Muistoja lapsen ja hopeahapsen 3 Kuvauksia
Chapter 4
“Tetapi, apakah kita punya hak untuk menuntut lebih dari Soviet? Kaum Bolshevik, setelah Revolusi November (penanggalan baru, atau Revolusi Oktober sesuai dengan penanggalan lama Rusia), bersama-sama dengan kaum Sosialis-Revolusioner Kiri mengamankan mayoritas di dalam Soviet Perwakilan Buruh Rusia, dan setelah pembubaran Majelis Konstituante, mereka memulai mentransformasi Soviet-soviet dari organisasi perjuangan sebuah kelas menjadi organisasi negara. Mereka menghancurkan demokrasi yang telah dimenangkan oleh rakyat Rusia pada Revolusi Maret (penanggalan lama, atau Revolusi Februari sesuai dengan penanggalan lama Rusia). Bersamaan dengan ini, kaum Bolshevik telah berhenti memanggil diri mereka sendiri kaum Sosial-Demokrat. Mereka memanggil diri mereka Komunis.” (hal. 33., italik dari Kautsky)
Mereka-mereka yang mengenal literatur Menshevik Rusia akan segera melihat bagaimana Kautsky secara menghamba mengkopi Martov, Axelrod, Stein dan yang lainnya. Ya, “secara menghamba”, karena Kautsky dengan seenaknya mendistorsi fakta-fakta demi mengekori prasangka-prasangka Menshevik. Kautsky tidak ambil pusing, misalnya, untuk menanyakan para informannya (Stein di Berlin, atau Axelrod di Stockholm) kapan masalah penggantian nama Bolshevik menjadi Komunis dan kapan masalah signifikansi Soviet sebagai organisasi negara pertama kali dikemukakan. Bila saja Kautsky menanyakan pertanyaan sederhana ini, dia tidak akan menulis baris-baris yang konyol ini, karena kedua masalah ini dikemukakan oleh kaum Bolshevik pada April 1917, misalnya di “Tesis” 4 April 1917 saya, yakni jauh sebelum Revolusi Oktober 1917 (dan, tentu saja, jauh sebelum pembubaran Majelis Konstituante pada 5 Januari 1918).
Tetapi argumen Kautsky yang telah saya kutip sepenuhnya mewakili inti dari seluruh masalah mengenai Soviet. Intinya adalah: apakah Soviet harus berusaha menjadi organisasi negara (pada April 1917, kaum Bolshevik mengedepankan slogan “Seluruh Kekuasaan Untuk Soviet!” dan pada Konferensi Partai Bolshevik yang diselenggarakan pada bulan yang sama mereka menyatakan bahwa mereka tidak puas dengan republik parlementer borjuis, tetapi menuntut sebuah republik buruh dan tani seperti tipe Komune Paris atau tipe Soviet); atau apakah Soviet tidak boleh berusaha untuk mencapai ini, dan menahan diri dari merebut kekuasaan ke tangannya, menahan diri dari menjadi organisasi negara dan tetap menjadi “organisasi perjuangan” dari “sebuah kelas” (seperti yang diekspresikan oleh Martov, yang dengan harapan lugunya menutup-nutupi kenyataan bahwa di bawah kepemimpinan Menshevik Soviet adalah instrumen yang digunakan untuk menundukkan kaum buruh di bawah borjuasi).
Kautsky secara menghamba mengulang kata-kata Martov, memilah fragmen-fragmen dari polemik teoritis antara Bolshevik dan Menshevik, dan secara tidak kritis dan seenaknya mencangkokkan mereka ke bidang teori dan Eropa secara umum. Hasilnya adalah sebuah tambal sulam yang begitu buruk sehingga mengundang tawa keras dari setiap buruh Rusia yang sadar kelas yang membaca argumen-argumen Kautsky ini.
