Muistoja lapsen ja hopeahapsen 3 Kuvauksia
Chapter 6
Massa kelas-kelas tertindas, para pemimpin proletar revolusioner yang sadar-kelas dan jujur akan ada di sisi kita. Kita cukup mengenalkan kaum proletar seperti itu dengan Konstitusi Soviet kita, dan mereka akan segera mengatakan: “Mereka sungguh adalah kamerad-kamerad kita, ini adalah partai buruh yang sesungguhnya, ini adalah pemerintahan buruh yang sesungguhnya, karena mereka tidak menipu buruh dengan berbicara mengenai reforma-reforma seperti yang dilakukan oleh para pemimpin yang disebut di atas. Mereka melawan kaum pengeksploitasi dengan sungguh-sungguh; mereka membuat revolusi dengan sungguh-sungguh, dan benar-benar berjuang untuk emansipasi buruh yang sepenuhnya.”
Kenyataan bahwa setelah satu tahun “pengalaman” Soviet-soviet telah merampas hak suara kaum pengeksploitasi menunjukkan bahwa Soviet adalah sungguh-sungguh organisasi kaum tertindas, dan bukan organisasi kaum sosial-imperialis dan sosial-pasifis yang telah menjual diri mereka ke borjuasi. Kenyataan bahwa Soviet-soviet telah merampas hak suara kaum pengeksploitasi menunjukkan bahwa mereka bukanlah organisasi borjuis-kecil yang berkompromi dengan borjuasi, mereka bukanlah organ parlementer yang hanya mengoceh (seperti orang-orang tipe Kautsky, Longuet, dan MacDonald), tetapi mereka adalah organ proletariat yang sungguh-sungguh revolusioner, yang sedang mengobarkan perjuangan hidup-atau-mati melawan kaum pengeksploitasi.
“Buku Kautsky hampir-hampir tidak dikenal di sini,” seorang kamerad dari Berlin menulis kepada saya beberapa hari yang lalu (hari ini adalah 30 Oktober). Saya akan memberikan nasihat kepada para perwakilan kita di Jerman dan Swiss untuk tidak menghemat uang, dan membeli buku ini dan menyebarkannya secara cuma-cuma kepada para buruh yang sadar-kelas, agar mereka dapat menginjak-injak di lumpur Sosial-Demokrasi “Eropa” ini – baca: imperialis dan reformis – yang lama telah menjadi “mayat busuk”.
Di bagian akhir bukunya, pada halaman 61 dan 63, Tn. Kautsky dengan pahit mengeluh bagaimana “teori baru ini (dia menyebut Bolshevisme sebagai teori baru, karena dia takut menyentuh analisis Marx dan Engels mengenai Komune Paris) punya pendukung bahkan di negeri-negeri demokrasi tua seperti Swiss misalnya.” “Sungguh tak dapat dimengerti” bagi Kautsky “bagaimana teori ini dapat diadopsi oleh kaum Sosial-Demokrat Jerman.”
Tidak, ini cukup dapat dimengerti, karena setelah pelajaran-pelajaran serius mengenai perang massa revolusioner menjadi muak dan letih dengan orang-orang seperti Scheidemann dan Kautsky.
“Kami” selalu mendukung demokrasi, tulis Kautsky, tetapi tiba-tiba kami harus mengutuknya!
“Kami”, kaum oportunis Sosial-Demokrasi, selalu menentang kediktatoran proletariat, dan Kolb dkk. sejak dulu telah memproklamirkan ini. Kautsky tahu akan hal ini dan dengan sia-sia berharap bahwa dia dapat menyembunyikan dari para pembacanya fakta yang jelas ini bahwa dia telah “kembali ke sarang” Bernstein dan Kolb.
