Muistoja lapsen ja hopeahapsen 3 Kuvauksia
Chapter 2
Lebih jauh lagi, apakah terdapat sesuatu pada tahun 1870an yang membuat Inggris dan Amerika harus dikecualikan sehubungan dengan apa yang kita diskusikan saat ini? Seharusnya menjadi jelas bagi setiap orang yang memahami persyaratan-persyaratan ilmiah dalam hubungannya dengan permasalahan-permasalahan kesejarahan bahwa pertanyaan ini harus diajukan. Bila kita gagal mengajukannya, ini sama halnya dengan memalsukan pengetahuan ilmiah, sama halnya dengan melakukan sofisme. Dan, setelah mengajukan pertanyaan ini, tidak ada keraguan sama sekali bahwa jawabannya adalah: kediktatoran revolusioner proletariat merupakan kekerasan terhadap kaum borjuasi; dan kekerasan semacam itu terutama menjadi sebuah kebutuhan karena keberadaan militerisme dan birokrasi, sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh Marx dan Engels berulang kali secara rinci (terutama dalam tulisan mereka “Perang Sipil di Prancis” dan dalam pengantar dari karya tersebut). Justru institusi-institusi inilah yang tidak eksis di Inggris dan Amerika pada tahun 70an, ketika Marx membuat pengamatannya (mereka sekarang eksis di Inggris dan di Amerika)!
Kautsky harus menggunakan tipu daya di setiap langkahnya untuk menutupi pengkhianatannya!
Dan perhatikan bagaimana dia secara tidak sengaja menunjukkan jati dirinya ketika dia menulis: “secara damai, yakni dengan cara yang demokratis”!
Dalam mendefinisikan kediktatoran, Kautsky berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan dari para pembaca karakter fundamental dari konsep ini, yaitu kekerasan revolusioner. Namun sekarang sudah kelihatan kebenarannya: ini adalah masalah perbedaan antara revolusi damai dan revolusi kekerasan.
Inilah duduk perkaranya. Kautsky harus menggunakan segala macam tipu muslihat, sofisme dan pemalsuan hanya untuk menyelamatkan dirinya dari revolusi kekerasan, dan untuk menyembunyikan penolakannya terhadap revolusi kekerasan dan pembelotannya ke sisi kebijakan buruh liberal, yakni ke sisi kaum borjuasi. Inilah duduk perkaranya.
Kautsky “sang sejarawan” begitu tanpa malunya memalsukan sejarah, sampai-sampai dia “melupakan” fakta fundamental bahwa kapitalisme pra-monopoli -- yang sebenarnya mencapai puncaknya pada periode 1870an -- karena karakter-karakter fundamental ekonominya, memiliki karakter yang unik, yakni secara relatif sangat berpihak pada perdamaian dan kebebasan. Imperialisme di lain pihak, yakni kapitalisme monopoli, yang akhirnya matang pada abad ke-20, karena karakter-karakter fundamental ekonominya, memiliki karakter yang paling tidak berpihak pada perdamaian dan kebebasan, yang mana perkembangan militernya mencapai tingkat tertinggi dan universal. Bila kita “gagal mempertimbangkan” ini dalam mendiskusikan sejauh mana sebuah revolusi damai atau kekerasan adalah hal yang tipikal atau hal yang memungkinkan, maka kita telah jatuh ke level seorang kacung kaum borjuasi.
