Muistoja lapsen ja hopeahapsen 3 Kuvauksia
Chapter 1
Pendahuluan
Pamflet Kautsky, “The Dictatorship of Proletariat” (Kediktatoran Proletariat), yang baru-baru ini diterbitkan di Wina (Wien, 1918, Ignaz Brand, hal. 63), merupakan contoh paling jelas dari kebangkrutan Internasional Kedua yang paling memalukan, yang telah lama dibicarakan oleh semua kaum sosialis yang jujur di semua negeri. Revolusi proletariat sekarang sudah menjadi persoalan praktis di sejumlah negeri, dan oleh karenanya pemeriksaan terhadap cara-cara berpikir Kautsky yang sesat dan penuh pengkhianatan dan penolakan sepenuhnya terhadap Marxisme menjadi sangat penting.
Namun, pertama-tama harus ditekankan bahwa sejak permulaan perang sang penulis telah berulang kali menunjukkan perpecahan Kautsky dengan Marxisme. Sejumlah artikel yang diterbitkan antara tahun 1914-1916 di jurnal Sotsial-Demokrat dan Kommunist, yang diterbitkan di luar negeri, membahas soal itu. Artikel-artikel ini selanjutnya dikumpulkan dan diterbitkan oleh Soviet Petrograd dengan judul “Against the Stream” (Melawan Arus), oleh G. Zinoviev, dan N. Lenin (Petrograd, 1918. hal. 550). Dalam sebuah pamflet yang diterbitkan di Jenewa pada 1915 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan Prancis pada tahun yang sama, saya menjelaskan tentang “Kautskyisme” sebagaimana di bawah ini:
“Kautsky, pemimpin terkemuka Internasional Kedua, adalah contoh yang paling jelas dan khas tentang bagaimana sebuah pengakuan verbal terbuka terhadap Marxisme dalam prakteknya berubah menjadi “Struvisme” atau “Brentanoisme” (dengan kata lain, menjadi teori borjuis liberal yang mengakui adanya perjuangan “kelas” kaum proletariat yang non-revolusioner, yang mana diungkapkan dengan jelas oleh Struve, seorang penulis dari Rusia, dan Brentano, ekonom dari Jerman). Contoh lainnya adalah Plekhanov. Melalui metode sofistri, Marxisme dilucuti dari semangat revolusionernya yang hidup; segala sesuatunya diakui dalam kerangka Marxisme, kecuali metode-metode perjuangan revolusioner, propaganda dan persiapan untuk metode-metode tersebut, dan juga pendidikan bagi massa dalam rangka perjuangan revolusioner. Kautsky dengan cara-cara yang tidak prinsipil mendamaikan ide fundamental sovinisme-sosial, pengakuan atas pembelaan terhadap tanah air dalam perang hari ini, dengan konsesi diplomatis palsu kepada kaum Kiri. Hal ini dilakukannya dengan abstain dari pemungutan suara anggaran perang, klaim verbalnya sebagai oposisi, dll. Kautsky, yang pada 1909 menulis sebuah buku tentang periode revolusi yang semakin dekat dan tentang kaitan antara perang dan revolusi, yang pada 1912 menandatangani Manifesto Basel yang berbicara mengenai menggunakan peluang revolusioner dari perang yang akan datang, sungguh berusaha keras untuk membenarkan dan menghiasi sovinisme-sosial, dan, seperti Plekhanov, bergabung dengan kaum borjuasi untuk mencemooh setiap pemikiran tentang revolusi dan semua langkah menuju perjuangan revolusioner yang segera.
“Kelas buruh tidak dapat memainkan peran revolusioner yang mendunia kecuali jika kelas buruh mengobarkan sebuah perjuangan yang tanpa-belas-kasihan untuk melawan kemunduran, kepengecutan, dan ketundukan terhadap oportunisme, dan vulgarisasi terhadap teori-teori Marxisme yang tidak ada paralelnya ini. Kautskyisme bukanlah sebuah kebetulan; ia adalah produk sosial dari kontradiksi-kontradiksi di dalam Internasional Kedua, yang merupakan campuran antara kesetiaan terhadap Marxisme dalam kata-kata dan subordinasi terhadap oportunisme dalam praktek. “(G. Zinoviev dan N. Lenin, “Sosialisme dan Perang” Jenewa, 1915, hal. 13-14).