“Kami”, kaum Marxis revolusioner, tidak pernah menjadikan demokrasi “murni” (borjuis) sebagai sebuah fetis. Seperti yang diketahui, pada 1903 Plekhanov adalah seorang Marxis revolusioner (di kemudian hari pembelotannya membuat dia menjadi Scheidemann Rusia). Dan pada tahun itu Plekhanov menyatakan di Kongres Partai kami, yang lalu mengadopsi program itu, bahwa di dalam revolusi proletariat dapat, bila diperlukan, merampas hak pilih kaum kapitalis dan membubarkan semua parlemen yang kontra-revolusioner. Bahwa ini adalah satu-satunya gagasan yang sesuai dengan Marxisme akan menjadi jelas bagi semua orang bahkan dari pernyataan-pernyataan Marx dan Engels yang telah saya kutip di atas. Ini mengalir dari semua prinsip-prinsip fundamental Marxisme.
“Kami”, kaum Marxis revolusioner, tidak pernah di hadapan rakyat membuat pidato-pidato seperti yang gemar dilakukan oleh semua Kautskyite di semua negeri, yang gemetar ketakutan di hadapan borjuasi, beradaptasi pada sistem parlemen borjuis, bungkam mengenai karakter borjuis dari demokrasi modern dan menuntut hanya perluasannya, hanya agar demokrasi dibawa sampai ke kesimpulan logisnya.
“Kami” mengatakan kepada kaum borjuasi: Kalian, pengeksploitasi dan orang munafik, berbicara mengenai demokrasi, sementara di setiap langkah kalian bangun ribuan rintangan untuk mencegah rakyat tertindas berpartisipasi di dalam politik. Kami memegang kata-kata kalian dan, untuk kepentingan rakyat, menuntut perluasan dari demokrasi borjuis milik kalian guna mempersiapkan rakyat untuk revolusi yang akan menumbangkan kalian para pengeksploitasi. Dan bila kalian mencoba melawan revolusi proletariat kami, kami akan menindas kalian tanpa belas kasihan. Kami akan merampas semua hak kalian; lebih dari itu, kami tidak akan memberimu roti, karena di dalam republik proletar kami kaum pengeksploitasi tidak akan memiliki hak-hak, mereka tidak akan diberi api dan air, karena kami adalah kaum sosialis yang sesungguh-sungguhnya, dan bukan sosialis seperti Scheidemann dan Kautsky.
Inilah yang telah “kami”, kaum Marxis revolusioner, katakan, dan akan katakan – dan inilah mengapa rakyat tertindas akan mendukung kami dan akan bersama kami, sementara orang-orang seperti Scheidemann dan Kautsky akan tersapu ke dalam kubangan pengkhianat.
Apa itu Internasionalisme?
Kautsky benar-benar yakin bahwa dia adalah seorang internasionalis dan menyebut dirinya demikian. Orang-orang seperti Scheidemann dia sebut “kaum sosialis pemerintah”. Dalam membela kaum Menshevik (dia tidak secara terbuka menyatakan solidaritasnya dengan mereka, tetapi dia dengan setia mengekspresikan pandangan-pandangan mereka), Kautsky telah menunjukkan dengan kejelasan yang sempurna “internasionalisme” macam apa yang dia anut. Dan karena Kautsky tidak sendirian, dan dia adalah juru bicara dari sebuah tendensi yang secara tak terelakkan tumbuh berkembang di dalam atmosfer Internasional Kedua (Longuet di Prancis, Turati di Italia, Nobs dan Grimm, Graber dan Name di Swiss, Ramsay MacDonald di Inggris, dsb.), akan berguna kalau kita membahas “internasionalisme”nya Kautsky.