Muslihat yang kedua. Komune Paris merupakan kediktatoran proletariat, namun kediktatoran itu dipilih melalui pemilu yang universal, yakni tanpa merampas hak-hak demokrasi dari kaum borjuasi, yakni “secara demokratis”. Dan Kautsky berkata dengan begitu yakinnya: “… kediktatoran proletariat bagi Marx” (atau menurut Marx) adalah “sebuah kondisi yang secara niscaya mengalir dari demokrasi murni, bila proletariat membentuk mayoritas.” (bei überwiegendem Proletariat, S. 21)
Argumen Kautsky ini begitu luar biasanya sehingga membuat seseorang menderita embarras de richesses (rasa malu karena kelimpahan ... keberatan-keberatan yang dapat dilemparkan terhadap argumen tersebut). Pertama-tama, semua orang mengetahui dengan sangat baik bahwa kepemimpinan dan lapisan-lapisan atas kaum borjuasi telah melarikan diri dari Paris ke Versailles. Di Versailles ada “sang sosialis” Louis Blanc – yang membuktikan kekeliruan dari pernyataan Kautsky bahwa “semua tendensi” sosialisme mengambil bagian dalam Komune Paris. Sungguh menggelikan kalau pembagian penduduk Paris ke dalam dua kamp yang saling memusuhi, di mana salah satunya adalah seksi borjuasi yang militan dan aktif secara politik, digambarkan sebagai “demokrasi murni” dengan “pemilu universal”.
Yang kedua, Komune Paris melancarkan perang melawan Versailles sebagai pemerintahan buruh Prancis melawan pemerintahan borjuis. Apa hubungannya “demokrasi murni” dan “pemilu universal” dengan ini, ketika Paris sedang menentukan nasib Prancis? Ketika Marx menyatakan pendapatnya bahwa Komune Paris telah melakukan sebuah kesalahan ketika ia gagal menyita bank, yang adalah milik seluruh Prancis, apa dia berangkat dari prinsip-prinsip dan praktek “demokrasi murni”?
Pada kenyataannya, jelas kalau Kautsky menulis di sebuah negeri di mana polisi melarang rakyat untuk tertawa “secara bergerombolan,” kalau tidak Kautsky sudah akan terbunuh oleh tawa ejekan.
Ketiga, mari saya ingatkan Tn. Kautsky, yang telah menghafal Marx dan Engels dengan sangat baik, penilaian berikut ini yang diberikan oleh Engels terhadap Komune Paris dari sudut pandang ... “demokrasi murni”:
“Apakah orang-orang ini” (kaum anti-otoriter) “pernah melihat sebuah revolusi? Sebuah revolusi tentunya adalah hal yang paling otoriter yang ada; sebuah tindakan di mana satu bagian dari penduduk memaksakan kehendaknya atas bagian penduduk lainnya dengan penggunaan senapan, bayonet dan meriam – yang semuanya adalah cara-cara yang sangatlah otoriter. Dan pihak yang menang harus mempertahankan kekuasaannya dengan menggunakan senjata-senjatanya yang akan mengilhami teror di antara kaum reaksioner. Apakah Komune Paris dapat bertahan lebih dari sehari jika tidak menggunakan otoritas dari rakyat yang bersenjata untuk melawan kaum borjuasi? Sebaliknya, apakah kita tidak dapat menyalahkan Komune Paris karena begitu sedikit menggunakan otoritas tersebut?”
Inilah “demokrasi murni” Anda! Engels akan mencibir para borjuis kecil vulgar, para “Sosial Demokrat” (di Prancis pada tahun 1840an dan di Eropa secara umum pada 1915-1918), yang berbicara mengenai “demokrasi murni” di dalam masyarakat kelas.
Namun, cukup sampai sini saja. Mustahil untuk menyebut satu demi satu berbagai absurditas Kautsky, karena setiap kalimat yang dia ucapkan adalah sumur pengkhianatan yang tak berdasar.
Marx dan Engels menganalisis Komune Paris secara detil dan menunjukkan bahwa Komune Paris berusaha menghancurkan dan membubarkan “mesin negara yang sudah jadi”. Marx dan Engels menganggap kesimpulan ini begitu penting sehingga inilah satu-satunya perubahan yang mereka perkenalkan pada tahun 1872 ke dalam program Manifesto Komunis yang sudah (sebagian) “usang”. Marx dan Engels menunjukkan bahwa Komune Paris telah membubarkan angkatan bersenjata dan birokrasi, telah membubarkan parlementerisme, telah menghancurkan “negara, yakni bonggol yang parasitik itu”, dan sebagainya. Namun Kautsky yang bijaksana, justru mengenakan topi tidurnya, mengulang-ulang dongengnya tentang “demokrasi murni”, yang sudah diceritakan ribuan kali oleh para profesor kaum liberal.
