Revolusi Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat

Part 9

Chapter 93,139 wordsPublic domain (Wikisource)

(2) Nasionalisasi tanah – relasi kedua kebijakan ini dengan sosialisme secara umum, dan relasi kedua kebijakan ini dengan transisi dari kapitalisme ke komunisme pada khususnya.

(3) Pertanian bersama sebagai transisi dari pertanian kecil yang terpencar-pencar ke pertanian kolektif skala-besar; apakah cara bagaimana masalah ini dihadapi di dalam undang-undang Soviet sesuai dengan syarat-syarat sosialisme?

Mengenai masalah pertama, pertama-tama kita harus mengemukakan dua fakta yang fundamental. (a) Dalam mencermati pengalaman revolusi 1905 (saya dapat merujuk pada karya saya mengenai masalah agraria pada Revolusi Rusia yang Pertama ini), kaum Bolshevik merujuk pada arti demokratis yang progresif dan revolusioner dari slogan “hak guna tanah yang setara”, dan pada 1917, sebelum Revolusi Oktober, kami menyatakan ini dengan cukup jelas. (b) Ketika mencanangkan undang-undang sosialisasi tanah – yang “semangatnya” adalah penggunaan tanah yang setara – kaum Bolshevik dengan terbuka dan jelas menyatakan bahwa ini bukanlah gagasan kami. Kami tidak setuju dengan slogan ini, tetapi kami merasa bahwa adalah tugas kami untuk mengimplementasikan undang-undang ini karena ini adalah tuntutan dari mayoritas besar kaum tani. Dan gagasan-gagasan dan tuntutan-tuntutan dari rakyat pekerja adalah hal-hal yang harus ditanggalkan oleh rakyat pekerja sendiri. Tuntutan-tuntutan ini tidak dapat “dihapus” atau “dilompati”. Kami, kaum Bolshevik, akan membantu kaum tani untuk menanggalkan slogan-slogan borjuis kecil, untuk bergerak dari slogan-slogan borjuis kecil ke slogan-slogan sosialis secepat mungkin dan semudah mungkin.

Seorang teoretikus Marxis yang ingin membantu revolusi kelas buruh dengan analisa ilmiahnya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: pertama, apakah benar bahwa gagasan penggunaan tanah yang setara memiliki arti demokratis yang revolusioner dalam melaksanakan revolusi borjuis-demokratik ke kesimpulannya? Kedua, apakah kaum Bolshevik benar dalam membantu meloloskan (dan dengan setia mengimplementasikan) undang-undang penggunaan tanah yang setara yang bersifat borjuis kecil ini?

Kautsky bahkan gagal menyadari masalah teori yang terutama ini!

Kautsky tidak akan pernah bisa menyangkal bahwa gagasan penggunaan tanah yang setara memiliki nilai yang progresif dan revolusioner dalam revolusi borjuis-demokratik. Revolusi seperti ini tidak dapat melampaui batas ini. Dengan mencapai batasnya, akan semakin jelas, cepat, dan mudah terungkap kepada rakyat bahwa solusi-solusi borjuis-demokratik tidaklah memadai, dan rakyat harus bergerak melampaui batas-batas borjuis demokratik ini, dan bergerak ke sosialisme.

Kaum tani, yang telah menumbangkan Tsarisme dan feodalisme, memimpikan penggunaan tanah yang setara, dan tidak ada satu pun kekuatan di muka bumi yang dapat menghentikan kaum tani setelah mereka bebas dari feodalisme dan dari negara republik parlementer borjuis. Kaum buruh mengatakan kepada kaum tani: kami akan membantumu mencapai kapitalisme yang “ideal”, karena penggunaan tanah yang setara adalah idealisasi kapitalisme yang dimimpikan oleh para produsen kecil. Pada saat yang sama kami akan membuktikan kepadamu bahwa kapitalisme yang “ideal” ini tidaklah memadai dan perlunya bergerak ke pertanian bersama.

Akan sangat menarik untuk melihat bagaimana Kautsky dapat membuktikan bahwa kepemimpinan proletariat terhadap kaum tani yang seperti ini adalah keliru.

