Revolusi Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat
Part 5
Kautsky mengadopsi sebuah posisi yang formal dalam masalah Majelis Konstituante. Tesis saya dengan jelas dan berulang kali mengatakan bahwa kepentingan revolusi adalah lebih tinggi daripada hak-hak formal Majelis Konstituante (baca tesis 16 dan 17). Sudut pandang demokratik formal adalah sudut pandang kaum demokrat borjuis yang menolak mengakui bahwa kepentingan kaum proletariat dan perjuangan kelas proletariat adalah yang tertinggi. Sebagai seorang sejarawan, Kautsky tidak dapat menyangkal bahwa parlemen borjuis adalah organ dari kelas penguasa. Tetapi sekarang (untuk tujuan menolak revolusi) Kautsky harus melupakan Marxismenya, dan dia menghindari pertanyaan: Majelis Konstituante adalah organ kelas mana? Kautsky tidak mengkaji kondisi-kondisi yang konkret. Dia tidak ingin menghadapi fakta-fakta. Dia tidak mengatakan barang satu kata pun kepada para pembaca Jermannya mengenai fakta bahwa tesis saya mengandung tidak hanya penjabaran teoritis akan keterbatasan dari demokrasi borjuis (tesis 1 sampai 3), tidak hanya penjabaran kondisi-kondisi konkret yang menentukan perbedaan antara daftar caleg di pertengahan Oktober 1917 dan situasi yang sesungguhnya pada Desember 1917 (tesis 4 sampai 6), tetapi juga sejarah perjuangan kelas dan Perang Sipil pada Oktober-Desember 1917 (tesis 7-15). Dari sejarah yang konkret ini kita menarik kesimpulan (tesis 14) bahwa slogan “Semua Kekuasaan Untuk Majelis Konstituante!” telah, pada kenyataannya, menjadi slogan orang-orang Kadet dan Kaledin dan kaki tangan mereka.
Kautsky sang sejarawan tidak mampu melihat ini. Kautsky sang sejarawan tidak pernah mendengar bahwa hak pilih universal kadang-kadang menghasilkan parlemen yang borjuis-kecil, kadang-kadang parlemen yang reaksioner dan kontra-revolusioner. Kautsky sang sejarawan Marxis tidak pernah mendengar bahwa bentuk pemilu, bentuk demokrasi, adalah satu hal, dan karakter kelas dari sebuah institusi adalah satu hal lain. Masalah karakter kelas dari Majelis Konstituante secara langsung diajukan dan dijawab di dalam tesis saya. Mungkin jawaban saya keliru. Kami akan sangat menerima kritik Marxis dari orang luar terhadap analisa kami. Alih-alih menulis baris-baris yang sangat konyol (yang banyak sekali di dalam buku Kautsky) mengenai pelarangan kritik terhadap Bolshevisme, dia mestinya membuat kritik itu sendiri. Tetapi dia tidak menawarkan kritik sama sekali. Dia bahkan tidak mengungkit masalah analisa kelas Soviet di satu pihak, dan analisa kelas Majelis Konstituante di lain pihak. Oleh karenanya mustahil untuk berargumen, untuk berdebat dengan Kautsky. Yang bisa kita lakukan hanya mendemonstrasikan kepada para pembaca mengapa Kautsky adalah seorang pengkhianat dan tidak bisa lain.
Perbedaan antara Soviet dan Majelis Konstituante memiliki sejarahnya. Bahkan seorang sejarawan yang tidak punya perspektif perjuangan kelas tidak bisa mengabaikannya. Kautsky tidak ingin menyentuh sejarah yang sesungguhnya ini. Kautsky telah menyembunyikan dari para pembaca Jermannya fakta yang sudah terbukti luas (yang hanya bisa disembunyikan oleh seorang Menshevik yang culas) bahwa perbedaan antara Soviet dan institusi “negara umumnya” (dalam kata lain, borjuis) telah eksis bahkan di bawah rejim Menshevik, dari Februari sampai Oktober 1917. Sebenarnya, Kautsky mengadopsi posisi konsiliasi, kompromi, dan kolaborasi antara proletariat dan borjuasi. Tidak peduli sekeras apapun Kautsky ingin membantah ini, ini adalah kenyataan yang termaktub di dalam seluruh pamfletnya. Untuk mengatakan bahwa Majelis Konstituante tidak boleh dibubarkan adalah sama dengan mengatakan bahwa perjuangan melawan borjuasi tidak boleh diperjuangkan sampai garis akhir, bahwa kaum borjuasi tidak boleh ditumbangkan dan bahwa proletariat harus berdamai dengan mereka.