Ketika kita menjelaskan apa isu utamanya, setiap buruh di Eropa (kecuali segelintir kaum imperialis-sosial yang tak bertulang punggung) akan menyambut Kautsky dengan tawa yang sama kerasnya.
Kautsky telah memberikan Martov bantuan yang tak terduga dengan mengembangkan kesalahannya menjadi sebuah absurditas yang mencolok. Coba kita lihat apa argumen Kautsky sebenarnya.
Soviet merangkul semua pekerja upahan. Metode-metode perjuangan ekonomi dan politik kaum proletariat yang lama sudah tidak memadai dalam melawan kapital finans. Soviet punya peran yang besar di masa depan, dan tidak hanya di Rusia. Mereka akan memainkan peran yang menentukan di dalam pertempuran-pertempuran besar yang menentukan antara kapital dan buruh di Eropa. Inilah yang dikatakan oleh Kautsky.
Luar biasa. Tetapi bukankah “pertempuran-pertempuran yang menentukan antara kapital dan buruh” akan menentukan kelas mana yang akan merebut kekuasaan negara?
Tidak boleh sama sekali! Ini haram!
Soviet, yang merangkul semua pekerja upahan, tidak boleh menjadi organisasi negara di dalam pertempuran-pertempuran “yang menentukan”!
Tetapi apa itu negara?
Negara tidak lain adalah mesin bagi satu kelas untuk menindas kelas yang lainnya.
Oleh karenanya, kelas yang tereksploitasi, kaum pelopor dari semua rakyat pekerja dan rakyat yang tereksploitasi di masyarakat modern, harus berusaha bergerak ke “pertempuran-pertempuran menentukan antara kapital dan buruh”, tetapi tidak boleh menyentuh mesin negara yang digunakan oleh kapital untuk menindas buruh! Mereka tidak boleh menghancurkan mesin tersebut! Mereka tidak boleh menggunakan organisasinya yang sepenuhnya-inklusif untuk menindas kaum pengeksploitasi!
Luar biasa, Tn. Kautsky, luar biasa! “Kita” mengakui perjuangan kelas – seperti halnya semua kaum liberal mengakuinya, yakni tanpa penggulingan kaum borjuasi ...
Di sinilah perpecahan Kautsky dengan Marxisme dan sosialisme menjadi jelas. Sesungguhnya, ini adalah pembelotan ke kamp borjuasi, yang siap memberikan segala macam konsesi kecuali transformasi organisasi kelas tertindas menjadi organisasi negara. Kautsky sudah tidak bisa lagi menyelamatkan posisinya yang ingin mendamaikan segalanya dan menghindari semua kontradiksi-kontradiksi utama dengan kata-kata.
Kautsky sepenuhnya menolak perebutan kekuasaan negara oleh kelas buruh, atau dia menerima bahwa kelas buruh boleh mengambil alih mesin negara borjuis yang lama. Tetapi dia tidak akan pernah menerima bahwa kelas buruh harus menghancurkan negara borjuis yang lama dan menggantikannya dengan mesin proletar yang baru. Bagaimanapun argumen-argumen Kautsky “diinterpretasikan”, atau “dijelaskan”, perpecahan dia dengan Marxisme dan pembelotan dia ke kamp borjuasi adalah jelas.
Di “Manifesto Komunis”, Marx menjelaskan bentuk negara seperti apa yang dibutuhkan oleh kelas buruh yang menang. Dia menulis: “negara, yakni, kelas proletar yang terorganisir sebagai kelas penguasa.” Sekarang ada seseorang, yang masih mengklaim dirinya sebagai seorang Marxis, maju ke depan dan menyatakan bahwa kaum proletariat, yang sepenuhnya terorganisir dan mengobarkan “pertempuran menentukan” melawan kapital, tidak boleh mengubah organisasi kelasnya menjadi organisasi negara. Di sini Kautsky telah menunjukkan “takhayul mengenai negara”, yang di Jerman, seperti yang ditulis oleh Engels pada 1891, “telah merasuk ke dalam pemikiran umum kaum borjuasi dan bahkan banyak buruh.” Buruh, berjuanglah! -- Para filistin kita “setuju” dengan ini (semua kaum borjuasi juga “setuju” dengan ini, karena buruh tetap akan berjuang, dan satu-satunya hal yang perlu dilakukan adalah mencari cara untuk menumpulkan pisau mereka) – berjuanglah, tetapi jangan berani-berani menang! Jangan hancurkan mesin negara borjuis, jangan gantikan “organisasi negara” borjuis dengan “organisasi negara” proletar!
