Muistoja lapsen ja hopeahapsen 3 Kuvauksia

Chapter 8

Chapter 83,139 wordsPublic domain

Tentu saja, Kautsky sang sosialis dan sang Marxis sangatlah geram ketika kebijakan seperti ini diperluas melampaui batas-batas kota-kota besar (dan kita telah memperluasnya ke seluruh negeri). Dengan nada yang sangat dingin (atau keras kepala), Kautsky sang sosialis dan sang Marxis berceramah: “Ini [penyitaan terhadap kaum tani kaya] memperkenalkan elemen ketidakstabilan dan perang sipil yang baru ke dalam proses produksi” ... (perang sipil diperkenalkan ke dalam “proses produksi) – sungguh sesuatu yang supernatural)... “yang sangat membutuhkan kedamaian dan keamanan untuk bisa pulih” (hal. 49)

Ya, tentu saja, Kautsky sang Marxis dan sang sosialis menghela napas dan meneteskan air mata untuk kedamaian dan keamanan bagi para pengeksploitasi dan pengeruk-laba yang menimbun stok surplus mereka, menyabotase hukum monopoli gandum, dan membuat penduduk kota kelaparan. “Kami semua adalah kaum sosialis dan Marxis dan internasionalis,” nyanyi para Kautsky, Heinrich Weber (Wina), Longuet (Paris), MacDonald (London), dan yang lainnya. “Kami semua mendukung revolusi kelas buruh. Hanya saja ... hanya saja kami menginginkan sebuah revolusi yang tidak mengganggu kedamaian dan keamanan para penimbun gandum! Dan kami menutupi penghambaan pada kapitalis ini dengan sebuah referensi ‘Marxis’ mengenai ‘proses produksi’ ...” Bila ini adalah Marxisme, lantas apa itu penghambaan pada borjuasi?

Mari kita periksa kesimpulan dari teoretikus kita ini. Dia menuduh kaum Bolshevik telah menyajikan kediktatoran kaum tani sebagai kediktatoran proletariat. Tetapi pada saat yang sama dia menuduh kami telah memperkenalkan perang sipil ke daerah-daerah pedesaan, telah mengirim detasemen-detasemen buruh bersenjata ke desa-desa, yang secara publik memproklamirkan bahwa mereka sedang mengimplementasikan “kediktatoran buruh dan tani miskin”, membantu tani miskin dan menyita stok gandum para peraup laba dan kaum tani kaya yang mereka timbun, yang melanggar hukum monopoli gandum.

Di satu pihak, teoretikus Marxis kita mendukung demokrasi murni, dalam kata lain dia mendukung tunduknya kelas revolusioner, pemimpin rakyat pekerja dan tertindas, kepada mayoritas populasi (oleh karenanya termasuk para pengeksploitasi). Di lain pihak, sebagai sebuah argumen untuk menentang kami, dia menjelaskan bahwa revolusi Rusia haruslah berkarakter borjuis, karena kehidupan kaum tani secara keseluruhan adalah berdasarkan relasi-relasi sosial borjuis – dan pada saat yang sama dia berpura-pura menjunjung sudut pandang proletariat, kelas, dan Marxis.

Alih-alih “analisa ekonomi”, kita dapati tambal sulam yang teramat buruk. Alih-alih Marxisme, kita dapati fragmen-fragmen doktrin liberal dan dakwah untuk tunduk pada kaum borjuasi dan kaum kulak (tani kaya).

Masalah yang begitu membuat Kautsky kebingungan sudah dijelaskan sepenuhnya oleh kaum Bolshevik semenjak tahun 1905. Ya, revolusi kita adalah sebuah revolusi borjuis selama kita berbaris bersama kaum tani secara keseluruhan. Ini sangatlah jelas bagi kami; kami telah mengatakannya ratusan dan ribuan kali semenjak tahun 1905, dan kita tidak pernah mencoba melompati tahapan proses sejarah yang diperlukan ini atau menghapusnya dengan dekrit. Usaha Kautsky untuk “mengekspos” kami sekarang pada akhirnya hanya mengekspos kebingungannya sendiri dan ketakutannya untuk mengingat apa yang dia tulis pada 1905, ketika dia belum menjadi seorang pengkhianat.