Lagi, dalam buku saya yang berjudul “Imperialisme, Tahapan Tertinggi Dalam Kapitalisme” yang ditulis pada 1916, dan diterbitkan di Petrograd pada 1917, saya membedah serinci-rincinya kesalahan teoritis dari semua argumen Kautsky tentang imperialisme. Saya mengutip definisi Kautsky tentang imperialisme: “Imperialisme adalah sebuah produk dari kapitalisme industrial yang sangat berkembang, di mana setiap bangsa kapitalis industrial berusaha mengontrol atau menganeksasi semua daerah agraris yang besar [italik dari Kautsky], tidak peduli bangsa mana yang mendudukinya.” Saya menunjukkan betapa kelirunya penjelasan ini, dan bagaimana penjelasan itu telah ‘diadaptasi” untuk menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang paling dalam dari imperialisme, dan kemudian “diadaptasi” untuk didamaikan dengan oportunisme. Saya memberikan definisi saya sendiri tentang imperialisme: “Imperialisme adalah kapitalisme pada tahap perkembangan di mana dominasi monopoli dan kapital finansial telah menjadi kenyataan, di mana ekspor kapital telah menjadi sangat penting; di mana pembagian dunia di antara sindikat-sindikat internasional telah dimulai; di mana pembagian wilayah-wilayah dunia di antara kekuatan-kekuatan kapitalis terbesar telah selesai.” Saya menunjukkan bahwa kritik Kautsky terhadap imperialisme jauh lebih rendah ketimbang kritik kaum borjuis filistin.
Akhirnya, pada bulan Agustus dan September 1917 — yakni, sebelum revolusi proletar Rusia (25 Oktober [7 November] 1917), saya menulis sebuah pamflet (yang diterbitkan di Petrograd di awal 1918) yang berjudul “Negara dan Revolusi. Teori Marxis tentang Negara dan Tugas-Tugas Kaum Proletariat dalam Revolusi”. Dalam Bab IV dari buku ini yang berjudul “Vulgarisasi Marxisme oleh Kaum Oportunis,” saya memberikan perhatian khusus terhadap Kautsky dengan menunjukkan bahwa dia telah sepenuhnya mendistorsi pemikiran-pemikiran Marxisme, mengubahnya agar sesuai dengan oportunisme, dan bahwa dia telah “menyangkal revolusi dalam praktek, kendati menerimanya dalam ucapan.”
Pada intinya, kesalahan utama secara teoritis yang dibuat oleh Kautsky dalam pamfletnya tentang kediktatoran proletariat terletak pada distorsi-distorsinya yang oportunis terhadap pemikiran-pemikiran Marx tentang Negara — distorsi-distorsi yang telah saya bedah secara rinci dalam pamflet saya yang berjudul “Negara dan Revolusi.”
Pernyataan-pernyataan awal ini dibutuhkan karena mereka menunjukkan bahwa saya telah menuduh Kautsky secara terbuka sebagai seorang pengkhianat jauh sebelum kaum Bolshevik mengambil alih kekuasaan Negara dan dikutuk oleh Kautsky sehubungan dengan perebutan kekuasaan tersebut.
Bagaimana Kautsky Mengubah Marx Menjadi Seorang Liberal
Persoalan fundamental yang didiskusikan oleh Kautsky dalam pamfletnya adalah esensi utama dari revolusi proletariat, yakni kediktatoran proletariat. Ini adalah persoalan yang mempunyai arti penting terbesar bagi semua negeri, terutama bagi negeri-negeri yang maju, terutama bagi negeri-negeri yang sedang berperang, dan terutama pada saat ini. Seseorang bisa berkata tanpa ketakutan untuk melebih-lebihkan bahwa kediktatoran proletariat merupakan problem kunci dari semua perjuangan kelas proletar. Oleh karena itu, amat penting untuk memberikan perhatian khusus terhadap masalah tersebut.
