Revolusi Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat
Part 10
2. Sementara menuntut diselenggarakannya Majelis Konstituante, Sosial-Demokrasi revolusioner telah berulang kali menekankan semenjak awal Revolusi 1917 bahwa republik Soviet adalah bentuk demokrasi yang lebih tinggi daripada republik borjuis dengan Majelis Konstituante.
3. Untuk transisi dari sistem borjuis ke sistem sosialis, untuk kediktatoran proletariat, Republik Soviet (Buruh, Tentara, dan Tani) bukan hanya sebuah bentuk institusi demokratik yang lebih tinggi (dibandingkan dengan republik borjuis yang dipimpin oleh Majelis Konstituante), tetapi juga adalah satu-satunya bentuk yang dapat mengamankan transisi yang paling mulus ke sosialisme.
4. Penyelenggaraan Majelis Konstituante dengan daftar yang diserahkan pada pertengahan Oktober 1917 berlangsung di bawah kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan pemilu yang mengekspresikan kehendak rakyat secara umum dan rakyat pekerja khususnya.
5. Pertama, perwakilan proporsional akan mengekspresikan kehendak rakyat hanya bila daftar para perwakilan partai sesuai dengan dukungan rakyat terhadap faksi-faksi partai. Akan tetapi, dalam kasus kita, seperti yang diketahui semua orang, partai yang dari Mei hingga Oktober punya dukungan terbesar dari rakyat, dan terutama dari kaum tani – Partai Sosialis-Revolusioner – mengeluarkan daftar perwakilan bersama untuk Majelis Konstituante pada pertengahan Oktober 1917, tetapi pecah pada November 1917, setelah pemilu dan sebelum Majelis ini bertemu.
Oleh karenanya, tidak ada, dan tidak mungkin akan ada, kesesuaian antara kehendak massa pemilih dan komposisi Majelis Konstituante yang terpilih.
6. Kedua, yang lebih penting, yakni sumber perbedaan – yang bukan bersifat formal maupun legal, tetapi sosio-ekonomik dan kelas – antara kehendak rakyat, terutama kehendak kelas pekerja, dengan komposisi Majelis Konstituante. Ini karena pemilihan Majelis Konstituante berlangsung ketika mayoritas besar rakyat masih belum mengetahui sepenuhnya cakupan dan signifikansi Revolusi Oktober, Soviet, proletariat-tani, yang dimulai pada 25 Oktober 1917, yakni setelah daftar kandidat Majelis Konstituante telah diserahkan.
7. Revolusi Oktober melalui serangkaian tahapan perkembangan, memenangkan kekuasaan untuk Soviet dan merebut kekuasaan politik dari kaum borjuasi dan mentransfernya ke kaum proletariat dan tani miskin.
8. Ini dimulai dengan kemenangan 24-25 Oktober di ibukota, ketika Kongres Soviet Buruh dan Tani Kedua, yakni pelopor kaum proletariat dan seksi kaum tani yang paling aktif secara politik, memberikan mayoritas kepada Partai Bolshevik dan menaruhnya ke tampuk kekuasaan.
9. Kemudian, selama bulan November dan Desember, revolusi menyebar ke seluruh tentara dan kaum tani. Ini terutama terekspresikan dengan disingkirkannya badan-badan kepemimpinan lama (komite-komite tentara, komite-komite tani gubernia, Komite Eksekutif Pusat dari Soviet Tani Seluruh Rusia, dsb.) – yang merupakan fase lama dan kompromi dari revolusi, fase borjuis dan bukan fase proletariat, yang oleh karenanya niscaya lenyap di bawah tekanan massa yang semakin luas – dan di dalam pemilihan-pemilihan badan-badan kepemimpinan yang baru untuk menggantikan mereka.
10. Gerakan rakyat tertindas yang masif ini untuk membangun kembali badan-badan kepemimpinan dari organisasi-organisasi mereka bahkan belum berakhir sampai sekarang, di pertengahan bulan Desember 1917, dan Kongres Buruh Kereta Api, yang masih berlangsung, mewakili salah satu tahapan ini.