Setelah menekankan bahwa kaum Menshevik juga menghadiri Konferensi Zimmerwald (sebuah ijazah, tentunya, tetapi … sebuah ijazah yang ternoda), Kautsky memaparkan pandangan-pandangan Menshevik, yang mana dia setujui, sebagai berikut:
“… Kaum Menshevik menginginkan sebuah perdamaian umum. Mereka menginginkan semua pihak yang berperang untuk mengadopsi formula: menentang aneksasi dan menentang ganti-rugi perang. Sampai kondisi ini tercapai, angkatan bersenjata Rusia, menurut pandangan ini, harus siap sedia untuk berperang. Kaum Bolshevik, di pihak lain, menuntut perdamaian segera dengan cara apapun; mereka siap, bila diperlukan, untuk menandatangani perjanjian perdamaian secara terpisah; mereka mencoba memaksakan ini dengan meningkatkan kekacauan di dalam angkatan bersenjata, yang sudah cukup parah” (hal. 27). Menurut pendapat Kautsky, kaum Bolshevik tidak seharusnya merebut kekuasaan, dan seharusnya puas saja dengan Majelis Konstituante.
Jadi, internasionalisme Kautsky dan kaum Menshevik pada akhirnya berarti ini: mereka menuntut reforma-reforma dari pemerintahan borjuis imperialis, tetapi terus mendukungnya, dan terus mendukung perang yang dikobarkan oleh pemerintahan ini sampai semua pihak yang berperang menerima formula menentang aneksasi dan menentang ganti-rugi perang. Cara pandang ini berulang kali diekspresikan oleh Turati, dan oleh para pendukung Kautsky (Haase dan lainnya), dan oleh Longuet dkk., yang menyatakan bahwa mereka berdiri untuk pembelaan tanah air.
Secara teoritis, ini menunjukkan ketidakmampuan untuk memisahkan diri dari kaum sovinis-sosial dan kebingungan dalam masalah pembelaan tanah air. Secara politik, ini berarti menggantikan internasionalisme dengan nasionalisme borjuis-kecil, membelot ke kamp reformis dan mencampakkan revolusi.
Dari sudut pandang proletariat, mengakui “pembelaan tanah air” berarti membenarkan perang hari ini, mengakui bahwa perang ini adalah sah. Dan karena perang ini adalah perang imperialis (di bawah pemerintahan monarkis maupun republik), tidak peduli negeri mana – negeri saya atau negeri lainnya – di mana pasukan-pasukan tentara musuh ada, mengakui pembelaan tanah air berarti, secara faktual, mendukung kaum borjuis imperialis, dan sepenuhnya mengkhianati sosialisme. Di Rusia, bahkan di bawah Kerensky, di bawah republik demokratik-borjuis, perang ini masihlah perang imperialis, karena perang ini dikobarkan oleh kaum borjuasi sebagai kelas penguasa (dan perang adalah “kelanjutan politik”); dan ekspresi yang paling jelas dari karakter imperialis peperangan ini adalah perjanjian-perjanjian rahasia untuk membagi-bagi dunia dan penjarahan negeri-negeri lain yang telah disepakati oleh Tsar dengan kapitalis di Inggris dan Prancis.
Kaum Menshevik menipu rakyat dengan cara yang paling menjijikkan dengan menyebut perang ini sebagai perang defensif atau revolusioner. Dan dengan menyetujui kebijakan Menshevik, Kautsky setuju dengan penipuan terhadap rakyat ini. Kautsky menyetujui peran yang dimainkan oleh borjuis kecil dalam membantu kapital untuk menipu buruh dan mengikat mereka ke kereta perang imperialis. Kautsky mendukung kebijakan yang bersifat borjuis-kecil, kebijakan yang filistin dengan berpura-pura (dan mencoba membuat rakyat percaya) bahwa mengedepankan sebuah slogan akan mengubah posisi mereka yang sesungguhnya. Seluruh sejarah demokrasi borjuis menyangkal ilusi ini. Kaum demokrat borjuis selalu mengedepankan segala macam “slogan” untuk menipu rakyat. Yang terpenting adalah menguji ketulusan mereka, untuk membandingkan kata-kata mereka dengan tindakan-tindakan mereka, dan tidak menjadi puas dengan frase-frase yang idealistis atau yang menipu, tetapi berpijak pada realitas kelas. Sebuah perang imperialis tidak berhenti menjadi imperialis ketika para penipu atau filistin borjuis-kecil mengedepankan slogan-slogan “sentimentil”, tetapi hanya ketika kelas yang mengobarkan perang imperialis ini, dan yang terikat pada perang ini oleh jutaan benang (dan bahkan tali) ekonomi, benar-benar ditumbangkan dan digantikan dengan kelas yang benar-benar revolusioner, yakni kelas proletariat. Tidak ada cara lain untuk keluar dari perang imperialis, dan juga keluar dari perdamaian imperialis yang predatoris.