Mengapa Kautsky diam saja mengenai kenyataan bahwa kaum Menshevik telah melakukan kerja yang tercela ini dari Februari sampai Oktober 1917 dan tidak meraih apapun? Bila memang mungkin mendamaikan kaum borjuasi dengan kaum proletariat, mengapa kaum Menshevik tidak berhasil dalam melakukan ini? Mengapa kaum borjuasi menentang Soviet? Mengapa kaum Menshevik menyebut Soviet-soviet sebagai “demokrasi revolusioner”, dan kaum borjuasi sebagai “elemen-elemen berpunya”?
Kautsky telah menyembunyikan dari para pembaca Jermannya bahwa kaum Menshevik-lah yang, dalam “epos” pemerintahan mereka (Februari sampai Oktober 1917), menyebut Soviet sebagai “demokrasi revolusioner”, dan oleh karenanya mengakui superioritas Soviet di atas semua institusi lainnya. Hanya dengan menyembunyikan fakta ini Kautsky sang sejarawan menciptakan kesan bahwa perbedaan antara Soviet dan borjuasi tidak memiliki sejarah, bahwa perbedaan ini timbul dengan sendirinya, tanpa sebab, tiba-tiba, karena perilaku buruk dari kaum Bolshevik. Namun, pada kenyataannya, yang meyakinkan rakyat akan kesia-siaan dari usaha kaum Menshevik dan menjauhkan kaum proletariat dari mereka adalah lebih dari enam bulan (suatu waktu yang panjang di masa revolusi) pengalaman di bawah Menshevik di mana mereka berusaha untuk berkompromi dan mendamaikan proletariat dengan borjuasi.
Kautsky mengakui bahwa Soviet adalah organisasi perjuangan proletariat yang hebat, dan bahwa Soviet punya masa depan yang cerah di hadapannya. Tetapi, biarpun dia berkata begitu, posisi Kautsky runtuh seperti rumah kartu, atau buyar seperti mimpi seorang borjuis kecil yang ingin menghindari perjuangan tajam antara proletariat dan borjuasi. Karena revolusi adalah sebuah perjuangan yang berkelanjutan dan terlebih lagi nekat, dan kaum proletariat adalah kelas pelopor dari semua rakyat tertindas, fokus dan pusat dari semua aspirasi rakyat tertindas untuk pembebasan mereka! Oleh karenanya, wajar saja kalau Soviet, sebagai organ perjuangan rakyat tertindas, merefleksikan dan mengekspresikan mood dan perubahan opini rakyat dengan lebih cepat, lebih penuh, dan lebih sesuai dibandingkan dengan institusi lainnya (inilah mengapa demokrasi Soviet adalah tipe demokrasi yang lebih tinggi).
Di periode antara 28 Februari dan 25 Oktober 1917, Soviet berhasil menyelenggarakan dua Kongres Seluruh-Rusia yang mewakili mayoritas populasi Rusia, semua buruh dan tani, dan 70 atau 80 persen kaum tani. Belum lagi ratusan bahkan ribuan kongres tingkat lokal, uyezd, kota, gubernia, dan regional. Selama periode ini, kaum borjuasi tidak berhasil menyelenggarakan satu pun pertemuan atau institusi yang mewakili mayoritas rakyat (kecuali “Konferensi Demokratik” yang adalah olok-olokan, yang membuat murka kaum proletariat). Majelis Konstituante merefleksikan mood rakyat dan pengelompokan politik yang sama seperti saat Kongres Soviet Seluruh Rusia Pertama (Juni 1917). Ketika Majelis Konstituante diselenggarakan (Januari 1918), Kongres Soviet Kedua (Oktober 1917) dan Ketiga (Januari 1918) telah bertemu, dan kedua kongres ini telah menunjukkan sejelas-jelasnya bahwa rakyat telah berayun ke kiri, telah menjadi revolusioner, dan telah bergerak ke sisi kaum Bolshevik. Dalam kata lain, rakyat telah pecah dari kepemimpinan borjuis-kecil, telah pecah dari ilusi bahwa perdamaian dengan kaum borjuasi adalah hal yang mungkin, dan telah bergabung dengan perjuangan proletariat revolusioner untuk menumbangkan kaum borjuasi.