11. Oleh karenanya, pengelompokan kekuatan-kekuatan kelas di Rusia seiring dengan berjalannya perjuangan kelas pada kenyataannya mengambil, pada bulan November dan Desember, bentuk yang berbeda secara prinsipil dengan daftar kandidat partai untuk Majelis Konstituante yang dibuat pada pertengahan Oktober 1917.
12. Peristiwa-peristiwa belakangan ini di Ukraina (dan juga di Finlandia dan Byelorussia, dan juga di Caucasus) juga menunjukkan pengelompokan ulang kekuatan-kekuatan kelas yang terjadi di dalam proses perjuangan antara nasionalisme borjuis dari Bada Ukraina, Diet Finlandia, dsb. di satu pihak, dan kekuasaan Soviet, revolusi proletariat-tani di tiap-tiap republik nasional ini, di pihak lain.
13. Terakhir, peperangan sipil yang dimulai oleh pemberontakan kontra-revolusioner Kadet-Kaledin terhadap otoritas Soviet, terhadap pemerintahan buruh dan tani, telah akhirnya membawa perjuangan kelas ke permukaan secara terbuka, dan telah menghancurkan semua kesempatan untuk menyelesaikan secara formal-demokratis semua masalah-masalah akut yang telah dilemparkan oleh sejarah ke rakyat Rusia, dan terutama kelas buruh dan tani Rusia.
14. Hanya dengan kemenangan mutlak buruh dan tani atas pemberontakan kaum borjuasi dan tuan tanah (seperti gerakan Kadet-Kaledin), hanya dengan menumpas pemberontakan pemilik-budak ini secara militer dan tanpa belas kasihan maka kita dapat sungguh-sungguh menjaga revolusi proletar-tani ini. Jalannya peristiwa-peristiwa dan perkembangan perjuangan kelas di dalam revolusi telah membuat slogan “Semua Kekuasaan untuk Majelis Konstituante!” – yang mengabaikan pencapaian-pencapaian revolusi buruh dan tani, yang mengabaikan kekuasaan Soviet, yang mengabaikan keputusan-keputusan dari Kongres Soviet Buruh dan Tani Kedua, dsb. – menjadi slogannya Kadet dan Kaledin dan para pendukungnya. Seluruh rakyat sekarang sudah tahu bahwa bila Majelis Konstituante memisahkan diri dari kekuasaan Soviet maka ia akan jatuh ke dalam kepunahan secara politik.
15. Salah satu masalah nasional yang teramat akut adalah masalah perdamaian. Sebuah perjuangan yang sungguh-sungguh revolusioner demi perdamaian dimulai di Rusia hanya setelah kemenangan Revolusi Oktober, dan buah pertama dari kemenangan ini adalah diterbitkannya pakta-pakta perjanjian rahasia, ditandatanganinya gencatan senjata, dan dimulainya negosiasi-negosiasi terbuka untuk perdamaian umum tanpa aneksasi dan ganti-rugi perang.
Hanya sekarang lapisan luas rakyat sungguh-sungguh punya kesempatan untuk menyaksikan secara penuh dan terbuka kebijakan perjuangan revolusioner untuk perdamaian dan mempelajari hasil-hasilnya.
Pada saat pemilu Majelis Konstituante, massa rakyat tidak memiliki kesempatan seperti ini.
Jelas bahwa perbedaan antara komposisi Majelis Konstituante yang terpilih dan kehendak rakyat yang sesungguhnya mengenai masalah menghentikan perang adalah sesuatu yang tidak terelakkan dari sudut pandang ini juga.