Akan tetapi, sejak April 1917, jauh sebelum Revolusi Oktober, yakni jauh hari sebelum kami merebut kekuasaan, secara publik kami menyatakan dan menjelaskan kepada rakyat: revolusi kita sekarang tidak bisa berhenti pada tahapan ini, karena bangsa ini telah melangkah maju, kapitalis telah bergerak maju, kehancuran telah mencapai dimensi yang luar biasa, yang (suka atau tidak) menuntut langkah-langkah maju, menuju sosialisme. Karena tidak ada jalan lain untuk maju, untuk menyelamatkan bangsa yang porak-poranda karena perang ini dan meringankan penderitaan rakyat pekerja dan tertindas.

Peristiwa-peristiwa telah bergulir seperti yang telah kami katakan. Jalannya revolusi telah mengkonfirmasikan kebenaran dari nalar kami. Pertama, dengan “seluruh” kaum tani untuk melawan monarki, tuan tanah, dan feodalisme (dan pada tingkatan ini, revolusi masih merupakan revolusi borjuis, borjuis-demokratik). Kemudian, dengan kaum tani miskin, dengan kaum semi-proletar, dengan semua kaum tertindas, melawan kapitalisme, termasuk kaum kaya di pedesaan, kulak (tani kaya), lintah darah, dan pada tingkatan ini revolusi menjadi revolusi sosialis. Untuk mencoba membangun sebuah Tembok Cina yang artifisial antara revolusi yang pertama dan kedua, untuk memisahkan mereka dengan cara apapun selain tingkat kesiapan kaum proletariat dan tingkat persatuannya dengan kaum tani miskin, ini berarti mendistorsi Marxisme, membuatnya vulgar, menggantikannya dengan liberalisme. Ini berarti menyeludupkan pembelaan reaksioner terhadap borjuasi, ini berarti menentang kaum proletariat sosialis dengan merujuk secara quasi-ilmiah pada karakter progresif kaum borjuasi dibandingkan dengan feodalisme.

Soviet merepresentasikan bentuk dan tipe demokrasi yang jauh lebih tinggi karena, dengan menyatukan dan menarik massa buruh dan tani ke kehidupan politik, ia menjadi sebuah barometer pertumbuhan dan perkembangan kedewasaan politik dan kelas dari rakyat yang paling sensitif, yang paling dekat dengan “rakyat” (seperti yang dikatakan Marx pada 1871 mengenai revolusi rakyat yang sesungguhnya). Konstitusi Soviet tidak ditulis berdasarkan semacam “rencana”; ia tidak dirancang di ruang studi, dan tidak disajikan kepada rakyat pekerja oleh para pengacara borjuasi. Tidak, Konstitusi ini tumbuh di dalam alur perkembangan perjuangan kelas seiring dengan matangnya antagonisme kelas. Kautsky sendiri mengakui ini.

Awalnya, Soviet-soviet merangkul kaum tani secara keseluruhan. Karena ketidakdewasaan, keterbelakangan, dan ketidaktahuan kaum tani miskin, kepemimpinan jatuh ke tangan kaum kulak, kaum kaya, kaum kapitalis dan intelektual borjuis-kecil. Ini adalah periode dominasi borjuis kecil, dominasi kaum Menshevik dan kaum Sosialis-Revolusioner (hanya orang-orang bodoh dan pengkhianat seperti Kautsky yang dapat menganggap mereka sebagai sosialis). Kaum borjuis kecil tidak-bisa-tidak terombang-ambing antara kediktatoran borjuasi (Kerensky, Kornilov, Savinkov) dan kediktatoran proletariat. Karena posisi ekonomi mereka, kaum borjuis kecil tidak mampu melakukan apapun secara independen. Kautsky sepenuhnya menyangkal Marxisme karena ia membatasi analisanya mengenai Revolusi Rusia pada konsep “demokrasi” yang legal dan formal, demokrasi yang bagi kaum borjuasi adalah kedok untuk dominasi mereka dan adalah alat untuk menipu rakyat. Kautsky lupa bahwa dalam prakteknya “demokrasi” kadang-kadang berarti kediktatoran borjuasi, dan kadang-kadang berarti reformisme impoten dari kaum borjuis kecil yang tunduk pada kediktatoran borjuasi. Menurut Kautsky, di sebuah negeri kapitalis ada partai-partai borjuasi dan ada partai proletariat (kaum Bolshevik), yang memimpin mayoritas, massa proletariat, tetapi tidak ada partai borjuis kecil! Kaum Menshevik dan Sosialis-Revolusioner tidak punya akar kelas, tidak punya akar borjuis-kecil!

