Muistoja lapsen ja hopeahapsen 3 Kuvauksia

Chapter 7

Chapter 73,111 wordsPublic domain

Pertama, Kautsky melekatkan pada kaum Bolshevik sebuah gagasan yang jelas-jelas bodoh, dan lalu mengecam gagasan tersebut. Ini adalah taktik yang digunakan oleh orang yang tidak terlalu cerdas. Bila kaum Bolshevik mendasarkan taktik mereka pada harapan terjadinya revolusi di negeri-negeri lain pada tanggal tertentu, ini sungguh adalah kebodohan. Tetapi Partai Bolshevik tidak pernah bersalah atas kebodohan seperti itu. Di surat saya kepada kaum buruh Amerika (20 Agustus, 1918), saya dengan jelas menyangkal gagasan bodoh ini, dengan mengatakan bahwa kita bergantung pada revolusi Amerika, tetapi bukan pada tanggal tertentu. Saya menulis panjang lebar mengenai gagasan ini lebih dari sekali di dalam polemik saya dengan kaum Sosialis-Revolusioner Kiri dan kaum “Komunis Kiri” (Januari-Maret 1918). Kautsky telah melakukan pemalsuan yang sangat cerdik dalam melakukan kritiknya terhadap Bolshevisme. Kautsky telah mencampur aduk taktik yang berdasarkan pengharapan akan revolusi Eropa di masa depan yang kurang lebih dekat, tetapi bukan pada tanggal tertentu, dengan taktik yang berdasarkan pengharapan akan revolusi Eropa pada tanggal tertentu. Sungguh sebuah pemalsuan yang sangat cerdik!

Taktik yang belakangan [berdasarkan pengharapan akan revolusi pada tanggal tertentu – Ed.] sangatlah bodoh. Taktik yang pertama [berdasarkan pengharapan akan revolusi Eropa di masa depan yang kurang lebih dekat – Ed.] adalah taktik yang wajib bagi seorang Marxis, bagi setiap proletar revolusioner dan internasionalis. Ini adalah taktik yang wajib karena taktik ini mempertimbangkan secara Marxis situasi objektif yang menyebabkan perang ini di seluruh Eropa, dan taktik ini sesuai dengan tugas internasional kaum proletariat.

Kautsky menggantikan masalah fondasi taktik revolusioner secara umum dengan masalah remeh temeh mengenai kekeliruan kaum Bolshevik. Dengan ini, dia telah dengan sangat cerdik menolak semua taktik revolusioner.

Seorang pengkhianat dalam politik, Kautsky bahkan tidak mampu secara teoritis mengedepankan pertanyaan mengenai syarat-syarat objektif taktik revolusioner.

Dan ini membawa kita ke poin kedua.

Kedua, adalah kewajiban bagi seorang Marxis untuk berharap pada revolusi Eropa bila ada situasi revolusioner. Adalah ABC Marxisme bahwa taktik proletariat sosialis tidak bisa sama ketika ada situasi revolusioner dan ketika tidak ada situasi revolusioner.

Bila Kautsky mengedepankan pertanyaan ini, yang wajib bagi seorang Marxis, maka dia akan menemukan bahwa jawabannya sungguh bertentangan dengan dia. Jauh sebelum perang, semua kaum Marxis dan semua kaum sosialis setuju bahwa sebuah peperangan Eropa akan menciptakan sebuah situasi revolusioner. Kautsky sendiri, sebelum dia menjadi seorang pengkhianat, jelas-jelas dan dengan tegas mengakui ini – pada 1902 (di karyanya “Social Revolution”) dan pada 1909 (di karyanya “Road to Power”). Ini juga diakui atas nama seluruh Internasional Kedua di dalam Manifesto Basel. Tidak mengherankan kalau para sosial-sovinis dan pendukung Kautsky (kaum “Sentris”, yakni mereka yang terombang-ambing antara revolusi dan oportunisme) dari semua negeri menghindari deklarasi Manifesto Basel seperti wabah!