16. Semua kondisi yang disebut di atas secara keseluruhan membuat Majelis Konstituante, yang dipilih berdasarkan daftar partai sebelum revolusi proletariat-tani di bahwa kekuasaan borjuasi, secara tak terelakkan berbenturan dengan kehendak dan kepentingan kelas-kelas pekerja dan tertindas, yang pada tanggal 25 Oktober memulai revolusi sosialis yang melawan kaum borjuasi. Sewajarnya, kepentingan revolusi ini lebih tinggi daripada hak-hak formal Majelis Konstituante, bahkan bila hak-hak formal tersebut tidak dilemahkan oleh tidak adanya pasal di dalam hukum Majelis Konstituante yang mengakui hak rakyat untuk me-recall perwakilan mereka dan menyelenggarakan pemilihan kapan pun.
17. Setiap usaha langsung atau tidak langsung untuk mempertimbangkan masalah Majelis Konstituante dari sudut pandang legal dan formal, di dalam kerangka demokrasi borjuis umumnya, dan mengabaikan perjuangan kelas dan perang sipil adalah pengkhianatan terhadap perjuangan proletariat, dan mengadopsi sudut pandang borjuis. Kaum Sosial-Demokrat Revolusioner punya tugas untuk memperingatkan semua orang agar tidak melakukan kekeliruan ini, yang telah dilakukan oleh beberapa pemimpin Bolshevik yang tidak mampu memahami signifikansi dari pemberontakan Oktober dan tugas kediktatoran proletariat.
18. Satu-satunya peluang untuk menjamin solusi yang mulus untuk krisis yang diakibatkan oleh perbedaan antara pemilu Majelis Konstituante dan kehendak kelas pekerja dan tertindas adalah memberikan rakyat hak seluas mungkin dan secepat mungkin untuk memilih ulang anggota-anggota Majelis Konstituante, dan Majelis Konstituante harus menerima undang-undang pemilu dari Komite Eksekutif Pusat, menyatakan bahwa ia mengakui sepenuhnya kekuasaan Soviet, revolusi Soviet, dan kebijakan Soviet mengenai perdamaian, tanah dan kontrol buruh, dan dengan tegas bergabung dengan musuh-musuh dari kontra-revolusi Kadet-Kaledin.
19. Kalau syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka krisis Majelis Konstituante ini hanya dapat diselesaikan dengan cara revolusioner, yakni kekuasaan Soviet melaksanakan kebijakan yang paling enerjetik, cepat, tegas, dan revolusioner dalam melawan kontra-revolusi Kadet-Kaleditn, tidak peduli apa slogan dan institusi (bahkan partisipasi di dalam Majelis Konstituante) yang digunakan oleh kontra-revolusi untuk bersembunyi. Setiap usaha untuk mengikat tangan dan kaki kekuasaan Soviet dalam perjuangan ini adalah sama saja dengan membantu kontra-revolusioner.
Lampiran II: Buku Baru Vandervelde mengenai Negara
Hanya setelah saya membaca bukunya Kautsky saya punya kesempatan untuk membaca buku Vandervelde “Socialism versus the State” (“Sosialisme versus Negara”) (Paris, 1918). Perbandingan kedua buku ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa Kautsky adalah pemimpin ideologis dari Internasional Kedua (1889-1914), sementara Vandervelde, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Biro Internasional Sosialis, adalah perwakilan resminya. Keduanya mewakili kebangkrutan total dari Internasional Kedua, dan keduanya dengan keterampilan seorang jurnalis berpengalaman “dengan mahir” menutup-nutupi kebangkrutan ini dan kebangkrutan mereka sendiri dan pembelotan mereka ke sisi borjuasi dengan ujar-ujaran Marxis. Yang satu memberikan kita satu contoh yang baik apa itu oportunisme Jerman yang tipikal, yang membosankan, suka berteori dan memalsukan Marxisme dengan menyingkirkan semua yang tidak dapat diterima oleh kaum borjuasi. Yang satu lagi adalah variasi oportunisme Latin – pada tingkatan tertentu, oportunisme Eropa Barat (yakni, Barat dari Jerman) – yang lebih fleksibel, lebih tidak membosankan, dan yang memalsukan Marxisme dengan metode yang secara fundamental sama, tetapi dengan cara yang lebih halus.