Kaum borjuis kecil, yakni Menshevik dan Sosialis-Revolusioner, terombang-ambing antara borjuasi dan proletar, dan ini membantu mencerahkan rakyat dan membuat mayoritas besar rakyat, yakni semua “lapisan bawah”, semua kaum proletar dan semi-proletar, meninggalkan “para pemimpin” ini. Kaum Bolshevik memenangkan mayoritas di Soviet-soviet (di Petrograd dan Moskow pada Oktober 1917); perpecahan di antara kaum Sosialis-Revolusioner dan Menshevik menjadi semakin dalam.

Kemenangan revolusi Bolshevik berarti berakhirnya kebimbangan, berarti kehancuran total dari monarki dan sistem tuan tanah (yang belum hancur sebelum Revolusi Oktober). Kami menyelesaikan revolusi borjuasi sampai ke kesimpulannya. Kaum tani secara keseluruhan mendukung kami. Antagonisme mereka terhadap kaum proletariat sosialis belumlah terungkap sepenuhnya. Soviet-soviet menyatukan kaum tani secara umum. Divisi kelas di antara kaum tani belumlah matang, dan belumlah terkuak.

Proses ini berlangsung pada musim panas dan gugur 1918. Pemberontakan kontra-revolusioner di Ceko membangkitkan kaum kulak. Gelombang pemberontakan kaum kulak menyapu seluruh Rusia. Kaum tani miskin belajar, bukan dari buku-buku atau koran-koran, tetapi dari kehidupan itu sendiri, bahwa kepentingan mereka bertentangan sepenuhnya dengan kepentingan kaum kulak, kaum kaya, dan kaum borjuasi pedesaan. Seperti semua partai borjuis-kecil, “Partai Sosialis-Revolusioner Kiri” merefleksikan kebimbangan rakyat, dan pada musim panas 1918 partai ini pecah. Satu seksi bergabung dengan kekuatan kontra-revolusi Ceko (pemberontakan di Moskow, ketika Proshyan, setelah merebut Kantor Telegraf selama satu jam! – menyiarkan bahwa kaum Bolshevik telah ditumbangkan; kemudian pengkhianatan Muravyov, Pemimpin angkatan bersenjata yang sedang memerangi Ceko, dsb.), sementara seksi yang lainnya, yang telah disebut di atas, tetap bersama Bolshevik.

Kekurangan gandum di kota-kota yang semakin parah membuat masalah monopoli gandum semakin mendesak (ini sama sekali “dilupakan” oleh Kautsky dalam analisa ekonominya, yang sebenarnya hanyalah pengulangan dari tulisan-tulisan Maslov sepuluh tahun yang lalu!).

Para tuan tanah dan borjuasi yang lama, dan bahkan negeri republik-demokratik, mengirim ke daerah-daerah pedesaan detasemen-detasemen bersenjata yang ada di bawah komando borjuasi. Tn. Kautsky tidak mengetahui ini! Dia tidak menganggap ini “kediktatoran borjuasi”. Ini adalah “demokrasi murni”, terutama bila disahkan oleh parlemen borjuasi! Kautsky juga tidak “mendengar” bahwa pada musim panas dan gugur tahun 1917, Avksentyev dan S. Maslov, bersama dengan para Kerensky, Tsereteli dan kaum Sosialis-Revolusioner dan Menshevik lainnya, menangkap para anggota Komite-Komite Tanah; dia tidak mengucapkan satu kata pun mengenai ini!

Sebuah negara borjuasi yang sedang melakukan kediktatoran borjuasi melalui sebuah republik demokratik tidak dapat mengaku kepada rakyat bahwa ia melayani kaum borjuasi; negara ini tidak dapat mengatakan yang sebenarnya, dan harus menjadi seorang munafik.