Jadi, harapan atas berkembangnya situasi revolusioner di Eropa bukanlah harapan hanya dari kaum Bolshevik, tetapi ini adalah pendapat umum dari semua Marxis. Ketika Kautsky mencoba lari dari kebenaran yang tak terbantahkan ini dengan menggunakan kalimat-kalimat seperti kaum Bolshevik “selalu percaya akan kemahakuasaan dari kekerasan dan kehendak”, dia sebenarnya menggunakan frase kosong yang berisik untuk menutup-nutupi pengelakannya, yakni pengelakan yang memalukan, dari pertanyaan mengenai situasi revolusioner.

Apakah situasi revolusioner telah datang atau belum? Kautsky tidak mampu mengedepankan pertanyaan ini. Fakta-fakta ekonomi telah memberikan jawabannya: bencana kelaparan dan kehancuran yang diciptakan di mana-mana oleh perang berarti ada situasi revolusioner. Fakta-fakta politik juga menyediakan jawaban: semenjak 1915 sebuah proses perpecahan telah terjadi di semua negeri di dalam partai-partai sosialis lama yang telah membusuk, sebuah proses di mana massa proletariat bergeser ke kiri menjauhi para pemimpin sosial-sovinis, bergerak menuju gagasan-gagasan revolusioner dan pemimpin-pemimpin revolusioner.

Hanya orang yang membenci revolusi dan mengkhianatinya dapat gagal untuk melihat fakta-fakta pada tanggal 5 Agustus 1918, ketika Kautsky sedang menulis pamflet ini. Dan sekarang, pada akhir Oktober 1918, revolusi sedang berkembang di sejumlah negeri-negeri Eropa, dan berkembang di depan mata semua orang dan dengan sangat cepat. Kautsky “sang revolusioner”, yang masih ingin dianggap sebagai seorang Marxis, telah membuktikan dirinya sebagai seorang filistin yang rabun jauh, yang, seperti para filistin yang diolok-olok Marx pada 1847, tidak mampu melihat revolusi yang sedang datang!

Sekarang ke poin ketiga.

Ketika, apa yang harus menjadi fitur-fitur spesifik dari taktik revolusioner ketika ada situasi revolusioner di Eropa? Setelah menjadi seorang pengkhianat, Kautsky tidak berani mengajukan pertanyaan ini, yang wajib diajukan oleh seorang Marxis. Kautsky berargumen seperti seorang borjuis kecil yang tipikal, seorang filistin, atau seperti seorang petani yang tak berpendidikan: apakah “Revolusi Eropa secara umum” telah dimulai atau belum? Bila sudah, maka dia juga siap menjadi seorang revolusioner! Tetapi, kalau demikian maka setiap bajingan (seperti para bajingan yang sekarang kadang-kadang menempelkan diri mereka ke kaum Bolshevik yang telah menang) akan menyatakan dirinya sebagai seorang revolusioner!

Bila revolusi Eropa belum dimulai, maka Kautsky akan memalingkan punggungnya ke revolusi! Kautsky tidak punya secuil pun pemahaman bahwa seorang Marxis revolusioner membedakan dirinya dari kaum filistin dan borjuis kecil dari kemampuannya untuk menyampaikan kepada massa yang tak-terdidik bahwa revolusi yang menjadi matang adalah hal yang diperlukan, untuk membuktikan bahwa ini adalah hal yang tak-terelakkan, untuk menjelaskan keuntungannya bagi rakyat, dan untuk mempersiapkan kaum proletariat dan semua rakyat pekerja dan tertindas untuk situasi ini.

Kautsky mengatakan bahwa kaum Bolshevik konyol karena mereka mempertaruhkan segalanya pada satu kartu, yakni pada Revolusi Eropa yang akan bergulir pada tanggal tertentu. Kekonyolan ini telah berbalik menyerang Kautsky, karena kesimpulan logis dari argumennya adalah bahwa taktik kaum Bolshevik hanya akan benar kalau revolusi Eropa terjadi pada 5 Agustus 1918! Inilah tanggal yang disebutkan oleh Kautsky ketika dia menulis pamfletnya. Dan ketika, beberapa minggu setelah 5 Agustus ini, telah menjadi jelas kalau revolusi sedang tiba di sejumlah negeri-negeri Eropa, seluruh pengkhianatan Kautsky, seluruh pemalsuannya terhadap Marxisme, dan ketidakmampuannya untuk bernalar atau bahkan mengajukan pertanyaan secara revolusioner, telah terungkap dengan sangat jelas!