Keduanya secara radikal mendistorsi ajaran Marx mengenai Negara dan juga mengenai kediktatoran proletariat; Vandervelde lebih berbicara mengenai masalah Negara, sementara Kautsky masalah kediktatoran proletariat. Keduanya mengaburkan hubungan yang sangat dekat dan tak terpisahkan antara kedua subjek ini. Mereka berdua adalah revolusioner dan Marxis dalam kata-kata, tetapi pengkhianat dalam praktek, yang berusaha sangat keras untuk memisahkan diri mereka dari revolusi. Gagasan mereka tidak mengandung satu pun gagasan Marx dan Engels, dan tidak membedakan sosialisme dari karikatur borjuisnya, dalam kata lain mereka tidak menguraikan tugas-tugas revolusi sebagai sesuatu yang berbeda dari tugas-tugas reforma, mereka tidak menguraikan taktik-taktik revolusioner sebagai sesuatu yang berbeda dari taktik-taktik reformis, tidak menguraikan tugas kaum proletariat dalam menghapus tatanan, orde, atau rejim perbudakan-upah sebagai sesuatu yang berbeda dari tugas proletariat negeri-negeri “Adidaya” yang berbagi secuil super-profit dan penjarahan imperialis dengan kaum borjuasi.
Kita akan mengutip beberapa argumen Vandervelde yang paling penting.
Seperti Kautsky, Vandervelde mengutip Marx dan Engels dengan sangat bersemangat, dan seperti Kautsky, dia mengutip semua dari Marx dan Engels kecuali yang benar-benar tidak dapat diterima oleh kaum borjuasi dan yang membedakan seorang revolusioner dari seorang reformis. Dia berbicara banyak mengenai perebutan kekuasaan politik oleh proletariat, karena praktek telah membatasi ini di dalam kerangka parlementer. Tetapi mengenai fakta bahwa setelah pengalaman Komune Paris, Marx dan Engels merasa harus menambahi karya Manifesto Komunis yang sudah usang dengan penguraian sebuah kebenaran bahwa kelas buruh tidak boleh menggunakan mesin negara yang sudah ada, tetapi harus menghancurkannya – tidak ada satu pun kata mengenai ini dari Vandervelde! Vandervelde dan Kautsky, seperti sudah saling setuju, bungkam mengenai apa yang paling penting di dalam pengalaman revolusi proletariat, yakni yang membedakan antara revolusi proletariat dari reforma borjuis.
Seperti Kautsky, Vandervelde berbicara mengenai kediktatoran proletariat hanya untuk memisahkan dirinya dari kediktatoran proletariat. Kautsky melakukan ini dengan pemalsuan yang kasar. Vandervelde melakukan ini dengan cara yang lebih halus. Di bagian ke-4 bukunya, yang berbicara mengenai “perebutan kekuasaan politik oleh proletariat”, dia mendedikasikan sub-bagian b untuk masalah “kediktatoran kolektif proletariat”, “mengutip” Marx dan Engels (saya ulangi kembali: menghapus justru yang penting, yakni menghancurkan mesin negara borjuis-demokratik yang lama), dan menyimpulkan:
“... Di antara lingkaran-lingkaran sosialis, revolusi sosial biasanya dimaknai seperti demikian: sebuah Komune [Paris – Ed.] yang baru, yang kali ini menang, dan tidak hanya di satu tempat saja tetapi di pusat-pusat utama dunia kapitalis.
“Sebuah hipotesa, tetapi sebuah hipotesa yang tidak mustahil ketika menjadi jelas bahwa periode pasca-perang akan menyaksikan antagonisme kelas dan gejolak sosial yang tidak ada presedennya di banyak negeri.