Tetapi negara tipe Komune Paris, yakni negara Soviet, secara terbuka dan jujur mengatakan kebenaran kepada rakyat dan menyatakan bahwa ia adalah kediktatoran proletariat dan tani miskin; dan dengan kebenaran ini ia memenangkan ke sisinya jutaan dan jutaan rakyat yang tertindas di republik demokratis manapun, tetapi yang sekarang terdorong oleh Soviet ke dalam kehidupan politik, ke dalam demokrasi, ke dalam administrasi negara. Republik Soviet mengirim ke daerah-daerah pedesaan detasemen-detasemen buruh bersenjata, terutama buruh yang lebih maju, dari kota-kota besar. Buruh-buruh ini membawa sosialisme ke pedesaan, memenangkan ke sisi mereka kaum miskin, mengorganisir mereka dan mencerahkan mereka, dan membantu mereka melawan resistensi kaum borjuasi.

Semua yang paham akan situasi ini dan telah pergi ke daerah-daerah pedesaan menyatakan bahwa baru sekarang, pada musim panas dan gugur 1918, daerah-daerah pedesaan ini melalui Revolusi “Oktober” (dalam kata lain, Revolusi Proletarian). Semua mulai berubah. Gelombang pemberontakan kulak digantikan dengan kebangkitan kaum tani miskin dan tumbuhnya “Komite-komite Tani Miskin”. Di dalam angkatan bersenjata, jumlah buruh-buruh yang menjadi komisar, perwira, dan komandan divisi tentara menjadi semakin banyak. Dan ketika Kautsky yang bodoh ini, yang merasa takut pada Krisis Juli 1918 dan ratap tangis kaum borjuasi, lalu mengejar yang belakangan ini seperti seekor ayam, dan menulis sebuah pamflet yang dipenuhi dengan keyakinan bahwa kaum Bolshevik tidak lama lagi akan ditumbangkan oleh kaum tani; pada saat ketika orang bodoh ini menganggap pembelotan kaum Sosialis-Revolusioner Kiri sebagai “mengecilnya” (hal. 37) lingkaran orang-orang yang mendukung Bolshevik, justru lingkaran pendukung Bolshevisme yang sesungguhnya sedang tumbuh menjadi sangat besar, karena jutaan kaum tani miskin membebaskan diri mereka dari dominasi dan pengaruh kaum kulak dan borjuasi di pedesaan, dan sedang terbangunkan ke kehidupan politik yang independen.

Kita telah kehilangan ratusan kaum Sosialis-Revolusioner Kiri, para intelektual tak-bertulang-punggung dan kaum kulak di antara petani, tetapi kita telah meraih jutaan rakyat miskin.

Setelah menyelesaikan revolusi borjuis-demokratik dengan beraliansi dengan kaum tani secara keseluruhan, kaum proletariat Rusia akhirnya bergerak ke revolusi sosialis ketika mereka berhasil memecah belah populasi pedesaan, dengan memenangkan kaum proletariat dan semi-proletariat pedesaan, dan dengan menyatukan mereka dalam melawan kaum kulak dan kaum borjuasi, termasuk kaum tani borjuis.

Bila kaum proletariat Bolshevik di kota-kota besar dan pusat-pusat industri besar belum mampu menyatukan kaum tani di sekitar mereka untuk melawan kaum tani kaya, ini membuktikan bahwa Rusia “belum matang” untuk revolusi sosialis. Kaum tani akan tetap menjadi satu “kesatuan penuh”, dalam kata lain mereka akan terus berada di bawah kepemimpinan ekonomi, politik dan moral kaum kulak, kaum kaya, dan kaum borjuasi, dan revolusi ini tidak akan beranjak melebihi batas-batas revolusi borjuis-demokratik. (Namun, bahkan bila demikian adanya, ini tidak membuktikan kalau kaum proletariat seharusnya tidak merebut kekuasaan, karena hanya proletariat sendiri yang dapat menyelesaikan revolusi borjuis-demokratik sampai ke kesimpulannya, hanya proletariat sendiri yang telah melakukan suatu hal yang sangat penting untuk membawa revolusi proletariat dunia semakin dekat, dan kaum proletariat sendiri yang telah membentuk negara Soviet, yang, setelah Komune Paris, adalah langkah kedua menuju negara sosialis.)

