harus diperuntukkan perjuangan destruksi, yang memang perlu! Berapa prosen di negara-negara yang sudah "jadi" atau yang sudah aman? Umumnya di negara-negara yang sudah "jadi" itu, lebih dari 90 % kegiatan nasionalnya dipakai untuk konstruksi, rekonstruksi, dan maintenance, dan hanya 5 a 10% saja dipakai untuk menghancurkan gejala-gejala yang berbahaya. Tetapi kita di Indonesia? Kita di Indonesia terpaksa harus mensekaliguskan destruksi dan konstruksi, mensekaliguskan penghancuran dan pembangunan! Tetapi itupun satu keharusan, – keharusannya Revolusi. Sebab Revolusi adalah, sebagai yang sudah sering saya katakan, justru kelana-bersamanya destruksi dan konstruksi di dalam satu kiprah yang simultan!
Itulah pula sebabnya saya selalu berkata bahwa bangsa Indonesia ingin secara sekaligus melaksanakan satu Revolusi yang bermacam-macam warna, satu Revolusi panca-muka, satu Revolusi yang multicomplex. Dan memang kesekaligusan itulah jalan yang paling jitu dan paling cepat untuk mencapai satu Negara yang kuat dan sentausa, dengan berisikan satu masyarakat yang adil dan makmur tanpa penghisapan dan penindasan.
Tentu saja, ada orang-orang di dalam-negeri yang mengeritik saya tentang "kesekaligusan" ini. Tetapi jumlah mereka sedikit sekali. Althans mereka tidak dari kalangan progresif, dan tidak seorangpun dari mereka itu dari kalangan proletar atau kalangan jémbél. Mereka, beberapa gelintir manusia itu, adalah orang-orang yang zoogenaamd intellektuil, yang setengah konyol karena terlalu banyak minum cekokannya buku-buku tentang "ilmu ketatanegaraan", – sudah barang tentu ilmu ketatanegaraan burjuis dan liberal dan . . . Belanda!
Di luar-negeri saya mendapat pengalaman lain! Saudara-saudara mengetahui, bahwa beberapa bulan yang lalu saya telah mengadakan perjalanan ke luar-negeri dua setengah bulan lamanya, satu perjalanan yang biasanya orang disebutkan perjalanan muhibbah, tetapi yang sebenarnya ialah satu perjalanan muhibbah + perjuangan + testing.
Tiap-tiap kali saya sebagai Presiden mengadakan perjalanan ke luar-negeri, maka saya membawa bekal, – membawa "sangu" -, yang berupa modal nasional. Dan terutama sekali ini kali, maka modal nasional itu saya pergunakan untuk bermacam-macam hal. Saya pergunakannya untuk diperlihatkan, diperkenalkan. Saya pergunakannya pula untuk diperdagang-kan, seperti misalnya kekayaan alam Indonesia. Dan saya pergunakannya pula untuk diperjuangkan, seperti misalnya pembebasan Irian Barat. Dan saya pergunakannya pula untuk diuji, ditest di luar-negeri, tentang kebenarannya atau kesalahannya.
Saudara-saudara mengerti: Makin berhasil perjuangan kita di dalam-negeri, makin besar Modal Nasional yang bisa saya bawa ke luar-negeri. Sebagai tadi saya. katakan: Untuk diperlihatkan, untuk diperdagangkan, untuk diperjuangkan, untuk ditest.
Dahulu, modal apa yang saya bawa ke luar-negeri?
Dulu saya membawa:
Keindahan alam Indonesia.
Kekayaan alam Indonesia.
Kebudayaan bangsa Indonesia.
Aspirasi dan Tekad daripada Perjuangan Indonesia.
Tetapi ini kali saya juga sudah dapat membawa hasil-hasil-pertama daripada Perjuangan Bangsa Indonesia, yaitu tercapainya dasar-dasar. Konsepsi buat Revolusi kita, Kenegaraan kita, dan Kebangsaan kita. Di situlah saya tonjolkan-kemuka Kesekaligusan Revolusi kita itu, multi-kompleksitas daripada Revolusi kita, – yaitu Ideologi Nasional kita jaitu Pancasila/ Manipol/ USDEK, Konsepsi RIL jaitu Revolution- Ideology- Leadership, Demokrasi Terpimpin, dan lain sebagainya, dan saya tonjolkan ke muka bahwa Konsepsi-konsepsi ini bukan masih dalam taraf diperjuangkan atau hanya dimiliki oleh berbagai golongan – tidak! Konsepsi itu sudah menjadi Konsepsi Nasional, sudah menjadi milik Bangsa Indonesia secara keseluruhan, sudah mulai dilaksanakan, dengan hasil yang amat baik. Pendek-kata saya tonjolkan, bahwa sudah menjadi kenyataan;
Satu: Bahwa Indonesia, juga sesudah merdeka sebagai Republik, akan tetap bertumbuh atas dasar Revolusi, – yaitu Revolusi yang multicomplex.
Dua: Bahwa penghidupan Nasional didasarkan atas Pancasila, jelasnya Manipol/USDEK = Sosialisme Indonesia.
Tiga: Bahwa Amanat Penderitaan Rakyat dilaksanakan di bawah satu Pimpinan Nasional.
Konsepsi ini, dan pelaksanaannya, saya test kebenarannya ketika saya berada di luar-negeri, melalui macam-macam jalan. Ada dengan jalan observasi, yaitu dengan jalan membuka mata dan memasang telinga saya sendiri. Ada dengan jalan pertukar-fikiran mendalam dengan pemimpin-pemimpin yang tertinggi. Ada dengan jalan sekadar mengocéh seperti seorang dalang wayang kulit, dan melihat reaksi-reaksi atas pendalangan itu.
Dan Kebenaran dari jalan yang kita tempuh tampaklah benar dari pertukar-fikiran-pertukar-fikiran, reaksi atas pendalaman-pendalaman, observasi-observasi itu.