Siapa pun yang secara jujur setuju dengan gagasan Marxis bahwa negara tidak lain adalah sebuah mesin yang digunakan satu kelas untuk menindas kelas yang lain, dan yang telah mempertimbangkan kebenaran ini, tidak akan pernah dapat meraih kesimpulan yang konyol bahwa organisasi proletar yang dapat mengalahkan kapital finans tidak boleh mengubah dirinya menjadi organisasi negara. Pada poin inilah tersibak kaum borjuis kecil yang percaya bahwa “setelah semuanya” negara adalah sesuatu yang ada di luar kelas atau di atas kelas. Mengapa kelas proletariat, “sebuah kelas”, diperbolehkan mengobarkan perjuangan yang tak kunjung padam melawan kapital¸ yang menindas tidak hanya proletariat tetapi juga seluruh rakyat, seluruh borjuasi kecil, seluruh kaum tani, tetapi “kelas yang satu ini” tidak diperbolehkan mengubah organisasinya menjadi sebuah organisasi negara? Karena kaum borjuis kecil takut terhadap perjuangan kelas, dan tidak dapat membawa perjuangan kelas ke kesimpulan logisnya, ke tujuan utamanya.
Kautsky menjadi bingung sendiri dan mengekspos dirinya sendiri. Dia sendiri mengakui bahwa Eropa sedang bergerak ke arah pertempuran-pertempuran menentukan antara kapital dan buruh, dan bahwa metode-metode perjuangan ekonomi dan politik kelas proletariat yang lama sudah tidak memadai. Tetapi metode-metode lama ini justru adalah penggunaan demokrasi borjuis. Oleh karenanya ...?
Tetapi Kautsky takut memikirkan kelanjutannya.
... Oleh karenanya hanya seorang reaksioner, seorang musuh kelas buruh, seorang kacung borjuasi, yang sekarang dapat memalingkan mukanya ke masa lalu yang sudah usang, menghiasi demokrasi borjuis dan berkoar-koar tentang demokrasi murni. Demokrasi borjuis dulunya progresif dibandingkan dengan abad pertengahan, dan ia harus digunakan. Tetapi sekarang ia sudah tidak lagi memadai bagi kelas buruh. Sekarang kita harus menatap ke depan alih-alih ke belakang – untuk menggantikan demokrasi borjuis dengan demokrasi proletariat. Dan sementara kerja persiapan untuk revolusi proletariat, pembentukan dan pelatihan pasukan proletar adalah mungkin (dan diperlukan) di dalam kerangka negara demokratik-borjuis, sekarang ketika kita telah sampai pada tahapan “pertempuran menentukan”, untuk membatasi proletariat ke dalam kerangka ini berarti mengkhianati perjuangan proletariat, berarti menjadi seorang pengkhianat.