Kautsky merumuskan persoalan ini sebagai berikut: “Perbedaan antara dua aliran sosialis (yakni kaum Bolshevik dan kaum non-Bolshevik) adalah perbedaan antara metode-metode yang sangat berbeda: metode diktatorial dan metode demokratis” (hal. 3).
Marilah kita ingat lagi, bahwa ketika Kautsky menyebut kaum non-Bolshevik di Rusia (yakni kaum Menshevik dan kaum Sosialis-Revolusioner) kaum sosialis, ia dibimbing oleh nama mereka, yakni oleh sebuah kata, dan bukan oleh tempat yang sesungguhnya mereka tempati di dalam perjuangan antara kaum borjuasi dan kaum proletar. Betapa indahnya pemahaman dan penerapan Marxisme yang seperti demikian! Tetapi saya akan menjelaskan lebih jauh tentang ini nanti.
Untuk saat ini, kita harus menghadapi masalah yang utama, yakni penemuan Kautsky yang terbesar mengenai “perbedaan fundamental” antara “metode demokratis dan metode diktatorial”. Inilah problem yang terutama; inilah esensi dari pamflet Kautsky. Dan ini sungguh merupakan kekacauan teoritis yang begitu buruk, penolakan yang sepenuh-penuhnya terhadap Marxisme, di mana Kautsky, harus diakui, telah begitu jauh melebihi Bernstein.
Persoalan kediktatoran proletariat adalah persoalan relasi negara proletariat terhadap negara borjuis, relasi demokrasi proletariat terhadap demokrasi borjuis. Kita mungkin dapat berpikir bahwa ini begitu jelas dan mudah. Akan tetapi Kautsky, seperti seorang guru sekolah yang telah menjadi kering kerontang seperti debu karena mengutip buku-buku teks sejarah tua yang sama, dengan berkeras-hati memalingkan punggungnya ke abad ke-20 dan terus menatap ke abad ke-18, dan untuk keseratus kalinya, di dalam sejumlah paragraf, dengan cara yang sungguh membosankan bermeditasi mengenai relasi demokrasi borjuis terhadap absolutisme dan medievalisme!
Ini terdengar seperti dia sedang mengigau dalam tidur!
Akan tetapi, ini artinya ia telah sepenuhnya gagal memahami masalah ini. Kita tidak bisa tidak tersenyum melihat usaha Kautsky untuk membuat bahwa tampaknya ada orang-orang yang mengajarkan “kebencian terhadap demokrasi” (hal. IA) dan sebagainya. Inilah omong kosong yang digunakan oleh Kautsky untuk mengaburkan dan membuat masalah ini menjadi kacau-balau, karena ia berbicara seperti kaum liberal, berbicara tentang demokrasi secara umum, dan bukannya tentang demokrasi borjuis; bahkan ia menolak menggunakan istilah kelas yang jelas ini, dan sebaliknya ia berusaha berbicara tentang demokrasi “pra-sosialis”. Pembual ini menghabiskan sepertiga dari pamfletnya, atau dua puluh halaman dari enam puluh tiga halaman pamfletnya, untuk omong kosong ini, yang begitu menyejukkan hati kaum borjuasi karena ini pada akhirnya sama dengan menghiasi demokrasi borjuis, dan mengaburkan masalah revolusi proletariat.
Namun, bagaimanapun juga, judul dari pamflet Kautsky adalah “Kediktatoran Proletariat”. Semua orang tahu, bahwa inilah esensi yang paling mendasar dari doktrin Marx; dan setelah sekian banyak omong kosong yang tidak relevan Kautsky merasa berkewajiban mengutip kata-kata Marx tentang kediktatoran proletariat.