Tidak mengherankan jika Rosa Luxemburg pada 4 Agustus 1915 menyatakan bahwa Sosial Demokrasi Jerman tak ubahnya mayat yang membusuk.
Muslihat yang ketiga. “Ketika kita berbicara tentang kediktatoran sebagai sebuah bentuk pemerintahan, kita tidak dapat berbicara tentang kediktatoran kelas, karena sebuah kelas sebagaimana yang sudah kita tunjukkan, hanya dapat berkuasa tetapi tidak memerintah…“ Hanya “organisasi” dan “partai” yang dapat memerintah.
Ini adalah sebuah kekacauan, sebuah kekacauan yang menjijikkan, Tn. “Penasihat yang kacau-balau”. Kediktatoran bukanlah sebuah “bentuk pemerintahan”; ini adalah omong kosong yang konyol. Dan Marx tidak berbicara tentang “bentuk pemerintahan” namun bentuk atau tipe negara. Ini adalah dua hal yang sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Juga keliru kalau kita mengatakan bahwa sebuah kelas tidak dapat memerintah: absurditas seperti ini hanya dapat dikemukakan oleh seorang “kretin parlementer” yang tidak bisa melihat apa-apa selain parlemen borjuis dan tidak menyadari apapun selain “partai-partai berkuasa”. Setiap negeri di Eropa akan memberikan kepada Kautsky banyak contoh pemerintahan oleh kelas yang berkuasa, seperti misalnya, pemerintahan para tuan tanah di abad pertengahan, kendati organisasi mereka yang tidak memadai.
Pendek kata: Kautsky telah, dengan cara yang sungguh tidak ada duanya, telah mendistorsi konsep kediktatoran proletariat, dan telah mengubah Marx menjadi seorang liberal. Dalam kata lain, dia sendiri telah tenggelam ke level seorang liberal yang mengutarakan frase-frase kosong mengenai “demokrasi murni,” mengabaikan demokrasi borjuis dan mengabaikan konten kelasnya, dan di atas segalanya tidak berani berbicara mengenai penggunaan kekerasan revolusioner oleh kelas yang tertindas. Dengan “menginterpretasikan” konsep “kediktatoran revolusioner proletariat” seperti demikian, di mana dia menghapus kekerasan revolusioner dari kelas tertindas terhadap penindasnya, Kautsky telah memecahkan rekor dunia dalam mendistorsi Marx. Bernstein sang pengkhianat terlihat seperti seekor anak anjing dibandingkan dengan Kautsky sang pengkhianat.
Demokrasi Borjuis dan Demokrasi Proletariat
Masalah yang dikacau-balaukan oleh Kautsky sesungguhnya adalah ini.
Bila kita tidak ingin menghina akal sehat dan sejarah, jelas bahwa kita tidak bisa berbicara mengenai “demokrasi murni” selama kelas-kelas yang berbeda eksis; kita hanya dapat berbicara mengenai demokrasi kelas. (Mari kita katakan dalam tanda kurung bahwa “demokrasi murni” bukan hanya sebuah frase yang bodoh, yang mengungkapkan ketidakpahaman mengenai perjuangan kelas dan watak negara, tetapi juga sebuah frase yang kosong, karena dalam masyarakat komunis demokrasi akan melayu dalam proses di mana ia berubah dan menjadi sebuah kebiasaan, tetapi tidak akan pernah menjadi demokrasi “murni”.)
“Demokrasi murni” adalah sebuah frase tidak-jujur dari seorang liberal yang ingin menipu para buruh. Sejarah mengenal demokrasi borjuis yang menggantikan feodalisme, dan demokrasi proletariat yang akan menggantikan demokrasi borjuis.