Kautsky telah membuat dirinya sendiri tampak konyol dengan mengulangi argumen Martov tanpa mengetahui bahwa dalam kasus Martov argumen ini adalah berdasarkan argumen lain yang dia, Kautsky, tidak gunakan! Martov mengatakan (dan Kautsky mengulanginya) bahwa Rusia belumlah matang untuk sosialisme. Dari ini, secara logis maka terlalu dini untuk mentransformasi Soviet dari organ perjuangan menjadi organisasi negara (baca: adalah waktu yang tepat untuk mentransformasi Soviet, dengan bantuan para pemimpin Menshevik, menjadi instrumen untuk menundukkan kaum buruh ke bawah kaum borjuasi imperialis). Akan tetapi, Kautsky tidak dapat mengatakan secara terbuka bahwa Eropa belumlah matang untuk sosialisme. Pada 1909, ketika dia belumlah menjadi seorang pengkhianat, dia menulis bahwa tidak ada alasan untuk takut terhadap revolusi yang prematur, bahwa siapa pun yang menyangkal revolusi karena takut akan kekalahan adalah seorang pengkhianat. Kautsky tidak berani membantah ini secara terbuka. Dan oleh karenanya kita mendapati absurditas, yang dengan sepenuhnya menyibak kebodohan dan kepengecutan dari seorang borjuis kecil: di satu pihak, Eropa sudah matang untuk sosialisme dan bergerak ke arah pertempuran menentukan antara kapital dan buruh; tetapi, di lain pihak, organisasi perjuangan (yakni organisasi yang lahir, tumbuh, dan bertambah kuat melalui perjuangan), organisasi proletariat, sang pelopor dan organisator, sang pemimpin rakyat tertindas, tidak boleh diubah menjadi organisasi negara.
Dari sudut pandang politik praktis, gagasan bahwa Soviet diperlukan sebagai organisasi perjuangan tetapi tidak boleh diubah menjadi organisasi negara adalah jauh lebih absurd dibandingkan dari sudut pandang teori. Bahkan di masa damai, ketika tidak ada situasi revolusioner, perjuangan massa buruh dalam melawan kapitalis – misalnya, pemogokan massa – menimbulkan rasa permusuhan yang besar di antara kedua belah pihak, menimbulkan semangat yang menggebu-gebu di dalam perjuangan, di mana kaum borjuasi terus bersikeras bahwa mereka masihlah “penguasa di rumah mereka sendiri:”, dsb. Dan di masa revolusi, ketika kehidupan politik mencapai titik didih, sebuah organisasi seperti Soviet, yang merangkul semua pekerja di semua cabang industri, semua tentara, dan semua lapisan pekerja dan kaum miskin desa – organisasi seperti ini, secara otomatis, seiring dengan perkembangan perjuangan, oleh karena “logika” sederhana dari menyerang dan bertahan, niscaya berbenturan dengan masalah ini secara langsung. Usaha untuk mengambil posisi tengah dan untuk “mendamaikan” kelas proletariat dengan kelas borjuasi adalah kebodohan yang teramat besar dan pasti menemui kegagalan. Inilah yang terjadi di Rusia pada ceramah dari Martov dan kaum Menshevik lainnya, dan ini akan terjadi di Jerman dan negeri-negeri lain bila Soviet berhasil berkembang dalam skala yang luas, berhasil bersatu dan menjadi kuat. Untuk mengatakan kepada Soviet: bertarunglah, tetapi jangan rebut kekuasaan negara ke tanganmu, jangan menjadi organisasi negara – ini sama dengan berceramah mengenai kolaborasi kelas dan “perdamaian sosial” antara proletariat dan borjuasi. Sungguh tidak masuk akal untuk bahkan berpikir bahwa di tengah perjuangan yang tajam posisi seperti ini tidak akan berakhir pada kekalahan yang telak. Tetapi nasib Kautsky adalah untuk duduk di antara dua kursi. Dia pura-pura tidak setuju secara teoritis dengan kaum oportunis dalam semua hal, tetapi dalam praktek dia setuju dengan mereka dalam semua hal yang esensial (yakni, dalam semua hal yang berkaitan dengan revolusi).