Jadi, bahkan sejarah eksternal Soviet menunjukkan bahwa Majelis Konstituante adalah sebuah badan yang reaksioner dan bahwa pembubaran adalah hal yang tak terelakkan. Tetapi Kautsky tetap berpegang teguh pada “slogannya”: biarlah “demokrasi murni” menang walaupun revolusi binasa dan kaum borjuasi mengalahkan kaum proletariat! Fiat justitia, pereat mundus! [Bahasa Latin untuk “Biarlah hukum ditegakkan, walaupun dunia mungkin akan binasa!” – Pent.]
Di bawah adalah hasil dari kongres-kongres Soviet Seluruh Rusia selama perjalanan sejarah Revolusi Rusia:
Kongres Soviet Seluruh Rusia
Jumlah Delegasi
Jumlah Delegasi Bolshevik
% Delegasi Bolshevik
Pertama (3 Juni 1917)
790
103
13
Kedua (25 Oktober 1917)
675
343
51
Ketiga (10 Januari 1918)
710
434
61
Keempat (14 Maret 1918)
1232
795
54
Kelima (4 Juli 1918)
1164
773
66
Dengan melihat sekilas hasil di atas kita dapat memahami mengapa pembelaan terhadap Majelis Konstituante dan kegaduhan (seperti dari Kautsky) mengenai Bolshevik yang tidak memiliki mayoritas populasi di belakang mereka adalah olok-olokan di Rusia.
Konstitusi Soviet
Seperti yang telah saya jelaskan di atas, perampasan hak pilih dari kaum borjuasi bukanlah fitur yang niscaya dari kediktatoran proletariat. Dan di Rusia, kaum Bolshevik, yang jauh sebelum Revolusi Oktober telah mengedepankan slogan kediktatoran proletariat, tidak mengatakan apapun sebelumnya mengenai merampas hak pilih dari kaum pengeksploitasi. Aspek kediktatoran ini tidak muncul “sesuai dengan rencana” dari partai manapun; ia muncul dengan sendirinya seiring jalannya perjuangan. Tentu saja, Kautsky sang sejarawan gagal untuk menyadari ini. Dia gagal untuk memahami bahwa bahkan ketika kaum Menshevik (yang berkompromi dengan borjuasi) masih menguasai Soviet-soviet, kaum borjuasi memisahkan diri mereka dari Soviet-soviet atas kehendak mereka sendiri, memboikotnya, dan menentangnya dan berintrik melawannya. Soviet muncul tanpa konstitusi apapun dan eksis tanpa konstitusi lebih dari satu tahun (dari musim semi 1917 sampai musim panas 1918). Kemurkaan kaum borjuasi terhadap organisasi independen dan mahakuasa (karena organisasi ini inklusif) dari rakyat tertindas ini; perlawanan yang kotor, tak-berprinsip dan egois yang dikobarkan oleh kaum borjuasi terhadap Soviet, dan terakhir, partisipasi aktif (dari kaum Kadet sampai kaum Sosialis-Revolusioner Kanan, dari Milyukov sampai Kerensky) di dalam pemberontakan Kornilov -- semua ini membuka jalan untuk mengeluarkan kaum borjuasi dari Soviet-soviet.
Kautsky telah mendengar mengenai pemberontakan Kornilov, tetapi dia dengan megah menyangkal fakta-fakta sejarah dan alur serta bentuk perjuangan yang menentukan bentuk kediktatoran. Tentu saja, siapa yang peduli dengan fakta ketika berbicara mengenai “demokrasi murni”? Inilah mengapa “kritik” Kautsky terhadap perampasan hak suara kaum borjuasi dipenuhi dengan kenaifan yang manis, yang menyentuh kalau ini ditunjukkan oleh seorang anak kecil, tetapi memuakkan ketika ditunjukkan oleh seorang yang masih bisa berpikir jernih.