“Kegagalan Komune Paris, dan apalagi kesulitan-kesulitan revolusi Rusia, membuktikan bahwa mustahil kita bisa mengakhiri sistem kapitalis kalau kaum proletariat belumlah cukup siap untuk menggunakan dengan baik kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh kondisi-kondisi yang ada.” (hal. 73)
Dan begitu saja!
Inilah, para pemimpin dan perwakilan Internasional Kedua! Pada 1912 mereka menandatangani Manifesto Basel, yang secara eksplisit berbicara mengenai hubungan antara perang – yang kemudian pecah pada tahun 1914 – dan revolusi proletariat, dan menjunjung revolusi proletariat sebagai ancaman. Dan ketika perang pecah dan situasi revolusioner muncul, para Kautsky dan Vandervelde mulai memisahkan diri mereka dari revolusi. Sebuah revolusi seperti Komune Paris hanyalah sebuah hipotesa yang tidak mustahil! Ini sama dengan argumen Kautsky mengenai kemungkinan peran Soviet di Eropa.
Tetapi beginilah cara kaum liberal yang terpelajar berargumen; tentu saja, dia sekarang akan setuju bahwa sebuah Komune yang baru adalah sesuatu yang “tidak mustahil”, bahwa Soviet punya peran besar, dsb. Seorang proletariat revolusioner berbeda dari seorang liberal, di mana dia, sebagai seorang teoretikus, menganalisis signifikansi baru Komune dan Soviet sebagai sebuah negara. Vandervelde, di lain pihak, bungkam mengenai apa yang dikatakan oleh Marx dan Engels panjang lebar mengenai analisis pengalaman Komune Paris.
Sebagai seorang buruh yang praktis, sebagai seorang politisi, seorang Marxis harus menjelaskan bahwa hanya pengkhianat sosialisme dapat menghindari tugas menguraikan perlunya revolusi proletariat (model Komune, model Soviet, atau mungkin model ketiga yang lain), menjelaskan perlunya persiapan untuk revolusi ini, melakukan propaganda untuk revolusi di antara rakyat, menjawab prasangka-prasangka borjuis-kecil, dsb.
Tetapi Kautsky dan Vandervelde tidak melakukan ini sama sekali, karena mereka sendiri adalah pengkhianat sosialisme, yang ingin mempertahankan reputasi mereka sebagai sosialis dan Marxis di antara kaum buruh.
Mari kita tengok formulasi teori mengenai masalah negara.
Negara, bahkan di dalam republik demokratik, tidak lain adalah mesin penindasan satu kelas oleh kelas yang lain. Kautsky akrab dengan kebenaran ini, mengakuinya, setuju dengannya, tetapi ... dia menghindari pertanyaan fundamental ini: kelas mana yang harus ditindas oleh kelas proletariat ketika kelas ini membentuk negara proletariat, untuk alasan apa, dan dengan cara apa.
Vandervelde akrab, mengakui, dan setuju dengan proposisi fundamental Marxisme ini (hal 72. bukunya), tetapi ... dia tidak mengatakan satu kata pun mengenai subjek penumpasan resistensi kaum penindas “yang tidak menyenangkan” (bagi para tuan-tuan kapitalis)!
Vandervelde dan Kautsky telah sepenuhnya menghindari subjek “yang tidak menyenangkan” ini. Di sinilah terletak pengkhianatan mereka.
Seperti Kautsky, Vandervelde adalah ahli dalam seni menggantikan dialektika dengan eklektisme. Di satu pihak ini tidak bisa tidak diakui, dan di lain pihak ini harus diakui. Di satu pihak, istilah negara dapat berarti “bangsa secara keseluruhan” (baca kamus Littré – sebuah karya yang baik, ini tidak dapat disangkal – dan Vandervelde, hal. 87); di lain pihak, istilah negara dapat berarti “pemerintahan” (Vandervelde, hal. 87). Vandervelde mengutip pernyataan cerdik ini berdampingan dengan kutipan-kutipan dari Marx.