Ketika Kautsky membaktikan puluhan lembar halaman untuk “membuktikan” bahwa demokrasi borjuis adalah sesuatu yang progresif dibandingkan dengan abad pertengahan, dan bahwa kaum proletariat harus menggunakan demokrasi ini dalam perjuangannya melawan kaum borjuasi, ini pada kenyataannya tidak lebih dari omong kosong liberal untuk menipu buruh. Ini adalah sebuah truisme, tidak hanya bagi Jerman yang terpelajar, tetapi juga bagi Rusia yang tidak terpelajar. Kautsky sesungguhnya melemparkan debu “pintar” ke mata buruh ketika, dengan sombongnya, dia berbicara mengenai Weitling dan kaum Jesuit Paraguay dan banyak hal lainnya, guna menghindari berbicara mengenai esensi borjuis dari demokrasi modern, atau demokrasi kapitalis.
Kautsky mengambil dari Marxisme apa yang dapat diterima oleh kaum liberal, oleh kaum borjuasi (kritik terhadap Abad Pertengahan, dan peran historis yang progresif dari kapitalisme secara umum dan demokrasi kapitalis khususnya), dan mencampakkan, bungkam, dan mengabaikan semua yang ada di dalam Marxisme yang tidak dapat diterima oleh kaum borjuasi (kekerasan revolusioner kaum proletariat terhadap kaum borjuasi dalam usahanya untuk menghancurkannya). Inilah mengapa Kautsky, karena posisi objektifnya dan tidak peduli apa kepercayaan subjektifnya, secara tak terelakkan membuktikan dirinya sebagai seorang kacung kaum borjuasi.
Demokrasi borjuasi, walaupun adalah sebuah kemajuan historis yang besar dibandingkan dengan abad pertengahan, akan selalu terbatas, tidak lengkap, dan munafik, sebuah surga untuk yang kaya dan jebakan dan tipuan bagi yang tertindas, bagi yang miskin. Kebenaran inilah yang membentuk bagian paling penting dari ajaran Marx, yang gagal dipahami oleh Kautsky “sang Marxis”. Mengenai isu fundamental ini Kautsky memberikan “rasa bahagia” kepada kaum borjuasi, alih-alih kritik ilmiah terhadap kondisi-kondisi yang membuat setiap demokrasi borjuis sebagai sebuah demokrasi untuk kaum kaya.
Mari kita ingatkan Tn. Kautsky yang sangat terpelajar ini mengenai proposisi teoritis Marx dan Engels, yang telah begitu memalukan dilupakan oleh sang formalis (untuk menyenangkan kaum borjuasi), dan lalu kita akan jelaskan masalah ini dengan sejelas mungkin.
Tidak hanya negara zaman kuno dan feodal, tetapi juga “negara modern adalah sebuah instrumen penindasan kerja-upahan oleh kapital” (Engels, dalam karyanya mengenai negara). “Karena negara hanyalah sebuah institusi transisional yang digunakan di dalam perjuangan, di dalam revolusi, untuk menekan musuh-musuh dengan kekerasan, maka adalah omong kosong besar untuk berbicara mengenai ‘negara rakyat yang bebas’; selama kaum proletariat masih membutuhkan negara, mereka memerlukannya bukan untuk kepentingan kebebasan tetapi untuk menekan musuh-musuhnya, dan segera setelah mungkin berbicara mengenai kebebasan maka negara akan berhenti eksis.” (Engels, dalam suratnya kepada Bebel, 28 Maret, 1875) “Akan tetapi, pada kenyataannya negara tidak lain adalah sebuah mesin penindas satu kelas oleh kelas yang lain, dan ini benar di dalam republik demokratis seperti halnya di dalam monarki” (Engels, Pembukaan untuk “Perang Sipil di Prancis” oleh Marx). Pemilu universal adalah “alat ukur kedewasaan dari kelas buruh. Ia tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menjadi lebih dari ini di bawah negara yang ada hari ini.” (Engels, dalam karyanya mengenai negara. Tn. Kautsky mengulang-ulang bagian pertama dari kalimat Engels ini, yang dapat diterima oleh kaum borjuasi. Tetapi bagian kedua yang dalam italik, yang tidak dapat diterima oleh kaum borjuasi, Kautsky sang pengkhianat bungkam!) “Komune harus menjadi badan kerja, bukan badan parlementer. Ia harus menjadi badan legislatif dan eksekutif pada saat yang sama ... Alih-alih memutuskan setiap 3 atau 6 tahun anggota kelas penguasa yang mana yang akan mewakili dan menindas (ver- und zertreten) rakyat di Parlemen, pemilu universal harus melayani rakyat yang tergabungkan di dalam Komune, seperti halnya hak pilih individual melayani setiap pemilik modal dalam mencari buruh, mandor, dan akuntan untuk bisnisnya” (Marx, dalam karyanya mengenai Komune Paris, “Perang Sipil di Prancis”).