Namun Kautsky memilih menghindari pertanyaan ini.

Lalu, Kautsky dengan sengaja menipu para pembaca Jermannya dengan menyembunyikan dari mereka fakta bahwa dalam undang-undang tanahnya pemerintahan Soviet memberikan preferensi langsung pada komune-komune dan kelompok-kelompok koperasi.

Dengan seluruh kaum tani sampai pada akhir revolusi borjuis-demokratik; dan dengan kaum tani miskin, tani-proletar dan semi-proletar, maju menuju revolusi sosialis! Ini adalah kebijakan kaum Bolshevik, dan ini adalah satu-satunya kebijakan Marxis.

Tetapi Kautsky sama sekali kebingungan dan tidak mampu memformulasikan apapun! Di satu pihak, dia tidak berani mengatakan bahwa kaum buruh harus pecah dengan kaum tani mengenai masalah penggunaan tanah yang setara, karena dia menyadari bahwa ini adalah konyol (dan, terlebih lagi, pada 1905, ketika dia belumlah menjadi seorang pengkhianat, dia sendiri dengan jelas dan terbuka menyerukan pembentukan aliansi antara buruh dan tani sebagai syarat untuk kemenangan revolusi). Di pihak lain, dia dengan simpatik mengutip ujar-ujar liberal dari Maslov yang Menshevik, yang “membuktikan” bahwa hak guna tanah yang setara yang borjuis-kecil adalah utopis dan reaksioner dari sudut pandang sosialisme, tetapi bungkam mengenai karakter progresif dan revolusioner dari perjuangan borjuis-kecil untuk kesetaraan dan hak guna tanah yang setara dari sudut pandang revolusi borjuis-demokratik.

Kautsky sungguh kebingungan: dia (pada 1918) bersikeras bahwa Revolusi Rusia memiliki karakter borjuis. Dia (pada 1918) mengatakan: jangan lampaui batas-batas ini! Namun Kautsky yang sama ini melihat “ada yang sosialistis” (untuk revolusi borjuis) di dalam reforma borjuis kecil di mana lahan-lahan kecil disewakan ke kaum tani miskin (yang adalah aproksimasi dari hak guna tanah yang setara)!!

Coba saja untuk memahami ini bila kau bisa!

Selain itu, seperti seorang filistin Kautsky tidak mampu mempertimbangkan kebijakan yang sesungguhnya dari sebuah partai tertentu. Dia mengutip frase-frase kosong dari kaum Menshevik Maslov dan menolak untuk melihat kebijakan Partai Menshevik yang sesungguhnya pada 1917, ketika dalam suatu “koalisi” dengan para tuan tanah dan Partai Kadet, mereka menyerukan reforma agraria liberal dan kompromi dengan para tuan tanah (bukti: penangkapan anggota-anggota Komite Tanah dan rancangan undang-undang S. Maslov).

Kautsky gagal menyadari bahwa frase-frase P. Maslov mengenai karakter reaksioner dan utopis dari kesetaraan borjuis-kecil sesungguhnya adalah kedok untuk menutupi kebijakan Menshevik yang menyerukan kompromi antara kaum tani dan tuan tanah (dalam kata lain, mendukung tuan tanah dalam menipu kaum tani), alih-alih penumbangan kaum tuan tanah secara revolusioner oleh kaum tani.

Sungguh “Marxis” Kautsky ini!

Kaum Bolshevik-lah yang secara tegas membedakan antara revolusi borjuis-demokratik dan revolusi sosialis: dengan melaksanakan revolusi borjuis-demokratik, mereka membuka pintu untuk transisi ke revolusi sosialis. Ini adalah satu-satunya kebijakan yang revolusioner dan Marxis.

Akan lebih bijak kalau Kautsky tidak mengulang ujar-ujar cerdik dari kaum liberal yang lembek ini: “Tidak pernah kaum tani kecil di mana pun mengadopsi pertanian kolektif di bawah pengaruh keyakinan teori.” (hal. 50)

Sungguh cerdik!

Tetapi di mana pun tidak pernah kaum tani dari negeri yang besar ada di bawah pengaruh sebuah negara proletariat.