Akan tetapi cara bagaimana Kautsky, “sang Marxis”, mengutip Marx sangatlah konyol! Coba dengar ini:
“Pandangan ini (yang Kautsky sebut “kebencian terhadap demokrasi”) “bersandar pada sebuah kata tunggal dari Karl Marx.” Inilah yang Kautsky katakan secara harfiah pada halaman 20. Dan pada halaman 60, hal yang sama diulang kembali, bahkan dalam bentuk bahwa, mereka (kaum Bolshevik) “secara oportunis mengungkit kembali kata kecil ini” (inilah yang secara harfiah Kautsky tulis - des Wörtchens!!) “tentang kediktatoran proletariat yang dipergunakan oleh Marx sekali saja pada tahun 1875 dalam sebuah surat“.
Inilah sedikit “kata kecil” dari Marx tersebut:
“Di antara masyarakat kapitalis dan komunis ada sebuah periode transformasi revolusioner dari masyarakat kapitalis ke masyarakat komunis. Bersamaan dengan ini terdapat juga sebuah periode transisi politik di mana negara haruslah berupa kediktatoran proletariat yang revolusioner”
Pertama-tama, untuk menyebut pemikiran Marx klasik ini, yang menyimpulkan seluruh ajarannya yang revolusioner, sebagai “sebuah kata tunggal” dan bahkan “sebuah kata kecil” adalah penghinaan dan penolakan penuh terhadap Marxisme. Kita tidak boleh lupa kalau Kautsky paham betul tentang Marx, dan menimbang dari semua yang telah dia tulis, dia memiliki di mejanya, atau di kepalanya, sejumlah laci di mana semua yang pernah ditulis oleh Marx telah diarsipkan dengan hati-hati supaya dengan mudah dapat digunakan sebagai kutipan. Kautsky mestinya tahu bahwa baik Marx maupun Engels, dalam surat-suratnya sebagaimana juga karya-karyanya yang dipublikasikan, berulang kali berbicara tentang kediktatoran proletariat, sebelum dan terutama setelah Komune Paris. Kautsky harusnya tahu bahwa formula “kediktatoran proletariat” adalah formulasi yang lebih konkret secara historis dan lebih tepat secara ilmiah mengenai tugas-tugas kaum proletariat untuk “menghancurleburkan” mesin negara borjuis. Inilah yang dinyatakan oleh Marx dan Engels selama 40 tahun antara 1852 dan 1891 dalam menyimpulkan pengalaman revolusi 1848, dan terlebih lagi, revolusi 1871.
Kemudian bagaimana menjelaskan distorsi yang begitu dahsyat terhadap Marxisme yang dibuat oleh Kautsky, sang Marxis formalis itu? Sehubungan dengan akar filsafat dari fenomena ini, ini adalah substitusi dialektika dengan eklektisme dan sofisme. Kautsky adalah ahli substitusi seperti ini. Berangkat dari sudut pandang politik praktis, ini adalah ketundukan terhadap kaum oportunis, yakni pada analisa terakhir adalah ketundukan terhadap kaum borjuis. Semenjak pecahnya perang, Kautsky telah tumbuh pesat dalam seni menjadi seorang Marxis dalam kata-kata dan antek kaum borjuis dalam perbuatan, hingga ia sekarang telah menjadi ahlinya.
Kita akan merasa bahkan lebih yakin tentang ini bila kita periksa betapa hebatnya Kautsky dalam “menginterpretasi” “kata kecil” Marx tentang kediktatoran proletariat. Perhatikan hal berikut ini:
“Sayangnya Marx lalai menunjukkan kepada kita dengan lebih terperinci tentang bagaimana ia membentuk konsep kediktatoran ini…(Ini adalah sebuah kalimat yang sungguh-sungguh palsu dari seorang pengkhianat, karena Marx dan Engels sesungguhnya telah memberikan kepada kita sejumlah indikasi yang sangat detil, yang mana Kautsky, sang Marxis formalis, telah dengan sengaja mengabaikannya.) “Secara harfiah, istilah kediktatoran bermakna penghapusan terhadap demokrasi. Namun tentunya juga secara harfiah istilah ini juga bermakna kekuasaan absolut dari seorang individu yang tidak dibatasi oleh satu hukum pun -- sebuah autokrasi yang berbeda dari despotisme hanya jika kediktatoran ini bukan sebuah lembaga negara yang permanen, melainkan kebijakan darurat sementara.