Dengan menyetujui kebijakan luar negeri kaum Menshevik, dan menyatakannya internasionalis dan bersemangat Zimmerwald, Kautsky, pertama-tama, mengungkapkan kebangkrutan total dari mayoritas Zimmerwald yang oportunis (tidak heran kalau kami, Zimmerwald Kiri, segera memisahkan diri kami dari mayoritas tersebut), dan kedua – dan ini yang terutama – dia menyebrang dari posisi proletariat ke posisi borjuis kecil, dari revolusioner ke reformis.
Proletariat berjuang untuk penumbangan revolusioner kaum borjuis imperialis. Kaum borjuis kecil berjuang untuk “perbaikan” reformis dari imperialisme, untuk beradaptasi, sementara bertekuk lutut kepadanya. Ketika Kautsky masihlah seorang Marxis, misalnya pada 1909, ketika dia menulis “Road to Power” (Jalan Menuju Kekuasaan), dia mengedepankan gagasan bahwa peperangan niscaya akan membawa kita ke revolusi, dan dia berbicara mengenai era revolusi yang semakin dekat. Manifesto Basel 1912 dengan jelas dan tegas berbicara mengenai revolusi proletariat dalam hubungannya dengan perang imperialis antara Jerman dan Inggris, yang akhirnya benar-benar meledak pada 1914. Tetapi pada 1918, ketika revolusi-revolusi sungguh-sungguh terjadi, Kautsky, alih-alih menjelaskan bahwa mereka adalah hal yang tak terelakkan, alih-alih memikirkan taktik-taktik revolusioner dan cara untuk mempersiapkan revolusi, dia malah mulai menggambarkan taktik-taktik reformis kaum Menshevik sebagai internasionalis. Bukankah ini pengkhianatan?
Kautsky memuji kaum Menshevik yang bersikeras ingin mempertahankan kekuatan perang dari angkatan bersenjata, dan dia menyalahkan kaum Bolshevik karena telah memperparah “kekacauan angkatan bersenjata”, yang sudah kacau balau. Ini berarti memuji reformisme dan berkapitulasi pada borjuasi imperialis, dan menyalahkan serta menyangkal revolusi. Karena di bawah rejim Kerensky, mempertahankan kekuatan perang angkatan bersenjata berarti menjaga keberadaannya di bawah komando borjuis (walaupun republiken). Semua orang tahu, dan jalannya peristiwa telah memberikan konfirmasi yang jelas, bahwa angkatan bersenjata republiken ini mempertahankan semangat Kornilov karena para perwira tingginya adalah orang-orang Kornilov. Para perwira borjuis tidak bisa tidak menjadi orang-orang Kornilov; mereka tidak bisa tidak cenderung ke imperialisme dan menindas proletariat dengan kekerasan. Semua taktik Menshevik dalam prakteknya berarti membiarkan seluruh fondasi perang imperialis dan seluruh fondasi kediktatoran borjuis utuh, menambal sulam hal-hal detil yang remeh temeh (“reforma-reforma”).