Di lain pihak, bila kaum proletariat mencoba sekaligus, pada Oktober-November 1917 -- tanpa menunggu diferensiasi kelas di daerah-daerah pedesaan, tanpa persiapan – “mendekritkan” perang sipil atau “memperkenalkan sosialisme” ke pedesaan, dan mencoba melakukan ini tanpa membentuk blok sementara dengan kaum tani secara umum, tanpa membuat sejumlah konsesi kepada kaum tani menengah, dsb., ini adalah distorsi Blanquist terhadap Marxisme. Ini adalah usaha dari minoritas untuk memaksakan kehendaknya kepada mayoritas. Ini akan menjadi sebuah kekonyolan teoritis, yang mengungkapkan kegagalan untuk memahami bahwa revolusi tani secara umum masihlah merupakan revolusi borjuis, dan tanpa serangkaian transisi, tanpa tahapan-tahapan transisional, revolusi ini tidak dapat ditransformasikan menjadi sebuah revolusi sosialis di sebuah negeri terbelakang.

Dalam masalah teori dan politik yang sangat penting ini, Kautsky telah mengacaukan semuanya. Dia, dalam praktek, terbukti menjadi pelayan kaum borjuasi, yang menentang kediktatoran proletariat.

Kautsky telah memperkenalkan kebingungan yang serupa, bila tidak lebih buruk, ke dalam masalah yang sangatlah penting, yakni: apakah aktivitas legislatif Republik Soviet di dalam ranah reforma agraria – yakni reforma sosialis yang paling sulit namun paling penting – berdasarkan prinsip-prinsip yang kokoh dan dijalankan dengan baik? Kita akan sangat berterima kasih kepada kaum Marxis Eropa Barat manapun, yang setelah mempelajari dokumen-dokumen yang paling penting lalu memberikan kritik terhadap kebijakan kami, karena dengan demikian dia akan sangat membantu kami, dan akan membantu revolusi yang sedang ranum di seluruh dunia. Tetapi alih-alih kritik, Kautsky menghasilkan kekacauan teori yang teramat luar biasa, yang mengubah Marxisme menjadi liberalisme, dan yang, dalam praktek, adalah serangkaian ujar-ujar pandai yang tak berguna, penuh bisa beracun, dan vulgar. Biarlah para pembaca menilainya sendiri.

“Kepemilikan tanah besar tidak dapat dipertahankan. Ini adalah hasil dari revolusi. Ini jelas. Distribusi tanah ke populasi tani menjadi tak terelakkan ...” (Ini tidak benar, Tn. Kautsky. Kau menggantikan sikap dari kelas-kelas yang berbeda terhadap masalah ini dengan apa yang “jelas” bagimu. Sejarah revolusi telah menunjukkan bahwa pemerintahan koalisi borjuasi dan borjuis-kecil, yakni Menshevik dan Sosialis-Revolusioner, telah melaksanakan kebijakan mempertahankan kepemilikan tanah besar. Ini terutama dibuktikan oleh rancangan undang-undang S. Maslov dan ditangkapnya anggota-anggota Komite Tanah. Tanpa kediktatoran proletariat, “populasi tani” tidak akan mengalahkan kaum tuan tanah, yang telah bergabung dengan kelas kaum kapitalis.)

“Tetapi mengenai bentuk distribusi tanah ini, tidak ada persatuan di antara kaum sosialis mengenai solusi yang tepat. Ada berbagai solusi yang memungkinkan ...” (Kautsky paling khawatir mengenai “persatuan” di antara “kaum sosialis”, tidak peduli siapa yang memanggil diri mereka sendiri dengan nama itu. Dia lupa bahwa kelas-kelas utama di dalam masyarakat kapitalis akan selalu tiba pada solusi yang berbeda.) “... Dari sudut pandang sosialis, solusi yang paling rasional adalah mengubah lahan-lahan besar menjadi properti negara dan mengizinkan para petani yang selama ini telah bekerja di lahan-lahan ini sebagai buruh tani untuk mengolah lahan-lahan ini dalam bentuk koperasi. Tetapi solusi seperti ini mensyaratkan keberadaan tipe buruh tani yang tidak ada di Rusia. Solusi yang lain adalah mengubah lahan-lahan besar ini menjadi properti negara dan membagi-bagikan tanah ini menjadi lahan-lahan kecil yang disewakan kepada para tani yang hanya memiliki lahan kecil. Bila ini dilakukan, maka setidaknya sesuatu yang sosialis dapat diraih...”