Makna Marxis dari istilah “negara” berbeda dari makna biasanya, tulis Vandervelde. Oleh karenanya, “kesalahpahaman” mungkin dapat timbul. “Marx dan Engels menganggap negara bukan sebagai negara dalam artian yang luas, bukan sebagai organ pemandu, bukan sebagai perwakilan dari kepentingan-kepentingan umum masyarakat (intérêts généraux de la société). Namun negara sebagai kekuasaan, negara sebagai organ otoritas, negara sebagai instrumen kekuasaan satu kelas terhadap kelas yang lain.” (hal. 75-76)
Marx dan Engels berbicara mengenai penghancuran negara hanya dalam artian kedua ... “Afirmasi yang terlalu absolut berisiko menjadi tidak tepat. Ada banyak tahapan-tahapan transisional antara negara kapitalis, yang berdasarkan kekuasaan eksklusif dari satu kelas, dan negara proletariat, yang tujuannya adalah menghapus semua kelas.” (hal. 156)
Ini contoh “cara”nya Vandervelde, yang hanya sedikit berbeda dengan caranya Kautsky, dan pada intinya identik. Dialektika menyangkal adanya kebenaran yang absolut dan menjelaskan perubahan berturut-turut dari yang berlawanan dan signifikansi krisis di dalam sejarah. Kaum eklektis tidak menginginkan proposisi yang “terlalu absolut”, karena dia ingin mendorong hasrat filistinnya untuk menggantikan revolusi dengan “tahapan-tahapan transisional”.
Para Kautsky dan Vandervelde tidak berbicara satu kata pun mengenai fakta bahwa tahapan transisional antara negara sebagai organ kekuasaan kelas kapitalis dan negara sebagai organ kekuasaan proletariat adalah revolusi, yang berarti penumbangan kaum borjuasi dan pembubaran dan penghancuran mesin negara mereka.
Para Kautsky dan Vandervelde mengaburkan fakta bahwa kediktatoran borjuis harus digantikan dengan kediktatoran satu kelas, yakni kelas proletariat, dan bahwa “tahapan-tahapan transisional” revolusi akan disusul oleh “tahapan-tahapan transisional” pupusnya negara proletar.
Di sinilah terletak pengkhianatan politik mereka.
Di sinilah, secara teori dan filsafat, mereka menggantikan dialektika dengan eklektisme dan sofisme. Dialektika adalah filsafat yang konkret dan revolusioner, dan membedakan antara “transisi” dari kediktatoran satu kelas ke kediktatoran kelas yang lainnya, dan “transisi” dari negara proletar demokratik ke masyarakat tanpa negara (“pupusnya negara”). Untuk menyenangkan kaum borjuasi, eklektisme dan sofisme para Kautsky dan Vandervelde mengaburkan semua yang konkret dan tepat di dalam perjuangan kelas dan mengedepankan konsep umum “transisi”, di mana mereka dapat menyembunyikan penyangkalan mereka terhadap revolusi (seperti yang dilakukan oleh sembilan dari sepuluh kaum Sosial Demokrat kita hari ini).
Sebagai seorang eklektis dan sofis, Vandervelde lebih mahir dan halus daripada Kautsky; karena frase “transisi dari negara dalam arti yang sempit ke negara dalam arti yang luas” dapat menjadi cara untuk menghindari semua masalah revolusi, semua perbedaan antara revolusi dan reforma, dan bahkan perbedaan antara kaum Marxis dan kaum liberal. Kaum borjuasi dengan pendidikan Eropa mana yang akan menyangkal, “secara umum”, “tahapan-tahapan transisional” dalam artian “umum” ini?
Vandervelde menulis:
“Saya setuju dengan Guesde bahwa mustahil untuk mensosialisasi alat-alat produksi dan distribusi tanpa memenuhi dua kondisi berikut ini:
“1. Transformasi negara yang sekarang sebagai organ kekuasaan satu kelas terhadap kelas yang lain menjadi apa yang disebut Monger sebagai sebuah negara buruh rakyat (people’s labour state), dengan perebutan kekuasaan oleh proletariat.