Di mana pun tidak pernah kaum tani meluncurkan sebuah perjuangan kelas terbuka yang sampai mencapai tingkatan perang sipil antara kaum tani miskin dan kaum tani kaya, dengan dukungan propagandis, politik, ekonomi, dan militer yang diberikan kepada kaum tani miskin oleh negara proletariat.

Di mana pun tidak pernah kaum kaya meraup begitu banyak kekayaan dari peperangan, sementara massa tani menderita kehancuran yang luar biasa.

Kautsky hanya mengulang-ulang ujar-ujar lama. Dia takut bahkan untuk berpikir mengenai tugas-tugas baru dari kediktatoran proletariat.

Tetapi, Tn. Kautsky yang terhormat, bagaimana bila kaum tani tidak memiliki alat-alat untuk pertanian skala-kecil dan negara proletariat membantu mereka untuk mendapatkan mesin-mesin untuk pertanian kolektif? Apakah ini sebuah “keyakinan teori”?

Mari kita sekarang sentuh masalah nasionalisasi tanah. Kaum Narodnik kita, termasuk semua kaum Sosialis Revolusioner Kiri, menyangkal bahwa kebijakan yang telah kita adopsi adalah kebijakan nasionalisasi tanah. Secara teori mereka keliru. Selama kita masih berada di dalam kerangka produksi komoditas dan kapitalisme, penghapusan kepemilikan pribadi atas tanah adalah nasionalisasi tanah. Istilah “sosialisasi” hanyalah mengekspresikan sebuah kecenderungan, sebuah pengharapan, persiapan untuk transisi ke sosialisme.

Sikap apa yang harus diambil oleh kaum Marxis mengenai nasionalisasi tanah?

Di sini, Kautsky juga gagal bahkan untuk memformulasikan masalah teori ini. Atau, bahkan lebih parah lagi, dia dengan sengaja mengelak darinya, walaupun kita tahu dari literatur Rusia bahwa Kautsky tahu akan polemik-polemik lama di antara kaum Marxis Rusia mengenai masalah nasionalisasi, munisipalisasi (transfer tanah-tanah besar ke pemerintahan lokal), atau pembagian tanah.

Kautsky mengatakan bahwa mentransfer tanah-tanah besar ke negara dan lalu menyewakan mereka dalam bentuk lahan-lahan kecil ke para petani miskin adalah “sesuatu yang sosialistis”, dan pertanyaan ini adalah penghinaan terhadap Marxisme. Kita sudah menunjukkan bahwa tidak ada yang sosialistis mengenai ini. Tetapi tidak hanya itu saja; ini bahkan tidak akan membawa revolusi borjuis-demokratik ke kesimpulannya. Kemalangan Kautsky adalah bahwa dia menaruh kepercayaannya pada kaum Menshevik. Inilah mengapa dia memiliki posisi yang membingungkan. Di satu pihak, dia bersikeras bahwa revolusi Rusia adalah revolusi borjuis dan mengecam kaum Bolshevik yang bergerak ke sosialisme; di lain pihak dia sendiri menganjurkan reforma liberal di bawah kedok sosialisme, tanpa melaksanakan reforma ini sampai ke titik di mana semua sisa-sisa feodalisme dalam relasi agraria dihapuskan sepenuhnya! Argumen-argumen Kautsky, seperti juga para penasihat Menshevik-nya, pada akhirnya adalah pembelaan terhadap kaum borjuis liberal, yang takut terhadap revolusi, dan bukannya pembelaan terhadap revolusi borjuis-demokratik yang konsisten.

Mengapa hanya tanah-tanah besar, dan bukan semua tanah, diubah menjadi milik negara? Kaum borjuis liberal oleh karenanya mempertahankan kondisi-kondisi yang lama secara maksimal, dan juga secara maksimum memfasilitasi restorasi ke kondisi-kondisi yang lama. Kaum borjuasi radikal, yakni kaum borjuasi yang ingin melaksanakan revolusi borjuis sampai ke kesimpulannya, mengedepankan slogan nasionalisasi tanah.