“Istilah kediktatoran proletariat, oleh karenanya bukan kediktatoran dari seorang individu, tetapi kediktatoran kelas yang dalam dirinya sendiri (ipso facto) menghindari kemungkinan bahwa Marx dalam hal ini memikirkan kediktatoran secara harfiah.
“Di sini dia tidak berbicara mengenai bentuk pemerintahan, tetapi mengenai sebuah kondisi yang harus muncul ketika proletariat telah meraih kekuasaan politik. Bahwa Marx dalam hal ini tidak berbicara mengenai bentuk pemerintahan terbukti oleh fakta bahwa dia berpendapat bahwa transisi di Inggris dan Amerika dapat terjadi dengan damai, yakni dengan cara demokratis.” (hal. 20)
Kita telah dengan sengaja mengutip argumen ini sepenuhnya sehingga pembaca dapat melihat dengan jelas metode yang dipakai oleh Kautsky “sang teoretikus”.
Kautsky memilih untuk melakukan pendekatan terhadap masalah ini dengan memulai mendiskusikan definisi “kata” kediktatoran.
Baiklah. Setiap orang punya hak sakral untuk menggunakan pendekatan apapun yang dia kehendaki terhadap sebuah masalah. Kita hanya harus melihat mana pendekatan yang serius dan jujur, dan mana yang tidak jujur. Setiap orang yang ingin serius dalam melakukan pendekatan terhadap masalah ini harus memberikan definisinya sendiri tentang “kata” kediktatoran. Dengan demikian, masalah ini bisa ditelaah dengan sebaik-baiknya. Namun Kautsky tidak melakukan ini. Dia menulis, “Secara harfiah, kata kediktatoran bermakna penghapusan demokrasi.”
Pertama-tama, ini bukanlah sebuah definisi. Bila Kautsky ingin menghindari pemberian definisi tentang konsep kediktatoran, mengapa dia memilih pendekatan seperti ini?
Kedua, yang dikatakan oleh Kautsky itu jelas salah. Adalah hal yang alami bagi seorang liberal untuk berbicara mengenai “demokrasi” secara umum; tetapi seorang Marxis tidak akan pernah lupa bertanya: “untuk kelas mana?” Setiap orang tahu, misalnya (dan Kautsky “sang sejarawan” juga tahu), bahwa pemberontakan, atau bahkan gejolak yang besar, di antara para budak pada zaman kuno dengan segera mengungkapkan bahwa negara zaman kuno itu pada dasarnya adalah sebuah kediktatoran pemilik budak. Apakah kediktatoran ini menghapus demokrasi di antara, dan bagi, para pemilik budak? Semua orang tahu ini tidak.
Kautsky “sang Marxis” membuat pernyataan yang betul-betul tidak masuk akal dan sama sekali tidak benar ini karena ia “melupakan” perjuangan kelas…
Agar kita dapat mengubah pernyataan Kautsky yang liberal dan keliru itu menjadi pernyataan yang betul-betul Marxis dan benar, maka kita harus berkata: kediktatoran itu tidak selalu berarti penghapusan terhadap demokrasi bagi kelas yang melaksanakan kediktatoran di atas kelas-kelas yang lain; akan tetapi ia berarti penghapusan (atau pembatasan material yang teramat ketat, yang juga merupakan salah satu bentuk penghapusan) demokrasi bagi kelas yang menjadi objek dari kediktatoran tersebut.
Akan tetapi, sebenar-benarnya pernyataan ini, tetap saja ini tidak memberikan sebuah definisi untuk kediktatoran.