Di lain pihak, tidak ada satu pun revolusi besar yang pernah terjadi, atau akan pernah terjadi, tanpa “kekacau-balauan” di dalam tubuh angkatan bersenjata. Karena angkatan bersenjata adalah instrumen penjaga rejim lama yang paling tua dan kaku, benteng kedisiplinan borjuis yang paling kuat, yang mempertahankan kekuasaan kapital, dan mempertahankan dan memperkuat di antara rakyat pekerja semangat penghambaan pada kapital. Kontra-revolusi tidak pernah menoleransi, dan tidak akan pernah bisa menoleransi keberadaan rakyat yang bersenjata. Di Prancis, Engels menulis, di setiap revolusi kaum buruh muncul dengan senjata di tangannya, “oleh karenanya, pelucutan buruh adalah tugas pertama dari kaum borjuasi, yang ada di pucuk kepemimpinan negara.” Buruh yang bersenjata adalah embrio dari sebuah angkatan bersenjata yang baru, nukleus terorganisasi dari sebuah tatanan sosial yang baru. Tugas pertama dari kaum borjuasi adalah menghancurkan nukleus ini dan mencegahnya tumbuh. Tugas pertama dari setiap revolusi yang menang, seperti yang ditekankan berulang kali oleh Marx dan Engels, adalah untuk menghancurkan angkatan bersenjata yang lama, membubarkannya, dan menggantikannya dengan angkatan bersenjata yang baru. Sebuah kelas sosial yang baru, ketika ia naik ke tampuk kekuasaan, tidak akan pernah bisa merebut kekuasaan dan mempertahankannya tanpa membubarkan sepenuhnya angkatan bersenjata yang lama (“Kekacau-balauan!” teriak kaum filistin reaksioner yang penakut mengenai ini), tanpa melalui sebuah periode yang paling sulit dan menyakitkan di mana tidak ada angkatan bersenjata (Revolusi Prancis juga melalui periode yang sulit ini), dan perlahan-lahan membangun, di tengah peperangan sipil yang sulit, sebuah angkatan bersenjata yang baru, sebuah kedisiplinan yang baru, sebuah organisasi militer yang baru dari kelas yang baru. Sebelumnya Kautsky sang sejarawan memahami ini. Sekarang, Kautsky sang pengkhianat telah melupakan ini.
Kautsky tidak punya hak untuk memanggil para Scheidemann sebagai “kaum sosialis pemerintahan” bila dia mendukung taktik kaum Menshevik di revolusi Rusia. Dengan mendukung Kerensky dan bergabung ke dalam kabinetnya, kaum Menshevik juga adalah kaum sosialis pemerintah. Kautsky tidak dapat menghindari kesimpulan ini bila dia mengedepankan pertanyaan kelas penguasa mana yang sedang mengobarkan perang imperialis ini. Tetapi Kautsky menghindari pertanyaan mengenai kelas penguasa ini, sebuah pertanyaan yang penting sekali bagi seorang Marxis, karena hanya dengan mengedepankan pertanyaan ini seorang pengkhianat akan terekspos.
Para pendukung Kautsky di Jerman, para pendukung Longuet di Prancis, dan Turati dkk. di Italia berargumen seperti ini: sosialisme mensyaratkan kesetaraan, kebebasan dan hak penentuan nasib sendiri di antara bangsa-bangsa, oleh karenanya ketika negeri kami diserang atau ketika pasukan musuh menyerang daerah kami, adalah hak dan tugas dari kaum sosialis untuk mempertahankan negeri mereka. Tetapi secara teoritis, argumen seperti ini adalah entah mengolok-olok sosialisme atau penipuan yang terselubung. Sementara dari sudut pandang politik praktis argumen seperti ini adalah seperti argumen orang kampung yang tak terdidik, yang tidak memahami karakter sosial dan kelas dari perang sekarang ini, dan tidak paham tugas dari sebuah partai revolusioner pada saat perang yang reaksioner.
Sosialisme menentang kekerasan terhadap bangsa-bangsa. Ini tidak terbantahkan. Tetapi sosialisme menentang kekerasan terhadap manusia secara umum. Selain kaum anarkis Kristen dan kaum Tolstoyan , belum ada satu pun orang yang menarik kesimpulan dari ini bahwa sosialisme menentang kekerasan revolusioner. Jadi, berbicara mengenai “kekerasan” secara umum, tanpa memeriksa kondisi-kondisi yang membedakan kekerasan reaksioner dari kekerasan revolusioner, berarti menjadi seorang filistin yang menyangkal revolusi, atau ini berarti menipu diri sendiri dan orang lain dengan sofisme.