Setiap proposisi di atas, yang sangat diketahui oleh Tn. Kautsky yang sangat terpelajar ini, adalah tamparan di pipinya dan mengekspos pengkhianatannya. Di dalam pamfletnya tidak kita temukan satu pun pemahaman mengenai kebenaran-kebenaran ini. Seluruh pamfletnya adalah penghinaan terhadap Marxisme!
Mari kita lihat hukum-hukum dasar dari negara-negara modern, mari kita lihat administrasi mereka, kebebasan berkumpul, kebebasan pers, atau “kesetaraan semua warga negara di mata hukum,” dan kita akan temui di setiap langkah bukti kemunafikan dari demokrasi borjuis, yang sangat dikenal oleh setiap buruh yang sadar-kelas dan jujur. Tidak ada satu pun negara, sedemokratis apapun, yang tidak punya celah di dalam hukum mereka yang menjamin kaum borjuasi untuk bisa mengirim tentara untuk menindas buruh, untuk menyatakan hukum darurat, dan sebagainya, ketika ada “pelanggaran ketertiban umum,” dan ketika kelas tertindas “melanggar” posisi perbudakannya dan mencoba bertingkah tidak seperti budak. Kautsky dengan tanpa malu menghiasi demokrasi borjuis dan tidak menceritakan, misalnya, bagaimana kaum borjuasi yang paling demokratis dan republiken di Amerika atau Swiss menghadapi buruh yang sedang mogok.
Kautsky yang bijak dan terpelajar menutup mulutnya mengenai hal-hal ini! Politisi terpelajar ini tidak menyadari bahwa bungkam mengenai hal ini adalah hal yang hina. Dia lebih memilih untuk menceritakan kepada para buruh dongeng-dongeng mengenai demokrasi yang berarti “melindungi minoritas”. Sungguh luar biasa, tetapi inilah kenyataannya! Pada tahun 1918, pada tahun ke-5 dari pembantaian imperialis dan pencekikan para minoritas internasional (yakni mereka-mereka yang tidak mengkhianati sosialisme, seperti para Renaudel dan Longuet, para Scheidemann dan Kautsky, para Henderson dan Webb, dan yang lainnya) di semua “negeri demokratis” di dunia, Tn. Kautsky yang terpelajar dengan manis, dengan teramat manis, menyanyikan puji-pujian mengenai “perlindungan terhadap kaum minoritas”. Mereka-mereka yang tertarik dapat membaca ini pada halaman ke-15 dari pamflet Kautsky. Dan pada halaman ke-16 individu terpelajar ini bercerita mengenai kaum Whig dan Tory di Inggris pada abad ke-18!
Sungguh pengetahuan yang luar biasa! Sungguh penghambaan yang teramat santun terhadap kaum borjuasi! Sungguh penyembahan dan penjilatan yang sangat beradab di hadapan kaum kapitalis! Bila saya adalah Krupp atau Scheidemann, atau Clemenceau atau Renaudel, saya akan membayar Tn. Kautsky jutaan dolar, memberikannya ciuman Yudas, memujinya di hadapan buruh dan menyerukan “persatuan sosialis” dengan orang-orang “terhormat” seperti dia. Untuk menulis pamflet yang menentang kediktatoran proletariat, untuk berbicara mengenai kaum Whig dan Tory di Inggris pada abad ke-18, untuk menyatakan bahwa demokrasi berarti “perlindungan terhadap kaum minoritas,” dan bungkam mengenai pogrom terhadap kaum internasionalis di republik “demokratis” Amerika, bukankah ini adalah pelayanan seorang kacung kepada kaum borjuasi?