Ketika kaum proletar Eropa dituduh berkhianat, Kautsky menulis bahwa tuduhan ini dilemparkan ke orang-orang tidak bernama.

Kau keliru, Tn. Kautsky! Bercerminlah dan kau akan melihat “orang-orang tidak bernama” tersebut. Kautsky pura-pura naif dan tidak paham siapa yang melemparkan tuduhan tersebut, dan apa arti tuduhan tersebut. Namun pada kenyataan, Kautsky tahu dengan sangat jelas bahwa tuduhan tersebut dilemparkan oleh kaum “Kiri” Jerman, oleh kaum Spartakus (Partai Komunis Jerman – Ed.), oleh Liebknecht dan kawan-kawannya. Tuduhan ini mengekspresikan pemahaman jelas akan kenyataan bahwa kaum proletariat Jerman telah mengkhianati revolusi Rusia (dan dunia) ketika ia mencekik Finlandia, Ukraina, Latvia dan Estonia. Tuduhan ini terutama dilemparkan, bukan kepada massa yang selalu tertindas, tetapi kepada para pemimpin, seperti para Scheidemann dan Kautsky, yang gagal dalam tugas mereka untuk melakukan agitasi revolusioner, propaganda revolusioner, kerja revolusioner di antara massa untuk menggerakkan mereka. Para pemimpin ini pada kenyataannya bekerja melawan insting dan aspirasi revolusioner yang selalu bersinar di dalam benak massa kelas tertindas. Para Scheidemann secara terbuka, vulgar, sinis, dan kebanyakan demi kepentingan pribadi mereka mengkhianati kaum proletariat dan membelot ke sisi borjuasi. Kautsky dan para pendukung Longuet melakukan hal yang sama, hanya saja dengan ragu-ragu dan tersendat-sendat, dan seperti pengecut selalu melirik ke pihak yang lebih kuat pada saat itu. Di semua tulisan-tulisannya selama perang Kautsky mencoba memadamkan semangat revolusioner, dan bukannya mengembangkannya dan membuatnya lebih besar.

Kautsky bahkan tidak memahami signifikansi teoritis, dan signifikansi agitasi dan propaganda yang bahkan lebih besar, dari “tuduhan” bahwa kaum proletariat Eropa telah mengkhianati revolusi Rusia. Ini adalah monumen historis dari kebodohan filistin dari para pemimpin resmi Sosial-Demokrasi! Kautsky tidak paham bahwa karena sensor di bawah rejim “Reich” Jerman “tuduhan” ini mungkin adalah satu-satunya bentuk di mana kaum sosialis Jerman yang belum berkhianat – yakni Liebknecht dan kawan-kawannya – dapat menyatakan seruan mereka kepada para buruh Jerman untuk menumbangkan para Scheidemann dan Kautsky, untuk menyingkirkan “para pemimpin” ini, untuk membebaskan diri mereka dari propaganda yang membodohi mereka, untuk bangkit memberontak tanpa “para pemimpin” ini, dan bergerak melangkahi mereka untuk menuju revolusi!

Kautsky tidak memahami ini. Dan bagaimana mungkin dia bisa memahami taktik kaum Bolshevik? Dapatkah seseorang yang telah menyangkal revolusi secara umum diharapkan untuk mengkaji dan mempertimbangkan kondisi-kondisi perkembangan revolusi di salah satu kasus yang paling “sulit”?