Seperti biasa Kautsky membatasi dirinya pada hal yang sudah diketahui: di satu pihak ini tidak dapat diakui, dan di lain pihak ini harus diakui. Dia menempatkan solusi-solusi yang berbeda pada level yang sama, tanpa memikirkan apa yang harus dilakukan pada tahapan-tahapan transisional dari kapitalisme ke komunisme di bawah kondisi-kondisi tertentu. Ada kaum buruh tani di Rusia, tetapi tidak banyak; dan Kautsky tidak menyentuh masalah – yang dikedepankan oleh pemerintahan Soviet – mengenai metode transisi ke bentuk pengolahan tanah secara komunal dan koperasi. Akan tetapi, yang paling mengherankan Kautsky mengklaim bahwa menyewakan lahan-lahan kecil adalah “sesuatu yang sosialis”. Pada kenyataannya, ini adalah slogan borjuis kecil, dan tidak ada yang “sosialis” di dalamnya. Bila “negara” yang menyewakan tanah ini bukanlah negara tipe Komune Paris, tetapi sebuah republik parlementer borjuis (dan inilah asumsi Kautsky), penyewaan lahan-lahan kecil adalah reforma liberal yang tipikal.

Kautsky tidak mengatakan apapun mengenai pemerintahan Soviet yang telah menghapus semua kepemilikan pribadi atas tanah. Lebih parah lagi, dia melakukan pemalsuan yang luar biasa dan mengutip dekrit-dekrit pemerintahan Soviet dengan sedemikian rupa sehingga bagian yang paling penting sengaja diabaikan.

Setelah menyatakan bahwa “produksi skala-kecil menginginkan kepemilikan pribadi penuh atas alat-alat produksi,” dan bahwa Majelis Konstituante adalah “satu-satunya otoritas” yang dapat mencegah dibagi-bagikannya tanah (sebuah pernyataan yang akan menimbulkan tawa di Rusia, di mana semua orang tahu bahwa Soviet adalah satu-satunya otoritas yang diakui oleh buruh dan tani, sementara Majelis Konstituante telah menjadi slogan dari kaum kontra-revolusioner Ceko dan para tuan tanah), Kautsky melanjutkan:

“Salah satu dekrit pertama yang dinyatakan oleh Pemerintahan Soviet adalah: (1) Kepemilikan tanah dihapus tanpa ganti rugi. (2) Tanah-tanah kaum bangsawan, dan juga semua tanah monarki, biara dan gereja, dengan semua ternak, alat-alat, bangunan-bangunan, dan semua properti yang ada di sana, akan diserahkan ke Komite-Komite Tanah volost dari Soviet Tani uyezd, menunggu penyelesaian masalah tanah oleh Majelis Konstituante.”

Setelah mengutip hanya dua pasal ini, Kautsky menyimpulkan:

“Rujukan ke Majelis Konstituante hanyalah huruf-huruf belaka. Pada kenyataannya, kaum tani di berbagai volost dapat melakukan apapun yang mereka kehendaki dengan tanah di desa-desa.” (hal. 47)

Di sini kita temui contoh dari “kritik” Kautsky! Di sini kita temui karya “ilmiah” yang lebih seperti penipuan. Para pembaca Jerman diperdaya supaya mereka mengira kaum Bolshevik menyerah pada kaum tani mengenai masalah kepemilikan pribadi atas tanah, bahwa kaum Bolshevik mengizinkan kaum tani untuk bertindak sekehendak hati mereka di tiap-tiap daerah (“di berbagai volost”).