“... Bila kaum kapitalis menemui diri mereka sendiri dalam minoritas di bawah pemilu yang universal, mereka akan lebih siap menerima takdir mereka.” (hal. 33) Sungguh memukau bukan? Kautsky yang cerdik telah menyaksikan banyak kasus di dalam sejarah, dan, secara umum, mengetahui dengan sangat baik dari pengamatannya akan kehidupan tuan tanah dan kapitalis yang tunduk pada kehendak mayoritas kaum tertindas. Kautsky yang cerdik menganjurkan “oposisi”, yakni perjuangan parlementer. Ya, inilah yang dia katakan: “oposisi” (hal. 34 dan halaman-halaman lainnya).
Sejarawan dan politisi pintar saya yang terhormat! “Oposisi” adalah sebuah konsep yang berlaku hanya pada masa perjuangan parlementer yang damai, yakni sebuah konsep pada masa non-revolusioner, ketika tidak ada revolusi. Selama revolusi kita harus melawan musuh yang kejam di dalam perang sipil; dan tidak ada satu pun keluhan reaksioner dari seorang borjuis kecil yang gemetar ketakutan akan perang seperti ini, seperti Kautsky, yang akan mengubah kenyataan ini. Untuk memeriksa masalah perang sipil yang kejam dari sudut pandang “oposisi” ketika kaum borjuasi siap melakukan kejahatan apapun -- contoh dari orang-orang Versailles dan perjanjian-perjanjian mereka dengan Bismarck mesti berarti sesuatu bagi setiap orang yang tidak memperlakukan sejarah seperti Petrushka-nya Gogol --- ketika bangsa-bangsa asing datang membantu kaum borjuasi dan berintrik melawan revolusi, adalah sesuatu yang sungguh konyol. Kaum proletariat revolusioner harus mengenakan topi tidur mereka, seperti Kautsky “sang penasihat yang kacau balau”, dan menganggap kaum borjuasi, yang sedang mengorganisir pemberontakan-pemberontakan kontra-revolusioner di Dutov, Krasnov, dan Ceko dan membayar jutaan rubel kepada para penyabot, sebagai “oposisi” legal. Oh, sungguh bijaksana!
Kautsky sangatlah tertarik pada aspek formal dan legal dari masalah yang sedang kita diskusikan, dan membaca analisisnya mengenai Konstitusi Soviet, kita segera teringat kata-kata Bebel: pengacara adalah sepenuhnya reaksioner. Kautsky menulis, “Pada kenyataannya, tidak hanya kapitalis yang hak suaranya akan terampas. Apa itu kapitalis secara legal? Seorang pemilik properti? Bahkan di sebuah negeri yang ekonominya maju seperti Jerman, di mana kaum proletariat sangatlah banyak, pembentukan Republik Soviet akan merampas hak suara dari banyak orang. Pada 1907 di Jerman, bersama dengan keluarga mereka, jumlah orang yang bekerja di tiga sektor besar – pertanian, industri, dan perdagangan – kira-kira 35 juta orang di kelompok pekerja-upahan dan 17 juta di kelompok independen. Oleh karenanya, sebuah partai mungkin mendapatkan mayoritas di antara pekerja-upahan, tetapi hanya minoritas di antara populasi secara keseluruhan.” (hal. 33)
Inilah satu contoh bagaimana Kautsky berargumen. Bukankah ini adalah keluhan kontra-revolusioner dari seorang borjuasi? Tn. Kautsky, mengapa kau memasukkan semua “orang independen” ke kategori orang-orang yang hak pilihnya dibatasi, ketika kau tahu dengan sangat baik bahwa mayoritas besar kaum tani Rusia tidak menyewa pekerja upahan, dan oleh karenanya mereka tidak akan kehilangan hak pilih mereka? Bukankah ini penipuan?