Kautsky, yang pada masa lalu yang samar dan jauh, kira-kira dua puluh tahun yang lalu, menulis sebuah karya Marxis yang luar biasa mengenai masalah agraria. Dia tidak mungkin tidak tahu bahwa Marx mengatakan bahwa nasionalisasi tanah pada kenyataannya adalah slogan konsisten dari kaum borjuasi. Kautsky tidak mungkin tidak tahu mengenai polemik Marx dengan Rodbertus, dan mengenai tulisan-tulisan Marx di karyanya “Teori-teori Nilai Lebih” di mana dia memaparkan dengan teramat jelas signifikansi revolusioner – dalam artian borjuis-demokratik – dari slogan nasionalisasi tanah.

P. Maslov yang Menshevik, yang dipilih oleh Kautsky sebagai penasihatnya, mengatakan bahwa kaum tani Rusia tidak akan setuju dengan nasionalisasi semua tanah (termasuk tanah kaum tani). Sampai pada tingkatan tertentu, pandangan Maslov ini bisa dihubungkan dengan teori “aslinya” (yang hanya membeo para kritikus borjuis Marx), yakni, penolakannya terhadap teori sewa tanah absolut (absolute land rent) dan pengakuannya terhadap “hukum” (atau “fakta”, seperti yang diekspresikan oleh Maslov) “hasil yang semakin menurun” (law of diminishing returns).

Akan tetapi, pada kenyataannya Revolusi 1905 sudah mengungkapkan bahwa mayoritas besar petani di Rusia, para anggota komune-komune desa serta para petani perorangan, setuju dengan nasionalisasi semua tanah. Revolusi 1917 mengkonfirmasikan ini, dan setelah perebutan kekuasaan oleh kaum proletariat semua tanah dinasionalisasi. Kaum Bolshevik tetap setia pada Marxisme dan tidak pernah mencoba (seperti yang dituduhkan oleh Kautsky tanpa bukti) “meloncati” revolusi borjuis-demokratik. Kaum Bolshevik, pertama-tama, membantu para teoretikus borjuis-demokratik yang paling radikal dan revolusioner dari kaum tani, mereka yang berdiri paling dekat dengan kaum proletariat, yakni kaum Sosialis Revolusioner Kiri, untuk melaksanakan nasionalisasi tanah. Pada 20 Oktober 1917, yakni pada hari pertama revolusi sosialis proletariat, kepemilikan pribadi atas tanah dihapus di Rusia.

Ini meletakkan fondasi yang paling sempurna dari sudut pandang perkembangan kapitalisme (Kautsky tidak dapat menyangkal ini tanpa pecah dari Marx), dan pada saat yang sama menciptakan sebuah sistem agraria yang paling fleksibel dari sudut pandang transisi ke sosialisme. Dari sudut pandang borjuis-demokratik, kaum tani revolusioner di Rusia tidak dapat bergerak lebih jauh; tidak ada yang bisa “lebih ideal” dari sudut pandang ini, tidak ada yang bisa “lebih radikal” dari nasionalisasi tanah dan hak guna tanah yang setara. Kaum Bolshevik-lah, dan hanya kaum Bolshevik, yang berkat kemenangan revolusi proletariat, membantu kaum tani untuk melaksanakan revolusi borjuis-demokratik sampai ke kesimpulannya. Dan hanya dengan cara ini mereka dapat memfasilitasi dan mempercepat transisi ke revolusi sosialis.

Kita dapat menilai dari ini bagaimana Kautsky membuat bingung para pembacanya ketika dia menuduh kaum Bolshevik gagal memahami karakter borjuis dari revolusi Rusia. Namun dia sendiri telah pecah dari Marxisme ketika dia tidak mengatakan apapun mengenai nasionalisasi tanah dan ketika dia mengajukan reforma agraria liberal yang paling tidak revolusioner (dari sudut pandang borjuis) sebagai “sesuatu yang sosialistis”!