Tn. Kautsky yang terpelajar telah “melupakan” -- secara kebetulan “melupakan”, mungkin -- sebuah “hal sepele”, yakni bahwa partai yang berkuasa di negara demokrasi borjuasi hanya memberikan perlindungan minoritas untuk partai borjuis lainnya. Sementara kaum proletariat, dalam semua isu-isu yang serius dan fundamental, mendapatkan hukum darurat atau pogrom, dan bukannya “perlindungan terhadap minoritas”. Semakin maju sebuah demokrasi, semakin mungkin pogrom atau perang sipil bila ada penyimpangan politik yang berbahaya bagi kaum borjuasi. Tn. Kautsky yang terpelajar dapat saja mempelajari “hukum” demokrasi borjuis ini dalam hubungannya dengan kasus Dreyfus di republik Prancis, dengan pembantaian orang-orang Negro hitam dan kaum internasionalis di republik demokratik Amerika, dengan kasus Irlandia dan Ulster di Inggris, dengan penindasan terhadap kaum Bolshevik dan pogrom terhadap mereka pada April 1917 di republik demokratik Rusia. Saya dengan sengaja memberi sejumlah contoh tidak hanya pada saat perang [Perang Dunia I – Ed.] tetapi juga sebelum perang. Tetapi Tn. Kautsky lebih memilih menutup matanya dari fakta-fakta abad ke-20 ini, dan memilih menceritakan kepada buruh hal-hal penting yang luar biasa baru, menarik, dan mendidik mengenai kaum Whig dan Tory pada abad ke-18!
Mari kita ambil parlemen borjuis. Apakah Kautsky tidak pernah mendengar bahwa semakin berkembang demokrasi maka semakin parlemen borjuis ada di bawah kendali bursa saham dan bankir? Ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh menggunakan parlemen borjuis (kaum Bolshevik menggunakan parlemen borjuis lebih baik daripada semua partai yang ada di dunia, karena pada 1912-15 kita memenangkan semua perwakilan buruh di Duma Keempat). Tetapi ini berarti bahwa hanya seorang liberal yang dapat melupakan keterbatasan historis dan watak konvensional dari sistem parlemen borjuis, seperti halnya Kautsky. Bahkan di negara borjuis yang paling demokratis, rakyat tertindas di setiap langkah menemui kontradiksi antara kesetaraan formal yang diproklamirkan oleh “demokrasi” kapitalis dan ribuan hambatan-hambatan dan akal-akalan riil yang membuat kaum proletar menjadi budak-upah. Inilah kontradiksi yang membuka mata rakyat terhadap kebangkrutan, kepalsuan, dan kemunafikan kapitalisme. Inilah kontradiksi yang diekspos oleh para agitator dan propagandis sosialisme kepada rakyat, guna menyiapkan mereka untuk revolusi! Dan sekarang ketika era revolusi telah dimulai, Kautsky memalingkan punggungnya pada revolusi dan mulai memuji-muji demokrasi borjuis yang sudah sekarat.
Demokrasi proletariat, yang mana pemerintahan Soviet adalah salah satu bentuknya, telah membawa sebuah perkembangan dan perluasan demokrasi yang tidak ada presedennya di dunia, bagi mayoritas besar rakyat tertindas dan rakyat buruh. Untuk menulis sebuah pamflet mengenai demokrasi, seperti yang dilakukan oleh Kautsky, di mana dua halaman didedikasikan untuk berbicara mengenai kediktatoran dan puluhan halaman untuk “demokrasi murni”, dan gagal menyadari fakta ini, ini berarti mendistorsi sepenuhnya kediktatoran proletariat dengan metode liberal.