Taktik-taktik kaum Bolshevik adalah taktik-taktik yang tepat; mereka adalah satu-satunya taktik internasionalis, karena mereka bukan didasarkan atas ketakutan terhadap revolusi dunia, bukan didasarkan atas “ketidakpercayaan” filistin terhadap revolusi dunia, bukan didasarkan atas keinginan nasionalis yang sempit untuk membela “tanah air” diri sendiri (tanah air kaum borjuasi mereka sendiri), sementara tidak “peduli sama sekali” pada hal-hal lain. Namun taktik-taktik Bolshevik berdasarkan estimasi yang tepat mengenai situasi revolusioner di Eropa (sebelum perang dan sebelum pengkhianatan kaum sosial-sovinis dan sosial-pasifis, estimasi ini diterima oleh semua pihak). Taktik-taktik Bolshevik adalah satu-satunya taktik internasionalis, karena mereka melakukan segala hal yang memungkinkan di satu negeri demi perkembangan dan kebangkitan revolusi di negeri-negeri lain. Taktik-taktik ini telah dibenarkan oleh keberhasilan mereka yang besar, karena Bolshevisme (bukan karena jasa kaum Bolshevik Rusia saja, tetapi karena simpati mendalam dari rakyat di mana-mana atas taktik-taktik yang revolusioner dalam praktek) telah menjadi Bolshevisme dunia, telah menghasilkan sebuah gagasan, sebuah teori, sebuah program dan taktik-taktik yang berbeda secara konkret dan praktek dari sosial-sovinisme dan sosial-pasifisme. Bolshevisme telah meluluhlantakkan Internasional lama dan busuk dari para Scheidemann dan Kautsky, Renaudel dan Longuet, Henderson dan MacDonalds, yang dari sekarang akan saling menyerang, bermimpi mengenai “persatuan” dan mencoba untuk membangkitkan kembali sebuah mayat. Bolshevisme telah menciptakan fondasi ideologi dan taktik dari Internasional Ketiga, dari sebuah Internasional yang sungguh-sungguh proletariat dan Komunis, yang akan mempertimbangkan pencapaian-pencapaian dari masa damai serta pengalaman dari masa revolusi, yang telah dimulai.

Bolshevisme telah mempopulerkan gagasan “kediktatoran proletariat” ke seluruh penjuru dunia, telah menerjemahkan kata-kata ini dari Latin, pertama ke bahasa Rusia dan lalu ke semua bahasa di dunia, dan telah menunjukkan dengan contoh pemerintahan Soviet bahwa kaum buruh dan tani miskin, bahkan yang dari negeri terbelakang, bahkan yang punya pengalaman, pendidikan dan kebiasaan berorganisasi yang paling sedikit, telah mampu dalam satu tahun ini, di tengah kesulitan yang besar dan di tengah perjuangan melawan para penindas (yang didukung oleh kaum borjuasi dari seluruh dunia), mempertahankan kekuasaan rakyat pekerja, menciptakan demokrasi yang jauh lebih tinggi dan luas daripada semua demokrasi yang terdahulu di dunia, dan memulai kerja kreatif dari puluhan juta buruh dan tani untuk membangun sosialisme secara praktikal.

Bolshevisme telah membantu mengembangkan revolusi proletariat di Eropa dan Amerika dengan lebih baik daripada partai manapun. Kaum buruh di seluruh dunia semakin hari menjadi semakin sadar bahwa taktik para Scheidemann dan Kautsky belumlah membebaskan mereka dari perang imperialis dan perbudakan-upah, dan bahwa taktik ini tidak dapat menjadi model untuk semua negeri. Dan massa buruh di semua negeri semakin menyadari bahwa Bolshevisme telah menunjukkan jalan keluar dari kengerian perang dan imperialisme, dan bahwa Bolshevisme dapat menjadi model taktik untuk semua negeri.

Tidak hanya Revolusi Eropa, tetapi revolusi proletariat sedunia sedang menjadi semakin matang di depan mata semua orang, dan ini telah dibantu, dipercepat, dan didukung oleh kemenangan kaum proletariat di Rusia. Semua ini tidak cukup untuk kemenangan mutlak sosialisme, katamu? Tentu saja ini tidak cukup. Satu negeri saja tidak akan bisa. Tetapi satu negeri ini, karena terbentuknya pemerintahan Soviet, telah melakukan begitu banyak hal, sehingga kalau pemerintahan Soviet di Rusia diremukkan oleh imperialisme dunia esok harinya, katakanlah karena perjanjian antara imperialisme Jerman dan Anglo-Prancis – bahkan dalam skenario yang paling buruk ini – taktik-taktik Bolshevik masih akan sangat berguna bagi sosialisme dan membantu perkembangan revolusi dunia.