Majelis Konstituante dan Republik Soviet
Masalah Majelis Konstituante dan pembubarannya oleh kaum Bolshevik adalah inti dari seluruh pamflet Kautsky. Dia terus kembali ke topik ini, dan seluruh karya dari pemimpin ideologi Internasional Kedua ini dipenuhi dengan sindiran-sindiran bahwa kaum Bolshevik telah “menghancurkan demokrasi” (lihat salah satu kutipan Kautsky di atas). Masalah ini adalah masalah yang sungguh-sungguh menarik dan penting, karena di sini relasi antara demokrasi borjuasi dan demokrasi proletariat diajukan ke hadapan revolusi dalam bentuk yang praktis. Mari kita lihat bagaimana “teoretikus Marxis” kita menjawab masalah ini.
Dia mengutip “Tesis Majelis Konstituante”, yang ditulis oleh saya dan diterbitkan di koran Pravda pada 26 Desember 1917. Kita mungkin akan berpikir bahwa dengan mengutip tulisan saya Kautsky telah melakukan pendekatan yang serius terhadap masalah ini. Tetapi lihat bagaimana dia mengutipnya. Dia tidak mengatakan bahwa ada 19 tesis; dia tidak mengatakan bahwa tesis-tesis ini mendiskusikan relasi antara republik borjuis yang lazim dengan Majelis Konstituante dan republik Soviet, dan juga sejarah perbedaan di dalam revolusi kita antara Majelis Konstituante dengan kediktatoran proletariat. Kautsky mengabaikan semua ini, dan hanya mengatakan kepada para pembaca bahwa “kedua dari mereka (tesis-tesis ini) adalah cukup penting”: yang satu menyatakan bahwa perpecahan di antara kaum Sosialis-Revolusioner terjadi setelah pemilu Majelis Konstituante, tetapi sebelum Majelis Konstituante ini bertemu (Kautsky tidak menyebutkan bahwa ini adalah tesis kelima); dan tesis yang satu lagi, bahwa republik Soviet secara umum adalah bentuk demokrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Majelis Konstituante (Kautsky tidak menyebutkan bahwa ini adalah tesis ketiga).
Hanya dari tesis ketiga ini Kautsky mengutip dengan setengah lengkap, yakni baris-baris berikut ini:
“Republik Soviet bukan hanya sebuah tipe institusi demokrasi yang lebih tinggi (dibandingkan dengan republik borjuis lazimnya yang dimahkotai oleh Majelis Konstituante), tetapi juga adalah satu-satunya bentuk institusi demokrasi yang dapat menjadi transisi yang paling tidak menyakitkan ke sosialisme.” (Kautsky menghapus kata “lazimnya” dan kata-kata pengantar dari tesis tersebut: “Untuk transisi dari sistem borjuis ke sistem sosialis, untuk kediktatoran proletariat”).
Setelah mengutip kata-kata ini, Kautsky, dengan ironi yang luar biasa, menyatakan:
“Sungguh menyedihkan bahwa kesimpulan ini diraih hanya setelah kaum Bolshevik menemui diri mereka sebagai minoritas di dalam Majelis Konstituante. Sebelum itu, tidak ada yang menuntut diselenggarakannya Majelis Konstituante lebih bersemangat daripada Lenin.”
Inilah yang secara harfiah ditulis oleh Kautsky di halaman 31 dari bukunya!
Sungguh mengagumkan! Hanya seorang penjilat borjuasi yang dapat memalsukan ini guna memberi kesan kepada para pembaca bahwa semua yang dikatakan oleh kaum Bolshevik mengenai bentuk negara yang tinggi adalah sebuah rekaan yang hanya muncul setelah mereka menemui diri mereka sebagai minoritas di dalam Majelis Konstituante! Kebohongan seperti ini hanya dapat diucapkan oleh seorang bajingan yang telah menjual dirinya ke kaum borjuasi, atau, sama buruknya, seorang yang mempercayai Axelrod dan menyembunyikan sumber informasinya.