Sekarang kita telah sampai pada masalah ketiga, yakni sampai mana kediktatoran proletariat di Rusia mempertimbangkan perlunya bergerak ke pertanian kolektif. Di sini, sekali lagi Kautsky melakukan pemalsuan: dia mengutip hanya “tesis-tesis” di mana Bolshevik berbicara mengenai tugas bergerak ke pertanian kolektif! Setelah mengutip salah satu tesis ini, “teoretikus” kita dengan bangga menyatakan:

“Sayangnya, sebuah tugas tidak akan terpenuhi hanya karena ia disebut sebagai sebuah tugas. Untuk sementara waktu, pertanian kolektif di Rusia hanya akan ada di atas kertas. Tidak pernah kaum tani di mana pun mengadopsi pertanian kolektif di bawah pengaruh keyakinan teori.” (hal. 50)

Tidak pernah seorang penipu di mana pun melakukan penipuan yang begitu rendah seperti yang dilakukan oleh Kautsky. Dia mengutip “tesis-tesis” ini, tetapi tidak mengatakan apapun mengenai undang-undang pemerintahan Soviet. Dia berbicara mengenai “keyakinan teori”, tetapi tidak mengatakan apapun mengenai kekuasaan negara proletariat yang memiliki di tangannya pabrik-pabrik dan barang-barang produksi! Semua yang ditulis oleh Kautsky sang Marxis pada 1899 di karyanya “Masalah Agraria” mengenai sumber daya yang ada di tangan negara proletariat untuk melaksanakan transisi gradual kaum tani ke sosialisme telah dilupakan oleh Kautsky sang pengkhianat pada 1918.

Tentu saja, beberapa ratus komune pertanian yang didukung negara dan pertanian-pertanian milik negara (yakni, ladang-ladang besar yang dikelola oleh asosiasi-asosiasi buruh) masihlah sangat kecil. Tetapi apakah “kritik” Kautsky dapat benar-benar disebut kritik bila dia mengabaikan fakta ini?

Nasionalisasi tanah yang telah dilaksanakan di Rusia oleh kediktatoran proletariat telah memberikan jaminan terbaik atas terlaksanakannya revolusi borjuis-demokratik sampai ke kesimpulannya – bahkan bila terjadi kontra-revolusi yang menyebabkan pengembalian dari nasionalisasi tanah ke pembagi-bagian tanah (saya telah melakukan pemeriksaan khusus mengenai kemungkinan ini di pamflet saya mengenai program agraria kaum Marxis pada Revolusi 1905). Selain itu, nasionalisasi tanah telah memberikan negara proletar peluang maksimum untuk bergerak ke pertanian sosialis.

Singkatnya, Kautsky telah menghidangkan kepada kita, secara teori, tambal-sulam yang luar biasa buruk, yang merupakan penyangkalan sepenuhnya terhadap Marxisme. Dan secara praktek, dia telah menyajikan kepada kita sebuah kebijakan penghambaan kepada kaum borjuasi dan reformismenya. Sungguh sebuah kritik yang baik!

Kautsky memulai “analisa ekonomi”nya terhadap industri dengan argumen luar biasa berikut ini:

Rusia memiliki industri kapitalis skala-besar. Dapatkah sistem produksi sosialis dibangun di atas fondasi ini? “Kita mungkin berpikir demikian, bila sosialisme berarti bahwa buruh dari tiap-tiap pabrik dan tambang menyita mereka” (secara harfiah menyita pabrik dan tambang untuk diri mereka sendiri) “guna melakukan produksi secara terpisah di tiap-tiap pabrik” (hal.52), “Pada hari ini, 5 Agustus, ketika saya sedang menulis baris-baris ini,” tambah Kautsky, “sebuah pidato dilaporkan dari Moskow, yang disampaikan oleh Lenin pada 2 Agustus, di mana dia mengatakan: ‘Kaum buruh mempertahankan kepemilikan pabrik dengan teguh di tangan mereka, dan kaum tani tidak akan mengembalikan tanah ke para tuan tanah.’ Sampai sekarang, slogan: pabrik untuk kaum buruh, dan tanah untuk kaum tani, adalah slogan anarko-sindikalis, dan bukan slogan Sosial-Demokratik” (hal 52-53).

Saya telah mengutip kalimat ini secara penuh supaya kaum buruh Rusia, yang sebelumnya menghormati Kautsky, dapat melihat dengan mata mereka sendiri metode yang digunakan oleh pengkhianat ini yang telah membelot ke sisi borjuasi.