2. Pemisahan negara sebagai sebuah organ otoritas dari negara sebagai sebuah organ pemandu, atau, dengan menggunakan istilah dari Saint-Simon, pemisahan pemerintahan rakyat dari administrasi.” (hal.89)
Vandervelde menulis baris-baris di atas dalam huruf miring, yang memberikan penekanan khusus pada signifikansi dari proposisi-proposisi ini. Tetapi ini sebenarnya hanyalah gado-gado eklektik, yang pecah sepenuhnya dari Marxisme! “Negara buruh rakyat” (people’s labour state) hanyalah parafrase dari “negara rakyat yang bebas” (free people’s state), yang diparadekan oleh kaum Sosial-Demokrat Jerman pada tahun 1870an dan yang dicap konyol oleh Engels. Istilah “negara buruh rakyat” adalah istilah dari kaum demokrat borjuis-kecil (seperti kaum Sosialis-Revolusioner Kiri kita), sebuah istilah yang menggantikan konsep kelas dengan konsep non-kelas. Vandervelde menempatkan perebutan kekuasaan negara oleh proletariat (oleh sebuah kelas) berdampingan dengan negara “rakyat”, dan tidak mampu melihat bahwa hasilnya adalah sebuah gado-gado. Dengan Kautsky dan “demokrasi murni”nya, hasilnya adalah gado-gado yang serupa dan filistinisme anti-revolusioner yang serupa, yang mengabaikan tugas dari revolusi kelas proletariat, tugas dari kediktatoran kelas proletariat, tugas dari negara kelas proletariat.
Terlebih lagi, pemerintahan rakyat akan lenyap dan digantikan oleh administrasi hanya ketika negara dalam semua bentuk pupus. Tetapi berbicara mengenai masa depan yang relatif jauh ini, Vandervelde mengaburkan tugas esok hari, yakni penumbangan kelas borjuasi.
Tipu daya ini sama dengan penghambaan terhadap kaum borjuis liberal. Kaum liberal bersedia berbicara mengenai apa yang akan terjadi ketika mereka tidak perlu memerintah rakyat. Mengapa tidak bermain saja dalam mimpi yang tidak berbahaya ini? Tetapi mengenai kaum proletariat yang harus meremukkan perlawanan kaum borjuasi – tidak ada satu kata pun. Kepentingan kelas kaum borjuasi menuntut ini.
Sosialisme versus negara. Inilah bagaimana Vandervelde mengangguk kepada kaum proletariat. Tidaklah sulit untuk mengangguk; setiap politisi “demokratis” tahu bagaimana mengangguk kepada para pemilihnya. Dan di bawah kedok “anggukan” ini, tersembunyi makna anti-revolusioner dan anti-proletariat.
Vandervelde mengutip Ostrogorsky panjang lebar untuk menunjukkan betapa banyaknya penipuan, kekerasan, korupsi, kebohongan, kemunafikan, dan penindasan yang tersembunyi di balik kedok beradab, mengkilap, dan harum dari demokrasi borjuis modern. Tetapi dia tidak menarik kesimpulan dari ini. Dia gagal memahami bahwa demokrasi borjuis menindas rakyat pekerja, dan demokrasi proletariat harus menindas kaum borjuasi. Kautsky dan Vandervelde matanya buta terhadap ini. Mereka membuntuti kepentingan kelas kaum borjuasi, dan kepentingan kelas borjuasi ini menuntut agar masalah penindasan ini dihindari, didiamkan, atau disangkal.
Eklektisme borjuis-kecil versus Marxisme, sofisme versus dialektika, reformisme filistin versus revolusi proletariat – inilah yang seharusnya menjadi judul bukunya Vandervelde.
Catatan:
Kategori:Vladimir Lenin