Bagi semua orang yang tahu bahwa pada hari tibanya saya di Rusia pada 4 April 1917, saya di depan publik membaca tesis saya di mana saya memproklamirkan superioritas tipe negara Komune Paris dibandingkan republik parlementer borjuis. Setelah itu, saya berulang kali menyatakan ini di koran. Misalnya, di sebuah pamflet mengenai partai-partai politik, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan pada Januari 1918 di koran Evening Post di New York. Lebih dari itu, Konferensi Partai Bolshevik pada akhir April 1917 mengadopsi sebuah resolusi yang menyatakan bahwa republik proletariat dan tani adalah lebih superior dibandingkan dengan republik parlementer borjuis, dan bahwa Partai kami tidak akan puas dengan yang belakangan ini, dan bahwa Program Partai akan diubah sesuai dengan situasi.
Di hadapan fakta-fakta ini, nama apa yang bisa diberikan kepada muslihat Kautsky untuk meyakinkan para pembaca Jermannya bahwa saya telah dengan menggebu-gebu menuntut diselenggarakannya Majelis Konstituante, dan bahwa saya mulai “mengecilkan” martabat dan kehormatan Majelis Konstituante hanya setelah kaum Bolshevik menemui dirinya sebagai minoritas di dalamnya? Bagaimana seorang bisa memaafkan muslihat seperti ini? Apa kita bisa mengatakan bahwa Kautsky tidak mengetahui fakta-fakta yang ada? Bila demikian, mengapa dia menulis mengenai topik ini? Atau mengapa dia tidak secara jujur mengumumkan bahwa dia menulis berdasarkan informasi yang disediakan oleh kaum Menshevik seperti Stein, Axelrod, dan yang lainnya? Dengan berpura-pura objektif, Kautsky ingin menyembunyikan perannya sebagai pelayan Menshevik, yang sakit hati karena mereka telah dikalahkan.
Akan tetapi, ini kecil dibandingkan apa yang akan datang.
Mari kita berasumsi bahwa Kautsky tidak dapat (?) memperoleh dari para informannya terjemahan resolusi-resolusi dan pernyataan-pernyataan Bolshevik mengenai masalah apakah kaum Bolshevik akan merasa puas atau tidak dengan republik parlementer demokratik borjuis. Mari kita asumsikan ini, walaupun ini adalah asumsi yang luar biasa. Tetapi Kautsky secara langsung menyebut tesis saya pada 26 Desember 1917, di halaman 30 dari bukunya.
Apa dia tidak tahu tesis ini dalam bentuknya yang lengkap, atau dia hanya tahu dari apa yang diterjemahkan untuknya oleh Stein, Axelrod, dkk? Kautsky mengutip tesis ketiga mengenai masalah fundamental apakah kaum Bolshevik, sebelum pemilu Majelis Konstituante, menyadari bahwa republik Soviet adalah lebih superior dibandingkan dengan republik borjuis, dan apakah mereka memberitahu rakyat mengenai ini. Tetapi dia tetap bungkam mengenai tesis kedua.
Tesis yang kedua adalah seperti berikut:
“Sementara menuntut diselenggarakannya Majelis Konstituante, Sosial Demokrasi Revolusioner semenjak permulaan Revolusi 1917 telah berulang kali menekankan bahwa republik Soviet adalah bentuk demokrasi yang lebih tinggi daripada republik borjuis lazimnya dengan Majelis Konstituante.” (Italik dari saya)
Untuk menggambarkan kaum Bolshevik sebagai orang-orang yang tidak prinsipil, sebagai “kaum oportunis revolusioner” (ini adalah ungkapan yang digunakan oleh Kautsky di bukunya, saya lupa dalam kaitan apa tepatnya), Tn. Kautsky telah menyembunyikan dari para pembaca Jermannya fakta bahwa tesis ini merujuk langsung pada deklarasi-deklarasi yang telah “berulang kali” dinyatakan!
Ini adalah metode yang dangkal, buruk, dan memuakkan! Inilah bagaimana caranya dia menghindari masalah teori!