Marilah kita periksa kalimat Kautsky yang selanjutnya:
“… Tetapi, tentu saja, bila diambil secara harfiah, kata itu juga bermakna kediktatoran absolut dari seorang individu yang tidak dibatasi oleh satu hukum pun….”
Seperti seekor anjing buta yang mengendus ke sana ke mari, Kautsky secara kebetulan menemukan sebuah ide yang benar (yaitu, bahwa kediktatoran adalah kekuasaan yang tak terbatas oleh satu hukum pun). Meskipun demikian, ia gagal untuk memberikan definisi tentang kediktatoran, dan, terlebih lagi, ia membuat kesalahan besar historis yang sangat jelas, yakni bahwa kediktatoran berarti kekuasaan dari seorang individu. Ini bahkan keliru secara tata bahasa, karena kediktatoran bisa juga dilaksanakan oleh sekelompok orang, atau oleh sebuah oligarki, atau oleh sebuah kelas dan sebagainya.
Kautsky kemudian menunjukkan perbedaan antara kediktatoran dan despotisme. Meskipun yang dikatakannya jelas-jelas salah, kita tidak akan mendiskusikannya karena ini sama sekali tidak relevan untuk masalah yang kita hadapi. Semua orang tahu kecenderungan Kautsky untuk berpaling dari abad ke-20 ke abad ke-18, dan dari abad ke-18 ke zaman klasik kuno, dan kita berharap bahwa kaum proletariat Jerman, setelah mereka telah meraih kediktatorannya, akan mengingat kecenderungan Kautsky ini dan menunjuknya untuk menjadi guru sejarah kuno di sebuah sekolah tertentu. Untuk menghindari definisi kediktatoran proletariat dengan berfilsafat mengenai despotisme adalah kebodohan yang kasar atau tipu daya yang canggung.
Sebagai akibatnya, kita menemukan bahwa, setelah berdiskusi tentang kediktatoran, Kautsky mengulang-ulang begitu banyak kebohongan tetapi tidak memberikan satu definisi pun tentang kediktatoran! Alih-alih menggunakan kemampuan berpikirnya, dia bisa saja menggunakan memorinya untuk menarik dari “laci-laci dokumennya” setiap saat Marx berbicara tentang kediktatoran. Bila saja dia melakukan ini, dia tentu akan tiba pada definisi berikut ini atau yang serupa dengannya:
Kediktatoran adalah kekuasaan yang didasarkan langsung atas kekerasan dan tidak dibatasi oleh hukum apapun.
Kediktatoran revolusioner proletariat adalah kekuasaan yang dimenangkan dan dipelihara dengan penggunaan kekerasan oleh proletariat dalam melawan kaum borjuasi, kekuasaan yang tidak dibatasi oleh hukum apa pun.
Kebenaran yang sederhana ini, kebenaran yang begitu jelas ini bagi setiap buruh yang sadar-kelas (yang mewakili massa rakyat, dan bukan lapisan atas dari para bajingan borjuis-kecil yang telah disuap oleh kaum kapitalis, begitulah kaum imperialis-sosial di semua negeri), kebenaran ini, yang begitu jelas bagi setiap perwakilan dari kelas-kelas tertindas yang sedang berjuang bagi emansipasinya, kebenaran ini, yang tidak bisa diganggu gugat bagi setiap Marxis, harus “diperas dengan susah payah” dari tuan Kautsky yang terpelajar! Bagaimana hal ini dapat dijelaskan? Ini dapat dijelaskan dengan mudah oleh semangat penghambaan yang memenuhi para pemimpin Internasional Kedua, yang telah menjadi penjilat kaum borjuasi yang hina
Kautsky pertama-tama menggunakan tipu daya dengan mengumbar omong kosong bahwa kata kediktatoran, secara harfiah, berarti kediktatoran dari seorang individu, dan kemudian – dengan menggunakan kekuatan dari tipu daya ini – dia menyatakan bahwa “oleh karenanya” kata-kata Marx mengenai kediktatoran sebuah kelas tidak dimaknakan dalam arti harfiahnya (tetapi di dalam makna di mana kediktatoran tidak berarti kekerasan revolusioner, tetapi berarti “secara damai” memenangkan mayoritas di bawah “demokrasi” borjuis).