Coba pikirkan: pada tanggal 5 Agustus, ketika puluhan dekrit mengenai nasionalisasi pabrik telah diterbitkan – dan tidak ada satu pun pabrik yang “disita” oleh buruh untuk diri mereka sendiri tetapi semua telah diubah menjadi milik Republik Soviet – pada 5 Agustus, dengan penafsiran yang jelas menipu dari satu kalimat di dalam pidato saya, Kautsky mencoba membuat kaum buruh Jerman percaya bahwa pabrik-pabrik telah diserahkan kepada kelompok-kelompok buruh yang terpisah! Dan setelah itu Kautsky mengatakan bahwa menyerahkan pabrik-pabrik kepada kelompok-kelompok buruh yang terpisah adalah sesuatu yang keliru!

Ini bukan kritik, tetapi tipu daya dari seorang antek borjuasi, yang telah disewa oleh kapitalis untuk memfitnah revolusi buruh.

Kautsky mengatakan berulang kali bahwa pabrik-pabrik harus diserahkan kepada negara, atau kepada pemerintahan munisipal, atau kepada koperasi-koperasi konsumen, dan lalu dia akhirnya menambahkan:

“Ini yang sekarang mereka coba lakukan di Rusia...”

Sekarang! Apa artinya ini? Pada bulan Agustus? Mengapa Kautsky tidak meminta teman-temannya, Stein atau Axelrod, atau teman-teman borjuasi lainnya, untuk menerjemahkan setidaknya salah satu dekrit mengenai pabrik?

“Seberapa jauh mereka telah bergerak ke arah ini, kita tidak tahu. Aktivitas Republik Soviet dalam aspek ini adalah hal yang paling penting bagi kita, tetapi ini masih belum jelas. Tidak ada kekurangan dekrit-dekrit ...” (Inilah mengapa Kautsky mengabaikan isi dekrit-dekrit tersebut, atau menyembunyikannya dari para pembacanya!) “Tetapi tidak ada sumber informasi yang dapat diandalkan mengenai dekrit-dekrit ini. Produksi sosialis adalah mustahil tanpa informasi statistik yang cakupannya luas, terperinci, dapat diandalkan, dan cepat. Republik Soviet masih belum bisa menciptakan statistik seperti ini. Apa yang kita pelajari mengenai aktivitas-aktivitas ekonominya sangatlah penuh kontradiksi dan tidak dapat sama sekali diverifikasi. Ini juga adalah akibat dari kediktatoran dan ditekannya demokrasi. Tidak ada kebebasan pers ataupun kebebasan berpendapat.” (hal. 53)

Beginilah caranya sejarah ditulis! Kautsky menerima informasi mengenai pabrik-pabrik yang diambil alih oleh buruh dari pers “bebas” kapitalis dan orang-orang Dutov ... “Pemikir serius” yang berdiri di atas kelas-kelas ini memang sungguh luar biasa! Mengenai ratusan fakta yang menunjukkan bahwa pabrik-pabrik telah diserahkan ke Republik, bahwa mereka dikelola oleh organ kekuasaan Soviet, yakni Dewan Ekonomi Agung, yang terdiri dari para buruh yang telah dipilih oleh serikat-serikat buruh, Kautsky menolak untuk mengatakan barang satu kata pun. Dengan keras kepala dia terus mengulang-ulang satu hal: berikan saya demokrasi yang damai, tanpa perang sipil, tanpa kediktatoran dan dengan statistik yang baik (Republik Soviet telah mendirikan sebuah badan statistik di mana ahli-ahli statistik terbaik di Rusia bekerja, tetapi tentu saja statistik yang ideal tidak dapat diperoleh begitu cepat). Dalam kata lain, Kautsky menginginkan sebuah revolusi tanpa revolusi, tanpa perjuangan yang keras, tanpa kekerasan. Ini sama saja dengan meminta sebuah pemogokan di mana buruh dan kapitalis merasa tenang-tenang saja. Carilah perbedaan antara “sosialis” macam ini dengan kaum birokrat liberal!