Mengapa kau, seorang ekonom yang terpelajar, tidak mengutip angka-angka yang kau ketahui dengan sangat baik dan yang juga dapat ditemui di laporan-laporan statistik tahun 1907 mengenai pekerja-upahan di pertanian menurut luas sawah? Mengapa kau tidak mengutip angka-angka ini agar para buruh Jerman, yakni para pembaca pamfletmu, dapat melihat berapa banyak kaum pengeksploitasi, dan betapa sedikitnya mereka dibandingkan dengan jumlah total “petani” yang ada di statistik Jerman?
Kau tidak melakukan ini karena pengkhianatanmu telah membuatmu tidak lebih daripada seorang penjilat kaum borjuasi.
Kautsky mengatakan bahwa istilah kapitalis adalah sebuah konsep legal yang tidak jelas, dan di beberapa halaman dia mengecam “ketidakrincian atau kesewenang-wenangan” Konstitusi Soviet. “Akademisi serius” ini tidak keberatan pada kaum borjuasi Inggris yang membutuhkan beberapa abad untuk menyempurnakan konstitusi borjuis yang baru (baru di Abad Pertengahan). Tetapi dia, karena dia adalah perwakilan kacung borjuasi, tidak memberikan waktu kepada kita, kaum buruh dan tani Rusia. Dia menuntut agar kita segera menyempurnakan konstitusi kita sampai ke huruf yang terakhir dalam beberapa bulan.
“Ketidakrincian!” Coba bayangkan betapa dalamnya kepatuhan pada borjuasi dan kebodohan yang terkandung di dalam kecaman seperti ini. Ketika para ahli hukum yang sepenuhnya borjuis dan reaksioner di negeri-negeri kapitalis telah selama puluhan tahun atau ratusan tahun merancang undang-undang yang paling terperinci dan menulis ratusan kitab hukum dan penafsiran hukum untuk menindas buruh, untuk mengikat kaki dan tangan kaum miskin dan meletakkan ribuan halangan dan rintangan di jalan setiap rakyat pekerja jelata – di sini kaum liberal borjuis dan Tn. Kautsky tidak melihat “kesewenang-wenangan”! Ini adalah “hukum” dan “ketertiban”! Cara-cara bagaimana “menundukkan” kaum miskin telah dipikirkan matang-matang dan dikitabkan. Ada ribuan pengacara borjuis dan birokrat (mengenai mereka Kautsky bungkam, mungkin karena menghancurkan mesin birokrasi dianggap sangat penting oleh Marx...) – para pengacara dan birokrat yang tahu bagaimana menafsir hukum sedemikian rupa sehingga buruh dan tani jelata tidak akan pernah bisa bebas dari ikatan kawat berduri hukum. Ini bukanlah “kesewenang-wenangan” dari kaum borjuasi. Ini bukanlah kediktatoran dari kaum pengeksploitasi yang keji dan egois, yang menghisap darah rakyat. Sama sekali bukan! Ini adalah “demokrasi murni”, yang semakin hari menjadi semakin murni.
Tetapi sekarang ketika kelas-kelas pekerja dan tertindas, yang terpisah dari saudara-saudara mereka di seberang perbatasan akibat peperangan imperialis, telah untuk pertama kalinya membentuk Soviet-soviet mereka sendiri, telah menyerukan kepada rakyat yang sebelumnya ditindas, diinjak-injak dan dibodohkan oleh kaum borjuasi untuk melakukan kerja konstruksi politik, telah dengan tangan mereka sendiri memulai membangun sebuah negara proletariat yang baru, dan di tengah perjuangan yang tajam dan perang sipil yang berkobar telah mulai membuat sketsa dari prinsip-prinsip fundamental sebuah negara tanpa eksploitasi – semua bajingan borjuis, semua lintah darat, bersama-sama dengan Kautsky, melolong mengenai “ketidakrincian”! Betul, bagaimana mungkin orang-orang yang bodoh ini, buruh dan tani ini, “massa liar” ini, dapat menafsirkan hukum mereka? Bagaimana mungkin kaum buruh jelata bisa punya pemahaman mengenai keadilan tanpa nasihat dari pengacara-pengacara yang terdidik, dari para komentator borjuis, dari para Kautsky dan birokrat-birokrat tua yang bijaksana?