Kita harus membedakan antara “kondisi” dan “bentuk pemerintahan”. Sungguh perbedaan yang sangat dalam; ini seperti menggambarkan perbedaan antara “kondisi” dari kebodohan seseorang yang berpikir bodoh, dan “bentuk” kebodohannya.
Kautsky merasa perlu mengartikan kediktatoran sebagai sebuah “kondisi dominasi” (inilah ungkapan harfiah yang digunakannya di halaman selanjutnya, hal. 21), karena dengan demikian kekerasan revolusioner, dan revolusi yang penuh dengan kekerasan menghilang. “Kondisi dominasi” adalah sebuah kondisi di mana setiap mayoritas menemui dirinya di bawah ... “demokrasi”! Berkat tipu daya seperti ini, revolusi lenyap dengan mudahnya!
Akan tetapi, penipuan itu begitu kasar dan tidak akan dapat menyelamatkan Kautsky. Kita tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa kediktatoran mensyaratkan dan bermakna sebuah “kondisi”, sebuah kondisi yang begitu tidak disetujui oleh para pengkhianat, kondisi kekerasan revolusioner satu kelas terhadap kelas yang lainnya. Sangatlah konyol untuk menarik perbedaan antara sebuah “kondisi” dan sebuah “bentuk pemerintahan”. Untuk berbicara tentang bentuk pemerintahan dalam hal ini adalah sangat bodoh, karena setiap anak sekolah tahu bahwa monarki dan republik adalah dua bentuk pemerintahan yang berbeda. Kita harus menjelaskan kepada Tn. Kautsky bahwa kedua bentuk pemerintahan ini, seperti semua “bentuk pemerintahan” transisional di bawah kapitalisme, hanyalah variasi-variasi dari negara borjuis, yakni, variasi-variasi dari kediktatoran borjuis.
Terakhir, berbicara tentang bentuk pemerintahan bukan hanya sesuatu yang bodoh, tetapi juga pemalsuan yang kasar terhadap pemikiran Marx, yang jelas-jelas berbicara mengenai bentuk negara dan bukan bentuk pemerintahan.
Revolusi proletariat tidak mungkin dapat diwujudkan tanpa penghancuran paksa mesin negara borjuis, dan penggantiannya dengan negara yang baru yang, seperti yang dikatakan oleh Engels, “bukan lagi negara dalam makna kata yang sesungguhnya”.
Posisi Kautsky yang berkhianat membuat dirinya harus memungkiri dan mengaburkan semua ini.
Maka kita lihat tipu muslihat yang dipergunakannya.
Muslihat yang pertama. “Bahwa Marx dalam hal ini tidak berbicara mengenai bentuk pemerintahan terbukti oleh fakta bahwa dia berpendapat bahwa transisi di Inggris dan Amerika dapat terjadi dengan damai, yakni dengan cara demokratis.”
Bentuk pemerintahan tidak ada hubungannya sama sekali dengan ini, karena ada monarki-monarki yang merupakan bentuk negara borjuis yang tidak tipikal, di mana tidak ada klik militer. Dan ada republik-republik yang cukup tipikal dalam hal ini, misalnya memiliki klik militer dan birokrasi. Ini adalah fakta historis dan politis yang diketahui secara universal, dan Kautsky tidak dapat memalsukannya.
Bila Kautsky hendak berargumen dengan cara yang serius dan jujur, seharusnya ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ada hukum sejarah mengenai revolusi yang tidak ada pengecualian? Dan jawabannya: tidak ada hukum seperti itu. Hukum seperti itu hanya berlaku untuk kasus-kasus tipikal, yang Marx istilahkan sebagai “yang ideal,” yakni kapitalisme yang umum, normal, dan tipikal.