Hal yang sama juga benar mengenai kekerasan terhadap bangsa-bangsa. Setiap perang adalah kekerasan terhadap bangsa-bangsa, tetapi ini tidak mencegah kaum sosialis dari mendukung sebuah perang revolusioner. Karakter kelas dari sebuah perang – ini adalah pertanyaan fundamental yang dihadapi oleh seorang sosialis (bila dia bukanlah seorang pengkhianat). Perang imperialis 1914-1918 adalah sebuah peperangan antara dua kelompok borjuis imperialis untuk membagi-bagi dunia, untuk membagi-bagi harta jarahan, dan untuk menjarah dan mencekik bangsa-bangsa yang kecil dan lemah. Ini adalah pengkajian mengenai perang yang akan datang yang tertuang di Manifesto Basel pada 1912, dan yang sekarang telah terkonfirmasikan oleh fakta. Siapa pun yang tidak setuju dengan cara pandang ini bukanlah seorang sosialis.
Bila seorang Jerman di bawah rejim Wilhem atau seorang Prancis di bawah rejim Clemenceau mengatakan, “Adalah hak dan tugas saya sebagai seorang sosialis untuk membela negeri saya bila negeri saya diserang oleh musuh”, dia berargumen bukan seperti seperti seorang sosialis, bukan seperti seorang internasionalis, bukan seperti seorang proletar revolusioner, tetapi seperti seorang nasionalis borjuis-kecil. Karena argumen ini mengabaikan perjuangan kelas revolusioner antara buruh dan kapital. Argumen ini mengabaikan pengkajian perang ini secara keseluruhan dari sudut pandang kaum borjuasi dunia dan kaum proletariat dunia, yakni argumen ini mengabaikan internasionalisme. Yang ada hanyalah nasionalisme yang buruk dan sempit. Negeri saya sedang diserang, dan saya hanya peduli ini – inilah argumennya, dan inilah nasionalisme borjuis-kecil yang sempit. Ini sama seperti argumen kekerasan individual, atau kekerasan terhadap seorang individu, di mana seorang berargumen bahwa sosialisme menentang kekerasan dan oleh karenanya saya lebih memilih menjadi seorang pengkhianat daripada dipenjara.
Seorang Jerman, Prancis, atau Italia yang mengatakan: “Sosialisme menentang kekerasan terhadap bangsa-bangsa, oleh karenanya saya membela diri saya sendiri ketika negeri saya diserang”, ia mengkhianati sosialisme dan internasionalisme, karena orang seperti ini hanya melihat “negeri”nya sendiri, dia menaruh kaum borjuasinya “sendiri” di atas segalanya dan tidak memikirkan mengenai relasi-relasi internasional yang membuat perang ini sebuah perang imperialis dan bahwa kaum borjuasinya adalah satu mata rantai di dalam rantai penjarahan imperialis.
Semua kaum filistin dan orang-orang kampung yang bodoh dan tidak terdidik berargumen seperti para pendukung Kautsky, Longuet, Turati dkk.: “Musuh telah menyerang negeri saya, saya hanya peduli ini.”
Kaum sosialis, kaum proletar revolusioner, kaum internasionalis, punya argumen yang berbeda. Dia mengatakan: “Karakter dari sebuah perang (entah itu perang reaksioner atau perang revolusioner) tidak ditentukan oleh siapa yang menyerang, atau di negeri mana “sang musuh” berada; ini ditentukan oleh kelas mana yang mengobarkan perang, dan politik apa yang merupakan kelanjutan dari perang ini. Bila perang ini adalah sebuah perang imperialis yang reaksioner, yakni perang ini dikobarkan oleh dua kelompok borjuis imperialis dunia, yang rakus, predatoris, dan reaksioner, maka setiap kaum borjuasi (bahkan negeri yang terkecil pun) menjadi partisipan dari penjarahan ini. Tugas saya sebagai perwakilan dari proletariat revolusioner adalah untuk menyiapkan revolusi proletar dunia sebagai satu-satunya jalan keluar dari kengerian pembantaian global. Saya harus berargumen, bukan dari sudut pandang negeri ‘saya’ (karena argumen ini adalah argumen dari seorang nasionalis borjuis-kecil yang menyedihkan dan bodoh, yang tidak menyadari bahwa dia tidak ubahnya mainan di tangan kaum borjuasi imperialis), tetapi dari sudut pandang peran saya dalam persiapan, propaganda, dan dalam mempercepat revolusi proletariat dunia.”