Kepatuhan pada Borjuasi dengan Kedok “Analisis Ekonomi”

Seperti yang telah dikatakan, bila judul buku Kautsky sungguh-sungguh mencerminkan isinya, seharusnya buku tersebut diberi judul, bukan “Kediktatoran Proletariat”, tetapi “Pengulangan Kembali Serangan Borjuasi terhadap Bolshevik”.

“Teori-teori” Menshevik yang lama mengenai karakter borjuis dari revolusi Rusia, yakni distorsi terhadap Marxisme yang dilakukan oleh kaum Menshevik (yang ditolak oleh Kautsky pada 1905!), sekarang diulang kembali oleh sang teoretikus kita. Kita harus menjawab masalah ini, walaupun ini akan begitu membosankan bagi kaum Marxis Rusia.

Revolusi Rusia adalah revolusi borjuis. Ini yang dikatakan oleh semua kaum Marxis Rusia sebelum 1905. Kaum Menshevik, yang menggantikan Marxisme dengan liberalisme, menarik kesimpulan berikut: oleh karenanya kelas proletariat tidak boleh bergerak melebihi apa yang dapat diterima oleh kelas borjuasi dan harus melaksanakan kebijakan kompromi dengan mereka. Kaum Bolshevik mengatakan bahwa ini adalah teori borjuis-liberal. Kaum borjuasi sedang mencoba melakukan reforma terhadap pemerintahan di atas garis borjuis dan reformis, bukan di atas garis revolusioner. Pada saat yang sama mereka ingin mempertahankan sebisa mungkin sistem monarki, sistem feodal, dsb. Kaum proletariat harus melaksanakan revolusi borjuis demokratik sampai ke garis akhir, dan tidak boleh membiarkan dirinya “terikat” oleh reformisme borjuasi. Kaum Bolshevik merumuskan perimbangan kekuatan-kekuatan kelas di dalam revolusi borjuis ini sebagai berikut: kaum proletar, memenangkan kaum tani ke sisinya, akan menetralisir kaum borjuasi dan sepenuhnya menghancurkan sistem monarki, medievalisme, dan sistem feodal.

Aliansi antara kaum proletar dan tani ini secara umum mengungkapkan karakter borjuis dari revolusi Rusia, karena kaum tani secara umum adalah produsen kecil yang eksis di atas basis produksi komoditas. Terlebih lagi, kaum Bolshevik kemudian menambahkan, proletariat akan memenangkan seluruh elemen semi-proletariat (semua rakyat pekerja dan tertindas), akan menetralisir kaum tani menengah dan menumbangkan kaum borjuasi; ini akan menjadi revolusi sosialis, yang berbeda dari revolusi borjuis demokratik. (Baca pamflet saya, “Dua Taktik”, yang diterbitkan pada 1905 dan dicetak ulang di “Dua Belas Tahun”, St. Petersburg, 1907)

Kautsky terlibat secara tidak langsung dalam polemik ini pada 1905, ketika dia menjawab sebuah pertanyaan dari Plekhanov, yang saat itu sudah menjadi Menshevik, dan dia mengeluarkan sebuah opini yang menentang Plekhanov. Karena opini Kautsky ini, pers Bolshevik mencibir Plekhanov pada saat itu. Tetapi sekarang Kautsky tidak mengucapkan satu kata pun mengenai polemik pada saat itu (karena dia takut terekspos oleh pernyataannya sendiri!), dan oleh karenanya dia membuat mustahil bagi para pembaca Jerman untuk memahami inti dari permasalahan ini. Tn. Kautsky tidak dapat mengatakan kepada para buruh Jerman pada tahun 1918 kalau 13 tahun yang lalu dia mendukung aliansi buruh dengan kaum tani, dan bukan dengan kaum borjuis liberal, dan apa syarat-syarat untuk aliansi ini, dan apa program yang dia rumuskan untuk aliansi ini.