Tetapi pada kenyataannya, dekrit yang dikutip oleh Kautsky – yang pertama kali disebarluaskan pada 26 Oktober 1917 (kalender lama) – terdiri dari lima pasal, dan bukannya dua pasal. Selain itu ada lagi delapan pasal Amanat yang dengan jelas dinyatakan “akan digunakan sebagai panduan”.

Pasal ke-3 dari dekrit ini menyatakan bahwa tanah-tanah akan dialihkan “ke rakyat”, dan “inventaris terperinci dari semua properti yang disita” akan dibuat dan properti ini “akan dilindungi dengan metode revolusioner yang paling tegas”. Dan Amanat ini menyatakan bahwa “kepemilikan tanah akan dihapus untuk selamanya”. bahwa “tanah-tanah di mana ada pertanian modern tingkat-tinggi ... tidak akan dibagi-bagikan”, bahwa “semua ternak dan alat-alat pertanian dari tanah-tanah yang disita akan digunakan secara eksklusif oleh negara atau komune, tergantung dari besar kecilnya dan signifikansinya, dan tidak akan ada ganti rugi”, dan bahwa “semua tanah akan menjadi bagian dari dana tanah nasional (National Land Fund).”

Terlebih lagi, bersamaan dengan dibubarkannya Majelis Konstituante (5 Januari, 1918), Kongres Ketiga Soviet mengadopsi “Deklarasi Hak Rakyat Pekerja dan Tertindas”, yang sekarang menjadi bagian dari “Undang-Undang Fundamental Republik Soviet.” Artikel ke-2, Paragraf Pertama dari Deklarasi ini menyatakan bahwa “kepemilikan tanah dihapus”, dan bahwa “tanah-tanah dan perusahaan-perusahaan pertanian yang teladan ... diproklamirkan sebagai milik negara.”

Jadi, rujukan pada Majelis Konstituante bukanlah huruf-huruf belaka, karena badan perwakilan nasional lainnya, yang memiliki otoritas yang jauh lebih besar di mata kaum tani, telah mengedepankan solusi terhadap masalah agraria.

Lagi, pada 19 Februari, 1918, hukum sosialisasi tanah dicanangkan, yang sekali lagi mengkonfirmasikan penghapusan kepemilikan pribadi atas tanah. Tanah dan semua ternak pribadi dan alat-alat pertanian diberikan kepada otoritas Soviet di bawah kontrol pemerintah federal Soviet. Di antara tugas-tugas yang berhubungan dengan penggunaan tanah, hukum ini menyatakan:

“perkembangan pertanian kolektif sebagai bentuk yang lebih unggul dari sudut pandang ekonomi tenaga kerja dan produksi, dibandingkan dengan pertanian perorangan, dengan tujuan untuk transisi ke pertanian sosialis” (Artikel 11, paragraf e).

Undang-undang yang sama, dalam menetapkan prinsip penggunaan tanah yang setara, menjawab pertanyaan fundamental ini: “Siapa yang punya hak guna tanah?” dengan demikian:

(Artikel 20) “Tanah di dalam batas-batas Republik Federasi Soviet Rusia dapat digunakan untuk kepentingan publik dan pribadi. A. Untuk kepentingan kebudayaan dan pendidikan: (1) oleh negara yang diwakili oleh organ-organ kekuasaan Soviet (federal, begitu juga propinsi, gubernia, uyezd, volost, dan desa), dan (2) oleh badan-badan publik (di bawah kontrol, dan dengan izin, dari otoritas-otoritas Soviet setempat); B. Untuk kepentingan pertanian: (3) oleh komune-komune pertanian, (4) oleh kelompok-kelompok koperasi pertanian, (5) oleh komunitas-komunitas desa, (6) oleh keluarga atau individu perorangan...”

Para pembaca dapat melihat bagaimana Kautsky telah memutar balik fakta sepenuhnya, dan telah memberi para pembaca Jerman pandangan yang keliru mengenai kebijakan dan undang-undang pertanian negara proletar di Rusia.

Kautsky bahkan tidak dapat memformulasikan masalah-masalah teori yang fundamental!

Masalah-masalah ini adalah:

(1) Hak guna tanah yang setara, dan