Tn. Kautsky mengutip dari pidato saya pada 28 April 1918: “Rakyat sendiri yang akan menentukan prosedur dan waktu pemilu.” Dan Kautsky, sang “demokrat murni” ini, mengambil kesimpulan dari kutipan ini:
“... Oleh karenanya, ini berarti setiap majelis pemilih dapat menentukan prosedur pemilu sekehendak hati mereka. Kesewenang-wenangan dan peluang untuk menyingkirkan oposisi yang tidak dikehendaki di dalam barisan proletariat oleh karenanya akan dilaksanakan secara ekstrem.” (hal. 37)
Baik, apa bedanya ini dengan ocehan dari seorang jurnalis picisan yang dibayar oleh kaum borjuis, yang mengeluh mengenai rakyat pekerja yang menindas buruh yang rajin yang “bersedia bekerja” di saat pemogokan? Mengapa metode borjuis yang birokratis dalam menentukan prosedur pemilu di bawah demokrasi borjuis yang “murni” bukanlah kesewenang-wenangan? Mengapa rasa keadilan di antara massa yang telah bangkit untuk melawan penindas lama mereka dan yang telah terdidik dan tertempa di dalam perjuangan yang tajam ini bisa kurang berharga dibandingkan dengan rasa keadilan dari segelintir birokrat, intelektual, dan pengacara yang dididik di dalam prasangka-prasangka borjuis?
Kautsky adalah seorang sosialis sejati. Jangan berani-berani mempertanyakan ketulusan dari bapak terhormat ini, dari warga negara yang sangat jujur ini. Dia adalah pendukung kuat dan setia kemenangan buruh dan revolusi proletar. Satu-satunya hal yang dia inginkan adalah para intelektual dan filistin borjuis-kecil yang bermulut manis, yang mengenakan topi tidur, harus terlebih dahulu sebelum massa mulai bergerak, sebelum mereka memulai perjuangan tajam dengan para penindas mereka, dan tentunya tanpa perang sipil, merancang peraturan-peraturan yang terperinci dan moderat untuk perkembangan revolusi ...
Terbakar oleh kemarahan moral yang dalam, Judas Golovlyov kita yang paling terpelajar ini memberitahu para buruh Jerman bahwa pada 14 Juni 1918, Komite Eksekutif Pusat Soviet Seluruh Rusia memutuskan untuk mengeluarkan para perwakilan Partai Sosialis-Revolusioner Kanan dan Menshevik dari Soviet. Judas Kautsky yang geram menulis, “Kebijakan ini tidaklah diarahkan kepada orang-orang tertentu yang bersalah atas kejahatan yang jelas... Konstitusi Republik Soviet tidak memuat satu kata pun mengenai imunitas para perwakilan Soviet. Bukan orang-orang tertentu, tetapi partai-partai tertentu yang dikeluarkan dari Soviet.” (hal. 37)
Ya, ini sangatlah buruk, sebuah penyimpangan dari demokrasi murni yang tidak dapat ditolerir, menurut peraturan-peraturan revolusi yang dibuat oleh Judas Kautsky kita yang revolusioner. Kami, kaum Bolshevik Rusia, harus pertama-tama menjamin imunitas dari para Savinkov dkk., para Lieberdan, pada Potresov (“aktivis”) dkk. Lalu merancang hukum-hukum pidana yang menyatakan bahwa partisipasi di dalam perang kontra-revolusioner di Ceko, atau aliansi dengan imperialis Jerman di Ukraina atau Georgia untuk melawan buruh dari bangsa sendiri, adalah “kejahatan yang dapat dihukum”. Dan hanya setelah itu, di atas basis hukum pidana ini, kita diperbolehkan, sesuai dengan prinsip-prinsip “demokrasi murni”, mengeluarkan “orang-orang tertentu” dari Soviet. Orang-orang Ceko, yang mendapat uang oleh kapitalis Inggris dan Prancis lewat (dan berkat agitasi) dari para Savinkov, Potresov dan Lieberdan, dan kelompok Krasnov yang mendapat amunisi dari Jerman lewat kaum Menshevik Ukraina dan Tiflis, akan duduk diam menunggu sampai kita siap dengan hukum pidana yang sempurna, dan seperti kaum demokrat paling murni, mereka akan membatasi diri mereka ke dalam peran seorang “oposisi”...