Menjilat ludahnya sendiri, Kautsky, di bawah kedok “analisa ekonomi” dan berbicara dengan bangga mengenai “materialisme historis”, sekarang menyerukan agar kaum buruh tunduk pada kaum borjuasi. Dengan bantuan kutipan-kutipan dari Maslov, seorang Menshevik, dia memuntahkan kembali pandangan-pandangan liberal lama dari kaum Menshevik. Kutipan-kutipan digunakan untuk membuktikan gagasan baru mengenai keterbelakangan Rusia. Tetapi deduksi yang ditarik dari gagasan baru ini adalah deduksi tua, yakni bahwa di dalam sebuah revolusi borjuis kita tidak boleh bergerak melampaui kaum borjuasi! Dan ini setelah semua yang dikatakan oleh Marx dan Engels ketika membandingkan revolusi borjuis 1789-93 di Jerman dengan revolusi borjuis 1848 di Jerman!

Sebelum kita bergerak ke “argumen” utama dan isi utama dari “analisa ekonomi”nya Kautsky, mari kita periksa baris-baris awal Kautsky yang mengungkapkan kebingungan dan kedangkalan dalam berpikir.

Sang “teoretikus” kita menulis, “Pertanian, dan terutama pertanian kecil, sampai hari ini merepresentasikan fondasi ekonomi Rusia. Sekitar empat-per-lima, mungkin bahkan lima-per-enam, dari populasi Rusia hidup dengan bertani” (hal. 45). Pertama-tama, pernahkah kamu pertimbangkan berapa banyak penindas di antara massa produsen kecil ini? Tentunya tidak lebih dari satu-per-sepuluh, dan di kota-kota bahkan lebih kecil, karena produksi skala-besar lebih berkembang di sana. Bahkan kalau kita mengambil estimasi tinggi, dan berasumsi bahwa satu-per-lima dari produsen kecil adalah penindas yang tidak punya hak suara. Bahkan dengan estimasi ini 66% suara yang diraih oleh Bolshevik pada Kongres Kelima Soviet mewakili mayoritas populasi. Selain itu, cukup banyak kaum Sosialis-Revolusioner Kiri yang mendukung kekuasaan Soviet – secara prinsipil semua kaum Sosialis-Revolusioner Kiri mendukung kekuasaan Soviet, dan ketika satu seksi dari Sosialis-Revolusioner Kiri, pada Juli 1918, melakukan pemberontakan avonturis, dua partai yang baru pecah dari partai lama ini: “Komunis Narodnik” dan “Komunis Revolusioner”. (Dari para pemimpin terkemuka Sosialis-Revolusioner Kiri yang telah ditunjuk untuk posisi penting di dalam pemerintahan oleh partai SR Kiri, Zax adalah anggota partai Komunis Narodnik, dan Kolegayev anggota partai Komunis Revolusioner). Jadi, Kautsky sendiri secara tidak sengaja telah membantah dongeng konyol bahwa kaum Bolshevik hanya mendapatkan dukungan dari minoritas rakyat.

Kedua, sang teoretikus saya yang terhormat, pernahkah kau pertimbangkan kenyataan bahwa kaum tani kecil niscaya terombang-ambing antara kaum proletar dan kaum borjuasi? Kebenaran Marxis ini, yang telah dikonfirmasikan oleh keseluruhan sejarah modern Eropa, dengan nyaman “dilupakan” oleh Kautsky, karena kebenaran ini menghancurkan “teori” Menshevik yang terus dia ulang-ulang! Bila Kautsky tidak “melupakan” kebenaran ini, dia tidak akan menyangkal perlunya kediktatoran proletariat di sebuah negeri di mana kaum tani kecil jumlahnya lebih banyak.

Mari kita periksa “analisa ekonomi” dari sang teoretikus kita.