Inilah internasionalisme, dan inilah tugas dari kaum internasionalis, kaum buruh revolusioner, dan kaum sosialis yang sejati. Inilah ABC yang telah “dilupakan” oleh Kautsky sang pengkhianat. Dan pengkhianatannya menjadi semakin jelas saat dia bergerak dari mendukung taktik-taktik kaum nasionalis borjuis-kecil (kaum Menshevik di Rusia, pendukung Longuet di Prancis, pendukung Turati di Italia, dan Haase dkk. di Jerman) ke mengkritik taktik-taktik Bolshevik. Ini kritiknya:
“Revolusi Bolshevik didasarkan atas asumsi bahwa revolusi ini akan menjadi titik awal dari revolusi Eropa secara umum, bahwa inisiatif berani dari Rusia akan mendorong kaum proletariat Eropa untuk bangkit.
“Asumsi ini tidak mengindahkan apa bentuk perjanjian perdamaian yang akan ditandatangani oleh Rusia, apa kesukaran dan kehilangan daerah (secara harfiah, mutilasi, Verstümmelungen) yang harus dihadapi oleh rakyat Rusia, dan apa penafsiran hak penentuan nasib bangsa yang akan diberikannya. Ini juga tidak mengindahkan apakah Rusia dapat atau tidak dapat mempertahankan dirinya. Menurut cara pandang ini, revolusi Eropa adalah pertahanan terbaik untuk revolusi Rusia, dan akan membawa hak penentuan nasib sendiri yang sempurna dan sejati bagi seluruh rakyat yang tinggal di Rusia.
“Sebuah revolusi di Eropa, yang akan mendirikan dan mengonsolidasikan sosialisme di sana, juga akan menyingkirkan rintangan-rintangan yang muncul di Rusia dalam memperkenalkan sistem produksi sosialis karena keterbelakangan ekonomi dari negeri ini.
“Semua ini sangatlah logis dan sangatlah berlandasan kuat – hanya bila asumsi utamanya benar, yakni bahwa revolusi Rusia akan memercikkan revolusi Eropa. Tetapi, bagaimana kalau ini salah?
“Sampai sekarang asumsi ini belumlah terbukti. Dan kaum proletar Eropa sekarang dituduh telah mencampakkan dan mengkhianati revolusi Rusia. Ini adalah tuduhan yang dilemparkan ke orang-orang yang tidak diketahui namanya, karena siapa yang harus bertanggung jawab atas perilaku dan tindakan kaum proletariat Eropa?” (hal. 28)
Dan Kautsky lalu menjelaskan panjang lebar bahwa Marx, Engels dan Bebel telah lebih dari sekali keliru mengenai tibanya revolusi yang sebelumnya mereka antisipasi, tetapi mereka tidak pernah mendasarkan taktik-taktik mereka pada pengharapan akan revolusi pada “tanggal tertentu” (hal. 29), sementara, katanya, kaum Bolshevik “mempertaruhkan segalanya pada satu kartu, pada revolusi Eropa”.
Kami sengaja mengutip baris-baris yang panjang ini untuk menunjukkan kepada para pembaca kami “talenta” Kautsky dalam memalsukan Marxisme, di mana dia menggantikan Marxisme dengan cara pandang filistinnya yang reaksioner dan dangkal.