Dada Kautsky juga penuh dengan kegeraman moral karena Konstitusi Soviet merampas hak pilih semua orang yang “menggaji pekerja-upahan dengan tujuan mendapatkan laba”. “Seorang pekerja di rumah, atau seorang majikan kecil yang hanya mempekerjakan seorang tukang ahli,” tulis Kautsky “mungkin hidup dan merasa seperti seorang proletar, tetapi dia tidak dapat memilih.” (hal. 36)
Sungguh sebuah penyelewengan “demokrasi murni”! Sungguh sebuah ketidakadilan! Benar, sampai sekarang semua Marxis telah berpikir – dan ribuan fakta telah membuktikannya – bahwa para majikan kecil adalah pengeksploitasi buruh yang paling kejam dan serakah, tetapi Judas Kautsky kita melihat para majikan kecil ini bukan sebagai sebuah kelas (siapa yang menciptakan teori perjuangan kelas yang jahat ini?) tetapi sebagai individu-individu terpisah, sebagai pengeksploitasi yang “hidup dan merasa seperti seorang proletar. “Si Agnes yang hemat”, yang telah dianggap mati dan sudah lama dikubur, sekarang bangkit hidup kembali di bawah pena Kautsky. “Si Agnes yang hemat” ini diciptakan dan diperkenalkan ke dalam literatur Jerman beberapa dekade yang lalu oleh Eugen Richter, sang demokrat “murni” dan borjuis itu. Dia memprediksikan bahwa kediktatoran proletariat dan penyitaan kapital para pengeksploitasi akan menyebabkan malapetaka yang tak terhingga. Eugen bertanya: secara legal, apa itu seorang kapitalis? Dia mengambil contoh seorang penjahit yang miskin dan hemat (“si Agnes yang hemat”), yang harta bendanya yang sedikit itu dirampas oleh “para diktator proletar” yang kejam. Dulu kala semua kaum Sosial-Demokrat Jerman mengolok-olok “si Agnes yang hemat” ciptaan Eugen Richter ini. Tetapi ini dulu sekali, ketika Bebel, yang sangat blak-blakan mengenai banyaknya kaum liberal di dalam partainya, masih hidup. Ini dulu sekali ketika Kautsky belumlah berkhianat.
Sekarang “si Agnes yang hemat” telah bangkit dari kuburnya di dalam bentuk “majikan kecil yang hanya mempekerjakan seorang tukang-ahli, dan yang hidup dan merasa seperti seorang proletar”. Kaum Bolshevik yang jahat menindasnya, dan merampas hak suaranya. Seperti yang Kautsky katakan, benar kalau “setiap majelis pemilih” di Republik Soviet dapat menerima masuk seorang majikan kecil yang miskin, kalau misalnya dia bukan seorang pengeksploitasi. Tetapi apakah kita dapat bergantung pada pengetahuan dari kehidupan, dari rasa keadilan bila para buruh dalam pertemuan pabrik bertindak tanpa hukum yang tertulis (sungguh buruk!)? Bukankah lebih baik memberikan hak suara kepada semua pengeksploitasi, kepada semua orang yang mempekerjakan pekerja-upahan, daripada mengambil risiko merampas hak pilih dari “si Agnes yang hemat” dan “para majikan kecil yang hidup dan merasa seperti seorang proletar”?
Biarlah para bajingan pengkhianat yang memuakkan, di tengah tepuk tangan riuh dari kaum borjuasi dan sovinis-sosial, menyerang Konstitusi Soviet kita karena konstitusi tersebut merampas hak suara dari kaum pengeksploitasi! Tidak mengapa karena ini akan mempercepat dan memperlebar perpecahan antara kaum buruh revolusioner dengan para Scheidemann dan Kautsky, para Renaudel dan Longuet, para Henderson dan Ramsay MacDonalds, para pemimpin lama dan pengkhianat lama sosialisme.