Mari kita ambil kebijakan luar negeri. Tidak ada satu pun negara borjuis, bahkan yang paling demokratis sekalipun, yang melakukan kebijakan luar negeri mereka secara terbuka. Rakyat di mana-mana dibohongi, dan di Prancis, Swiss, Amerika dan Inggris yang demokratis, ini dilakukan dengan sangat luas dan dengan cara yang jauh lebih halus daripada negeri-negeri lain. Pemerintahan Soviet telah merobek kedok kebijakan luar negeri dengan cara yang revolusioner. Kautsky mengabaikan ini. Dia diam seribu bahasa mengenai ini, walaupun di era peperangan yang buas dan perjanjian-perjanjian rahasia untuk “pembagian daerah-daerah pengaruh” (yakni, untuk partisi dunia di antara bandit-bandit kapitalis) ini adalah hal yang teramat penting, karena pada inilah tergantung masalah perdamaian dan hidup mati puluhan juta rakyat.
Mari kita ambil struktur negara. Kautsky memilah-milah semua hal yang “remeh-temeh”, sampai ke argumen bahwa di bawah Konstitusi Soviet pemilu adalah “tidak langsung”. Tetapi dia gagal melihat hal yang terpenting. Dia gagal melihat karakter kelas dari aparatus negara, dari mesin negara. Di bawah demokrasi borjuis, kaum kapitalis, dengan ribuan muslihat -- yang semakin licik dan efektif dengan semakin “murninya” demokrasi – menyingkirkan rakyat dari kerja administratif, dari kebebasan pers, dari kebebasan berkumpul, dll. Pemerintahan Soviet adalah yang pertama di dunia (atau kalau mau lebih tepat, yang kedua, karena Komune Paris sudah mulai melakukan ini) yang melibatkan rakyat, terutama rakyat tertindas, dalam kerja administratif. Rakyat pekerja dihalangi dari partisipasi di dalam parlemen borjuis (mereka tidak pernah memutuskan hal-hal yang penting di bawah demokrasi borjuis, yang diputuskan oleh bursa saham dan bank-bank) oleh ribuan halangan, dan kaum buruh mengetahui dan merasakan, melihat dan menyadari sepenuhnya bahwa parlemen borjuis adalah institusi yang asing bagi mereka, instrumen penindasan terhadap kaum buruh oleh kaum borjuasi, institusinya kelas yang memusuhi mereka, institusinya kaum minoritas yang mengeksploitasi.
Soviet adalah organisasi langsung dari rakyat pekerja yang tertindas, yang membantu mereka untuk mengorganisir dan mengurus masalah-masalah mereka dengan berbagai cara. Dan di dalam soviet, kaum pelopor rakyat pekerja tertindas, yakni kaum proletar urban, diuntungkan karena mereka tersatukan oleh pabrik-pabrik besar. Lebih mudah bagi mereka untuk memilih dan mengontrol orang-orang yang mereka pilih. Bentuk organisasi soviet secara otomatis membantu menyatukan semua rakyat tertindas di sekitar kaum pelopor mereka, yakni kaum proletariat. Aparatus borjuis lama – birokrasi, privilese kekayaan, privilese pendidikan borjuis, privilese koneksi sosial, dsb. (semua privilese riil ini semakin beragam bentuknya dengan semakin berkembangnya demokrasi borjuis) -- semua ini menghilang di bawah bentuk organisasi soviet. Kebebasan pers berhenti menjadi sebuah kemunafikan, karena percetakan dan stok kertas direbut dari tangan borjuasi. Hal yang sama juga berlaku untuk bangunan-bangunan terbaik, istana-istana, vila-vila dan rumah-rumah bangsawan. Kekuasaan Soviet menyita ribuan bangunan-bangunan terbaik ini dari tangan kaum penindas dengan satu pukulan, dan dengan ini membuat hak untuk berkumpul, yang tanpanya maka demokrasi adalah palsu, satu juta kali lebih demokratik bagi rakyat. Pemilu-pemilu tidak langsung ke Soviet-soviet non-lokal membuat lebih mudah menyelenggarakan kongres-kongres Soviet. Mereka membuat seluruh aparatus lebih murah, lebih fleksibel, lebih mudah dijangkau oleh buruh dan tani di saat ketika situasi bergejolak dan kita harus bisa dengan cepat me-recall seorang perwakilan soviet kita atau mendelegasikannya ke kongres umum Soviet-soviet.