Jadi, dengan bersandar pada “fakta-fakta material” seperti ini, yakni dengan sengaja mengabaikan banyak fakta, Kautsky “menyimpulkan”:

“Sangat diragukan kalau kaum proletariat Rusia telah meraih lebih dalam hal pencapaian-pencapaian praktis yang riil, dan tidak hanya dekrit-dekrit semata, di bawah Republik Soviet dibandingkan dengan apa yang dapat dicapainya dari Majelis Konstituante, di mana, seperti halnya di dalam Soviet-soviet, kaum sosialis, walaupun dari warna yang berbeda, mendominasi.” (hal. 58)

Sungguh luar biasa bukan? Kami akan menganjurkan kepada para pemuja Kautsky untuk menyebarkan kalimat di atas seluas mungkin di antara buruh Rusia, karena tidak ada materi yang lebih baik daripada ini untuk mengukur tingkat kebangkrutan politiknya. Kamerad-kamerad buruh, Kerensky juga adalah seorang “sosialis”, hanya saja “dari warna yang berbeda”! Kautsky sang sejarawan puas dengan nama, dengan gelar yang “disita” oleh kaum Sosialis-Revolusioner Kanan dan Menshevik untuk mereka sendiri. Kautsky sang sejarawan menolak untuk mendengarkan fakta-fakta yang menunjukkan bahwa di bawah Kerensky kaum Menshevik dan Sosialis-Revolusioner Kanan mendukung kebijakan imperialis dan praktek-praktek penjarahan kaum borjuasi. Diam-diam dia bungkam mengenai fakta bahwa mayoritas Majelis Konstituante terdiri dari orang-orang yang mendukung peperangan imperialis dan kediktatoran borjuis. Dan ini disebut “analisa ekonomi”!

Sebagai kesimpulan, mari saya kutip satu contoh lagi dari “analisa ekonomi” ini:

“... Setelah sembilan bulan, Republik Soviet, alih-alih membawa kesejahteraan, harus menjelaskan mengapa masih ada kemiskinan secara umum” (hal. 41).

Kita terbiasa mendengar argumen seperti ini dari bibir kaum Kadet. Semua kacung borjuasi di Rusia berargumen seperti ini: tunjukkan kepada kami, setelah sembilan bulan, kesejahteraanmu – dan ini setelah empat tahun peperangan yang menghancurkan, dengan kapital asing yang memberikan dukungan penuh terhadap sabotase dan pemberontakan kaum borjuasi di Rusia. Pada kenyataannya, tidak ada perbedaan sama sekali antara Kautsky dan seorang borjuasi kontra-revolusioner. Ujar-ujarnya yang manis, yang diberi kedok “sosialisme”, hanya mengulang-ulang apa yang dikatakan oleh orang-orang Kornilov, orang-orang Dutov, dan orang-orang Krasnov di Rusia secara blak-blakan, secara langsung dan tanpa ditutup-tutupi.

Baris-baris di atas ditulis pada 8 November 1918. Pada malam yang sama kita menerima berita dari Jerman mengenai mulainya revolusi, pertama di Kiel dan kota-kota dan pelabuhan-pelabuhan di Utara, di mana kekuasaan telah berpindah tangan ke Dewan Deputi Buruh dan Tentara, dan kemudian di Berlin, di mana kekuasaan juga telah berpindah tangan ke Dewan.

Kesimpulan yang masih harus ditulis di pamflet saya mengenai Kautsky dan mengenai revolusi proletariat sekarang sudah tidak dibutuhkan lagi.

10 November, 1918

Lampiran I: Tesis Mengenai Majelis Konstituante

1. Tuntutan untuk diselenggarakannya Majelis Konstituante adalah bagian dari program Sosial-Demokrasi revolusioner yang sepenuhnya sah, karena di dalam republik borjuis Majelis Konstituante mewakilkan bentuk demokrasi yang tertinggi, dan karena, dengan membentuk pra-Parlemen, republik imperialis yang dipimpin oleh Kerensky sedang bersiap-siap untuk melakukan kecurangan dalam pemilu dan melanggar demokrasi dengan berbagai cara.