Kekuasaan Soviet adalah sebuah kediktatoran, dan ini tidak bisa diperdebatkan, kata Kautsky. “Tetapi apakah kediktatoran ini adalah kediktatoran proletariat?” (hal. 34)

“Menurut Konstitusi Soviet, kaum tani membentuk mayoritas populasi dan memiliki hak untuk berpartisipasi dalam parlemen dan administrasi pemerintah. Apa yang disajikan di depan kita sebagai kediktatoran proletariat ternyata – bila dijalankan dengan konsisten, dan bila, berbicara secara umum, sebuah kelas dapat secara langsung mengimplementasikan kediktatoran, yang pada kenyataannya hanya dapat diimplementasikan oleh sebuah partai – hanyalah kediktatoran kaum tani.” (hal. 35)

Merasa bangga karena argumennya yang begitu dalam dan pintar, Kautsky mencoba untuk membuat lelucon dan mengatakan: “Tampaknya pencapaian yang paling mudah dari sosialisme akan paling terjamin kalau ini diletakkan di tangan kaum tani.” (hal. 35)

Dengan sangat terperinci, dan mengutip sejumlah kutipan yang sangat pintar dari Maslov yang semi-liberal, teoretikus kita mencoba membuktikan sebuah gagasan baru bahwa kaum tani tertarik pada harga gandum yang tinggi, upah rendah untuk kaum pekerja kota, dsb., dsb. Semakin Kautsky mengulang-ulang gagasan-gagasan baru ini, semakin sedikit perhatian yang dia berikan pada situasi-situasi baru yang muncul setelah peperangan. Contohnya, kaum tani tidak menginginkan uang untuk gandum mereka, tetapi mereka menginginkan komoditas, dan bahwa kaum tani tidak punya cukup alat-alat pertanian, yang tidak dapat mereka peroleh dengan cukup biarpun mereka punya uang. Kita akan kembali lagi ke topik ini.

Oleh karenanya, Kautsky menuduh partai Bolshevik, partainya kaum proletariat, telah menyerahkan kediktatoran dan tugas untuk mencapai sosialisme ke kaum tani borjuis-kecil. Baik sekali, Tn. Kautsky! Tetapi, menurut pendapatmu yang mencerahkan, apa seharusnya sikap partai proletariat terhadap kaum tani borjuis-kecil?

Teoretikus kita lebih memilih untuk diam seribu bahasa dalam hal ini, karena ada pepatah yang mengatakan: “Bicara itu perak, diam itu emas.” Tetapi dia mengekspos dirinya dengan argumen berikut ini:

“Pada masa awal Republik Soviet, soviet-soviet tani adalah organisasi kaum tani secara umum. Sekarang Republik ini memproklamirkan bahwa Soviet-soviet adalah organisasi proletariat dan kaum tani miskin. Kaum tani yang kaya dirampas hak suaranya di dalam pemilu Soviet-soviet. Kaum tani miskin diakui sebagai produk permanen dan massa dari reforma agraria sosialis di bawah ‘kediktatoran proletariat’.” (hal. 48)

Sungguh sebuah ironi yang menakjubkan! Ironi yang hanya dapat didengar dari kaum borjuasi. Mereka semua mencemooh dan mengejek Republik Soviet yang secara terbuka mengakui keberadaan kaum tani miskin. Mereka mencibir sosialisme. Ini hak mereka. Tetapi seorang “sosialis” yang mencemooh kenyataan bahwa setelah empat tahun peperangan yang paling menghancurkan masih ada (dan masih akan ada untuk waktu yang lama) kaum tani miskin di Rusia – seorang “sosialis” macam ini hanya dapat lahir dari pengkhianatan yang sepenuhnya.

Dan lagi:

“... Republik Soviet mengganggu relasi-relasi antara kaum tani kaya dan miskin, tetapi tidak dengan mendistribusi ulang tanah. Untuk mengatasi kekurangan roti di kota-kota, detasemen-detasemen buruh bersenjata dikirim ke pedesaan untuk merampas stok-stok surplus gandum milik kaum tani kaya. Sebagian dari stok tersebut diberikan kepada penduduk kota, sebagai lagi kepada kaum tani yang lebih miskin.” (hal. 48)