Apakah benar atau tidak bahwa republik parlementer demokratik-borjuis lebih inferior dibandingkan republik tipe Komune Paris atau Soviet? Inilah masalah utamanya, dan Kautsky telah menghindar darinya. Kautsky telah “melupakan” semua yang telah dikatakan oleh Marx dalam analisanya terhadap Komune Paris. Dia juga telah “melupakan” surat Engels kepada Bebel pada 28 Maret 1875, di mana gagasan Marx yang sama ini diformulasikan dengan teramat jelas dan mudah dipahami: “Komune sudah bukan lagi negara dalam makna kata yang sesungguhnya.”
Di sini, teoretikus Internasional Kedua yang paling terkemuka, di dalam pamflet mengenai Kediktatoran Proletariat dan terutama berbicara mengenai Rusia, di mana masalah mengenai bentuk negara yang lebih tinggi daripada republik demokratik borjuis telah dikedepankan secara langsung dan berulang kali, mengabaikan masalah ini. Apa bedanya ini dengan pembelotan ke kamp borjuasi?
(Dalam hal ini juga, Kautsky hanya mengekor kaum Menshevik Rusia. Di antara kaum Menshevik Rusia, banyak yang tahu “semua kutipan” dari Marx dan Engels. Namun tidak ada satu pun kaum Menshevik, dari April sampai Oktober 1917 dan dari Oktober 1917 sampai Oktober 1918, yang berusaha sekalipun untuk memeriksa masalah mengenai tipe negara Komune Paris. Plekhanov juga menghindari masalah ini. Pada kenyataannya dia harus menghindari ini.)
Mendiskusikan pembubaran Majelis Konstituante dengan orang-orang yang mengklaim dirinya sosialis dan Marxis, tetapi pada kenyataannya untuk masalah fundamental telah membelot ke kubu borjuasi, yakni masalah tipe negara Komune Paris, adalah seperti melempar mutiara ke seekor babi. Kita cukup menyajikan teks lengkap dari tesis saya mengenai Majelis Konstituante sebagai lampiran untuk buku ini. Para pembaca lalu dapat melihat bagaimana masalah ini diajukan pada 26 Desember 1917, dari sudut pandang teori, sejarah, dan politik praktis.
Bila Kautsky telah sepenuhnya meninggalkan Marxisme sebagai seorang teoretikus, dia setidaknya harus memeriksa masalah perjuangan antara Soviet dengan Majelis Konstituante sebagai seorang sejarawan. Dari banyak karya-karyanya kita tahu bahwa Kautsky tahu bagaimana menjadi seorang sejarawan Marxis, dan karya-karyanya tersebut akan tetap jadi bahan bacaan kaum proletariat walaupun dia telah berkhianat. Tetapi mengenai masalah ini, Kautsky, bahkan sebagai seorang sejarawan, memalingkan punggungnya ke kebenaran, mengabaikan fakta-fakta yang sudah terbukti dan bertingkah seperti seorang penjilat. Dia ingin menggambarkan kaum Bolshevik sebagai orang-orang yang tidak prinsipil dan dia mengatakan kepada para pembacanya bahwa kaum Bolshevik mencoba untuk berdamai dengan Majelis Konstituante sebelum membubarkannya. Sama sekali tidak ada yang salah dengan ini. Tidak ada yang ingin kami tarik kembali. Saya berikan tesis kami dengan lengkap dan di sana dikatakan dengan sejelas-jelasnya: Tuan-tuan borjuis kecil yang terombang-ambing, yang ada di dalam Majelis Konstituante, tunduk pada kediktatoran proletariat atau kami akan menaklukkan kalian dengan “metode revolusioner” (tesis 18 dan 19).
Inilah bagaimana seorang proletariat yang benar-benar revolusioner selalu bersikap dan akan selalu bersikap terhadap para borjuis kecil yang terombang-ambing.